OBGYNIA - Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
Not a member yet
371 research outputs found
Sort by
Preeklamsia Pascasalin
AbstrakTujuan: Memaparkan etiologi dan faktor risiko, diagnosis banding, patofisiologi, pemantauan, terapi, komplikasi, rekurensi dan tindakan preventif pada kasus preeklamsia pascasalin.Metode: Tinjauan pustaka dengan berbagai referensi yang diakses melalui mesin pencarian seperti Pubmed dan Sci-Hub dengan menggunakan kata kunci preeclampsia, hypertension, postpartum, management. Sumber referensi yang digunakan yaitu guidelines, jurnal, dan buku teks yang diterbitkan dalam 15 tahun terakhir.Kesimpulan: Insiden preeklamsia di Indonesia yaitu 128.273/tahun atau sekitar 5,3%. Sebanyak 0,3 – 27,5% kasus yang dilaporkan mengalami preeklamsia atau hipertensi pascasalin. Gejala-gejala preeklamsia pascasalin muncul setelah melahirkan. Mayoritas kasus berkembang dalam 48 jam setelah persalinan, walaupun sindrom dapat muncul hingga 6 minggu setelah persalinan. Periode pascasalin merupakan waktu kritis bagi spesialis obstetri dan ginekologi untuk menjamin wanita dengan riwayat preeklamsia untuk dipantau dalam jangka waktu pendek dan panjang. Akan tetapi, pemantauan pascasalin sangatlah rendah, berkisar antara 20-60%. Pemilihan antihipertensi pasca salin yaitu berikatan kuat dengan protein dan solubilitas lipid yang rendah sehingga lebih sedikit yang masuk ke ASI. Selain itu, dipengaruhi juga oleh ionisasi, berat molekul dan konstituen ASI (kandungan lemak, protein, dan air). Agen lini pertama untuk preeklamsia pascasalin adalah labetalol dan hidralazin intravena serta nifedipin. Wanita dengan hipertensi gestasional ataupun preeklamsia biasanya dapat menghentikan antihipertensi dalam 6 minggu pasca salin.Postpartum PreeclampsiaAbstractObjective: To explain about etiologies and risk factors, differential diagnosis, pathophysiology, follow up, treatment, complications, recurrence, and prevention of preeclampsia post delivery discharged.Method: Literature review with several references accessed through search engines such as Pubmed and Sci-Hub by using keywords preeclampsia, hypertension, postpartum, management. Reference sources used are guidelines, journals, and textbooks published in the last 15 years.Conclusion: The incidence of preeclampsia in Indonesia is 128,273/year or around 5.3%. As many as 0.3-27.5% of cases reported postpartum preeclampsia or hypertension. Symptoms of postpartum preeclampsia appear after delivery. The majority of cases develop within 48 hours after delivery, although the syndrome can appear up to 6 weeks after delivery. The postpartum period is a critical time for obstetricians and gynecologists to ensure women with a history of preeclampsia are monitored in the short and long term. However, postpartum monitoring is very low, ranging from 20-60%. The choice of antihypertensive postpartum is that it is strongly bound to protein with low lipid solubility so that fewer enter breast milk. In addition, it is also influenced by ionization, molecular weight and constituents of breast milk (fat content, protein, and water). The first line agent for postpartum preeclampsia is intravenous labetolol and hydralazine and also nifedipine. Women with gestational hypertension or preeclampsia can usually stop antihypertension within 6 weeks postpartum.Key word: postpartum preeclampsia, antihypertensio
Strategi Menurunkan Kematian Ibu Karena Preeklamsi dan Eklamsi
Tujuan: Menyimpulkan beberapa hasil penelitian tentang preeklamsi dan upaya menurunkan kematian ibu di negara maju maupun berkembang termasuk di Indonesia dan RSHS Bandung untuk menyusun strategi menurunkan kematian ibu karena preeklamsi.Metode: Dilakukan penelitian potong silang dengan rancangan observasional analitik dengan membandingkan data ibu hamil dengan preeklamsi/eklamsi yang melahirkan di RS Hasan sadikin Bandung periode Maret sampai September 2012 (sebelum JKN) dan 1 Januari 2016 sampai 31 Desember 2017(saat JKN dilaksanakan). Data dianalisis menggunakan uji statistik chi kuadrat untuk membandingkan perbedaan dengan kemaknaan nilai p4, and evidence of hypertension and cardiac complications before and during the implementation of NHIP. Discussion: The strategies for reducing maternal mortality due to preeclampsia are as follows : supporting the government programs to overcome poverty, education and transportation; socializing signs and symptoms of preeclampsia to the community; early detection of risk factors, blood pressure measurement and urine protein followed by administration of low dose aspirin and calcium tablets for prevention; training on Doppler examination of uterine arteries for OBGYN specialist and socializing standard guidelines and protocol for the management of preeclampsia; and training for a ‘preeclampsia special team’ in referral hospitals.Key words: Preeclampsia, maternal mortality, strategy for reducing maternal mortality
Kehamilan pada Skar Seksio Sesaria
Tujuan: Memaparkan klasifikasi, faktor risiko, epidemiologi, cara diagnosis, tatalaksana, dan komplikasi kehamilan pada skar seksio sesareaMetode: Tinjauan pustakaKesimpulan: Kehamilan pada skar SC merupakan kehamilan yang kantung kehamilannya terdapat pada miometrium yang menipis akibat SC sebelumnya. Secara umum, kehamilan pada skar Caesarean Scar Pregnancy (CSP) dapat dibedakan menjadi 2 tipe, yaitu tipe 1 (endogenik) dan tipe 2 (eksogenik). Kejadiannya berkisar antara 1 per 8.000 dan 1 per 2.500 SC dengan risiko rekurensi 3,2-5,0% pada wanita dengan riwayat SC 1 kali yang ditatalaksana dengan dilatasi dan kuretase dengan atau tanpa embolisasi arteri uterina. Adapun faktor risiko CSP adalah tebal Segmen Bawah Rahim (SBR) <5 mm, kantong kehamilan menonjol ke plika vesikouterina, SC di rumah sakit umum daerah, dan riwayat perdarahan melalui vagina ireguler dan nyeri abdomen selama CSP sebelumnya. Pengobatan CSP dapat secara konservatif dengan metotreksat (MTX) maupun operatif termasuk eksisi jaringan kehamilan dengan laparoskopi, histerotomi, atau histerektomi. Pilihan pengobatan lain termasuk dilatasi dan kuretase, reseksi transervikal (TCR) dengan histeroskopi, embolisasi arteri uterina (UEA), kemoembolisasi arteri uterina, atau penempatan kateter balon ganda.Caesarean Scar PregnancyAbstractObjective: To explain about classification, risk factors, epidemiology, diagnostic methods, management, and complications of Caesarean Scar Pregnancy (CSP).Method: Literature review Conclusion: CSP is a pregnancy where the gestational sac is found in the thin myometrium due to previous CS. In general, Caesarean Scar Pregnancy (CSP) can be divided into 2 types, namely type 1 (endogenic) and type 2 (exogenic). Its incidence ranges from 1 per 8,000 and 1 per 2,500 SC with a recurrence risk of 3.2-5.0% in women with a history of 1 time CS who are treated with dilatation and curettage with or without uterine artery embolization. The risk factors for CSP are lower uterine segment thickness <5 mm, gestational sac pouches protruding into the vesicouterine fold, CS in regional public hospitals, and a history of irregular vaginal bleeding and abdominal pain during previous CSP. Caesarean scar pregnancy treatment can be conservative with methotrexate (MTX) or operatively including excision of pregnancy tissue with laparoscopy, hysterotomy, or hysterectomy. Other treatment options include dilatation and curettage, transcervical resection (TCR) with hysteroscopy, uterine artery embolization (UAE), chemoembolization of the uterine arteries, or placement of a double-balloon catheter.Key words: Caesarean scar pregnanc
Hubungan Kadar Asam Urat, Laktat Dehidrogenase, Aspartat Aminotransferase Serum Penderita Preeklamsi Berat Disertai Komplikasi dan tanpa Komplikasi
Tujuan: penelitian ini untuk mencari perbedaan kadar asam urat, laktat dehydrogenase (LDH) dan aspartat aminotransferase (AST) pada serum penderita preeklamsi berat disertai komplikasi dan tanpa komplikasi dan mengukur kuatnya hubungan peningkatan kadar asam urat, LDH dan AST dengan peningkatan risiko terjadinya komplikasi pada pasien preeklamsi berat. Metode: Rancangan penelitian ini adalah penelitian comparative cross sectional dengan metode consecutive sampling. Subjek penelitian adalah penderita preeklamsi berat disertai komplikasi dan tanpa komplikasi (n=68). Hasil: Hasil penelitian didapatkan perbedaan kadar asam urat, LDH dan AST pada kedua kelompok secara bermakna dengan nilai p ≤ 0,05. Peningkatan kadar asam urat, LDH dan AST berhubungan dengan peningkatan risiko terjadinya komplikasi dengan nilai cut off kadar asam urat > 6,5 mg/dL sebesar 33 kali, LDH > 573 U/L sebesar 8,95 kali dan AST > 30 U/L sebesar 5,19 kali. Jika terjadi peningkatan seluruh kadar asam urat, LDH dan AST diatas nilai cut off maka risiko terjadinya komplikasi sebesar 98,1%.Kesimpulan: Penelitian ini menyimpulkan kadar asam urat, LDH, AST pada preeklamsi berat disertai komplikasi lebih tinggi dibandingkan preeklamsi berat tanpa komplikasi dan peningkatan kadar asam urat, LDH, AST berhubungan dengan peningkatan risiko terjadinya komplikasi pada preeklamsi berat. Relations of Uric Acid, Lactat Dehydrogenase, and Aspartat Aminotransferase Serum LevelIn Severe Preeclampsia with and Without ComplicationsAbstractObjective: This study compared level of uric acid, LDH, and AST level between severe preeclampsia patients with complication and without complication, and measured correlation between the rise level of uric acid, LDH and AST towards the increased risk of complication in patient with severe preeclampsia.Method: The study design was comparative cross sectional study with consecutive sampling method that compare the results of laboratorium uric acid, LDH, AST between complications and without complications group. Subjects of this study were severe preeclampsia patients with and without complication that fulfilled study criteria (n=68). Result: It is revealed that the differences level of uric acid, LDH, and AST in both groups were significant with p value ≤ 0.05. Increase level of uric acid, LDH, and AST were related to inreased risk of complication in severe preeclampsia occurence with cut off point of uric acid level of > 6.5 mg/dL by 33 times, LDH level of > 573 U/L by 8.95 times, and AST level of > 30 U/L by 5.19 times. If all uric acid, LDH, and AST level rise above the cut off value so the risk of complication of severe preeclampsia will rise by 98.1%. Conclusion: It is concluded that level of uric acid, LDH, and AST in severe preeclampsia with complication were higher than severe preeclampsia without complication and the rise of uric acid, LDH, and AST were related with the rise of complication risk on severe preeclampsia. Key word: Severe preeclampsia, complication, uric acid, LDH, AST
Hubungan Kadar Vitamin D Serum dengan Konsentrasi, Motilitas dan Morfologi Sperma pada Pria Subfertil di Klinik Teknologi Reproduksi Berbantu Aster Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung
Tujuan: Untuk menganalisis hubungan kadar vitamin D dengan kualitas sperma pada pria subfertil, serta membandingkan kualitas sperma berdasarkan klasifikasi kadar vitamin D serum pada pria normospermia dan pria oligoasthenoteratospermia.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat observasional analitik dengan rancangan studi potong lintang. Subjek penelitian adalah pria subfertil yang berusia 20-50 tahun, dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu 30 pasien normospermia dan 16 pasien oligoasthenoteratospermia berdasarkan berdasarkan kriteria World Health Organization 2010. Penelitian dilakukan di Klinik Teknologi Reproduksi Berbantu Aster, RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Analisis data menggunakan analisis korelasi rank SpearmanHasil: Pada penelitian ini didapatkan korelasi positif antara kadar vitamin D dan motilitas sperma ( r = 0,639, p = 0,05). Perbedaan yang bermakna didapatkan antara kadar vitamin D pada kelompok normospermia dan oligoasthenoteratospermia dengan nilai p 0.05). There was a significant difference between vitamin D levels in normospermic and oligoasthenoteratospermia group with p <0,05. In the sperm quality comparison based on vitamin D serum classification, only sperm motility alone had a significant difference with the value of p <0.05. It was concluded that level of vitamin D serum has positive correlation with sperm motility.Key word: subfertile, vitamin D, sperm qualit
C-Reactive Protein Concentration in Very Early, Early and Late Preterm Labour
Objective: Preterm labor (PTL) is related to neonatal morbidity and mortality. The etiology of PTL is multifactorial, however maternal inflammation is suspected to play a large role. Research has indicated a relationship between the increase of C-reactive protein (CRP), a biomarker of general tissue inflammation to the incidence of preterm labor. This study aimed at examining the relationship between preterm labor and CRP levels.Method: This was a case-control retrospective study. Cases were patients presenting with preterm labor who came to the Department of Obstetrics and Gynecology of Hasan Sadikin Hospital Bandung. Patients were classified into very early preterm, early preterm, late preterm; control group was taken from patients without delivery complication (n=20/group). CRP serum was examined using immunoassay method.Result: CRP median value in the early preterm group was greater than very early preterm, early preterm, and control (8.15 mg/L vs 6.5 mg/L vs 5.6 mg/L vs 5.75 mg/L, respectively) but statistical significance was not achieved (p> 0.05). Further comparisons between the very early, early preterm vs control and late preterm vs control groups were performed and no statistical significance was found.Conclusion: Further research is required to investigate the link between maternal CRP and preterm labor.Konsentrat Protein C-Reaktif (PCR) pada Persalinan Prematur Sangat Awal, Awal, dan TerlambatAbstrakTujuan: Persalinan prematur memiliki kaitan yang erat dengan morbiditas dan mortalitas neonatus. Etiologi persalinan prematur ini dipengaruhi oleh multifaktor. Namun, inflamasi maternal menjadi salah satu faktor yang dicurigai paling mempengaruhi. Beberapa penelitian melihat adanya hubungan antara peningkatan Protein C-Reaktif (PCR), biomarker untuk inflamasi jaringan secara umum, dengan insidensi persalinan prematur. Penelitian ini bertujuan untuk melihat relasi antara kadar PCR dengan kejadian persalinan prematur.Metode: Penelitian ini menggunakan metode kasus kontrol (case control). Kasus berasal dari pasien dengan persalinan prematur yang datang ke Departemen Obstetri dan Ginekologi RS Dr. Hasan Sadikin Bandung. Pasien dikelompokkan menjadi 3 kategori, yaitu persalinan prematur sangat awal, awal, dan terlambat. Kelompok kontrol diambil dari pasien yang menjalani persalinan tanpa komplikasi (n=20/kelompok). Serum PCR dianalisa menggunakan metode uji imunoserologi (immunoassay).Hasil: Nilai median PCR pada kelompok prematur awal lebih besar daripada kelompok prematur sangat awal, awal, dan kontrol (secara berurutan, 8.15 mg/L vs 6.5 mg/L vs 5.6 mg/L vs 5.75 mg/L), namun tidak signifikan secara statistik (p>0,05). Perbandingan lebih lanjut antara prematur sangat awal, awal, dengan kelompok kontrol serta prematur terlambat dengan kelompok kontrol dilakukan dan tidak signifikan secara statistik.Kesimpulan: Penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk melihat hubungan antara kadar PCR maternal dengan persalinan prematur. Kata kunci: protein C-reaktif, persalinan prematu
Maturation of Vaginal Epithelium and Dyspareunia Symptoms in Equol Producing and Non-Producing Menopausal Women
Introduction: Equol is a metabolite of soy isoflavon called daidzein which is produced by gastrointestinal tract bacteria. This research aims to analyze the maturation of vaginal epithelium and dyspareunia symptoms in producing and non-producing equol menopausal women.Method: This is a cross sectional research. Subject was a community of menopausal women who fulfilled inclusion criteria. Subjects were asked to sign a written informed consent. Subjects underwent vaginal epithelium maturation assessment and were asked whether she experienced dyspareunia. Research was conducted in January 2017.Result: There was a significant difference on the maturation of vaginal epithelium and dyspareunia symptoms between equol producing and non-producing women (p < 0.05). This research found that in equol producing menopausal women, there was a shift-to-the-right vaginal epithelium maturation with more superficial cells compared to parabasal cells produced and less dyspareunia. Meanwhile, in women who did not produce equol, there was a shift-to-the-left vaginal epithelium maturation with more parabasal cells compared to superficial cells produced and more dyspareunia.Conclusion: In equol producing menopausal women, vaginal epithelium will undergo a shift-to-the-right maturation, with more superficial cells produced compared to women who did not produce equol.Maturasi Epitel Vagina dan Gejala Dispareunia pada Wanita Menopause yang Menghasilkan Equol dan Wanita yang Tidak Menghasilkan EquolAbstrakPendahuluan: Equol adalah metabolit isoflavon kedelai yang disebut daidzein yang diproduksi oleh bakteri saluran pencernaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis maturasi epitel vagina dan gejala dispareunia pada wanita menopause yang memproduksi dan tidak memproduksi equol.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional. Subjek penelitian adalah sekelompok wanita menopause yang memenuhi kriteria inklusi. Subjek diminta untuk menandatangani persetujuan tertulis dan menjalani penilaian maturasi epitel vagina dan ditanya apakah mengalami dispareunia. Penelitian dilakukan pada Januari 2017.Hasil: Terdapat perbedaan yang signifikan pada maturasi epitel vagina dan gejala dispareunia antara wanita yang memproduksi equol dan yang tidak memproduksi (p <0,05). Pada wanita menopause yang memproduksi equol, terjadi pematangan epitel vagina shift-to-the-right disertai produksi sel superfisial yang lebih banyak dibandingkan sel parabasal dan lebih sedikit gejala dispareunia. Sementara itu, pada wanita yang tidak menghasilkan equol, terjadi pergeseran shift-to-the-left maturasi epitel vagina dengan produksi sel parabasal lebih banyak dibandingkan sel superfisial dan lebih sering gejala dispareunia.Kesimpulan: Wanita menopause yang memproduksi equol mengalami maturasi epitel vagina shift-to-the-right disertai produksi sel superfisial yang lebih banyak dibandingkan dengan wanita menopause yang tidak memproduksi equol.Kata kunci: Dyspareunia; equol; maturasi epitel vagin
Hubungan Penggunaan Antiretroviral (ARV) dengan Luaran Neonatal pada Ibu Terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV)
Tujuan: Mengetahui hubungan penggunaan antiretroviral pada ibu terinfeksi HIV dengan luaran neonatal. Metode: Menggunakan metode analitik dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan data dilakukan dari Poli Klinik VCT dan register VK RSUD Ulin Banjarmasin. Jumlah data dibagi berdasarkan penggunaan antiretroviral dan bukan pengguna antiretroviral di hubungkan dengan hasil luaran neonatal berupa berat badan lahir, prematur, IUGR, asfiksia dan kematian neonatal. Analisis menggunakan uji statistik chi square test bermakna bila p < 0.05 ,bila uji chi square tidak memenuhi kriteria maka dilakukan uji fisher.Hasil: Terdapat 73 kasus melahirkan terinfeksi HIV tahun 2015-2018. Ibu terinfeksi HIV yang menggunakan antiretroviral sebanyak 24 (33%) dan bukan menggunakan antiretroviral sebanyak 49 (67%). Dihubungan penggunaan antiretroviral dengan luaran neonatal berat badan lahir bayi, hasil uji square <0.05 signifikan yaitu p 0.019, hasil luaran neonatal prematur (p = 0.022). Hubungan penggunaan antiretroviral terhadap hasil luaran berupa IUGR, asfiksia dan kematian neonatal didapatakan p 0.166 ; 0.243 ; 0.649.Kesimpulan: Penggunaan antiretroviral pada ibu hamil terinfeksi HIV mengurangi kejadian bayi berat lahir rendah dan prematurRelationship between Antiretroviral Therapy (ARV) with Neonatal Outcome in Woman with HIV InfectionAbstractObjective: Assess the correlation of antiretroviral medication in HIV-infected pregnant women to the outcome of neonates. Method: Analytical method with a cross-sectional approach was used. Data were obtained from the VCT polyclinic and the register of the VK register of Ulin Banjarmasin Regional General Hospital (RSUD). The data are divided into antiretroviral user and non-antiretroviral users linked with the outcome of the neonate in birth weight, prematurity, IUGR, asphyxia, and neonatal death. Statistical analysis using the chi-square test will suggest a significant difference if the p-value is < 0.05. If the chi-square test can not be used, fisher test will be conducted.Result: There are 73 cases of HIV-infected births between 2015 and 2018. There are 24 (33%) of HIV-infected pregnant women on antiretrovirals compared to 49 (67%) non-users. There is a link between antiretroviral usage with the neonatal outcome of birth weight with a chi-square p-value of 0.019 (significant if p-value < 0.05). The outcome of prematurity is also significant, with a p-value of 0.022. The correlation of antiretroviral use to outcome in IUGR, asphyxia, and neonatal mortality are of p-value 0.166; 0.243, and 0.649, respectively.Conclusion: Antiretroviral use in HIV-infected pregnant women reduces the outcome of low birth weight and prematurity incidence in neonates.Key words: HIV, infected woman, outcome, antiretroviral, RSUD Uli
Kanker Ovarium : “The Silent Killer”
Tujuan artikel ini adalah untuk mereview sejarah dan implikasi kanker ovarium dengan bahasa metafora pembunuh diam-diam atau “Silent Killer” sehingga akan meningkatkan kesadaran tentang kanker ovarium. Pada abad kedua puluh, metafora pembunuh diam-diam sering dikaitkan dengan kata berbahaya yang menggambarkan kanker ovarium. Istilah "silent killer" sebetulnya sering digunakan untuk menggambarkan kanker lain dan juga diterapkan pada penyakit seperti hipertensi dan diabetes. Kanker ovarium sering disebut sebagai pembunuh diam-diam karena diyakini sebagian besar pasien didiagnosis pada stadium lanjut dan sering tidak ditemukan gejala yang jelas pada stadium awa
Faktor Risiko Kejadian Hipertensi dalam Kehamilan di Rumah Sakit Bhayangkara Denpasar
Tujuan: Meninjau sejumlah faktor risiko terjadinya penyakit hipertensi dalam kehamilan. Kejadian hipertensi dalam kehamilan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, yaitu: Primigravida, nuliparitas, usia ibu dan Indeks Massa Tubuh, yang merupakan bagian dari faktor risiko terjadinya penyakit hipertensi dalam kehamilan. Metode: Penelitian ini merupakan studi observasional dengan metode potong lintang, variabel yang digunakan berupa usia maternal, graviditas, indeks massa tubuh terhadap kejadian hipertensi dalam kehamilan. Sampel penelitian ini adalah ibu hamil yang datang ke Poli Rawat Jalan Departemen Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit Bhayangkara, Denpasar, pada bulan Oktober – Desember 2018. Uji statistik menggunakan Chi Square/Fisher’s Exact Test.Hasil: Faktor risiko yang penting untuk terjadinya hipertensi dalam kehamilan antara lain, indeks massa tubuh (OR 2,60 95% IK 1,36-4,95 p = 0,005) dan usia maternal (OR 2,74 95% IK 1,41-5,43 p =0,004). Sementara itu graviditas (OR 1,58 95% IK 0,70-3,57 p=0,077) bukan merupakan faktor risiko yang bermakna. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara indeks massa tubuh dan usia maternal dengan kejadian hipertensi dalam kehamilan, dan tidak ada hubungan yang bermakna antara graviditas dengan kejadian hipertensi dalam kehamilan.A Review on The Risk Factors of Hypertension in Pregnancy at Bhayangkara Hospital DenpasarAbstractObjective: To review some risk factors of the recurrence of hypertension in pregnancy disorder. The incidence of hypertension in pregnancy can be affected by several factors: Primigravida, nulliparitas, maternal age and increased body mass index are the risk factors for hypertension in pregnancy. Method: This study was an observational study with cross-sectional the variable used were maternal age, gravidity and body mass index (BMI) on the incidence of hypertension in pregnancy. The samples were pregnant women who came to Clinic of Obstetrics and Gynecology Departement, Bhayangkara Hospital Denpasar during October to December 2018. Statistical test used was chi square factor exact tes.Result: The most important risk factors for hypertension in pregnancy such as, body mass index (OR 2,60 95% CI 1,36-4,95 p = 0,005) and maternal age (OR 2,74 95% CI 1,41-5,43 p =0,004) mean while gravidity (OR 1,58 95% CI 0,70-3,57 p=0,077) is not a significant risk factor. Conclusion: There is a correlation between maternal age and body mass index with hypertension in pregnancy and no correlation between gravidity with hypertension in pregnancy.Key words: gravidity, hypertension in pregnancy, body mass index, maternal age