OBGYNIA - Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
Not a member yet
    371 research outputs found

    Comparison of Nifedipine and Isoxsuprine to Cervical Length in Threatened Preterm Labor

    Get PDF
    Objective: This study aimed to determine differences in cervical length changes between administration of nifedipine and isoxsuprine. Method: Subjects of the study were pregnant women who meet the inclusion criteria (n=16). Treatments were given for 48 hours. Parameters measured was the cervical length before and after the administration of nifedipine and isoxsuprine. This study was conducted in Dr. Hasan Sadikin General Hospital from January until April 2020.Result: Less shortening of the cervical length after administration of tocolytic isoxsuprin for 48 hours compared with tocolytic nifedipine and statistically significant with p value of 0.0001 (p<0.05) using Paired T tests.Conclusion: Isoxsuprin is more effective to prevent shortening of the cervical length compared to nifedipine in cases of threatened preterm labor.Perbandingan Efek Nifedipine dan Isoxsuprine terhadap Panjang Serviks pada Persalinan Preterm TerancamAbstrakTujuan: Studi ini bertujuan untuk menelaah perbedaan perubahan panjang serviks antara pemberian nifedipine dan isoxsuprine.Metode: Studi ini adalah sebuah uji klinis acak dengan metode randomisasi buta ganda. Partisipan studi ini adalah wanita hamil yang memenuhi kriteria inklusi (n=16).  Pengobatan diberikan selama 48 jam. Parameter yang diukur adalah panjang serviks sebelum dan sesudah administrasi nifedipine dan isoxsuprine. Studi ini dilakukan di RSUP Dr. Hasan Sadikin pada Januari sampai April 2020. Hasil: Terdapat lebih sedikit pemendekan serviks pada pemberian isoxsuprine selama 48 jam dibandingkan dengan nifedipine (p=0.0001).Kesimpulan: Isoxsuprine lebih efektif untuk mencegah pemendekan serviks dibandingkan dengan nifedipine pada kasus persalinan preterm terancam. Kata kunci: Nifedipine, Isoxsuprine, Panjang serviks, Persalinan preterm teranca

    Tatalaksana Kehamilan G5P1A3 Gravida 10–11 Minggu dengan Riwayat Keguguran Berulang

    Get PDF
    Keguguran berulang merupakan kejadian keguguran paling tidak sebanyak dua kali atau lebih berturut-turut pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu dan/atau berat janin kurang dari 500 gram. Kejadian keguguran tiga kali atau lebih terjadi pada 1% pasangan. Analisis penyebab dan faktor risiko pada tiap pasien bersifat individu dan perlu dipelajari agar dapat dilakukan penatalaksanaan yang sesuai. Penatalaksanaan yang diberikan perlu memerhatikan kondisi sebelum kehamilan berikutnya dan mempertahankan kehamilan berikutnya yang terjadi.  Kami membahas mengenai G5P1A3 gravida 10–11 minggu dengan riwayat keguguran berulang. Pada skrining faktor risiko dan analisis penyebab keguguran berulang pada pasien ini disebabkan oleh hiperagregasi trombosit, yang belum dapat ditentukan apakah diturunkan atau didapat. Diperlukan pemeriksaan lanjutan untuk menegakkan diagnosis tersebut. Terapi kombinasi aspirin dan heparin merupakan terapi yang tepat untuk pasien ini.  Management of G5P1A3 10–11 Weeks of Pregnancy with History of Recurrent Miscarriage AbstractRecurrent miscarriage is the occurrence of miscarriage at least two or more consecutive times at gestational age less than 20 weeks and/or fetal weight less than 500 grams. Three or more miscarriages occur in 1% couples. The analysis of causes and risk factors for each patient is individualized, so that appropriate management can be carried out. Management is focused on condition before pregnancy and maintenance of the following pregnancy. We discuss about G5P1A3 10-11 weeks of pregnancy with history of recurrent miscarriages. Platelet hyperaggregation, which cannot be determined whether it is inherited or acquired suspected as the etiology of recurrent miscarriage in this patient. Further examination is needed to determine the diagnosis. Combination of aspirin and heparin is the appropriate management for this patient. Key word: aspirin, heparin, platelet hyperaggregation, recurrent miscarriage, thrombophili

    Analisis Risiko Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) pada Pasien Preeklamsi di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin Periode Januari–Desember 2019

    Get PDF
    Tujuan: Preeklamsi adalah peningkatan tekanan darah (tekanan sitolik ≥140 mmHg atau diastolik ≥90 mmHg) pada wanita yang sebelumnya memiliki tekanan darah normal, dan proteinuria, atau gejala klinis berat. Abnormalitas plasentasi serta perfusi plasenta yang buruk menyebabkan hipoksia pada janin sehingga terjadinya bayi lahir dengan berat rendah. BBLR (Bayi Berat Lahir Rendah) adalah berat lahir <2.500 gram. BBLR diasosiasikan dengan risiko kematian yang tinggi, disabilitas neurologis jangka panjang, perkembangan bahasa yang terhambat, dan peningkatan risiko penyakit-penyakit kronis.Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional (potong lintang). Data dikumpulkan dari data yang tersedia pada rekam medis pasien yang melakukan persalinan di RSUP Dr. Hasan Sadikin pada bulan Januari hingga bulan Desember tahun 2019.Hasil: Terdapat 252 (11,4%) ibu hamil dengan preeklamsi dari seluruh subjek. Prevalensi BBLR pada subjek total adalah 49,2%. Bayi dengan BBLR lebih banyak terjadi pada kelompok preeklamsi dibandingkan dengan kelompok non preeklamsi, yaitu 60,3% dibandingkan 47,8% (p < 0,001). Kelompok preeklamsi memiliki rerata BBL yang lebih rendah secara signifikan dibandingkan kelompok non preeklamsi, yaitu 2.255,6 + 741,5 gram dibandingkan 2.465,5 + 696,2 gram (p <0,001).Kesimpulan: Terdapat hubungan bermakna antara preeklamsi dengan kejadian BBLR di Rumah sakit Hasan Sadikin.Risk Analysis of the Incidence of Low Birth Weight Infants in Preeclampsia Patient in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Periode January–December 2019AbstractObjective: Preeclampsia is an increase in blood pressure (systolic pressure 140 mmHg or diastolic 90 mmHg) in women who previously had normal blood pressure, and proteinuria, or severe clinical symptoms. Abnormal placentation and poor placental perfusion cause fetal hypoxia resulting in low birth weight babies. LBW (Low Birth Weight Babies) is birth weight <2,500 grams. LBW is associated with a high risk of death, long-term neurological disability, delayed language development, and an increased risk of chronic diseases.Method: This study used an analytical observational research design with a cross-sectional approach. The data collected is based on the results of the data available in the medical records of patients who gave birth at Dr. RSUP. Hasan Sadikin in January to December 2019.Result: There were 252 (11.4%) pregnant women with preeclampsia from all subjects. The prevalence of LBW in total subjects was 49.2%. Babies with LBW were more common in the preeclampsia group compared to the non-preeclampsia group, namely 60.3% compared to 47.8% (p < 0.001). The preeclampsia group had a significantly lower mean BBL than the non-preeclampsia group, which was 2,255.6 + 741.5 grams compared to 2,465.5 + 696.2 grams (p < 0.001).Conclusion:  It can be concluded that there is a significant relationship between preeclampsia and the incidence      of LBW at Hasan Sadikin Hospital.Key word: Preeclampsia, LB

    KejadianEkspulsi Alat Kontrasepsi Dalam Rahim Banded T-Shaped dan Plain T-Shaped pada Pemasangan Intra Seksio Sesarea

    Get PDF
    Tujuan: Mengetahui kejadian ekspulsi alat kontrasepsi dalam rahim banded T-shaped dan plain T-shaped pada pemasangan intra seksio sesarea.Metode: Sebuah studi cohort dilakukan di 4 rumah sakit bersalin Makassar dari bulan September-Desember 2021. Sampel dibagi ke dalam dua kelompok yaitu  mendapatkan banded T-shaped dan plain T-shaped.Hasil: Ada 216 pasien yang dipasangkan AKDR. Tidak terdapat perbedaan proporsi penggunaan jenis AKDR (p>0.05). Perubahan letak AKDR terjadi pada hari ke-40 (p(0.006) 0.05). Pada hari ke-40 AKDR Banded T-shaped mengalami ekspulsi sebesar 20.4% sedangkan Plain T-shaped sebesar 8.3% (p (0.020) 0.05).Diskusi: Ekspulsi paling sering terjadi pada 30-90 hari setelah pemasangan akibat perubahan anatomi dan fisiologis selama masa nifas. Ekspulsi yang lebih rendah pada Plain T-shaped karena lengan horizontal yang fleksibel, teknik pedengan pelebaran serviks yang lebih sedikit serta perdarahan lebih sedikit.Kesimpulan: Kejadian ekspulsi tersering pada hari ke-40 dan menurun pada hari ke-90 pasca pemasangan. Jenis AKDR dengan kejadian ekspulsi paling sedikit adalah Plain T-shaped dibandingkan dengan Banded T-shaped.Incidence of Expulsion of Banded T-shaped and Plain T-shaped Intrauterine Device in Intra-Caecarean Delivery InsertionAbstractObjective: Determine contraceptive device expulsion rate of banded T-shaped and plain T-shaped intra-cesarean.Method: A cohort study was conducted in 4 maternity hospitals at Makassar from September-December 2021. Samples were divided into two groups, getting Banded T-shaped and Plain T-shaped.Result: There were 216 patients who had an IUD inserted. There was no difference in the proportion of the use of IUD types (p>0.05). Changes in IUD position occurred on day 40 (p (0.006) 0.05). On day 40 the Banded T-shaped IUD expulsion was 20.4% while the Plain T-shaped was 8.3% (p(0.020) 0.05).Dicussion: Expulsion most often occurs 30-90 days after insertion due to anatomic and physiological changes during puerperium. Lower expulsion in plain T-shaped due to flexible horizontal arm, less cervical dilation technique and less bleeding.Conclusion: The incidence of expulsion was most common on the 40th day and decreased on the 90th day after insertion. The type of IUD with the least number of expulsions was Plain T-shaped.Key word : IUD, Banded T-Shaped, Plain T-Shaped, Expulsions IU

    Correlation of Serum Vitamin D and Metabolic Disturbances in Polycystic Ovarian Syndrome

    Get PDF
    Objective: This study was aimed to determine the correlation between vitamin D and insulin resistance in women with PCOS. Method: This study was correlational analytic with cross-sectional approach to 34 women diagnosed with PCOS based on ultrasonography. Waist circumference and fasting blood glucose (FBG) represented insulin resistance. Women with hormonal therapy and vitamin D supplementation were not included to this study. This study used consecutive sampling method.Result: The average of age was 25.6±6.1 years old. Waist circumference and fasting blood glucose (FBG) represented insulin resistance. The average of waist circumference and FBG were 87.6±12.4 cm and 86.2±27.9 mg/dl, respectively. The mean of vitamin D levels was 11,5±3,6 ng/ml. According to Spearman’s correlation, vitamin D levels were weak negative correlated with waist circumference (r=-0.2; p>0.05) and FBG (r= -0,1; p>0,05), it statistically was not significant.Conclusion: There is weak negative correlation between vitamin D and metabolic syndrome in PCOS patients.Korelasi Kadar Vitamin  D Serum dan Gangguan Metabolik pada Sindrom Ovarium PolikistikAbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis korelasi vitamin D dengan resistensi insulin pada pasien dengan SOPK.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik korelatif dengan pendekatan potong lintang pada 34 subjek penelitian yang didiagnosis SOPK berdasarkan pemeriksaan ultrasonografi (USG). Lingkar pinggang dan kadar glukosa darah puasa (GDP) diambil sebagai parameter resistensi insulin. Pasien dengan terapi hormon dan suplementasi vitamin D tidak termasuk dalam subjek penelitian. Pengambilan sampel menggunakan teknik consecutive sampling.Hasil: Rerata usia subjek penelitain ini adalah 25,6±6,1 tahun. Lingkar pinggang dan glukosa darah puasa (GDP) diambil sebagai parameter resistensi insulin. Pada penelitian ini subjek memiliki rerata lingkar pinggang 87,6±12,4 dan GDP 86,2±27,9 mg/dl. Rerata kadar vitamin D subjek 11,5±3,6 ng/ml. Berdasarkan uji korelasi Spearman, kadar vitamin D berkorelasi negatif lemah dan tidak signifikan secara statistik baik dengan lingkar pinggang (r= -0,2; p>0,05) maupun dengan GDP (r= -0,1; p>0,05). Kesimpulan: Vitamin D berkorelasi negatif lemah dengan parameter gangguan metabolik resistensi insulin pada pasien SOPK.Kata kunci: sindroma ovarium polikistik, vitamin D, resistensi insulin, sindroma metaboli

    Perbandingan Nilai Female Sexual Function Index pada Wanita Primipara Berdasarkan Metode Persalinan

    Get PDF
    Tujuan: Untuk membandingkan fungsi seksual pada wanita primipara dengan metode persalinan pervaginam dan seksio sesarea.  Metode: Penelitian ini adalah penelitian observasional analitik secara cross-sectional. Penelitian ini dilakukan selama tujuh bulan di RS Hasan Sadikin dan Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak Kota Bandung, dimulai pada September 2019 sampai Mei 2020. kriteria inklusi primipara, berusia 18-35 tahun, 3-6 bulan postpartum sebelum pengambilan data, aktif secara seksual dalam 6 bulan setelah persalinan dan melakukan hubungan seksual dalam empat minggu terakhir. Fungsi seksual dinilai dengan Female Sexual Function Index (FSFI).Hasil: Subjek penelitian ini terdiri dari 98 subjek dengan dibagi menjadi dua kelompok, yakni persalinan pervaginam (n=56) dan seksio sesarea (n=42). Subjek penelitian mengisi kuesioner FSFI versi Bahasa Indonesia. Dari 98 subjek, disfungsi seksual didapatkan 95% pada wanita dengan persalinan pervaginam dan 90% dengan seksio sesareaKesimpulan: Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara persalinan pervaginam dan seksio sesarea terhadap disfungsi seksual. The Comparison of Female Sexual Function Index Score in Primiparous Women According to Delivery MethodsAbstractObjective: to compare the sexual function of primiparous woman with spontaneous delivery and cesarean section.Method:  This research is an analytic observational study with cross-sectional method. This study is a 7 months study at Dr. Hasan Sadikin Central General Hospital and Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak Kota Bandung, started from September 2019 to May 2020. The inclusion criteria were primiparous, aged 18-35 year-old, 3-6 months postpartum before data collection, sexually active within 6 months after delivery and had sexual intercourse in the last four week. Sexual function was assessed by the Female Sexual Function Index (FSFI).Result: We obtained 98 subjects and divided them into two groups, spontaneous delivery (n = 56) and cesarean section (n = 42). Subject then filled out the Indonesian version of the FSFI questionnaire. From 98 subjects, sexual dysfunction was found in 95% subject with spontaneous delivery and 90% with cesarean section.Discussion: Using comparative chi square test (p = 0.43), there is no significant difference between each method of delivery on sexual dysfunction. Interestingly sexual dysfunction found in tremendous percentage compared to previous studies, either in spontaneous delivery (95%) or cesarean section (90%).Key word:cesarean section, Female Sexual Function Index, primiparous, sexual function, spontaneous deliver

    Adenomiosis Berdampak Buruk terhadap Keberhasilan in Vitro Fertilization

    Get PDF
    AbstrakTujuan: Memaparkan etiologi dan faktor risiko, diagnosis banding, patofisiologi, pemantauan, terapi, komplikasi, rekurensi dan tindakan preventif pada kasus preeklamsia pascasalin.Metode: Tinjauan pustaka dengan berbagai referensi yang diakses melalui mesin pencarian seperti Pubmed dan Sci-Hub dengan menggunakan kata kunci preeclampsia, hypertension, postpartum, management. Sumber referensi yang digunakan yaitu guidelines, jurnal, dan buku teks yang diterbitkan dalam 15 tahun terakhir.Kesimpulan: Insiden preeklamsia di Indonesia yaitu 128.273/tahun atau sekitar 5,3%. Sebanyak 0,3 – 27,5% kasus yang dilaporkan mengalami preeklamsia atau hipertensi pascasalin. Gejala-gejala preeklamsia pascasalin muncul setelah melahirkan. Mayoritas kasus berkembang dalam 48 jam setelah persalinan, walaupun sindrom dapat muncul hingga 6 minggu setelah persalinan. Periode pascasalin merupakan waktu kritis bagi spesialis obstetri dan ginekologi untuk menjamin wanita dengan riwayat preeklamsia untuk dipantau dalam jangka waktu pendek dan panjang. Akan tetapi, pemantauan pascasalin sangatlah rendah, berkisar antara 20-60%. Pemilihan antihipertensi pasca salin yaitu berikatan kuat dengan protein dan solubilitas lipid yang rendah sehingga lebih sedikit yang masuk ke ASI. Selain itu, dipengaruhi juga oleh ionisasi, berat molekul dan konstituen ASI (kandungan lemak, protein, dan air). Agen lini pertama untuk preeklamsia pascasalin adalah labetalol dan hidralazin intravena serta nifedipin. Wanita dengan hipertensi gestasional ataupun preeklamsia biasanya dapat menghentikan antihipertensi dalam 6 minggu pasca salin.Postpartum PreeclampsiaAbstractObjective: To explain about etiologies and risk factors, differential diagnosis, pathophysiology, follow up, treatment, complications, recurrence, and prevention of preeclampsia post delivery discharged.Method: Literature review with several references accessed through search engines such as Pubmed and Sci-Hub by using keywords preeclampsia, hypertension, postpartum, management. Reference sources used are guidelines, journals, and textbooks published in the last 15 years.Conclusion: The incidence of preeclampsia in Indonesia is 128,273/year or around 5.3%. As many as 0.3-27.5% of cases reported postpartum preeclampsia or hypertension. Symptoms of postpartum preeclampsia appear after delivery. The majority of cases develop within 48 hours after delivery, although the syndrome can appear up to 6 weeks after delivery. The postpartum period is a critical time for obstetricians and gynecologists to ensure women with a history of preeclampsia are monitored in the short and long term. However, postpartum monitoring is very low, ranging from 20-60%. The choice of antihypertensive postpartum is that it is strongly bound to protein with low lipid solubility so that fewer enter breast milk. In addition, it is also influenced by ionization, molecular weight and constituents of breast milk (fat content, protein, and water). The first line agent for postpartum preeclampsia is intravenous labetolol and hydralazine and also nifedipine. Women with gestational hypertension or preeclampsia can usually stop antihypertension within 6 weeks postpartum.Key word: postpartum preeclampsia, antihypertensio

    Gambaran Prevalensi dan Faktor Risiko Ibu pada Pasien Intrauterin Growth Restriction di Rumah Sakit Umum Pendidikan Hasan Sadikin Bandung

    No full text
    Tujuan: Penelitian ini akan dilakukan untuk identifikasi prevalensi dan faktor risiko ibu terhadap angka kejadian IUGR di Rumah Sakit Umum Penidikan (RSUP) Dr. Hasan Sadikin Bandung.Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif retrospektif menggunakan data sekunder dengan melihat data rekam medik rawat inap pasien hamil dengan IUGR yang lahir di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung periode bulan Januari 2018 – Desember 2019 berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi.Hasil: Prevalensi kasus IUGR di RSUP Hasan Sadikin Bandung adalah 76,16 orang per 1000 kehamilan. Karakteristik pasien dengan diagnosis IUGR terbanyak pada usia 21-34 tahun (64,32%), dengan paritas paling banyak pada primipara dengan total 147 kasus (79,45%). Faktor Risiko IUGR terdiri dari nilai BMI terbanyak dengan 86 subjek (46.5%) memiliki nilai BMI di atas batas normal. Tiga puluh lima subjek penelitian (18.9%) memiliki riwayat merokok, sementara 15 pasien (8.1%) memiliki riwayat mengonsumsi alkohol. Penyulit dalam kehamilan dengan PEB sebagai penyakit penyulit terbanyak. 28 pasien (15,1%). Pasien memiliki riwayat penyakit kronis 25 orang (13,5%) di antaranya mempunyai riwayat hipertensi kronis. Mayoritas dari seluruh pasien bersekolah hingga jenjang sekolah menengah. Kesimpulan: Prevalensi kasus IUGR di RSUP Hasan Sadikin Bandung adalah 76,16 orang per 1000 kehamilan. Karakteristik pasien terbanyak pada usia 21-34 tahun (64,32%), dengan paritas paling banyak pada primipara dengan total 147 kasus (79,45%).Description of Maternal Prevalence and Risk Factors in Intrauterine Growth Restriction Patients at Hasan Sadikin General Hospital BandungAbstractObjective: This study will identify the prevalence and risk factors of mothers for the incidence of IUGR in the General Hospital of Dr. Hasan Sadikin Bandung.Method: This research uses a retrospective descriptive design, using secondary data from the medical records of pregnant inpatients with IUGR born in RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung from January 2018 - December 2019 based on inclusion and exclusion criterias.Result: The prevalence of IUGR cases in RSUP Hasan Sadikin Bandung was 76.16 patients per 1000 pregnancies. The majority of patients with IUGR was at the age of 21-34 years (64.32%), with primipara was 147 of the cases (79.45%). The IUGR Risk Factor consists of 86 subjects (46.5%) having a BMI value above the normal limit, 35 study subjects (18.9%) had a history of smoking, and 15 patients (8.1%) had a history of consuming alcohol. Twenty-eight pregnancies (15.1%) complicated with preeclampsia. Patients with chronic diseases were 25 patients (13.5%) with chronic hypertension. The majority of the last education of all patients is in high school.Conclusion: Further research needed to assess the risk factors for the occurrence of intrauterine growth restriction (IUGR). Several components of fetal and uteroplacental risk factors, as well as other welfare level risk factors, may also need to be involved in the assessment of socioeconomic risk factors.Keyword: Prevalence, Intrauterine Growth Restriction. Risk Facto

    Analisis Kadar Hemoglobin dan Hematokrit Maternal terhadap Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin Bandung

    Get PDF
    Pendahuluan: Bayi berat lahir rendah (BBLR) merupakan salah satu penyumbang terbesar angka kematian bayi (AKB). Salah satu faktor risiko utama terjadinya BBLR adalah anemia dan kadar hematokrit yang rendah. Bayi yang memiliki berat lahir rendah  mempunyai efek jangka pendek maupun panjang terhadap bayi tersebut dengan tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Metode: Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan mengumpulkan data rekam medis ibu hamil aterm yang melahirkan di Rumah sakit Hasan Sadikin  periode Januari – Desember 2019Hasil: Dari 40 sampel ibu hamil aterm anemia dan tidak anemia dengan rata rata usia 26,8 tahun didapatkan nilai rerata berat bayi pada ibu hamil aterm anemia adalah 2435 gram dan rerata berat badan bayi pada ibu hamil aterm tanpa anemia adalah 2691 gram. Berdasarkan hasil perhitungan uji chi square bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara hemoglobin dengan kejadian BBLR (p=0,0023<0,05), serta terdapat pula hubungan yang signifikan antara hematokrit dengan kejadian BBLR (p=0,003<0,05). Kesimpulan: Terdapat hubungan bermakna antara anemia dan kadar hematokrit  pada ibu hamil aterm dengan berat bayi lahir rendah di Rumah sakit Hasan Sadikin.Analysis of Hemoglobin Levels and Maternal Hematocrit on the Event of Low Birth Weight in Dr. Hasan Sadikin Bandung HospitalAbstractIntroduction: Low birth weight (LBW) is one of the largest contributors to infant mortality rates (AKB). One of the main risk factors for BBLR is anemia and low hematocrit levels. Babies with low birth weight have both short and long-term effects on the baby with high morbidity and mortality rates. Method: This study used an observational analytic design by collecting medical records of aterm pregnant women who gave birth at Hasan Sadikin Hospital from January to December 2019Result: Of the 40 samples of pregnant women with anemia and non-anemia with an average age of 26.8 years obtained the average weight of the baby in pregnant women aterm anemia was 2470 grams and the average infant weight in pregnant women without anemia was 2650 grams. Based on the chi square test calculations that there is a significant relationship between hemoglobin and BBLR events (p=0.0023<0.05), and there is also a significant relationship between hematocrit and BBLR events (p=0.014<0.05). Conclusion:  It can concluded that there is a significant correlation between anaemia inaterm pregnancy and low birth baby weight in Rumah sakit Hasan Sadikin.Key words: anemia hematocrit, term pregnancy, low birth weigh

    Peran Sinbiotik pada Pencegahan Penyakit Alergi

    Get PDF
    Penyakit alergi menjadi masalah kesehatan dunia terutama di negara maju karena angka kejadiannya semakin meningkat, saat ini tercatat sekitar 30% dari populasi. Penyakit alergi berhubungan dengan faktor genetik (keturunan) dan atau faktor lingkungan yang mengakibatkan ketidakseimbangan mikrobiota usus ( dysbiosis) dan perubahan sistem imun tubuh. Walaupun faktor genetik dapat mendasari perkembangan dari penyakit alergi, namun kecenderungan semakin meningkat kejadiannya pada 2 dekade terakhir. Hal ini bisa disebabkan oleh adanya faktor lingkungan termasuk cara persalinan, penggunaan anti biotika, diet tinggi lemak dan rendah serat, rendahnya kadar asam lemak omega-3 dan defisiensi/ insufisiensi vitamin D. Pada keadaan normal, mikrobiota usus berada dalam keadaan eubiosis, berbeda dengan keadaan disbiosis akibat ketidak seimbangan komposisi dan atau fungsi mikrobiota usus, yang berhubungan dengan penyakit alergi seperti eksim, asma dan alergi makanan. Pada penyakit alergi terjadi pengurangan variasi mikrobiota termasuk laktobasilus dan bifidobakteri dalam usus bayi sebelum timbulnya gejala klinis penyakit atopia. Upaya untuk memperbaiki keseimbangan mikrobiota dengan pemberian prebiotik, probiotik atau sinbiotik merupakan strategi pencegahan penyakit alergi yang sudah banyak dilaporkan. Pelbagai penelitian intervensi sudah pernah dilakukan pada binatang maupun uji klinis pada manusia dengan menggunakan pelbagai macam prebiotik, probiotik maupun sinbiotik. Beberapa analisis sistematik sudah dilakukan dengan hasil yang kontroversial.(Synbiotics : A new Perspective to Overcome Hereditary Basis of Allergic Disease)AbstractAllergic diseases are becoming a world health problem, especially in developed countries because the incidence rate is increasing, currently recorded about 30% of the population. Allergic diseases are associated with genetic factors (heredity) and/or environmental factors that result in an imbalance of the gut microbiota (dysbiosis) and changes in the body's immune system. Although genetic factors can underlie the development of allergic diseases, the trend has increased in the last 2 decades. This can be due to the presence of environmental factors including the mode of delivery, the use of anti-biotics, a high-fat and low-fiber diet, low levels of omega-3 fatty acids and vitamin D deficiency/ insufficiency. Under normal circumstances, the gut microbiota is in a state of eubiosis, in contrast to the state of dysbiosis due to imbalance of the composition and or function of the gut microbiota, which is associated with allergic diseases such as eczema, Asthma and food allergies. In allergic diseases there is a reduction in variations of the microbiota including lactobasilus and bifidobakteri in the baby's intestines before the onset of clinical symptoms of aopia disease. Efforts to improve the balance of the microbiota with the administration of prebiotics, probiotics or synbiotics are a widely reported allergy disease prevention strategy. Various intervention studies have been conducted in animals and clinical trials in humans using a variety of prebiotics, probiotics and synbiotics. Some systematic analysis has already been done with controversial results.Key word: prebiotic, probiotic, synbiotic, allergic disease

    329

    full texts

    371

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    OBGYNIA - Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇