OBGYNIA - Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
Not a member yet
371 research outputs found
Sort by
Perbedaan Karakteristik, Jenis Persalinan, Luaran Ibu dan Bayi Antara Preterm Dini dan Lanjut
Tujuan: Kelahiran preterm dibagi menjadi dini dan lanjut. Kelahiran preterm memiliki angka, mortalitas dan morbiditas yang cukup tinggi. Data mengenai preterm dini dan lanjut di RSHS masih minim sehingga penelitian ini perlu untuk dilakukan. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik komparatif secara cross-sectional untuk menganalisis apakah terdapat perbedaan signifikan mengenai karakteristik ibu (riwayat paritas, pendidikan, pekerjaan, riwayat menikah) dengan persalinan preterm dini dan lanjut. Data berjumlah 125 pasien diambil melalui rekam medis dari Januari 2018 sampai Desember 2019.Hasil: Preterm lanjut ditemukan lebih banyak pada kelompok paritas 1 (60,6%), kelompok pendidikan SMP (40,8%), kelompok pekerjaan ibu rumah tangga (66,7%), dan kelompok status pernikahan menikah (43,9%). Preterm dini ditemukan lebih banyak pada kelompok paritas 3 (53,7%), kelompok pendidikan SD (73,7%), kelompok pekerjaan ibu rumah tanga (58,2%), dan status pernikahan menikah (56,1%). Pada kelompok karakteristik tidak terdapat perbedaan bermakna antara preterm dini dan lanjut. Terdapat perbedaan bermakna antara preterm dini dan lanjut untuk variabel luaran ibu (P = 0,028) dan luaran bayi (P = 0,001). Kesimpulan: Terdapat perbedaan yang bermakna pada preterm dini dan lanjut untuk variabel luaran ibu (jenis persalinan) dan variabel luaran bayi (ruang rawat bayi).Differences Between Characteristics, Types of Delivery, Mother and Baby Outcome Between Early and Late PretermAbstractObjective: Preterm birth divided into early and late. Preterm birth has a fairly high incidence, mortality and morbidity rate. Risk factors of preterm birth are multifactorial. Data related to preterm at RSHS is very minimal so this research needs to be done.Method: This study is a comparative analytic study with cross-sectional approach to analyze the significant differences in characteristics of mothers (parity history, education, occupation, marriage history) preterm labor. Data from 125 patients is collected through medical records from January 2018 to December 2019.Result: Late preterm was found more in parity 1 group (60.6%), junior high school group (40.8%), housewives (66.7%), and marital status group (43.9%). Early preterm was found more in parity 3 group (53.7%), elementary school group (73.7%), housewives (58.2%), and marital status (56.1%). In characteristic group there were no significant differences between early and late preterm. There were significant differences between early and late preterm variables for maternal outcomes (P = 0.028) and infant outcomes P = 0.001). Conclusion: There are significant differences between early and late preterm for maternal outcome variables (type of delivery) and infant outcome (level 1 and level III ward). Key word: Characteristics, type of delivery, outcome, preterm birth
Luaran Kehamilan dan Persalinan pada Ibu dengan Preeklamsi Berat di RS Panti Wilasa Citarum Semarang
Tujuan: Mengetahui dan mendiskripsikan peningkatan risiko luaran kehamilan dan persalinan pada ibu dengan preeklamsia berat di Rumah Sakit Panti Wilasa Citarum Semarang Metode: Desain penelitian menggunakan metode cross sectional dengan menggunakan data sekunder berupa rekam medis dan register persalinan. Populasi penelitian adalah ibu bersalin dengan preeklamsia berat dan tidak preeklamsia yang di rawat inap di RS Panti Wilasa Citarum bulan Januari 2015 – Desember 2015 dengan teknik pengambilan sampel consecutive dan didapatkan total 106 sampel.Hasil: Karakteristik ibu bersalin paling banyak pada ibu usia 20-35 tahun, primigravida dan tingkat pendidikan SMA. Terdapat variabel yang bermakna secara statistik dengan preeklamsia berat yaitu partus prematur (P=0,001,RR=4,75), seksio sesarea (P=0,000,RR=25,5), perdarahan pascasalin (P=0,02,RR=9). Ada variabel yang tidak bermakna secara statistik dengan preeklamsia berat yaitu solusio plasenta (P=0,241,RR= -), induksi persalinan (P=0,126, RR= -), ekstraksi vakum konstan. Kesimpulan : Luaran kehamilan dan persalinan ibu dengan preeklamsia berat ditemukan bahwa terdapat peningkatan risiko terjadinya sectio caesarea (RR=25,5), perdarahan pascasalin (RR=9), dan partus prematur (RR=4,75). Tidak terdapat peningkatan risiko terjadinya solusio plasenta, induksi persalinan, dan ekstraksi vakum pada preeklamsia berat. Pregnancy and Labor Outcomes in Women with Severe Preeclampsia in Panti Wilasa Citarum Hospital SemarangAbstractObjective: To know and to describe the increased risk of pregnancy and delivery outcomes in women with severe preeclampsia at Panti Wilasa Citarum Semarang HopsitalMethod : This study used cross sectional method and secondary data from medical record and delivery registry. The population in this study is all the maternity women at Panti Wilasa Citarum Semarang Hospital in January – December 2015. The sample in this tudy uses consecutive sampling method and the total sample is 106 samples. Result : The results showed that the characteristics of maternity women were aged 20-35 years old with primiparity and senior high school level education. There are statistically significant variables to severe preeclampsia which are preterm delivery (P=0,001, RR=4,75), sectio caesarea (P=0,000, RR=25,5), postpartum hemorrhage (P=0,02,RR=9). There are statistically non-significant variables which are placental abruption (P=0,241,RR= -), labor induction (P=0,126, RR= -), and vacuum extraction result is constant. Conclusion: The pregnancy and labor outcomes in women with severe preeclampsia was found that there was an increased risk of caesarea (RR=25,5), postpartum hemorrhage (RR=9) and preterm delivery (RR=4,75) in severe preeclampsia. There was no increased risk of placental abruption, labor induction, and vacuum extraction in severe preeclampsia. Key word : Severe preeclampsia, labor outcome, pregnancy outcom
Herpes Genitalis pada Kehamilan
Herpes genitalis pada kehamilan merupakan infeksi pada genital disebabkan Herpes simplex virus (HSV) dengan gejala berupa vesikel berkelompok dengan dasar eritema dan bersifat rekurens pada perempuan hamil. HSV dibagi menjadi HSV-1 dan HSV-2. HSV-2 paling sering menyebabkan herpes genital sekitar 82% kasus ditularkan melalui kontak seksual, HSV-1 lebih sering menyebabkan herpes non-genital, tetapi terjadi peningkatan kasus herpes genitalis diakibatkan HSV-1 karena praktek seksual orogenital. Penelitian tahun 2000-2001 dilakukan pada sekitar 16.000 ibu hamil melaporkan 16% terinfeksi HSV-2 dan 66% terinfeksi HSV-1. Infeksi HSV dibagi menjadi infeksi primer, non-primer, rekurens, dan asimptomatis. Frekuensi infeksi HSV neonatus di Amerika Serikat adalah 1/12500 kelahiran hidup. Herpes genitalis pada kehamilan memungkinkan penularan ke janin pada masa intrauterin 5%, perinatal 85%, atau postnatal 10%. Metode pewarnaan Giemsa, kultur HSV, biologi molekular (PCR), pemeriksaan histopatologi, atau serologi membantu menegakan diagnosis HSV. Penularan pada janin dapat menyebabkan abortus, stillbirth, pertumbuhan terhambat, Kelainan kongenital, dan kematian. Penggunaan Asiklovir atau Valasiklovir pada ibu hamil sebagai terapi utama dan terapi supresif. Terapi supresif digunakan untuk mencegah, menurunkan frekuensi rekurensi, menurunkan penularan selama kehamilan, dan menurunkan angka pelaksanaan sectio caesaria. Infeksi herpes genitalis pada kehamilan diatas 34 minggu direncanakan sectio caesarea untuk mengurangi risiko transmisi virus ke bayi. Kontak lama neonatus dengan jalur persalinan pada saat melahirkan spontan akan meningkatkan risiko tertularnya neonatus oleh HSV.Genital Herpes in PregnancyAbstractGenital herpes in pregnancy is an genital infection caused by the Herpes simplex virus (HSV) with symptoms in the form of grouped vesicles on an erythematous basis and is recurrency cases in pregnant women. HSV has HSV-1 and HSV-2. HSV-2 often cause genital herpes about 82% of cases and transmitted by sexual contact, HSV-1 caused more often non-genital herpes more often, but cases of genital herpes caused by HSV-1 were increasing due to orogenital sexual practices. A study in 2000-2001 conducted on about 16,000 pregnant women reported that 16% of cases were infected with HSV-2 and 66% were infected with HSV-1. HSV infection is divided into primary infection, non-primary, recurrent, and asymptomatic. The frequency of HSV-infected neonates in the United States is 1/12500 live of births. Genital herpes in pregnancy allows transmission to the fetus 5% during intrauterine, 85% during perinatal, or 10% during postnatal. Giemsa staining methods, cell culture, molecular biology (PCR), histopathological examination, or serology would be helpful on establishing the diagnosis of HSV. Transmission to the fetus may cause abortion, stillbirth, growth-retardation, congenital disorders, and death. The use of Acyclovir or Valacyclovir for pregnant women may be considered as primary therapy and suppressive therapy. Suppressive therapy is applied to pregnant women to prevent and reduce the frequency of recurrence, transmissions during pregnancy, and the rate of sectio caesaria. Genital herpes infection after 34-weeks-pregnancy is planned for caesarean section to reduce the risk of transmitting the virus to the baby. Prolonged contact of neonates with canal birth at spontaneous delivery will increase the risk of HSV transmission to neonates.Keywords : Genital Herpes, Pregnancy, HSV, Caesarean Section, Suppressive Therap
Antiviral Treatment on Pregnancy with COVID-19 Infection : A Systematic Review
Objective to evaluate antiviral treatment, duration, and side effects on pregnant women based on gestational age and severity of COVID-19 infection. Method: a systematic review of antiviral treatment, duration, and side effects on pregnant women based on gestational age and severity of COVID-19 infection. Systematic review was conducted following the guidelines of the Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-analysis (PRISMA) Statement. Result 948 papers accessed through Pubmed, Scopus, Science Direct, Cohcrane, and other with keywords “Antiviral”, “Pregnancy” “Pregnant” “Coronavirus” “COVID-19” “SARS-CoV-2”. Duplicate papers were excluded (n=302), topics and abstracts that do not meet the criteria (n=612), and 25 papers that did not meet the inclusion criteria. 9 papers that meet the inclusion criteria (case reports and cohort retrospective case study) discussed 20 pregnant women with COVID-19 infection (16 moderate and severe cases received Remdesivir, 3 moderate and mild cases received Lopinavir-ritonavir combination, and 1 moderate case received Arbidol). Conclusion, remdesivir is an antiviral frequently used in pregnancy on trimester II and III with severe COVID-19 infection with a duration of treatment of 5-10 days. Remdesivir should be monitored because some show side effects of increasing liver function.Pengobatan Ibu Hamil yang Terinfeksi COVID−19 dengan AntivirusAbstrakTujuan untuk mengevaluasi penggunaan obat antivirus, lama pengobatan, dan efek samping pada wanita hamil dengan infeksi COVID-19 berdasarkan usia kehamilan dan derajat keparahan. Metode tinjauan literatur sistematis tentang penggunaan obat antivirus, lama pengobatan, dan efek samping pada wanita hamil dengan infeksi COVID-19 berdasarkan usia kehamilan dan tingkat keparahan. Tinjauan sistematis mengikuti pedoman dari Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analysis (PRISMA). Hasil terdapat 948 jurnal yang diakses melalui Pubmed, Scopus, Science Direct, Cohcrane dan lainya dengan kata kunci : Antiviral, Pregnancy, Pregnant, Coronavirus, COVID-19, SARS-CoV-2. Terdapat jurnal yang terduplikasi (n=302), topik dan abstrak yang tidak sesuai kriteria (n=612), dan 25 jurnal yang tidak sesuai kriteria inklusi. Terdapat 9 jurnal yang memenuhi kriteria inklusi (laporan kasus dan studi retrosepktif kohort) yang membahas 20 wanita hamil dengan infeksi COVID-19 (16 kasus dengan derajat sedang dan berat menerima Remdesivir, 3 kasus derajat sedang dan ringan menerima kombinasi Lopinavir-ritonavir, dan 1 kasus derajat sedang menerima Arbidol). Kesimpulan, remdesivir adalah antivirus yang sering digunakan pada wanita hamil trisemester II dan III dengan infeksi COVID-19 derajat berat, lama pengobatan 5-10 hari. Remdesivir harus diwaspadai karena dapat menimbulkan efek samping seperti peningkatan fungsi hati. Kata kunci: Antivirus, Hamil, COVID-1
Perbandingan Wound Dehiscence Pasca Seksio Sesarea Antara Pasien Rujukan dan Non-rujukan di Bandung
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kejadian wound dehiscence pasca seksio sesarea dan bakteri terkait antara pasien rujukan dengan non-rujukan. Metode: Penelitian ini merupakan laporan serial kasus observasional secara retrospektif. Kriteria subjek pada penelitian ini terdiri atas pasien rawat inap yang didiagnosis wound dehiscence pasca seksio sesarea, berusia 16 - 45 tahun, paritas 1 – 8, lama rawat 3 – 14 hari, terdapat pemeriksaan kultur pus, kadar hemoglobin dan albumin selama dirawat. Penelitian dilakukan di Departemen/SMF Obstetri dan Ginekologi RSUP Dr. Hasan Sadikin/Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung periode Januari – Desember 2019. Hasil: Dari seluruh seksio sesarea terdapat 942 kasus rujukan dan 431 kasus non rujukan. Wound dehiscence terjadi pada 20 kasus (1,45%), dengan jumlah kasus 16 (1,7%) dari seluruh kasus rujukan dan 4 (0,92%) kasus dari seluruh pasien non-rujukan. Tidak terdapat perbedaan karakteristik pasien dari kadar hemoglobin dan albumin ataupun luaran lama perawatan (p>0,05). Kultur pus wound dehiscence menunjukkan bakteri tersering yang ditemukan dua kelompok adalah Staphylococcus spp. Kesimpulan: wound dehiscence lebih sering terjadi pada kasus rujukan dan tidak terdapat perbedaan karakteristik dan jenis bakteri antar kelompok rujukan dan non-rujukan.Comparison of the Incidence of Post-Caesarean Wound Dehiscence among Referral and Non-referral Patients in BandungAbstract Objective: This study aims to compare the incidence of post caesarean wound dehiscence and related bacteria between referred patients and non-referred patients. Method: This was a retrospective observational case series. Inclusion criteria consisted of all inpatients who diagnosed as caesarean section wound dehiscence, aged 16 – 45 years old, parity 1 – 8, length of stay 3 -14 days, as well as the albumin, hemoglobin, and pus culture had been examined. The study was conducted in Obstetric and Gynaecology Department, Hasan Sadikin Hospital, Bandung from January to December 2019. Result: Among all caesarean section cases, the referred and non-referred cases were 942 and 431, respectively. Wound dehiscence were occurred in 20 cases, consisted of 16 referred cases (1.7%) and 4 (0.09%) non-referred cases. There was no difference in subject characteristics, hemoglobin, albumin, and length of stay (p>0.05). The most common observed bacteria in both group was Staphylococcus spp. Conclusion: Wound dehiscence is more frequent occurred in referred cases and bacterial characteristics between referred and non-referred group is comparable.Key words: caesarian section, pus culture, referred case, Staphylococcu
Gambaran Karakteristik Dan Luaran Maternal Pasien Obstetri Yang Dirawat di Ruang Perawatan Intensif RSUP Dr. Hasan Sadikin Selama Periode 2017-2018
Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran karakteristik dan luaran maternal pasien obstetri yang dirawat di ruang perawatan intensif RSUP Dr. Hasan Sadikin selama periode tahun 2017–2018. Metode: Penelitian ini menggunakan metode studi retrospektif deskriptif. Hasil: Sebanyak 173 pasien obstetri yang dirawat di ruang perawatan intensif dengan luaran maternal hidup 159 pasien dan kasus meninggal 14 kasus. Luaran maternal hidup dengan penyakit penyerta terbanyak yaitu hipertensi dalam kehamilan, seperti eklamsia 36 (22,6%), impending eklamsia 12 (7,5%) dan PEB 52 (32,7%). Selain itu terdapat penyakit jantung sebanyak 31 (19,5%). Luaran maternal meninggal terbanyak dengan penyakit jantung sebanyak 5 pasien (35,7%), eklamsia sebanyak 4 pasien (28,6%). Kesimpulan: Indikasi rawat ruang intensif terbanyak adalah hipertensi maligna 62 (39,0%). Jenis persalinan terbanyak yaitu seksio sesarea 135 (78,0%). Pasien dengan lama perawatan selama 10 hari 11 (6,4%).Bedasarkan hasil penelitian ini didapatkan penyakit terbanyak pasien obstetri yang dirawat di ruang perawatan intensif adalah hipertensi dalam kehamilan meliputi eklamsia, impending eklamsia, dan preeklamsia berat.Description of Maternal Characteristics and Outcomes of Obstetrical Patients in the Intensive Care Unit Dr. Hasan Sadikin Hospital during The Period 2017−2018Abstract:Objective: This study was conducted to determine the characteristics and maternal outcomes of obstetric patients who were treated in the intensive care unit of RSUP Dr. Hasan Sadikin during the 2017-2018 period. Method: a research method using a descriptive retrospective study.Result: A total of 173 obstetric patients were treated in intensive care unit 159 maternal outcomes and 14 cases died. Maternal outcomes of life with the most comorbidities are hypertension in pregnancy, such as eclampsia 36 (22.6%), impending eclampsia 12 (7.5%) and PEB 52 (32.7%). In addition there were heart disease as many as 31 (19.5%). Most maternal outcomes died with heart disease in 5 patients (35.7%), eclampsia in 4 patients (28.6%).Discussion : The most indication of intensive care is malignant hypertension 62 (39.0%). The most type of childbirth is cesarean section 135 (78.0%). Patients with duration of treatment for 10 days 11 (6.4%).Based on the results of this study found that most obstetric patients treated in intensive care are hypertension in pregnancy including eclampsia, impending eclampsia, and severe preeclampsia.Key words: Obstetric patients, intensive unit, maternal outcomes
Pendidikan Era Pandemi COVID-19
Sejarah pendidikan profesi kedokteran melalui proses yang panjang dan berliku, membutuhkan upaya berkelanjutan yang lebih baik. Tujuan pendidikan profesi adalah untuk mendidik para profesional mengupayakan penyebaran pengetahuan, mempunyai pola pikir kritis dan perilaku etis, kompeten dalam sistem pelayanan kesehatan perorangan dan masyarakat.Pada era pandemi COVID-19, diperlukan pendekatan sistem reformasi pendidikan professional yang terintegrasi dan kepemimpinan yang lebih baik.Pandemi COVID-19 memberikan dampak menyeluruh termasuk pada pendidikan kedokteran. Sebagian besar rotasi mahasiswa kedokteran terhenti terkait pelayanan rumah sakit berfokus pada penanganan COVID-19 dan pembelajaran tatap muka dikelas serta praktik laboratorium ditunda, mahasiswa belajar secara jarak jauh. Pandemi COVID-19 telah merubah pelayanan publik dan potensi perubahan tatalaksana pendidikan kedokteran. Rotasi penugasan yang tinggi antar bagian dan ke berbagai RS jejaring akan meningkatkan risiko peserta didik sebagai faktor penyebab penyebaran. Meskipun demikian+ peserta didik PPDS juga memegang peranan terbesar pada pelayanan medis di RS pendidikan. Terdapat kekhawatiran yang tinggi peserta didik akan dampak COVID-19 pada proses pendidikan mereka
Tingkat Pengetahuan dan Sikap Terhadap Perilaku Keikutsertaan Deteksi Dini Kanker Serviks pada Paramedis Perempuan
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan tingkat pengetahuan dan sikap paramedis terhadap perilaku partisipatif dalam deteksi dini kanker serviks.Metode: Penelitian ini merupakan Penelitian Observasional Analitik dengan rancangan potong lintang. Data yang digunakan merupakan data primer yang berasal dari hasil wawancara dan kuesioner tervalidasi. Jumlah minimal sampel adalah 206.Hasil: Penelitian ini dilakukan terhadap 220 wanita dengan tingkat pengetahuan pap smear 75,5% dan tes IVA 85,0%. Untuk responden yang melakukan pap smear 6,4%, dan tes IVA 16,8%. Hasil didapatkan tidak ada hubungan antara variabel tingkat pengetahuan dan sikap terhadap perilaku partisipatif dalam deteksi dini kanker serviks pada paramedis wanita (P>0,05).Diskusi: Menurut teori IBM, perilaku yang terjadi dipengaruhi oleh lima faktor, yaitu pengetahuan dan keterampilan, kecenderungan berperilaku, minat berperilaku, kendala lingkungan, dan kebiasaan berperilaku. Penelitian ini memberikan pengaruh pengetahuan dan sikap terhadap perilaku paramedis.Kesimpulan: Tingkat pengetahuan dan sikap paramedik perempuan tidak berpengaruh terhadap keikutsertaan tes IVA dan Pap smear.Toward Participation Behavior in Early Detection of Cervical Cancer on Women ParamedicAbstract Objective: This study aims to analyze the relationship between the level of knowledge and attitudes of paramedics on participatory behavior in early detection of cervical cancer.Method: This research is an Analytical Observational Research with a cross-sectional design. The data used are primary data derived from validated interviews and questionnaires. The minimum sample size is 206.Result: This study was conducted on 220 women with a Pap smear level of knowledge of 75.5% and an IVA test of 85.0%. For respondents who did pap smears were 6.4%, and IVA tests were 16.8%. The results showed no relationship between the variable level of knowledge and attitudes towards participatory behavior in early detection of cervical cancer in female paramedics (P> 0.05).Discussion: According to IBM theory, a behavior that occurs is influenced by the following five factors, knowledge and skills, the tendency to behave, the interest to behave, environmental constraints, and habits to behave. This study analyzes the effect of knowledge and attitudes on paramedical behavior.Conclusion: The level of knowledge and attitudes of women paramedics did not affect the participation of IVA tests and Pap smears.Key word: Knowledge, attitudes, behavior, early detection of cervical cance
Analisis Manajemen Tatalaksana Kanker Ginekologi di RSUP Sanglah di Era Pandemi COVID-19
AbstrakPandemi COVID-19 memberikan tantangan tersendiri dalam penanganan kanker, khususnya kanker ginekologi. Kondisi pasien penderita kanker yang telah mengalami immunocompromised baik karena penyakitnya maupun efek samping dari obat-obatan yang diberikan, berpotensi meningkatkan risiko pasien kanker untuk mengalami infeksi COVID-19 berat. Penatalaksanaan utama dari kanker yang bertonggak pada tiga poros yaitu operasi, kemoterapi, dan radioterapi perlu dilakukan adaptasi demi meningkatkan angka survival rate pada pasien.Management of Gynecological Cancers in the COVID-19 Era: a Persepctive from Sanglah General HospitalAbstractThe COVID-19 pandemic as challenges in dealing with cancer, especially gynaecological cancer. The condition of cancer patients who have experienced immunocompromised due to both the disease and the side effects of the drugs increases the risk of cancer patients to experience severe COVID-19 infection. The management of cancer consists of three axes; surgery, chemotherapy, and radiotherapy, and needs to be adapted to increase patient survival. Key word: COVID-19; chemotherapy; operative; radiotherapy; gynaecological cancer
Ekspresi Annexin A2 pada Kanker Ginekologi
Tujuan: Untuk menentukan adanya hubungan antara ekspresi ANXA2 dan berbagai aspek kanker ginekologi. Metode: Pencarian terstruktur untuk penelitian yang menyelidiki hubungan ekspresi ANXA2 dan kanker serviks, kanker endometrium dan kanker ovarium menggunakan PubMed. Pencarian terbatas pada 10 tahun terakhir dan dilakukan penyaringan dengan kriteria inklusi serta eksklusi yang telah ditetapkan. Hasil: Dari 52 penelitian didapatkan 9 penelitian yang kemudian dilakukan telaah kritis. ANXA2 diekspresikan berlebih dalam jaringan karsinoma dibandingkan dengan jaringan normal. Kesimpulan: Peningkatan ekspresi ANXA2 berperan dalam proliferasi sel kanker. Ekspresi ANXA2 berkorelasi dengan stadium lanjut dan penyakit metastasis. ANXA2 dapat digunakan untuk memprediksi progresivitas, angka kelangsungan hidup, dan resistensi terhadap rejimen pengobatan.Annexin A2 Expression in Gynecological Cancer: A Systematic ReviewAbstractObjective: To determine the relationship between ANXA2 expression and various aspects of gynecological cancer. Method: A structured search for studies involving the relationship of ANXA2 and cervical cancer, endometrial cancer and ovarian cancer using PubMed. Search is limited to the last 10 years and is screened with predetermined inclusion and exclusion criteria. Result: Of the 52 studies obtained 9 studies which were then carried out critical studies. ANXA2 is overexpressed in carcinoma tissue compared to normal tissue. Conclusion: Increased expression of ANXA2 approved in cancer cell proliferation. Expression of ANXA2 correlates with advanced stage and metastatic disease. ANXA2 can be used to predict progression, survival rates, and resistance to treatment regimens.Key words: Annexin A2, gynecological cancer, proliferatio