OBGYNIA - Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
Not a member yet
    371 research outputs found

    Perbandingan Nilai Prediktif antara Risk-of-Malignancy Index (RMI) dan Klasifikasi IOTA Simple Rules dalam Prediksi Keganasan pada Kasus Tumor Ovarium di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung

    Get PDF
    Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dan membandingkan penerapan dua metode diagnostik yang telah digunakan di RSHS, yaitu skor RMI dan Klasifikasi IOTA Rules untuk memprediksi keganasan suatu tumor ovarium selama periode 2017−2018Metode: Penelitian ini merupakan penelitian komparatif dengan pengambilan data secara retrospektif. Sumber data diperoleh dari rekam medis pasien yang menjalani operasi pengangkatan dan pemeriksaan histopalogis tumor ovarium. Dilakukan pengumpulan informasi mengenai data USG, kadar CA125, skor RMI, klasifikasi IOTA Simple Rules, dan membandingkannya dengan luaran histopatologis.Hasil: 190 kasus tumor ovarium diteliti. 156 kasus (82,1%) memiliki luaran histopatologis ganas dan 34 kasus lainnya (17.9%) jinak. 178 kasus (93,68%) memiliki skor RMI ≥200 dan 12 kasus (6,32%) <200. sebanyak 78 kasus diklasifikasikan sebagai Malignant, 42 kasus Benign, dan 70 kasus lainnya Inconclusive dengan kriteria IOTA Simple Rules. Distribusi CA125 dan Skor RMI pada kedua kelompok luaran histopatologis berbeda secara bermakna (P<0,05). Sensitivitas dan spesifisitas klasifikasi IOTA Simple Rules di RSHS masing-masing 94,23% dan 97,06%, dengan menggabungkan kelompok IOTA inkonklusif dengan kelompok ganas.  Penghitungan sensitivitas dan spesifisitas skor RMI memberikan nilai 95,51% dan 14,71% dengan menggunakan cut-off-point skor RMI 200.Kesimpulan: Sensitivitas dan spesifisitas klasifikasi IOTA Simple Rules lebih baik dibandingkan dengan skor RMI dalam memprediksi keganasan suatu tumor ovarium.Predictive Value Comparison of Risk-of-Malignancy Index (RMI) and IOTA Simple Rules in Predicting Ovarian Tumor Malignancy in Dr. Hasan Sadikin Hospital BandungAbstractObjective: This study was done to evaluate and compare the use of RMI score & IOTA Simple Rule which has been routinely used in Hasan Sadikin Hospital to predict ovarian malignancy in 2017-2018Method: This is a comparative study that collects data retrospectively. Data was obtained from medical record of patient who underwent ovarian tumor surgery, including USG report, CA125, RMI score, IOTA Simple Rules, and compared it with histopathological outcome. Result: 190 ovarian tumor cases was studied. 156 cases (82.1%) have malignant histopathological result and the other 34 cases (17.9%) were benign. 178 (93.68%) cases have RMI score ≥ 200 and 12 cases (6.32%) <200. As much 78 cases were classified as malignant, 42 cases (22.11%) were classified benign, and the other 70 cases were classified inconclusive using IOTA Simple Rules. CA125 and RMI Score distribution on both histopathological group differs significantly (P<0.05). IOTA Simple Rules shows sensitivity and specificity of 94.23% and 97.06% respectively, when inconclusive and malignant results were grouped together. RMI Score showed sensitivity  and specificity of 95.51% and 14.71% respectively using cut-off point of 200.Conclusion: IOTA Simple Rules performs better than RMI in predicting ovarian tumor malignancy.Key words: Ovarian cancer, IOTA, RMI, USG, CA12

    Perbandingan Kadar Testosteron dan Lemak Viseral Pasien Sindrom Ovarium Polikistik di Poliklinik Aster RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Sebelum dan Setelah Pemberian Terapi Metformin

    No full text
    Tujuan: Terdapat 50-70% kasus sindrom ovarium polikistik yang berkaitan dengan adanya resistensi insulin. Peran agen sensitisasi insulin seperti metformin diharapkan dapat memperbaiki kondisi lemak dan testosteron bebas yang tinggi sehingga memperbaiki gejala klinis pasien dengan sindrom ovarium polikistik. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan indeks androgen bebas (sebagai representasi kadar testosteron) dan lemak viseral pasien sindrom ovarium polikistik sebelum dan sesudah diberi pengobatan metformin. Metode: Populasi penelitian didapatkan dari data penelitian DLBS (Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences) 3233 yaitu 29 kasus wanita sindrom ovarium polikistik yang datang untuk berobat di Klinik Aster RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung periode Januari 2013 - Desember 2017, dengan menggunakan metode experimental design dengan pendekatan one group pretest-posttest design. Pengambilan sampel penelitian dilakukan secara purposing sampling yang diambil secara retrospektif pada data sekunder yang terdapat dalam rekam medik. Hasil: Didapatkan rata-rata indeks androgen bebas sebelum pemberian terapi metformin 2.67 ± 0.43 dan sesudah pemberian terapi 1.88 ± 0.37. Rata-rata kadar lemak visceral sebelum pemberian terapi metformin 10.27±2.589% dan sesudah pemberian terapi 8.00±1.488%. Kesimpulan: Sehingga disimpulkan terdapat perbedaan signifikan kadar indeks androgen bebas (p:0.008) dan lemak visceral (p:0,0001) pada pasien sindrom ovarium polikistik sebelum dan sesudah pemberian terapi metformin.Comparasion of free Androgen Index and Viseral Fat in Polycystic Ovary Syndrome Patients in Aster Polyclinic Dr. Hasan Sadikin Bandung Before and After Giving Metformin TherapyAbstractObjective: There are 50-70% of cases of polycystic ovary syndrome associated with insulin resistance. The role of insulin sensitizing agents such as metformin is expected to improve the condition of high fat and free testosteron, thereby improving the clinical symptoms of patients with polycystic ovary syndrome. This study aims to determine differences in free androgen index (represent the value of free testosteron) and visceral fat levels of polycystic ovary syndrome patients before and after being given metformin treatment. Method: The study population was obtained from DLBS (Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences) 3233 research data, namely 29 cases of polycystic ovary syndrome women who came for treatment at the Aster Clinic Dr. Hasan Sadikin Bandung from January 2013 - December 2017, using the experimental design method with the one group pretest-posttest design approach. Sampling was done by purposing sampling taken retrospectively on secondary data contained in the medical record. Result: The average free androgen index levels were obtained before the administration of metformin therapy 2.67 ± 0.43 and after the administration of therapy 1.88 ± 0.37 Average visceral fat levels before administration of metformin therapy 10.27 ± 2.589% and after administration of 8.00 ± 1,488%. Conclusion : It was concluded that there were significant differences in free androgen index (p: 0.008) and visceral fat (p: 0.0001) in patients with polycystic ovary syndrome before and after metformin therapy.Key word: Polycystic ovary syndrome, free androgen index, viseral fat, metformi

    Hubungan Anti-Mullerian Hormone (AMH) pada Long dan Short Protocol Terhadap Fertilization Rate Pasien In Vitro Fertilization (IVF)

    Get PDF
    Tujuan: Untuk mengevaluasi pengaruh kadar anti-mullerian hormone (AMH) dengan fertilization rate (FR) dan menilai perbedaan pengaruh jenis protokol (long protocol (LP) dan short protocol (SP)) pada tiap tingkat cadangan ovarium terhadap FR pada pasien in vitro fertilization (IVF) dengan Intracytoplasmic Sperm Injection. Metode: Data sekunder dari rekam medis pasien yang menjalani IVF di Aster Fertility Clinic Rumah Sakit Umum Pendidikan dr. Hasan Sadikin pada tahun 2016-2020 dan Bandung Fertility Centre Rumah Sakit Ibu Anak Limijati pada tahun 2018-2019. Penelitian ini analitik observational dengan metode Cohort retrospektif. Hubungan antara dua data kategorik diuji dengan uji chi-square dan uji Kruskal-Wallis digunakan pada data numerik dengan distribusi yang tidak rata pada lebih dari 2 kelompok, Hasil: Hasil data diperoleh nilai rerata kadar AMH secara keseluruhan adalah 3.30 ng/ml dengan rerata capaian FR sebesar 71.97%. Berdasarkan metode IVF yang dipilih, mayoritas pasien menjalani pengobatan SP 54.4% (rerata FR 72.80%) dibandingkan dengan LP 45.6% (rerata FR 70.97%). Tidak ditemukan hubungan yang bermakna antara kadar AMH dengan FR, dinyatakan dengan nilai p=0.977. Kadar AMH terhadap FR bila dipisahkan menurut protokol terapi yang diberikan tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna pada masing-masing protokol (LP p=0,763; SP p=0,843). Mengenai hubungan antara protokol IVF dengan FR juga tidak diperoleh perbedaan yang signifikan secara statistik dengan nilai p=0,27 (RR 1.17 (0.62-2.15); CI 95%). Penggobatan menggunakan LP (p=0,770) maupun SP (p=0.845) tidak memberikan pengaruh yang bermakna terhadap FR pada setiap kategori AMH.Kesimpulan: Tidak ada pengaruh kadar AMH dan protokol terapi terhadap FR.Relation of Anti-Mullerian Hormone (AMH) in Short and Long Protocol Againts Fertilization Rate of in Vitro Fertilization (IVF) PatientsAbstractObjective:To evaluate the effect of anti-mullerian hormone (AMH) levels on the success of fertilization rate (FR) and assess the effect of different types of protocols (long protocol (LP) and short protocol (SP)) at each level of ovarian reserve on fertilization rate of in-vitro fertilization (IVF) patients using Intracytoplasmic Sperm Injection.Method: Secondary data from the medical records of patients undergoing IVF at the Aster Fertility Clinic, Hasan Sadikin Hospital in 2016-2020 and Bandung Fertility Center Limijati Hospital. This study was an observational analytic study with a retrospective cohort approach. The relationship between two categorical data was analyzed by chi-square and Kruskal-Wallis on numerical data that were not normally distributed in more than 2 groups.Result: The result of obtained data is an average overall AMH level of 3.30 ng/ml with a mean FR achievement of 71.97%. Based on chosen IVF method, more patient underwent short protocol 54.4% (mean FR 72.80%) than long protocol 46.6% (mean FR 70.97%). There was no significant relationship between AMH levels and FR, expressed by the value of p = 0.977.  AMH levels against FR when separated according to the given therapy protocol did not show any significant difference in each protocol (LP p=0.763, SP p=0.843). Regarding the relationship between the IVF protocol and FR, there was also no statistically significant difference with p value =0.27 (RR 1.17 (0.62-2.15) 95% CI), as well as treatment using LP (p=0,770) or SP (p=0.845) did not have a significant effect on FR at each AMH category (p=0.599).Conclusion: There was no significant relationship between AMH levels and therapy protocol on FR.Key word: In Vitro Fertilization, Fertilization Rate, Anti-Mullerian Hormone, Ovarian Stimulation Protoco

    Hubungan antara Kadar Hemoglobin dan Jumlah Leukosit dengan Kejadian Prematuritas di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin Bandung

    Get PDF
    Tujuan: Untuk mengetahui adanya hubungan antara kadar hemoglobin dan kadar leukosit maternal dengan kejadian prematuritas di Rumah Sakit Umum Pendidikan Dr. Hasan Sadikin Bandung. Metode: Rancangan penelitian ini adalah observasional analitik dengan desain studi potong-lintang. Subjek penelitian adalah pasien dengan persalinan pada kehamilan usia 24–42 minggu di Rumah Sakit Umum Pendidikan Dr. Hasan Sadikin Bandung periode Januari – Desember 2019 yang berjumlah 82 pasien. Dilakukan pengumpulan data dari rekam medis pasien berupa usia kehamilan, kadar hemoglobin, kadar leukosit, dan faktor perancu berupa usia, tingkat pendidikan, dan tingkat paritas. Hubungan antara kadar hemoglobin dan jumlah leukosit dengan persalinan prematur dianalisis statistik dengan uji Chi-square. Variabel-variabel perancu akan dikendalikan melalui analisis multivariat dengan regresi logistik. Hasil: Terdapat hubungan yang signifikan antara kadar hemoglobin dan kadar leukosit dengan terjadinya persalinan prematur (p<0,05). Hasil analisis dengan uji regresi logstik menunjukkan bahwa tetap terdapat hubungan bermakna antara kadar hemoglobin (OR 0,27; p<0,05) dan kadar leukosit (OR 3,60; p<0,05) dengan persalinan prematur setelah dilakukan pengendalian faktor perancu. Kesimpulan: Kadar hemoglobin dan kadar leukosit memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian persalinan prematur tanpa dipengaruhi oleh usia, tingkat pendidikan, dan tingkat paritas. Associated Between Hemoglobin and Leukocytes Levels with the Incidence of Prematurity in Dr. Hasan Sadikin General Hospital BandungAbstract Objective: To examine whether an association exists between maternal hemoglobin and leukocyte level and the risk of preterm delivery in Rumah Sakit Umum Pendidikan Dr. Hasan Sadikin Bandung. Method: An analytical cross-sectional study involving 82 pregnant women who delivered at 24 – 42 weeks gestation at Rumah Sakit Umum Pendidikan Dr. Hasan Sadikin Bandung in January – December 2019 was conducted. Gestational age, maternal hemoglobin level, maternal leukocyte level, and confounding factors including age, education level, and parity data were collected from patients’ medical records. The association between maternal hemoglobin and leukocyte level with the risk of preterm delivery was analyzed using Chi-Square test. Multiple logistic regression models were used to control for confounding variables. Result: Maternal hemoglobin and leukocyte level were significantly associated with the risk of preterm delivery (p<0.05). Multiple logistic regression models showed that the associations between maternal hemoglobin level (OR 0.27; p<0.05) and maternal leukocyte level (OR 3.60; p<0.05) with the risk of preterm delivery were still significant after adjusting for confounding variables. Conclusion: Maternal hemoglobin and leukocyte level were significantly associated with the risk of preterm delivery after adjusting for age, education level, and parity. Key word: Hemoglobin, Prematuritas, Leukocyte

    Apa itu Turun Peranakan

    Get PDF
    Tujuan untuk mengetahui lebih dalam tentang turun peranakan atau prolaps alat genitalia dapat disamakan dengan suatu hernia, dimana suatu organ genitalia turun ke dalam vagina, bahkan mungkin keluar liang vagina. Hal ini karena kelemahan otot fasia dan ligamen penyokongnya. Kerusakan pada penyangga vagina dapat terjadi dalam satu lokasi saja (misalnya, dinding vagina anterior saja), tetapi lebih sering terjadi kombinasi. Metode merangkum daftar referensi terupdate sebagai bahan artikel yang dapat menjadi pedoman dan tatalaksana prolaps organ panggul. Hasil tidak semua prolaps alat genitalia membutuhkan terapi, karena banyak penderita tidak mempunyai keluhan, terutama stadium I dan kadang-kadang stadium II. Pada mereka yang mempunyai keluhan tentu perlu penanganan dengan tepat agar penderita merasa lebih baik. Prolaps uteri stadium II dan III dipilih vaginal histerektomi dan disertai dengan kolporafi anterior dan kolpoperineorafi, Hal ini terutama bila penderita sudah mengalami manaupose atau tidak memerlukan lagi organ reproduksi. Kesimpulan, walaupun tidak mengancam nyawa, akan tetapi prolapsus alat genitalia dapat menurunkan kualitas hidup wanita.What is ProlapseAbstractPurpose to find out more about descent or genital prolapse can be likened to a hernia, in which a genital organ descends into the vagina, possibly even out of the vaginal canal. This is due to weakness of the fascial muscles and ligaments that support them. Damage to the vaginal support can occur in one location only (eg, anterior vaginal wall only), but is more common in combination. Although it does not cause death, pelvic organ prolapse can reduce the quality of life for women. Method summarize an updated list of references as material for articles that can guide and treat pelvic organ prolapse. Result not all prolapse of the genitalia needed therapy, because many patients had no complaints, especially stage I and sometimes stage II. Those who have complaints, of course, need to be handled properly so that the sufferer feels better. Uterine prolapse stages II and III were chosen by vaginal hysterectomy and accompanied by anterior colporaphy and kolpoperineorafi, especially if the patient has menopause, or no longer needs reproductive organs. Conclusion, although not life threatening, genital prolapse can reduce a woman’s quality of life.Key word: Prolap genitalia, quality of life for wome

    Abnormal Uterine Bleeding in Adolescent

    Get PDF
    AbstractAbnormal uterine bleeding (AUB) is a frequent cause of visits to health care provider during adolescent period. Heavy menstrual bleeding is the most frequent clinical presentation of AUB. This condition particularly worrisome in this group not only when it occurs at menarche, but also anytime afterward when bleeding lasts longer than 7 days, blood loss is greater than 80 mL per cycle, or other warning signs that indicate a history of heavy bleeding such as anemia. Careful history and examination can help elucidate the best next steps for workup and management. The primary goal of treatment is prevention of hemodynamic instability. Therefore, assessing the severity and cause of bleeding is important. Therapeutic approach in the acute period should be established according to the degree of anemia and amount of flow. Treatment options for medical care of AUB generally include hormonal, nonhormonal and surgery. Additionally, long-term management with hormonal therapy in patients with severe uterine bleeding is known to be safe for developing HPO axis.Perdarahan Uterus Abnormal pada RemajaAbstrakPerdarahan uterus abnormal (PUA) sering menjadi penyebab kunjungan ke penyedia layanan kesehatan selama masa remaja. Perdarahan menstruasi yang berat adalah gambaran klinis yang paling sering dari AUB. Kondisi ini sangat mengkhawatirkan para remaja yang terjadi bukan hanya saat menarche, tetapi juga bila perdarahan berlangsung lebih dari 7 hari, kehilangan darah lebih dari 80 mL per siklus, atau gejala lain yang menunjukkan riwayat perdarahan berat seperti anemia. Anamnesa dan pemeriksaan yang cermat dapat membantu menentukan langkah selanjutnya untuk pemeriksaan lanjutan dan penatalaksanaan. Tujuan utama penatalaksanaan adalah untuk mencegah ketidakstabilan hemodinamik. Oleh karena itu, menilai tingkat keparahan dan penyebab perdarahan sangat penting. Pendekatan terapeutik pada periode akut harus disesuai dengan derajat anemia dan jumlah perdarahan. Pilihan pengobatan untuk perawatan medis pada PUA  umumnya termasuk hormonal, nonhormonal dan pembedahan. Selain itu, manajemen jangka panjang dengan terapi hormonal pada pasien dengan perdarahan uterus yang parah diketahui aman untuk perkembangan aksis HPO.Kata kunci: Perdarahan uterus abnormal, remaja, menstruasi bera

    Perbandingan Kadar Antioksi dan Total pada Kanker Serviks Stadium Lanjut Sebelum dan Setelah Kemoterapi

    Get PDF
    Tujuan: Membandingkan kadar antioksidan total pada penderita kanker serviks stadium lanjut sebelum dan setelah kemoterapi.Metode: Merupakan penelitian studi kohort prospektif yang dilakukan di Badan Layanan Umum (BLU) Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo Perawatan onkologi-ginekologi Lontara 4 bawah dan Unit Penelitian Rumah Sakit Perguruan Tinggi Negeri Universitas Hasanuddin. dari perode tanggal 1 Oktober 2019–30 September 2020. Sampel penelitian adalah semua penderita kanker serviks stadium lanjut yang memenuhi kriteria inklusi. Data yang diambil adalah data primer menggunakan questionnaire serta pemeriksaan kadar Anti Oksidan Total dengan metode ELISA. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan program komputer SPSS 25.0, Microsoft Excel dan Microsoft Word.Hasil: Terdapat 34 orang sampel penelitian menderita kanker serviks stadium lanjut yang mendapatkan kemoterapi 3 seri. Stadium 2B memiliki perbedaan rerata antioksidan yang signifikan secara statistik. Tipe adenokarsinoma, jenis diferensiasi kategori sedang dan kategori tidak ada keterangan memiliki perbedaan kadar antioksidan yang signifikan secara statistik. Terdapat perbedaan rerata kadar antioksidan total antara sebelum dan sesudah dilakukan kemoterapi dengan p<0,05.Kesimpulan: Terdapat penurunan bermakna kadar antioksidan total sebagai penanda stres oksidatif pada pasien kanker serviks stadium lanjut yang menjalani prosedur kemoterapi.Comparison Total Antioxidant Levels in Patients with Advanced Cervical Cancer Prior and Post-ChemotherapyAbstractPurpose: Comparing total antioxidant levels in patients with advanced cervical cancer prior and post-chemotherapy.Method: This is a prospective cohort study underwent at the Public Service Agency of Wahidin Sudirohusodo Hospital, Lontara 4 Bawah oncology-gynecology care and Research Unit of State University Hospital, Hasanuddin University from October 1st, 2019 to September 30th, 2020. The study sample being used was all patients with advanced cervical cancer who met the inclusion criteria. The data extracted were primary data using a questionnaire, as well as the examination of Total Anti-Oxidant levels using the ELISA method. The data obtained were analyzed further using a computer program SPSS 25.0, Microsoft Excel, and Microsoft Word.Outcome: Approximately 34 study samples were suffering from advanced cervical cancer who undergone 3 series of chemotherapy. Stage 2B revealed a statistically significant difference in antioxidant level. The type of adenocarcinoma, the type of the moderate category differentiation, and the no description category had statistically significant differences in antioxidant levels. It was identified that there was a difference in the mean total antioxidant level between prior and post-chemotherapy with p < 0.05.Conclusion: There was a significant decline in the total antioxidant levels to indicate a sign of oxidative stress in advanced cervical cancer patients who are undergoing chemotherapy procedures.Key word: Antioxidant Levels, Advanced Cervical Cancer, Chemotherap

    Pelvic Inflammatory Disease (PID) Management in Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) Pandemic Era

    Get PDF
    Objective: This article aims to review pelvic inflammatory disease management during the coronavirus disease 2019 pandemicMethod: We conducted a search for scientific articles through PubMed and Google Scholar, using the terminologies of “PID AND COVID-19”, “Pelvic Inflammatory Disease”; “Pelvic Inflammatory Disease AND COVID-19”, “PID Management AND COVID-19”, “Pelvic Inflammatory Disease Management AND COVID-19”, and “PID AND Pandemic” in English and Indonesian from 2019-2020.Result: There were a total of 25 scientific articles from PubMed and Google Scholar within 2019-2020 that were included as the source of this reviewConclusion: There is no difference between the management of pelvic inflammatory disease during and before the pandemic. The mode of medical services and follow up tends to be conducted virtually. Technology-based services for pelvic inflammatory disease during the corona virus disease 2019 pandemic are promising and have been proven to be an effective method, therefore virtual-based pelvic inflammatory disease services may be safely applied. However, if there is any indication of emergency found during the telemedicine services, a face-to-face consultation or emergency room visit should be recommended.Key words : COVID-19, Pelvic Inflammatory Disease, SARS-CoV-2Tatalaksana Radang Panggul selama Era Pandemi Virus Corona 2019 (COVID-19)AbstrakTujuan: Melakukan kajian mengenai tatalaksana dari penyakit radang panggul selama pandemi penyakit coronavirus 2019Metode: Kami melakukan pencarian artikel ilmiah melalui PubMed dan Google Scholar menggunakan terminologi “PID AND COVID-19”, “Pelvic Inflammatory Disease”; “Pelvic Inflammatory Disease AND COVID-19”, “PID Management AND COVID-19”, “Pelvic Inflammatory Disease Management AND COVID-19”, and “PID AND Pandemic” dalam Bahasa Inggris dan Indonesia dari tahun 2019-2020. Hasil: Ditemukan sebanyak 25 publikasi ilmiah dari pencarian di PubMed dan Google Scholar pada tahun 2019- 2020 yang digunakan sebagai sumber kajian ilmiah ini.Kesimpulan: Tatalaksana penyakit radang panggul sebelum dan selama pandemi tidak berubah. Metode pelayanan kesehatan dan follow up cenderung dilakukan secara virtual. Pelayanan kesehatan berbasis tekonologi untuk penyakit radang panggul selama pandemi penyakit coronavirus 2019 menjanjikan dan telah terbukti sebagai metode yang efektif, sehingga pelayanan kesehatan untuk penyakit radang panggul secara virtual dapat diaplikasikan secara aman. Jika ditemukan adanya indikasi kegawatdaruratan selama pelayanan telemedicine, pasien sebaiknya melakukan konsultasi tatap muka atau mengunjungi instalasi gawat darurat. Kata kunci: COVID-19, penyakit radang panggul, SARS-CoV-

    Characteristics of Infertility Causes in Patients Undergoing in Vitro Fertilization (IVF)

    Get PDF
    Tujuan: Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui karakteristik faktor penyebab infertilitas pada pasangan yang menjalani in-vitro fertilization (IVF) di Klinik Bayi Tabung Rumah Sakit Umum Bali Royal Hospital periode Januari Desember 2019.Metode: Penelitian ini adalah penelitian deskriptif observasional dengan populasi target penelitian adalah pasangan infertil yang datang ke Klinik Bayi Tabung Rumah Sakit Umum (RSU) Bali Royal Hospital dengan tindakan IVF pada tahun 2019. Data selanjutnya diolah berdasarkan karakteristik sampel, faktor istri, faktor suami, serta faktor lainnya. Hasil: Pada periode 1 Januari–31 Desember 2019, tercatat sebanyak 174 kasus pasien infertilitas. Pada penelitian ini diperoleh bahwa 60,23% terjadi gangguan pada tuba yang merupakan penyebab tertinggi pada kelompok istri, sedangkan gangguan sperma berupa oligoasthenoteratozoospermia (81,82%) merupakan hasil paling tinggi pada kelompok suami. kelainan lainnya yang mengganggu proses fertilisasi pada penelitian ini adalah terdapatnya kelainan uterus pada 23,36% pasangan.Kesimpulan: Faktor kelainan tuba dan oligoastenoteratozoospermia merupakan karakteristik penyebab terbanyak infertilitas pada pasangan yang dilakukan IVFKata kunci: Infertilitas, IVF,Kelainan tuba, OligoasthenoteratozoospermiaCharacteristics of Infertility Causes in Patients Undergoing in Vitro Fertilization (IVF)AbstractObjective: The study was done to determine the characteristics of infertility cause in couples undergoing in-vitro fertilization in in-vitro fertilization clinic Bali Royal Hospital Denpasar on January–December 2019.Method: This was an observational descriptive study with study population of infertile couples that went to in-vitro fertilization clinic at Bali Royal Hospital Denpasar for IVF on 2019. The data obtained will be described based on sample characteristics, female factor, male factor and other factors. Result: In one-year period of 1 January–31 December 2019, there were 174 infertile cases included in this study. In this study, we concluded that the most common cause for female factor was tubal problems (60.23%), and for male factor was oligoasthenoteratozoosperm (81.82%), another abnormalities that affect couples fertility were uterus abnormalities (23.26%)Conclusion: Fallopian tube abnormalities and oligoastenoteratozoospermia were the most common causes of infertility in couples with IV

    Relationship of Placental TLR-7 Expression with Cord Blood HBV DNA and Placental HBV DNA

    Get PDF
    Objective: To determine the role of TLR-7 expression on intrauterine vertical transmission in pregnancy through identification of serum hepatitis B markers in both maternal and umbilical cord blood.Method: Analysis of TLR expression was performed on 38 paraffin block samples of placental tissue acquired from mothers with HBV using TLR immunohistochemical staining.Result: 16 of 38 samples were acquired from mothers aged 26-30 years old. Most of the samples were from primiparous mothers (52.6%). This study found no significant association between TLR-7 expression and HBV DNA in the placenta and cord blood (p = 1.000). However, we found a significant association between placental TLR-7 expression and maternal HBV DNA (p = 0.034). Meanwhile, placental HBeAg and HBV DNA were not associated with placental TLR-7 expression (p = 0.082; p = 1.000).Conclusion: There was no significant association between TLR-7 expression and HBV DNA in the placenta and cord blood, but we found a significant association between TLR-7 expression and maternal HBV DNA.  Hubungan Ekspresi TLR-7 Plasenta dengan HBV DNA Tali Pusat dan HBV DNA Plasenta AbstrakTujuan: untuk melihat peran ekspresi TLR-7 terhadap transmisi vertikal intrauterina pada kehamilan melalui identifikasi marker serum hepatitis B pada darah ibu dan talipusar.Metode: Analisis ekspresi TLR dilakukan pada 38 sampel blok paraffin jaringan plasenta ibu yang menderita HBV dengan memakai pewarnaan imuhohistokimia TLR.Hasil: 16 dari 38 sampel berusia 26-30 tahun. Sebagian besar sampel merupakan kelompok primipara (52.6%). Penelitian ini tidak menemukan hubungan yang signifikan antara ekspresi TLR-7 di plasenta dan HBV DNA darah tali pusat (p = 1.000). Tapi, kami menemukan hubungan yang signifikan antara ekspresi TLR-7 plasenta dan HBV DNA ibu (p = 0,034). Sedangkan HBeAg dan HBV DNA plasenta tidak berhubungan dengan ekspresi TLR-7 plasenta (p = 0,082; p = 1.000).Kesimpulan: Tidak ada hubungan yang signifikan antara ekspresi TLR-7 dan DNA HBV di plasenta dan tali pusat, tetapi kami menemukan hubungan yang signifikan antara ekspresi TLR-7 dan DNA HBV ibu.  Kata kunci: toll-like receptor (TLR) 7, HBV DNA, tali pusat, plasenta, Hepatitis B, infeksi intrauterin

    329

    full texts

    371

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    OBGYNIA - Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇