OBGYNIA - Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
Not a member yet
    371 research outputs found

    Korelasi Indeks Massa Tubuh dengan Pertambahan Berat Badan Menurut The Institute of Medicine (IOM) selama Kehamilan terhadap Kejadian Persalinan Ekstraksi Vakum dan Persalinan Normal

    No full text
    Tujuan: Mengetahui korelasi indeks massa tubuh (IMT) dan penambahan berat badan menurut The Institute of Medicine (IOM) beserta besaran risiko terjadinya persalinan dengan ekstraksi vakum.Metode: Desain penelitian menggunakan metode case control dengan menggunakan data sekunder dari rekam medis pasien yang bersalin dengan bantuan ekstraksi vakum dan spontan pada empat rumah sakit di Kota Bandung tahun 2016–2020 secara random sampling sebanyak 460 responden.Hasil: Karakteristik pada persalinan ekstraksi vakum maupun persalinan spontan tidak berbeda. Rerata usia ibu saat bersalin pada kelompok persalinan ekstraksi vakum lebih tinggi dibandingkan dengan persalinan spontan (29 tahun vs 27 tahun). Pada kelompok persalinan ekstraksi vakum, proporsi primigravida lebih tinggi dibandingkan persalinan spontan, namun tidak bermakna secara statistik (p=0,217). Skor APGAR <7 pada menit pertama lebih banyak didapatkan dari bayi yang lahir dengan bantuan ekstraksi vakum (28,1%). Terdapat 3% bayi pada kelompok ekstraksi vakum dengan berat lahir di atas 4000 gram, kondisi ini bermakna secara statistik. Kesimpulan: IMT gemuk saat awal kehamilan bersifat protektif 0,27 kali terhadap persalinan ekstraksi vakum, sedangkan penambahan berat badan diatas rekomendasi IOM selama kehamilan meningkatkan risiko 9,76 kali untuk terjadinya persalinan dengan bantuan ekstraksi vakum.Relationship between Body Mass Index and Gestational Weight Gajn According to the Institute of Medicine on the Incidence of Vacuum ExtractionAbstractObjective: To determine the correlation between body mass index (BMI) and pregnancy weight gain according to the Institute of Medicine (IOM) and the magnitude of the risk of delivery by vacuum extraction.Methods: This was a case control study using secondary data from medical records of 460 patients who gave birth with vacuum extraction and spontaneous delivery at four hospitals in Bandung West Java in 2016–2020.Results: The characteristic were similar in both groups. The mean maternal age at delivery in the vacuum extraction group was higher than in the spontaneous delivery group (29 years vs. 27 years). In the vacuum extraction group, the proportion of primigravida was higher than that of spontaneous labor, but it was not statistically significant (p=0.217). The APGAR score <7 in the first minute was obtained more from babies born with vacuum extraction (28.1%). There were 3% of babies in the vacuum extraction group with birth weight above 4000 grams, this condition was statistically significant. Conclusion: Mothers with obese BMI during early pregnancy are 0.27 times protective against vacuum extraction deliveries, while mothers whose weight gain is above the IOM recommendation during pregnancy have a 9.76 times risk of having vacuum extraction deliveries.      Key words : Body mass index, pregnancy weight gain, the institute of medicine, vacuum extraction deliver

    Tinjauan Penggunaan Artificial Intelligence pada Overactive Bladder Syndrome Wanita di daerah dengan Sumber Daya Terbatas

    Get PDF
    Overactive Bladder Syndrome merupakan keadaan yang ditandai dengan keluhan Urinary urgency, yang umumnya disertai frekuensi dan nocturia, dengan atau tanpa urgency urinary incontinence (UI), pada keadaan tidak ada infeksi saluran kemih atau patologi lain yang jelas terdapat.Pada penelitian berbasis populasi didapatkan prevalensi OAB pada wanita berkisar antara 9-43%,2-9 dan meningkat sesuai dengan pertambahan usia10 walaupun didapatkan data pada beberapa penelitian prevalensinya menurun pada wanita diatas usia 60 tahun yang penyebab masih belum jelas.Dampak OABS pada kehidupan seseorang antara lain dapat menyebabkan terganggunya fungsi social, aktivitas fisik, vitalitas, dan emosi sehingga pada akhirnya OABS dapat menyebabkan penurunan kualitas hidup secara bermakna, meningkatkan skor depresi, dan menurunkan kualitas tidur seseorang. Lebih jauh lagi efek dari OABS dapat menyebabkan patah tulang pada orang tua akibat jatuh karena kehilangan keseimbangan saat terbangun dari tidur malam karena akan berkemih

    The Comparison of Peripheral Blood Morphology and Ferritin Level in Pregnancy Woman with Anemia Living in Lowland and Highland Areas

    Get PDF
    Objective: Differences in the morphology features of red blood cells in population groups who live in the lowlands areas and the highlands areas will affect the diagnosis and appropriate therapies. Methods: The method used is a cross-sectional study of 75 pregnant women (6-38 weeks gestational age) with anemia living in highland and lowland areas found at Massenrempulu Hospital and Sitti Khadijah I Hospital. Anemia in pregnant women is diagnosed as a hemoglobin level less than 11gr/dl in the 1st and 3rd trimesters or less than 10.5 gr/dl in the 2nd trimester. The patient's blood sample was taken intravenously and performed serological and peripheral blood examination. Data were processed using the SPSS program, analyzed using univariate and multivariate tests.Results: In both results of the parametric and nonparametric test, ferritin levels showed a significant difference (p = 0.001), higher in the lowland areas group subjects (15.44 ± 36.92) compared to the highland areas group subjects (9.55 ± 30.16). There were no significant differences in morphology features (p> 0.05) between both groups.Conclusion: This study showed no significant differences in morphology features between the two groups. The lowland areas group subjects had a significantly higher ferritin level than that of the highland areas group subjects.Perbandingan Gambaran Morfologi Darah Tepi Pasien Gravid dengan Anemia Yang Tinggal di Pesisir Pantai dan Daerah PegununganAbstrakTujuan: Perbedaan ciri morfologi sel darah merah pada kelompok populasi yang tinggal di dataran rendah dan dataran tinggi akan mempengaruhi diagnosis dan terapi yang tepat.Metode: Metode yang digunakan adalah studi potong lintang pada 75 ibu hamil (usia kehamilan 6-38 minggu) dengan anemia yang tinggal di dataran tinggi dan dataran rendah yang ditemukan di RS Massenrempulu dan RS Sitti Khadijah I. Anemia pada ibu hamil didiagnosis berdasarkan kadar hemoglobin kurang dari 11gr/dl pada trimester I dan III atau kurang dari 10,5 gr/dl pada trimester II. Sampel darah pasien diambil secara intravena dan dilakukan pemeriksaan serologis dan darah tepi. Data diolah menggunakan program SPSS, dianalisis menggunakan uji univariat dan multivariat.Hasil: Pada hasil uji parametrik dan nonparametrik, kadar feritin menunjukkan perbedaan yang secara signifikan (p = 0,001), lebih tinggi pada subjek kelompok dataran rendah (15,44 ± 36,92) dibandingkan dengan subjek kelompok dataran tinggi (9,55 ± 30,16). Tidak ada perbedaan yang signifikan dalam morfologi darah tepi  (p> 0,05) antara kedua kelompok.Kesimpulan: Penelitian ini tidak menunjukkan perbedaan morfologi yang signifikan antara kedua kelompok. Subyek kelompok dataran rendah memiliki kadar feritin yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan subjek kelompok dataran tinggi.Kata kunci: Morfologi darah tepi, kehamilan, anemia, dataran rendah, dataran tingg

    Profil dan Karakteristik Penderita Tumor Trofoblas Gestasional di RSUP Dr. Hasan Sadikin Periode 2021

    Get PDF
    Tujuan: Tumor trofoblas gestasional (TTG) adalah suatu bentuk keganasan ginekologi pada hidatidosa yang diakibatkan oleh adanya abnormalitas proliferasi sel trofoblas. Insidensi TTG di negara Asia Tenggara ialah 9,2:40000 kehamilan. Beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan TTG diantaranya ialah riwayat kehamilan, usia dan kadar b-hcg. Namun hingga saat ini profil pasien TTG masih terbatas, oleh karenanya penelitian ini bertujuan menganalisis profil dan karakteristik pasien TTG di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung.Metode: Metode penelitian ini ialah deskriptif kuantitatif, dengan menggunakan data sekunder yang berasal dari rekam medis pasien. Seluruh pasien yang didiagnosis TTG pada periode 2021 menjadi sampel pada penelitian ini. Variabel penelitian ini ialah status sosiodemografi, faktor risiko, gambaran klinis, dan gambaran terapi.Hasil: Jumlah sampel pada penelitian ini ialah 66 pasien. Sebanyak 53,03% pasien berusia 20-35 tahun. Sebanyak 55 pasien datang dalam kondisi stadium I (83,33%) sedangkan berdasarkan skoring FIGO sebanyak 42 pasien (63,63%) merupakan pasien dengan risiko rendah. Metastasis paru terjadi pada 7 pasien (20,61%). Kesimpulan: Mayoritas pasien TTG berusia 20-35 tahun dan tidak bekerja. Secara gambaran klinis; stadium I dan risiko rendah sering ditemukan. Kemoterapi dominan dipilih, serta multi-agent lebih sering digunakan.Profile and Characteristics GTN cases in Hasan Sadikin General Hospital in 2021 Gestational Trophoblastic NeoplasmaAbstractObjective: Gestational trophoblastic tumor (TTG) is a form of hydatidiform gynecologic malignancy caused by abnormal trophoblast cell proliferation. The incidence of TTG in Southeast Asian countries is 9.2:40000 pregnancies. Several factors that influence the development of TTG include a history of pregnancy, age and levels of b-hCG. However, until now the profile of TTG patients is still limited, therefore this study aims to analyze the profiles of TTG patients at Dr. Hasan Sadikin Bandung.Methods: This research method is descriptive quantitative, using secondary data derived from the patient's medical record. All patients diagnosed with TTG in the period 2021 were sampled in this study. The variables of this study were sociodemographic status, risk factors, clinical features, and therapeutic features.Results: The number of samples in this study was 66 patients. A total of 53.03% of patients aged 20-35 years. A total of 55 patients came in stage I condition (83.33%) while based on FIGO scoring 42 patients (63.63%) were low risk patients. Pulmonary metastases occurred in 7 patients (20.61%). Conclusion: The majority of TTG patients are aged 20-35 years and do not work. In the clinical picture; stage I and low risk are common. Predominant chemotherapy is chosen, and multi-agent is used more often.Key words: Gestational Trophoblastic Neoplasia, Patient Profile, Hydatidiform mole, Gynecological Malignanc

    Relationship between Blood Lead Levels and Nitric Oxide (NO) Levels in Preeclampsia

    Get PDF
    Objective: This study aims to determine the relationship between blood lead levels and NO levels in preeclampsia.Methods: This research applied analytical survey research with a cross-sectional design. Moreover, the samples were 99 pregnant women, 33 with normal pregnancies, 33 with preeclampsia living >10km from Semen Padang factory, and 33 with preeclampsia who lived ≤10km from Semen Padang factory. Spearman correlation test and logistic regression analysis is used for data analysis.Result: The result of this study shows that the blood lead level median in preeclampsia ≤10km is 26.23 g/dL, and the lead level median in preeclampsia >10km is 23.52 g/dL. Meanwhile, the NO level median in preeclampsia ≤10km is 22.50µmol/L and NO level median in preeclampsia >10km is 28.00µmol/L. There is a relationship between blood lead levels and NO levels in preeclampsia ≤10km, with r-value = -0.601 and p-value 10km, there is no relationship with p-value >0.500 and the strength of the correlation is fragile. In addition, the results of multivariate analysis of reduced levels of NO in preeclampsia with high blood lead levels are two times compared to preeclampsia with normal blood lead levels with 95% CI (0.652-6.362) after being controlled by distance of residence, smoking status and living environment variables.Conclusion: there is a relationship between blood lead levels and NO levels in preeclampsia.Hubungan Kadar Timbal dengan Kadar Nitric Oxide (NO) pada Ibu Hamil PreeklampsiaAbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kadar timbal dengan kadar Nitric Oxide (NO)  pada ibu hamil preeklampsia. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian survei analitik, dengan rancangan cross sectional. Sampel diteliti sebanyak 99 orang ibu hamil, 33 orang ibu hamil normal dan 33 orang preeklampsia yang tinggal yang tinggal radius >10km, dan 33 orang preeklampsia yang tinggal radius ≤10km. Kadar timbal diperiksa menggunakan metode AAS dan Kadar Nitric Oxide (NO)  diperiksa menggunakan metode ELISA. Analisis data menggunakan uji korelasi Spearman dan analisis regresi logistik.Hasil: Hasil penelitian ini median kadar timbal pada preeklampsia ≤10km adalah 26,23 µg/dL, dan median kadar timbal preeklampsia >10km adalah 23,52 µg/dL. Median kadar Nitric Oxide (NO)  preeklampsia ≤10km adalah 22,50µmol/L, median kadar Nitric Oxide (NO) preeklampsia >10km adalah 28,00µmol/L. Terdapat hubungan kadar timbal dengan kadar Nitric Oxide (NO) pada preeklampsia ≤10km, diperoleh nilai r = -0,601 dan nilai p 10km tidak terdapat hubungan dengan nilai p > 0.500 dan kekuatan korelasi sangat lemah. Hasil analisis multivariat penurunan kadar Nitric Oxide (NO) preeclampsia yang memiliki kadar timbal tinggi adalah 2 kali dibandingkan ibu hamil preeclampsia dengan kadar timbal normal dengan 95% CI (0.652-6.362) setelah dikontrol variabel jarak tempat tinggal, status merokok dan lingkungan tempat tinggal.Kesimpulan: Terdapat hubungan kadar timbal dengan kadar Nitric Oxide (NO)  pada ibu hamil preeklampsia.Kata kunci: Timbal, Nitric Oxide, Preeklampsi

    Perbandingan Inkontinensia Urin Ibu Hamil Aterm Primigravida dan Multigravida Berdasarkan QUID (Questionnaire for Urinary Incontinence Diagnosis) dan Faktor Risiko yang Berpengaruh

    Get PDF
    Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis inkontinensia urin pada ibu hamil primigravida dan multigravida aterm berdasarkan kuisioner Questionnaire for Urinary Incontinence Diagnosis (QUID) dan faktor risiko yang berpengaruh. Metode : Penelitian ini menggunakan metode case control  analitik observasional untuk melihat pengaruh faktor risiko terhadap inkontinensia urin pada primigravida dan multigravida dan kemudian dilanjutkan dengan metoda survei secara cross-sectional untuk melihat perbandingan inkontinensia urin pada primigravida dan multigravidaHasil: Faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian inkontinensia urin adalah ibu dengan adanya riwayat inkontinensia sebelum kehamilan (p=0,003), pendidikan (p=0,032), kategori pekerjaan (p=0,012), dan umur (0,003). Dari analisis regresi logistik menunjukkan faktor yang paling berpengaruh adalah Inkontinensia sebelum kehamilan dengan Risk ratio (RR) 15,750. Tidak didapatkan adanya hubungan bermakna antara paritas  primigravida dan multigravida terhadap jenis inkontinensia urin (P=0,671).Kesimpulan: Pada Primigravida faktor risiko yang mempunyai hubungan terhadap terjadinya inkontiensia urin adalah Indeks Massa Tubuh dan Taksiran berat janin. Pada Multigravida faktor risiko yang mempunyai hubungan terhadap terjadinya inkontiensia urin adalah Indeks Massa Tubuh dan riwayat inkontinensia sebelum kehamilan. Tidak  ada  hubungan bermakna antara paritas  primigravida dan multigravida terhadap jenis inkontinensia urin.Comparison of Urinary Incontinence in Primigravida and Multigravida Pregnant Women Based on QUID (Questionnaire for Urinary Incontinence Diagnosis) and Influential Risk FactorsAbstractObjective: This study aims to analyze urinary incontinence in primigravida and multigravida term pregnant women based on the Questionnaire for Urinary Incontinence Diagnosis (QUID) questionnaire and the risk factors that influence it.Method: This study used an observational analytical case control method to see the effect of risk factors on urinary incontinence in primigravida and multigravida and then continued with a cross-sectional survey method to compare urinary incontinence in primigravida and multigravida.Results: Risk factors associated with the incidence of urinary incontinence are mothers with a history of incontinence before pregnancy (p=0.003), education (p=0.032), occupational categories (p=0.012), and age (0.003). Logistic regression analysis showed the most influential factor was pre-pregnancy incontinence with RR 15,750. There was no meaningful association between primigravida parity and multigravida to the type of urinary incontinence (P 0.671).Conclusion: In Primigravida, the risk factors that have an association with urine inconsistency are body mass index and fetal weight estimate. In Multigravida risk factors that have an association with the occurrence of urine inconsistencies are body mass index and history of incontinence before pregnancy. There is no meaningful relationship between primigravida parity and multigravida to this type of urinary incontinence.Key words: Urinary incontinence, Primigravida, Multigravida, Hamil aterm, QUID, cough tes

    Prevalensi Mioma Uteri dengan Koeksistensi Hiperplasia Endometrium

    Get PDF
    Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui prevalensi mioma uteri dengan koeksistensi hiperplasia endometrium pada RSUD Margono Soekarjo Purwokerto dalam rentang 2017−2019.Metode: Penelitian ini menggunakan desain observational cross-sectional yang dilakukan di Pusat Onkologi di RSUD Margono Soekarjo Purwokerto. Sumber data adalah hasil pemeriksaan mikroskopis pada laboratorium Patologi Anatomi dari pasien yang dilakukan histerektomi dengan teknik total sampling pada rentang waktu tahun 2017-2019. Data kemudian dicatat hasil pengolahan data univariat dan ditampilkan dalam bentuk tabel.Hasil: Dari 389 partisipan yang diteliti, terdapat 306 (78.7%) pasien terdiagnosa dengan mioma uteri tanpa hiperplasia endometrium dan 83 (21.3%) pasien dengan diagnosa mioma uteri disertai dengan koeksistensi hiperplasia endometrium. Dari 83 sampel pasien dengan koeksistensi hiperplasia endometrium, didapatkan 49 (59.0%) sampel memiliki gambaran hiperplasia simpleks non atipik, 14 sampel (16.9%) memiliki gambaran hiperplasia kompleks non atipik, 6 (7.2%) sampel dengan gambaran hiperplasia simpleks atipik dan 14 (16.9%) dengan gambaran hiperplasia kompleks atipik.Kesimpulan: Mioma uteri banyak terjadi pada usia perimenopause karena ketidak seimbangan hormone antara estrogen dan progesterone. Mioma uteri dapat terjadi dengan atau tanpa koeksistensi dengan patologi lainnya, seperti hiperplasia endometrium, adenomyosis ataupun polip. Hiperplasia endometrium sering terjadi sebagai patologi sekunder, dengan prevalensi terbanyak adalah hiperplasia endometrium simpleks non atipik.The Prevalence of Uterine Fibroid with Endometrial Hyperplasia CoexistenceAbstractObjective: This study was conducted to determine the prevalence of uterine fibroids with the coexistence of endometrial hyperplasia at RSUD Margono Soekarjo Purwokerto in the period of 2017−2019.Methods: This study used an observational cross-sectional design, conducted at the Oncology Center of RSUD Margono Soekarjo Purwokerto. The data used are the results of microscopic examinations of patients who underwent hysterectomy in the Anatomical Pathology laboratory with total sampling technique in the period of 2017-2019.Results: Of the 389 participants studied, there were 306 (78.7%) patients diagnosed with uterine fibroids without endometrial hyperplasia and 83 (21.3%) patients with uterine fibroids with the coexistence of endometrial hyperplasia. From the 83 samples of patients with coexistence of endometrial hyperplasia, 49 (59.0%) samples had simple hyperplasia without atypia, 14 (16.9%) had complex hyperplasia without atypia, 6 (7.2%) had simple atypical hyperplasia and 14 ( 16.9%) with complex atypical hyperplasia.Conclusion: Uterine fibroids often occur at perimenopausal age due to hormonal imbalance of estrogen and progesterone. Uterine fibroids may occur with or without coexistence of other pathologies, such as endometrial hyperplasia, adenomyosis or polyps. Endometrial hyperplasia often occurs as a secondary pathology, with the highest prevalence being simplex  hyperplasia without atypia.Key words: uterine fibroid, endometrial hyperplasia, perimopaus

    Hubungan Luaran Maternal dan Perinatal Terhadap Tingkat Keparahan Infeksi COVID-19

    Get PDF
    Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan luaran maternal dan perinatal terhadap tingkat keparahan infeksi COVID-19 pada ibu bersalin di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung.Metode: Penelitian ini menggunakan studi analitik observasional retrospektif dengan rancangan potong lintang menggunakan data rekam medik selama periode Maret 2020 hingga Juni 2021. Karakteristik subjek meliputi usia ibu, jumlah paritas, tingkat pendidikan, dan usia kehamilan. Luaran maternal meliputi hipertensi pada kehamilan, ketuban pecah dini, dan kejadian persalinan prematur. Hasil: Tidak ditemukan hubungan yang signifikan pada angka kejadian ketuban pecah dini (p-value 0,128) dan persalinan prematur (p-value 0,324) terhadap tingkat keparahan infeksi COVID-19.  Pada ibu dengan infeksi COVID-19 derajat ringan memiliki luaran perinatal asfiksia ringan sebanyak 132 bayi (89,3%), asfiksia sedang 43 bayi (32,6%) dan asfiksia berat 5 bayi (3,8%). Terdapat hubungan bermakna antara derajat asfiksia pada janin dengan tingkat keparahan infeksi COVID-19 (p-value 0,013).Kesimpulan: Terdapat hubungan bermakna antara kejadian hipertensi dalam kehamilan dan tingkat mortalitas ibu terhadap tingkat keparahan infeksi COVID-19. Derajat asfiksia pada bayi baru lahir memiliki hubungan yang signifikan dengan tingkat keparahan infeksi COVID-19. Correlation Of Maternal And Perinatal Outcomes with the Severity Of Covid-19 InfectionAbstractObjective: This study was conducted to evaluate the relationship between maternal and perinatal outcomes with the severity of COVID-19 infection in women giving birth at Dr. Hasan Sadikin BandungMethods: This study was a retrospective observational analytical study with a cross-sectional design that used medical record data between March 2020 to June 2021. Subject characteristics include maternal age, parity, education level, and gestational age. Maternal outcomes consist of hypertension in pregnancy, premature rupture of membranes, and the incidence of preterm labor. Results: There was no significant relationship between the incidence of premature rupture of membranes (p-value 0.128) and preterm delivery (p-value 0.324) on the severity of COVID-19 infection. Mothers with mild COVID-19 infection had mild asphyxia perinatal outcomes as many as 132 infants (89.3%), moderate asphyxia in 43 infants (32.6%), and severe asphyxia in 5 infants (3.8%). There is a significant relationship between the degree of asphyxia in the fetus and the severity of COVID-19 infection (p-value 0.013).Conclusion: There is a significant relationship between the incidence of hypertension in pregnancy and maternal mortality with the severity of COVID-19 infection. The degree of asphyxia in newborns has a significant relationship with the severity of COVID-19 infection.Key words: Maternal outcome, perinatal, severity, COVID-19 infectio

    Neutrophil-Lymphocyte Ratio(NLR), Platelet-Lymphocyte Ratio (PLR) and D-Dimer to Length of Stay in ICU of Pregnancy with COVID-19 Complicating Severe Coagulopathy

    Get PDF
    Objective: The aim of this study was to obtain data that D-Dimer levels, Neutrophil-Lymphocyte Ratio (NLR), Platelet-Lymphocyte Ratio (PLR) as a prognostic factors of length of stay in ICU. The longer length of stay in the Intensive Care Unit (ICU) as an indicator of severe coagulopathy.Methods :This study uses an analytic observational study with a cross sectional approach to analyze NLR , PLR ,and the D-Dimer levels and their relationship to length of stay in ICU of pregnant women with COVID-19 infection who were treated at RSUP Dr. Kariadi during March 2020 to October 2021. Medical records of patients with pregnancy confirmed COVID-19 who were diagnosed by PCR (polymerase chain reaction) and treated at Dr Kariadi Hospital between March 2020 and October 2021 were reviewed, p value <0.05 considered significant. Results:  The mean value of D-Dimer was 3746.6 ± 4852.33 (460-20) ug/L, NLR was 8.14 ± 6.35 (2.20-29.60), PLR was 27.66 ± 20.60 (6.80-96.66). 15 were treated in ICU with Length of stay 0.3 ± 0.46 (0-1) with the significancy was NLR p 0.008, PLR p 0.073 and D-dimer p 0.225. Conclusion : High NLR, PLR and D-dimer levels correlated with severe coagulopathy that effect the length of stay in ICU.Neutrophyl-Lymphocyte Ratio (NLR) , Platelet-Lymphocyte Ratio (PLR) dan D-dimer Terhadap Lama Rawat Inap di ICU pada Kehamilan dengan COVID-19 yang Mengalami Koagulopati Berat Abstrak Tujuan: Tujuan dari studi ini untuk menilai jumlah D-Dimer , Neutrophyl-Lymphocyte Ratio (NLR), Platelet-Lymphocyte Ratio (PLR) sebagai factor prognostic dari lama rawat inap di ICU. Metode: Studi ini menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross sectional  untuk menganalisa NLR, PLR dan jumlah D Dimer dan hubungannya dengan lama rawat inap di ICU dari Wanita hamil dengan infeksi COVID 19 yang dirawat di RSUP Dr Kariadi selama bulan Maret 2020 hingga Oktober 2021, nilai p <0.05 dianggap signifikan. Hasil: Rerata nilai D Dimer dari subjek ialah 3746,6 ± 4852.33 (460-20) ug/L, NLR  8.14 ± 6.35 (2.20-29.60), PLR  27.66 ± 20.60 (6.80-96.66). 15 pasien dirawat di  ICU dengan lama rawat inap 0.3 ± 0.46 (0-1) dengan nilai signifikansi dari NLR p 0.008, PLR p 0.073 dan D-dimer p 0.225. Kesimpulan: NLR dan D dimer yang tinggi berhubungan dengan keparahan koagulopati yang menyebabkan lama rawat inap di ICU.Kata kunci : Lama rawat inap ICU, koagulopati, kehamilan dengan COVID 1

    Front Cover, Editorial Team, Table of Contents, and Back Cover

    No full text

    329

    full texts

    371

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    OBGYNIA - Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇