OBGYNIA - Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
Not a member yet
371 research outputs found
Sort by
Female Sexual Function and Quality of Life After Pelvic Floor Surgery
Introduction: Pelvic floor surgery can significantly affect female sexual function and quality of life, impacting clinical outcomes and patient satisfaction. Understanding these effects is crucial for optimizing patient care.Objective: To review the literature about the impact of pelvic floor surgery on female sexual function and quality of life.Methods: A comprehensive literature search was conducted through PubMed and Scopus databases, covering publications from the last ten years. Articles were selected based on relevance, quality, and focus on sexual function and quality of life after pelvic floor surgery.Results: Pelvic floor surgery may affect female sexual function through physical, emotional, and anatomical changes. Postoperative dysfunction may involve pain, vaginal scarring, altered anatomy, or psychological distress. Decreased function is reported in 13% of women undergoing stress incontinence surgery and 37.5% of those undergoing complex urgency-type incontinence surgery. However, many studies report improvements in quality of life and sexual function following successful repair of pelvic organ prolapse or incontinencConclusion: Pelvic floor surgery can affect sexual function and the quality of life. A multidisciplinary approach is essential to help women regain sexual satisfaction and achieve optimal quality of life after pelvic floor surgery.Fungsi Seksual dan Kualitas Hidup Wanita Pasca Operasi Dasar PanggulAbstrakPendahuluan: Bedah dasar panggul dapat secara signifikan memengaruhi fungsi seksual dan kualitas hidup wanita, yang berdampak pada hasil klinis dan kepuasan pasien. Oleh karena itu, pengetahuan mengenai fungsi seksual dan kualitas hidup wanita pasca operasi dasar panggul sangat penting untuk mengoptimalkan perawatan pasien.Tujuan: Meninjau literatur mengenai dampak operasi dasar panggul terhadap fungsi seksual dan kualitas hidup wanita.Metode: Tinjauan pustaka dilakukan melalui basis data PubMed dan Scopus untuk publikasi 10 tahun terakhir. Artikel dipilih berdasarkan relevansi, kualitas, serta fokus pada fungsi seksual dan kualitas hidup pasca operasi dasar panggul.Hasil: Operasi dasar panggul dapat memengaruhi fungsi seksual melalui perubahan fisik, emosional, dan anatomi. Disfungsi seksual pascaoperasi dapat berupa nyeri, jaringan parut, perubahan anatomi, atau stres psikologis. Penurunan fungsi dilaporkan pada 13% pasien pascaoperasi inkontinensia urin tipe stres dan 37,5% pada kasus kompleks urgensi. Namun, banyak studi menunjukkan perbaikan fungsi seksual dan kualitas hidup setelah perbaikan prolaps atau inkontinensia yang berhasil..Kesimpulan: Pembedahan dasar panggul dapat mempengaruhi fungsi seksual dan kualitas hidup pasien. Pendekatan multidisiplin sangat penting untuk membantu wanita mencapai kembali kepuasan seksual serta kualitas hidup yang optimal setelah operasi dasar panggul.Kata Kunci: Fungsi Seksual Wanita; Inkontinensia Urin; Operasi Dasar Panggul; Prolaps Organ Panggul
HALP and SII: Innovative Biomarkers for Diagnosing Ovarian Cancer in Both Epithelial and Non-Epithelial Subtypes
Objective: To evaluate the diagnostic utility of PHAL (Platelet, Hemoglobin, Albumin, and Lymphocyte), SII (Systemic Immune Inflammation Index), and SIRI (Systemic Inflammatory Response Index) for both epithelial and non-epithelial ovarian cancer.Methods: A cross-sectional study of 156 patients with ovarian masses was conducted using preoperative laboratory data to calculate PHAL, SII, and SIRI scores. Histopathology confirmed diagnoses. Population I included all ovarian cancer types and benign tumors, while Population II included only non-epithelial ovarian cancer and benign tumors. Statistical analysis using SPSS 25.0, involved ROC curve and validity testing to assess diagnostic performance.Result: SII showed the best performance in the overall population (AUC 0.738; sensitivity 71.25%; specificity 72.37%; accuracy 71.79%; LR+ 2.58; LR– 0.40). In the subgroup of non-epithelial ovarian cancer versus benign tumors, PHAL had the highest diagnostic accuracy (AUC 0.819; sensitivity 81.81%; specificity 73.68%; accuracy 75.51%; LR+ 3.11; LR– 0.25).Conclusion: PHAL and SII are effective, accessible, and low-cost biomarkers that can support ovarian cancer diagnosis through routine blood tests.PHAL dan SII: Biomarker Inovatif untuk Diagnosis Kanker Ovarium Subtipe Epitel dan Non-Epitel Abstrak Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi nilai diagnostik dari PHAL (Platelet, Haemoglobin, Albumin, dan Limfosit), SII (Systemic Immune Inflammation Index), dan SIRI (Systemic Inflammatory Response Index) pada kanker ovarium epitelial dan non-epitelial. Metode: Penelitian dengan metode potong lintang ini melibatkan 156 pasien dengan massa ovarium. Data laboratorium pra-operatif digunakan untuk menghitung skor PHAL, SII, dan SIRI. Diagnosis ditegakkan melalui pemeriksaan histopatologi. Populasi I mencakup semua jenis kanker ovarium dan tumor jinak, sedangkan Populasi II hanya mencakup kanker ovarium non-epitelial dan tumor jinak. Analisis statistik dilakukan menggunakan SPSS 25.0, termasuk analisis kurva ROC dan uji validitas untuk menilai kinerja diagnostik. Hasil: Hasil penelitian menyimpulkan bahwa SII memiliki performa terbaik pada seluruh populasi (AUC 0,738; sensitivitas 71,25%; spesifisitas 72,37%; akurasi 71,79%; LR+ 2,58; LR– 0,40). Pada subkelompok kanker ovarium non-epitelial dibandingkan dengan tumor jinak, PHAL menunjukkan akurasi diagnostik tertinggi (AUC 0,819; sensitivitas 81,81%; spesifisitas 73,68%; akurasi 75,51%; LR+ 3,11; LR– 0,25). Kesimpulan: PHAL dan SII merupakan biomarker yang efektif, mudah diakses, dan berbiaya rendah yang dapat mendukung diagnosis kanker ovarium melalui pemeriksaan darah rutin. Kata kunci: Kanker ovarium, Skor PHAL (Platelet-Hemoglobin-Albumin-Limfosit), Systemic Immune-Inflammation Index, Systemic Inflammatory Response Inde
Comparing Optimal Debulking Surgery Outcomes between Anemic and Non-Anemic Ovarian Cancer Patients at Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung in 2022 – 2023
Objective: Ovarian cancer remains one of the most lethal gynecological malignancies. Optimal debulking surgery is one of the treatment options of ovarian cancer. Anemia was commonly observed in ovarian cancer patients, yet its association with the outcome of optimal debulking surgery remains unclear. This study aims to evaluate the association between preoperative anemia and the outcome of optimal debulking surgery.Methods: A case-control analytical observational study was conducted on 87 ovarian cancer patients who had undergone optimal debulking surgery at Dr. Hasan Sadikin General Hospital in 2022-2023. Data were collected from medical records and was analyzed using Chi-square test.Results: The majority of ovarian cancer patients at Dr. Hasan Sadikin General Hospital in 2022–2023 presented with mild to moderate anemia, accounting for 37,78% and 33,33% of cases, respectively. Only 24,44% had normal hemoglobin levels, while 4,44% had severe anemia. Optimal debulking was achieved in 76,7% of cases. No significant association was found between preoperative anemia and optimal debulking outcomes (p = 0,601; OR 1,21, 95% CI: 0,68–2,16).Conclusion: Preoperative anemia was not associated with optimal debulking surgery outcomes.Perbandingan Keberhasilan Optimal Debulking Surgery antara Pasien Kanker Ovarium dengan Anemia dan Non-Anemia di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Tahun 2022 – 2023AbstrakTujuan: Kanker ovarium merupakan salah satu keganasan ginekologi dengan angka kematian tertinggi. Optimal debulking surgery merupakan salah satu terapi utama pada pasien kanker ovarium. Anemia sering ditemukan pada pasien kanker ovarium. Namun, hubungan anemia dan keberhasilan optimal debulking surgery belum jelas. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi hubungan anemia preoperatif dan keberhasilan optimal debulking surgery pada pasien kanker ovarium.Metode: Metode penelitian yang digunakan adalah studi observasional analitik dengan desain case control yang melibatkan pasien kanker ovarium yang menjalani optimal debulking surgery di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung periode 2022 – 2023. Data diperoleh dari rekam medis dengan total 87 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Analisis hubungan anemia preoperatif dengan keberhasilan optimal debulking surgery dilakukan dengan uji Chi square. Hasil: Mayoritas pasien kanker ovarium di RSUP Dr. Hasan Sadikin tahun 2022 – 2023 mengalami anemia ringan (37,78%) dan sedang (33,3%). Hanya 24,4% pasien memiliki kadar hemoglobin normal dengan 4,44% pasien mengalami anemia berat. Optimal debulking surgery berhasil dicapai pada 76,6%. Tidak ditemukan hubungan bermakna antara anemia preoperatif dan keberhasilan optimal debulking surgery (p = 0,601; OR 1,21; 95% CI : 0,68-2,16)Kesimpulan: Hasil penelitian menunjukkan anemia preoperatif tidak berhubungan dengan keberhasilan optimal debulking surgery pada pasien kanker ovarium.Kata kunci: Anemia; kanker ovarium; optimal debulking surger
Correlation between Elevated Nerve Growth Factor mRNA Expression with Pain Intensity or Disease Severity in Endometriosis
Objective: analyzed the relationship between NGF mRNA expression and pain levels and severity of endometriosis.Methods: This research involved 30 endometriosis patients undergoing surgery from November 2024 to April 2025. NGF mRNA expression was measured in blood plasma and ectopic tissue. Pain history was assessed retrospectively, and disease stage determined intraoperatively.Results: No significant relationship was found between NGF mRNA expression and pain levels or severity of endometriosis in either plasma or lesion tissue. Based on the Livak method analysis, the average value of relative expression of NGF gene mRNA increased 6.943-fold in blood plasma and 17.319-fold in endometriosis lesions of women with endometriosis. In the Mann Whitney test, there was a significant difference in the level of NGF gene mRNA expression between blood plasma and with p < 0.0001. NGF expression may not always correlate with disease severity because it is influenced by many factors.Conclusion: No significant correlation was found between NGF mRNA expression and endometriosis severity or pain intensity, but expression levels differed significantly between plasma and lesion tissue
Correlation of Cesarean Section and Curettage History with Placenta Previa at Limboto Regional Hospital
Objective: To investigate the correlation of cesarean section and curettage history with placenta previa at Dr. M.M. Dunda Limboto Hospital.Methods: A cross-sectional analytical study was conducted from January to February 2025, involving 180 pregnant women with gestational age ≥28 weeks from records from 2022-2024. Data were collected through consecutive sampling from medical records. Chi-square analysis was performed using SPSS version 24.Result: Among women with a history of cesarean section, 8.3% (12/145) had placenta previa compared to 54.3% (19/35) without such a history (p<0.001; PR=0.152, 95% CI: 0.082-0.284). Similarly, only 2.9% (1/35) with a history of curettage had placenta previa compared to 20.7% (30/145) without a curettage history (p=0.012; PR=0.138, 95% CI: 0.019-0.978). These findings suggest apparent protective effects that contradict established literature.Conclusion: Although statistically significant associations were observed between surgical histories and placenta previa in unexpected directions, these probably reflect study artifacts rather than actual protective effects. Multivariate analysis will be crucial in future research to account for confounding variables.Hubungan Riwayat Sectio Caesarea dan Kuretase dengan Plasenta Previa di RSUD LimbotoAbstrak Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara riwayat kuretase dan sectio caesarea dengan kejadian plasenta previa di RSUD Dr. M.M. Dunda Limboto.Metode: Penelitian analitik potong lintang dilakukan pada Januari – Februari 2025, melibatkan 180 ibu hamil dengan usia kehamilan ≥28 minggu dari rekam medis 2022 – 2024. Data dikumpulkan melalui consecutive sampling. Analisis Chi-square dilakukan menggunakan SPSS ver 24. : Pada kelompok dengan riwayat sectio caesarea, 8,3% (12/145) mengalami plasenta previa dibandingkan 54,3% (19/35) tanpa riwayat tersebut (p<0,001; PR=0,152, 95% CI: 0,082-0,284). Demikian pula, hanya 2,9% (1/35) dengan riwayat kuretase mengalami plasenta previa dibandingkan 20,7% (30/145) tanpa riwayat kuretase (p=0,012; PR=0,138, 95% CI: 0,019-0,978). Temuan ini menunjukkan efek protektif yang bertentangan dengan literatur medis.Kesimpulan: Meskipun ditemukan asosiasi signifikan antara riwayat bedah dan plasenta previa dalam arah yang tidak terduga, temuan ini kemungkinan merupakan artefak penelitian daripada efek protektif sejati. Analisis multivariat sangat penting untuk penelitian masa depan guna mengontrol faktor perancu.Kata kunci: kuretase; plasenta previa; sectio caesarea.
Pregnancy With Multidrug-Resistant Pulmonary Tuberculosis and Autoimmune Hemolytic Anemia Complicated by Intrauterine Growth Restriction - A Case Report
AbstractIntroductionIntrauterine growth restriction (IUGR) is a major obstetric complication often caused by maternal infections and anemia. We present a case of IUGR in a pregnant woman caused by multidrug-resistant tuberculosis (MDR-TB) and autoimmune hemolytic anemia (AIHA).Case presentationA 37-year-old G5P2A2 woman with confirmed MDR-TB and AIHA was treated with levofloxacin, clofazimine, cycloserine, ethambutol, bedaquiline, and methylprednisolone. Fetal biometry showed estimated fetal weight below the 10th percentile, with a significantly declining growth curve thereafter. After administration of fetal lung maturation at 33 – 34 weeks, she underwent an elective cesarean section at 35 – 36 weeks. A female infant weighing 1,840g was delivered. The treatment for MDR-TB and AIHA in the mother was continued afterward.ConclusionPregnancies complicated by MDR-TB and AIHA require strict monitoring and individualized multidisciplinary treatment. Further research is needed to establish treatment strategies that improve maternal and fetal outcomes in similar cases.Keywords : Autoimmune hemolytic anemia; intrauterine growth restriction; multidrug resistance; pregnancy; tuberculosis. Kehamilan dengan Tuberkulosis Paru Resisten Obat Ganda dan Anemia Hemolitik Autoimun yang Diperberat oleh Pertumbuhan Janin Terhambat – Laporan Kasus AbstrakPendahuluanIUGR adalah komplikasi obstetrik yang dapat disebabkan infeksi dan anemia pada maternal. Pada kasus ini dipresentasikan kasus wanita hamil dengan IUGR yang disebabkan multidrug resistant TB (MDR-TB) dan autoimmune hemolytic anemia (AIHA).Ilustrasi kasusIbu hamil 37 tahun G5P2A2 datang dengan TB-MDR dan AIHA. Pasien menjalani terapi TB-MDR dengan levofloksasin, klofazimin, sikloserin, etambutol, dan bedaquiline, serta metilprednisolon untuk AIHA. Pada fetal biometri ditemukan estimated fetal weight (EFW) di bawah 10 persentil dengan kurva pertumbuhan janin menurun signifikan setelahnya. Setelah dilakukan induksi pematangan paru janin pada usia kehamilan 33 - 34 minggu, operasi sesar elektif dilakukan pada usia kehamilan 35 – 36 minggu melahirkan bayi perempuan dengan berat janin 1840gram. Pengobatan TB-MDR dan AIHA pada ibu dilanjutkan setelahnya.KesimpulanKehamilan dengan TB dan AIHA memerlukan pemantauan ketat dan terapi multidisiplin yang terindividualisasi. Penelitian lebih lanjut diperlukan.Kata kunci : Hemolitik anemia autoimun; kehamilan; pertumbuhan janin terhambat; resisten obat; tuberkulosis
Comparison Of Igf-1 Protein Expression As A Marker For Type I Collagen Production in The Uterosacral Ligament Of Patients With Uterine Prolapse and without Uterine Prolapse to Prevent Uterine Prolapse
Objective: This study aims to investigate the risk factors associated with the lower IGF-1 protein expression in the uterosacral ligament in relation to the incidence of uterine prolapse. By identifying the relationship between IGF-1 protein expression in the uterosacral ligament and the incidence of uterine prolapse, it is anticipated that this study will provide a basis for the early identification of uterine prolapse.Method: This study utilized a cross-sectional immunohistochemistry method for IGF-1 protein on 34 pelvic organ prolapse (POP) subjects and 34 controls at RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung, in 2024. A sample is taken from the distal portion of the uterosacral ligament, prepared into paraffin blocks and underwent immunochemistry staining. It was then reviewed and IGF-1 protein expression graded by a consultant pathologist. Results: IGF-1 protein expression in the uterosacral ligament was found to be lower in uterine prolapse patients (168.2 + 3.1) compared to those without uterine prolapse (181.2 + 13.3) (p=0.002).Conclusion: IGF-1 levels in uterine prolapse are lower than those without uterine prolapse.Perbandingan Ekspresi Protein IGF-1 sebagai Penanda Produksi Kolagen Tipe I pada Ligamentum Sakrouterina Penderita Prolaps Uterus dan Tanpa Prolaps Uterus untuk Pencegahan Prolaps UterusAbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk meneliti faktor risiko rendahnya ekspresi protein IGF-1 pada ligamentum sakrouterina terhadap kejadian prolaps uterus. Dengan diketahui adanya hubungan antara ekspresi protein IGF-1 pada ligamentum sakrouterina dengan terjadinya prolaps uterus, diharapkan penelitian ini dapat berguna sebagai acuan untuk identifikasi prolaps uterus lebih dini.Metode: Penelitian ini menggunakan metode potong lintang imunohistokimia protein IGF-1 pada 34 subjek prolaps organ panggul (POP) dan 34 kontrol di RS Dr. Hasan Sadikin Bandung tahun 2024. Sampel diambil dari bagian distal ligamentum sakrouterina, dibuat blok paraffin, dan dilakukan pewarnaan histokimia. Ekspresi protein IGF-1 kemudian diperiksa dan dinilai oleh ahli patologi. Hasil: Ekspresi protein IGF-1 di ligamentum sakrouterina pada penderita prolaps uterus lebih rendah (168,2 + 3,1) dibandingkan dengan tanpa prolaps uterus (181,2 + 13,3) (p=0,002).Kesimpulan: Kandungan IGF-1 pada prolaps uterus lebih rendah dibandingkan dengan tanpa prolaps uterus.Kata kunci: IGF-1, kolagen tipe I, ligamentum sakrouterina, prolaps uteru
Case Report of Unintended Pregnancy in a Woman with a Translocated IUD and Successful Laparoscopic Management: A Rare Case in a Peripheral Hospital in Central Java, Indonesia
Introduction: The most serious complication of using intrauterine devices (IUDs) is uterine perforation. Studies have shown that the occurrence of uterine perforation in women using IUDs varies from 0.05 to 13 per 1,000 cases. If not detected, IUD translocation can cause serious complications, including bladder or intestinal perforation, intestinal obstruction, fistula formation, abscesses, adhesions, unintended pregnancy, and chronic pelvic painCase Presenation : A 31-year-old woman, G4P3A0, presented with abdominal pain and a positive pregnancy test despite having an IUD inserted in October 2022. She had no vaginal bleeding. The patient’s obstetrical history included three prior vaginal deliveries. Postpartum complications in 2022 led to retained tissue in the uterus, which was cleared with medication. She was advised to use an IUD as contraception but did not follow up. Ultrasound revealed a translocated IUD anterior to the uterus, surrounded by fluid resembling a small abscess. Management included exploratory laparoscopy for IUD removal. After the procedure, a follow-up ultrasound showed a single live intrauterine fetus, with no pain or bleeding. The patient’s condition improved after one week.Conclusion : This case highlights the importance of follow-up after IUD insertion and appropriate management in cases of misplaced IUDs with unintended pregnancy.Laporan Kasus Kehamilan Tidak Direncanakan (KTD) pada Seorang Wanita dengan Tranlokasi IUD yang Sukses dengan Tindakan Laparoskopi: Sebuah Kasus Langka di Rumah Sakit Perifer di Jawa Tengah, IndonesiaAbstrakPendahuluan: Komplikasi yang paling serius dari penggunaan Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) adalah perforasi uterus. Studi menunjukkan bahwa kejadian perforasi uterus pada wanita yang menggunakan IUD bervariasi antara 0,05 hingga 13 per 1000 kasus. Jika tidak terdeteksi, translokasi IUD dapat menyebabkan komplikasi serius, seperti perforasi kandung kemih atau usus, obstruksi usus, terbentuknya fistula, abses, adhesi, kehamilan yang tidak diinginkan, dan nyeri panggul kronis.Presentasi Kasus: Seorang wanita 31 tahun, G4P3A0, datang dengan keluhan nyeri perut dan hasil tes kehamilan positif. Pada tubuh pasien telah terpasang IUD pada Oktober 2022. Pasien tidak mengeluh adanya perdarahan vagina. Riwayat obstetri pasien telah melakukan persalinan pervaginam 3 kali. Pasien mengalami komplikasi postpartum pada persalinan terakhir tahun 2022, yaitu terdapat sisa jaringan plasenta yang kemudian dibersihkan dengan obat-obatan. Pasien disarankan untuk menggunakan IUD sebagai kontrasepsi setelah uterusnya dinyatakan bersih, namun setelah itu pasien tidak melakukan kontrol lanjutan. Pemeriksaan ultrasonografi menunjukkan IUD keluar dari uterus dan terletak di depan uterus, yang dikelilingi cairan menyerupai abses kecil. Tatalaksana dilakukan dengan laparoskopi eksplorasi untuk pengambilan IUD. Setelah prosedur, pemeriksaan ultrasonografi lanjutan menunjukkan janin intrauterin tunggal yang hidup, tanpa disertai nyeri atau perdarahan. Kondisi pasien membaik setelah satu minggu.Kesimpulan: Kasus ini menekankan pentingnya kontrol lanjutan setelah pemasangan IUD dan penanganan yang tepat pada kasus translokasi IUD dengan kehamilan yang tidak direncanakan.Kata Kunci: Kehamilan tidak diharapakan (KTD), translokasi IUD, laparoskop
Correlation of Maternal Comorbidities and Neonatal Outcomes in Patients With Non-Reassuring Fetal Status Undergoing Caesarean Section
Objective: Non-reassuring fetal status (NRFS) is an obstetric emergency characterized by abnormal fetal heart rate patterns requiring immediate intervention, often through cesarean section. Maternal comorbidities such as obesity, hypertension, and anemia are suspected to increase the risk of NRFS and adversely affect neonatal outcomes, particularly in developing countries. This study aimed to evaluate the relationship between maternal comorbidities and neonatal outcomes, including low birth weight (LBW), APGAR scores, and the need for Neonatal Intensive Care Unit (NICU) admission, in NRFS cases undergoing cesarean section at Prof. Dr. Margono Soekarjo Hospital, Purwokerto, from September 2023 to April 2024.Methods: A cross-sectional study used secondary (medical) data with total sampling. Bivariate and multivariate logistic regression analyses reported odds ratios (ORs) and 95% confidence intervals (CIs). A p-value of <0.05 was considered statistically significant.Result: Maternal obesity, hypertension, and anemia were significantly associated with LBW, low APGAR scores, and NICU admission. All comorbidities showed ORs <1, indicating increased risk for adverse neonatal outcomes.Conclusion: There was a significant correlation between maternal comorbidities and poor neonatal outcomes in NRFS cases delivered via cesarean section.Hubungan antara Komorbiditas Maternal dan Luaran Neonatus pada Pasien dengan Non-Reassuring Fetal Status yang Menjalani Seksio SesareaAbstrak Tujuan: Non-reassuring fetal status (NRFS) adalah kondisi kegawatdaruratan obstetri yang ditandai oleh pola detak jantung janin abnormal dan membutuhkan intervensi segera, sering berupa seksio sesarea. Komorbiditas maternal seperti obesitas, hipertensi, dan anemia diduga berperan dalam meningkatkan risiko NRFS dan memengaruhi luaran neonatal, terutama di negara berkembang. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi hubungan antara komorbiditas maternal dan berat badan lahir rendah (BBLR), skor APGAR, dan kebutuhan perawatan Neonatal Intensive Care Unit (NICU) pada pasien NRFS yang menjalani seksio sesarea di RSUD Prof. Dr. Margono Sokearjo Purwokerto dari September 2023 hingga April 2024.Metode: Penelitian potong lintang ini menggunakan data (rekam medis) dengan teknik total sampling. Analisis bivariat dan multivariat dilakukan menggunakan regresi logistik dengan odds ratio (OR) dan interval kepercayaan 95%. Nilai p <0,05 dianggap signifikan.Hasil: Obesitas, hipertensi, dan anemia maternal secara signifikan berhubungan dengan BBLR, skor APGAR rendah, dan kebutuhan NICU. Semua komorbiditas menunjukkan odd ratio <1, mengindikasikan peningkatan risiko terhadap luaran neonatal yang merugikan.Kesimpulan: Terdapat hubungan signifikan antara komorbiditas maternal dan luaran neonatal yang buruk pada pasien NRFS yang menjalani seksio sesarea.
Prevalence and Distribution of Risk Factors for Preterm Labor in RSUP DR. Mohammad Hoesin Palembang Period January 1 2020 – December 31 2023
Objective: This study aims to determine the prevalence and distribution of risk factors for preterm labor.Methods: This is a descriptive observational study with a cross-sectional design. The data used in this study were secondary data obtained with the total sampling method from the medical records of Dr. Mohammad Hoesin Palembang Hospital from January 1, 2020 to December 31, 2023.Results: This study found 1,654 cases of preterm labor from January 1, 2020 to December 31, 2023. The analysis of risk factors among mothers indicated that those within the high-risk age categories (35 years) constituted 31.7%. Multiparous and grand multiparous women represented 41.7%, while multiple pregnancies accounted for 6.6%. A history of premature rupture of membranes was noted in 25.4% of cases, polyhydramnios was observed in 1.3%, and a history of cesarean delivery was found in 25.4%. Furthermore, 33% suffered from hypertension, and 2.5% had diabetes. Anemia was prevalent in 47.9% of the mothers, and infection was reported in 42.8%. A history of preterm delivery was noted in 13.7%, risky gestational distance was found in 10.6%, and 25% had a history of antepartum hemorrhage. Finally, obesity was observed in 14.5% of the mothers.Conclusion: The number of deliveries continued to decrease, but the prevalence of preterm labor increased from 2020 to 2023. Anemia is the most common risk factor found in mothers with preterm labor.Prevalensi dan Distribusi Faktor Risiko Persalinan Prematur di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang dalam Tiga TahunAbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi serta distribusi faktor risiko persalinan prematur.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional dengan desain cross-sectional. Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder dengan metode total sampling dari data rekam medik RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang periode 1 Januari 2020 – 31 Desember 2023.Hasil: Terdapat 1654 kasus persalinan prematur dengan periode 1 Januari 2020 – 31 Desember 2023. Distribusi faktor risiko didapatkan ibu dengan usia berisiko (35) tahun (31,7%), paritas multipara dan grandemultipara (41,7%), kehamilan multipel (6,6%), riwayat ketuban pecah dini (25,4%), polihidramnion (1,3%), riwayat persalinan sesar (25,4%), hipertensi (33%), diabetes (2,5%), anemia (47,9%), infeksi (42,8%), riwayat persalinan prematur (13,7%), jarak kehamilan berisiko (10,6%), riwayat perdarahan antepartum (25%), obesitas (14,5%). Kesimpulan: Jumlah persalinan terus mengalami penurunan, namun prevalensi kejadian persalinan prematur terus mengalami peningkatan dari tahun 2020-2023. Anemia menjadi faktor risiko paling banyak yang ditemukan pada ibu dengan persalinan prematur.Kata kunci: Prevalensi, Persalinan Prematur, Faktor Risik