OBGYNIA - Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
Not a member yet
371 research outputs found
Sort by
Hernia Umbilikalis Post Sectio Sesarea pada Kehamilan Ganda: Sebuah Laporan Kasus
Tujuan: Mengetahui faktor risiko dan mekanisme terjadinya hernia umbilikalis pada pasien wanita post partumMetode:Teknik pengumpulan data melalui wawancara, pemeriksaan, observasi, serta dokumentasiKasus: Perempuan G2P1A0 hamil 35-36 minggu, bekas sectio sesarea, janin ganda intrauterine dengan rencana sectio sesarea. Riwayat ANC rutin dan tidak ditemukan kelainan. Dua hari setelah operasi section sesarea pasien mengeluhkan mual, muntah, dan ditemukan massa pada regio umbilikalis dengan konsistensi keras, immobile, terdapat nyeri tekan dan suara bising usus. Luka operasi baik. Pada pemeriksaan USG abdomen tampak gambaran hernia ventralis paramedian kanan abdomen. Pasien kemudian dilakukan operasi laparotomi hernioraphyDiskusi: Hernia umbilikal merupakan penonjolan usus yang berlokasi dekat umbilikus. Hal ini disebabkan oleh peningkatan tekanan intraabdominal dan kelemahan dari dinding perut. Terdapat beberapa faktor risiko yang mencetuskan. Faktor risiko pada kasus ini adalah obesitas, riwayat operasi sectio sesarea, dan kehamilan. Obesitas menyebabkan peningkatan tekanan intraabdominal, terjadi stress mekanik yang mengakibatkan gangguan dari metabolisme kolagen. Kesimpulan: Pada wanita dengan kehamilan ganda, obesitas dan riwayat operasi sebelumnya menjadi faktor risiko terjadinya kejadian hernia umbilikal. Umbilical Hernia Post Sectio Caesarea in Multiple Pregnancies: A Case ReportAbstractObjective: To know the risk factors and mechanism of umbilical hernia in post partum female patientsMethods:Techniques through interviews, examinations, observations, and documentationCase: G2P1A0 woman 35-36 weeks, former cesarean section with intrauterine multiple fetus with planned cesarean section. A history of routine ANC and no abnormalities were found. Two days after cesarean section the patient complained of nausea, vomiting, and found a mass in the umbilical region with a firm consistency, immobile, tenderness and bowel sounds. The surgical wound is good. On ultrasound examination of the abdomen showed a picture of the right paramedian ventral hernia of the abdomen. The patient then underwent laparotomy for hernioraphyDiscussion: Umbilical hernia is a protrusion of the intestine that is located near the umbilicus. It is caused by increased intraabdominal pressure and weakness of the abdominal wall. There are several risk factors that trigger it. The risk factors in this case were obesity, history of cesarean section, and pregnancy. Obesity causes an increase in intraabdominal pressure, mechanical stress occurs which results in disruption of collagen metabolism. Conclusion: In women with multiple pregnancies, obesity and a history of previous surgery are risk factors for the occurrence of umbilical herniaKey words: Umbilical hernia, cesarean section, multiple pregnancie
Secondary Syphilis with Giant Condyloma Acuminatum in Pregnant Women: A Report from a Limited Resource Area
Introduction: This report shows a case of secondary syphilis in pregnancy with Giant Condyloma Acuminatum (GCA) co-infection DD/condyloma lata which was resolved with alternative treatment of syphilis.Case illustration: A 21-year-old, primigravid woman came to obstetrics outpatient clinic in rural SoE Hospital, East Nusa Tenggara, with a complaint of mass enlargement around vulva (minor and major labia) since 2 months before. Based on Last Menstrual Period (LMP), she was in 34 + 6 weeks of gestation. There were coin lesions in the palms. On genital examination, there was protruded mass sized around 15 x 10 cm, erythematous, and it easily bled on the center part which was suspected to be GCA. Treponema Pallidum rapid (TP-rapid) test using AIM© syphilis rapid test revealed positive results. The patient was diagnosed with secondary syphilis in pregnancy mixed with GCA with dd/condyloma lata and administered Ceftriaxone 1 g intramuscularly once daily for 14 days. She delivered at 41-42 weeks of gestation and a baby girl with 1,980 grams of body weight according to symmetric Intrauterine Growth Restriction (IUGR) was born. No clinical signs of congenital syphilis found.Discussion: Vertical transmission which occurs in each stage of syphilis is related to the presence of spirochetes in the blood circulation. Infants born from syphilis pregnant women consist of 56% of jaundice, 14% of hearing impairment, 8% of renal disease, 8% of mental retardation, and 6% of IUGR or Small for Gestational Age (SGA).Conclusion: Secondary syphilis coinfection with GCA in pregnancy is a rare case report. Syphilis is a significant public health problem globally, especially in Indonesia.Sifilis Sekunder dengan Kondiloma Akuminata Besar pada Wanita Hamil: Sebuah Laporan dari Daerah dengan Keterbatasan Sumber DayaAbstrakPendahuluan: Kasus ini melaporkan sifilis sekunder pada kehamilan dengan kondiloma akuminatum besar dengan koinfeksi dd/kondiloma lata yang beresolusi setelah pemberian tatalaksana alternatif sifilis.Ilustrasi Kasus: Seorang wanita primigravida berusia 21 tahun datang ke poliklinik obstetrik di RSUD SoE, Nusa Tenggara Timur dengan pembesaran massa sekitar vulva (labia minor dan mayor) sejak 2 bulan sebelumnya. Berdasarkan Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT), usia kehamilan 34 + 6 minggu. Terdapat lesi pada telapak tangan. Pada pemeriksaan genital, terdapat massa ukuran 15 x 10 cm, eritema, mudah berdarah pada bagian tengah dengan kecurigaan kondiloma akuminatum besar. Hasil tes rapid Treponema Pallidum menggunakan tes rapid sifilis (AIM©) menunjukkan hasil positif. Pasien didiagnosis mengidap sifilis sekunder pada kehamilan dengan kondiloma akuminatum besar dengan koinfeksi dd/ kondiloma lata dan diberikan terapi seftriakson 1 gram intramuscular setiap hari selama 14 hari. Pasien melahirkan saat usia kehamilan 41-42 minggu dan lahir bayi 1.980 gram sesuai dengan Pertumbuhan Janin Terhambat (PJT) simetrik. Tidak ada tanda klinis sifilis kongenital yang ditemukan. Diskusi: Transmisi vertikal dapat terjadi pada setiap tahap sifilis berkaitan dengan keberadaan spiroseta di sirkulasi darah. Bayi lahir dari wanita hamil sifilis biasanya menunjukkan tanda 56% kuning, 14% gangguan pendengaran, 8% gangguan ginjal, 8% retardasi mental, dan 6% PJT atau Kecil Masa Kehamilan (KMK).Kesimpulan: Sifilis sekunder koinfeksi kondiloma akuminatum besar merupakan kasus jarang. Sifilis masih menjadi perhatian kesehatan global, khususnya di Indonesia.Kata kunci: sifilis, koinfeksi, kondiloma akuminatum besar, pertumbuhan janin terhamba
Etika Klinik sebagai Ciri dari Profesionalisme dalam Pelayanan Obstetri dan Ginekologi
Pelayanan kesehatan sudah dikenal sejak berabad-abad yang lalu. Upaya tersebut bukan hanya untuk mengobati atau menghilangkan penyakit saja, tetapi juga harus disertai dengan rasa puas dan nyaman bagi orang sakitnya. Untuk bisa mencapai upaya tersebut, pelayanan kesehatannya harus mengandung dua unsur, yaitu biomedis dan etika. Yang dimaksud dengan biomedis itu adalah kemampuan dokter untuk membuat diagnosis yang benar, alternatif terapi yang yang tepat dan aman, serta prognosis yang baik, sedangkan yang dimaksud dengan etika adalah niat, sikap dan perilaku dokter yang sabar, jujur dan ikhlas serta penuh empati dalam menangani pasiennya. Dalam perkataan lain, dokter itu harus bertindak profesional. Telah disepakati bahwa tonggak ilmu kedokteran modern dimulai dua setengah abad yang lalu, pada saat Hippocrates memperkenalkan tradisi luhur yang menjadi ciri dan pedoman bagi perilaku para dokter. Praktik kedokteran, dari dahulu sampai sekarang. Selain harus mempunyai kompetensi klinik (ekspertis) yang baik, juga selalu dipandu berdasarkan prinsip etika. Dua di antaranya, adalah nil nocere(do not harm) dan bonum facere(do good for the patient).Prinsip ini, setelah melalui berbagai penyesuaian dan penyempurnaan, tetap berlaku sampai sekarang. Sekarang pun, para lulusan kedokteran, diwajibkan mengucapkan Sumpah Dokter pada saat diwisuda dan diberi pedoman yang harus ditaatinya, berupa Kode Etik Kedokteran Indonesia(KODEKI)1 dan Petunjuk Teknis Praktek Kedokteran
Peran Phosphatase Regenerating Liver-3 dan Vascular Endothelial Growth Factor dalam Progresivitas Kanker Ovarium Epitelial
Tujuan: Mengetahui peran phosphatase regenerating liver-3 (PRL-3) dan vascular endothelial growth factor (VEGF) dalam progresivitas kanker ovarium.Metode: Penelitian dilakukan pada penderita kanker ovarium di beberapa rumah sakit jejaring Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Makassar. Pengambilan sampel dilaksanakan secara consecutive sampling. Pengambilan cairan ascites dan jaringan tumor pada saat operasi dilakukan untuk pemeriksaan hematoksilin eosin dan immunohistokimia, dan pemeriksaan mRNA dengan RT-PCR. Pemeriksaan hematoksilin eosin untuk mengukur histopatologi. Pemeriksaan imunohistokimia dilakukan untuk mengetahui ekskpresi PRL-3 dan VEGF. RT-PCR digunakan untuk melakukan pemeriksaaan mRNA PRL-3. Data dianalisis dengan uji chi-square dan analisis korelasi Spearman pada taraf signifikansi 5%.Hasil: Hasil diperoleh 38 subyek penelitian yang terdiri dari 26,3% stadium awal dan 73,7% stadium lanjut. Ekspresi PRL-3 tidak berbeda secara bermakna berdasarkan stadium, derajat diferensiasi, dan lokasi tumor dengan p > 0,05. Ekspresi PRL-3 pada kanker ovarium primer yang disertai metastasis lebih tinggi secara bermakna dibandingkan dengan kanker ovarium primer tanpa metastasis (p 0,05. Ada korelasi positif yang bermakna antara ekspresi PRL-3 dengan VEGF pada kanker ovarium epitelial (p 0.05. PRL-3 expression in primary ovarian cancer with metastases was significantly higher than in primary ovarian cancer without metastases (p 0.05. There was a significant positive correlation between PRL-3 expression and VEGF in epithelial ovarian cancer (p<0.05). Conclusion: The high expression of PRL-3 increases the expression of VEGF and the progression of epithelial ovarian cancer. Key words: ovarian cancer, phosphatase regenerating liver-3, vascular endothelial growth facto
CA-125 sebagai Prediktor Sitoreduksi pada Pasien Kanker Ovarium Tipe Epitel
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah CA-125 dapat menjadi prediktor yang baik untuk sitoreduksi pada kanker ovarium tipe epitel.Metode: Desain penelitian ini adalah cross sectional dengan pemeriksaan pasien yang diduga memiliki tumor ganas ovarium, pemeriksaan kadar CA-125 pre operasi dan jenis sitoreduksi pasca operasi. Sitoreduksi optimal dipertimbangkan jika sisa tumor terbesar berdiameter <1 cm. Nilai p numerik diuji dengan uji T tidak berpasangan jika data berdistribusi normal dengan uji alternatif Mann Whitney jika data tidak berdistribusi normal. Data kategorik nilai p dihitung berdasarkan uji Chi-Square dengan alternatif Kolmogorov Smirnov dan uji Exact Fisher jika persyaratan Chi-Square tidak terpenuhi. Nilai diagnostik CA-125 dievaluasi dan nilai cut-off optimal ditentukan. Analisis ROC digunakan untuk menentukan nilai cut-off CA-125 yang optimal. Data yang diperoleh direkam dalam bentuk khusus kemudian diolah dengan SPSS versi 25.0 for windows. Pasien yang dikumpulkan sesuai dengan kriteria selama masa penelitian adalah 109 pasien.Hasil: Ditemukan bahwa nilai rata-rata CA-125 untuk kelompok sitoreduksi suboptimal lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok sitoreduksi optimal (1157,63±2105,196 vs 237,53±319,432), yang signifikan secara statistik, p=0,0001 (nilai p<0,05). Cut off point CA-125 dalam penelitian ini adalah 248,55 dengan nilai sensitivitas 73,2%, nilai spesifisitas 73,6%, nilai prediksi positif 74,5%, nilai prediksi negatif 72,2%, dan akurasi 73,3%. Kesimpulan: Data kami menunjukkan bahwa CA-125 pre-operasi adalah prediktor sedang untuk sitoreduksi yang optimal.CA-125 as A Cyoreduction Predictor in Patient with Epithelial Ovarian CarcinomaAbstract Objective: This study aims to determine whether CA-125 can be a good predictor of cytoreduction in epithelial ovarian carcinoma.Method: Cross sectional study by examining patients suspected of ovarian malignancy, checking for their preoperative CA-125 levels and post operative type of cytoreduction. Optimal cytoreduction was considered if the largest residual tumor was <1 cm in diameter. Numerical p value is tested by unpaired T test if the data is normally distributed with the alternative Mann Whitney test if the data is not normally distributed. The p value categorical data is calculated based on the Chi-Square test with the alternative Kolmogorov Smirnov and Exact Fisher tests if the requirements of the Chi-Square are not met. The diagnostic value of the CA-125 is evaluated and the optimal cut-off value is determined. The ROC analysis was plotted to determine the optimal cut-off of CA-125. The data obtained is recorded in a special form and then processed with SPSS version 25.0 for windows. Patients collected during the study period were 109 patients. Results: It was found that mean value of CA-125 for suboptimal cytoreduction group was higher than optimal cytoreduction (1157.63±2105.196 vs 237.53±319.432), which is statistically significant, p = 0.0001 (p value <0.05). CA-125 cut off point in this research was 248.55 with sensitivity value of 73.2%, specificity value of 73.6%, the positive predictive value 74.5%, the negative predictive value 72.2% and its accuracy 73.3%. Conclusion: Our data indicate that preoperative CA-125 is moderate predictor for optimal cytoreduction.Key words: CA-125, cytoreduction, Epithelial Ovarian Carcinoma, Predicto
Karakteristik Karsinoma Ovarium Pra-Menopause dengan Kadar CA 125 ≤200 U/mL di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung dari Tahun 2019–2021
Tujuan: Mendeskripsikan karakteristik karsinoma ovarium pra-menopause dengan kadar CA 125 ≤ 200 U/mL di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung dari tahun 2019 sampai 2021.Metode: Penelitian deskriptif ini menggunakan metode total sampling dari data sekunder pasien kanker ovarium yang memenuhi kriteria inklusi dan memiliki variabel lengkap.Hasil: Penelitian yang melibatkan 32 sampel ini, menunjukkan nilai rata-rata CA 125 sebesar 82,63 U/mL dengan interval 3,3–194,8 U/mL. Mayoritas pasien berada pada rentang usia 40–49 tahun (40,6%), sudah menikah (87,5%), berprofesi sebagai ibu rumah tangga (81,3%), dan tinggal di Kawasan Pembangunan Bandung Raya (34,4%). Sebanyak 37,5% pasien adalah nullipara dan memiliki tipe histopatologis tumor epitel mucinous. Stadium tumor terbanyak adalah stadium I (56,3%). Kebanyakan pasien menjalani surgical staging komplit sebagai terapi penyakitnya (46,8%). Kesimpulan: Sebagian besar pasien karsinoma ovarium pra-menopause dengan kadar CA 125 ≤ 200 U/mL pada tahun 2019–2021 berada pada rentang usia 40–49 tahun, sudah menikah, bekerja sebagai ibu rumah tangga, dan berdomisili di Kawasan Pengembangan Bandung Raya. Kebanyakan pasien berstatus nullipara, memiliki tumor dengan tipe histopatologis epitel mucinous, dan terdiagnosis pada stadium I. Tipe pengobatan yang paling umum ditemui adalah surgical staging komplit.Characteristics of Pre-Menopausal Ovarian Carcinoma with CA 125 Level ≤ 200 U/mL in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung From 2019–2021Abstract Objective: To describe the characteristics of pre-menopausal ovarian carcinoma patients with CA 125 Level ≤ 200 U/mL in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung from 2019 until 2021.Method: This descriptive study used the total sampling method of secondary data on ovarian cancer patients that have met the inclusion criterias and have complete variables.Results: This study involving 32 samples showed the average level of CA 125 was 82,63 U/mL with the interval of 3,3 – 194,8 U/mL. Majority of the patients were in the age range of 40 – 49 years old (40,6%), has been married (87,5%), were housewifes (81,3%), and lived in Development Area of Bandung Raya (34,4%). About 37,5% patients were nullipara and had mucinous epithelial histopatology type of tumor. The most abundant tumor stage were stage I (56,3%). Most patients had undergoing complete surgical staging for their therapy (46,8%). Conclusion: Most of pre-menopausal ovarian carcinoma patients with CA 125 level ≤ 200 U/mL in 2019–2021 were in the age range of 40 – 49 years old, has been married, had profession as housewifes, and domiciled in Development Area of Bandung Raya. Majority of patients were nullipara, had tumor with mucinous epithelial histopatology type, and were diagnosed at the stage I. The most found therapy were complete surgical staging.Key words: ovarian cancer, CA 125, cancer antigen 125, characteristi
Pengaruh Sindrom Metabolik terhadap Penurunan Kekuatan Otot Dasar Panggul dan Risiko Terjadinya Prolaps Organ Panggul serta Disfungsi Seksual pada Wanita Pralansia
Tujuan: Menganalisis pengaruh sindrom metabolik terhadap kekuatan otot dasar panggul dan risiko terjadinya prolaps organ panggul dan disfungsi seksual pada wanita pralansia sehingga dapat dipergunakan sebagai acuan dalam menghadapi masa menopause Metode: Penelitian ini merupakan bagian dari penelitian potong lintang terhadap 33 orang wanita kelompok usia reproduktif dan 33 orang wanita pralansia anggota PERSIT KODIM 0410 Kota Bandarlampung pada bulan Maret–Mei 2022 yang meneliti tentang efek sindrom metabolik terhadap fungsi reproduksi dan fungsi seksual wanita pralansia.Hasil: Hasil analisis bivariat dengan uji Fisher menunjukkan terdapat hubungan antara terjadinya sindrom metabolik terhadap kekuatan otot dasar panggul yang dinilai dengan skala Brink (nilai p=0,001 dengan nilai r/ interval kepercayaan 1,28 (0,58-2,57)) dan hasil pemeriksaan POP-Q dengan nilai p=0,001 dengan nilai r/ interval kepercayaan 1,16 (0,6-2,2) pada kelompok usia pralansia dibandingkan usia reproduktif dan risiko terjadinya disfungsi seksual yang dinilai dari hasil pengisian kuisioner FSFI dengan (nilai p=0,001 dengan nilai r/ interval kepercayaan 2,6 (0,5-12,7)) pada kelompok usia pralansia dibandingkan usia reproduktif. Kesimpulan: Sindrom metabolik berpengaruh terhadap penurunan kekuatan otot dasar panggul dan meningkatkan risiko disfungsi seksual pada kelompok usia pralansia dibandingkan kelompok usia reproduktif.The Impact of Metabolic Syndrome on Pelvic Floor Muscle Strength Reduction and The Risk of Pelvic Organ Prolaps And Sexual Dysfunction in Premenopausal WomenAbstractObjective: Analyzing the impact of metabolic syndrome on pelvic floor muscle strength and the risk of pelvic organ prolapse and sexual dysfunction in premenopausal women that can be used as a reference in dealing with menopause stageMethods: This is a part of research on impact of metabolic syndrome on reproduction and sexual function. A cross sectional research using 33 women of reproductive and 33 premenopausal women in PERSIT KODIM 0410 Bandarlampung in March–May 2022. Result: The results using Fisher test showed that there was significant association between metabolic syndrome and pelvic floor muscle strength as assessed by the Brink scale (p value = 0.001 r value / confidence interval 1.28 (0.58-2.57)) and the results of the POPQ examination with p=0.001 (1.16 (0.6-2.2)). The risk of sexual dysfunction as assessed from FSFI questionnaire has p value=0.001 (2.2 (0.5-9.02)) in the premenopausal compared to reproductive age grup. Conclusion: Metabolic syndrome affects the decrease of pelvic floor muscle strength and increases the risk of sexual dysfunction in the pre-elderly age group compared to the reproductive age group Keyword: Metabolic syndrome, pelvic floor muscle strength, sexual disfunctio
Pengaruh Faktor Risiko terhadap Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah di Rumah Sakit Bhayangkara Sartika Asih Bandung
Tujuan: Diperlukan identifikasi faktor risiko yang bisa menyebabkan BBLR. Tujuan dalam penelitian ini yaitu mengetahui faktor risiko yang bisa menyebabkan BBLR meliputi faktor sosiodemografi, maternal, janin, dan lingkungan.Metode: Penelitian menggunakan metode case control. Sampel berjumlah 126 orang. Pengambilan data berupa data rekam medis dengan instrumen menggunakan lembar ceklist mengenai faktor risiko sosiodemografi, maternal janin, dan lingkungan. Data dianalisis menggunakan uji chi square.Hasil: Faktor yang berpengaruh terhadap BBLR di antaranya usia (p-value 0,000), paritas (p-value 0,000), penghasilan (p-value 0,028), perdarahan antepartum (p-value 0,042), ketuban pecah dini (p-value 0,009), hipertensi (p-value 0,000), Kekurangan energi kronis (p-value 0,031), anemia (p-value 0,015), ibu perokok (p-value 0,006), gemeli (p-value 0,0016), hidramnion (p-value 0,042), prematur (p-value 0,000), kelayakan air (p-value 0,016) dan kelayakan sanitas (p-value 0,006). Sementara itu faktor yang tidak berpengaruh terhadap BBLR di antaranya pendidikan (p-value 0, 934), pekerjaan (p-value 0,312), TB paru (p-value 0,257), dan ibu minum alkohol (p-value 0,257). Hasil analisis multivariat didapatkan faktor yang berpengaruh terhadap kejadian BBLR secara berurutan yaitu gemeli (OR 42,218), prematur (OR 17,639), kelayakan air (OR 14,769), perokok (OR 12,462), hipertensi (OR 7,228), anemia (OR 4,407), paritas (OR 3,116), ketuban pecah dini (OR 1,674), usia (OR 1,245), dan kelayakan sanitasi (OR 1,230).Kesimpulan: Faktor risiko yang paling berpengaruh terhadap BBLR yaitu Gemeli.Risk Factors on Low Birth Weight Infants at Hospital Bhayangkara Sartika Asih BandungAbstractObjective: Required identification of risk factors that can cause LBW. So the aim of this research is to know the risk factors that can cause LBW including sociodemographic, maternal, fetal and environmental factors.Method: Research using methods case control. The sample is 126 people. Data collection was in the form of medical record data with instruments using checklist sheets regarding sociodemographic, maternal and environmental risk factors. Data were analyzed using test who squares.Results: Factors that influence LBW include age (p-value 0.000), parity (p-value 0.000), income (p-value 0.028), antepartum hemorrhage (p-value 0.042), premature rupture of membranes (PRM) (p-value 0.009), hypertension (p-value 0.000), Chronic energy deficiency (p-value 0,031), anemia (p-value 0.015), smoking mothers (p-value 0.006), twins (p-value 0.0016), hydramnios (p-value 0.042), premature (p-value 0,000), water qualification (p-value 0.016) and sanitary feasibility (p-value 0.006). While the factors that do not affect LBW include education (p-value 0.934), work (p-value 0.312), pulmonary TB (p-value 0.257), and the mother drinks alcohol (p-value 0.257). The results of the multivariate analysis showed that the factors influencing the incidence of LBW were sequential (OR 42.218), premature (OR 17.639), water adequacy (OR 14.769), smokers (OR 12.462), hypertension (OR 7.228), anemia (OR 4.407), parity (OR 3.116), premature rupture of membranes (OR 1.674), age (OR 1.245) and sanitation feasibility (OR 1.230).Conclusion: The most influential risk factor for LBW is Gemelli.Key words: Gemelli, Low Birth Weight Babies, Risk Factors
Hubungan Nilai PCI Intraoperatif dengan Resektabilitas Kanker Ovarium di RSUP Dr. M. Djamil Padang
Tujuan: Ukuran luas massa sebelum operasi berperan dalam keberhasilan sitoreduksi komplit. Peritonial Carcinomatosis Index (PCI) adalah sistem yang paling umum digunakan untuk peritoneal carcinomatosis, dan indikator prognostik independen untuk hasil jangka panjang. Resektabilitas kanker ovarium ditandai dengan residu kanker berpengaruh terhadap prognosis. Penggunaan PCI pada kanker ovarium sebagai faktor prediktor resektabilitas akan meniadakan sebagian faktor perancu terkait tim bedah. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan nilai PCI metastasis intraoperatif terhadap resektabilitas massa pada kanker ovarium stadium lanjut di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Metode: Penelitian analitik observasional dengan desain cross sectional study. Kriteria inklusi berupa pasien kanker ovarium stadium lanjut 1C yang akan dilakukan operasi dan bersedia menandatangani informed consent sejak Oktober 2021. Hasil: Sebanyak 52.5% memiliki riwayat genetik, 72.5% berusia 40 – 70 tahun. Pasien rawatan kanker ovarium stadium lanjut di RSUP Dr. M. Djamil Padang sebanyak 95% IOTA SR malignant, sebanyak 100% memiliki nilai CA-125 > 35, 60% ukuran massa >1 cm. PCI tinggi (skor > 15-39) memiliki frekuensi lebih tinggi dibandingkan nilai PCI Rendah (62,5%). Persentase resektabel lebih tinggi pada nilai PCI rendah dibandingkan nilai PCI tinggi sebanyak 100% ( 35, 60% of mass size >1 cm. High PCI (score > 15-39) has a higher frequency than a Low PCI value (62.5%). The percentage of resectable is higher in low PCI scores than in high PCI scores, about 100% (<0.001). Conclusion: There is a significant relationship between intraoperative peritoneal carcinomatosis index and mass resectability.Key word: Peritonial Carcinomatosis Index, resectability, ovarian cance