OBGYNIA - Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
Not a member yet
371 research outputs found
Sort by
Hubungan Umur dan Paritas Ibu dengan Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah (BBRL) pada Ibu Bersalin di RSUD Waled Tahun 2018 – 2021
Tujuan: Menganalisis hubungan antara umur dan paritas ibu dengan kejadian bayi bblr pada ibu bersalin di RSUD Waled tahun 2018 – 2021.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan menggunakan metode cross sectional dengan sampel 247 responden. Peneliti menggunakan data sekunder dengan analisis univariat, bivariat menggunakan uji korelasi spearmen, dan multivariat dengan uji regresi logistik. Hasil: Peneliti mendapatkan hasil persentase sebesar 50,2% ibu bersalin yang mengalami bayi bblr dan 49,8% ibu bersalin tidak mengalami bblr. Hubungan umur ibu dengan bblr menunjukan hasil bermakna, dengan kekuatan korelasi kuat (p=0,000, rs=0,625), hubungan paritas dengan bblr kekuatan korelasi lemah (p=0,000, rs=0,265) pada kelompok paritas grandemultipara memiliki jumlah terbanyak 13 orang (81,25%) menunjukan hasil bermakna dan memiliki hubungan kuat (p= 0,017 rs=4,68%) dengan kejadian bblr. Faktor yang paling berpengaruh terhadap kejadian bayi bblr adalah umur ibu yang memiliki nilai Exp(B) paling tinggi sebesar 27.612 diikuti dengan faktor paritas memiliki nilai Exp(B) sebesar 5.155. Kesimpulan: Terdapat hubungan umur dan paritas ibu dengan kejadian bayi bblr pada ibu bersalin di RSUD Waled pada tahun 2018 – 2021. Variabel yang memiliki hubungan paling bermakna yaitu umur ibu menyajikan hasil bermakna sebanyak 43,3% rs=0,625.The correlation between Maternal Age and Parity with Incidence of Low Birth Weight (LBW) Babies in Mothers Giving Birth at Waled Hospital in 2018 – 2021AbstractObjective: To analyze the relationship between age and parity of the mother and the incidence of LBW babies in mothers giving birth at Waled Hospital in 2018–2021. Method: This research is an observational study using a cross sectional method with a sample of 247 respondents. Researchers used secondary data with univariate analysis, bivariate using Spearmen’s correlation test and multivariate with logistic regression test. Results: Researchers obtained percentage results of 50.2% of mothers who gave birth having LBW babies and 49.8% of mothers who gave birth who did not experience LBW. The relationship between maternal age and LBW showed significant results, with a strong correlation (p=0.000, rs=0.625), parity and LBW had a weak correlation (p=0.000, rs=0.265) in the grandemultipara parity group with the highest number of 13 (81, 25%) showed significant results and had a strong relationship (p = 0.017 rs = 4.68%) with the incidence of LBW The factor that most influenced the incidence of LBW babies was the age of the mother who had the highest Exp(B) value of 27,612 followed by the parity factor has an Exp(B) value of 5,155.Conclusion: There is a relationship between age and maternal parity with the incidence of LBW babies among women giving birth at Waled Hospital in 2018 – 2021. The variable that had the most significant relationship, namely maternal age, presented significant results of 43.3%, rs=0.625.Key words: Maternal age, Parity, Low Birth Weight
Characteristics of Endometrioma Recurrence Patients
Objective: To identify the characteristics of endometrioma recurrence cases. Method: This study was a descriptive retrospective, using secondary data taken from all medical records of Clinic Aster and Medical Records Installation in Dr. Hasan Sadikin General Hospital, Bandung, from 1st January 2018 – 31st December 2022. Data were presented in tables.Results: Of the 37 endometrioma recurrences, most of the patients are 20 to 35 in age. None of them has a parity history after the first surgical procedure. Both previous and recent cases are dominantly unilateral endometriomas. The history of postoperative medication is higher (54,1%). Obstetricians/Gynecologists appear to perform the most surgical procedure (67,6%). Mass is the main clinical manifestation of the recurrence. While menstrual and BMI profiles appear to be normal.Conclusions: The characteristic of the recurrence of endometrioma is related parity status after the first surgery, history of the previous medical treatment, and previous form of endometrioma are related to the current characteristic of endometrioma (age, lesion form, clinical manifestation, and recurrence interval).Karakteristik Pasien Endometrioma RekurenAbstrakTujuan: Mengetahui karakteristik dari pasien endometrioma rekuren.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskripsi retrospektif dengan menggunakan data sekunder yang diambil dari seluruh rekam medis pasien kista endometriosis rekuren di Klinik Aster dan Instalasi Rekam Medis di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin Bandung dengan periode 1 Januari 2018 – 31 Desember 2022. Kemudian, data-data disajikan dalam bentuk tabel. . Hasil: Dari 37 kasus e ndometrioma rekuren, sebagian besar pasien berusia 20 hingga 35 tahun. Seluruh pasien tidak mempunyai riwayat paritas setelah prosedur pembedahan sebelumnya. Baik kasus-kasus kista endometriosis sebelumnya maupun yang kambuh, keduanya dominan dalam bentuk unilateral. Riwayat pengobatan pasca operasi lebih tinggi (54,1%). Dokter Spesialis Obstetri/Ginekologi tampak melakukan tindakan pembedahan terbanyak (67,6%). Massa adalah manifestasi klinis utama dari kekambuhan. Selain itu, profil menstruasi dan BMI tampak normal.Kesimpulan: Karakteristik pada endometrioma rekuren berkaitan dengan status paritas setelah operasi pertama, riwayat pengobatan medis sebelumnya, dan bentuk endometrioma sebelumnya berhubungan dengan karakteristik endometrioma saat ini (usia, bentuk lesi, manifestasi klinis, dan rentang rekurensi)Kata kunci: karakteristik, rekuren, endometriom
Korelasi Kekuatan Otot Menggenggam dengan Otot Levator Ani pada Penderita Prolapsus Organ Panggul
Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan kekuatan otot levator ani dan otot menggenggam sebelum dan sesudah pemberian analog vitamin D3 (alfacalcidol) dan mengetahui korelasi antara kekuatan kontraksi otot levator ani dan kekuatan kontraksi otot menggenggam pada penderita prolapsus organ panggul.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental quasi dengan rancangan sebelum dan sesudah pemberian alfacalcidol pada pasien prolapsus organ panggul. Dilakukan pengukuran kekuatan otot levator ani menggunakan perineometer dan otot menggenggam menggunakan handgrip dynamometer sebelum dan sesudah pemberian alfacalcidol selama 3 bulan. Penelitian dilakukan di Poliklinik Ginekologi FKUP/RSHS bulan Januari-Juli 2021. Hasil: Dilakukan pemberian suplementasi alfacalcidol selama 3 bulan pada 24 penderita prolapsus organ panggul. Hasil evaluasi menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna secara statistik (nilai p<0,001) pada sebelum dan sesudah pemberian suplementasi alfacalcidol yaitu terjadi peningkatan kekuatan otot levator ani (rerata pre= 9,94±3,56 dan pasca= 19,67±3,61) dan terdapat peningkatan kekuatan otot menggenggam (rerata pre= 15,39±3,29 dan pasca= 23,90±3,67). Hasil penelitian ini menemukan adanya korelasi antara peningkatan kekuatan kontraksi otot levator ani dan kekuatan kontraksi otot menggenggam (nilai p<0,01) yang memiliki keeratan hubungan yang moderat (nilai R pre= 0,532 dan pasca= 0,618).Simpulan: Suplementasi alfacalcidol dapat meningkatkan kekuatan kontraksi otot levator ani dan otot menggenggam pada penderita prolaps organ panggul. Terdapat korelasi yang bermakna dengan hubungan moderat pada kekuatan kontraksi otot levator ani dengan kekuatan kontraksi otot menggenggam pada penderita prolapsus organ panggul.Correlation of Grip Muscle Strength With Levator Ani Muscle In Patients With Pelvic organ ProlapseAbstractobjective: This study was to evaluate the differences of the levator ani muscle and the grip muscle strength before and after administration of a vitamin D3 analogue (alfacalcidol) and to determine the correlation of grip muscle strength with levator ani muscle in patients with pelvic organ prolapse.Method: This study was a quasi-experimental study with a design before and after administration of alfacalcidol in patients with pelvic organ prolapse. The levator ani muscle strength was measured using a perineometer and grip muscles strength using a handgrip dynamometer before and after alfacalcidol administration for 3 months. The study was conducted at the Gynecology Polyclinic FKUP/RSHS in Januari-Juli 2021. Results: Alfacalcidol supplementation was administered for 3 months in 24 patients with pelvic organ prolapse. The evaluation results showed a statistically significant difference (p value <0.001) before and after alfacalcidol supplementation with an increase in levator ani muscle strength (mean pre= 9.94±3.56 and pasca= 19.67±3.61) and there was an increase in grip muscles strength (mean of pre=15.39±3.29 and pasca= 23.90±3.67). The results of this study found a correlation between the increase in the strength of the levator ani muscle contraction and the grip muscles strength (p value <0.01) which had a moderate correlations (R value pre = 0.532 and post = 0.618).Conclusion: Alfacalcidol supplementation can increase the strength of the levator ani and grip muscles in patients with pelvic organ prolapse. There is a significant correlation with a moderate correlation between the strength of the levator ani muscle contraction and the grip muscles strength in patients with pelvic organ prolapse. Key words: levator ani muscle, pelvic organ prolaps, alfacalcido
Effects of Calcium on Calmodulin and bFGF/FGF-2 Expression: In Vitro Study on the Sacrouterine Ligament
Objective: To evaluate the effects of calcium on the Sacrouterine Ligament by evaluating the expression of calmodulin and bFGF/FGF-2.Method: A true experimental study was carried out by assessing the cell cultures of sacrouterine ligament from female patients who underwent hysterectomy. The cell cultures were divided into groups that were exposed to calcium at different concentrations of 100 nM, 300 nM, 500 nM, 700 nM, and control group without any exposure. The expression of calmodulin and bFGF/FGF-2 was subsequently analyzed using immunofluorescence and ELISA method.Results: This study showed that exposure to calcium significantly affected calmodulin expression (p-value <0.05). The concentration found to be the most effective to induce calmodulin expression was at 500 nM. Calsium also significantly affected the bFGF/FGF-2 expression (p-value <0.05) with the concentration found to be the most effective to induce bFGF/FGF-2 expression at 500 nM.Conclusion: This study suggested that calcium had a significant positive effect of increasing extracellular matrix expression. A further in vivo study needs to be conducted in order to enhance the evidence of the potential effects to become a preventive agent for pelvic organ prolapse. Calcium is widely available in tropical countries like Indonesia, so this preparation is considered very easy for Indonesian women to apply.Key words: Calcium, calmodulin, bFGF/FGF-2, Extracellular MatrixPengaruh Kalsium pada Ekspresi Calmodulin dan bFGF/FGF-2: Studi In Vitro pada Ligamentum SakrouterinaAbstrakTujuan: Mengevaluasi efek kalsium pada Ligamen Sakrouterina dengan evaluasi ekspresi calmodulin dan bFGF/FGF-2,Metode: Sebuah penelitian true eksperimental dilakukan dengan menilai kultur sel ligamentum sakrouterurina dari pasien wanita yang menjalani histerektomi. Kultur sel dibagi menjadi beberapa kelompok yang diberi paparan kalsium pada konsentrasi yang berbeda yaitu 100 nM, 300 nM, 500 nM, 700 nM, dan kontrol tanpa paparan. Ekspresi calmodulin dan bFGF/FGF-2 selanjutnya dianalisis menggunakan metode ELISA dan imunofluoresensi.Hasil: Penelitian ini menunjukkan bahwa paparan kalsium berpengaruh nyata terhadap ekspresi calmodulin (p-value <0,05). Konsentrasi yang paling efektif untuk menginduksi ekspresi calmodulin adalah pada 500 nM. Kalsium juga berpengaruh nyata terhadap ekspresi bFGF/FGF-2 (p-value <0,05), dengan konsentrasi yang paling efektif untuk menginduksi ekspresi bFGF/FGF-2 adalah pada 500 nM.Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa kalsium memiliki efek positif yang signifikan terhadap peningkatan ekspresi matriks ekstraseluler. Penelitian in vivo lebih lanjut perlu dilakukan untuk meningkatkan bukti potensi efek sebagai agen pencegahan prolaps organ panggul. Kalsium banyak tersedia di negara tropis seperti Indonesia, sehingga olahan ini dinilai sangat mudah diterapkan untuk wanita Indonesia.Kata kunci: Kalsium, Calmodulin, bFGF/FGF-2, Matriks Ekstraselule
Update Manajemen Preeklamsia dengan Komplikasi Berat (Eklamsia, Edema Paru, Sindrom HELLP)
Tujuan: Seiring dengan bertambahnya insidensi preeklamsia dengan komplikasi berat, manajemen yang adekuat diperlukan. Penulisan artikel ini bertujuan untuk memaparkan update manajemen preeklamsia dengan komplikasi berat (eklamsia, edema paru, dan sindrom HELLP).Metode: Tinjauan pustaka (literature review) dengan menggunakan 15 referensi antara tahun 2011–2020.Hasil: Manajemen preeklamsia dengan komplikasi berat membutuhkan pendekatan multidisiplin, medikamentosa (kalsium 1,5–2 gram/hari; aspirin dosis rendah 75–150 mg/hari; MgSO4 dengan dosis awal 4–6 gram IV dan pemeliharaan 1-2 gram/jam hingga 24 jam pascasalin; kortikosteroid; antihipertensi seperti labetalol, hidralazin, nifedipin, natrium nitroprusside, nitrogliserin), dan non-medikamentosa (olahraga, pembatasan cairan). Sementara itu, prinsip penanganan awal eklamsia, yaitu D (Dangers) – R (Response) – S (Send for Help) – A (Airway) – B (Breathing) – C (Compressions) – D (Defibrillation). Adapun manajemen obstetri pada kasus preeklamsia dengan gejala berat, yaitu manajemen ekspektatif dan persalinan (spontan ataupun seksio sesaria).Kesimpulan: Tatalaksana yang cepat dan tepat pada kasus preeklamsia dengan komplikasi berat sangat diperlukan untuk mengurangi morbiditas pada ibu dan janin. Manajemen kasus preeklamsia dengan gejala berat berupa manajemen ekspektatif dan persalinan (spontan ataupun seksio sesaria).Update on Management of Preeclampsia with Severe Features (Eclampsia, Pulmonary Edema, HELLP Syndrome)AbstractObjective: As the incidence of preeclampsia with severe features increases, adequate management is required. The purpose of this review is to present an update on the management of preeclampsia with severe features (eclampsia, pulmonary edema, and HELLP syndrome).Method: Literature review using 15 references between 2011–2020.Results: Management of preeclampsia with severe features requires a multidisciplinary, medical approach (calcium 1.5–2 g/day; low-dose aspirin 75–150 mg/day; magnesium sulfate at an initial dose of 4–6 g IV and maintenance 1-2 g/hour to 24 hours postpartum; corticosteroids; antihypertensives such as labetalol, hydralazine, nifedipine, sodium nitroprusside, nitroglycerin) and non-medical (exercise, fluid restriction). Meanwhile, the principles of early management of eclampsia, namely D (Dangers) – R (Response) – S (Send for Help) – A (Airway) – B (Breathing) – C (Compressions) – D (Defibrillation). The obstetric management in cases of preeclampsia with severe features is expectant management and delivery (spontaneous or cesarean section).Conclusion: Prompt and appropriate management of cases of preeclampsia with severe features is needed to reduce maternal and fetal morbidity. Management of preeclampsia cases with severe features is expectant management and delivery (spontaneous or cesarean section).Key words: preeclampsia, eclampsia, HELLP syndrome, severe
Nyeri Haid dan Kista Endometriosis pada Remaja
Tujuan: Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk untuk menganalisis tingkat pengetahuan dismenore yaitu dismenore primer dan sekunder dengan memberikan solusi melalui penyuluhan di Kota Bandung.Metode: Kegiatan pertama adalah kunjungan dan wawancara dengan pasien wanita di UPT Puskesmas Garuda Kota Bandung. Seusai acara, kami melakukan angket dan diskusi dengan siswa SMAN 24 Bandung dengan pendekatan konseling, serta membagikan booklet berjudul “mengenal nyeri haid normal” dan tayangan video. Hasil: Sikap responden 86,7% siswa mengalami ketidaknyamanan selama menstruasi: 1-2 hari sebelum dan 1-2 hari selama menstruasi; dan 63,9% siswa ditangani dengan istirahat. Pengetahuan responden setelah diberikan penyuluhan sebanyak 98,5% menjawab benar pengertian dismenore; 100% menjawab tipe dismenore adalah primer dan sekunder; 94% menjawab salah satu pengobatan komplementer saat nyeri haid kompres dengan air hangat; 100% menjawab penyakit yang menyebabkan dismenore adalah endometriosis; 97% menjawab gejala khas endometriosis adalah nyeri haid saat menstruasi.Kesimpulan: Terdapat peningkatan pengetahuan setelah diberikan penyuluhan tentang nyeri haid (dismenore) meningkat, terutama pengetahuan tentang endometriosis dan tipe dismenore primer maupun sekunder, sehingga dapat disimpulkan upaya pemberian penyuluhan sangat penting untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan kesadaran mengenai upaya preventif dalam tata kelola penanganan nyeri haid.Menstrual Pain and Endometriosis Cysts in AdolescentsAbstractObjective: This community service activity aims to analyze the level of knowledge of dysmenorrhea, namely primary and secondary dysmenorrhea by providing solutions through counseling in the city of Bandung. Methods: The first activity was visits and interviews with female patients at UPT Puskesmas Garuda Bandung City. After the event, we conducted a questionnaire and discussion with students of sman 24 bandung with a counseling approach and distributed a booklet entitled “knowing normal menstrual pain” and video shows. Result: The attitude of respondents 86.7% of students experienced discomfort during menstruation: 1-2 days before and 1-2 days during menstruation; and 63.9% of students were treated with rest. Knowledge of respondents after being given counseling as much as 98.5% answered correctly the meaning of dysmenorrhea; 100% answered that the type of dysmenorrhea was primary and secondary; 94% answered one of the complementary treatments when menstrual pain was compressed with warm water; 100% answered that the disease that causes dysmenorrhea is endometriosis; 97% answered that the typical symptom of endometriosis is menstrual pain during menstruation. Conclusions: There is an increase in knowledge after being given counseling about menstrual pain (dysmenorrhea), especially knowledge about endometriosis and the types of primary and secondary dysmenorrhea, so it can be concluded that the effort to provide counseling is very important to increase knowledge and increase awareness about preventive efforts in the management of menstrual pain management.Key words: dysmenorrhea, menstrual pain, endometriosis
Effectiveness of Vitamin D Suplementation in Pregnant Women with Vitamin D Deficiency to Improved Fetal Biometry
Objective: The aim of this study was to determine the effect and effectiveness of vitamin D on fetal biometry.Method: This study was a Quantitative Study of two quasi-experimental groups. The research was conducted in Rupat District, Bengkalis Regency, Riau Province from June 2022 to August 2022. The research sample was pregnant women with vitamin D deficiency who were divided into an intervention group of 20 subjects and a control group of 20 subjects.Results: Examination of vitamin D levels in pregnant women and examination of fetal biometry was carried out. Then given a 1000 IU vitamin D supplement to pregnant women with vitamin D deficiency levels, re-evaluated after 3 months vitamin D levels in pregnant women and re-measured fetal biometry. There were significant differences in Fetal Biometrics between the pre-Intervention and post-Intervention studies in the intervention group with p=0.001. The intervention group also showed that there was an increase in the proportion of Normal Biometrics from 8 subjects before the intervention compared to 13 subjects after 3 months of vitamin D supplementation interventionConclusion: Vitamin D supplementation for 3 months in pregnant women with Vitamin D deficiency is proven to improve fetal health through Fetal Biometry examination.Efektivitas Suplemen Vitamin D dalam Meningkatkan Biometri Janin pada Wanita Hamil dengan Defisiensi Vitamin DAbstrakTujuan: Studi ini bertujuan mengetahui dampak dan efektivitas vitamin D terhadap biometri janin.Metode: Studi kuantitatif ini mengunakan dua grup dengan pendekatan kuasi-eksperimental. Penelitian ini dilaksanakan di Rupat, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau dari Juni 2022 hingga Agustus 2022. Sampel penelitian ini adalah Wanita hamil dengan defisiensi vitamin D yang dibagi menjadi grup intervensi sebanyak 20 orang dan grup kontrol sebanyak 20 orang.Hasil: Dilakukan pengukuran kadar vitamin D pada Wanita hamil dan biometri janin. Pada grup intervensi diberikan suplementasi vitamin D 1000IU dan dievaluasi kembali kadar vitamin D setelah tiga bulan dan dilakukan kembali biometri janin. Terdapat perbedaan signifikan pada biometri janin sebelum dan sesudah intervensi dengan p=0.001. Grup intervensi juga menunjukkan peningkatan proprorsi biometri normal dari 8 orang menjadi 13 orang setelah tiga bulan suplementasi vitamin DKesimpulan: Suplementasi vitamin D selama tiga bulan pada Wanita hamil dengan defisiensi vitamin D terbukti membantu kesehatan janin melalui pemeriksaan biometri janin.Key words: Biometri, Defisiensi Vitamin D, Kehamila
Successful Repair Management for Urinary Bladder Perforation During Myomectomy on Cervical Myoma on Patients with Previous Cesarean Section: A Challenging Case Report
The 20-25% incidence of uterine myoma often experienced by women in childbearing age and 2% of these uterine myomas attach and grow in the uterine cervical area. The chief complain of cervical myom are lumps in the lower abdomen that are getting bigger and pressing on the urinary bladder cause difficulty in urinating and are accompanied by bloody urine, although the amount of menstrual blood is still within reasonable limits. Like uterine myomas, cervical myomas are not fused with the myometrial lining but are covered by thin connective tissue on the surface.The procedure of cervical myoma based on ACOG (American College of Obstetrics and Gynecology) is hysterectomy if the patient no longer wants to get pregnant, or myomectomy if the patient still wants to have children. Both of these actions have a very high risk in which vascularization in the pelvic area will be very complex, pressure on cervical myoma will have a high risk of injuring the urinary bladder mucosa and when setting aside the lower segment of the uterus there is a risk of injury. We present a 38-year-old woman with 30x 26 x 22 cm giant cervical myoma and secondary infertility that was treated with challenging laparotomi myomectomy in colaboration with urologist to preserve fertility. There was a tear in the upper part of the urinary bladder which was elongated with irregular edges measuring 12 x 5 cm after enucleation cervical myoma. The tear was repaired immediately and there are no complications in the form of vesico-vaginal fistulas or vesico-cervical postoperatively. Penanganan Komplikasi Perforasi Vesika Urinaria saat tindakan Miomektomi pada Mioma Servikal pada Pasien Bekas Seksio Sesaria: Sebuah Laporan KasusAbstrak20-25% insiden neoplasma jinak ini sering dialami oleh wanita terjadi pada wanita usia subur dan 2% nya melekat dan tumbuh pada area servik uteri. Meskipun jumlah darah menstruasi masih dalam batas wajar, tapi keluhan dari mioma uteri yang melekat pada servik adalah benjolan pada perut bawah yang semakin membesar dan menekan pada vesika urinaria sehingga menyebabkan kesulitan berkemih. Menurut American Collage of Obstetric and Gynecology tindakan miomektomi apabila pasien masih ingin mempunyai keturunan. Meskipun resiko yang sangat tinggi karena vaskularisasi area pelvis sangat kompleks, tindakan inijuga beresiko mencederai mukosa vesika urinaria dan resiko cedera pada ureter tunnel. Tulisan ini merupakan kasus seorang wanita berusia 38 tahun dengan mioma serviks permagna berukuran 30 x 26 x 22 cm dengan infertilitas sekunder yang dilakukan miomektomi secara laparotomi bersama ahli urologi. Terdapat perforasi pada vesica urinaria bagian atas memanjang dengan tepi tidak beraturan berukuran 12 x 5 cm setelah tindakan enukleasi mioma serviks. Robekan tersebut dapat diperbaiki dan tidak ada komplikasi berupa fistula vesiko- vagina atau vesiko-serviks pasca operasi.Kata kunci: Perforasi Kandung Kemih, Miomektomi, Mioma Serviks, Infertilitas Sekunde
Manajemen Jangka Panjang Endometriosis: Dapatkah Progestin Menjadi Andalan?
Latar belakang: pada tahun 2014 The Practice Committee of The American Society of Reproductive Medicine menyebutkan bahwa endometriosis merupakan penyakit kronis yang memerlukan penanganan jangka panjang dengan titik berat pada terapi medikamentosa. Progestin merupakan modalitas terapi yang berpotensi digunakan dalam jangka panjang. Dienogest merupakan progestin turunan 19-nortestosteron dengan pengaruh pada endometrium dan antiinflamasi yang kuat merupakan pilihan untuk terapi jangka panjang endometriosis.Metode: telaah pustaka.Hasil: dalam manajemen endometriosis, progestin digunakan dalam terapi jangka panjang serta untuk mencegah rekurensi. Penggunaan dienogest jangka panjang menurunkan skor visual analogue scale secara bermakna dari beberapa penelitian. Analisis efektivitas-biaya menunjukkan profil penghematan biaya yang lebih baik pada dienogest dibandingkan goserelin. Rekurensi endometriosis pasca operasi menurun secara bermakna pada wanita yang mendapat terapi dienogest. Dalam suatu network meta-analysis diketahui bahwa kombinasi agonis GnRH + dienogest diharapkan menjadi pilihan terbaik pencegahan rekurensi. Dari dua penelitian dengan subjek wanita Asia, efek samping dienogest terjadi pada sekitar 13,27% - 31,5% subjek dan umumnya bersifat ringan. Perubahan pola perdarahan uterus merupakan hal yang sering disampaikan subjek. Kepadatan mineral tulang mengalami penurunan pada pemberian dienogest namun mengingat pentingnya pencegahan rekurensi dan menghindari operasi ulang, keputusan penggunaan dienogest sebaiknya tidak hanya didasarkan pada hal ini saja. Simpulan: data menunjukkan bahwa dalam konsep terapi jangka panjang, progestin merupakan modalitas yang amat penting. Dienogest merupakan salah satu pilihan untuk manajemen jangka panjang endometriosis. Pengawasan penggunaan progestin harus selalu diperhatikan untuk mengupayakan diperolehnya hasil yang optimal.The Long Term Management Of Endometriosis: are Progestins the Reliable Choice?AbstractBackground: in 2014, The Practice Committee of The American Society of Reproductive Medicine stated that endometriosis should be viewed as a chronic disease that requires a lifelong management, with focus on progestins. Dienogest, a 19-nortestosterone derivative, is a progestin compound with strong endometrium effects and antiinflammatory property that may become an option in long term management of endometriosis.Method: literature reviewResults: progestins might be applied in both long term management and prevention of recurrence of endometriosis. The significant reduction of visual analogue scale score were found in several study. The cost-effectiveness analysis reveals better cost-saving profile of dienogest when compared with goserelin. Women who received postoperative dienogest treatment have reduced incidence of recurrence. In one network meta-analysis study, the GnRH agonist + dienogest combination revealed the best option for preventing recurrence. The adverse effects of dienogest from 2 Asian studies range from 13.27% - 31.5%, mostly mild cases. Changes in uterine bleeding pattern were the most common reported side effects. The bone mineral density decreased after dienogest treatment, however, considering the benefit of dienogest for preventing recurrence and repeated operation, the use of dienogest should not be solely based on bone mineral density changes.Conclusion: progestin is the important mainstay of long term therapi in endometriosis. Dienogest is an option in long term management of endometriosis. However, monitoring of their usage should be an important aspects to ensure optimal outcomes are achieved.Key words: bleeding pattern, bone mineral density, dienogest, endometriosis, long term management, progestins