OBGYNIA - Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
Not a member yet
371 research outputs found
Sort by
Faktor-Faktor Risiko dan Status Kecemasan Ibu dengan Kehamilan Tidak Diinginkan
Tujuan: Untuk mengetahui hubungan faktor-faktor risiko dan status kecemasan pada ibu dengan kehamilan tidak diinginkan.Metode: Metode kasus kontrol terhadap 62 sampel perempuan dengan kehamilan tidak diinginkan di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo, RSKDIA Fatimah, RSIA Sitti Khadijah 1, RSKDIA Pertiwi, RS Syekh Yusuf dan RSUD Lapalaloi periode Januari 2022–Juni 2022. Data diperoleh menggunakan kuesioner dan status kecemasan dihitung berdasarkan Hamilton Anxiety Rating Scale.Hasil: Kehamilan tidak diinginkan dihubungkan dengan paritas (16.500; CI 95%=3.675–74.081; p=0,001), penghasilan (OR 3.818; CI 95% = 1.398–10.429; p=0.012), unmet needs (OR 4.444; CI 95% = 2.087–9.464; p=0.001) dan penggunaan kontrasepsi (OR 2.722; CI 95%=1.309–5.659; p=0.011).Kesimpulan: Faktor risiko multiparitas, penghasilan, status unmet need, dan penggunaan kontrasepsi berhubungan dengan tingkat kecemasan pada ibu dengan kehamilan tidak diinginkan.Risk Factors and Anxiety Status in Women with Unwanted PregnancyAbstract Objective: To determine the relationship between risk factors and anxiety status in women with unwanted pregnancies.Method: Case control method of 62 samples of women with unwanted pregnancies at Dr. Wahidin Sudirohusodo, RSKDIA Fatimah, RSIA Sitti Khadijah 1, RSKDIA Pertiwi, Syekh Yusuf Hospital and Lapalaloi Hospital for the period January 2022 - June 2022. Data were obtained using a questionnaire and anxiety status was calculated based on the Hamilton Anxiety Rating Scale.Results: Unwanted pregnancy was associated with parity (16,500; 95% CI = 3,675–74,081; p=0.001), income (OR 3,818; 95% CI = 1,398–10,429; p=0,012), unmet needs (OR 4,444; 95% CI = 2.087–9.464; p=0.001) and contraceptive use (OR 2.722; 95% CI=1.309–5.659; p=0.011).Conclusion: Multiparity risk factors, income, unmet need status and contraceptive use are associated with the level of anxiety in mothers with unwanted pregnancies.Key words: Unwanted Pregnancy, Anxiety, Risk Factors, Hamilton Anxiety Rating Scal
Effects of Combined Laparoscopic Cystectomy and Leuprolide Acetate Therapy on Anti-Mullerian Hormone Level and Antral Follicle Count Profile in Endometriosis
Objective: This study examines the effectiveness of combined laparoscopic cystectomy and leuprolide acetate therapy on AMH level and AFC profile in endometriosis.Method: This study is a randomized controlled clinical trial with open label form. The subjects were divided into control and therapy groups, with the therapy group receiving leuprolide acetate injection following laparoscopic cystectomy. In both groups, the AMH levels and AFC were examined prior to the surgery and six weeks after before they were compared.Results: There were significant pre-post differences of AMH levels(p = 0.000) and AFC (p = 0.000) in the therapy group but not in the control group. In the therapy group, the mean increases of AMH level and AFC were 0.94 (95% CI: 0.63-1.25) and 9.53 (95% CI: 6.83-12.24), respectively. Linear regression model found that AFC level prior to intervention was a significant predictor of endometriosis ASRM grade (p = 0.001) with an R-value of 0.633, suggesting strong correlation.Conclusion: The combined therapy of laparoscopic cystectomy and leuprolide acetate injection for endometriosis provided better outcome concerning ovarian reserve, as opposed to the therapy with laparoscopic cystectomy alone. Peran Kombinasi Laparoskopi Kistektomi dan Terapi Leuprolide Asetat Terhadap Kadar Hormon Anti-Mullerian dan Profil Jumlah Folikel Antral pada Penderita EndometriosisAbstrakTujuan:Studi ini bertujuan menguji keefektifan kombinasi kistektomi laparoskopi dan terapi leuprolide acetate terhadap kadar AMH dan profil AFC pasien endometriosis.Metode: Penelitian ini merupakan uji klinis terkontrol acak dengan bentuk open label. Subjek dibagi menjadi kelompok kontrol dan terapi, dengan kelompok terapi menerima injeksi leuprolide acetate setelah kistektomi laparoskopi. Pada kedua kelompok, kadar AMH dan AFC diperiksa sebelum pembedahan dan enam minggu setelahnya sebelum kemudian dibandingkan.Hasil: Terdapat perbedaan bermakna kadar AMH (p = 0,000) dan AFC (p = 0,000) sebelum dan sesudah pada kelompok terapi tetapi tidak pada kelompok kontrol. Pada kelompok terapi, rata-rata peningkatan kadar AMH dan AFC adalah masing-masing 0,94 (95% CI: 0,63-1,25) dan 9,53 (95% CI: 6,83-12,24). Model regresi linier menemukan bahwa kadar AFC sebelum intervensi merupakan prediktor signifikan derajat endometriosis sesuai ASRM (p = 0,001) dengan nilai R sebesar 0,633 yang menunjukkan korelasi yang kuat.Kesimpulan: Terapi kombinasi kistektomi laparoskopi dan injeksi leuprolide acetate untuk endometriosis memberikan hasil yang lebih baik terhadap cadangan ovarium, dibandingkan dengan terapi dengan kistektomi laparoskopi saja.Kata kunci: endometriosis; leuprolide acetate; kistektomi; hormon anti-mullerian; jumlah folikel antra
The Role of Vitamin D and Vitamin D Receptor in Placenta Accreta Spectrum: A Literature Review
Objective: This study aims to review the role of vitamin D and vitamin D receptor in Placenta Accreta Spectrum Disorder (PASD)Method: This review used several databases, namely Google Scholar, Science Direct, Elsevier, Medline, PubMed, Proquest, dan Wiley Online Library to search original and review articles in English about placenta accreta spectrum, placenta accreta, vitamin D, and vitamin D receptor in the last 10 years. Other reference sources used were guidelines and textbooks.Results: A total of four articles were included in this review.Discussion: Placenta accreta spectrum disorder is becoming more common around the world, owing to the rise in cesarean deliveries. It is linked to several risk factors, including a lack of vitamin D. Vitamin D and its receptor stimulate endometrial decidualization, which aids implantation. Vitamin D receptors in human placental trophoblasts create and respond to 1,25(OH)2D3, which promotes the conversion of endometrial cells to decidual cells. Women with PASD are mostly suffering from vitamin D deficiency. Conclusion: Vitamin D levels may influence trophoblast invasion in PASD and can be a potential diagnostic marker.Peran Vitamin D dan Reseptor Vitamin D dalam Spektrum Plasenta Akreta: Suatu Tinjauan PustakaAbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan untuk meninjau peran vitamin D dan reseptor vitamin D dalam Spektrum Plasenta Akreta (SPA)Metode: Tinjauan pustaka ini menggunakan beberapa sumber data yaitu Google Scholar, Science Direct, Elsevier, Medline, PubMed, Proquest, dan Wiley Online Library untuk mencari artikel penelitian dan tinjauan pustaka dalam Bahasa Inggris mengenai plasenta akreta, vitamin D, dan reseptor vitamin D dalam 10 tahun terakhir. Sumber referensi lain yang digunakan adalah pedoman dan buku teks.Hasil: Sebanyak empat artikel dimasukkan dalam ulasan ini.Diskusi: Spektrum Plasenta Akreta terjadi lebih sering di seluruh dunia karena meningkatnya persalinan sesar. Plasenta akreta terkait dengan beberapa faktor risiko termasuk kekurangan vitamin D. Vitamin D dan reseptornya merangsang desidualisasi endometrium dan berperan dalam implantasi. Reseptor vitamin D pada trofoblas plasenta membuat dan merespons 1,25(OH)2D3 yang mendorong konversi sel endometrium menjadi sel desidua. Mayoritas wanita dengan SPA mengalami kekurangan vitamin D.Kesimpulan: Kadar vitamin D dapat mempengaruhi invasi trofoblas pada SPA dan berpotensi menjadi penanda diagnostik.Kata kunci: spektrum plasenta akreta, reseptor vitamin D, vitamin
Pengaruh Masa Pandemi Covid-19 terhadap Operasi Elektif Obstetri dan Ginekologi di RSUP Dr. Hasan Sadikin Tahun 2020-2021
Tujuan: Pandemi COVID-19 memengaruhi semua bidang termasuk operasi karena sekitar 19% kematian akibat COVID-19 berhubungan dengan operasi elektif. Studi ini bertujuan untuk melihat pengaruh pandemi COVID-19 terhadap operasi elektif obstetri dan ginekologi (Obgin) di RSUP Dr. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, Indonesia.Metode: Studi ini menyajikan data retrospektif operasi elektif Obgin di RSHS selama dua tahun (Januari 2020 - Desember 2021) kemudian dilakukan analisis. Hasil: Angka pembatalan operasi tahun 2020 adalah 20 (3,6%) dari 561 jadwal operasi: 7 (1,3%) akibat COVID-19 dan 13 (2,3%) penyebab lainnya. Pembatalan operasi tahun 2021 sebanyak 48 (6,5%) dari 737 jadwal operasi: 35 (4,8%) akibat COVID-19 dan 13 (1,7%) penyebab lainnya. Penggunaan ruang rawat intensif (ICU) tahun 2020 (14/541) memiliki angka lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2021 (7/689). Tidak ada penjadwalan operasi pada bulan April tahun 2020. Jumlah pembatalan operasi terbanyak terjadi pada periode Mei-Agustus 2021. Pasien yang terdiagnosis COVID-19 dengan komorbid cenderung memiliki nilai CT (cycle threshold) value lebih rendah dan penjadwalan ulang operasi lebih lama. Mortalitas terjadi pada pasien komorbid.Kesimpulan: Jumlah operasi elektif Obgin di RSHS tahun 2021 lebih banyak dibandingkan tahun 2020 meskipun lebih banyak jumlah pembatalan operasi akibat COVID-19. Penggunaan ruang intensif pasca operasi menurun pada tahun 2021. Rekomendasi prioritas operasi dibagi menjadi empat kelompok utama. Edukasi dan konseling mengenai risiko penundaan operasi dibandingkan risiko peningkatan mortalitas dan morbiditas perioperatif akibat COVID-19 perlu disampaikan. Impact Of Covid-19 Pandemic on the Implementation of Elective Obstetrics And Gynecologic Surgery at Dr. Hasan Sadikin Hospital in 2020-2021AbstractObjective: The COVID-19 pandemic affects all fields, including surgery, as 19% of COVID-19 deaths correlate with elective surgery. This study aims to examine the effect of COVID-19 pandemic on obstetrics and gynecology elective surgery at Dr. Hasan Sadikin Hospital, Bandung, Indonesia.Methods: This study presented retrospective data on obstetrics and gynecologic surgery at Dr. Hasan Sadikin Hospital for two years (January 2020 - December 2021).Result: The number of surgery cancellations in 2020 was 20 (3.6%) out of 561 scheduled surgeries: 7 (1.3%) due to Covid-19 and 13 (2.3%) other causes. The surgery cancellations in 2021 was 48 (6.5%) of the 737 scheduled surgeries: 35 (4.8%) due to COVID-19 and 13 (1.7%) other causes. Use of intensive care rooms (ICU) in 2020 (14/541) was lower compared to 2021 (7/689). There was no surgery scheduled for April 2020. The highest number of surgery cancellations occurred in the period of May-August 2021. Patients diagnosed with COVID-19 and comorbidities tend to have lower CT (cycle threshold) values and longer surgery rescheduling. Mortality occurs in patients with comorbidities.Conclusion: The number of obstetrics and gynecologic surgery at Dr. Hasan Sadikin Hospital in 2021 was higher than in 2020, although the number of surgery cancellations due to COVID-19 was higher. Use of ICU after elective surgery decreased in 2021. Recommendations for elective surgeries priority during the COVID-19 pandemic were divided into four groups. Education and counseling regarding the risk of surgery delays compared to the risk of increased perioperative mortality and morbidity due to COVID-19 needed to be delivered.Key words: COVID-19, elective surgery, obstetrics, gynecolog
Maternal Characteristics, Maternal Outcomes, and Perinatal Outcomes on COVID-19 Maternal Patients
Objective: To determine maternal and perinatal outcomes on COVID-19 pregnancy at the Central General Hospital (RSUP) dr. Hasan Sadikin Bandung. Methods: This is a descriptive study with a cross-sectional approach using secondary data from the medical records between January-June 2021. The research subjects were all maternal patients diagnosed with COVID-19 and grouped based on their sociodemographic and clinical characteristics. Result: Around 205 subjects were recruited. The results showed that there was a 2.1-fold increase in cases from May to June. The majority of the patients were asymptomatic (78.91%) with chest X-ray results showing no signs of pneumonia (87.75%). Most patients had preterm delivery (31.29%) with live birth (77.55%). After COVID-19 treatment, patients who were declared to be able to self-isolate were around 65.31%, but around 6.12% passed away.Conclusion: The majority of COVID-19 obstetric patients are pregnant women aged 20-35 years with primiparity, term gestational age, high school educated, housewives and having asymptomatic COVID-19 cases without comorbidities. Maternal clinical characteristics of COVID-19 cases mostly showed no signs of pneumonia on chest X-ray, had term babies, mostly were live births, and most can safely self-isolate.Karakteristik dan Luaran Maternal, serta Luaran Perinatal Ibu Hamil dengan Covid-19AbstrakTujuan: Mengetahui luaran maternal dan perinatal kehamilan dengan COVID-19 di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr. Hasan Sadikin Bandung. Metode: Penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan potong lintang ini menggunakan data sekunder dari rekam medis subjek penelitian selama pengamatan pada Januari-Juni 2021. Subjek penelitian adalah seluruh pasien maternal yang terdiagnosis COVID-19 dan dikelompokkan berdasarkan karakteristik klinis.Hasil: Selama periode pengamatan didapatkan 205 subjek penelitian. Hasil pengamatan menunjukkan terjadi kenaikan kasus pada bulan Mei ke Juni sebanyak 2,1 kali. Karakteristik klinis pasien menunjukkan mayoritas asimtomatik (78,91%) dengan gambaran klinis rontgen thoraks menunjukkan gambaran tanpa pneumonia (87,75%). Subjek penelitian selama perawatan paling banyak mengalami persalinan prematurus (31,29%) dengan luaran perinatal lahir hidup (77,55%). Setelah perawatan COVID-19, subjek yang dinyatakan dapat isolasi mandiri sebanyak 65,31%, namun 6,12% pasien meninggal dunia.Kesimpulan: Pasien obstetrik pada penelitian ini mayoritas adalah wanita hamil usia 20-35 tahun dan memiliki derajat COVID-19 asimtomatik tanpa komorbid. Mayoritas subjek memiliki gambaran rontgen thoraks tanpa pneumonia, menjalani proses persalinan prematurus, memiliki luaran perinatal lahir hidup, dan mayoritas menjalani isolasi mandiri.Kata kunci: COVID-19, karakteristik, materna
Pencegahan Abortus pada Awal Kehamilan
Abortus merupakan suatu kejadian terminasi kehamilan dengan usia kehamilan <20 minggu dan berat janin <500 g. Angka kejadian abortus disebutkan sekitar 15% dari seluruh kehamilan. Terdapat beberapa faktor risiko abortus yaitu faktor risiko yang dapat dimodifikasi dan tidak dapat dimodifikasi. Beberapa faktor risiko yang dapat dimodifikasi yaitu faktor nutrisi, konsumsi kafein, alkohol, kebiasaan merokok, infeksi, paparan radiasi, beban kerja, dan pengaruh obat-obatan. Beberapa faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi, yaitu genetik, kelainan kongenital, dan lain-lain. Dengan mengetahui faktor risiko tersebut, dokter dapat melakukan pencegahan dan intervensi yang sesuai dengan kondisi masing-masing pasien yang mengalami abortus. Metode yang digunakan adalah tinjauan pustaka dengan menggunakan beberapa database seperti Pubmed, Wiley Online Library, dan ScienceDirect dari 10 tahun terakhir.Prevention of Miscarriage in Early PregnancyAbstractMiscarriage is an event of termination of pregnancy with < 20 weeks of gestation and fetal weight < 500 grams. The incidence of miscarriage is around 15% of all pregnancies. There are several risk factors for miscarriage, namely modifiable and non-modifiable risk factors. Some modifiable risk factors are nutritional factors, consumption of caffeine, alcohol, smoking habit, infection, radiation exposure, workload, and the influence of drugs. Several risk factors that can not be modified, namely genetics, congenital abnormalities, and others. By knowing these risk factors, doctors can carry out prevention and intervention according to the conditions of each patient who undergoes miscarriage. The method used is a literature review using several databases such as Pubmed, Wiley Online Library, and ScienceDirect from the last 10 years.Key words: miscarriage, prevention, risk factors, pregnancy.Abortus merupakan suatu kejadian terminasi kehamilan dengan usia kehamilan <20 minggu dan berat janin <500 g. Angka kejadian abortus disebutkan sekitar 15% dari seluruh kehamilan. Terdapat beberapa faktor risiko abortus yaitu faktor risiko yang dapat dimodifikasi dan tidak dapat dimodifikasi. Beberapa faktor risiko yang dapat dimodifikasi yaitu faktor nutrisi, konsumsi kafein, alkohol, kebiasaan merokok, infeksi, paparan radiasi, beban kerja, dan pengaruh obat-obatan. Beberapa faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi, yaitu genetik, kelainan kongenital, dan lain-lain. Dengan mengetahui faktor risiko tersebut, dokter dapat melakukan pencegahan dan intervensi yang sesuai dengan kondisi masing-masing pasien yang mengalami abortus. Metode yang digunakan adalah tinjauan pustaka dengan menggunakan beberapa database seperti Pubmed, Wiley Online Library, dan ScienceDirect dari 10 tahun terakhir.Prevention of Miscarriage in Early PregnancyAbstractMiscarriage is an event of termination of pregnancy with <20 weeks of gestation and fetal weight <500 grams. The incidence of miscarriage is around 15% of all pregnancies. There are several risk factors for miscarriage, namely modifiable and non-modifiable risk factors. Some modifiable risk factors are nutritional factors, consumption of caffeine, alcohol, smoking habit, infection, radiation exposure, workload, and the influence of drugs. Several risk factors that can not be modified, namely genetics, congenital abnormalities, and others. By knowing these risk factors, doctors can carry out prevention and intervention according to the conditions of each patient who undergoes miscarriage. The method used is a literature review using several databases such as Pubmed, Wiley Online Library, and ScienceDirect from the last 10 years.Key words: miscarriage, prevention, risk factors, pregnancy
The Efficacy of Emergency Contraception to Prevent Pregnancy: A Systematic Review and Meta-Analysis
Objective: A systematic review and meta-analysis to determine the effectiveness of various emergency contraceptive methods to prevent pregnancy.Method: This study followed the Preferred Reporting Items for Systematic Review and Meta-analyses (PRISMA) protocol. Data search used four databases, namely Pubmed, Google Scholar, Science Direct, and Wiley. Data that met the inclusion criteria were subjected to meta-analysis to analyze the combined proportion of data using MedCalc 20.012 software, calculation of a percentage of 95% Confidence Intervals (CI) and P<0.05, and heterogeneity test between studies.Results: There were 6 journals that met the criteria. Some of the contraceptives used as emergency contraception are: the copper IUD (CuIUD) with effectiveness reaching 100% in preventing pregnancy, levonorgestrel (LNG) 52-mg IUS with effectiveness reaching 99.95%, the levonorgestrel (LNG) 52-mg IUD with effectiveness reaching 99.7%, mifepristone 10 mg with effectiveness reaching 99.3%, mifepristone 5 mg with effectiveness reaching 98.8%, ulipristal acetate (UPA) 30 mg in pre-ovulatory women with effectiveness reaching 98.6%, levonorgestrel (LNG) 0.75 mg with effectiveness reaching 98.3%, yuzpe regimen with effectiveness reaching 98.2%, and ulipristal acetate (UPA) 30 mg in post-ovulatory women with effectiveness reaching 97.9%. The results of the proportion meta-analysis showed the proportion of pregnancies after the use of emergency contraceptive, which was 0.231% (95% CI 0.116–0.384) from 4,927 samples in 6 studies, and the results of the heterogeneity test between studies were found to be not meaningful (I2 = 0%). Conclusion: The emergency contraception used to prevent pregnancy is very effective with the results of a meta-analysis of the proportion of 0.231% (95% CI 0.116–0.384). This suggests that the percentage of pregnancies after emergency contraceptive use is quite low.Efektivitas Kontrasepsi Darurat untuk Mencegah Kehamilan: Tinjauan Sistematis dan Meta-AnalisisAbstrakTujuan: Tinjauan sistematis dan meta-analisis untuk mengetahui efektivitas berbagai metode kontrasepsi darurat untuk mencegah kehamilan.Metode: Penelitian ini mengikuti protokol Preferred Reporting Items for Systematic Review and Meta-analyses (PRISMA). Pencarian data menggunakan empat database yaitu Pubmed, Google Scholar, Science Direct, dan Wiley. Data yang memenuhi kriteria inklusi dilakukan meta analisis dengan analisis proporsi gabungan data menggunakan software MeldCalc 20.012, dilakukan perhitungan persentase 95% CI dan P<0.05, serta dilakukan uji heterogenitas antar studi.Hasil: Terdapat 6 jurnal yang memenuhi kriteria. Beberapa alat kontrasepsi yang digunakan sebagai kontrasepsi darurat yaitu: AKDR tembaga (CuIUD) dengan efektivitas mencapai 100% dalam mencegah kehamilan, levonorgestrel (LNG) 52-mg IUS dengan efektivitas mencapai 99,95%, levonorgestrel (LNG) 52-mg IUD dengan efektivitas mencapai 99,7%, mifepristone 10 mg dengan efektivitas mencapai 99,3%, mifepristone 5 mg dengan efektivitas mencapai 98,8%, ulipristal asetat (UPA) 30 mg pada wanita pre-ovulasi dengan efektivitas mencapai 98,6%, levonorgestrel (LNG) 0,75 mg dengan efektivitas mencapai 98,3%, yuzpe regimen dengan efektivitas mencapai 98,2%, dan ulipristal asetat (UPA) 30 mg pada wanita post-ovulasi dengan efektivitas mencapai 97,9%. Hasil meta analisis proporsi menunjukkan proporsi kehamilan setelah penggunaan kontrasepsi darurat yaitu 0,231% (95% CI 0,116–0,384) dari 4.927 sampel, serta hasil uji heterogenitas antar studi ditemukan tidak bermakna (I2 = 0%).Kesimpulan: Penggunaan kontrasepsi darurat sangat efektif dalam mencegah kehamilan dengan hasil meta analisis proporsi yaitu 0,231% (95%CI 0,116–0,384). Hasil tersebut menunjukkan bahwa persentase kehamilan setelah penggunaan kontrasepsi darurat cukup rendah.Kata kunci: Efektivitas, Kontrasepsi Darura
Hubungan Ekspresi Cyclooxygenase-2 (Cox-2) dengan Invasi Limfovaskuler, Infiltrasi Sel Radang dan Stadium Kanker Serviks
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan Ekspresi COX-2 dengan Lymphovascular Space Invasion (LVSI), Infiltrasi sel radang dan stadium kanker serviks. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional di Rumah Sakit Pendidikan Tinggi Negeri Universitas Hasanuddin. Pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling dengan data pemeriksaan kadar COX-2 pada 50 hasil biopsi dan hasil operasi pada kasus kasus kanker serviks melalui pemeriksaan immunohistokimia. Data dianalisis dengan uji chi-square dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil: Hasil penelitian diperoleh ada hubungan signifikan antara eskpresi COX-2 dan stadium kanker serviks dengan nilai p0,05. Ekspresi COX-2 juga tidak berhubungan signifikan dengan paritas, pendidikan, pekerjaan, penggunaan kontrasepsi oral kombinasi ≥5 tahun, mitra seksual, dan riwayat merokok dengan nilai p>0,05. Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi stadium kanker serviks maka semakin tinggi ekspresi COX-2, sehingga pemeriksaan ekspresi COX-2 dapat dijadikan sebagai pertanda keganasan pada serviks, selain itu ditemukan LVSI dan infiltrasi sel radang tidak memiliki pengaruh terhadap ekspresi COX-2.The Correlation Cyclooxygenase-2 (Cox-2) Expression and Lymphovascular Invasion, Inflammatory Cell Infiltration and Cervical Cancer StageAbstractObjective: This study is objected to find out the correlation between COX-2 expression and Lymphovascular Space Invasion, inflammatory cell inflation and cervical cancer stage. Method: This study uses cross sectional design at educational hospital of Hasanuddin University. COX-2 level examination was performed on 50 biopsy and surgery result on cervical cancer cases through immunohistochemistry. Data were analyzed using chi-square test with significant level of 95%. Results: Study result indicated that significant correlation is found between COX-2 expression and cervical cancer stage with p value 0.05. No correlation also is found between COX-2 expression and parity, education, profession, combination oral contraception uses 5 years, sexual partner and smoking history with p value > 0.05. Conclusion: Based on our results it can be concluded that the higher the stage of cervical cancer in line with the expression of COX-2 and examination of COX-2 expression can be used as a marker of cervical malignancy, besides that LVSI and inflammatory cell infiltration not affected on COX-2 expression.Key words: Cyclooxygenase-2, Cervical Cancer, Stage
Perbandingan Kadar Reactive Oxygen Species (ROS) sebagai Penanda Stres Oksidatif pada Ibu Hamil Dengan dan Tanpa Vaginosis Bakterial
Tujuan: Menganalisis perbandingan antara kadar reactive oxygen species pada ibu hamil dengan dan tanpa vaginosis bakterial.Metode: Penelitian cross sectional dilakukan pada ibu hamil yang datang berobat ke Poliklinik RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo, Rumah Sakit jejaring serta Puskesmas di Makassar, Indonesia, pada Juli 2021 sampai Juli 2022. Pengambilan sampel dilakukan dengan consecutive sampling. Subjek penelitian dengan dan tanpa vaginosis bakterial dikelompokkan berdasarkan hasil dari kriteria Amsel kemudian kadar reactive oxygen species diukur dengan ROS ELISA Kit. Data dianalisis dengan uji chi-square, uji Mann-Whitney dan uji Kruskal Wallis.Hasil: Diperoleh 85 subyek penelitian yang terdiri dari 41 ibu hamil dengan vaginosis bakterial positif dan 44 ibu hamil dengan vaginosis bakterial negatif. Ibu hamil dengan vaginosis bakterial positif mempunyai kadar reactive oxygen species lebih rendah dibandingkan ibu hamil dengan vaginosis bakterial negatif (p=0.001*). Faktor lain yang berhubungan signifikan dengan kadar reactive oxygen species adalah lama keputihan >1 bulan. Umur, paritas, status gizi, diet fast food dan usia kehamilan tidak berhubungan signifikan dengan kadar reactive oxygen species (p>0,05).Kesimpulan: Kadar reactive oxygen species pada ibu hamil dengan vaginosis bakterial lebih rendah dari pada ibu hamil tanpa vaginosis bakterial. Diperlukan studi lanjut dengan skala penelitian yang lebih besar dengan lebih mengendalikan faktor-faktor yang dapat memengaruhi bias penelitian serta penelitian lebih lanjut mengenai kadar ROS dengan pendekatan sampel cairan vaginaComparison of Reactive Oxygen Species (ROS) Levels as Marker Of Oxidative Stress in Pregnant Women With and Without Bacterial VaginosisAbstractObjective: To analyze the comparison between levels of reactive oxygen species in pregnant women with and without bacterial vaginosis. Method: This study used a cross-sectional method that was conducted on pregnant women who came for treatment at Dr. Wahidin Sudirohusodo Hospital Polyclinic, a network hospital and public health center in Makassar, Indonesia, in July 2021-July 2022. Sampling was carried out using consecutive sampling. Research subjects with and without bacterial vaginosis were grouped based on the results of Amsel criteria and then ROS levels were measured by ROS ELISA kit. Data were analyzed by chi-square test, Mann-Whitney test, and Kruskal Wallis test. Results: There were 85 research subjects consisting of 41 pregnant women with positive bacterial vaginosis and 44 pregnant women with negative bacterial vaginosis. Pregnant women with positive bacterial vaginosis had lower levels of reactive oxygen species than pregnant women with negative bacterial vaginosis (p=0.001*). Another factor significantly related to reactive oxygen species levels is vaginal discharge for > 1 month. Age, parity, nutritional status, fast food diet, and gestational age were not significantly related to levels of reactive oxygen species (p>0.05).Conclusion: The level of reactive oxygen species in pregnant women with bacterial vaginosis is lower than in pregnant women without bacterial vaginosis. Further studies are needed with a larger research scale with better control over factors that can influence research bias and further research on ROS levels with a vaginal fluid sample approach.Key words: bacterial vaginosis, pregnant women, reactive oxygen specie