OBGYNIA - Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
Not a member yet
371 research outputs found
Sort by
Rare Case: Tetra-Amelia Syndrome
Introduction: Congenital abnormalities are anomalies that become a fear for a family, when a mother experiences pregnancy. Some abnormalities are temporary and can be corrected, while some are permanent and cannot be corrected, so screening at antenatal time is very important.Objective: To explain and analyze a rare case of Tetra-amelia syndrome and how to diagnose it.Case: A 32-year-old woman with a 32-week-old G3P0A2 pregnancy visited the maternal-fetal clinic. According to ultrasound data, a single fetus with a gestational age of 31-32 weeks and a fetal weight of 1837 grams is in breech presentation. Only the proximal components of the arm and leg are formed, leaving the radius bones, ulna, tibia, and fibula unformed. The femur has a length that corresponds to 16 weeks, while the humerus has a length that corresponds to 20 weeks. These findings also revealed a discrepancy in pregnancy age. A tetra-amelia abnormality was discovered at the end of the ultrasound scan. Caesarean section performed on August 6, 2021, at the age of 39 weeks, a baby girl has been born baby girl a baby girl weighing 2300 grams, a body length of 31 cm, with mild asphyxia.Conclusion: During antenatal care, ultrasound on the unidentified distal part of the entire extremity can detect Tetra-amelia syndrome.Kasus Langka: Sindrom Tetra-ameliaAbstrak Pendahuluan: Kelainan bawaan adalah anomali yang menjadi trauma bagi keluarga, ketika seorang ibu mengalami kehamilan. Beberapa kelainan bersifat sementara dan dapat diobati, sementara beberapa bersifat permanen dan tidak dapat diperbaiki sehingga skrining pada waktu antenatal sangat penting.Tujuan: Artikel ini untuk menjelaskan dan menganalisis kasus langka sindrom Tetra-amelia dan cara mendiagnosisnya.Kasus: Seorang wanita berusia 32 tahun dengan kehamilan G3P0A2 berusia 32 minggu mengunjungi klinik fetomaternal. Hasil pemeriksaan ultrasonografi menunjukan janin tunggal dengan usia kehamilan 31 - 32 minggu dan berat janin 1837 gram dalam letak sungsang. Hanya komponen proksimal lengan dan kaki yang terbentuk, sedangkan tulang jari-jari, ulna, tibia, dan fibula tidak terbentuk. Femur memiliki panjang yang sesuai dengan 16 minggu, sedangkan humerus memiliki panjang yang sesuai dengan 20 minggu. Kelainan tetra-amelia dapat dideteksi dengan pemindaian ultrasonografi. Pada tanggal 6 Agustus 2021 presentasi sungsang, dilakukan operasi caesar, lahir bayi perempuan pada usia 39 minggu, berat 2300 gram, panjang 31 cm, disertai asfiksia ringan.Kesimpulan: Pemeriksaan ultrasonografi pada perawatan antenatal dapat mendeteksi sindrom Tetra-amelia, bila bagian distal ekstremitas tidak teridentifikasi.Kata kunci:Sindrom Tetra-amelia, Ultrasonografi, Kelainan Kongenita
Placenta Senescence and the Genesis of Preeclampsia: Is There Any Potential Role? – A Review
Introduction: Preeclampsia is a hypertensive disorder of pregnancy and is responsible for around 800 maternal deaths. The etiologies of preeclampsia remain unidentified, although the premature senescence of the placenta is a possible cause. To date, various markers such as oxidative stress and mitochondrial dysfunction have been identified to be related to placental aging.Method: This study uses a narrative review approach; the search engines used are Scopus, PubMed, and Cochrane. The keyword combinations are placenta senescence AND aging AND preeclampsia, while excluding the results that are correspondence or not written in English.Results: The senescence of the placenta has a role in the pathophysiology of preeclampsia. The epigenetic alterations marked by the changes in the trophoblast’s telomere length as the result of the damage done by ROS to the mitochondria marked by various biomarkers can lead to accelerated cell death.Conclusion: Preeclampsia is due to premature placental aging and apoptosis, resulting in widespread blood vessel lining dysfunction.Penuaan Plasenta dan Asal Mula Preeklampsia: Adakah Peran Potensial? – Sebuah TinjauanAbstrakPendahuluan: Preeklampsia adalah gangguan hipertensi pada kehamilan yang menyebabkan sekitar 800 kematian ibu. Penyebab preeklampsia masih belum diketahui, namun penuaan dini plasenta merupakan salah satu penyebabnya. Sampai saat ini, berbagai markah seperti stress oksidatif dan disfungsi mitokondria telah teridentifikasi berhubungan dengan penuaan plasenta.Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan tinjauan naratif dan mesin pencari yang digunakan adalah Scopus, PubMed, dan Cochrane. Kombinasi kata kunci yang digunakan adalah penuaan plasenta DAN penuaan DAN preeklampsia dan mengecualikan hasil yang bersifat korespondensi atau tidak ditulis dalam bahasa Inggris.Hasil: Penuaan plasenta memiliki peran dalam patofisiologi preeklampsia. ROS merusak mitokondria dengan mengubah panjang telomer trofoblas. Perubahan tersebut dapat menyebabkan percepatan kematian sel yang bisa ditandai dengan berbagai biomarkerKesimpulan: Preeklampsia disebabkan oleh penuaan plasenta dini dan apoptosis yang mengakibatkan disfungsi lapisan pembuluh darah yang meluas.Kata kunci: Perubahan Epigenetik, Stres Oksidatif, Penuaan Plasenta, Preeklampsi
Asymptomatic Uterine Fibroid: The Best Management for Improved QOL in Women by Comparing Laparoscopic and Laparoscopy Hysterectomy (Evidence-Based Medicine)
Introduction: Uterine Fibroids (UFs) are benign smooth-muscle neoplasms typically originating from the myometrium. Hysterectomy is the most common non-pregnancy-related surgical procedure performed on women. Laparoscopy Hysterectomy (LH) is currently accepted as a safe and efficient way to manage benign uterine disease with a lower risk of trauma and morbidity. A qualitative approach, which focuses on the Quality of Life of each patient, should help navigate which treatment is more beneficial.Case Illustration: A 56-year-old woman (G0P0) came for a health screening. It was known that about 10 years ago, the patient had a history of uterine myoma. Currently, the patient has no complaints, no abdominal pain, no history of bleeding, history of regular menstruation, and no dysmenorrhea. The patient underwent abdominal laparotomy bilateral salpingo-oophorectomy hysterectomy. Methods: We searched through 3 databases: Pubmed, Cochrane, and ProQuest with the keywords: “Abdominal Hysterectomy” OR “Laparoscopy Hysterectomy” AND “UFS-QOL” with critical review based on the criteria of the Oxford Centre for Evidence-Based Medicine for Qualitative-Studies. Conclusion: Studies show that laparoscopic hysterectomy increased patients’ QOL after the procedure, which revolves around symptom elimination and pain reduction. To ensure holistic and best-practice management, an individual assessment of each patient’s condition according to their symptoms and demographics is needed. Fibroid Uterus Asimptomatik: Penanganan Terbaik untuk Meningkatkan Kualitas Hidup Wanita dengan Membandingkan Histerektomi Laparoskopi dan Laparoskopi (Evidence-Based Medicine)AbstrakPendahuluan: Fibroid Uterus (UFs) merupakan neoplasma jinak otot polos yang biasanya berasal dari miometrium. Histerektomi adalah prosedur bedah non-kehamilan yang paling umum dilakukan pada wanita. Laparoskopi Histerektomi (LH) merupakan salah satu cara yang aman dan efisien untuk menangani penyakit uterus jinak dengan risiko trauma dan morbiditas yang lebih rendah. Pendekatan kualitatif yang berfokus pada kualitas hidup setiap pasien akan membantu menentukan pengobatan mana yang lebih bermanfaat.Ilustrasi Kasus: Seorang wanita berusia 56 tahun (G0P0) datang untuk pemeriksaan kesehatan. Diketahui sekitar 10 tahun yang lalu pasien memiliki riwayat mioma uteri. Saat ini pasien tidak memiliki keluhan apa pun, tidak ada nyeri perut, tidak ada riwayat perdarahan, riwayat menstruasi teratur, dan tidak ada dismenore. Pasien menjalani laparatomi abdomen histerektomi salpingo-ooforektomi bilateral. Metode: Peneliti mencari melalui 3 database: Pubmed, Cochrane, ProQuest dengan kata kunci: “Abdominal Histerektomi” ATAU “Histerektomi Laparoskopi” DAN “UFS-QOL” dengan tinjauan kritis berdasarkan kriteria Oxford Centre for Evidence Based Medicine for Qualitative-Studies. Kesimpulan: Penelitian menunjukkan bahwa histerektomi laparoskopi telah terbukti meningkatkan kualitas hidup pasien setelah prosedur dengan tujuan untuk menghilangkan gejala dan mengurangi rasa sakit. Untuk memastikan penatalaksanaan yang holistik dan praktik terbaik, diperlukan penilaian individual terhadap kondisi setiap pasien sesuai dengan gejala dan demografinya.Kata kunci: Fibroid Uterus, Kuesioner Gejala Fibroid Uterus, Laparoskopi Histerektomi, Abdominal Histerektom
Relationship Between Characteristics of Pregnant Women and Incidence of Anemia at I Melaya Health Center, Bali Province
Introduction: Anemia is a condition of low levels of red blood cells (hemoglobin) in the body below normal values. Pregnant women are considered to have anemia if their hemoglobin is less than 11 gr/dl. Data retrieved from the Bali Health Department in 2022 shows obstetric complications due to anemia accounted for 23% of total pregnancies, while data retrieved from the Jembrana Health Department in 2022 shows that 445 out of 3965 pregnant women experienced anemia. This study aims to determine the relationship between the characteristics of pregnant women and the incidence of anemia in the working area of I Melaya Health Center.Method: This descriptive study uses a cross-sectional design based on secondary data with 132 samples.Results: This study shows that the proportion of cases of anemia in pregnant women at I Melaya Health Center in 2022 was 59 cases (44.7%). Most of the anemia occurs in pregnant women aged <20 years, in the third trimester, with grandemultigravida parity and at obese nutritional status.Conclusion: This study shows a significant relationship between maternal age, gestational age, the number of parities, and the incidence of anemia in pregnant women. However, there is an insignificant relationship between maternal nutritional status and the incidence of anemia in pregnant women at I Melaya Health Center.Hubungan antara Karakteristik Ibu Hamil dan Kejadian Anemia di Puskesmas I Melaya Provinsi BaliAbstrakPendahuluan: Anemia merupakan kondisi rendahnya kadar hemoglobin atau sel darah merah dalam tubuh di bawah nilai normal. Untuk kehamilan, dapat dikatakan seorang ibu mengalami anemia jika hemoglobin kurang dari 11 gr/dl. Berdasarkan data profil kesehatan Provinsi Bali tahun 2022, komplikasi kebidanan akibat anemia mencakup 23% dari total kehamilan dan data profil kesehatan Kabupaten Jembrana tahun 2022 menunjukkan 445 dari 3965 ibu hamil mengalami anemia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara karakteristik ibu hamil dan kejadian anemia di wilayah kerja UPTD Puskesmas I MelayaMetode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif menggunakan design cross sectional berdasarkan data sekunder dengan sampel yang digunakan sebanyak 132 sampel.Hasil: Penelitian ini menunjukkan proporsi kejadian anemia pada ibu hamil di UPTD Puskesmas I Melaya tahun 2022 adalah sebanyak 59 kasus (44,7%). Mayoritas anemia terjadi pada ibu hamil usia <20 tahun, usia kehamilan trimester III, jumlah anak grandemultigravida, dan status gizi obese.Kesimpulan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara usia ibu, usia kehamilan, dan jumlah paritas dan kejadian anemia pada ibu hamil. Namun, terdapat hubungan yang tidak signifikan antara status gizi ibu dan kejadian anemia pada ibu hamil di UPTD Puskesmas I Melaya.Kata kunci : anemia, ibu hamil, faktor risiko
Neutrophil- Lymphocyte Ratio (NLR) and Platelet- Lymphocyte Ratio (PLR) as Inflammatory Markers in Preterm Birth
Introduction: Preterm births make up roughly 16–18% of all live births in Indonesia. One of the factors that contribute to preterm birth is inflammation. The study aimed to assess the role of platelet/lymphocyte ratio (PLR) and neutrophil/lymphocyte ratio (NLR) as inflammatory markers in preterm birth. Method: This is a cross-sectional retrospective Study. Data were collected from medical records at Margono Soekarjo Hospital, January 2022-February 2023. The cohort comprised 150 participants with singleton pregnancies, ranging from 28 to less than 37 weeks of gestation, divided into three groups: preterm birth without preterm premature rupture of membranes (PPROM), preterm birth with PPROM, and threatened preterm labor (TPL). Multivariate ANOVA tests were employed for data analysis. Result: There was a statistically significant difference NLR values , notably in preterm births without PPROM compared to other groups (p value < 0.005), whereas the only difference noted in PLR values was noted between preterm births with and without PPROM. Our finding differs from that of previous studies, which indicated higher NLR values in preterm births with PPROM.Conclusion: NLR and PLR have the potential to be used as inflammatory markers indicative of heightened risk of preterm birth.Rasio Neutrofil-Limfosit (RNL) dan Rasio Platelet-Limfosit (RPL) sebagai Penanda Inflamasi pada Persalinan PrematurAbstrakPendahuluan: Angka kejadian persalinan prematur di Indonesia mencakup 16-18% dari semua kelahiran hidup. Inflamasi atau infeksi dianggap sebagai salah satu penyebab persalinan prematur. Penelitian ini bertujuan untuk menilai peran rasio trombosit/limfosit (PLR) dan rasio neutrofil/limfosit (NLR) sebagai penanda inflamasi pada kelahiran premature.Metode: Penelitian merupakan studi retrospektif cross-sectional. Data dikumpulkan dari rekam medis RSUD Margono Soekarjo periode Januari 2022 - Februari 2023. Didapatkan 150 pasien hamil tunggal dengan rentang usia kehamilan 28 hingga kurang dari 37 minggu yang terbagi dalam tiga kelompok: kelahiran prematur tanpa ketuban pecah dini (KPD), kelahiran prematur dengan KPD, dan ancaman persalinan prematur. Tes ANOVA multivariat digunakan untuk analisis data.Hasil: Terdapat perbedaan nilai NLR yang signifikan secara statistik, terutama pada kelahiran prematur tanpa KPD dibandingkan dengan kelompok lain (nilai p <0,005), sedangkan perbedaan nilai PLR hanya terdapat pada kelahiran prematur dengan dan tanpa KPD. Temuan kami berbeda dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan nilai NLR lebih tinggi pada kelahiran prematur dengan KPD.Kesimpulan: NLR dan PLR berpotensi digunakan sebagai penanda inflamasi yang mengindikasikan peningkatan risiko kelahiran prematur.Kata kunci: NLR, PLR, persalinan prematu
Ruptur Uteri Komplit Disertai Fetal Death pada Pasien Multipara: Sebuah Laporan Kasus
Pendahuluan : Ruptur uteri adalah suatu kondisi yang mengancam nyawa yaitu terjadi robekan pada rahim baik sebagian atau seluruhnya selama kehamilan atau persalinan.Presentasi kasus: Wanita 43 tahun G3P2002 usia kehamilan 37 - 38 minggu datang ke RSUD Dr. TC. Hillers mengeluh nyeri perut dan perut terasa tegang sejak 4 jam yang lalu. Pemeriksaan fisik didapatkan hipotensi, takikardi, takipnea, konjungtiva anemia, ekspansi dada bilateral, distensi perut, dan nyeri tekan suprapubik. Pemeriksaan dalam belum ada pembukaan dan perdarahan aktif. DJJ tidak terdeteksi dan satu janin dapat dipalpasi. Dilakukan operasi sesar darurat, ditemukan kematian janin di rongga perut dan robekan 10 cm pada segmen bawah rahim juga anterior dinding vagina. Diskusi: Kurangnya ANC yang adekuat, multipara, operasi sesar sebelumnya merupakan faktor risiko ruptur uteri. Ruptur uteri terjadi secara tiba-tiba dengan gejala akut yang bervariasi. Tatalaksana berupa pembedahan yaitu sterilisasi lengkap dengan histerektomi dan pilihan yang konservatif termasuk uterine sparing dengan atau tanpa ligasi tuba.Kesimpulan: Ruptur uteri merupakan suatu kegawatdaruratan obstetri yang berpotensi menimbulkan kematian ibu dan bayi. Diagnosis yang cepat, transportasi dini, transfusi produk darah yang memadai, dan tim bedah berpengalaman sangat penting untuk penatalaksanaan ruptur uteri.Complete Uterine Rupture with Fetal Death in a Multiparous Patient: A Case ReportAbstractIntroduction: Uterine rupture is a life-threatening condition when there is a tearing of the uterus either partially or completely during pregnancy or delivery.Case presentation: A 43 year old pregnant woman visited RSUD Dr. T.C. Hillers with the main complains of abdominal pain and tension since 4 hours prior to the visit. physical examinations showed hypotension, tachycardia, tachypnea, anemic conjunctiva, bilateral chest expansion, abdominal distension, and suprapubic tenderness. However, the results of intravaginal examination showed no dilated cervix or active bleeding. No FHR were detected, and a single fetus can be palpated. An emergency caesarean section was performed, and fetal death was found in the abdominal cavity with 10 cm sized tear in the lower uterine segment and anterior vaginal wall.Discussion: Poor ANC follow up, multiparous women and previous history of caesarean section are the core risk factors for uterine rupture. Uterine rupture often is sudden and may be catastrophic, and the acute signs and symptoms are variable. The treatment is often surgical and limited to two options which are either complete sterilization with hysterectomy and the more conservative option including uterine sparing option of surgical repair with or without tubal ligation.Conclusion: Uterine rupture is an obstetric emergency which could potentially cause of maternal and perinatal mortality. Prompt diagnosis, early transport, adequate blood products transfusion, and an experience surgical team are essential for the management of uterine rupture.Key words: Uterine rupture, fetal death, multiparous
Professional Atitude Can Cause to Perch Plagiarism
A calling requiring specialize knowledge and often long and intensive preparation including instruction and skills and methods as well as in the scientific, historical and scholarly principles, underlying such skills and methods, maintaining by force or organization or concern opinion, high standard of achievement and conduct, and committing its members to continue study and to a kind of work which has for prime propose the rendering of public service
Case Report: Cesarean Scar Pregnancy in 8 Weeks Pregnancy with History of Recurrent Pregnancy Loss
Introduction: Caesarean scar pregnancy is a complication in early pregnancy implants gestational sac in the myometrium and fibrous tissues at the site of a previous uterine scar. Recurrent pregnancy loss defines loss as two or more pregnancies that do not have to be consecutive. This condition presents a substantial risk for severe maternal morbidity and associated with psychological aspects.Case Illustration: Mrs. D 37 years old, G6P2A3 in her 8 weeks pregnancy. With significant lower abdominal pain and vaginal bleeding occurs for two days in the beginning of pregnancy. Blood pressure of 70/50mmHg, pulse rate of 100x/min, respiration rate of 22x/min, temperature of 36,6°C, SpO2 of 100%, hemoglobin of 10,7 gr/dL. Abdominal examination was significant for rebound tenderness on lower abdomen. Transvaginal ultrasound which showed a fetus in uterine cavity and a moderate amount of free fluid in intraperitoneal cavity. Upon surgery, 1000cc of blood was found pooled in the peritoneal cavity, and laceration with length of 2 cm, about 5 cm below the uterine fundus.Conclusions: Caesarian scar pregnancy incident is increasing, as a result of high caesarian delivery rate, so the clinician should always ask for the past obstetrical history, particularly in patient with recurrent pregnancy loss with curettage procedure.Laporan Kasus:Kehamilan Bekas Luka Sesar pada Kehamilan 8 Minggu dengan Riwayat Keguguran BerulangAbstrakPendahuluan: Kehamilan bekas luka caesar adalah komplikasi pada awal kehamilan yang menanamkan kantung kehamilan di miometrium dan jaringan fibrosa di lokasi bekas luka rahim sebelumnya. Keguguran berulang diartikan sebagai keguguran sebagai dua atau lebih kehamilan yang tidak harus terjadi secara berurutan. Kondisi ini menimbulkan risiko besar terhadap morbiditas ibu yang parah dan berhubungan dengan aspek psikologis.Ilustrasi Kasus: Ny. D 37 tahun, G6P2A3 dalam usia kehamilan 8 minggu, dengan nyeri perut bagian bawah yang signifikan dan perdarahan vagina terjadi selama dua hari di awal kehamilan. Tekanan darah 70/50mmHg, denyut nadi 100x/menit, laju pernapasan 22x/menit, suhu 36,6°C, SpO2 100%, hemoglobin 10,7 gr/dL. Pemeriksaan perut nyeri tekan signifikan pada perut bagian bawah. USG transvaginal menunjukkan janin dalam rongga rahim dan sejumlah cairan bebas dalam rongga intraperitoneal. Setelah operasi, ditemukan 1000cc darah menggenang di rongga peritoneum, dan terjadi laserasi sepanjang 2cm, sekira 5cm di bawah fundus uteri.Kesimpulan: Kejadian kehamilan bekas luka caesar semakin meningkat akibat tingginya angka kelahiran caesar sehingga dokter harus selalu menanyakan riwayat obstetri masa lalu, terutama pada pasien dengan keguguran berulang dengan tindakan kuretase.Kata kunci: kehamilan bekas luka sesar, keguguran berulan
The Correlation Between Anemia and Chronic Energy Deficiency in Pregnant Women With the Incidence of Low Birth Weight at the Ciwaringin Cirebon Health Center in 2020 – 2022
Objective: This study aims to analyze the association of anemia and Chronic Energy Deficiency (CED) in pregnant women with the incidence of Low Birth Weight (LBW) in Puskesmas Ciwaringin Cirebon in 2020 - 2022.Methods: This study was a cross-sectional study with 339 respondents. Medical records were used as secondary data. Data analysis included univariate analysis, bivariate analysis (using chi-square test), and multivariate analysis (using logistic regression test).Results: The percentage of mothers with a history of LBW based on this study reached 69.6%, pregnant women with anemia reached 68.4%, and pregnant women with CED reached 73%. Similarly, a significant association was found between anemia among pregnant women and LBW (p-value 0.001; PR= 2.940). A significant association was also found between CED and LBW (p-value 0.001; PR= 2.115). Anaemia was a factor that had a greater likelihood of causing LBW (Exp(B) = 12.596) than CED (Exp(B) = 3.707).Conclusion: There is an association between anemia and CED in pregnant women with the incidence of LBW in Puskesmas Ciwaringin Cirebon in 2020 - 2022.Hubungan Antara Anemia dan Kekurangan Energi Kronik Pada Ibu Hamil Dengan Kejadian Berat Bayi Lahir Rendah di Puskesmas Ciwaringin Tahun 2020 – 2022AbstrakTujuan:Penelitian ini menganalisis hubungan terkait anemia dan KekuranganEnergi Kronik (KEK) pada ibu hamil dengan kejadian Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) di Puskesmas Ciwaringin Cirebon tahun 2020 - 2022.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional dengan jumlah subjek sebanyak 339 responden. Rekam medis digunakan sebagai data sekunder. Analisis data meliputi analisis univariat, analisis bivariat (menggunakan uji chi-square), dan dan analisis multivariat (menggunakan uji regresi logistik).Hasil: Presentase ibu dengan riwayat BBLR berdasarkan penelitian ini mencapai 69,6%, ibu hamil dengan anemiamencapai 68,4%, dan ibu hamil dengan KEK mencapai 73%. Demikian pula, hubungan yang signifikan juga ditemukan antara anemia pada ibu hamil danBBLR (p value0,001; PR= 2,940). Hubungan yang signifikan juga ditemukan antara KEK dengan kejadian BBLR dengan (p value 0,001; PR= 2,115). Anemia merupakan faktor yang memiliki kemungkinan lebih besar menyebabkan BBLR (Exp(B) = 12.596) dibandingkan KEK(Exp(B) = 3.707).Kesimpulan: Terdapat hubungan antara anemia dan KEK pada ibu hamil dengan kejadian BBLR di Puskesmas Ciwaringin Cirebon tahun 2020 - 2022.Kata kunci: Anemia; Kekurangan Energi Kronik; Berat Bayi Lahir Renda
Adolescence Eclampsia and Maternal Mortality within Sociocultural Problem in Indonesia: A Case Report
Introduction: Preeclampsia and eclampsia in adolescent pregnancy is closely related, especially in low-middle income countries. It becomes a public health issue not only in the present but also in the future due to potential complications and as a reflection of the social conditions of a country. This case aims to highlight adolescence eclampsia and current sociocultural and economic problem in Indonesia.Case Report: A 15-year-old, 9-months primigravida (G1P0A0), was referred to our center due to eclamptic seizure. Blood pressure was 160/110 mmHg and cervical dilation is 4 cm with adequate pelvic diameter. After 4 hours, cervical dilation progressed to 6 cm but followed by infrequent fetal heartbeat and CTG reveals category III with late deceleration. Emergency C-section was performed and patient admitted to ICU for 5 days afterwards. However, she was deteriorated and passed away.Conclusion: In addition to physiological immaturity, adolescence pregnancies often face sociocultural problems that lead to higher rates of hypertensive disorders of pregnancy in this population. Early recognition and knowledge of risk factors for preeclampsia are essential for good management, and a faster referral system will reduce maternal mortality.Eklamsia pada Remaja dan Kematian Ibu dalam Masalah Sosial Budaya di Indonesia: Sebuah Laporan KasusAbstrakPendahuluan: Preeklamsia dan eklamsia pada kehamilan remaja sangat erat kaitannya, terutama di negara-negara berpenghasilan menengah ke bawah. Hal ini menjadi masalah kesehatan masyarakat tidak hanya di masa sekarang, tetapi juga di masa depan karena potensi komplikasi dan sebagai cerminan kondisi sosial suatu negara. Laporan kasus ini bertujuan untuk menyoroti eklamsia pada remaja dalam kaitannya dengan masalah sosial budaya dan ekonomi saat ini di Indonesia.Laporan Kasus: Seorang perempuan berusia 15 tahun, primigravida 9 bulan (G1P0A0), dirujuk ke Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung karena kejang eklamsia. Tekanan darah 160/110 mmHg dan dilatasi serviks 4cm degan diameter panggul yang memadai. Setelah 4 jam, dilatasi serviks berkembang menjadi 6cm, etapi diikuti oleh detak jantung janin yang jarang dan CTG menunjukkan kategori III dengan deselerasi lambat. Operasi caesar darurat dilakukan dan pasien dirawat di ICU selama 5 hari. Namun, keadaan pasien memburuk dan meninggal dunia. Kesimpulan: Selain imaturitas fisiologis, kehamilan remaja sering menghadapi masalah sosiokultural yang menyebabkan tingginya angka hipertensi kehamilan pada populasi ini. Pengenalan dini dan pengetahuan tentang faktor risiko preeklamsia sangat penting untuk manajemen yang baik, dan sistem rujukan yang lebih cepat akan mengurangi angka kematian ibu.Kata kunci: eklampsia, kehamilan remaja, kematian ibu, masalah sosiokultura