OBGYNIA - Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
Not a member yet
371 research outputs found
Sort by
Effect of Vitamin D Supplementation in Women with Pelvic Floor Dysfunction: A Systematic Review
Objective: This review systematically analyzes and summarizes existing studies on the association between vitamin D supplementation and symptoms of Pelvic Floor Dysfunction (PFD) in women. Methods: We conducted a comprehensive literature search based on the Preferred Reporting Items for Systematic Review (PRISMA) Statements’ flow diagram for systematic review. Two independent reviewers searched five online databases using keywords to identify relevant studies from 2018-2023. Excluded were articles with populations other than women, case reports or case series, review papers, and studies that did not report vitamin D supplementation as a means of intervention in the study.Result: After identifying 2392 references, 13 studies were examined. Three studies explored the correlation between vitamin D supplementation and levator ani muscle strength, revealing a positive association. Results on vitamin D’s effect on urinary incontinence varied: five studies reported a negative correlation, while three showed significant improvement. Two studies indicated that vitamin D supplementation improved sexual function in the intervention group compared to the control group.Conclusion: Current evidence suggests that vitamin D supplementation is a potential strategy for the prevention and treatment of PFD in women, but relevant studies are severely available.Efek Suplementasi Vitamin D pada Wanita dengan Disfungsi Dasar Panggul: Tinjauan SistematikAbstrakTujuan: Tinjauan ini bertujuan untuk menganalisis secara sistematis studi yang ada dan meringkas data yang menunjukkan hubungan antara suplementasi vitamin D dan wanita dengan gejala disfungsi dasar panggul.Metode: Pada penelitian ini, dilakukan pencarian literatur yang komprehensif berdasarkan diagram alir Preferred Reporting Items for Systematic Review (PRISMA) untuk tinjauan sistematis. Dua pengulas independen mencari lima basis data daring menggunakan kata kunci untuk mengidentifikasi studi yang relevan dari tahun 2018 – 2023. Artikel dengan populasi selain wanita, laporan kasus atau seri kasus, makalah ulasan, dan studi yang tidak melaporkan suplementasi vitamin D sebagai sarana intervensi dalam studi dikecualikan.Hasil: Setelah mengidentifikasi 2394 referensi dan 13 studi ditinjau. Tiga studi melaporkan korelasi antara suplementasi vitamin D dan kekuatan otot levator ani, mengungkapkan hubungan positif. Namun, hasil mengenai dampak vitamin D pada inkontinensia urin bervariasi: lima studi melaporkan korelasi negatif, sementara tiga menunjukkan perbaikan signifikan. Dua studi menunjukkan bahwa suplementasi vitamin D meningkatkan fungsi seksual pada kelompok intervensi dibandingkan dengan kelompok kontrol.Kesimpulan: Bukti saat ini menunjukkan bahwa suplementasi vitamin D merupakan strategi pencegahan dan pengobatan yang potensial untuk wanita dengan disfungsi dasar panggul, tetapi penelitiannya masih sangat terbatas.Kata kunci: Vitamin D, Disfungsi Dasar Panggul, Prolaps, Inkontinensi
Providing Antioxidants to Reduce Symptoms of Endometriosis Related Pain: Systematic Review
Introduction: Approximately 10 - 15% of women in their reproductive age experience endometriosis. Endometriosis is defined by chronic discomfort and pain, specifically dysmenorrhea, dyspareunia, and dyschezia. A recent study has provided insight into the involvement of oxidative stress in the progression of endometriosis. Oxidative stress refers to an imbalance between reactive oxygen species (ROS) and antioxidants, resulting in inflammation within the peritoneal cavity. This comprehensive analysis examined the efficacy of antioxidant administration and its impact on pain symptoms associated with endometriosis. Method: This study reviewed literature by searching the PubMed, ScienceDirect, and Cochran Library databases. The search query included “endometriosis” and “antioxidant.” The study was reviewed using the Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) standards. The scope of analysis was restricted to clinical trials conducted exclusively from 2012 to 2023. Result: A total of 10 studies were incorporated, encompassing the utilisation of vitamin C and vitamin E, N-acetylcysteine, alpha-lipoic acid, bromelain, zinc, melatonin, and combination oral contraception. After administering antioxidants, the analysis of different groups consistently revealed a greater degree of improvement in dysmenorrhoea, dyspareunia, and chronic pelvic pain. Vitamin C, vitamin E, and N-acetylcysteine act as antioxidants and effectively decrease oxidative stress and the development of endometriosis discomfort. Conclusion: using antioxidants, including vitamin C and vitamin E, or N-acetylcysteine, has a beneficial effect in decreasing pain sensations associated with endometriosis.Pemberian Antioksidan untuk Mengurangi Gejala Nyeri Endometriosis: Sistematik ReviewAbstrakPendahuluan: Diperkirakan 10 - 15%wanita usia produktif di dunia mengalami endometriosis. Endometriosis ditandai dengan rasa tidak nyaman dan nyeri yang terus-menerus, meliputi dismenore, dyspareunia, dan disychezia serta menjadi salah satu penyebab infertilitas. Studi terbaru menjelaskan adanya peran stres oksidatif pada patofisiologi endometriosis yang didefinisikan sebagai ketidakseimbangan antara Reactive Oxygen Species (ROS) dan antioksidan yang menyebabkan respons inflamasi di rongga peritoneum. Systematic review ini membahas mengenai efektivitas pemberian antioksidan dan pengaruhnya terhadap gejala nyeri endometriosis. Metode: Pencarian literatur dilakukan pada database PubMed dan ScienceDirect, dan Cochrane Library Pencarian dilakukan menggunakan istilah “endometriosis” DAN “antioksidan”. Penulisan systematic review disesuaikan dengan pedoman professed reporting for systematic review and meta-analysis (PRISMA). Semua studi yang diinklusi merupakan clinical trials pada periode tahun 2012-2023. Hasil: Terdapat 10 penelitian yang disertakan, meliputi penelitian menggunakan vitamin C dan vitamin E, N-asetilsistein, asam alfa lipoat, bromelain, zinc, melatonin dan kontrasepsi oral kombinasi. Perbandingan antar kelompok secara umum menunjukkan perbaikan nyeri dismenorea, dispareunia, dan nyeri panggul kronis yang lebih baik setelah suplementasi antioksidan. Hal ini berkaitan dengan peran vitamin C, vitamin E, N-asetilsistein sebagai antioksidan yang dapat mengurangi stress okisdatif sebagai pathogenesis terjadinya nyeri endometriosis. Kesimpulan: Pemberian antioksidan secara umum terutama vitamin C, vitamin E, dan N-asetilsistein berkaitan dengan berkurangnya gejala nyeri pada endometriosis.kata kunci: Endometriosis; antioksidan; dismenorea; dispareunia; nyeri pelvik kroni
Maternal Characteristics of Very Low Birth Weight and Extremely Low Birth Weight Incidence
Introduction: Low birth weight (LBW) infants have the potential for cognitive deficits, motor delays, cerebral palsy, and other behavioral and psychological problems. Household expenses and health care system costs can be reduced by alleviating the burden of LBW. Currently, there are no available data on the maternal characteristics of very low birth weight (VLBW) and extremely low birth weight (ELBW) incidence in Indonesia.Method: This was a retrospective analytical observational study with a cross-sectional design. The sample in this study included all infants born with a birth weight of <1500 grams at Margono Purwokerto Hospital during 2018-2022. Univariate and bivariate analyses were performed using a significance level of p≤0.05.Results: A total of 65 patients in the ELBW group and 59 patients in the VLBW group were included in this study. Statistical test results showed no significant differences in the characteristics of age, parity, birth weight of the infant, criteria for hypertension during pregnancy, criteria for anemia, comorbidities, hospital treatment, postpartum care, and type of delivery. The variables that differed significantly were anemia (Hb VLBW vs Hb ELBW; 9.06 vs 8.21) and neonatal outcomes.Conclusion: There was no difference between the maternal characteristics of the incidence of very low birth weight and extremely low birth weight, except for anemia. Checking hemoglobin levels in patients with ELBW is essential for providing appropriate treatment.Karakteristik Ibu dengan Bayi Berat Badan Lahir Sangat Rendah dan Kejadian Berat Badan Lahir Sangat RendahAbstrakPendahuluan: Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) berpotensi mengalami defisit kognitif, keterlambatan motorik, Cerebral Palsy, serta permasalahan perilaku dan psikologis lainnya. Pengeluaran rumah tangga dan biaya sistem pelayanan kesehatan dapat dikurangi dengan meringankan beban BBLR. Saat ini belum tersedia data mengenai karakteristik ibu dengan kejadian berat badan lahir sangat rendah (BBLR) dan berat badan lahir sangat rendah (BBLSR) di Indonesia.Metode:Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik retrospektif dengan desain cross-sectional. Sampel dalam penelitian ini meliputi seluruh bayi yang lahir dengan berat badan lahir <1500 gram di RS Margono Purwokerto selama tahun 2018-2022. Analisis univariat dan bivariat dilakukan dengan tingkat signifikansi p≤0,05.Hasil:Sebanyak 65 pasien pada kelompok BBLR dan 59 pasien pada kelompok BBLSR dilibatkan dalam penelitian ini. Hasil uji statistik menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna pada karakteristik umur, paritas, berat badan lahir bayi, kriteria hipertensi saat hamil, kriteria anemia, penyakit penyerta, perawatan di rumah sakit, perawatan nifas, dan jenis persalinan. Variabel yang berbeda secara signifikan adalah anemia (Hb BBLSR vs Hb BBLR; 9,06 vs 8,21) dan luaran neonatal.Kesimpulan:Tidak terdapat perbedaan karakteristik ibu terhadap kejadian berat badan lahir sangat rendah dan berat badan lahir sangat rendah, kecuali anemia. Pemeriksaan kadar hemoglobin pada pasien BBLR sangat penting untuk memberikan pengobatan yang tepat.Kata kunci: bayi berat lahir sangat rendah, BBLSR, bayi berat lahir sangat rendah, BBL
Correlation of Vitamin D and Antimullerian Hormone Level in Infertile Women with Polycystic Ovary Syndrome and Obesity
Introduction: Increasing amount of research indicates that women with PCOS are more likely to have a shortage in vitamin D with abnormally high anti-Müllerian hormone (AMH) levels. This study aims to assess the correlation between vitamin D and Anti-Mullerian Hormone (AMH) levels in infertile women with polycystic ovarian syndrome (PCOS) and obesity. Method: This observational cross-sectional study examined all obese women with PCOS who sought infertility treatment at Dr. Mohammad Hoesin Hospital Palembang from August 2021 to November 2021. PCOS diagnosis was determined using the Rotterdam criteria. All research subjects underwent a physical examination and transvaginal ultrasound to evaluate body mass index (BMI) and polycystic ovary morphology. Blood samples were collected to evaluate their testosterone, AMH, and vitamin D levels. Statistical analysis was performed using the Spearman correlation test with IBM® SPSS Statistics version 24. Results: Thirty infertile women with PCOS and obesity were included in the study, with average age of 31.17±4.48 years and average BMI of 33.45±2.67 kg/m2. The majority of the subjects had polycystic ovary morphology (86.7%) and oligomenorrhea (76.7%). No correlation between BMI and vitamin D as well as AMH levels was found in infertile women with PCOS and obesity. The Spearman test showed moderate negative correlation (p = 0.011. r = -0.458) between vitamin D and AMH levels in infertile women with PCOS and obesity. Conclusion: There is a moderate negative correlation between vitamin D and AMH levels among infertile women with PCOS and obesity. Further research is required to comprehend the role of vitamin D in female fertility.Korelasi Vitamin D dan Kadar Hormon Anti-Müllerian pada Wanita Infertil dengan Sindrom Ovarium Polikistik dan ObesitasAbstrakPendahuluan: Semakin banyak penelitian melaporkan bahwa wanita dengan PCOS cenderung mengalami defisiensi vitamin D dengan penignkatan kadar hormon anti-Müllerian (AMH). Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan vitamin D dan kadar AMH pada wanita infertil dengan sindrom ovarium polikistik (SOPK) dan obesitas.Metode: Penelitian ini merupakan studi observasional potong lintang terhadap seluruh wanita infertil dengan SPOK dan obesitas yang di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang pada bulan Agustus 2021 hingga November 2021. Diagnosis SOPK ditegakkan berdasarkan kriteria Rotterdam. Seluruh subjek penelitian menjalani pemeriksaan fisik dan ultrasonografi transvaginal untuk menilai indeks massa tubuh (IMT) dan morfologi ovarium polikistik. Sampel darah dikumpulkan dari semua wanita untuk mengukur kadar testosteron, AMH, dan vitamin D. Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan uji korelasi Spearman menggunakan IBM® SPSS Statistics versi 24.Hasil: Tiga puluh wanita infertil dengan SOPK dan obesitas dilibatkan dalam penelitian ini dengan usia rata-rata 31,17±4,48 tahun dan rata-rata IMT 33,45±2,67 kg/m2. Mayoritas subjek memiliki morfologi ovarium polikistik (86,7%) dan oligomenore (76,7%). Tidak ada korelasi antara IMT dan vitamin D maupun kadar AMH pada wanita infertil dengan SOPK dan obesitas. Uji Spearman menunjukkan korelasi negatif sedang (p=0.011.r=-0.458) antara kadar vitamin D dan AMH pada wanita infertil dengan SOPK dan obesitas. Kesimpulan: Kadar vitamin D berkorelasi negatif dengan kadar AMH pada wanita infertil dengan SOPK dan obesitas. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami peran vitamin D pada kesuburan wanita.Kata kunci: Anti-Müllerian Hormone, Indeks Massa Tubuh, Obesitas, Sindrom Ovarium Polikistik, Vitamin
Anencephaly with Prior Caesarean Section: A Management Dilemma for Lethal Fetal Condition to Perform Labor Induction
Introduction: A failure of cranial neuropore closure during the third to fourth week of gestation is called anencephaly. It leads to the lack of a significant part of the brain, skull, and scalp. The recommended method of delivery in lethal conditions, such as anencephaly, is vaginal delivery. This case report describes anencephalic pregnancy with a history of prior cesarean section. Labor induction held a dilemma to perform, but cesarean section poses a risk of morbidity to the mother and will not improve fetal outcomes.Case Illustration: A 37-year-old woman, G4P3A0, 26-27 weeks of pregnancy, presented with a planned termination of pregnancy. The patient was known to have congenital malformation and anencephaly. The patient had a history of prior cesarean section. During admission, the patient showed no signs of delivery. The patient was then planned for labor induction with misoprostol 50 mcg on the posterior fornix. The delivery outcome was no uterine rupture or significant bleeding.Conclusion: Vaginal delivery is the first choice for the delivery method in cases with poor prognosis. Avoiding a cesarean section will protect the mother from further morbidity from a cesarean section.Anensefali dengan Riwayat Seksio Sesarea: Dilema Manajemen untuk Kondisi Janin Yang Lethal dalam Melakukan Induksi PersalinanAbstrakPendahuluan: Kegagalan penutupan neuroporus kranial selama minggu ketiga hingga keempat kehamilan disebut anensefali. Kondisi ini menyebabkan hilangnya sebagian besar otak, tengkorak, dan kulit kepala. Metode persalinan yang direkomendasikan dalam kondisi janin yang tidak bisa bertahan hidup, seperti anensefali, adalah persalinan melalui vagina. Laporan kasus ini akan menggambarkan kehamilan dengan anensefali pada pasien dengan riwayat seksio sesarea sebelumnya. Induksi persalinan menimbulkan dilema untuk dilakukan, namun seksio sesarea meningkatkan risiko morbiditas bagi ibu tanpa memperbaiki hasil pada janin.Ilustrasi Kasus: Seorang wanita berusia 37 tahun, G4P3A0, usia kehamilan 26 - 27 minggu, datang dengan rencana terminasi kehamilan. Pasien diketahui memiliki malformasi kongenital dan anensefali. Pasien juga memiliki riwayat seksio sesarea sebelumnya. Saat masuk rumah sakit, pasien tidak menunjukkan tanda-tanda persalinan. Pasien kemudian direncanakan untuk induksi persalinan dengan misoprostol 50 mcg yang dimasukkan ke fornix posterior. Hasil persalinan tidak menunjukkan adanya ruptur uterus atau perdarahan yang signifikan.Kesimpulan: Persalinan melalui vagina adalah pilihan pertama untuk metode persalinan pada kasus dengan prognosis buruk. Menghindari seksio sesarea akan melindungi ibu dari morbiditas lebih lanjut akibat seksio sesarea.Kata kunci: Anensefali; Induksi; Letal; Manajemen Persalinan; Riwayat Seksio Sesare
The Relationship between Maternal Characteristics and Neonatal Outcomes of Premature Rupture of Membranes
Introduction: Premature rupture of the membranes occurs when the amniotic membrane bursts before 37 weeks of gestation. Preterm labour is the primary cause of perinatal and neonatal death, with premature membrane rupture accounting for 40% of cases. This study aimed to investigate the relationship between the incidence of premature rupture of membranes (PROM) with maternal characteristics and neonatal outcomes.Method: This study was carried out through medical record analysis in premature rupture of membrane patients at the Regional General Hospital Prof. Dr. Margono Soekarjo for the period July 2022 to March 2023 using descriptive and analytical methods with a cross-sectional study design. Results: Among 139 patients with PROM, the majority of patients are less than 35 years old, multipara, term birth, and education level below junior high school. For neonatal outcomes, both infants with PROM and without PROM, the majority were born with normal weight, first and fifth-minute APGAR without asphyxia, and male. The results found a significant relationship between gestational age, maternal education level, birth weight, and neonatal APGAR scores on the incidence of PROM.Conclusions: premature rupture of membrane significantly impact neonatal outcome including birth weight, first-minute APGAR, and fifth-minute APGAR.Hubungan Karakteristik Maternal dan Luaran Neonatus Kasus Ketuban Pecah DiniAbstrakPendahuluan: Ketuban pecah dini terjadi ketika selaput ketuban pecah sebelum usia kehamilan 37 minggu. Persalinan prematur adalah penyebab utama kematian perinatal dan neonatal dengan ketuban pecah dini mencapai 40% kasus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kejadian ketuban pecah dini dan karakteristik ibu dan luaran neonatal.Metode: Penelitian ini dilakukan melalui analisis rekam medis pada pasien ketuban pecah dini di Rumah Sakit Umum Daerah Prof. Margono Soekarjo periode Juli 2022 hingga Maret 2023. Metode yang digunakan untuk penelitian ini adalah metode deskriptif dan analitik dengan desain studi cross-sectional.Hasil: Dari 139 pasien ketuban pecah dini, mayoritas pasien berusia kurang dari 35 tahun, multipara, lahir cukup bulan, dan tingkat pendidikan di bawah SMP. Untuk luaran neonatal, baik bayi dengan ketuban pecah dini, maupun tanpa ketuban pecah dini, mayoritas lahir dengan berat badan normal, APGAR menit pertama dan kelima tanpa asfiksia, dan berjenis kelamin laki-laki. Hasil penelitian menemukan adanya hubungan yang signifikan antara usia kehamilan, tingkat pendidikan ibu, berat badan lahir, dan skor APGAR neonatus terhadap kejadian ketuban pecah dini.Kesimpulan: ketuban pecah dini berdampak signifikan terhadap luaran neonatal termasuk berat badan lahir, APGAR menit pertama, dan APGAR menit kelima..Kata kunci: ketuban pecah dini, karakteristik maternal, luaran neonatus, study analitik
Cesarean Scar Pregnancy: Case Series
Tujuan: Kehamilan bekas luka sesar (CSP) merupakan kehamilan ektopik yang serius, dengan embrio tertanam pada jaringan parut dari operasi caesar sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk melaporkan empat kasus CSP dan membahas penanganannya.Metode: Kasus yang dilaporkan melibatkan empat wanita dengan usia kehamilan 13-14 minggu yang mengalami perdarahan pervaginam dan nyeri abdomen. Diagnosis CSP dilakukan melalui ultrasonografi transvaginal. Penanganan melibatkan laparatomi eksplorasi, hysterotomi segmental, dan reseksi jaringan abnormal.Hasil: Semua pasien didiagnosis dengan CSP berdasarkan temuan USG yang menunjukkan jaringan abnormal dan hipervaskularisasi pada bekas luka sesar. Prosedur bedah dilakukan untuk mengatasi kondisi ini, dan setelah operasi, kondisi pasien stabil.Kesimpulan: CSP merupakan kondisi yang semakin sering terjadi seiring dengan meningkatnya jumlah persalinan sesar. Diagnosis awal melalui USG transvaginal sangat penting untuk mencegah komplikasi yang serius, seperti plasenta akreta. Penanganan bervariasi dari terapi medikamentosa hingga prosedur bedah, tergantung pada kondisi pasien. Edukasi mengenai risiko CSP pada kehamilan berikutnya sangat dianjurkan.Introduction: Cesarean scar pregnancy (CSP) is a serious ectopic pregnancy where the embryo is embedded in scar tissue from a previous cesarean section. This study aims to report four cases of CSP and discuss their management.Case Report: The reported cases involved three women in the 1st and 2nd trimesters of pregnancy who experienced vaginal bleeding and abdominal pain. CSP was diagnosed via transvaginal ultrasonography. Treatment involves exploratory laparotomy, segmental hysterotomy, and resection of abnormal tissue.Conclusion: All patients were diagnosed with cesarean scar pregnancy (CSP) based on ultrasound findings showing abnormal tissue and hypervascularization in the cesarean scar. A surgical procedure was performed to treat the condition, and the patients’ condition stabilized post-surgery. CSP is becoming increasingly prevalent with the rising number of cesarean deliveries. Early diagnosis via transvaginal ultrasound is essential to prevent serious complications, such as placenta accreta. Treatment varies from medical therapy to surgical procedures, depending on the patient’s condition. Education regarding the risks of CSP in subsequent pregnancies is highly recommended.Kehamilan Pada Operasi Bekas CaesareaAbstrakPendahuluan: Kehamilan bekas luka sesar (CSP) merupakan kehamilan ektopik yang serius, dengan embrio tertanam pada jaringan parut dari operasi caesar sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk melaporkan empat kasus CSP dan membahas penanganannya.Laporan Kasus: Kasus yang dilaporkan melibatkan tiga Wanita hamil trimester pertama dan kedua yang mengalami perdarahan pervaginam dan nyeri abdomen. Diagnosis CSP dilakukan melalui ultrasonografi transvaginal. Penanganan melibatkan laparatomi eksplorasi, hysterotomi segmental, dan reseksi jaringan abnormal.Kesimpulan: CSP merupakan kondisi yang semakin sering terjadi seiring dengan meningkatnya jumlah persalinan sesar. Diagnosis awal melalui USG transvaginal sangat penting untuk mencegah komplikasi yang serius, seperti plasenta akreta. Penanganan bervariasi dari terapi medikamentosa hingga prosedur bedah, tergantung pada kondisi pasien. Edukasi mengenai risiko CSP pada kehamilan berikutnya sangat dianjurkan. Semua pasien didiagnosis dengan CSP berdasarkan temuan USG yang menunjukkan jaringan abnormal dan hipervaskularisasi pada bekas luka sesar. Prosedur bedah dilakukan untuk mengatasi kondisi ini, dan setelah operasi, kondisi pasien stabil.Kata kunci: Pregnancy, Caesarean, Scar
Correlation between LDH, Liver Function, Platelets and Proteinuria in Preeclampsia with Severe Features
Objectives: To identify the relationship between LDH, bilirubin, SGPT, SGOT, and platelets with proteinuria in preeclampsia with severe features patients. Method: This study is an observational analytical with a retrospective cross-sectional design. The samplings contain 70 patients from the medical records of patients who were diagnosed with preeclampsia with severe features at H. Adam Malik Hospital Medan from January 2020 to March 2023.Results: It was found that 74.3% of the population had semiquantitative urine protein levels ≥+2. The average levels of LDH, total bilirubin, SGPT, SGOT, and platelets were 514.64 U/L, 0.9 mg/dL, 57.77 U/L, 64.01 U/L, and 197,585/mm3, respectively. Statistical analysis showed a positive association between proteinuria and LDH (p=0.001). However, there was no meaningful association between liver and platelet function and proteinuria.Conclusion: There is a relationship between LDH and proteinuria in severe preeclampsia patients.Hubungan antara LDH, Fungsi Hati, Trombosit dengan Proteinuria pada Pasien Preeklamsia BeratAbstrakTujuan: Untuk mengidentifikasi hubungan antara LDH, bilirubin, SGPT, SGOT, dan trombosit dengan proteinuria pada pasien preeklampsia dengan gejala berat.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain potong lintang retrospektif. Sampel terdiri dari 70 pasien dari rekam medis pasien yang didiagnosis dengan preeklampsia berat di RSUP H. Adam Malik Medan pada periode Januari 2020 hingga Maret 2023.Hasil: Ditemukan bahwa 74,3% dari populasi memiliki kadar protein urin semikuantitatif ≥+2. Kadar rata-rata LDH, bilirubin total, SGPT, SGOT, dan trombosit masing-masing adalah 514,64 U/L, 0,9 mg/dL, 57,77 U/L, 64,01 U/L, dan 197.585/mm3. Analisis statistik menunjukkan hubungan positif antara proteinuria dan LDH (p=0,001). Namun, tidak ada hubungan yang bermakna antara fungsi hati dan trombosit dengan proteinuria.Kesimpulan: Terdapat hubungan antara LDH dan proteinuria pada pasien preeklampsia berat.Kata kunci: hemolisis, fungsi hati, trombosit, preeklamsia berat, proteinuri
The Success Rate for Diagnosing Congenital Anomalies During Prenatal
Introduction: This study aimed to determine the success of prenatal diagnosis in cases of congenital abnormalities at RSHS Bandung.Methods: This study was descriptive and cross-sectional. We collected data from all neonatal patients with congenital abnormalities who received prenatal care at RSHS Bandung between January 1, 2021, and December 31, 2023. Data processing used Microsoft Excel 16.66.1 and IBM SPSS Statistics.Result: The results show that 59 patients, or 93.6%, had appropriate abnormalities diagnosed, while only 4 patients, or 6.3%, had inappropriate abnormalities.Conclusion: Prenatal diagnosis of congenital abnormalities showed a fairly high concordance value, namely 93.6%.Tingkat Keberhasilan Penegakan Diagnosis Kelainan Kongenital pada saat PrenatalAbstrakTujuan: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui keberhasilan diagnosis prenatal pada kasus kelainan kongenital di RSHS Bandung.Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif cross-sectional. Data diperoleh dari seluruh pasien neonatal yang disertai kelainan kongenital pada saat prenatal di RSHS Bandung 1 Januari 2021 – 31 Desember 2023. Pengolahan data menggunakan Microsoft Excel 16.66.1 dan IBM SPSS Statistics.Hasil: Hasil yang didapatkan yaitu akurasi pasien terdiagnosis sesuai ada kelainan sebanyak 59 atau sebesar 93.6% dan terdiagnosis tidak sesuai ada kelainan sebanyak 4 atau sebesar 6.3%. Kesimpulan: Penegakan diagnosis kelainan kongenital pada saat prenatal menunjukkan nilai kesesuaian yang cukup tinggi, yaitu sebesar 93,6%.Kata kunci: Prenatal, kelanan kongenital
Sleeve Hymen as a Penetrate Problem in a Newly Married Woman: A Rare Case Report
Introduction: Imperforate hymen (IH), an uncommon congenital anomaly, is a failure to completely canalize the hymen. This report aims to describe a sleeve hymen in a newly married woman and the surgical approach to the patient.Case Illustration: A 24-year-old newly married woman came to the gynecology polyclinic complaining of difficulty in sexual intercourse in the last 6 months. She felt painful and hard penile penetration since the first time of sexual intercourse. Inspection of external genitalia showed there was a hymen covering all vaginal introitus without an erythematous surface. The diagnosis indicated that the patient had a sleeve hymen. The patient underwent a U-shaped incision far away from the urethra as a hymenectomy.Discussion: Most of the IH patients are asymptomatic until menarche. Excess of estrogen status can cause the thickening of the hymen, called the sleeve hymen or “redundant” hymen. Meanwhile, epithelial cells’ failure in the center of the hymen to degenerate or excess cell proliferation may cause a microperforate hymen. There are several choices of treatment for IH, including hymenectomy (cruciate incision or hymen excision), hymen-preserving surgeries (simple vertical incision and annular hymenotomy), carbon dioxide laser, or insertion of a Foley catheter.Conclusion: Good anamnesis and physical examination can lead to the correct diagnosis of sleeve hymen. Hymenectomy is one of the alternative treatments for married women who have less concern about hymen-preserving surgery.Penebalan Himen sebagai Gangguan Penetrasi pada Wanita Baru Menikah: Sebuah Laporan KasusAbstrakPendahuluan: Himen imperforata (HI) merupakan kelainan kongenital yang tidak lazim didefinisikan sebagai kegagalan dalam kanalisasi himen. Laporan ini bertujuan untuk menggambarkan penebalan himen pada wanita yang baru menikah dan pendekatan pembedahan kepada pasien.Ilustrasi Kasus: Seorang wanita baru menikah berusia 24 tahun datang ke poliklinik ginekologi mengeluh gangguan hubungan seksual sejak 6 bulan lalu. Dia merasa sulit untuk penetrasi dan nyeri sejak pertama kali berhubungan seksual. Inspeksi pada genitalia eksterna memperlihatkan terdapat himen yang menutupi seluruh introitus vagina tanpa permukaan eritema. Diagnosis pada pasien ialah penebalan himen. Wanita tersebut dilakukan insisi bentuk U menjauhi uretra sebagai himenektomi. Diskusi: Kebanyakan pasien HI asimptomatik sampai menars. Kelebihan estrogen dapat menyebabkan penebalan himen yang dikenal sebagai himen “tidak berguna”. Sementara itu, kegagalan sel epitel di tengah himen untuk degenerasi atau kelebihan proliferasi sel dapat menyebabkan himen mikroperforata. Beberapa pilihan tatalaksana pada HI, yaitu himenektomi (insisi krusiata atau eksisi himen), pembedahan dengan konservasi himen (insisi vertikal simple dan himenotomi anular), laser CO2, atau insersi kateter Foley.Kesimpulan: Anamnesis dan pemeriksaan fisik yang baik dapat membantu mendiaganosis penebalan himen dengan tepat. Himenektomi merupakan salah satu tatatalaksana alternatif untuk wanita yang sudah menikah.Kata kunci: himen imperforate; himenektomi; microperforate hymen; penebalan himen