OBGYNIA - Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
Not a member yet
371 research outputs found
Sort by
Dandy– Walker Malformation in a Multiparous Woman: A Case Report
Background: Dandy-Walker malformation (DWM) or syndrome is a posterior fossa anomaly characterized by agenesis or hypoplasia of the vermis and cystic enlargement of the fourth ventricle causing upward displacement of the tentorium and torcula characterized by dilated posterior fossa, cystic enlargement of the fourth ventricle, hypoplasia of cerebellar vermis and its upward rotation. Most patients have hydrocephalus at the time of diagnosis.Case presentation: A 36-years-old multiparous woman with 39 weeks’ gestation from obstetrics polyclinic with plan for induction of labor. During an ultrasound examination, the fetomaternal department found congenital abnormalities in the fetus, namely the presence of hydrocephalus accompanied by Dandy-Walker syndrome. The patient denied the consumption of alcohol, usage of cosmetic drugs such as isotretinoin or blood thinning drugs. The patient previously had a sudden fever without reddish rash for 7 days at 6 months of gestation which healed on its own. The patient admitted to keeping a cat at her house since last year. The patient admitted that she had never had her blood checked for TORCH screening. After being done of Cervical ripening with Misoprostol according to FIGO 25 mcg/PV/6 hours, born a live baby girl, BW 2440 gr, BL 46 cm, A/S: 6/8.Conclusions: The patient was admitted to the hospital with the main complaint of G4P3A0L3 Gestational age 39-40 weeks, not in labor and a live single fetus in the womb, the patient’s head presentation from the obstetrics clinic with intermittent episodes of vomiting, headache with plans for induction of labor with ultrasound results of Dandy-Walker Syndrome. Pregnant women with DWS in foetal ultrasonic examination should be offered a careful and comprehensive foetal ultrasound scan and further prenatal genetic testing.Malformasi Dandy-Walker pada Wanita Multipara: Laporan KasusAbstrakLatar Belakang: Malformasi atau sindrom Dandy-Walker (DWM) merupakan anomali fosa posterior yang ditandai dengan agenesis atau hipoplasia vermis dan pembesaran kistik ventrikel keempat yang menyebabkan perpindahan tentorium dan torkula ke atas yang ditandai dengan melebarnya fosa posterior, pembesaran kistik ventrikel keempat, hipoplasia vermis serebelar, dan rotasinya ke atas. Kebanyakan pasien menderita hidrosefalus pada saat diagnosis.Presentasi kasus: Seorang wanita multipara berusia 36 tahun dengan usia kehamilan 39 minggu, pasien dari poliklinik kebidanan dengan rencana induksi persalinan. Pada pemeriksaan USG oleh bagian fetomaternal ditemukan kelainan kongenital pada janin yaitu adanya hidrosefalus disertai Dandy-Walker syndrome. Pasien menyangkal konsumsi alkohol, penggunaan obat-obatan kosmetik seperti isotretinoin atau obat pengencer darah. Pasien sebelumnya mengalami demam mendadak tanpa ruam kemerahan selama 7 hari pada usia kehamilan 6 bulan dan sembuh dengan sendirinya. Pasien mengaku memelihara kucing di rumahnya sejak tahun lalu. Pasien mengaku belum pernah memeriksakan darahnya untuk pemeriksaan TORCH. Setelah pematangan serviks dengan Misoprostol sesuai FIGO 25 mcg/PV/6 jam. Bayi perempuan lahir hidup, BW 2440 gr, BL 46 cm, A/S : 6/8.Kesimpulan: Pasien masuk RS dengan keluhan utama G4P3A0L3 Usia kehamilan 39-40 minggu, tidak bersalin dan janin hidup tunggal dalam kandungan, presentasi kepala pasien dari klinik kebidanan dengan episode muntah intermiten, sakit kepala dengan rencana induksi persalinan dengan hasil USG Sindrom Dandy-Walker. Keahlian yang cukup diperlukan dalam mendiagnosis dan mengobati malformasi yang disebabkan oleh Dandy Walker. Wanita hamil dengan DWS dalam pemeriksaan USG janin harus ditawarkan pemindaian USG janin yang cermat dan komprehensif serta pengujian genetik prenatal lebih lanjut.Kata kunci: Malformasi Dandy-Walker, kelainan kongenital, kehamilan, diagnosis prenata
Hubungan antara Kadar Hepsidin dan Kadar Hemoglobin pada Kehamilan dengan Obesitas
Tujuan: Untuk menilai kadar Hepsidin dan kadar hemoglobin menggunakan sampel darah dan selanjutnya dianalisis dengan metode ELISA.Metode: Penelitian ini merupakan kohort prospektif pada perempuan hamil dengan obesitas dan pembanding non-obesitas pada trimester pertama dan kedua di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo dan Rumah Sakit Pendidikan Jejaring pada periode Januari - Agustus 2022.Hasil: Penelitian dilakukan terhadap 44 sampel yang terdiri atas 22 sampel kelompok ibu hamil dengan obesitas dan 22 sampel ibu hamil dengan IMT normal. Pada pasien obesitas tidak didapatkan korelasi antara kadar Hepsidin dan kadar hemoglobin di trimester pertama dengan nilai p=0.097 sedangkan pada trimester kedua terdapat korelasi dengan nilai p=0.028. Pada pasien non obesitas tidak didapatkan korelasi antara kadar Hepsidin dengan kadar hemoglobin nilai p=0.489 di trimester pertama dan nilai p=0.906 di trimester kedua.Kesimpulan: Peningkatan kadar Hepsidin dan anemia dapat ditemukan pada wanita obese yang sedang hamil, terutama pada trimester kedua.The Relationship Between Hepcidin Levels And Hemoglobin Levels In Pregnancy With ObesityAbstract Objective: To compare hepcidin levels and hemoglobin levels using blood samples and further analyzed with ELISA method.Method: This study is a prospective cohort of obese pregnant women and a non-obese comparator in the first and second trimesters at RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Hospital and Networking Teaching Hospitals in the period January - August 2022.Results: The study was conducted on 44 samples consisting of 22 samples of obese pregnant women and 22 samples of pregnant women with normal BMI. In obese sample, there was no correlation between hepcidin levels and hemoglobin levels in the first trimester with a value of p=0.097 while in the second trimester there was a correlation with a value of p=0.028. In non-obese patients, there was no correlation between hepcidin levels and hemoglobin levels, p = 0.489 in the first trimester and p= 0.906 in the second trimester.Conclusion: Increased hepcidin levels and anemia can be found in obese women in the second trimester of pregnancy.Key words: Hepcidin, Obesity, Hemoglobi
Penanganan Kasus Kehamilan 32 Minggu dengan Hipertiroid Janin-Fetal Goiter
Hipertiroid pada kehamilan didefinisikan sebagai peningkatan kadar free T4. Hipertiroid terjadi pada 2/1000 kehamilan yaitu hipertiroid yang tidak terkontrol selama kehamilan meningkatkan risiko krisis tiroid, kelahiran prematur, dan kematian janin. Pasien Ny. DK 21 tahun datang dengan keluhan benjolan di leher kanan sebesar telur puyuh, hamil 21 minggu, dengan hasil USG fetal goiter. Pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum baik, suhu 36,60C; tekanan darah: 120/80 mmHg; frek. nadi: 92x/menit; frek. nafas: 20 x/menit. Pada pemeriksaan Leopold I didapatkan tinggi fundus uteri 21 cm, teraba bagian lunak. Leopold II teraba tahanan memanjang di sisi kiri kesan punggung. Leopold III teraba bagian terbawah bulat, melenting dan keras U 5/5, kesan kepala. DJJ 159x/mnt, TBJ 1240 gram. Pada pasien dilakukan observasi dan kontrol dengan rentang 2 minggu setelah pemeriksaan. Tata laksana pada pasien ini adalah asam folat, kalsium karbonat, vitamin D, propylthiouracil, folamil, dan ferrous sulfat.Management of Cases 32 Weeks Gestational Pregnancy with Fetal Hyperthyroidism-Fetal GoiterAbstractHyperthyroidism in pregnancy is defined as an increase in free T4 levels. Hyperthyroidism occurs in 2/1000 pregnancies where uncontrolled hyperthyroidism during pregnancy increases the risk of thyroid crisis, premature birth and fetal death. Patient Mrs. 21 year old DK came with complaints of a lump in her right neck the size of a quail egg, 21 weeks pregnant, with ultrasound results of fetal goiter. Physical examination revealed good general condition, temperature 36.60C; blood pressure: 120/80 mmHg; Strange. pulse: 92x/minute; Strange. breath: 20 x/minute. On examination by Leopold I, the height of the uterine fundus was 21 cm, and the soft part was palpable. Leopold II has a longitudinal resistance on the left side of the dorsal impression. Leopold III palpable lower part round, melted and hard U 5/5, head impression. DJJ 159x/minute, TBJ 1240 grams. Patients were observed and monitored at intervals of 2 weeks after the examination. Treatment for this patient is folic acid, calcium carbonate, vitamin D, propylthiouracil, folamyl and ferrous sulfate.Key words: Hyperthyroidism, fetal goiter, propylthiouraci
Overview of Midwives’ Knowledge of Postpartum Bleeding to Reduce Maternal Mortality Rate In Working Area at Pelabuhan Ratu Hospital
Introduction:The Maternal Mortality Rate indicator shows the level of risk of maternal death during pregnancy, childbirth, and the postpartum period per 100,000 live births in a given area over a certain period. According to the district health profile report, Maternal deaths in 2023 reached 792 cases or 96.89 per 100,000 live births, an increase of 114 cases compared to 2022 which recorded 678 cases. In 2022 Sukabumi district common causes of maternal death are hemorrhage 14 case and 7 case in 2023Methods:Study used a descriptive approach with a cross-sectional design involving 74 midwives. The sampling technique was random sampling. Data were obtained through the use of questionnaires that focused on the variable of knowledge about postpartum hemorrhage. Data analysis was performed using the univariate analysis method.Results:It was found of 74 midwives in the working arae of Pelabuhan Ratu Hospital, the majority were 31-35 years old (43.2%), had D3 Midwifery educational background (59.5%), and had 11-15 years of work experience (33.8%). In addition, 77% not attended PPGDON training. Most midwives (55.4%) had a good understanding of postpartum hemorrhage. Conclusion:The majority of midwives in working area at Pelabuhan Ratu Hospital have good knowledge about postpartum hemorrhage.Gambaran Pengetahuan Bidan tentang Perdarahan Pascapersalinan untuk Menurunkan Angka Kematian Ibu di Wilayah Kerja RSUD Pelabuhan RatuAbstrakPendahuluan: Indikator Angka Kematian Ibu menunjukkan tingkat risiko kematian ibu pada masa kehamilan, persalinan, dan masa nifas per 100.000 kelahiran hidup di suatu wilayah selama periode tertentu. Berdasarkan laporan profil kesehatan daerah, kematian ibu pada tahun 2023 mencapai 792 kasus atau 96,89 per 100.000 kelahiran hidup, Hal ini meningkat 114 kasus dibandingkan tahun 2022 yang tercatat 678 kasus. Di Kabupaten Sukabumi tahun 2022 penyebab kematian ibu terbanyak adalah perdarahan 14 kasus dan tahun 2023 menjadi 7 kasus.Metode: Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif dengan desain cross-sectional yang melibatkan 74 bidan. Teknik pengambilan sampelnya adalah random sampling. Data diperoleh melalui penggunaan kuesioner yang berfokus pada variabel pengetahuan tentang perdarahan postpartum. Analisis data dilakukan dengan menggunakan metode analisis univariat.Hasil: Ditemukan dari 74 bidan di wilayah kerja RS Pelabuhan Ratu, mayoritas berusia 31 – 35 (43,2%), berlatar belakang pendidikan D-3 Kebidanan (59,5%), dan memiliki pengalaman kerja 11 – 15 (33,8%). Selain itu, 77% tidak mengikuti pelatihan PPGDON. Sebagian besar bidan (55,4%) memiliki pemahaman yang baik mengenai perdarahan pascapersalinan. Kesimpulan: Mayoritas bidan di wilayah kerja RS Pelabuhan Ratu memiliki pengetahuan yang baik tentang perdarahan postpartum.Kata kunci: Bidan, Perdarahan Pascapersalinan, Pelabuhan Rat
Differences in Grade II Perinealtearswound Healing using Fresh Amniotic Membranein Post Vaginal Delivery Women in RSUD Padang Panjang Indonesia
Introduction: Perineal tear is the most common complication of vaginal delivery which has the risk of infection and discomfort, also causes insecurity.The amniotic membrane has been shown to enhance wound healing through acceleration of epithelization, angiogenetic and antibacterial effects.Objective: This study aims to determine the difference in perineal wounds healing with or without the use of amniotic membranes.Methods: This was a cohort study conducted from December 2022 to January 2023 at Padang Panjang Hospital. Patients included were aged 17- 40 years with normal BMI without any comorbid such as diabetes mellitus, hypertension and blood disorders. The procedure was done by the same person at the same place and with the same equipment.Results: There were 28 patients who were divided into two groups i.e 14 patients who were given fresh amniotic membranes and 14 patients who were not given fresh amniotic membranes. The mean age, parity, last education, body mass index and type of perineal wound were similar between groups. In this study, there was a significant difference between recovery and pain degrees on the 10th day after the procedure between the two groups, while there was no significant difference in the incidence of infection on the 10th day and pain on the 2nd day.Conclusion: Fresh amniotic membrane improves healing and reduces the pain in perineal wound patients.Perbedaan Penyembuhan Luka Perineum Grade II dengan Penggunaan Selaput Amnion Segar pada Wanita Pasca-Persalinan Ervaginam di RSUD Padang Panjang IndonesiaAbstrakPendahuluan: Robekan perineum merupakan penyebab keduater banyak perdarahan postpartum. Selaput amnion telah terbukti meningkatkan hasil penyembuhan luka melalui efek percepatan epitelisasi, angiogenetic dan antibacterial. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan penyembuhan pada luka perineum grade II dengan atau tanpa penggunaan selaput amnion. Metode: Penelitian ini merupakan jenis studikohort yang dilakukan dari Desember 2022 sampai Januari 2023 di RSUD Padang Panjang. Pasien yang diikutkan adalah pasien berusia 17 – 40 tahun dengan IMT normal tanpa adanya komorbiditas diabetes melitus, hipertensi dan kelainan darah. Penjahitan luka dan pemberian amnion dilakukan dengan operator, lokasi serta alat yang sama menggunakan PGA 2.0 teknik jelujur dan kulit dengan teknik subkutikuler. Hasil: Terdapatsebanyak 28 pasien yang dibagimenjadi dua kelompok, yaitu 14 pasien yang diberikan selaput amnion segar dan 14 pasien tidak diberikan selaput amnion segar. Reratausia, paritas, pendidikan terakhir, indeks masa tubuh, dan jenis luka perineum grade II serupa antar kelompok. Pada penelitian ini didapatkan perbedaan yang signifikan antara kesembuhan hari ke-10 dan derajat nyeri hari ke-10 pascatindakan antara kedua kelompok, sedangkan ada kejadian infeksihari ke-10 an nyerihari ke-2 tidak ditemukan perbedaan signifikan. Kesimpulan: Selaput amnion segar meningkatkankesembuhan dan menurunkannyeri pada pasiendenganluka perineum grade II.Kata kunci: Selaput amnion segar, kesembuhan, nyeri, infeksi, luka perineum grade I
Comparison of Pregnancy Outcomes with Autoimmune Rheumatic Disease and Without Autoimmune Rheumatic Disease
Introduction: It is known that pregnancies with autoimmunity have a higher risk of complications in the mother and fetus compared to pregnancies without autoimmunity. The purpose of this study was to determine the comparison between pregnancy outcomes with autoimmune rheumatic disease and without autoimmune rheumatic disease.Methods: This study is an observational analytic with a retrospective cross-sectional design. Data were obtained from all patients with pregnancy outcomes with autoimmune rheumatic disease and without autoimmune rheumatic disease at Hasan Sadikin Hospital Bandung 1 January - 31 December 2021-2023.Results: During this period, 71 pregnant women were found to be accompanied by autoimmune rheumatic diseases and then data on pregnant women without autoimmune rheumatic diseases were randomly taken as controls. In this study, it was found that pregnant women with autoimmune diseases experienced more neonatal outcomes of stunted fetal growth, namely 11(15.5%) compared to pregnant women without autoimmune rheumatic diseases, namely 2(2.8%) with a p-value of 0.009.Conclusion: This study found that pregnant women with autoimmune rheumatic disease experienced more neonatal outcomes of FGR compared to pregnant women without autoimmune rheumatism.Perbandingan Antara Luaran Kehamilan Dengan Penyakit Rhematik Autoimun Dan Tanpa Penyakit Rematik AutoimunAbstrakPendahuluan: Diketahui bahwa kehamilan dengan autoimun memiliki risiko komplikasi pada ibu maupun janin lebih tinggi dibandingkan dengan kehamilan tanpa autoimun. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbandingan antara luaran kehamilan dengan penyakit rematik autoimun dan tanpa penyakit rematik autoimunMetode: Penelitian ini bersifat analitik observasional dengan desain potong lintang retrospektif. Data diperoleh dari seluruh pasien luaran kehamilan dengan penyakit rematik autoimun dan tanpa penyakit rematik autoimun di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung 1 Januari – 31 Desember 2021-2023Hasil: Dalam periode tersebut ditemukan 71 orang ibu hamil yang disertai dengan penyakit rematik autoimun kemudian diambil data ibu hamil tanpa penyakit rematik autoimun secara random sebagai kontrol. Pada penelitian ini didapatkan ibu hamil dengan penyakit autoimun lebih banyak mengalami luaran neonatal pertumbuhan janin terhambat yaitu 11(15.5%) dibandingkan ibu hamil tanpa penyakit rematik autoimun yaitu 2(2.8%) dengan p- value0.009.Kesimpulan : Penelitian ini menemukan bahwa ibu hamil dengan penyakit rematik autoimun lebih banyak mengalami luaran neonatal pertumbuhan janin terhambat dibandingkan dengan ibu hamil tanpa rematik autoimun.Kata kunci : Luaran Maternal, Luaran Neonatal, Autoimun
Acute Fatty Liver of Pregnancy: A Rare Case Further Complicated with Disseminated Intravascular Coagulation
Introduction: An acute fatty liver of pregnancy is a rare and potentially deadly pregnancy complication. A case of acute fatty liver of pregnancy that is complicated with disseminated intravascular coagulation is hereby presented.Case Report: A 27-years old, 36 weeks pregnant female is presented with jaundice, elevated LDH and liver enzymes, and thrombocytopenia. An emergency obstetric ultrasonography examination found an unremarkable pregnancy without a placental abruption. The patient was managed conservatively and she delivered 6 days after the presentation. The neonate was treated in the neonatal intensive care unit due to a meconium aspiration. The patient suffered from a continued uterine bleeding and she was managed with the Sayeba’s technique. The laboratory work-up showed a disseminated intravascular coagulation with anemia and thrombocytopenia. The patient was treated with a packed red cell and fresh frozen plasma transfusion. The patient required an intensive care treatment. Discussion: An acute fatty liver of pregnancy is a potentially deadly complication of pregnancy and it requires a multidisciplinary, intensive support. The acute fatty liver of pregnancy symptoms are similar to those of a HELLP syndrome. An acute fatty liver of pregnancy requires a prompt delivery followed with a intensive support. Complications of an acute fatty liver of pregnancy include a hepatic failure and a disseminated intravascular coagulation which should be managed accordingly.Conclusion: An acute fatty liver of pregnancy requires a prompt diagnosis and treatment to achieve the best possible maternal outcome.Acute Fatty Liver of Pregnancy: Kasus Jarang Dengan Komplikasi Koagulasi Intravaskular DiseminataAbstrak Pendahuluan: Acute fatty liver of pregnancy adalah komplikasi kehamilan yang langka dan dapat mematikan. Laporan ini memaparkan sebuah kasus acute fatty liver of pregnancy dengan komplikasi koagulasi intravascular diseminata.Laporan Kasus: Seorang perempuan berusia 27 tahun, hamil 36 minggu datang dengan icterus, peningkatan kadar LDH dan enzim hati, serta trombositopenia. Pemeriksaan ultrasonografi obstetric di IGD menemukan kehamilan tanpa komplikasi dan tanpa solusio plasenta. Pasien ditatalaksana secara konservatif dan melahirkan 6 hari pasca-perawatan. Neonatus dirawat di ruang rawat intensif karena aspirasi meconium. Pasien mengalami perdarahan uterus dan ditatalaksana dengan kondom Sayeba. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan adanya koagulasi intravaskular diseminata dengan anemia dan trombositopenia. Pasien ditatalaksana dengan transfuse packed red cell dan fresh frozen plasma. Pasien memerlukan perawatan intensif. Pembahasan: Acute fatty liver of pregnancy adalah komplikasi kehamilan yang dapat mematikan dan memerlukan tatalaksana intensif multidisipliner. Acute fatty liver of pregnancy memiliki gejala yang menyerupai sindrom HELLP. Acute fatty liver of pregnancy ditatalaksana dengan melakukan persalinan diikuti dengan terapi intensif. Komplikasi acute fatty liver of pregnancy meliputi gagal hepar dan koagulasi intravascular diseminata yang harus ditatalaksana dengan tepat.Kesimpulan: Acute fatty liver of pregnancy memerlukan diagnosis dan tatalaksana yang cepat untuk meningkatkan luaran maternal.Kata kunci: acute fatty liver of pregnancy, koagulasi intravascular diseminata, komplikasi kehamilan
Congenital Diaphragmatic Hernia Anomaly in Multigravida at 36 Weeks Gestation with One Previous Cesarean Section, Single Live Fetus, Cephalic Presentation: Case Report
Background: Case of a multigravida at 36 weeks of gestation with one previous cesarean section carrying a single fetus was diagnosed with diaphragmatic hernia. This case aims to address the challenges posed by this complex scenario of diaphragmatic hernia and the importance of specialized care to ensure optimal maternal and fetal outcomes.Case Report: Referred from Muhammadiyah Hospital Palembang, the patient at 36 weeks of gestation with G3P2A0 status present a single live fetus and was diagnosed with diaphragmatic hernia. Following prior midwife care where fetal heartbeats were not detected, the patient was referred to Dr. Mohammad Hoesin Central General Hospital Palembang. The management plan includes a one-week follow-up and folic acid, calcium carbonate, and iron supplementation.Discussion: Congenital diaphragmatic hernia (CDH) is a developmental defect causing diaphragmatic discontinuity, diagnosed prenatally with 40% to 90% accuracy via ultrasound. The treatment aims to minimize lung hypoplasia and reduce mortality, typically performed at 26-28 weeks for severe cases and 30-32 weeks for moderate ones. The optimal delivery timing for CDH remains controversial, with lung-to-head ratio as a widely used prognostic indicator.Conclusion: Congenital diaphragmatic hernia (CDH) exhibits lower survival rates on the right side (50% vs. 75%), with lung area to head circumference ratio (LHR) as a common prognostic parameter. Recent minimally invasive techniques like FETO aim to improve prognosis by reducing pulmonary hypoplasia and mortality.Laporan Kasus: Multigravida Hamil 36 Minggu Belum Inpartu Bekas Seksio Sesarea Satu Kali Janin Tunggal Hidup Presentasi Kepala Dengan Anomali Kongenital Hernia DiafragmatikAbstrakLatar Belakang: Kasus multigravida hamil 36 minggu dengan riwayat operasi caesar janin tunggal hidup yang didiagnosis hernia diafragma. Tujuan laporan kasus ini untuk mengatasi tantangan yang ditimbulkan oleh skenario kompleks hernia diafragma dan menunjukkan pentingnya perawatan khusus untuk memastikan hasil akhir ibu dan janin yang optimal.Laporan Kasus: Pasien usia kehamilan 36 minggu dengan status G3P2A0 janin hidup tunggal dengan diagnosis hernia diafragma dirujuk dari RS Muhammadiyah Palembang setelah sebelumnya diperiksa oleh bidan dan tidak terdeteksi detak jantung janinnya sehingga memerlukan rujukan ke RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang. Rencana penatalaksanaannya mencakup tindak lanjut selama satu minggu, bersamaan dengan suplementasi asam folat, kalsium karbonat, dan zat besi.Diskusi: Hernia diafragma kongenital (CDH) merupakan kelainan perkembangan yang menyebabkan diskontinuitas diafragma dan didiagnosis sebelum lahir dengan akurasi 40% hingga 90% melalui ultrasonografi. Tatalaksana bertujuan untuk meminimalkan hipoplasia paru-paru dan mengurangi angka kematian, biasanya dilakukan pada minggu ke 26 sampai 28 untuk kasus yang parah dan 30 - 32 minggu untuk kasus yang sedang. Waktu persalinan yang optimal untuk CDH masih kontroversial, dengan rasio paru-paru sebagai indikator prognosis yang banyak digunakan.Kesimpulan: Hernia diafragmatika kongenital (CDH) menunjukkan tingkat kelangsungan hidup yang lebih rendah pada sisi kanan (50% vs. 75%), dengan rasio area paru terhadap lingkar kepala (LHR) sebagai parameter prognosis yang umum; teknik invasif minimal terkini bertujuan untuk meningkatkan prognosis dengan mengurangi hipoplasia paru dan kematian.Kata kunci: Hernia Diafragma Kongenital, Riwayat Operasi Caesar Sebelumnya, Multigravida
Hubungan 8 OHdG (8-Hydroxy-2- Deoxyguanosin) Urin Neonatus dan Preeklamsia
Pendahuluan: Preeklamsia merupakan penyakit dengan berbagai teori (disease of theory) yang menggambarkan ketidakpastian patofisiologi dan penyebabnya. preeklamsia bukan hanya menyebabkan komplikasi terhadap maternal namun juga menimbulkan komplikasi terhadap janin, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Peningkatan jumlah radikal bebas merupakan tanda terjadinya stres oksidatif pada kehamilan dengan preeklamsia. 8-OHdG adalah produk utama yang dibentuk dari radikal hidroksil pada residu guanine DNA.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik yang dikembangkan dengan desain penelitian cross-sectional. Sampel penelitian adalah neonatus yang lahir dari wanita hamil dengan dan tanpa didiagnosa preeklamsia. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling. dilakukan di Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo,dan rumah sakit jejaring pendidikan. Pengujian/running sampel dilakukan di unit Laboratorium Penelitian RSPTN Universitas Hasanuddin dengan metode Elisa. Data dianalisis dengan uji Chi squae, uji Mann whitney dan uji Kruskal wallis Hasil: Hasil penelitian yang telah dilakukan terdapat sebanyak 82 orang yang terbagi menjadi 41 orang sampel yang merupakan kelompok dengan preklamsia dan 41 orang sampel kelompok kontrol (normal). Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan mengenai kadar 8-OHdG urin neonatus (8-hydroxy-2- deoxyguanosin) pada kehamilan dengan Preeklamsia diperoleh nilai rerata kadar 8-OHdG urin neonatus pada kehamilan normal sebesar 3.79±1.99, sedangkan kehamilan dengan preeklamsia sebesar 14.25±16.81. uji statistik chi-square menunjukkan nilai p sebesar 0.00 dimana nilai p<0.05 yang artinya terdapat perbedaan kadar 8-OHdG urin neonatus terhadap kejadian preeklamsia dan ibu hamil normal pada penelitian ini. Kesimpulan: Terdapat perbedaan yang signifikan bermakna kadar 8-OHdG urin neonatus yaitu lebih tinggi kadar pada ibu hamil penderita preeklamsia daripada ibu hamil normal.Relationship Between 8 OHdG (8-Hydroxy-2- Deoxyguai›osine) in Neonate Urine and PreeclampsiaAbstractIntroduction: Preeclampsia is a disease with various theories (disease of theory) that describes the uncertainty of its pathophysiology and causes. Preeclampsia not only causes complications for the mother but also causes complications for the fetus, both short and long term. An increase in the number of free radicals is a sign of oxidative stress in preeclampsia. 8-OHdG is the main product formed from hydoxyl radicals in DNA guanine residues. Method: The research was an analytical study developed with a cross-sectional research design. The research sample was neonates born to pregnant women with and without a diagnosis of preeclampsia. The sample was determined by using purposive sampling technique carried out at Wahidin Sudirohusodo Hospital and educational network hospitals. Sample testing was carried out at Hasanuddin University RSPTN Research Laboratory unit using Elisa method. Data were analyzed using Chi square test, Mann Whitney test, and Kruskal Wallis test. Results: The research was carried out to 82 people who were divided into 41 samples in the group with preeclampsia and 41 samples in the control group (normal). Based on the results of research that has been carried out regarding the level of 8-OHdG in neonate urine (8-hydroxy-2-deoxyguanosine) in pregnancies with preeclampsia, the mean value of 8-OHdG level in neonate urine in normal pregnancies is 3.79 z 1.99, while the one in pregnancies with preeclampsia it is 14.25 z 16.81. The chi-square statistical test shows a p value 0.00 which p value <0.05, which means that there is a difference in the level of 8-OHdG in neonate urine in the occurrence of preeclampsia and normal pregnant women. Conclusion: There is a significant difference between the level of 8-OHdG in neonate urine, where the level is higher in pregnant women with preeclampsia than in normal pregnant women.Key words: 8-OHdG, neonate urine, preeclampsi
Dengue Hemorrhagic Fever and its Effect on the Pregnancy Outcomes: A Case Series
Background: Dengue fever in pregnancy is associated with a more severe presentation and an increased risk of adverse obstetric and neonatal outcomes. We describe three cases of dengue fever in pregnancy with different fetal outcomes (intrauterine fetal death, fetal distress, and healthy neonate). Case Illustration: The first case involves a 23-year-old G1P0A0 at 31-32 weeks of gestation complaining of reduced fetal movement. She presented with a high-grade fever, anaemic, and thrombocytopenic. Her liver function was increased with AST 447 U/L and ALT 403 U/L. The fetal heart rate could not be detected. The second case involves a 26-year-old G3P2A0 at term pregnancy complaining of labor pain. She presented with vaginal bleeding, high-grade fever, and vomiting five days prior. Her liver function was also increased (AST 301 U/L and ALT 298 U/L). At presentation, fetal distress was detected. The third case involves a 19-year-old G2P1A0 presented with high-grade fever and nausea for five days. Her liver function was moderately increased (AST 68 U/L and ALT 76 U/L). She delivered a 3050-gram healthy neonate vaginally. Discussion: Dengue fever causes adverse obstetric outcomes. Endothelial injury exacerbated by plasma loss leads to placental dysfunction and poor fetal conditions. Unfortunately, dengue fever in pregnancy is not yet specifically addressed in our national guidelines. Conclusion: Increased severity of dengue fever in pregnancy may cause poor maternal and fetal outcomes.Demam Berdarah Dengue dan Dampaknya terhadap Luaran Kehamilan: Sebuah Serial KasusAbstrakPendahuluan: Demam berdarah dengue pada kehamilan terkait dengan tingkat keparahan penyakit dengue yang lebih berat dan meningkatnya risiko komplikasi obstetrik dan neonatus. Serial kasus ini menyajikan tiga kasus demam berdarah pada kehamilan dengan luaran janin yang berbeda (kematian janin intrauterine, gawat janin, dan neonatus sehat). Presentasi Kasus: Kasus pertama, G1P0A0 gravida 31 – 32 minggu, berusia 23 tahun, datang dengan keluhan utama berkurangnya gerakan janin. Keluhan demam, nyeri retro-orbital, mual, dan muntah dirasakan sejak 4 hari sebelumnya. Terdapat tanda konjungtiva anemis, trombositopenia, dan fungsi liver meningkat (AST 447 U/L dan ALT 403 U/L). Detak jantung janin tidak terdeteksi. Kasus kedua, G3P2A0 gravida aterm, 26 tahun, datang dengan keluhan mules-mules, perdarahan jalan lahir, demam, mual, dan muntah dirasakan sejak 5 hari sebelumnya. Pasien mengalami trombositopenia dan peningkatan fungsi liver (AST 301 U/L dan ALT 298 U/L). Pemeriksaan janin menunjukkan tanda gawat janin. Kasus ketiga, G2P1A0 gravida aterm, 19 tahun, datang dengan keluhan utama mules-mules. Keluhan demam dan mual dirasakan sejak 5 hari. Pemeriksaan menunjukkan trombositopenia dan fungsi liver sedikit meningkat (AST 68 U/L dan ALT 76 U/L). Pasien melahirkan neonatus sehat secara spontan dengan berat 3050 gram.Diskusi: Kebocoran plasma merupakan pencetus dari kerusakan endotel sehingga dapat mengakibatkan disfungsi plasenta dan kondisi janin memburuk. Namun, belum ada panduan resmi tatalaksana demam berdarah pada kehamilan di Indonesia.Kesimpulan: Meningkatnya tingkat keparahan demam berdarah pada kehamilan menyebabkan luaran maternal dan neonatus yang buruk.Kata kunci: Demam dengue, maternal, fetus, luaran, kehamila