OBGYNIA - Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
Not a member yet
371 research outputs found
Sort by
The Challenge in Differentiating Acute Fatty Liver of Pregnancy from Other Hepatic Disorders in Parturient Women – A Case Report
Introduction: Liver disorder during pregnancy can arise from pregnancy-related factors or other underlying causes. One significant example is Acute Fatty Liver of Pregnancy (AFLP), a rare but life-threatening obstetric emergency that typically occurs in the third trimester or early postpartum period. Diagnosis of AFLP is carried out using the Swansea criteria, and its clinical management varies depending on the severity of the condition.Case Illustration: A 23-year-old woman, at 33-34 weeks of gestation in a multifetal pregnancy, presented with abdominal contractions and jaundice. The patient was diagnosed with AFLP using the Swansea criteria, Following the diagnosis, the patient delivered twins and received multidisciplinary care. After seven days of inpatient care, jaundice improved, symptoms resolved, and there were no signs of coagulation disorders.Discussion: AFLP is a rare condition that normally occurs in the third trimester, with risk factors including multiple pregnancies and metabolic disorders. Symptoms can be nonspecific but may lead to acute liver failure, thereby timely diagnosis and management are crucial. Treatment primarily involves prompt delivery and supportive care to manage complications such as hypoglycemia and renal failure.Conclusion: Early identification of AFLP can be challenging due to its similarities with other conditions, but the Swansea criteria can help assess its severity and potential complications for both mothers and fetuses.Tantangan dalam Membedakan Acute Fatty Liver dalam Kehamilan dengan Penyakit Hati Lainnya pada Wanita Parturien – Sebuah Laporan KasusAbstrakPendahuluan: Penyakit hati selama kehamilan dapat berkaitan dengan kehamilan atau memiliki penyebab lain. AFLP, sebuah keadaan darurat obstetri yang langka dan mengancam jiwa yang terjadi pada trimester ketiga atau periode postpartum awal, didiagnosis menggunakan kriteria Swansea dan memerlukan penanganan klinis yang bervariasi karena spektrum keparahannya. Ilustrasi Kasus: Seorang wanita berusia 23 tahun pada usia kehamilan 33 - 34 minggu dengan kehamilan multifetal datang dengan kontraksi abdomen dan jaundice. Pasien terdiagnosis acute fatty liver of pregnancy (AFLP) dengan menggunakan kriteria Swansea. Pasien melahirkan bayi kembar dan menerima perawatan multidisiplin pascasalin. Setelah tujuh hari perawatan rawat inap, jaundicenya membaik, dan gejalanya menghilang, tanpa tanda-tanda gangguan koagulasi. Diskusi: AFLP adalah kondisi langka yang biasanya terjadi pada trimester ketiga, dengan faktor risiko termasuk kehamilan ganda dan gangguan metabolik. Gejalanya tidak spesifik, tetapi dapat menyebabkan gagal hati akut sehingga diagnosis dan penanganan yang tepat waktu sangat penting. Perawatan utamanya melibatkan persalinan yang cepat dan perawatan suportif untuk menangani komplikasi seperti hipoglikemia dan gagal ginjal.Kesimpulan: Identifikasi dini AFLP bisa menjadi tantangan karena kesamaannya dengan kondisi lain, tetapi kriteria Swansea dapat membantu menilai keparahan dan komplikasi potensial bagi ibu dan janin.Kata kunci: Acute Fatty Liver pada Kehamilan; Diagnosis ; Parturien; Penyakit Hat
Neutrophil-lymphocyte Ration Difference in Squamous Cell Carcinoma and Adenocarcinoma of Cervical Cancer
Introduction: Cervical cancer is the most commonly found malignancy in female reproductive system. There are two most found types of this cancer based on histopathologic finding, adenocarcinoma and squamous cell carcinoma (SCC). Each type has different outcome, especially in later stages. Neutrophil-lymphocyte ratio (NLR) is an indicator that can pinpoint the inflammation severity level, hence able to predict outcome and prognosis in malignancy, including cervical cancer.Objective: This study aimed to determine the difference of NLR in both types of cervical cancer Methods: This study used retrospective analytic observational with cross-sectional design. Data was sampled from Prof. dr. Margono Soekarjo General Regional Hospital medical record from patients diagnosed with cervical cancer of both types during January to December 2022. Mann-Whitney test was performed to determine the difference of NLR value between both types of cervical cancer. Result: Between January and December 2022, 68 patients were diagnosed with cervical cancer. Of these, 37 (54.41%) had squamous cell carcinoma (SCC) and 31 (45.59%) had adenocarcinoma. The neutrophil-to-lymphocyte ratio (NLR) ranged from 1.55 to 25.99 in SCC patients, with a mean value of [insert mean value here]. For adenocarcinoma patients, the NLR ranged from 1.32 to 11.99. Conclusion: Neutrophil-lymphocyte ratio can’t differentiate squamous cell carcinoma and adenocarcinoma of cervival cancer.Perbedaan Rasio Neutrofil Limfosit pada Kanker Serviks Tipe Karsinoma Sel Skuamosa dan Tipe AdenokarsinomaAbstrakPendahuluan: Kanker serviks merupakan keganasan yang paling banyak ditemukan pada sistem reproduksi wanita. Berdasarkan temuan histopatologi, terdapat dua jenis kanker serviks yang paling banyak ditemukan, yaitu adenokarsinoma dan karsinoma sel skuamosa (SCC). Setiap jenis memiliki hasil yang berbeda, terutama pada tahap selanjutnya. Rasio neutrofil-limfosit (NLR) merupakan salah satu indikator yang dapat digunakan untuk mengetahui tingkat keparahan inflamasi sehingga dapat memprediksi outcome dan prognosis pada suatu keganasan, termasuk kanker serviks.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan NLR pada kedua jenis kanker serviks Metode: Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik retrospektif dengan desain cross-sectional. Data diambil dari rekam medis RSUD Prof. dr. Margono Soekarjo mengenai pasien yang terdiagnosis kanker serviks kedua jenis tersebut selama bulan Januari hingga Desember 2022. Uji Mann-Whitney dilakukan untuk mengetahui perbedaan nilai NLR antara kedua jenis kanker serviks tersebut. Hasil: Antara Januari dan Desember 2022, terdapat 68 pasien yang terdiagnosis kanker serviks. Dari jumlah tersebut, 37 (54,41%) menderita karsinoma sel skuamosa (SCC) dan 31 (45,59%) menderita adenokarsinoma. Rasio neutrofil terhadap limfosit (NLR) berkisar antara 1,55 hingga 25,99 pada pasien SCC, dengan nilai rata-rata [masukkan nilai rata-rata di sini]. Untuk pasien adenokarsinoma, NLR berkisar antara 1,32 hingga 11,99. Kesimpulan: Rasio neutrofil-limfosit tidak dapat membedakan karsinoma sel skuamosa dan adenokarsinoma kanker serviks.Kata kunci: Adenokarsinoma, Kanker Serviks, Rasio Neutrofil-Limfosit
Neglected Traumatic Vulvar Hematoma: A Case Report
Introduction: Vulvar hematoma is a rare condition that can arise from many causes. In serious cases, the patient is hemodynamically unstable and requires immediate treatment. Multiple factors from patients and health care providers impact the outcome. Case Illustration: P0A0 60-year-old woman presented to the outpatient clinic with a painful lump in her vulva for 1 month after trauma and observation in primary care. She had previously consumed anticoagulants for venous insufficiency. Her family’s socioeconomic status was relatively poor. She did not have a complete comprehension of her illness. Physical examination revealed left major labia hematoma with a size of 5 x 10 cm, which was confirmed with ultrasonography. Incision and clot evacuation were performed under general anesthesia and showed a good outcome. Discussion: Vulva is an external part of female genitalia composed of smooth muscle and loose connective tissue with rich vascularization. This organ is prone to hematoma, and there is no consensus published yet. In this patient, the treatment was delayed for 1 month because of a failure to disseminate a clear care plan combined with the patient’s low literacy. Conclusion: Vulvar hematoma is a rare case that can be treated with a conservative, surgical, or embolization approach. Neglected cases can become chronic hematomas that lead to difficulties in diagnosis. A clear care plan should be successfully disseminated to the patient despite many communication challenges to ensure fast and appropriate medical treatment.Hematoma Vulva Traumatik Terbengkalai : Laporan KasusAbstrak Pendahuluan: Hematoma vulva adalah kasus jarang yang dapat timbul karena berbagai macam penyebab. Pada kasus yang berat, pasien dapat mengalami hemodinamik yang tak stabil dan memerlukan tatalaksana secepatnya. Berbagai macam faktor dari pasien dan tenaga kesehatan mempengaruhi hasil pengobatan.Ilustrasi Kasus: Wanita P0A0 usia 60 tahun datang ke poliklinik dengan benjolan yang menyebabkan nyeri pada vulva 1 bulan pasca trauma yang telah diobservasi di pelayanan primer. Pasien sebelumnya mengkonsumsi antikoagulan untuk insufisiensi vena. Sosioekonomi keluarga pasien relatif rendah. Pemeriksaan fisik menunjukkan hematoma labia mayor berukuran 5 x 10 cm yang dikonfirmasi dengan ultrasonografi. Pada pasien ini dilakukan insisi dan evakuasi gumpalan darah dibawah anestesi umum yang menunjukkan hasil yang baik. Diskusi: Vulva adalah organ genitalia eksternal wanita yang tersusun atas otot polos dan jaringan ikat longgar yang kaya vaskularisasi. Organ ini rentan mengalami hematoma dan saat ini belum terdapat konsensus. Penanganan pada pasien ini terlambat selama 1 bulan karena rencana penanganan yang tidak tersampaikan kepada pasien yang memiliki literasi kesehatan rendah. Kesimpulan: Hematoma vulva adalah kasus jarang yang dapat ditangani secara konservatif, pembedahan, maupun embolisasi. Kasus terbengkalai dapat menjadi hematoma kronis yang menyulitkan dalam diagnosis. Rencana penatalaksanaan yang jelas harus diberikan kepada pasien dengan segala kesulitan komunikasi demi tatalaksana yang cepat dan tepat.Kata kunci: hematoma vulva, terbengkalai, pemahaman kesehatan, literasi kesehatan renda
Analisis Pergerakan Leher Kandung Kemih, Ukuran Genital Hiatus, Titik Aa dan Ba pada POP-Q dengan Retensio Urin pada Pasien Pasca-Perbaikan Prolaps Organ Panggul
Pendahuluan:Retensio urin pasca-operasi merupakan kejadian yang sering terjadi setelah operasi perbaikan prolaps organ panggul (POP), dengan angka kejadian berkisar antara 2,5 – 24%. Parameter yang digunakan untuk mengevaluasi pergerakan kandung kemih dan gangguan berkemih yaitu penurunan leher kandung kemih, sudut retrovesika, dan rotasi uretra. Tujuan untuk mengetahui hubungan antara profil leher kandung kemih, ukuran genital hiatus, dan titik Aa dan Ba pada POP-Q terhadap retensio urin pasca-perbaikan prolaps organ panggul.Metode: Penelitian observasional analitik ini menggunakan pendekatan rancangan potong lintang pada wanita yang menjalani operasi POP di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Juni–November 2023.Hasil: Penurunan leher kandung kemih, sudut retrovesika, rotasi uretra, dan ukuran genital hiatus diukur dengan ultrasonografi. Titik Aa dan Ba diukur dengan skoring POP-Q, kemudian dilakukan pengukuran post-void residual volume. Ditemukan rata-rata usia pasien adalah 60±9 tahun. Sebagian besar subjek penelitian merupakan POP stadium III.Kesimpulan:Tidak terdapat perbedaan bermakna antara karakteristik subjek penelitian (p>0,05). Tidak terdapat perbedaan bermakna antara parameter leher kandung kemih, sudut retrovesika, rotasional uretra, ukuran urogenital hiatus, skor POP-Q titik Aa dan Ba terhadap volume PVR (p>0,05). Titik Ba pada POP-Q berkorelasi signifikan terhadap volume PVR pasca-perbaikan prolaps organ panggul.Analysis of Bladder Neck Movement Profile, Genital Hiatus Size, Points Aa and Ba on POP-Q with Urinary Retention in Post Pelvic Organ Prolapse Repair PatientsAbstract Introduction: Postoperative urinary retention is a common following surgical repair of pelvic organ prolapse (POP), with the incidence ranges between 2.5–24%. This study aimed to determine the relationship between bladder neck profile, genital hiatus, and Aa and Ba points in POP-Q on the incidence of urinary retention after repair of pelvic organ prolapse. Method: This analytical observational study was done with a cross-section design and included women underwent repair of pelvic organ prolapse at RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung in June–November 2023. Results: Bladder neck descent, retrovesical angle, urethral rotation, and genital hiatus were measured by ultrasonography. Points Aa and Ba were measured using POP-Q scoring, then post-void residual volume was measured. The patients had a mean age of 60±9 years. Most of the subjects were stage III POP. Conclusion: There were no significant differences between bladder neck descent, retrovesical angle, urethral rotation, urogenital hiatus, POP-Q scores points Aa and Ba and PVR volume (p>0.05). Point Ba on POP-Q was significantly correlated with PVR volume after pelvic organ prolapse repair.Key words: pelvic organ prolapse, post-void residual volume, urinary retention, rectovesical angle, urogenital hiatu
Complex Obstetric Case Report: Multigravida at 36 Weeks with Imminent Premature Delivery, Hansen's disease, and Prior Cesarean Section
Hansen’s disease, or leprosy, is a chronic granulomatous infection caused by the obligate intracellular bacterium Mycobacterium leprae. Pregnancy triggers leprosy in 10–25% of women because of immune disturbances, which affect the disease’s course. This study reports the case of a 26-year-old pregnant woman who presented with the chief complaint of abdominal cramps with a contraction every 10 min. The patient admitted to experience vaginal discharge since the onset of pregnancy, without itching or odor. She also revealed a history of leprosy since 2020, which manifested as lumps around the ears, face, and legs, along with numbness at the extremities. She started treatment in 2021 with multi-drug therapy (MDT) but self-discontinued at 14 weeks of pregnancy because of nausea and weakness. The management plan includes dexamethasone ( 12 mg ) intramuscularly to enhance fetal lung maturity, nifedipine ( 10 mg ) every 6 h to suppress preterm contractions, and dermatovenereological assessment to address the patient’s history of Hansen’s disease. A joint conference is planned to discuss and coordinate the management approach. This study underscores the importance of proper management with WHO-recommended multidrug therapy (MDT) comprising rifampicin, dapsone, and clofazimine. Overall, effective management strategies are crucial to prevent permanent nerve, skin, limb, and eye damage in mothers and infants affected by leprosy.Laporan Kasus: Multigravida Hamil 36 Minggu dengan Partus Prematurus Imminens, Morbus Hansen, dan Bekas Sectio CessariaAbstrakPenyakit Hansen, atau lepra, adalah infeksi granulomatosis kronis yang disebabkan oleh bakteri intraselular obligat Mycobacterium leprae. Kehamilan memicu kusta pada 10–25% wanita karena adanya gangguan imunitas yang memengaruhi perkembangan penyakit. Studi ini melaporkan kasus seorang wanita hamil berusia 26 tahun yang datang dengan keluhan utama nyeri perut dengan kontraksi setiap 10 menit. Pasien mengakui mengalami keluarnya cairan vagina yang tidak bau maupun disertai gatal sejak awal kehamilan. Pasien memilliki riwayat penyakit Hansen sejak 2020, yang ditandai dengan benjolan di sekitar telinga, wajah, dan kaki, bersama dengan mati rasa di ujung anggota tubuh. Pasien memulai pengobatan pada 2021 dengan multidrug therapy (MDT) tetapi menghentikannya sendiri pada usia kehamilan 14 minggu karena mual dan rasa lemah yang dirasakan. Rencana tatalaksana mencakup pemberian Deksametason 12 mg intramuskular untuk meningkatkan kematangan paru-paru janin, Nifedipin 10 mg setiap 6 jam untuk menekan kontraksi prematur, dan evaluasi dermatovenereologi untuk mengatasi riwayat penyakit Hansen pada pasien. Konferensi bersama direncanakan untuk membahas dan mengkoordinasikan pendekatan pengelolaan. Studi ini menekankan pentingnya pengelolaan yang tepat, dengan MDT yang direkomendasikan oleh WHO yang terdiri dari rifampisin, dapsone, dan clofazimin. Secara keseluruhan, strategi pengelolaan yang efektif sangat penting untuk mencegah kerusakan saraf, kulit, mata, dan anggota tubuh permanen baik pada ibu maupun bayi yang terkena penyakit ini.Kata kunci: Penyakit Hansen, persalinan prematur, diagnosis.
Leiomioma Uteri Besar pada Wanita dengan Grande Multipara dan Pasca-Menopause di Rumah Sakit Umum Daerah Ciamis : Sebuah Laporan Kasus
Pendahuluan: Leiomyoma uteri, merupakan neoplasma jinak yang berasal dari otot rahim. Leiomyoma uteri biasanya tumbuh selama usia 30 - 50 tahun, dan kemudian stabil atau menurun setelah menopause. Namun, terdapat beberapa laporan mengenai sejumlah besar pasien yang telah menjalani operasi leiomyoma uteri selama periode pasca-menopause.Presentasi Kasus: Kami melaporkan kasus wanita dengan grande multipara berusia 58 tahun dan pasca-menopause dengan keluhan utama perut terasa membesar sejak 1 tahun. Pasien termasuk kedalam kategori obesitas tipe 2 dengan pemeriksaan tanda vital dalam batas normal dan Pemeriksaan abdomen di dapatkan massa yang mobile dengan ukuran uterus sebesar usia kehamilan 8 bulan yang terbentang di garis tengah tubuh area abdomen. Pada pemeriksaan USG di temukan adanya massa hipoekoik pada uterus. Dilakukan tatalaksana operatif pada pasien dengan giant leiomyoma uteri dengan berat 5 kg tanpa keluhan kompresi yaitu potongan beku, dan total abdominal histerektomi dengan bilateral salpingo-oophorectomy. Hasil pemeriksaan patologi anatomi yaitu tumor jinak leiomyoma uteri intramural.Kesimpulan: Leiomioma sangat umum dan diasumsikan akan hilang seiring dengan di mulainya menopause. Penyebab terjadinya leiomyoma uteri di sebabkan karena interaksi berbagai variasi faktor risiko di antaranya usia, paritas, obesitas, merokok, hipertensi, diet, stress, riwayat kontrasepsi oral yang dapat menstimulasi peningkatan hormon estrogen dan progesterone yang meningkatkan pertumbuhan leiomyoma uteri secara definitif masih belum dapat di simpulkan.Giant Uterine Leiomyoma in Grand Multiparity and Post Menopause Woman at Ciamis Regional General Hospital : A Case ReportAbstractIntroduction: Leiomyoma Uterine, are benign neoplasms originating from the uterus. Uterine leiomyomas typically grow during the age 30 to 50 years of age, and then stabilize or regress after menopause. However, there have been several reports of a considerable number of patients who have undergone surgery for uterine leiomyomas during the postmenpause period. Case Presentation: We report the case of 58 year old female grand multiparity and post menopause with chief complaining of a fast expanding lump in her belly over the past year. Patient categorized a type two obesity, her vital sign was normal and during the abdominal examination a moveable mass that could have been an 8 month pregnancy was felt in the midline of the abdominal area. On ultrasound examination, it was found that there was a hypoechoic mass in uterine. A frozen section, a bilateral salpingo-oophorectomy, and total abdominal hysterectomy were performed for giant uterine leiomyoma weighing 5 kg without compression symptoms. The results of the histology suggested a benign intramural uterine leiomyoma. Conclusion: Leiomyomas are very common and the assumption that they will resolve with the onset of the menopause. The occurrence of uterine leiomyomas was the result of mutual interaction among various factors including age, parity, obesity, smoking, blood pressure, diet, stress, oral contraceptive but whether some of the risk factors can promote estrogen and progesterone to induce uterine leiomyomas has no definitive conclusion.Key words: Giant Leiomyoma; Post Menopause
Comparison of Neonates Outcome in Patients with Early and Late Onset of Preeclampsia at Margono Hospital Purwokerto in the Period June-December 2022
Introduction: Preeclampsia affects 5% to 7% of pregnant women globally and is responsible for more than 70,000 maternal deaths and 500,000 fetal deaths worldwide each year. Preeclampsia has the highest morbidity and mortality rate. There are two subtypes of preeclampsia based on the onset: early-onset preeclampsia (<34 weeks of gestation) and late-onset preeclampsia (≥34 weeks of gestation). The difference in preeclampsia onset may result in different neonatal outcomes.Objective: This study aims to evaluate the neonate outcomes in patients with early-onset and late-onset preeclampsia and see whether there is a significant difference between those variables.Methods: The research was conducted at Margono Hospital in Purwokerto, Indonesia. The research design used is observational analytic with a cross-sectional method. The research subjects are 106 pregnant women with preeclampsia who gave birth at Margono Hospital from June to December 2022. Data analysis used is the Mann-Whitney and Chi-square statistical test with a 95% confidence level.Results: The study subjects, consisting of 38 subjects with early onset preeclampsia and 68 subjects with late-onset preeclampsia, showed a significant difference between the onset of preeclampsia and neonatal outcomes, as indicated by birth weight, birth length, APGAR scores, NICU admission, and status of the neonate at discharge, with p-values <0.05.Conclusion: The onset of preeclampsia affects the outcome of neonates.Perbandingan Luaran Neonatus pada Pasien dengan Preeklampsia Awitan Dini dan Awitan Lambat di Rumah Sakit Margono Purwokerto pada Periode Juni-Desember 2022Abstrak Pendahuluan: Preeklamsia terjadi pada 5% hingga 7% wanita hamil di seluruh dunia dan bertanggung jawab atas lebih dari 70.000 kematian ibu dan 500.000 kematian janin di seluruh dunia setiap tahunnya. Preeklampsia menempati penyakit dengan angka morbiditas dan mortalitas tertinggi, Terdapat dua subtipe preeklampsia berdasarkan awitannya: preeklamsia awitan dini (usia kehamilan <34 minggu) dan preeklamsia awitan lambat (≥34 minggu kehamilan). Perbedaan awitan preeklampsia dapat mengakibatkan luaran neonatus yang berbeda.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perbendingan luaran neonatus pada pasien dengan preeklampsia awitan dini dan preeklampsia awitan lambat serta menganalisis perbedaan yang bermakna antara variabel tersebut. Metode: Penelitian dilakukan di RS Margono Purwokerto, Indonesia. Desain penelitian yang digunakan adalah analitik observasional dengan metode cross-sectional. Subjek penelitian ini adalah 106 wanita yang melahirkan di RS Margono Purwokerto dengan diagnosis preeklampsia pada bulan Juni – Desember 2022. Analisis data menggunakan uji statistik Mann Whitney dan Chi-square dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil: Subjek penelitian terdiri atas 38 subjek dengan preeklampsia awitan dini dan 68 subjek dengan preeklampsia awitan lambat. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna antara awitan preeklampsia dan luaran neonatus digambarkan dari berat badan lahir, panjang badan lahir, skor APGAR, perawatan NICU, dan kondisi neonatus saat pulang dari rumah sakit dengan nilai p<0.05. Kesimpulan: Awitan preeklampsia berpengaruh terhadap luaran neonatus.Kata kunci: Awitan preeklampsia, luaran neonatus, preeklampsi
The Analysis of Premature Rupture of Membrane Outcomes: Comparison Between 34-36 Weeks and Term Gestation
Introduction: This study analysed the maternal and neonatal outcomes in premature rupture of membrane at 34-36 weeks of gestation compared to term gestation to provide an overview of the current protocol’s efficacy which is currently widely varied. Method: This was a cross-sectional study using a simple random sampling technique. The subject of this study consisted of a total of 450 pregnant women diagnosed with PPROM at 34-36 weeks and term gestation during the period January 2019-December 2021. P<0.05 was considered statistically significant. Results: That women with premature rupture of membrane (PROM) at term gestation had a higher risk of 1.13 times (OR= 1.13, CI 95%) for neonatal asphyxia, 1.34 times for early neonatal death (OR= 1.34, CI 95%), and 4.03 times for developing clinical chorioamnionitis (OR= 4.03, CI 95%) compared to the 34-36 weeks of gestation group. There was no statistically significant difference between gestational age and the incidence of early neonatal death (P= 0.70). There were no maternal deaths in this study. Conclusion: the management protocol applied for both groups had the same efficacy. The incidence of clinical chorioamnionitis was higher in the term gestation group, which may be associated with risk factors such as COVID-19 and hepatitis B.Analisis Hasil Ketuban Pecah Dini: Perbandingan Antara Usia Kehamilan 34-36 Minggu dan Masa Kehamilan Cukup BulanAbstrakPendahuluan: Penelitian ini menganalisis hasil maternal dan neonatal pada ketuban pecah dini pada usia kehamilan 34 - 36 minggu dibandingkan dengan kehamilan jangka panjang untuk memberikan gambaran tentang kemanjuran protokol saat ini yang sangat bervariasi. Metode: Penelitian ini adalah studi cross-sectional menggunakan teknik simple random sampling. Subjek penelitian ini terdiri atas total 450 wanita hamil yang didiagnosis dengan PROM pada 34 - 36 minggu dan kehamilan jangka panjang selama periode Januari 2019 - Desember 2021. P<0,05 dianggap signifikan secara statistik. Hasil: hasil analisis menunjukan bahwa wanita dengan ketuban pecah dini pada usia kehamilan memiliki risiko lebih tinggi 1,13 kali (OR= 1,13, CI 95%) untuk asfiksia neonatal, 1,34 kali untuk kematian neonatal dini (OR= 1,34, CI 95%), dan 4,03 kali untuk mengembangkan chorioamnionitis klinis (OR= 4,03, CI 95%) dibandingkan dengan kelompok kehamilan 34 - 36 minggu. Tidak ada perbedaan yang signifikan secara statistik antara usia kehamilan dan kejadian kematian neonatal dini (P = 0,70). Tidak ada kematian ibu dalam penelitian ini. Kesimpulan: Protokol manajemen yang diterapkan untuk kedua kelompok memiliki kemanjuran yang sama. Insiden chorioamnionitis klinis lebih tinggi pada kelompok kehamilan, yang mungkin terkait dengan faktor risiko seperti COVID-19 dan hepatitis B.Kata kunci: Ketuban pecah dini, asfiksia, kematian neonata
Tatalaksana Vaginismus dalam Pendekatan Multimodalitas
Vaginismus didefinisikan sebagai gangguan penetrasi di mana segala bentuk penetrasi vagina seringkali menyakitkan atau tidak mungkin. Secara tradisional disebut sebagai kontraksi otot dasar panggul yang tidak disengaja karena rasa sakit yang sebenarnya atau yang diantisipasi terkait dengan penetrasi vagina. Definisi vaginismus baru-baru ini berubah, dan edisi kelima dari Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders mencirikannya sebagai subset dari “Genito-Pelvic Pain/Penetration disorder” daripada vaginismus. Tingkat prevalensi vaginismus dalam pengaturan klinis telah diperkirakan 5% sampai 17%, dan diyakini sebagai salah satu disfungsi seksual wanita yang lebih umum. Faktor psikologis yang berbeda berkaitan dengan vaginismus, seperti pengalaman seksual traumatis, pelecehan seksual, agama yang ketat dan/atau seksual yang ketat. masalah pengasuhan, ketakutan dan/atau kecemasan dan ditahan di usia muda selama kateterisasi atau enema, tetapi tidak selalu terkait dengan masalah psikologis dan beberapa pasien memberikan riwayat negatif untuk faktor-faktor tersebut. Vaginismus adalah gangguan psikologis yang dimanifestasikan oleh ketakutan dan kecemasan terhadap penetrasi dan gangguan fisik yang ditandai dengan kejang vagina dan berbeda dari gangguan nyeri seksual lainnya seperti vulvodynia atau vestibulodynia