Jurnal Online Politeknik Negeri Lampung
Not a member yet
1980 research outputs found
Sort by
Optimalisasi Pertumbuhan Ikan Nila melalui Penambahan Tepung Daun Kelor (Moringa oliefera) pada Pakan dalam budidaya Teknologi Bioflok
Pertumbuhan ikan nila bergantung pada asupan nutrisi dalam pakan dan kualitas air selama masa pemeliharaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan tepung daun kelor dalam pakan terhadap performa pertumbuhan ikan nila yang dibudidayakan dengan teknologi bioflok. Rancangan penelitian yang digunakan yaitu rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Metode yang digunakan yaitu menambahkan proporsi tepung daun kelor 0%, 4%, 6%, dan 8% ke dalam pakan komersial yang telah dihancurkan, kemudian pakan tersebut dicetak kembali (repelleting). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh nyata (P<0,05) pada penambahan tepung daun kelor ke dalam pakan terhadap performa pertumbuhan ikan nila. Penambahan tepung daun kelor 8% merupakan proporsi yang paling optimum karena memiliki performa pertumbuhan terbaik yaitu berat mutlak (18,6±1,47 g), panjang mutlak (3,76±0,41cm), pertumbuhan harian (0,31± 0,03 g/hari), dan konversi pakan (1,74± 0,08)
RESPON VARIETAS TEBU UNGGUL BARU TERHADAP PEMBERIAN NANO SILIKA DAN CEKAMAN KEKERINGAN
The development pattern of sugarcane on the island of Java has shifted to dry land because rice fields are prioritized for other food crops. Dryland generally has low to moderate fertility rates and water availability is a limiting factor. Silicate (Si) is a beneficial nutrient for sugarcane and is absorbed in greater quantities than other nutrients. Si also can avoid damage to plants against abiotic stress such as drought. This study aims to test several new high-yielding sugarcane varieties under drought conditions and their responses to Si fertilization. The design used was three-factor RAK, namely the concentration of nano-silica fertilizer (0%; 30%; 45%), watering intensity (regular watering; no watering from 45 DAS), and new high yielding sugarcane varieties (BL; NX 01; NX 02; NX 03; VMC 86-550). The observation variables included stover fresh weight, root fresh weight, root length, and stover dry weight. The data obtained were analyzed by ANOVA at a 95% confidence level. If it is significantly different, continue with the 5% LSD test. Based on the results of this study, it was shown that the new superior sugarcane variety, namely VMC 86-550, was drought tolerant, indicated by the best average growth in almost all observed parameters. The concentration of nano-silica fertilizer 45% for 2 times the application showed the best growth of sugarcane. The treatment interaction between drought and variety had a significant effect on the wet weight of stover and root length of sugarcane. Treatment of nano-silica had a significant effect on the dry weight of sugarcane stover.
Pola pengembangan tebu di Pulau Jawa beralih ke lahan kering disebabkan lahan sawah diprioritaskan untuk tanaman pangan yang lain. Lahan kering umumnya mempunyai tingkat kesuburan yang rendah sampai sedang dan ketersediaan air sebagai faktor pembatas. Silikat (Si) merupakan unsur hara bermanfaat bagi tanaman tebu dan diserap dalam jumlah yang lebih besar dari unsur hara lainnya. Si juga dapat menghindari kerusakan tanaman terhadap cekaman abiotik seperti kekeringan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji beberapa varietas tebu unggul baru pada kondisi kekeringan dan tanggapannya pada pemupukan Si. Rancangan yang digunakan ialah RAKL tiga faktor, yaitu konsentrasi pupuk Nano Silika (0%; 30%; 45%), intensitas penyiraman (penyiraman teratur; tanpa penyiraman mulai 45 HST), dan varietas tebu unggul baru (BL; NX 01; NX 02; NX 03; VMC 86-550). Variabel pengamatan meliputi bobot segar brangkasan, bobot segar akar, panjang akar, dan bobot kering brangkasan. Data yang diperoleh dianalisis dengan ANOVA pada tingkat kepercayaan 95%. Apabila berbeda nyata dilanjutkan dengan Uji BNT 5%. Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa varietas tebu unggul baru yaitu VMC 86-550 toleran kekeringan ditunjukkan dengan rata-rata pertumbuhan terbaik pada hampir seluruh parameter pengamatan. Konsentrasi pupuk nano silika 45% sebanyak 2 kali aplikasi menunjukkan pertumbuhan tanaman tebu yang terbaik. Interaksi perlakuan antara kekeringan dan varietas memberikan pengaruh nyata untuk bobot basah brangkasan dan panjang akar tanaman tebu. Perlakuan pemberian nano silika berpengaruh nyata pada bobot kering brangkasan tanaman tebu.
Kata kunci: kekeringan, nano silika, teb
TREATMENT AND USE OF PESTICIDES IN SHALLOT CULTIVATION IN CIREBON REGENCY: Key words: treat, pesticides, shallots
Productivity of shallots is influenced by the use of production inputs, including the use of pesticides. This study aims to see a portrait of the behavior and use of pesticides in onion cultivation in Cirebon Regency. The location was purposely selected with consideration as the shallot producing center. The survey was conducted in the first week of September 2020. The primary data collection was carried out by direct interviews with respondents using a questionnaire. The selection of respondents employed a random sampling technique. The collected data were analyzed using quantitative descriptive analysis. From the results of the analysis, it can be seen that: (i) 25% of farming costs are used to buy pesticides, (ii) 64% of farmers buy pesticides for controlling pests and diseases attack, (iii) 36% of farmers read labels on pesticide packages and 45 % of farmers read the pesticide spraying manual. (iv) 68% of farmers use pesticides exceeding the recommended dose and 77% of farmers mix 2 to 3 brands in dealing with pests and diseases. In order to maintain the health of farmers, not to damage the environment, and to buy pesticides as needed, it is suggested that the Integrated Pest Control Field School Program needs to be re-implemented.ABSTRACT
Shallots are strategic horticultural crops whose availability is of concern to the government. The availability of shallots depends on production and the success of production is influenced by the use of inputs, including the use of pesticides. Pesticides are poisonous products if they are used not in accordance with the instructions. Therefore, this paper aims to see a portrait of the use of pesticides and the treatment of farmers in shallot cultivation in Cirebon Regency. The survey was held in the first week of September 2020 in 4 sub-districts of shallot producer centers. Primary data collection was carried out by direct interview method using a questionnaire to 22 farmers, which are spread in Gebang, Pabedilan, Losari, and Babakan Districts. The collected data were analyzed using descriptive analysis. The analysis shows that: (i) pesticides are always used by respondents in every phase of cultivation activities. As a result, the cost of purchasing pesticides is many and varied, even reaching 25% of the total cost of farming; (ii) determining the selection of pesticides is more on one's own experience or seeing the success of other farmers. So there is no need to read the instructions for use on the label and use more than the recommended dose; and (iii) there is still a lack of knowledge on how to use pesticides correctly. Among them are not using personal protective equipment when spraying and blowing directly if the tool is clogged. In order to maintain farmers' health, not damage the environment and buy pesticides according to their needs, it is suggested that the SL-IPM Program needs to be implemented again
PELATIHAN PEMBUATAN ROLADE TAHU DAUN SINGKONG DI DESA SUKOWONO KECAMATAN JAYALOKA KABUPATEN MUSI RAWAS
Desa Sukowono merupakan salah satu desa di Kecamatan Jayaloka Kabupaten Musi Rawas yang memiliki potensi singkong berlimpah. Umumnya masyarakat hanya mengolah singkong sebagai lalapan dan sayuran biasa karena keterbatasan keterampilan lainnya. Oleh karena itu, salah satu keterampilan dan pengetahuan yang dapat diinformasikan kepada masyarakat adalah mengolah daun singkong menjadi rolade tahu. Rolade adalah salah satu varian makanan pelengkap nasi. Adapun metode dalam kegiatan ini adalah sosialisasi, pelatihan dan workshop, dan pendampingan serta evaluasi. Hasil dari kegiatan berupa produk rolade tahu dari daun singkong sebagai pelengkap nasi. Selain produk, keterampilan masyarakat untuk membuat rolade tahu daun singkong juga mengalami peningkatan dari 25% menjadi 83,3%. Kesimpulan dalam kegiatan ini adalah daun singkong dapat diolah menjadi rolade tahu sebagai pelengkap nasi. Selain sebagai pelengkap, rolade tahu daun singkong juga mengandung gizi yang baik untuk tubuh.
Kata kunci: daun singkong, rolade tahu, sukowon
Growth and Production of Hydroponics Chinese Flat Cabbage With Ab Mix Concentration and Android Based Monitoring
Hydroponic cultivation is an alternative choice for people who plant various types of plants that can be consumed by themselves every day. In addition, hydroponics is one way to grow crops on a large scale without requiring land that is very suitable for cultivation in urban areas. However, this system has several drawbacks, namely, hydroponics really requires a controlled environment, such as monitoring the degree of water acidity, water temperature, and water nutrient density. It needs to be monitored and controlled to avoid a decrease in plant quality. Several ways can be done by using manual measuring tools which actually take time if the hydroponic system is on a large scale, the alternative is to use an Android-based control and monitoring system. This study aims to examine the effect of the best AB Mix nutrient concentration on the growth and production of Sawi Pagoda with the NFT hydroponic system and to control pH, temperature, humidity and nutrients automatically using the Ardiuno Uno sensor. This research was conducted at Rootop PS. Plantation Cultivation from August to October 2020. The design used was a completely randomized design consisting of one factor, namely the concentration of AB mix nutrients consisting of 2 levels: A1: 1000 ppm: 1200 ppm: 1400 ppm (given according to the age of the plant per / week) and A2: 1100 ppm: 1300 ppm: 1500 ppm (given according to plant age per / week). The research was repeated as many as 20 replications so that there were 40 experimental units. The results showed that the A1 treatment level with the concentration of AB Mix nutrient solution (1000 ppm: 1200 ppm: 1400 ppm) was the best treatment level for the increase in plant height and number of leaves on the 2nd and 3rd week and the final plant weight. The hydroponic Nutrient Film Technique system can be monitored and controlled automatically by Arduino, making it easier to control temperature, humidity, ppm of nutrients, and nutrient pH.
Keywords: AB mix, Hydroponics, Mustard PagodaBudi daya hidroponik menjadi alternatif pilihan bagi masyarakat yang ini menanam berbagai jenis tumbuhan yang bisa dikonsumsi sendiri setiap harinya. Selain itu hidroponik adalah salah satu cara untuk menanam tanaman dalam skala besar tanpa memerlukan lahan yang sangat cocok untuk dibudi dayakan di daerah perkotaan. Namun, sistem ini mempunyai beberapa kekurangan yaitu, hidroponik sangat membutuhkan lingkungan yang terkontrol, seperti pemantauan derajat keasaman air, suhu air, dan kepekatan nutrisi air perlu dipantau dan dikontrol untuk menghindari penurunan kualitas tanaman. Beberapa cara dapat dilakukan dengan menggunakan alat ukur manual yang sebenarnya menyita waktu jika sistem hidroponik dalam sekala besar salah alternatifnya adalah dengan menggunakan sistem kontrol dan monitoring berbasis android. Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengkaji pengaruh konsentrasi nutrisi AB Mix yang terbaik terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman Sawi Pagoda dengan sistem hidroponik NFT dan mengontrol pH, suhu, kelembaban dan nutrisi secara otomatis dengan menggunakan sensor Ardiuno Uno. Penelitian ini dilaksanakan di Rootop PS. Budidaya Tanaman Perkebunan dari dari bulan Agustus sampai Oktober 2020. Rancangan yang digunakan rancangan acak lengkap yang terdiri dari satu faktor yaitu konsentrasi Nutrisi AB mix terdiri dari 2 taraf: A1 : 1000 ppm : 1200 ppm : 1400 ppm (diberikan sesuai dengan umur tanaman per/minggu) dan A2 : 1100 ppm : 1300 ppm : 1500 ppm (diberikan sesuai dengan umur tanaman per/minggu). Penelitian diulang sebanyak 20 ulangan sehingga ada 40 satuan percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa taraf perlakuan A1 dengan pemberian konsentrasi larutan nutrisi AB Mix (1000 ppm : 1200 ppm : 1400 ppm) merupakan taraf perlakuan terbaik terhadap pertambahan tinggi tanaman dan jumlah daun pada minggu ke-2 dan ke-3 serta pada bobot akhir tanaman. Hidroponik sistem Nutrient Film Technique dapat dimonitoring dan dkontrol secara otomatis oleh arduino sehingga mempermudah dalam pengontrolan suhu, kelembaban, ppm nutrisi, dan pH nutrisi.
Kata Kunci : AB mix, Hidroponik, Sawi Pagod
Upaya Penghematan Air Irigasi dan Peningkatan Produksi Padi Sawah Melalui Penerapan Irigasi Terputus-putus (Intermittent Irrigation)
The research was conducted in rainfed rice field at Cisarua Village, Natar Sub District, Lampung Selatan Region to find out intermittent irrigation methode which efficient in using water and high yield. The experimental design was using completely randomized design (CRD) with four irrigation treatments and replicated thrice. The treatments consist of intermittent irrigation with soil hair-crack indicator (II1), intermittent irrigation with water in the perforated PVC pipe fell 10 cm below ground level (II2), intermittent irrigation with irigation interval 2 days indicator (II3), and control. Preparation of seedling for the intermittent irrigation treatment using nursery plate, but for controll teratment using rice field. The treatment the intermittent irigation were using transplanting of 1 young seedling (10 days after seeding) at wider space 25 cm x 25 cm, and for the control treatment transplanting of 3-5 old seedling (20 days after seeding) at the same space. The research result showed that the highest total amount of water irrigation aplication was happened on intermittent irrigation with 2 days irrigation interval indicator of 717 mm, in the same as with control treatment, but the lowest total amount of water irrigation application was happened in the intermittent irrigation with soil hair-crack indicator of 460 mm or only amount 64,16% of control treatment. In this case showed that intermittent irrigation with soil crack-hair indicator can save amout of water irrigation application of 35,84%. Grain yield of rice on the treatment of intermittent irrigation with soil hair-crack indicator and irrigation interval 2 days indicator not significantly different but signifcantly different and higher compare to intermittent irrigation with water level in the perporated PVC pipe fell 10 cm below ground level and the control trentmen. The average grain yield of rice on intermittent irrigation with soil hair-crack indicator 8,783 kg/ha with highest irrigation water productivity of 1,91 kg/m3, but on the control treatment only 6,528,08 kg/ha with lowest irrigation water productivity of 0,91 kg/m3
Evaluasi Implementasi Pengungkapan Informasi Corporate Social Responsibility (CSR) pada PT Lambang Jaya dan PT Tunas Baru Lampung, Tbk
This study aimed to quantify and analyze the level of disclosure of CSR activities as well as calculate and analyze the percentage of disclosures based on each theme disclosure of CSR activities. The methods used to answer the purpose are descriptive qualitative and descriptive quantitative. The data were collected through questionnaires and analyzed through content analysis on the disclosure of CSR in the company's annual report. The content analysis was conducted using the check list of the items of CSR disclosure in the annual report of the company. The items of the disclosure were classified by themes of the disclosure (Environment, Energy, Health and Safety of the Employment, miscellaneous of Labor, Products, Community and Public Involvement). It is known that the percentage of the disclosure was by the themes. Further, the results of quantitative descriptive analysis checklist are to determine the index of CSR. The results of the study are as follows: The disclosure level of CSR of PT PT Tunas Baru Lampung Tbk as a whole is equal to 46% which is lower than that of PT Lambang Jaya - 71.6%. Based on the themes of disclosure, the implementation of CSR is the best done by PT Lambang Jaya in the category of energy, health and safety, and general products with a percentage of 100%, and then successively followed by the environmental category of 90.9%, category "miscellaneous of labor" amounted to 51.7%, and the worst is the category "community involvement" by 33.3%. As for PT. Tunas Baru Lampung Tbk, the best disclosures were made by TBLA in the categories of energy, product and general with a percentage of 100%, and then successively followed by the environmental category of 54.5%, the category "miscellaneous of labor" for 37.9%, and the worst is the category of "health and safety" and "community involvement" which was at 0%Keywords: CSR, Disclosure, Plantation Compan
Rancang Bangun Mesin Pemipil dan Penghancur Tongkol Jagung
Corn is one of the important plants for human life, especially in Indonesia. This is because corn is the second food crop commodity after rice. In Indonesia, there are still many post-harvest maize product processing using the traditional method by peeling corn by hand, so that the yield of corn production is not comparable with the labor for processing the corn harvest. Agricultural statistics show that maize production in Indonesia has always increased from year to year. In order to better support the conversion process of corn cobs waste into animal feed, a chopper is needed. The machine functions to chop the corn cobs so that they are easier for livestock to consume as well as accelerate the work of bacteria during the fermentation process. If the two processes are carried out on separate machines, it will take a long time to complete. This study aims to make a machine that combines a corn sheller machine with a corn cobs crusher. The results of testing the corncob crusher and shelling machine gave 10 kg/hour shelling capacity, 13% unshipped corn, 68.9% corn shelling yield, 15 kg/hour corn cobs crushing machine capacity, 85.28% yield of corn cobs crushing
PENYULUHAN DAN DEMONSTRASI HIDROPONIK DFT DI LEMBAGA PEMBINAAN KHUSUS ANAK (LPKA) BANDAR LAMPUNG
Salah satu upaya LPKA dalam menjalankan UU No. 11 Tahun 2012 adalah melalui programpembinaan. Program pembinaan dan pembimbingan dalam LPKA meliputi kegiatan pembinaan sertapembimbingan kepribadian dan kemandirian. Pembinaan serta pembimbingan kepribadian dankemandirian yang dilakukan salah satunya adalah keterampilan kerja serta latihan kerja dan produksi.Oleh karena itu LPKA Bandar Lampung membuat program pembinaan berupa bimbinganketerampilan budidaya tanaman sayuran secara hidroponik yang bekerjasama dengan Program StudiTeknologi Produksi Tanaman Hortikultura. Tujuan kegiatan ini adalah : 1) Memberikan bimbinganpengetahuan kepada ABH mengenai budidaya sayuran dengan sistem hidroponik melaluipenyuluhan, dan 2) Memberikan keterampilan kepada ABH mengenai budidaya sayuran melaluipelatihan dan demonstrasi. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat dilaksanakan di LPKA BandarLampung. Waktu pelaksanaan dari Agustus sampai September 2020. Metode pelaksanaan dilakukandalam bentuk penyuluhan dan diskusi, demonstrasi dan praktik. Kegiatan monitoring dilakukan duakali selama pelaksanaan bimbingan keterampilan, yaitu pada minggu kedua dan keempatpelaksanaan. Kegiatan evaluasi pada kegiatan pengabdian ini dilakukan dengan melihat hasil praktikbudidaya sayuran hidroponik yang dilakukan. Berdasarkan pelaksanaan kegiatan dapat ditarikkesimpulan sebagai berikut : 1) Kegiatan bimbingan dan keterampilan di LPKA berjalan dengan baiksesuai rencana, 2) Tahapan budidaya tanaman sayuran dilakukan dengan benar sehingga hasilpanen memuaskan, dan 3) Kegiatan bimbingan keterampilan yang dilakukan berhasil. Berdasarkanproses selama kegiatan bimbingan, praktik budidaya, hingga hasil panen, maka dinilai kegiatan ini100% berhasil.Salah satu upaya LPKA dalam menjalankan UU No. 11 Tahun 2012 adalah melalui program pembinaan. Program pembinaan dan pembimbingan dalam LPKA meliputi kegiatan pembinaan serta pembimbingan kepribadian dan kemandirian. Pembinaan serta pembimbingan kepribadian dan kemandirian yang dilakukan salah satunya adalah keterampilan kerja serta latihan kerja dan produksi. Oleh karena itu LPKA Bandar Lampung membuat program pembinaan berupa bimbingan keterampilan budidaya tanaman sayuran secara hidroponik yang bekerjasama dengan Program Studi Teknologi Produksi Tanaman Hortikultura. Tujuan kegiatan ini adalah : 1) Memberikan bimbingan pengetahuan kepada ABH mengenai budidaya sayuran dengan sistem hidroponik melalui penyuluhan, dan 2) Memberikan keterampilan kepada ABH mengenai budidaya sayuran melalui pelatihan dan demonstrasi. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat dilaksanakan di LPKA Bandar Lampung. Waktu pelaksanaan dari Agustus sampai September 2020. Metode pelaksanaan dilakukan dalam bentuk penyuluhan dan diskusi, demonstrasi dan praktik. Kegiatan monitoring dilakukan dua kali selama pelaksanaan bimbingan keterampilan, yaitu pada minggu kedua dan keempat pelaksanaan. Kegiatan evaluasi pada kegiatan pengabdian ini dilakukan dengan melihat hasil praktik budidaya sayuran hidroponik yang dilakukan. Berdasarkan pelaksanaan kegiatan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1) Kegiatan bimbingan dan keterampilan di LPKA berjalan dengan baik sesuai rencana, 2) Tahapan budidaya tanaman sayuran dilakukan dengan benar sehingga hasil panen memuaskan, dan 3) Kegiatan bimbingan keterampilan yang dilakukan berhasil. Berdasarkan proses selama kegiatan bimbingan, praktik budidaya, hingga hasil panen, maka dinilai kegiatan ini 100% berhasil
PEMBERDAYAAN KEMANDIRIAN KELOMPOK PENGAJIAN BKP DENGAN PELATIHAN AQUAPONIC DALAM PEMANFAATAN LAHAN SEMPIT UNTUK KETAHANAN PANGAN
Pelaksanaan kegiatan Program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) dilakukan selama 5 (lima)bulan pada Kelurahan Bukit Kemiling Permai dengan kelompok sasaran atau mitra adalah ibu-ibupengajian Majelis Taklim Ikhlas Al-Azhar. Permasalahan yang terjadi di lokasi PKM adalah masihrendahnya pengetahuan dan keterampilan masyarakat, tentang teknologi budidaya sayuran dan ikandengan aquaponic di lahan sempit untuk ketahanan pangan. Latar Belakang dari kegiatan ini adalahadanya teknologi aquaponic yang sederhana yang dapat diaplikasikan oleh masyarakat untukmencukupi kebutuhan pangan keluarga di lahan yang sempit dan sulit air. Tujuan dari kegiatan inipertama, meningkatkan pemberdayaan kemandirian, pengetahuan dan keterampilan anggotakelompok dalam budidaya sayuran dan ikan dengan aquaponic secara mandiri. Kedua, meningkatkankinerja, wawasan, pengetahuan dan keterampilan dalam penggunaan teknologi yang lebih moderndalam budidaya sayuran dan ikan dengan Aquaponic. Ketiga, meningkatkan keahlian dalamkemajuan teknologi terkini pada budidaya sayuran dan ikan serta membuat media promosi untukpemasaran hasil keterampilan tersebut. Keempat meningkatkan kesejahteraan mitra dari kegiatanbudidaya sayuran dan ikan dengan aquaponic di lahan sempit. Solusi terhadap permasalahan yangterjadi dilapangan adalah bagaimana cara meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tentangaquaponic, yang terdiri dari kegiatan persiapan sarana prasarana, pemberian penyuluhan teori danbimbingan teknis mengenai teknologi budidaya aquaponic pada lahan sempit serta pemasaran hasilsecara online dengan mengoptimalkan marketplace yang telah tersedia pada salah satu media sosial.Bimbingan teknologi dan monitoring dilakukan setiap bulan untuk mengetahui perkembangan produksidan penerapan teknologi yang dilakukan oleh mitra, luaran yang diperoleh dengan adanya program iniadanya peningkatan pemberdayaan kemandirian, pengetahuan dan keterampilan untukkesejahteraan mitra melalui budidaya sayuran dan ikan dengan aquaponic.Pelaksanaan kegiatan Program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) dilakukan selama 5 (lima) bulan pada Kelurahan Bukit Kemiling Permai dengan kelompok sasaran atau mitra adalah ibu-ibu pengajian Majelis Taklim Ikhlas Al-Azhar. Permasalahan yang terjadi di lokasi PKM adalah masih rendahnya pengetahuan dan keterampilan masyarakat, tentang teknologi budidaya sayuran dan ikan dengan aquaponic di lahan sempit untuk ketahanan pangan. Latar Belakang dari kegiatan ini adalah adanya teknologi aquaponic yang sederhana yang dapat diaplikasikan oleh masyarakat untuk mencukupi kebutuhan pangan keluarga di lahan yang sempit dan sulit air. Tujuan dari kegiatan ini pertama, meningkatkan pemberdayaan kemandirian, pengetahuan dan keterampilan anggota kelompok dalam budidaya sayuran dan ikan dengan aquaponic secara mandiri. Kedua, meningkatkan kinerja, wawasan, pengetahuan dan keterampilan dalam penggunaan teknologi yang lebih modern dalam budidaya sayuran dan ikan dengan Aquaponic. Ketiga, meningkatkan keahlian dalam kemajuan teknologi terkini pada budidaya sayuran dan ikan serta membuat media promosi untuk pemasaran hasil keterampilan tersebut. Keempat meningkatkan kesejahteraan mitra dari kegiatan budidaya sayuran dan ikan dengan aquaponic di lahan sempit. Solusi terhadap permasalahan yang terjadi dilapangan adalah bagaimana cara meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tentang aquaponic, yang terdiri dari kegiatan persiapan sarana prasarana, pemberian penyuluhan teori dan bimbingan teknis mengenai teknologi budidaya aquaponic pada lahan sempit serta pemasaran hasil secara online dengan mengoptimalkan marketplace yang telah tersedia pada salah satu media sosial. Bimbingan teknologi dan monitoring dilakukan setiap bulan untuk mengetahui perkembangan produksi dan penerapan teknologi yang dilakukan oleh mitra, luaran yang diperoleh dengan adanya program ini adanya peningkatan pemberdayaan kemandirian, pengetahuan dan keterampilan untuk kesejahteraan mitra melalui budidaya sayuran dan ikan dengan aquaponic