Jurnal Online Politeknik Negeri Lampung
Not a member yet
1980 research outputs found
Sort by
PELATIHAN ON GOING ASSESSMENT DAN INSTRUMEN PENILAIAN HIGHER ORDER THINKING SKILLS (HOTS) BAGI GURU SMA DI KOTA BANDAR LAMPUNG
Kegiatan pelatihan ini bertujuan untuk: (1) Meningkatkan pemahaman dan keterampilan Guru tingkatSMA se-Bandar Lampung terhadap penerapan On Going Assessment dan instrumen penilaianberbasis HOTS; (2) Meningkatkan pemahaman dan keterampilan guru tingkat SMA se-BandarLampung dalam mengimplementasikan standar penilaian dalam Kurikulum 2013. Metode yangdigunakan dalam kegiatan ini adalah diskusi, tanya jawab, workshop, dan pelatihan denganmenerapkan strategi kontekstual, yaitu mengaitkan teori dengan praktik yang disampaikan denganmetode praktik terbimbing. Khalayak sasaran kegiatan pelatihan ini adalah 35 orang guru yangtergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Fisika SMA se-Kota Bandar Lampung.Evaluasi keberhasilan pelatihan akan dilakukan pada: (1) Awal kegiatan, yaitu pre-test, untukmengetahui sejauh mana kemampuan peserta pelatihan tentang on going assessment; (2) Akhirkegiatan, yaitu post-test, berisikan pertanyaan yang sama dengan tes awal, untuk mengetahui tingkatkeberhasilan, sehingga dapat diterapkan oleh setiap peserta. Data yang diperoleh dianalisis secaradeskriptif kuantitatif. Pelatihan on going assessment dan keterampilan berbasis Higher Order ThinkingSkills sebanyak 27 peserta memperoleh hasil rata-rata 77,14% mengalami kenaikan nilai dari pre-testke post-test. Sedangkan, sebanyak 3 peserta memperoleh hasil rata-rata 8,57% mengalamipenurunan nilai pre-test ke post-test, dan sebanyak 5 peserta yang memperoleh hasil rata-rata14,28% mengalami penilaian yang tetap dari pre-test ke post-test. Berdasarkan hasil perolehantersebut pelatihan ini berhasil dikarenakan adanya peningkatan pengetahuan mengenai on goingassessment dan keterampilan berbasis Higher Order Thinking Skills. Adapun sebagian kecil yangmengalami penurunan ini dikarenakan perbedaan jenis soal, yang mana pre-test berbentuk uraiandan post-test berbentuk pilihan jamak beserta uraian.Kegiatan pelatihan ini bertujuan untuk: (1) Meningkatkan pemahaman dan keterampilan Guru tingkat SMA se-Bandar Lampung terhadap penerapan On Going Assessment dan instrumen penilaian berbasis HOTS; (2) Meningkatkan pemahaman dan keterampilan guru tingkat SMA se-Bandar Lampung dalam mengimplementasikan standar penilaian dalam Kurikulum 2013. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah diskusi, tanya jawab, workshop, dan pelatihan dengan menerapkan strategi kontekstual, yaitu mengaitkan teori dengan praktik yang disampaikan dengan metode praktik terbimbing. Khalayak sasaran kegiatan pelatihan ini adalah 35 orang guru yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Fisika SMA se-Kota Bandar Lampung. Evaluasi keberhasilan pelatihan akan dilakukan pada: (1) Awal kegiatan, yaitu pre-test, untuk mengetahui sejauh mana kemampuan peserta pelatihan tentang on going assessment; (2) Akhir kegiatan, yaitu post-test, berisikan pertanyaan yang sama dengan tes awal, untuk mengetahui tingkat keberhasilan, sehingga dapat diterapkan oleh setiap peserta. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Pelatihan on going assessment dan keterampilan berbasis Higher Order Thinking Skills sebanyak 27 peserta memperoleh hasil rata-rata 77,14% mengalami kenaikan nilai dari pre-test ke post-test. Sedangkan, sebanyak 3 peserta memperoleh hasil rata-rata 8,57% mengalami penurunan nilai pre-test ke post-test, dan sebanyak 5 peserta yang memperoleh hasil rata-rata 14,28% mengalami penilaian yang tetap dari pre-test ke post-test. Berdasarkan hasil perolehan tersebut pelatihan ini berhasil dikarenakan adanya peningkatan pengetahuan mengenai on going assessment dan keterampilan berbasis Higher Order Thinking Skills. Adapun sebagian kecil yang mengalami penurunan ini dikarenakan perbedaan jenis soal, yang mana pre-test berbentuk uraian dan post-test berbentuk pilihan jamak beserta uraian
Seleksi Mutan Generasi Dua (M2) Kedelai Hitam Terhadap Produksi Tinggi
The number of black soybean varieties in Indonesia is less than the yellow one. Black soybeans contain anthocyanin which is good for health. Black soybean is also the raw material of soy sauce and other food processing. The genetic diversity of black soybean varieties needs to be increased to improve the genetic using plant breeding. The mutation is a method of plant breeding to produce a new variety. This research aims to get the high production genotypes and the observational variables that are used for M3 selection. This research used a non-factorial randomized block design. The treatments were 0 Gy, 50 Gy, 100 Gy, 150 Gy, 200 Gy that repeated three times, so was obtain 15 experimental units, with each experimental unit contains 6 rows and consist of 4 plants. The seven observation variables that consist of plant height; the number of branches, flowering age, number of pods, harvesting age, the weight of 100 grains, and the weight of seeds per plant were analyzed for the diversity using NTSYS software, and the coefficient of genotype diversity was calculated. The genotypes that had high production at the 50 Gy dose were 1 (11), 4 (25), 6 (25), and 2 (26); for the 100 Gy dose were 1 (14), 6 (25), 1 (11), 4 (1); for the 150 Gy dose were 3 (19), 5 (10), and 6 (1); and for the dose 200 Gy were 1 (19) and 1 (26), and the observational variables that are selected for M3 selection were the number of branches, number of pods, and seed weight per plant.Detam 4 prida merupakan salah satu kedelai hitam yang dilepas Kementerian Pertanian pada tahun 2013. Saat ini masih terdapat 11 varietas kedelai hitam. Kedelai hitam memiliki kandungan protein dan antosianin yang tinggi, sedangkan kedelai kuning tidak memiliki. Oleh karena itu, upaya peningkatan keanekaragaman karakter kedelai hitam melalui mutasi iradiasi sinar gamma penting dilakukan untuk mendapatkan varietas unggul baru nasional. Penelitian dilakukan pada bulan Juni-Oktober 2020 di Politeknik Negeri Lampung. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakter morfologi mutan M2 Detam 4 Prida yang memiliki fenotipe berbeda dibandingkan dengan varietas Detam 4 yang belum bermutasi (kontrol). Data yang diperoleh dari setiap tanaman pada setiap perlakuan Variabel yang diamati dan hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis pertumbuhan, bentuk daun pertama, bentuk daun, warna bulu batang, warna biji dan warna bunga dari semua perlakuan iradiasi memiliki morfologi yang sama dengan varietas kontrol, sedangkan warna polong dan hipokotil berbeda dengan tanaman kontrol. Data tinggi tanaman berdasarkan uji T dosis iradiasi 200 Gy tinggi tanaman yang berbeda nyata dengan kontrol, sedangkan bobot 100 biji tidak berbeda nyata, dari hasil dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan karakter morfologi pada mutan generasi Detam 4 Prida, dan tinggi tanaman pada dosis iradiasi 200 Gy lebih tinggi dibandingkan dengan tanpa iradiasi (kontrol
KONTRIBUSI BERAS SIGER DALAM POLA KONSUMSI PANGAN RUMAH TANGGA KONSUMEN BERAS SIGER DI PROVINSI LAMPUNG
The objective of this research were to investigate: (a) the consumption pattern of beras siger, (b) the household consumption pattern (Diserable Dietary Pattern /Pola Pangan Harapan /PPH), and (c) the contribution of beras siger to household energy adequacy of beras siger consumer. This research was conducted at Metro City, South Lampung Regency, and Tulang Bawang Regency used survey method. The research population was beras siger consumer of Mekar Sari Agroindustry (Metro), Siti Hawa Agroindustry (South Lampung), and Toga Sari (Tulang Bawang). There were 25 household, 19 household, and 30 household from Mekar Sari, Siti Hawa, and Toga Sari Agroindustry respectively were taken by quota sampling. Data collection were carried out on May – August 2016 by interview while food consumption data collected by recall method. The method of analysis in this research was descriptive statistic. The result showed that: (a) the average of beras siger consumption of beras siger consumer at Lampung Province was 228,38 gram/household/day, the buying frequency was twice per month, in general beras siger was used as substitute of main food, and beras siger consumer buying beras siger at the factory, (b) the energy consumption level of consumer beras siger household were on good category with Desirable Dietary Pattern (DDH) score : 73,02, and (c) the average contribution of beras siger to energy adequacy was 10,84 percent.
Keyword: beras siger, consumption pattern, PPHTujuan penelitian ini adalah mempelajari: (a) pola konsumsi beras siger, (b) konsumsi pangan rumah tangga, dan (c) kontribusi beras siger dalam pola konsumsi pangan rumah tangga konsumen beras siger. Penelitian dilaksanakan di Kota Metro, Kabupaten Lampung Selatan, dan Kabupaten Tulang Bawang dengan menggunakan metode survai. Populasi penelitian adalah konsumen beras siger dari Agroindustri Mekar Sari (Metro), Siti Hawa (Lampung Selatan), dan Toga Sari (Kabupaten Tulang Bawang). Sampel rumah tangga ditentukan dengan quota sampling, masing-masing berjumlah 25 rumah tangga dari Agroindustri Mekar Sari, 19 rumah tangga dari Agroindustri Siti Hawa, dan 30 rumah Tangga dari Agroindustri Toga Sari. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, sedangkan data konsumsi pangan diperoleh dengan Metode Recall pada bulan Mei-Agustus 2016. Data dianalisis dengan statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (a) konsumsi beras siger rumah tangga konsumen beras siger di Provinsi Lampung rata-rata 228,38 gram per rumah tangga per hari, dengan frekuensi dua kali per bulan, sebagian besar beras siger dikonsumsi sebagai pensubstitusi pangan pokok, dan sebagian besar konsumen membeli beras siger di pabrik beras siger, (b) tingkat kecukupan energi rumah tangga konsumen beras siger berada pada kategori baik dengan skor PPH 73,02, dan (c) kontribusi beras siger terhadap kecukupan energi rata-rata sebesar 10,84 persen.
Kata kunci : beras siger, pola konsumsi, PP
Analisa Prilaku Konsumen Dalam Pengambilan Keputusan Pembelian Jajanan Pasar Pada Masa Pandemi Covid-19 Di Kecamatan Delta Pawan Kabupaten Ketapang
The world is currently experiencing a crisis caused by the Corona pandemic. The virus which has another name COVID-19 has also succeeded in changing people's behavior. Such as social distancing, for example, which affects changes in consumer behavior. Jajanan pasar are traditional Indonesian foods that are traded in markets, especially in traditional markets, usually made with unique tastes and attractive shapes. The purpose of this study is to determine the influence of consumer behavior factors (occupation, income, number of dependents, education level and age) in making decisions to purchase market snacks during the Covid 19 pandemic.The analytical method used is logistic regression analysis, which is one of the mathematical model approaches used to analyze the relationship of one or more independent variables with a dichotomous / binary categorical dependent variable. The results of the study explained that during the Covid pandemic 19 factors - consumer behavior factors in making decisions on buying market snacks in Delta Pawan District, Ketapang Regency, namely work, income, number of dependents, level of education and age did not have a significant effect on consumer behavior in making snack buying decisions. market in Delta Pawan District. Keywords: Covid 19, jajanan pasar, logistic regressionDunia saat ini sedang mengalami krisis yang disebabkan oleh pandemi Corona. Virus yang memiliki nama lain COVID-19 ini pun berhasil merubah perilaku masyarakat. Seperti social distancing dimana mempengaruhi perubahan perilaku konsumen. Jajanan pasar adalah makanan tradisional Indonesia yang diperjualbelikan di pasar, khususnya di pasar-pasar tradisional, biasanya dibuat dengan cita rasa yang unik serta bentuk yang menarik. tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh faktor-faktor prilaku konsumen (pekerjaan, pendapatan, jumlah tanggungan, tingkat pendidikan dan usia) dalam mengambil keputusan untuk melakukan pembelian jajanan pasar dimasa pandemi wabah Covid 19. Metode analisis yang digunakan yaitu analisis regresi logistik yaitu salah satu pendekatan model matematis yang digunakan untuk menganalisis hubungan satu atau beberapa variabel independen dengan sebuah variabel dependen katagori yang bersifat dikotom/binary. Hasil penelitian dijelaskan bahwa masa pandemi Covid 19 faktor - faktor perilaku konsumen dalam pengambilan keputusan pembelian jajanan pasar di Kecamatan Delta Pawan Kabupaten Ketapang yaitu pekerjaan, pendapatan, jumlah tanggungan, tingkat pendididikan dan usia tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap perilaku konsumen dalam pengambilan keputusan pembelian jajanan pasar di Kecamatan Delta Pawan.
Kata kunci : Covid 19, Jajanan pasar, Regresi logisti
Identifikasi Komoditas Tanaman Pangan Unggulan di Kabupaten Indramayu Melalui Analisis LQ (Location Quotient): Identification of Leading Food Crop Commodities in Indramayu Regency through LQ (Location Quotient) Analysis
A leading commodity (base) has a comparative and competitive advantage over similar commodities in a region. Indramayu Regency has several superior food commodities that have great potential to be developed because they are supported by its agricultural land resources. The purpose of this research is to identify the superior food base commodities in Indramayu Regency through the LQ method. The research was conducted in Indramayu Regency in February-March 2020. The research location was determined purposively. The data collected is secondary data obtained from the Agriculture Office of Indramayu Regency, namely time series data on harvested area and food crop production in Indramayu Regency for a period of five years (2015-2019). The results showed that the distribution of the most superior food commodities in Indramayu Regency was rice. Kroya and Terisi Districts have the most superior food commodities, namely corn, soybeans, peanuts, cassava and sweet potatoes. The green bean commodity in Kedokan Bunder District has the highest LQ value> 1 among all food crops.
Keywords: Basis, comparative, competitive, Indramayu, riceKomoditas unggulan (basis) memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif terhadap komoditas sejenis di suatu wilayah. Kabupaten Indramayu memiliki beberapa komoditas pangan unggulan yang berpotensi besar untuk dikembangkan karena didukung oleh sumberdaya lahan pertaniannya. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi komoditas unggulan berbasis pangan di Kabupaten Indramayu melalui metode LQ. Penelitian dilakukan di Kabupaten Indramayu pada bulan Februari-Maret 2020. Penentuan lokasi penelitian ditentukan secara purposive. Data yang dikumpulkan merupakan data sekunder yang diperoleh dari Dinas Pertanian Kabupaten Indramayu meliputi data time series luas panen dan produksi tanaman pangan di Kabupaten Indramayu selama kurun waktu lima tahun (2015-2019). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebaran komoditas pangan unggulan paling banyak di Kabupaten Indramayu adalah padi. Kecamatan Kroya dan Terisi memiliki komoditas pangan unggulan paling banyak yaitu jagung, kedelai, kacang tanah, ubi kayu, dan ubi jalar. Komoditas kacang hijau di Kecamatan Kedokan Bunder memiliki nilai LQ>1 paling tinggi diantara semua tanaman pangan. Hasil penelitian ini bisa menjadi bahan informasi tentang potensi pengembangan komoditas pangan ke depan di Kabupaten Indramayu.
Kata Kunci : Basis, komparatif, kompetitif, Indramayu, pad
Kualitas Karkas Ayam Broiler yang Diberikan Pakan Supplemen Limbah Wortel
Carrot waste is carrots with criteria that are not suitable for human consumption. Carrot waste contains various vitamins and minerals. This study aims to evaluate the quality of broiler chicken carcass. The study used a completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 6 replications. The treatments given included R0 = 0% additional feed from carrot waste; R1 = 0.5% additional feed waste carrots; R2 = 1% additional feed from carrot waste; R3 = 1.5% additional feed from carrot waste. The data obtained were tested for normality and homogeneity before being analyzed using the Analysis of Variants. If there is a difference then proceed with Duncan's multiple distance test. The results showed that the best results were given additional feed of carrot waste at the level of 1% to increase carcass weight and carcass percentage, carcass color would increase along with the increase in the level of carrot waste addition.Carrot waste is carrots with criteria that are not suitable for human consumption. Carrot waste contains various vitamins and minerals. This study aims to evaluate the quality of broiler chicken carcass. The study used a completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 6 replications. The treatments given included R0 = 0% additional feed from carrot waste; R1 = 0.5% additional feed waste carrots; R2 = 1% additional feed from carrot waste; R3 = 1.5% additional feed from carrot waste. The data obtained were tested for normality and homogeneity before being analyzed using the Analysis of Variants. If there is a difference then proceed with Duncan's multiple distance test. The results showed that the best results were given additional feed of carrot waste at the level of 1% to increase carcass weight and carcass percentage, carcass color would increase along with the increase in the level of carrot waste addition
An Evaluation of Accounting Problems for SMEs with GAP Analysis Method
Most SMEs lack of understanding in preparing the financial statement as well as finance and accounting knowledge. Financial statements are necessary to find out information of financial position, financial performance, and cash flows of an entity that is useful to a large number of users in making economic decisions. It is assumed that the reluctance of SMEs is caused by the accounting cycle that is too burdensome and time-consuming and that it needs persons with special skills to manage it. This study was aimed at analyzing the gap between the quality of the design cycles and the expected design with the quality of simple accounting model expected by SMEs. The samples were obtained through purposive sampling method with 30 businessmen of SMEs (trade, Industry and services) that rarely prepare the financial statements. The data were collected through field survey with questionnaires and interviews. The data were analyzed using the GAP method. The results of this research note that all values in each dimension of GAP are negative, and the expectation value is greater than the perception value. The respondents were dissatisfied with the process / accounting cycle. This means that the design cycle used by regular public accounting is not done by the SMEs on the grounds that the cycle is too long, too complicated and time-consuming as well as the absence of the human resources with accounting expertise. Keywords: GAP Analysis, Cycle, Accounting Design, SMEs, Perceptions, Expectations
Pertumbuhan Tanaman Vanili (Vanilla planifolia) dalam Polybag pada Beberapa Kombinasi Media Tanam dan Frekuensi Penyiraman Menggunakan Teknologi Irigasi Tetes
The study aimed to find the media composition and watering frequency through drip irrigation technology, which is appropriate to support the growth of vanilla plants in polybags. The research was conducted in the STIPER Dharma Wacana Metro experimental garden from April to July 2020. The first factor is the composition of the planting medium, namely soil + manure, soil + manure + rice husks, soil + manure + sand, and soil + manure + cocopeat. The second factor is watering frequency, namely 1, 2, and 3 times a day. Each treatment was repeated three times. The variables observed included plant height (cm), number of leaves (strands), shoot fresh weight (g), root fresh weight (g), and biomass dry weight (g). The use of mixed media of soil, manure, and cocopeat is the best media composition by producing a root wet weight of 8.0 g and a dry weight of 7.2 g. The frequency of watering three times a day resulted in the best height of vanilla plants being 51.8 cm compared to the frequency of watering once and twice a day. There was no interaction between the composition of the growing media and the frequency of watering on vanilla plants growth in polybags.Tujuan penelitian adalah untuk mencari komposisi media dan frekuensi penyiraman melalui teknologi drip irrigation yang tepat dalam mendukung pertumbuhan tanaman vanili dalam polibag. Penelitian dilaksanakan di kebun percobaan STIPER Dharma Wacana Metro mulai bulan April hingga Juli 2020. Faktor pertama adalah komposisi media tanam, yaitu tanah + pupuk kandang, tanah + pupuk kandang + sekam padi, tanah + pupuk kandang+ pasir, dan tanah + pupuk kandang + cocopeat. Faktor kedua adalah frekuensi penyiraman, yaitu 1, 2, dan 3 kali sehari. Masing-masing perlakuan diulang tiga kali. Peubah yang diamati meliputi tinggi tanaman (cm), jumlah daun (helai), berat basah tajuk (g), berat basah akar (g), dan berat berangkasan kering (g). Penggunaan media campuran tanah, pupuk kandang, dan cocopeat merupakan komposisi media terbaik dengan menghasilkan berat basah akar 8,0 g dan berat berangkasan kering 7,2 g. Frekuensi penyiaraman tiga kali sehari mengasilkan tinggi tanaman vanili paling baik 51,8 cm daripada frekuensi penyiraman satu kali dan dua kali sehari. Tidak terjadi interaksi antara komposisi media tanam dan frekuensi penyiraman terhadap pertumbuhan tanaman vanili dalam polybag
Back Matter Jurnal Agro Industri Perkebunan Volume 9 Nomor 2 Tahun 2021
Back Matter Jurnal Agro Industri Perkebunan Volume 9 Nomor 2 Tahun 2021Back Matter Jurnal Agro Industri Perkebunan Volume 9 Nomor 2 Tahun 202
Perbandingan Produktivitas, Biaya Pokok Produksi Dan Pendapatan Usahatani Padi Organik Dan Nonorganik Di Kabupaten Pringsewu
Pringsewu Regency has the highest organic rice production area in Lampung Province, but organic rice productivity is low. Farmers have not fully carried out organic rice farming, most farmers are farming nonorganic rice. This is because farmers think that low productivity causes the income of rice farmers decreased. This study aims to analyze the differences in productivity, costs, and income of organic and nonorganic rice farming in Pringsewu Regency. Data were collected in two sub-districts which are organic and nonorganic rice farmers in Pringsewu District, namely: Pringsewu and Pardasuka districts, in August 2020. The number of respondents was 18 people by observing the last 3 planting seasons namely MH 2019/2020, MK 2019 and MH 218/2019. Therefore the total observations were 108. The data were analyzed using multiple regression analysis models with the dependent variable, namely productivity, costs and income. The independent variables are organic rice, location and planting season. The results showed that the average productivity of organic rice farming was 0.97ton/ha lower than that of nonorganic rice. The average cost of organic rice farming was Rp. 1.593/kg higher than nonorganic rice. The average income of organic rice farming was Rp. 7,13 milion/ha higher than nonorganic rice.Kabupaten Pringsewu memiliki luas areal produksi beras organik tertinggi di Provinsi Lampung, namun produktivitas beras organik rendah. Petani belum sepenuhnya melakukan usahatani padi organik, sebagian besar petani bertani padi nonorganik. Hal ini dikarenakan petani beranggapan bahwa produktivitas yang rendah menyebabkan pendapatan petani padi menurun. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan produktivitas, biaya, dan pendapatan usahatani padi organik dan nonorganik di Kabupaten Pringsewu. Pengumpulan data dilakukan di dua kecamatan yang merupakan petani padi organik dan nonorganik di Kecamatan Pringsewu yaitu: Kecamatan Pringsewu dan Pardasuka, pada Agustus 2020. Jumlah responden sebanyak 18 orang dengan pengamatan 3 musim tanam terakhir yaitu MH 2019/2020, MK 2019 dan MH 218/2019. Dengan demikian total observasi berjumlah 108. Data dianalisis menggunakan model analisis regresi berganda dengan variabel dependen yaitu produktivitas, biaya dan pendapatan. Variabel bebas adalah beras organik, lokasi dan musim tanam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produktivitas usahatani padi organik rata-rata lebih rendah 0,97ton / ha dibandingkan dengan padi nonorganik. Biaya rata-rata usahatani padi organik adalah Rp. 1.593 / kg lebih tinggi dari beras nonorganik. Pendapatan rata-rata usahatani padi organik adalah Rp. 7,13 juta / ha lebih tinggi dari padi nonorgani