Jurnal Online Politeknik Negeri Lampung
Not a member yet
1980 research outputs found
Sort by
Kemitraan terhadap Risiko Produksi dan Pendapatan Usahatani Kopi Robusta di Provinsi Lampung
Lampung Province, as one of the largest producers of robusta coffee in Indonesia, still faces issues of low productivity. Contract farming is seen as a strategy to increase productivity and income from coffee farming. The aim of this research is to analyze the effect of contract farming on production risks and income from coffee farming. The research was conducted in Tanggamus Regency, Lampung Province. The data used in this study is secondary data obtained from the Project Cooperation Agreement (PCA). The research respondents consisted of 203 farmers, comprising 99 partner farmers and 104 non-partner farmers. Data analysis methods used the coefficient of variation to analyze the level of production risk with contract farming and the Mann-Whitney test to analyze income differences between contract and non-contract farmers. The research results showed that both contract and non-contract coffee farmers faced low production risks. Income from coffee farming by adopting a contract farming system was higher than without a contract. Additionally, the total costs incurred for coffee farming by contract farmers were lower than non-contract farmers. Income difference tests between contract and non-contract farmers indicated significant differences in both cash and non-cash income. It can be concluded that farmers under contract and non-contract farmers face the same level of risk, but contract farmers have higher incomes than non-contract farmers.Provinsi Lampung sebagai salah satu produsen kopi robusta terbesar di Indonesia masih menghadapi masalah produktivitas rendah. Kemitraan dipandang sebagai strategi untuk meningkatkan produktivitas dan pendapatan dari pertanian kopi. Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis pengaruh kemitraan terhadap risiko produksi dan pendapatan usahatani kopi. Penelitian dilakukan di Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari Project Cooperation Agreement (PCA). Responden penelitian berjumlah 203 petani, terdiri dari 99 petani mitra dan 104 petani non-mitra. Metode analisis data menggunakan koefisien variasi untuk menganalisis tingkat risiko produksi kopi dengan kemitraan dan uji Mann-Whitney untuk menganalisis perbedaan pendapatan antara petani mitra dan non-mitra. Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani mitra dan non-mitra menghadapi risiko produksi relatif sama. Pendapatan petani mitra lebih tinggi daripada non-mitra. Selain itu, total biaya yang dikeluarkan untuk pertanian kopi oleh petani mitra lebih rendah daripada petani non-mitra. Uji beda pendapatan antara petani mitra dan non-mitra menunjukkan perbedaan yang signifikan baik pendapatan tunai maupun non-tunai. Dapat disimpulkan bahwa adanya kemitraan tidak memberikan dampak terhadap risiko produksi kopi, tetapi berpengaruh signifikan terhadap peningkatan pendapatan petani
Potensi Kopi Arabika MENGGALI POTENSI KOPI ARABIKA: KELAYAKAN USAHA PENGOLAHAN KOPI ARABIKA DI KECAMATAN PANGATIKAN KABUPATEN GARUT: Aspek Non Finansial, Finansial, Analisis sensitivitas, dan analisis nilai pengganti
Coffee is a leading plantation commodity in Garut Regency. This study aims to analyze business feasibility from non-financial and financial aspects, as well as to assess the level of sensitivity and substitute value analysis to fluctuations in raw material prices. The method used is descriptive quantitative, focusing on analyzing the business feasibility from non-financial and financial aspects. Non-financial aspects included market, technical, management and legal, social, economic and cultural, and environmental aspects. Financial aspects were analyzed using cash flow and investment criteria such as NPV, Gross B/C, Net B/C, IRR, and PP. In addition, sensitivity analysis and surrogate value analysis were also used. Translated with DeepL.com (free version). The results of the business feasibility analysis from non-financial aspects show that this business is feasible despite the shortcomings in the technical aspects, which can be offset by market and environmental aspects. From a financial perspective, the Talaga Hurip Arabica Coffee processing business is also declared feasible, with an inflow of Rp 52,800,000 resulting from the sale of 240 kg of coffee at a price of Rp 220,000/kg. Outflow includes investment costs of Rp 69,942,000 with depreciation of Rp 7,565,725/year, fixed costs of Rp 11,107,000/year, and variable costs of Rp 25,050,400/year. The investment feasibility criteria in this study show an NPV of IDR 24,042,745, Gross B/C of 1.09, Net B/C of 1.55, IRR of 24.65 percent, and PP of 6.1 years, which means that the Talaga Hurip Kopi business meets all investment feasibility criteria. However, the sensitivity analysis shows that if coffee prices increase by more than 10 percent, the business will not be viable. Translated with DeepL.com (free version).
Keywords: Arabica Coffee, Business Feasibility, Coffee ProcessingKopi merupakan komoditas perkebunan unggulan di Kabupaten Garut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan usaha dari aspek non-finansial dan finansial, serta mengkaji tingkat kepekaan dan analisis nilai pengganti terhadap fluktuasi harga bahan baku. Metode yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif, dengan fokus pada analisis kelayakan usaha dari aspek non-finansial dan finansial. Aspek non-finansial meliputi pasar, teknis, manajemen dan hukum, sosial, ekonomi dan budaya, serta lingkungan. Aspek finansial dianalisis menggunakan arus kas dan kriteria investasi seperti NPV, Gross B/C, Net B/C, IRR, dan PP. Selain itu, analisis sensitivitas dan analisis nilai pengganti juga digunakan. Hasil analisis kelayakan usaha dari aspek non-finansial menunjukkan bahwa usaha ini layak meskipun terdapat kekurangan pada aspek teknis, yang dapat diimbangi oleh aspek pasar dan lingkungan. Dari segi finansial, usaha pengolahan Kopi Arabika Talaga Hurip juga dinyatakan layak, dengan inflow sebesar Rp 52.800.000 hasil dari penjualan 240 kg kopi dengan harga Rp 220.000/kg. Outflow meliputi biaya investasi sebesar Rp 69.942.000 dengan penyusutan Rp 7.565.725/tahun, biaya tetap sebesar Rp 11.107.000/tahun, dan biaya variabel Rp 25.050.400/tahun. Kriteria kelayakan investasi dalam penelitian ini menunjukkan NPV sebesar Rp 24.042.745, Gross B/C 1,09, Net B/C 1,55, IRR 24,65 persen, dan PP 6,1 tahun, yang berarti usaha Talaga Hurip Kopi memenuhi semua kriteria kelayakan investasi. Namun, analisis sensitivitas menunjukkan bahwa jika harga kopi naik lebih dari 10 persen, usaha ini tidak akan layak.
Kata Kunci : Kopi Arabika, Kelayakan Usaha, Pengolahan Kop
Lamb Shredded Production and Consumer Acceptance of Floss Roll Bread Products
Lamb processing as a culinary choice is less prevalent in Indonesia than processing from similar livestock. Lamb meat also has a nutritional value comparable to that of processed meat. On the other hand, lamb meat is more easily damaged, so it needs to be processed to get a longer shelf life, for example, by making it into shredded lamb. The form of shredded meat is practical, can be enjoyed at any time, and is commonly used as a filling for other food products such as bread. This study aims to determine shredded lamb's chemical characteristics and consumer acceptance of shredded lamb as a filling in floss roll bread products. The test parameters include chemical parameters (moisture content, ash, fat, protein, carbohydrates), with each repeated three times, and sensory parameters (texture, taste, color, aroma, and whole). The data analysis used Anova Oneway for chemical parameters and simple calculations for organoleptic parameters. The results showed the moisture content of lamb shredded meat (4.875%), ash (5.80%), fat (18.86%), protein (10.20%), and carbohydrates (60.27%). The organoleptic test of shredded lamb showed the average preference of the panelists as a whole with a score of (3.8), which was between Neutral-Like. On the floss roll bread, the average favorite of the panelists was a score of (4.2) in the Like – Very Like category. It can be concluded that the value of water, ash, and fat content of lamb shredded meat has met the quality requirements of SNI (1995), except for the protein value. This shredded lamb product has a great chance of having a long shelf life, and its use as a filling on floss roll bread is more acceptable than the assessment of single shredded lamb.Daging domba memiliki nilai gizi yang tak kalah baiknya dengan nilai gizi pada daging hewan sejenis. Namun daging domba lebih mudah rusak sehingga perlu dilakukan pengolahan untuk mendapatkan masa simpan daging domba lebih lama, misalnya dibuat menjadi abon. Bentuk abon praktis, dapat dinikmati langsung sebagai lauk maupun sebagai sebagai isian produk pangan yang lain seperti roti. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik kimiawi abon daging domba dan tingkat penerimaan konsumen pada abon daging domba sebagai isian pada produk roti floss roll. Metode penelitian yang dilakukan bersifat eksperimental kualitatif. Parameter uji meliputi kadar air, abu, lemak, protein, karbohidrat dengan masing-masing ulangan sebanyak tiga kali. Parameter organoleptik meliputi tekstur, rasa, warna, aroma, dan keseluruhan. Analisis data menggunakan Anova oneway untuk parameter kimiawi, dan perhitungan sederhana untuk parameter organoleptik. Hasil penelitian menunjukkan kadar air abon daging domba (4,875%), abu (5,80%), lemak (18,86%), protein (10,20%), dan karbohidrat (60,27%). Uji organoleptik abon daging domba menunjukkan rata-rata kesukaan panelis secara keseluruhan dengan skor (3,8) yaitu antara Netral-Suka; pada roti floss roll rata-rata kesukaan panelis adalah skor (4,2) kategori Suka – Sangat Suka. Dapat disimpulkan bahwa nilai kadar air, abu, dan lemak abon daging domba telah memenuhi persyaratan mutu SNI (1995), kecuali pada nilai protein. Produk abon daging domba ini berpeluang besar memiliki umur simpan yang lama, dan penggunaannya sebagai isian pada roti floss roll lebih diterima dibanding penilaian abon daging domba tunggal
Implementasi Teknologi Sex Reversal Menggunakan Bahan Alami Asal Kerang Hijau Pada PKK Agropark Lampung
Program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) bertujuan untuk mentransfer ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidang budidaya perikanan, salah satu teknologi yang diterapkan yaitu teknologi sex reversal yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keahlian masyarakat PKK agropark Lampung di Desa Sabah Balau, Lampung Selatan. Metode yang digunakan dalam program kemitraan ini adalah penyuluhan dan pelatihan yang dipraktekan langsung di lapangan. Minat peserta dapat dilihat melalui kehadiran dan partisipasi aktif peserta dalam berdiskusi serta mempratekkan langsung materi yang diberikan. Selain itu pelatihan juga telah mampu meningkatkan pemahaman dan keterampilan pembudidaya tentang pengembangan benih ikan nila jantan. Pendampingan ini dilakukan sejak awal budidaya sampai masyarakat bisa memelihara ikan dengan pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan budidaya tanpa penerapan teknologi sex reversal
Sekolah Lapang Sistem Bertanam Padi baris Legowo 2:1 Sebagai Upaya Untuk Meningkatkan Produksi Tanaman Padi (Oriza Sativa)
The rice production improvement program is carried out to meet the needs and food security of a country, the results of cultivation and post-harvest innovations are delivered in agricultural counseling to be implemented by farmers in an effort to increase their agricultural yields . One of the results of innovation is how to grow rice with the legowo row 2:1 planting system can be socialized to farmer groups through Field Schools so that farmers can more easily understand and participate in practical demonstrations in the field as part of their experience. The research uses aquantitative approach, and a type of explanatory research type survey research that highlights the causal relationship between research variables and tests the hypotheses formulated. The subject of the study was the Sindang Kerta farmer group, West Java, with a total rice field area planted with rice as much as 2,396 ha by 90 farmers. This study used 2 types of variables, namely free variables and bound variables, each of the variables studied was a free variable 1 (X1) is the institutional or dynamic of farmer groups, the free variable 2 (X2) is a row legowo 2:1rice planting system, and the bound variable is an increase in rice production produced (Y). The data obtained were analyzed using SEM PLS. The results of the description of the farmer group institution show that the average value is >4.01, which means that the farmer group institution is very good, Based on the values of path coefficients or path coefficients, the resulting structural equation is as follows: Y = 0.631 X1 – 0.152 X2 which means that group institutions have a positive effect while the legowo row 2:1 planting system has less influence on the production of rice produced.
Key word: Planting system, farmer group, yieldsProgram peningkatan produksi padi dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dan ketahanan pangan suatu negara, hasil budidaya dan inovasi pasca panen disampaikan dalam penyuluhan pertanian untuk dilaksanakan oleh petani dalam upaya meningkatkan hasil pertaniannya. Salah satu hasil inovasinya adalah cara bercocok tanam padi dengan sistem tanam jajar legowo 2:1 dapat disosialisasikan kepada kelompok tani melalui Sekolah Lapang sehingga petani dapat lebih mudah memahami dan mengikuti demonstrasi praktek di lapangan sebagai bagian dari pengalamannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, dan jenis penelitian explanatory research jenis survey yang menyoroti hubungan kausal antara variabel penelitian dan menguji hipotesis yang dirumuskan. Subyek penelitian adalah kelompok tani Sindang Kerta Jawa Barat dengan total luas sawah yang ditanami padi sebanyak 2.396 ha oleh 90 orang petani. Penelitian ini menggunakan 2 jenis variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat, masing-masing variabel yang diteliti adalah variabel bebas 1 (X1) adalah kelembagaan atau dinamika kelompok tani, variabel bebas 2 (X2) adalah deretan legowo 2 : 1sistem tanam padi, dan variabel terikatnya adalah peningkatan produksi padi yang dihasilkan (Y). Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan SEM PLS. Hasil deskripsi kelembagaan kelompok tani menunjukkan nilai rata-rata >4,01 yang berarti kelembagaan kelompok tani sangat baik, Berdasarkan nilai koefisien jalur atau koefisien jalur, persamaan struktural yang dihasilkan adalah sebagai berikut: Y = 0,631 X1 – 0,152 X2 yang berarti kelembagaan kelompok berpengaruh positif sedangkan sistem tanam jajar legowo 2:1 berpengaruh lebih kecil terhadap produksi padi yang dihasilkan.
Kata kunci: Sistem tanam, kelompok tani, hasi
PENDAMPINGAN DAN PENERAPAN PRODUKSI BERSIH MELALUI PENGELOLAAN TERPADU LIMBAH USAHA SAPI PERAH DI GISTING DAIRY FARM (GDF)
Gisting Dairy Farm (GDF) merupakan UMKM, bergerak dalam usaha sapi perah di Desa Sidokaton Gisting, Tanggamus dan dikelola secara mandiri. System pemeliharaan sudah tertata dan tersedia sumber air bor yang setiap saat digunakan untuk pembersihan kandang dan memandikan sapi. Populasi saat ini 41 ekor (25 ekor sapi dewasa). Jika rata- rata per ekor sapi menghasilkan feses 15 - 20 kg setiap hari, artinya akan dihasilkan 615 – 1.230 kg kotoran sapi per hari (224.475 – 448.950 kg/tahun), belum termasuk urin dan air memandikan sapi dan membersihkan kandang yang dilakukan setiap hari. Dengan lahan yang sangat terbatas, usaha ternak sapi perah GDF sangat berpotensi mencemari lingkungan disekitarnya. Tidak optimalnya pengolahan limbah disebabkan :1) Minimnya pengetahuan SDM Gisting Dairy farm mengenai pengelolaan limbah, kaitannya dengan perbaikan kualitas lingkungan. 2) SDM Gisting Dairy Farm belum mengetahui model dan teknologi pengolahan limbah dan manfaat pengolahan kaitannya dengan produksi bersih usaha sapi perah; 3) SDM Gisting Dairy Farm belum mengerti mengolah limbah menjadi pupuk organik maka perlu dilakukan pendampingan. Solusi yang ditawarkan : 1) Mensosialisasikan model dan teknologi pengolahan limbah dan manfaat pengolahan kaitannya dengan produksi bersih usaha sapi perah; 2) Merancang dan membuat model pengelolaan limbah di GDF; 3) Mendemonstrasikan pengolahan limbah menjadi pupuk organic dan membuat demplot percontohan tanman hijauan pakan ternak. 4) Melakukan pendampingan dalam proses penerapan/implementasi produksi bersih melalui pengelolaan terpadu limbah yang diproduksi pada usaha mitra, disertai dengan evaluasi. Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa : (1) Pemahaman SDM mitra terkait produksi bersih pada usaha sapi perah meningkat; (2) SDM mitra mampu mengoah limbah menjadi pupuk organic (kompos); (3) Terjadi perbaikan lingkungan yang signifikan melalui penerapan produksi bersih, limbah yang terbuang ke lingkungan menurun; (4) Implementasi produksi bersih pada usaha sapi perah di GDF mampu meningkatkan tanbahan pendapatan bagi sistem tersebut (B/C Ratio >0,12). 
BIMTEK INOVASI PRODUK BEKU HASIL PERIKANAN DALAM MENINGKATKAN PENDAPATAN KELOMPOK WANITA NELAYAN DI DESA SUKARAJA LAMPUNG SELATAN
Desa Sukaraja merupakan salah satu desa yang berada di kawasan pesisir Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung. Seperti kawasan pesisir pada umumnya, desa ini mempunyai potensi besar dalam bidang hasil perikanan. Potensi tersebut kurang dimanfaatkan dengan baik, dimana ketika musim panen tiba, ikan hasil tangkapan melimpah, namun tidak semua ikan hasil tangkapan dapat dimanfaatkan dengan baik, bahkan dibuang begitu saja karena sudah rusak, sedangkan pada musim paceklik ikan sulit untuk diolah. diperoleh, sehingga masyarakat kekurangan sumber pangan. protein untuk dikonsumsi. Hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan masyarakat dalam mengolah produk perikanan untuk menjaga kualitas dan umur simpannya. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada masyarakat Desa Sukaraja khususnya kelompok perempuan nelayan mengenai cara penanganan, pengolahan dan pemasaran hasil perikanan. Metode yang digunakan berupa pemberian materi, pelatihan dan praktek. Data yang diperoleh dari rata-rata skor evaluasi awal dan akhir peserta pelatihan adalah 32,50 dan 85,00. Jika dilihat dari peningkatan skornya terlihat terjadi peningkatan skor sebesar 52,50 poin. Peningkatan skor pada evaluasi akhir menunjukkan bahwa kegiatan pelatihan berjalan cukup baik. Oleh karena itu, pelatihan ini sangat tepat diberikan kepada masyarakat untuk menambah pengetahuan dan keterampilannya. Hasil dari sosialisasi ini adalah masyarakat memperoleh peningkatan pengetahuan mengenai pengolahan hasil perikanan, makanan beku, pengemasan, legalitas dan pemasaran produk, serta peningkatan keterampilan dengan mempraktekkan langsung pembuatan hasil perikanan. produk
PELATIHAN BUDIDAYA BAWANG MERAH BAGI PETANI DI BALAI PENYULUHAN PERTANIAN (BPP) KECAMATAN GISTING, KABUPATEN TANGGAMUS
Salah satu sayuran yang potensial dikembangkan di Kabupaten Tanggamus adalah Bawang Merah. Bawang merah merupakan salah satu komoditas yang berniali ekonomi tinggi. Kebutuhan masayarakat terhadap bawang merah sangat tinggi karena pada setiap masakan, bawang merah selalu digunakan. Dengan memproduksi bawang merah sendiri, kebutuhan akan bawang merah akan terpenuhi. Selama ini petani yang menanam bawang merah di Kabupaten Tanggamus masih sedikit. Hal tersebut disebabkan karena usaha penanaman bawang merah belum dikenal oleh para petani, sehingga petani memiliki keterbatasan pengetahuan dan keterampilan dalam budidaya tanaman bawang merah. Oleh karena itu perlu penyuluhan tentang teknologi budidaya bawang merah bagi petani di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Gisting, Kabupaten Tanggamus. Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dirumuskan Petani di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Gisting, Kabupaten Tanggamus belum memiliki pengetahuan tentang teknologi budidaya bawang merah serta potensi usahataninya. Petani di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Gisting, Kabupaten Tanggamus belum memiliki keterampilan dalam budidaya tanaman bawang merah. Dari berbagai permasalahan yang ada, maka solusi yang ditawarkan adalah: Meningkatan pengetahuan petani melalui penyuluhan tentang teknologi budidaya bawang merah serta potensi usahataninya. Pelatihan dan praktik budidaya tanaman bawang merah. Berdasarkan pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat Pelatihan Budidaya Bawang Merah Bagi Petani Di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Gisting, Kabupaten Tanggamus dapat disimpulkan bahwa: Pengetahuan petani tentang teknologi budidaya bawang merah serta potensi usahataninya meningkat melalui penyuluhan, Keterampilan petani tentang budidaya bawang merah meningkat melalui pelatihan.
 
Pengaruh Media Tanam Campuran Serbuk Bambu dan Serbuk Kayu Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Jamur Tiram (Pleurotus ostreatus)
Oyster mushroom is a commodity that is in high demand in the community. Oyster mushroom production in Indonesia is decreasing year after year as wood sawdust, which is often used as a media for oyster mushrooms, becomes increasingly difficult to get. Bamboo has a nutrient content similar to wood sawdust; therefore, bamboo sawdust can be utilized as a media for growing oyster mushrooms. The aim of this research was to find the best mixture of bamboo and wood sawdust for the growth and yield of oyster mushrooms (Pleurotus ostreatus). This research was carried out from July to October 2023 at Lampung State Polytechnic. This study used a randomized block design with one factor that was repeated four times. The following treatments were used: C0 = 100% wood sawdust, C1 = 90% bamboo sawdust + 10% wood sawdust, L2 = 80% bamboo sawdust + 20% wood sawdust, C3 = 70% bamboo sawdust + 30% wood sawdust, C4 = 60% bamboo sawdust + 40% wood sawdust, and C5 = 50% bamboo sawdust + 50% wood sawdust. The collected data was analyzed using analysis of variance (ANOVA) and then evaluated with LSD test at the 5% level. The results of this research were that the treatment of C5 = 50% bamboo sawdust + 50% wood sawdust gave the best results on the parameter of the mycelium growth rate, the time of the fruit body initiation (FBI), the number of hoods, the diameter of the hood, the thickness of the hood, the harvest, the harvest weight per baglog, and the total harvesting per plot