Jurnal Online Politeknik Negeri Lampung
Not a member yet
1980 research outputs found
Sort by
ASSESMENT MUTU IKAN TONGKOL DI TEMPAT PELELANGAN IKAN GUDANG LELANG, KOTA BANDAR LAMPUNG
Gudang Lelang merupakan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) terbesar di Kota Bandar Lampung. Mutu ikan yang diperjualbelikan semestinya diperhatikan untuk menjaga kualitas produk hasil tangkapan. Assessment mutui kan tongkol di tempat pelelangan ikan perlu dilakukan mengingat komoditas golongan tuna memiliki valuey ang relatif tinggi. Assesment ini disertai dengan pengecekan faktor penyebab penurunan mutu ikan tongkol. Kegiatan ini dilaksanakan pada bulan Oktober-November bertempat di TPI Gudang Lelang. Data terkoleksi melalui observasi lapang merujuk pada Standar Nasional Indonesia (SNI) 01-2346-2006, Petunjuk Pengujian Organoleptik dan atau Sensori, dengan objek kajian ikan segar. Observasi dilakukan pada mata, insang, lendir, tekstur, daging dan bau pada 15 sampel ikan per minggu selama selama tiga minggu berturut-turut dengan kisaran penilaian skor terendah1 dan tertinggi 9. Hasil assessment menunjukkan bahwa mata, insang, lendir, daging (warna & kenampakan) dan tekstur ikan berada pada nilai 5.5 – 7.5. Hal ini menunjukkan bahwa mutu ikan tongkol di TPI Gudang lelang telah mengalami penurunan
SEBARAN DAERAH PENANGKAPAN IKAN ALAT TANGKAP PAYANG DI PERAIRAN TELUK SEMANGKA KOTA AGUNG
Perairan Teluk Semangka termasuk ke dalam Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 572 yang memiliki potensi besar dari sisi sumberdaya ikan yang secara letak geografis berada pada 104º 32’ - 105º 08’ Bujur Timur dan 5º 30’ - 5º 55’ Lintang Selatan. Alat tangkap payang termasuk kelompok seine net adalah alat tangkap yang mempunyai bagian badan, sayap dan tali penarik, perut dan kantong. Tujuan dari proyek mandiri ini adalah untuk mengetahui titik lokasi daerah penangkapan ikan alat tangkap payang di perairan Teluk Semangka Kota Agung. Penelitian ini menggunakan metode observasi langsung dengan penggunaan (GPS) Global Positioning System dan aplikasi ArcGIS dan mendapatkan 34 titik-titik koordinat daerah penangkapan ikan. Berdasarkan hasil penelitian terdapat 3 daerah penangkapan ikan alat tangkap payang yang berpontensi di perairan Teluk Semangka yaitu di bagian utara di koordinat 5°30. 376’ - 5°30.934’S dan 104°35.567’ - 104°36.200’E, di bagian timur di koordinat 5°33.633’ - 5°33.783’S dan 104°43.799’ - 104°43.950’E serta di bagian barat 5°34.218’ - 5°34.383’S dan 104°33.620’ - 104°33.769’E. Hasil tangkapan pada alat tangkap payang seperti ikan layang (Decapterus spp), teri (Engraulidae), selar (Atule mate), alu-alu (Sphyraena), tenggiri (Scomberomorini), kembung (Rastrelliger), simba (Caranx lugubris), dan marlin (Istiophoridae). Total produksi ikan pada Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Kota Agung sampai bulan Oktober tahun 2023 berjumlah 247.290 ton
TEKNIK PENGOPERASIAN ALAT TANGKAP BOUKE AMI PADA KM SINAR SAMUDERA TERHADAP HASIL TANGKAPAN DI PERAIRAN SELAT KARIMATA
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui teknik pengoperasian alat tangkap bouke ami serta hasil tangkapan yang dioperasikan di perairan selat karimata. Penelitian dilaksanakan selama dua bulan yaitu dari bulan Maret hingga bulan Mei 2023 di Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman Jakarta dengan mengikuti kapal yang beroperasi di perairan selat karimata dengan metode observasi langsung. Analisis data menggunakan deskriptif dan analisis komposisi hasil tangkapan. Hasil pengamatan pada pengoperasian alat tangkap bouke ami yaitu terdapat tahapan persiapan, setting dan hauling. Alat tangkap yang digunakan memiliki panjang 18 meter dan lebar atau diameter jaring 16 meter dengan mesh size yang berbeda. Pada kaki jaring memiliki mesh size 5 cm terbuat dari bahan PE, badan jaring dengan mesh size 2 cm dan kantong jaring 1,5 cm. Hasil tangkapan didominasi cumi-cumi (loligo sp) sebanyak 255 kg, semampar (Pharaoh cuttle fish) sebanyak 25 kg dan blakutak (Squid sepiela) sebanyak 12 kg dengan nilai komposisi jenis terbesar pada jenis Loligo sp Sebesar 80% kemudian Pharaoh cuttle fish Sebesar 8 % diikuti Squid Sepiela sebesar 4 % dengan by-catch sebesar 8%
TRANSFER TEKNOLOGI PEMBENAH TANAH PADA GAPOKTAN SINAR HARAPAN DI DESA KRAWANGSARI, LAMPUNG SELATAN, SEBAGAI UPAYA PERBAIKAN KESUBURAN TANAH
Saat ini, petani di Desa Krawang Sari yang tergabung dalam Gapoktan Sinar Harapan dihadapkan dengan permasalahan kondisi lahan yang menurun status kesuburannya (pH tanah rendah). Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan anggota Gapoktan Sinar Harapan dalam penggunaan teknologi pembenah tanah sebagai upaya untuk menjaga kesuburan lahan pertanian. Kegiatan ini dilaksanakan selama empat bulan, yaitu pada bulan Mei—Agustus 2023. Proses transfer teknologi dilakukan dengan cara penyuluhan pertanian menggunakan teknik ceramah/presentasi, diskusi, demonstrasi cara, dan demonstrasi hasil. Evaluasi dilakukan dengan memberikan kuisioner yang berisi pertanyaan terkait materi penyuluhan yang telah diberikan. Perubahan kemampuan dalam menjawab pertanyaan menjadi indikator adanya perubahan pengetahuan yang dimiliki oleh petani. Sementara untuk peningkatan keterampilan petani dapat dilihat pada saat dilakukannya kegiatan praktik, baik dalam bentuk demonstrasi cara dan hasil. Dari kegiatan demonstrasi cara dan hasil yang telah dilakukan pada demplot tanah percobaan didapati adanya peningkatan pH tanah pada tanah yang telah diaplikasikan pembenah tanah, baik zeolite maupun dolomit. Pada demplot pertama, diperoleh pH tanah awal dengan nilai rata-rata 5,7 kemudian setelah diaplikasikan zeolite nilai rata-rata pH tanahnya naik menjadi 5,9. Sementara itu, pada demplot kedua diperoleh pH tanah awal dengan nilai rata-rata 5,6 kemudian setelah diaplikasikan dolomit nilai rata-rata pH tanahnya menjadi 6.
 
EFFECTS OF BLUE NPK FERTILIZER AND/OR BIOCHAR ON THE GROWTH AND YIELD OF OKRA (Abelmoschus esculentus L.) PLANT USING SILABUKAN SOIL
A study was conducted in nethouse at the Sustainable Agriculture Faculty at University Malaysia Sabah, Sandakan campus, to study the effect of using blue NPK fertilizers (12:12:17) with a different biochar rate (0, 1 and 2 tonnes ha-1). The objective of this study was to determine the optimum rate of NPK blue and/or biochar fertilizer on the growth and yield of okra plant using Silabukan soil and to determine the nutrient content found in the soil before and after the study. There are 15 treatments that have been used in this study and have 3 replicates for each treatment. The design used is a completely randomized design (CRD). Data were analyzed using ANOVA one way. The results for vegetative growth showed that the treatment of N5B3 (400 kg ha-1 and 3 tonnes ha-1) had the highest tree height of 185.7 cm and the highest number of leaves of 31 sheets. For the results of yield, the N4B3 (300 kg-1 blue NPK and 3 tonnes ha-1 of biochar) treatment showed the highest yield of 7 pieces of fruit and 22 cm long. For the results of soil analysis, N1B1 (0 kg-1 blue NPK and 0 tonnes ha-1 biochar) treatment showed the highest pH reading of 6.3. N2B1 treatment (100 kg ha-1 and 0 tonnes ha-1) shows the highest alumunium conversion readings of 1.5 cmolc kg-1. N4B1 treatment (300 kg-1 blue NPK and 0 tonnes ha-1 biochar) showed the highest availability of phosphorus 0.0592 mg kg-1. In conclusion, the N4B3 treatment (300 kg-1 blue NPK and 3 tonnes of ha-1 biochar) showed the best growth to produce a large amount of okra fruit about 7 pieces per plant.Satu kajian telah dijalankan di rumah kalis serangga Fakulti Pertanian Lestari di Universiti Malaysia Sabah, kampus Sandakan, untuk mengkaji kesan penggunaan baja NPK biru (12:12:17) disebatikan dengan kadar biochar yang berbeza (0, 1 dan 2 tan ha-1). Objektif kajian ini adalah menentukan kadar optimum baja NPK biru dan/atau biochar terhadap pertumbuhan dan hasil pokok bendi yang menggunakan tanah Silabukan dan menentukan kandungan nutrisi yang terdapat di dalam tanah sebelum dan selepas kajian. Terdapat 15 rawatan yang telah digunakan di dalam kajian ini dan mempunyai 3 replikasi bagi setiap rawatan. Reka bentuk kajian yang digunakan ialah reka bentuk rawak lengkap (CRD). Data yang telah diperolehi pula dianalisis menggunakan ANOVA satu hala. Keputusan bagi pertumbuhan vegetatif menunjukkan rawatan N5B3 (400 kg-1 NPK biru & 3 tan ha-1) mempunyai ketinggian pokok tertinggi iaitu 185.7 sm serta jumlah bilangan daun tertinggi iaitu sebanyak 31 helai. Bagi keputusan pengeluaran hasil pula, rawatan N4B3 (300 kg-1 NPK biru dan 3 tan ha-1 biochar) menunjukkan pengeluaran hasil buah bendi tertinggi iaitu 7 biji serta panjang buah bendi yang terpanjang iaitu 22 sm. Bagi keputusan analisis tanah pula, rawatan N1B1 (0 kg-1 NPK biru dan 0 tan ha-1 biochar) menunjukkan bacaan pH tertinggi iaitu 6.3. Rawatan N2B1 (100 kg ha-1 dan 0 tan ha-1) menunjukkan bacaan pertukaran alumunium tertinggi iaitu 1.5 cmolc kg-1. Rawatan N4B1 (300 kg-1 NPK biru dan 0 tan ha-1 biochar) menunjukkan ketersediaan fosforus tertinggi iaitu 0.0592 mg kg-1. Secara kesimpulannya, rawatan N4B3 (300 kg-1 NPK biru dan 3 tan ha-1 biochar) menunjukkan pertumbuhan yang terbaik untuk menghasilkan jumlah buah bendi sebanyak 7 biji per pokok
Optimization of the Refining Process for a Fraction Rich in Crude Common Pony Fish (Leiognathus equulus) Oil as a By-product of Fish Protein Hydrolysate Processing Using The Response Surface Method
The production of fish protein hydrolysate from common pony fish yields a fraction rich crude fish oil as a by-product. To utilize this by-product, refining is necessary to obtain common pony fish oil. This research aims to use a fraction rich crude fish oil from fish protein hydrolysate by-products to obtain fish oil and to determine the optimal conditions for the refining process using the response surface method (RSM) in the degumming, neutralization, and bleaching processes. The experimental design used was the Box–Behnken design, with the responses used to determine the optimum conditions at the degumming stage were water content and total dissolved solids. The response used to determine the optimum conditions at the neutralization stage was the refining factor, and at the bleaching stage was color (L, a*, b*). Parameters studied for each purification process include heating temperature (50-80°C), contact time between fraction rich crude fish oil with auxiliary materials (10-20 minutes) and the length of time for centrifugation (5-15 minutes) with a rotation speed of 10,062 G. The optimal conditions obtained in the degumming, neutralization, and bleaching processes for heating temperature, contact time between fraction rich crude fish oil with auxiliary materials, and centrifugation time, respectively, were 50°C, 10 min, 5 min; 50°C, 20 min, 5 min; and 80°C, 10 min, 15 min. Verification of the optimum conditions resulted in a free fatty acid value of 8.25% ± 0.01%, an acid value of 1.87 ± 0.02 mg KOH/g oil, a peroxide value of 1.04 ± 0.01 meq/Kg, an anisidine value of 11.11 ± 0.01 meq/Kg, a total oxidation value of 13.21 ± 0.01 meq/Kg and water content 6.052 ± 0.02 %. These results indicate a reduction in free fatty acids, acid number, peroxide number, anisidine number and water content by 66%, 90%, 73.5%, 61%, 63%, and 92% respectively. Our results showed that the purified fraction rich crude fish oil has met the SNI standards in parameter acid number, peroxide number, iodine number, anisidine number, and total oxidation value. The purification process that has been carried out can improve the quality fraction rich crude fish oil, but further processing still needs to be carried out to reduce water content and free fatty acid valueProduksi Hidrolisat Protein Ikan (HPI) di PT. Berikan Teknologi Indonesia menghasilkan produk samping berupa minyak ikan kasar. Minyak ikan kasar tersebut sampai dengan saat ini hanya dijadikan limbah begitu saja. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk memanfaatkan minyak ikan kasar dari hasil samping hirolisat protein ikan menjadi minyak ikan murni dan untuk menentukan kondisi optimal proses pemurnian minyak kasar dari ikan petek menggunakan response surface method (RSM) pada proses degumming. Desain eksperimen yang digunakan adalah Box-Behnken Design (BBD), dengan respon yang digunakan untuk mengetahui kondisi optimum pada tahap proses pemurnian degumming adalah kadar air dan total padatan terlarut. Parameter optimasi yang digunakan pada proses pemurnian adalah suhu pemanasan, waktu kontak antara NaCl dengan minyak ikan kasar dan waktu sentrifugasi. Kondisi optimal yang diperoleh proses degumming adalah suhu pemanasan 50°C, waktu kontak antara NaCl dengan minyak ikan kasar sebesar 10 menit, dan waktu sentrifugasi 15 menit. Verifikasi kondisi optimum menghasilkan nilai asam lemak bebas 8,25 ± 0,01%,, bilangan asam 1,87 ± 0,02 mg KOH/g minyak, bilangan peroksida 1,04 ± 0,01 meq/Kg, bilangan anisidin 11,11 ± 0,01 meq/kg dan nilai total oksidasi 13,21 ± 0,01 meq/kg. Persentase penurunan asam lemak bebas, bilangan asam, bilangan peroksida, dan bilangan anisidin berturut-turut 66%, 90%, 73-74%, 61%, dan 63%. Kondisi optimal menghasilkan nilai respon parameter mutu minyak ikan yang sudah sesuai dengan SNI minyak ikan murni tahun 2018
PENERAPAN TEKNOLOGI BIOFLOK PADA PEMBESARAN LELE DI POKDAKAN MINA KARYA DESA WAY DADI SUKARAME KOTA MADYA BANDAR LAMPUNG
Pokdakan Mina Karya di Sukarame Bandar Lampung merupakan kelompok pembudidaya ikan lele. Berdasarkan analisis situasi yang telah dilakukan, permasalahan yang dihadapi oleh mitra antara lain : produksi lele belum optimal karena masih menggunakan padat tebar rendah, efisiensi pakan rendah dan Feed Convertion Ratio (FCR) pakan tinggi, limbah buangan yang belum diolah dan penyakit yang mengakibatkan banyak kematian pada ikan lele. Solusi permasalahan adalah dengan penerapan teknologi bioflok yang diharapkan mampu meningkatkan produksi lele. Teknologi bioflok adalah budidaya ikan lele dengan kepadatan tinggi, hemat penggunaan air, efisiensi pakan tinggi karena penggunaan pakan dapat diperoleh dari hasil perombakan bahan organik yang ada pada media budidaya. Tujuan kegiatan ini adalah transfer ilmu pengetahuan dan ketrampilan teknologi bioflok melalui penyuluhan, pelatihan dan demonstrasi serta stimulan bantuan sarana budidaya lele dengan teknologi bioflok. Metode yang digunakan adalah metode ceramah, praktek, diskusi dan tanya jawab. Capaian kegiatan pengabdian antara lain peningkatan dalam pengetahuan dan ketrampilan dan berdampak positif bagi mitra antara lain : meningkatkan jumlah padat tebar menjadi 500 – 1000 ekor/m3, meningkatkan tingkat kelangsungan hidup sebesar 95% dan menurunkan FCR menjadi 1,0 -1,1.Hal ini menunjukkan bahwa penyuluhan yang dilakukan diserap dengan cukup baik oleh peserta dan dapat menambah pengetahuan, dan keterampilan peserta serta dapat memberikan motivasi berwirausaha sebagai penguatan usaha mandiri
PELATIHAN DAN PEMBIMBINGAN KEUANGAN PESANTREN MELALUI APLIKASI E-PESANTREN PADA PONDOK PESANTREN AZ ZAHRA LAMPUNG SELATAN
Sebagai salah satu lembaga yang salah satu sumber pendanaannya berasal dari masyarakat, pondok pesantren harus mampu menjadi lembaga yang memiliki akuntabilitas dan transparansi yang baik dalam pengelolaan keuangannya. Berdasarkan hasil analisis SWOT, permasalahan yang dihadapi oleh pengurus Pesantren dalam pengelolaan keuangannya adalah lemahnya pengetahuan pengurus Pesantren akan sistem dan praktik yang sehat dalam pengelolaan keuangan Pesantren dan lemahnya sentuhan teknologi dalam pengelolaan keuangan tersebut. Pelaksanaan kegiatan PKM ini menjalin kerjasama dengan Pondok Pesantren Az Zahra dengan tahapan pelaksanaan kegiatan: Tahap Meningkatkan Pengetahuan Mitra Tentang Akuntansi Keuangan Pesantren, Tahap peningkatan kualitas pengelolaan keuangan Pesantren melalui pembuatan dan implementasi sistem akuntansi Keuangan Pesantren, Tahap Pelatihan Penggunaan Aplikasi Akuntansi E-Pesantren, Tahap Implementasi Aplikasi Akuntansi E-Pesantren Pada Sistem Pencatatan Mitra, Rencana Keberlanjutan Program, Monitoring dan Evaluasi. Hasil yang diperoleh setelah pelaksanaan PKM adalah meningkatnya pengetahuan pengurus Pesantren akan sistem dan praktik yang sehat dalam pengelolaan keuangan Pesantren
Potensi Reproduksi Induk Ternak Sapi Bali pada Sistem Peternakan Rakyat di Kecamatan Taniwel Timur Kabupaten Seram Bagian Barat
The reproductive performance of female Bali cattle is one of the important factors that needs to be known in supporting the efficiency of beef cattle breeding programs so that mothers can produce calves every year. This research aims to determine the characteristics of the reproductive potential of Bali cattle in the community farming system in East Taniwel District, West Seram Regency. The research location was determined purposively, selecting 6 sample villages from 15 villages in East Taniwel District, West Seram Regency based on the criteria of having the largest number of Balinese cattle. These villages are Sohuwe Village, Maloang Village, Matapa Village, Lumalatal Village, Sekasale Village and Hatunuru Village. The research was conducted for 1 month from August to September 2023. Respondents were determined using a purposive sampling method based on the presence of the highest number of cattle population per sample village and the highest level of Balinese cattle ownership with the criteria of having kept cattle for at least 3 years, had given birth and had carried out marketing. Farmer respondents were taken 10 respondents per sample village, so that 60 respondents were obtained. Data on the general condition of the research location, respondent characteristics, business characteristics, population structure and reproductive potential were analyzed using simple statistical calculations and studied descriptively. The research results show that the structure of the livestock population is dominated by the presence of female livestock at adult age, heifers and calves. The reproductive potential obtained is the age at first mating 18.16 ± 1.40 months; pregnancy rate 84.96%; and a birth rate of 99.43% with pre-weaning child mortality of 8.4%.The reproductive performance of female Bali cattle is one of the important factors that needs to be known in supporting the efficiency of beef cattle breeding programs so that mothers can produce calves every year. This research aims to determine the characteristics of the reproductive potential of Bali cattle in the community farming system in East Taniwel District, West Seram Regency. The research location was determined purposively, selecting 6 sample villages from 15 villages in East Taniwel District, West Seram Regency based on the criteria of having the largest number of Balinese cattle. These villages are Sohuwe Village, Maloang Village, Matapa Village, Lumalatal Village, Sekasale Village and Hatunuru Village. The research was conducted for 1 month from August to September 2023. Respondents were determined using a purposive sampling method based on the presence of the highest number of cattle population per sample village and the highest level of Balinese cattle ownership with the criteria of having kept cattle for at least 3 years, had given birth and had carried out marketing. Farmer respondents were taken 10 respondents per sample village, so that 60 respondents were obtained. Data on the general condition of the research location, respondent characteristics, business characteristics, population structure and reproductive potential were analyzed using simple statistical calculations and studied descriptively. The research results show that the structure of the livestock population is dominated by the presence of female livestock at adult age, heifers and calves. The reproductive potential obtained is the age at first mating 18.16 ± 1.40 months; pregnancy rate 84.96%; and a birth rate of 99.43% with pre-weaning child mortality of 8.4%