Jurnal Online Politeknik Negeri Lampung
Not a member yet
1980 research outputs found
Sort by
ALIH TEKNOLOGI PANGKAS BENTUK SEBAGAI USAHA MENGOPTIMALKAN PERCABANGAN PRODUKTIF UNTUK MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS KAKAO PADA KELOMPOK TANI KARYA MAKMUR DESA WIYONO KECAMATAN GEDONG TATAAN KABUPATEN PESAWARAN
Desa Wiyono merupakan desa yang terletak diwilayah Kecamatan Gedong Tataan. Kedua desa tersebut memliliki posisi strategis dan berpotensi dalam pengembangan kakao serta objek wisatanya (Dinas Pertanian Kabupaten Pesawaran, 2019). Kedepanya hal ini akan menjadi daya Tarik kuat bagi wisatawan sehingga dapat mendukung pengembangan agrowisata kampung kakao sekaligus melakukan revitalisasi tanaman kakao di Kabupaten Pesawaran. Namun masih terkendala beberapa masalah diantaranya tanaman yg sudah tua dan sudah tidak produktif lagi sehingga perlunya ada penanggulangan dalam perbaikan atau peremajaan tanaman kakao agar lebih baik kembali. Adapun kegiatan yang telah dilaksanakan di Desa Wiyono yaitu pendampingan tentang berbagai jenis dan metode pemangkasan pada tanaman kakao diantaranya pangkas bentuk, pemeliharaan, dan produksi. Juga peningkatan pemahaman petani untuk mengenal bahan tanam unggul atau klon unggul dalam perbaikan tanaman kakao masyarakat. Berdasarkan hasil dan pembhasan yang telah didapat yaitu sebagai berikut : Peningkatan pemahaman petani mengenai berbagai jenis dan metode pemangkasan pada tanaman kakao diantaranya pangkas bentuk, pemeliharaan, dan produksi dan juga Juga peningkatan pemahaman petani untuk mengenal bahan tanam unggul atau klon unggul dalam perbaikan tanaman kakao di masyarakat
PEMBERDAYAAN WANITA TANI UNTUK PENGEMBAGAN GEOTEKSTIL BERBASIS SABUT KELAPA DI DESA CAMPANG RAYA SUKA BUMI BANDAR LAMPUNG
Kelapa merupakan salah satu komoditas yang paling melimpah di Indonesia. Kelapa, tidak hanya menyajikan makanan, minuman, dan bahan tambahan bagi kita, tetapi juga menghasilkan beberapa produk sampingan seperti sabut kelapa, atau cocofiber. Sabut kelapa asal Desa Campang biasanya dijual tanpa proses pengolahan lebih lanjut sehingga menyebabkan rendahnya nilai jual sabut kelapa tersebut. Namun masalah ini dapat diatasi dengan mengubah serat kelapa menjadi produk yang lebih bernilai seperti geotekstil. Namun terdapat beberapa permasalahan yang dihadapi petani di Desa Campang Raya seperti terbatasnya pengetahuan dalam pengolahan geotekstil berbahan dasar sabut kelapa, kurangnya pengetahuan tentang pentingnya memiliki mitra usaha, dan terbatasnya pengetahuan dalam mengelola usaha. Permasalahan tersebut pada akhirnya akan membatasi perkembangan usaha mereka yang berkaitan dengan serat kelapa. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, ada beberapa cara yang bisa dilakukan, antara lain dengan memberikan edukasi yang benar tentang serat kelapa dan geotekstil, mengenalkan mereka pada pengolahan serat kelapa, memberikan pelatihan keterampilan, dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengolah serat kelapa menjadi geotekstil. Maksud dan sasaran kegiatan pengembangan masyarakat ini secara umum adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan para petani di Desa Campang Raya sehingga dapat menghasilkan banyak produk dari sabut kelapa. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini juga dilakukan agar para petani di Desa Campang Raya mempunyai keterampilan yang cukup dalam memproduksi geotekstil sendiri, mengenalkannya kepada mitra usaha, serta mampu menghitung dan mengelola hasil usahanya sendiri
PROGRAM PEMBERDAYAAN EKONOMI KELUARGA MELALUI PELATIHAN OLAHAN TAHU DI RAJABASA JAYA RT 009 KOTA BANDAR LAMPUNG
Pengabdian ini dilakukan dengan memberikan pelatihan pembuatan makanan olahan tahu pada ibu- ibu rumah tangga di lingkungan RT 009 Rajabasa Jaya. Adapun tujuan dari pelatihan ini agar dapat menciptakan jiwa wirausaha para ibu-ibu rumah tangga, meningkatkan keterampilan dalam bidang pengolahan pangan, terutama dalam hal pembuatan olahan tahu, sehingga mampu memberikan tambahan penghasilan bagi keluarga. Olahan tahu cukup prospektif karena makanan favorit di masyarakat. Tahu mengandung protein yang cukup tinggi, sehingga berpotensi diolah menjadi produk pangan yang bergizi. Bahan dan cara pembuatan olahan tahu mudah diperoleh dan dipraktekkan. Metode pelaksanaan pelatihan dengan metode langsung praktek. Hasil evaluasi pelatihan membuat pangan olahan tahu ini terlaksana dengan baik dan peserta ibu ibu rumah tangga sudah mempunyai kreatifitas dan inovasi dalam membuat olahan tahu.
 
Analisis Faktor Kondisi Pembibitan Kelapa Sawit Terhadap Serangan Penyakit Bercak Daun yang Disebabkan oleh Curvularia sp.
Penyakit bercak daun yang disebabkan oleh patogen Curvularia sp. dapat menyebabkan persentase serangan hingga 93,29% dan intensitas serangan sebesar 47,13%. Banyak faktor yang menyebabkan pesatnya perkembangan penyakit ini, antara lain kondisi tempat penyemaian, gulma, sertifikasi pembibitan, teknik pengendalian, lokasi pembibitan dll. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor di pembibitan yang menyebabkan tingginya serangan penyakit bercak daun. Metode survei yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling dengan mengambil sampel >80 bibit pada setiap lokasi pembibitan. Lokasi pembibitan yang diambil sampel sebanyak 9 lokasi pembibitan kelapa sawit. Data dianalisis dengan menggunakan uji T (perbandingan populasi) pada setiap faktor pendukung perkembangan penyakit. Hasil penelitian menunjukan terjadi perbedaan yang signifikan pada persentase dan intensitas serangan penyakit pada faktor tempat penyemaian kelapa sawit, lokasi pembibitan kelapa sawit, keberadaan gulma di pembibitan kelapa sawit, sertifikasi pembibitan kelapa sawit, dan jenis bibit kelapa sawit. Namun pada intensitas serangan bercak daun pada jenis bibit kelapa sawit menunjukan tidak berbeda secara signifikan. Penyakit bercak daun yang disebabkan oleh patogen Curvularia sp. dapat menyebabkan persentase serangan hingga 93,29% dan intensitas serangan sebesar 47,13%. Banyak faktor yang menyebabkan pesatnya perkembangan penyakit ini, antara lain kondisi tempat penyemaian, gulma, sertifikasi pembibitan, teknik pengendalian, lokasi pembibitan dll. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor di pembibitan yang menyebabkan tingginya serangan penyakit bercak daun. Metode survei yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling dengan mengambil sampel >80 bibit pada setiap lokasi pembibitan. Lokasi pembibitan yang diambil sampel sebanyak 9 lokasi pembibitan kelapa sawit. Data dianalisis dengan menggunakan uji T (perbandingan populasi) pada setiap faktor pendukung perkembangan penyakit. Hasil penelitian menunjukan terjadi perbedaan yang signifikan pada persentase dan intensitas serangan penyakit pada faktor tempat penyemaian kelapa sawit, lokasi pembibitan kelapa sawit, keberadaan gulma di pembibitan kelapa sawit, sertifikasi pembibitan kelapa sawit, dan jenis bibit kelapa sawit. Namun pada intensitas serangan bercak daun pada jenis bibit kelapa sawit menunjukan tidak berbeda secara signifikan. 
Penggunaan Hormon Tumbuh Alami dan Komposisi Media Tanam Terhadap Pertumbuhan Bibit Kakao
Cocoa seeds are recalcitrant seeds, namely seeds that cannot tolerate drying, and are sensitive to low temperatures and humidity. Naturally, cocoa seeds do not have dormancy, have low shelf life and are sensitive to changes in the storage environment. Therefore, proper handling is required after the seeds arrive at their shipping destination (after the seeds have been stored during shipping). Among them is by providing growth regulator (ZPT) treatment, so that seed vigor can be maintained. Cocoa plants can grow well if planted in media with a composition of organic materials and nutrients needed by the plants. This research aims to look at the interaction of natural growth hormones and planting media on cocoa seeds which experience a decrease in quality on the growth of cocoa seedlings. This research used a split plot design with a RAL pattern consisting of a main plot which was a combination of planting media and sub plots which were natural growth hormones, each treatment was repeated 3 times. Each experimental unit consisted of 3 seed samples, so that 90 seeds were obtained. The research results showed that there was no interaction between the use of natural growth hormones and the composition of the planting medium on the parameters of seed water content, vigor index, germination power, growth speed, seed height, number of leaves, leaf area and root volume, as well as seed dry weight. The best hormonal treatment for the parameters of leaf area, root volume and dry weight of seedlings is a hormone from tomato extract. The best planting media composition is alluvial topsoil + chicken manure + husk charcoal (1 : 1 : 1).Benih kakao termasuk benih rekalsitran, yaitu benih yang tidak tahan dikeringkan, peka terhadap suhu dan kelembaban rendah. Secara alami benih kakao tidak mempunyai dormansi, berdaya simpan rendah dan peka terhadap perubahan lingkungan simpan. Oleh sebab itu, dibutuhkan penanganan yang tepat setelah benih sampai pada tujuan pengiriman (setelah benih disimpan selama pengiriman). Diantaranya adalah dengan memberi perlakuan zat pengatur tumbuh (ZPT), agar vigoritas benih dapat dipertahankan. Pembibitan tanaman kakao dapat tumbuh dengan baik apabila ditanam pada media dengan komposisi bahan organik dan unsur hara yang diperlukan bagi tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk melihat interaksi hormon tumbuh alami dan media tanam pada benih kakao yang mengalami penurunan kualitas terhadap pertumbuhan bibit kakao. Penelitian ini menggunakan rancangan petak terbagi (split plot design) dengan pola RAL terdiri dari petak utama (main plot) adalah kombinasi media tanam dan anak petak (sub plot) adalah hormon tumbuh alami, masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Setiap unit percobaan terdiri dari 3 sampel bibit, sehingga diperoleh 90 bibit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terjadi interaksi dari penggunaan hormon tumbuh alami dan komposisi media tanam terhadap parameter kadar air benih, indeks vigor, daya berkecambah, kecepatan tumbuh, tinggi bibit, jumlah daun, luas daun, dan volume akar, serta berat kering bibit. Perlakuan hormon terbaik untuk parameter luas daun, volume akar, dan bobot kering bibit adalah hormon dari ekstrak tomat. Komposisi media tanam terbaik yaitu pada Topsoil alluvial + pupuk kandang ayam + arang sekam (1 : 1 : 1)
ANALISIS FASE BULAN TERHADAP HASIL TANGKAPAN PURSE SEINE DI PERAIRAN AMAHAI, PULAU SERAM
Intensitas cahaya yang diterima perairan berubah sesuai dengan fase bulan, yang berdampak pada perilaku ikan yang memiliki sifat fototaksis positif atau negatif terhadap cahaya. Hal ini secara langsung mempengaruhi volume hasil tangkapan nelayan. Pemahaman yang kurang mendalam mengenai pengaruh fase bulan ini membuat nelayan seringkali tidak dapat memaksimalkan hasil tangkapan mereka. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh fase bulan terhadap hasil tangkapan purse seine dan komposisi hasil tangkapan purse seine berdasarkan fase bulan di Perairan Amahai. Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari-Maret 2024 yang bertempat di Perairan Amahai, Pulau Seram. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode survei dengan melakukan observasi secara langsung di lapangan. Hasil analisis menunjukan Fase bulan tidak berpengaruh signifikan terhadap hasil tangkapan purse seine dimana nilai Signifikasi sebesar 0.529 > 0,05. Hasil tangkapan purse seine sebanyak 25.570 Kg dengan komposisi hasil tangkapan pada fase bulan New Moon yakni ikan momar (Decapterus sp) 62 %, ikan selar (Selar sp) 38%. Komposisi hasil tangkapan pada fase bulan First Quarter yakni ikan layang (Decapterus sp) 63 %, ikan selar (Selar sp) 37%. Komposisi hasil tangkapan pada fase bulan Full Moon yakni ikan layang (Decapterus sp) 57%, ikan selar (Selar sp) 30 %, ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) 13%. Sedangkan pada fase bulan Last Quarter komposisi hasil tangkapan yakni ikan layang (Decapterus sp) 66%, ikan selar (Selar sp) 33%, dan ikan cakalang (Katsuwonus pelamins) 1%
Pengaruh Fermentasi Ekstrak Keong Mas (Pomacea canaliculate L.) dalam Effective Microorganism 4 (EM4) Terhadap Kadar NPK, Asam Amino dan Fitohormon
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar NPK, asam amino dan fitohormon pada ekstrak keong mas yang difermentasi menggunakan EM4 (Effective Microorganism 4). Penelitian ini dilakukan dengan cara menambahkan EM4 aktif yang terdiri dari 6 level konsentrasi (0%; 5%; 10%; 15%; 20%; 25%) dan air gula ke dalam reaktor yang berisi ekstrak keong mas. Proses fermentasi dilakukakan selama 14 hari. Selanjutnya dilakukan pengambilan sampel pada hari ke 0 dan hari ke 14 untuk dianalisis kandungan hara makro yang terdiri dari N-total, P2O5 dan K2O, kandungan asam amino dan fitohormon dengan metode Kjeldhal dan LCMS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar N-total dan Kalium berbeda sangat nyata, dimana terjadi penurunan kadar N total dari ekstrak keong mas pada beberapa konsentrasi EM4 aktif selama proses fermentasi, kandungan Nitrogen paling tinggi terdeteksi pada fermentasi tanpa EM4 (0%), yaitu sebesar 1,766 % (v/v). Kadar Nitrogen paling kecil pada fermentasi menggunakan 25% EM4 aktif yaitu sebesar 1,474%. Sedangkan kandungan fosfor tidak mengalami penurunan kadar secara signifikan selama fermentasi 14 hari pada semua perlakuan. Semakin bertambahnya konsentrasi EM4 aktif, terjadi penurunan pada 12 jenis asam amino dari ekstrak keong mas segar. Kandungan Sitokinin dan Giberelin tidak teridentifikasi, sedangkan IAA (Indole asetic acid) terjadi peningkatan selama proses fermentasi 14 hari pada semua perlakuan
Pola Pertumbuhan Bibit Anggrek (Dendrodium sp.) Dalam Tahapan Aklimatisasi Pada Pengaruh Naungan dan Media Tanam
The research was conducted at the Experimental Garden of the Faculty of Agriculture, Baturaja University. Ogan Komring Olu Regency. The materials used were: Dendrobium sp orchid seedlings, charcoal, ferns, coconut fiber. The tools used were plastic/paranet, 7 cm diameter plastic pots. ruler, pot rack, treatment labels, stationery, and cameras. The study used a Randomized Block Design (RAK). The factorial treatment consisted of a combination of Shade (N), and planting media composition (M), the combination of Shade (N) consisted of 3 levels and the composition of the planting media consisted of 3 levels, the treatment was repeated three times so there were 27 combinations. Each treatment consisted of 5 plants with five sample plants. The variables observed were the percentage of growth, plant height, number of leaves, number of roots, root length, and wet weight of the plant. From the results, it was obtained that the average vegetative appearance of dendrobium orchid seedlings from the shade and planting media treatments showed more vigorous growth than without shade. The average growth of shaded seedlings was higher than without shade. Growth was higher in 50% shade. The average growth of orchid seedlings was higher in coconut fiber, fern, and rice husk charcoal (1:1:1) planting media except for leaf chlorophyll content. Correlation regression testing of the percentage of survival determined plant height by 0.55. number of leaves 0.19, dry plant weight 0.57, root length 0.005, number of roots 0.63, and leaf chlorophyll content 0.41. Based on the coefficient of determination (R2), the percentage of plant growth correlated with the number of roots, dry plant weight and plant height. The conclusion of this study is based on the plant growth pattern, the use of 50% shade and the use of coconut fiber, fern, and rice husk charcoal (1:1:1) planting media is a better treatment for the growth of Dendrobium sp. Orchids. The percentage of survival determined plant height by 0.55. number of leaves 0.19, dry plant weight 0.57, root length 0.005, number of roots 0.63, and leaf chlorophyll content 0.41. From the results of the determination coefficient (R2), it can be seen that the percentage of plant growth is correlated with the number of roots, dry weight of the plant and plant height.Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Baturaja. Kabupaten Ogan Komring Olu. Bahan yang digunakan adalah: bibit anggrek Dendrobium sp, arang, pakis,sabut kelapa. Alat yang digunakan adalah plastik/paranet, pot plastik diameter 7 cm. mistar, rak pot, lebel perlakuan, alat tulis, dan kamera. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK). Faktorial perlakuan terdiri kombinasi Naungan (N), dan komposisi media tanam (M), kombinasi Naungan (N) terdiri dari 3 taraf dan komposisi media tanam terdiri dari 3 taraf, perlakuan diulang sebanyak tiga kali jadi terdapat 27 kombinasi. Setiap perlakuan terdiri dari 5 tanaman dengan lima tanaman contoh. Peubah yang diamati adalah persentase tumbuh, tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah akar, panjang akar, dan bobot basah tanaman. Dari hasil didapat bahwa rerata penampilan vegetatif bibit anggrek dendrobium dari perlakuan naungan dan media tanam menunjukkan pertumbuhan lebih vigor dari tanpa naungan Rata-rata pertumbuhan bibit yang dinaungi lebih tinggi di banding dengan tanpa penaungan. Pertumbuhan lebih tinggi pada naungan 50%. Rata-rata pertumbuhan bibit anggrek lebih tinggi pada media tanam sabut kelapa, pakis, arang sekam (1:1:1) kecuali kandungan klorofil daun. Pengujian regresi korelasi persentase hidup menentukan tinggi tanaman sebesar 0,55. jumlah daun 0.19, bobot kering tanaman 0,57, panjang akar 0,005, jumlah akar 0,63, dan kandungan klorofil daun 0,41. Berdasarkan koefisien determinasi (R2), persentase tanaman tumbuh berkorelasi dengan jumlah akar, bobot kering tanaman dan tinggi tanaman. Kesimpulan dari penelitian ini adalah berdasarkan pola pertumbuhan tanaman penggunaan naungan 50 % dan penggunaan media tanam sabut kelapa, pakis, arang sekam (1:1:1) merupakan perlakuan yang lebih baik untuk pertumbuhan Anggrek Dendrobium sp. Persentase hidup menentukan tinggi tanaman sebesar 0,55. jumlah daun 0.19, bobot kering tanaman 0,57, panjang akar 0,005, jumlah akar 0,63, dan kandungan klorofil daun 0,41. Dari hasil koefisien determinasi (R2) di dapat bahwa persentase tanaman tumbuh berkorelasi dengan jumlah akar, bobot kering tanaman dan tinggi tanaman
Pemberian Kasgot Black Soldier Fly Dan PGPR Akar Bambu Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Bawang Merah ( Alium ascalonicum L.) Varietas Tajuk: indonesia
The aim of this study was to determine the effect, interaction, and the best dosage and concentration of Black Soldier Fly (BSF) Kasgot and Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) bamboo roots an the growth and yield of shallot (Allium ascalonicum L.) of canopy varities. This study was conducted from February to June 2023 at SMK PPN Gorontalo, Telaga Sub District, Gorontalo Regency, Furthermore, this studi used a factorial randomized block design (RDB) with 2 factors. The first factor was Black Soldie Fly Kasgot (K) with 4 levels: K0 = control, K1 = 200 g/polybag, K2 = 300 g/polybag, K3 = 400 g/polybag. Meanwhile, the second factor was PGPR of bamboo roots (P) with 4 levels: P0 = (control), P1 = 20 ml/litre of water, P2 = 30 ml/litre of water, P3 = 40 ml/litre of water. The parameters measured were plant height, number of leaves, number of tillers, fresh tuber weight, tuber number, tuber diameter and dry tuber weight. The observational data were then analyzed using analysis of variance (ANOVA α = 5%) and continued with the DMRT test with a level of 5%. The results showed that the application of Black Soldier Fly (BSF) Kasgot had a significant effect on plant height, number of leaves, number of tillers, fresh tuber weight, tuber number, tuber diameter and dry tuber weight of shallot plants. Meanwhile, the PGPR of bamboo roots had a significant effect on plant height and number of leaves. There was an interaction between the two treatments on the parameters of plant height, number of leaves and tuber diameter, where the best combination was found in the application of Kasgot as much as 400 grams/polybag + PGPR 30 ml/litre of water. Lastly the best dosage Kasgot was in the treatment of 400 grams/polybag and the best PGPR concentration was 40 ml/litre of water.
Keywords: Black Soldier Fly (BSF) Kasgot, Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) Bamboo Root, Canopy Variety.Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh, interaksi serta dosis dan konsentrasi terbaik kasgot Black Soldier Fly (BSF) dan Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) akar bambu terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah (Allium ascalonicum L) varietas tajuk. Penelitian dilaksanakan pada Bulan Februari sampai Juni 2023 yang berlokasi di SMK PPN Gorontalo, Kecamatan Telaga Kabupaten Gorontalo. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial dengan 2 faktor. Faktor pertama yaitu, Kasgot Black Soldier Fly (K) dengan 4 taraf yaitu K0 = Kontrol, K1 = 200 g/polybag, K2= 300 g/polybag, K3= 400 g/polybag dan faktor kedua PGPR akar bambu (P) dengan 4 taraf yaitu P0 = (kontrol), P1 = 20 ml/liter air, P2 = 30 ml/liter air, P3 = 40 ml/liter air. Parameter yang diukur adalah tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah anakan, bobot umbi basah, jumlah umbi, diameter umbi dan bobot umbi kering. Data hasil pengamatan dianalisis dengan menggunakan analisis of varians (ANOVA α = 5%) dan dilanjutkan dengan uji DMRT dengan taraf 5 %. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi kasgot Black Soldier Fly (BSF) berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah anakan, bobot umbi basah, jumlah umbi, diameter umbi dan bobot umbi kering tanaman bawang merah. Sedangkan PGPR akar bambu berpengaruh nyata pada tinggi tanaman dan jumlah daun. Terdapat interaksi antar kedua perlakuan pada parameter tinggi tanaman, jumlah daun dan diameter umbi dimana kombinasi terbaik terdapat pada pemberian kasgot 400 gram/polybag + PGPR 30 ml/liter air. Dosis kasgot yang sesuai ada pada perlakuan 400 gram/polybag dan konsentrasi PGPR yang sesuai yaitu 40 ml/liter air.
Kata kunci: Kasgot Black Soldier Fly (BSF), Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) Akar Bambu, Varietas Tajuk
English
The Mobile Waste Bank Program is one of the PT PLN (Persero) UID S2JB TJSL Program’sas an effort to empower and develop community potential, so that there is an increasedincome through productive activities, along utilizing existing resources to makeeconomically valuable and beneficial to the community. The objectives of this article are to:describes the processing of organic waste into compost and ecoenzymes; and analyze theimpact of social investment resulting from the Prabumulih City Mobile Waste Bank programfunded by the PT PLN (Persero) UID S2JB TJSL Program. The research used wasqualitative and quantitative research method. The sampling method in this study was apurposive sampling technique which was carried out on 15 resource persons. All the stagesthat must be passed in this research refer to the six phases of the SRoI analysis study methodin the guidelines issued by the Social Value UK organization, namely: establishing scopeand identifying key stakeholders; mapping outcomes; evidencing outcomes and giving thema value; establishing impact; calculating the SRoI; reporting, using and embedding. Theresults of organic waste processing at BSP are compost and ecoenzymes as an organicfertilizer. Ecoenzyme is also used as ingredients for making environmentally friendlycleaning products such as dishwashing liquid, hand washing, and bodywash. Based on theresults of the SRoI analysis of the Mobile Waste Bank Program in the Prabu Ijo CommunityGroup in Prabumulih City, it shows that the program is worthy to implement. The results ofSRoI analysis provide value of 1.12. The investment input value is IDR 506,000,000, for oneyear calculation has produced a social benefit achievement value that is equivalent of IDR568,538,142 financial value. It is necessary to increase the portion of impact that is greaterrelated to economic activities and business development impact