Jurnal Online Politeknik Negeri Lampung
Not a member yet
1980 research outputs found
Sort by
EFEKTIVITAS SEED COATING BERBAHAN AKTIF JAMUR ANTAGONIS MENGENDALIKAN PENYAKIT REBAH KECAMBAH PADA BIBIT CABAI
This study aims to determine the inhibitory ability of antagonistic fungi from the rhizosphere of pepper (Piper nigrum L.), betel nut (Piper bettle L.) and Bawang Suna (Allium cinense G.Don.) against Fusarium oxysporum capsici which causes damping off disease and its effectiveness as a seed coating against damping off disease in chili seedlings. The research was carried out in the laboratory and experimental garden of the Department of Agricultural Cultivation, Faculty of Agriculture, UPR. Testing the antagonistic inhibition of F.o.capsici in vitro, where the antagonistic fungus with the highest inhibition from each plant rhizosphere was used as a seed coating for chili seeds to determine its effectiveness in suppressing damping off disease on seedlings. The results of the study obtained nine antagonist fungi with very good inhibition against the pathogen F.o.capsici in vitro ranging from 70.36 – 77.74%. Three types of antagonistic fungi that are used as active ingredients in seed coatings are Gliocladium sp. from pepper rhizosphere (73.53% inhibition), Penicillium citrinum from betel rhizosphere (77.74% inhibition), and Trichoderma harzianum from suna onion rhizosphere (70.83%). The seed coating treatment with active ingredients from three types of biological agents significantly reduced the intensity of damping off disease (0%) compared to the control (23.75%). Control effectiveness reaches 100% with very good category. Seed coating with active ingredients of T. harzianum and Gliocladium sp was able to increase plant height by 34.06% and 43.11%, respectively, but there was no significant difference in increasing the number of leaves. Seed coating treatment with biological agents effectively protects seeds and plant seedlings from attack by pathogens F.o. capsici through mechanisms such as antibiosis, parasitism and competition, besides that rhizosphere fungi can induce plant resistance and produce growth regulators which can increase the growth of chili seedlings. It is hoped that in the future the seed coating treatment added with biological agents can replace the use of chemical pesticides in controlling soil-infected diseasesPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan daya hambat jamur antagonis dari rizosfer tanaman lada, sirih, dan bawang suna terhadap Fusarium oxysporum capsici serta efektivitasnya sebagai seed coating terhadap penyakit rebah kecambah pada bibit cabai. Penelitian dilaksanakan di laboratorium dan kebun percobaan Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian UPR. Pengujian daya hambat dilakukan secara in vitro, dimana jamur antagonis dengan penghambatan tertinggi digunakan sebagai seed coating benih cabai. Hasil penelitian diperoleh sembilan jamur antagonis dengan daya hambat yang sangat baik terhadap patogen F.o.capsici berkisar antara 70,36 – 77,74 %. Selanjutnya tiga jenis jamur antagonis terpilih digunakan sebagai bahan aktif seed coating adalah Gliocladium sp. rhizosfer lada (daya hambat 73,53%), Penicillium citrinum rizosfer sirih (daya hambat 77,74%), dan Trichoderma harzianum rizosfer bawang suna (daya hambat 70,83 %). Hasil secara in vivo menunjukkan pengaruh sangat nyata perlakuan seed coating menekan intensitas serangan penyakit rebah kecambah (0%) dibandingkan dengan kontrol (23,75%). Efektivitas pengendalian mencapai 100% dengan kategori sangat baik. Bahan aktif T. harzianum dan Gliocladium sp mampu meningkatkan tinggi tanaman masing-masing 34,06% dan 43.11%, namun tidak nyata perbedaannya terhadap penambahan jumlah daun. Perlakuan seed coating agens hayati efektif melindungi benih dan bibit tanaman dari serangan patogen F.o. capsici melalui mekanisme seperti antibiosis, parasitisme dan kompetisi, selain itu jamur rizosfer dapat menginduksi ketahanan tanaman dan menghasilkan zat pengatur tumbuh yang dapat meningkatkan pertumbuhan bibit cabai. Perlakuan pelapisan benih yang ditambahkan agens hayati dapat menggantikan penggunaan pestisida kimia dalam mengendalikan penyakit tertular tanah
KELEMBAGAAN BADAN USAHA MILIK DESA (BUMDES) DAN PENGARUHNYA TERHADAP KEMISKINAN RUMAH TANGGA DI KABUPATEN DONGGALA PADA MASA PANDEMI COVID-19
Poverty alleviation and reduction must be done through development programs, one of which is through BUMDes empowerment. The existence of BUMDes is directed at community development policies aimed at overcoming poverty in the community. This research aims to determine the institutional effect of village-owned enterprises (bumdes) on household poverty in donggala district during the co-19 pandemic. This research was conducted in Donggala Regency, Sulawesi Province The method of determining the research location was carried out deliberately. The data analysis used in this research is qualitative analysis and quantitative analysis. The results showed that in real terms the variables of income, consumption expenditure, the presence of BUMDes and the influence of Covid-19, had an effect on household poverty in Donggala Regency. The variables of age and number of household members have no effect on poverty.
Keywords:, BUMDes, Poverty, Covid 19Pengentasan dan penurunan angka kemiskinan harus dilakukan melalui program-program pengembangan yang salah satunya melalui pemberdayaan BUMDes. Keberadaan BUMDes diarahkan pada kebijakan pembangunan masyarakat yang diarahkan untuk mengatasi kemiskinan di masyarakat. Peneltian Ini bertujuan mengetahui pengaruh kelembagaan badan usaha milik desa (bumdes) terhadap kemiskinan rumah tangga di kabupaten donggala pada masa pandemi covid-19. Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Metode penentuan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara nyata variabel pendapatan, pengeluaran konsumsi, keberadaan BUMDes dan Pengaruh Covid-19, berpengaruh terhadap kemiskinan rumah tangga di Kabupaten Donggala. Variabel usia dan jumlah anggota rumahtangga tidak berpengaruh terhadap kemiskinan.
Kata kunci : Bumdes, Kemiskinan, Covid 1
Evaluasi Kajian Oil Extraction Rate (OER) Optimum sebagai Standar Panen Kelapa Sawit
This research aims to carry out a basic evaluation of the harvest of palm kernel 3 (BD3), palm kernel 7 (BD7), fraction 1 (FR1), and fraction 2 (FR2) on the types of soil and peat and minerals that are tested and analyzed based on observations of the number of loose fruits from bunches (brondolan) on the plate. This research was conducted at PT Gandaera Hendana, Ukui 2 Village, Ukui District, Pelalawan Regency, Riau Province. The study used a factorial randomized block design (RBD) with two factors: harvest base and two types of soil. The parameters observed consisted of adding a number of brondolan after harvest, the multiple of brondol after harvest, oil to bunch analysis, and potential oil extraction rate (OER). The analysis showed that adding loose fruit after harvest in mineral soil increased significantly two times more than peat (15.2 loose fruit). The harvest standard for fraction 2 increased significantly due to the addition of loose bunches after harvest (23.9 bunches) and their interaction in mineral soil (38.6 bunches). The base of palm kernels 3 (BD 3) shows a very significant increase in the yield of palm kernels after harvest (2.4 times) as well as its interaction in mineral soil (2.7 times). The palm kernels harvest standard 3 showed the highest increase in OER potential (23.25%) and OER potential in mineral soil (24.46%).This research aims to carry out a basic evaluation of the harvest of palm kernel 3 (BD3), palm kernel 7 (BD7), fraction 1 (FR1), and fraction 2 (FR2) on the types of soil and peat and minerals that are tested and analyzed based on observations of the number of loose fruits from bunches (brondolan) on the plate. This research was conducted at PT Gandaera Hendana, Ukui 2 Village, Ukui District, Pelalawan Regency, Riau Province. The study used a factorial randomized block design (RBD) with two factors: harvest base and two types of soil. The parameters observed consisted of adding a number of brondolan after harvest, the multiple of brondol after harvest, oil to bunch analysis, and potential oil extraction rate (OER). The analysis showed that adding loose fruit after harvest in mineral soil increased significantly two times more than peat (15.2 loose fruit). The harvest standard for fraction 2 increased significantly due to the addition of loose bunches after harvest (23.9 bunches) and their interaction in mineral soil (38.6 bunches). The base of palm kernels 3 (BD 3) shows a very significant increase in the yield of palm kernels after harvest (2.4 times) as well as its interaction in mineral soil (2.7 times). The palm kernels harvest standard 3 showed the highest increase in OER potential (23.25%) and OER potential in mineral soil (24.46%)
PEMBERDAYAAN KELOMPOK WANITA TANI MENTARI MELALUI PELATIHAN PERBANYAKAN Trichoderma spp PADA MEDIA BERAS SEBAGAI AGEN HAYATI DI DESA WIYONO
Tujuan dilaksanakannya kegiatan PKM di Desa Wiyono ini adalah agar petani mampu melaksanakan perbanyakan Trichoderma sebagai agen pengendali hayati dengan media beras. Selain itu, diharapkan petani mampu mengurangi penggunaan pupuk dan pestisida kimia yang dapat mencemari lingkungan dan menambah biaya produksi petani. Guna mendukung pelatihan perbanyakan Trichoderma sp sebagai agen pengendali hayati pada Kelompok Wanita Tani Mentari, tim pengusul telah merancang metode yang digunakan untuk mencapai tujuan dan target khusus kegiatan ini berbentuk penyuluhan, demonstrasi, pelatihan, konsultasi, dan bimbingan. Kegiatan PKM ini berjalan dengan baik karena anggota Kelompok Wanita Tani Mentari yang sangat antusias mengikuti demonstrasi dan pembimbingan. Para peserta juga melaksanakan secara langsung perbanyakan Trichoderma pada media beras, sehingga diharapkan kegiatan ini akan terus berlanjut supaya mengurangi penggunaan pupuk dan pestisida kimia. Hasil perbanyakan dapat dilihat tiga minggu kemudian. Hasil perbanyakan Trichoderma yang diperoleh dapat langsung digunakan sebagai pupuk maupun pestisida pengendali patogen penyebab penyakit pada tanaman. Berdasarkan kegiatan PKM yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa kemampuan pengetahuan peserta meningkat sebesar 62%
Evaluasi Pengelolaan Penyakit Tanaman Terpadu pada Petani Jagung (Zea mays L.) Di desa Suka Menang, Kecamatan Gelumbang, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan
Corn (Zea mays L.) is one of the most important food crop commodities in the world after rice and wheat. In some countries, corn is the main source of carbohydrates. However, pests and diseases are the main obstacles to maize production in the tropics and sub-tropics. There are two main diseases that have the potential to reduce maize production, including leaf rust and leaf blight. leaf rust disease can reduce production up to 70% Leaf rust disease is caused by Puccinia Sp. Leaf blight can cause yield losses of up to 50%. Leaf blight is caused by Helminthosporium turcicum. Therefore, combined control is needed to minimize the impact, namely by applying the concept of integrated disease management. This study aims to determine evaluate integrated disease control that has been carried out by several farmers in Suka Menang village, Gelumbang District, Muara Enim Regency. The results of field practice show that most of the corn farmers in Suka Menang Village, Glummbang District, Muara Enim Regency have implemented the concept of integrated disease management. In the implementation process, farmers are not aware that what they are doing is included in the control. There are 2 types of diseases that attack corn plants, namely, Puccinia sp. and Helminthosporium turcicum.Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu komoditi tanaman pangan yang memiliki peranan penting di dunia setelah padi dan gandum. Di beberapa negara, jagung merupakan sumber karbohidrat utama. Namun serangan hama dan penyakit menjadi hambatan utama dalam produksi jagung di daerah tropis dan sub tropis. Dua penyakit utama yang berpotensi menurunkan produksi tanaman jagung diantaranya yaitu karat daun dan hawar daun. penyakit karat daun dapat menurunkan produksi hingga 70% Penyakit karat daun disebabkan oleh Puccinia sp. Penyakit hawar daun dapat menyebabkan kehilangan hasil mencapai 50%. Penyakit hawar daun disebabkan oleh Helminthosporium turcicum. Oleh sebab itu diperlukan pengendalian yang mengkombinasi untuk meminimalisir dampak yang ditimbulkan yaitu dengan menerapkan konsep pengelolaan penyakit terpadu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui evaluasi pengendalian penyakit terpadu yang telah dilakukan oleh beberapa petani di desa Suka Menang, Kecamatan Gelumbang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani jagung di desa Suka Menang, Kecamatan Gelumbang, Kabupaten Muara Enim sebagian besar sudah melakukan konsep pengelolaan penyakit terpadu. Proses pelaksanaannya petani belum sadar apa yang dilakukan sudah termasuk dalam pengendalian tersebut. Jenis penyakit yang menyerang tanaman jagung ada 2 yaitu, Puccinia sp. dan Helminthosporium turcicu
Manajemen Proyek Sistem Informasi Inventaris Pada Toko Apotek
This research aims to improve the efficiency of warehouse management and sales in pharmacies through transparent and accurate administration. Pharmacies often face challenges in product management and monitoring expiration dates, so complete and accurate data is needed to record purchase and sale transactions. Currently, recording in pharmacies is often done manually, which takes a lot of time and increases the risk of errors and data loss. The research methodology used is qualitative, postpositivist oriented and carried out in a natural environment. This approach aims to understand the context and meaning of the phenomenon under study. Qualitative research is used to hear whether a procedure is right or wrong, as well as to assess the halalness of the process used. With this approach, researchers hope to identify weaknesses in pharmacy administration management and provide more efficient solutions. To overcome this problem, researchers propose implementing a system development process using a waterfall model. The stages in this model include requirements, system design analysis, coding, testing, and implementation. Requirements analysis will help identify the features needed by the pharmacy, while system design will design a solution that meets those needs. Coding will develop the proposed software, which will then be tested to ensure its functionality and security. Ultimately, implementation will ensure the system is implemented well in pharmacies. By implementing this structured and technology-based system, it is hoped that pharmacy management will become more efficient and successful. This system will help pharmacies manage stock, consolidate reach dates, and record transactions automatically and accurately, thereby reducing the risk of errors and increasing productivity. It is hoped that the results of this research can make a real contribution in solving administrative problems often faced by pharmacies.Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi manajemen gudang dan penjualan di apotek melalui administrasi yang transparan dan akurat. Apotek sering menghadapi tantangan dalam pengelolaan produk dan pengawasan tanggal kedaluwarsa, sehingga diperlukan data yang lengkap dan akurat untuk mencatat transaksi pembelian dan penjualan barang. Saat ini, pencatatan di apotek sering dilakukan secara manual, yang memakan banyak waktu dan meningkatkan risiko kesalahan serta kehilangan data. Metodologi penelitian yang digunakan adalah kualitatif, yang berorientasi postpositivis dan dilakukan dalam lingkungan alami. Pendekatan ini bertujuan untuk memahami konteks dan makna dari fenomena yang diteliti. Penelitian kualitatif digunakan untuk mengevaluasi benar atau salahnya suatu prosedur, serta untuk menilai kehalalan dari proses yang digunakan. Dengan pendekatan ini, peneliti berharap dapat mengidentifikasi kelemahan dalam manajemen administrasi apotek dan memberikan solusi yang lebih efisien. Untuk mengatasi masalah ini, peneliti mengusulkan penerapan proses pengembangan sistem dengan model air terjun. Tahapan dalam model ini meliputi analisis kebutuhan, desain sistem, pengkodean, pengujian, dan implementasi. Analisis kebutuhan akan membantu mengidentifikasi fitur-fitur yang dibutuhkan oleh apotek, sementara desain sistem akan merancang solusi yang memenuhi kebutuhan tersebut. Pengkodean akan mengembangkan perangkat lunak yang diusulkan, yang kemudian akan diuji untuk memastikan fungsionalitas dan keamanannya. Akhirnya, implementasi akan memastikan sistem diterapkan dengan baik di apotek. Dengan penerapan sistem yang terstruktur dan berbasis teknologi ini, diharapkan pengelolaan apotek akan menjadi lebih efisien dan sukses. Sistem ini akan membantu apotek dalam mengelola stok barang, memantau tanggal kedaluwarsa, dan mencatat transaksi secara otomatis dan akurat, sehingga mengurangi risiko kesalahan dan meningkatkan produktivitas. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam memecahkan permasalahan administrasi yang sering dihadapi oleh apotek
PENGELOLAAN AIR BUANGAN AC SECARA INTEGRAL UNTUK MENGURANGI ANGGARAN BELANJA BAHAN PRAKTEK DAN KEPERLUAN AKADEMIK
Pondok Air limbah buangan AC merupakan hasil dari proses pengembunan memiliki sifat fisik dan kimia yang hampir sama dengan aquades, hasil penelitian terdahulu diperoleh data Pengukuran pH Aquadest 6.87, Air AC 6.63, Pengujian Kualitatif Mineral Aquadest Jernih, Air Ac Jernih, Air Kran Putih / Keruh, Pengujian Absorbansi Akuades 0.001, Air AC 0.006, Air Kran 0.374 dengan demikian air buangan AC yang dikelola sedemikian rupa bisa dimanfaatkan sebagai pengganti aquadest untuk kebutuhan praktikum dan perawatan alat lab.Pembuangan limbah AC selama ini belum mendapat perhatian yang baik, sehingga sering terjadi genangan dibeberapa tempat, tumbuh lumut pada dinding gedung dan menyebabkan pelapukan pada kusen jendela ruangan sehingga menimbulkan pemandangan yang tidak baik. Jumlah laboratorium yang berada di Polinela sebanyak 10 laboratorium, masing-masing laboratorium setiap hari memerlukan aquadest sebanyak 40 liter jadi total kebutuhan aquades sebanyak 400 liter. Harga aquades di pasaran perliter Rp 6.000,- dengan demikian Polinela setiap hari memerlukan biaya Rp. 6.000 X 400 liter = Rp. 2.400.000 untuk kebutuhan praktikum dan perawatan alat lab. Apabila air buangan AC yang berada di Polinela dikelola dengan baik secara seksama maka bisa dimanfaatkan untuk keperlua bahan praktek, penelitian mahasiswa dan dosen serta dimanfaatkan untuk beberapa keperluan lainnya, sehingga bisa mengurangi anggran belanja bahan praktek dan keperluan akademik lainnya
USAHA PENINGKATAN PENDAPATAN ANGGOTA KWT MAKMUR JAYA MELALUI AGRIBISNIS TANAMAN ROSELA DAN LIDAH BUAYA DI KECAMATAN RAJABASA
Kelompok Wanita Tani (KWT) merupakan suatu wadah yang memberikan kesempatan bagi kaum perempuan untuk ikut andil dalam memajukan sektor pertanian. KWT digunakan sebagai sarana guna kelancaran kegiatan pembinaan kepada petani untuk peningkatan kualitas sumber daya petani wanita.
KWT Makmur Jaya memiliki anggota sebanyak 30 orang dan telah mayoritas anggota KWT merupakan ibu-ibu yang mempunyai waktu luang dan lahan pekarangan yang belum termanfaatkan untuk kegiatan ekonomis, sehingga perlu adanya penyuluhan guna meningkatkan pengetahuan ibu-ibu KWT untuk memanfaatkan lahan pekarangan yang bernilai ekonomis, serta pengolahan produk turunannya guna meningkatkan pendapatan rumah tangga, salah satu nya setelah penyuluhan dilakukan pendampingan dan pelatihan membuat produk olahan dari tanaman rosela dan lidah buaya.
Kegiatan PKM dilaksanakan di Rumah ketua KWT Makmur Jaya, hasil kegiatan ini terjadi peningkatan pengetahuan dan keterampilan anggota KWT dalam pengolahan tanaman rosela dan lidah buaya, serta produk olahan dari komoditi ini akan dijadikan komoditi unggulan sebagai sumber pendapatan KWT.
 
BIMTEK BUDIDAYA DAN MARKETING IKAN LELE DENGAN TEKNOLOGI BIOFLOK DI PONDOK PESANTREN MARDHIYATUL QOMARIYAH PESAWARAN
Pondok pesantren (ponpes) Mardhiyatul Qomariyah merupakan salah satu ponpes terbaik di Kabupaten Pesawaran, Lampung. Tepatnya terletak di Desa Tanjungrejo, Kecamatan Negeri Katon, Kabupaten Pesawaran, Lampung Selatan. Topografi Desa Tanjungrejo merupakan dataran rendah dan landai dengan tinggi rata- rata 200 m dari permukaan laut sehingga cocok untuk kegiatan budidaya ikan. Seperti pondok pesantren pada umumnya, kegiatan ponpes adalah sekolah agama dan kegiatan berwirausaha seperti bertani, berkebun, bercocok tanam, dan beternak. Kurangnya pengetahuan dan ketrampilan pengurus pondok terkait bidang budidaya perikanan dan teknik pemasaran online mendorong pengurus mengajukan inisiatif untuk meminta akademisi melakukan kegiatan pengabdian. Kegiatan pengabdian yang dilakukan antara lain sosialisasi budidaya ikan lele dengan teknologi bioflok, praktek membuat kolam bulat dari terpal, praktek teknik budidaya ikan lele dengan teknologi bioflok, dan penyuluhan teknik marketing untuk mencapai pasar yang lebih luas. Peserta yang terdiri dari para santri dan pengurus ponpes sangat antusias dan ikut aktif pada setiap kegiatan. Bimbingan teknis budidaya ikan lele dengan sistem bioflok telah mampu meningkatkan motivasi, wawasan, dan keterampilan para santri Pondok Pesantren Mardhiaytul Qomariyah Pesawaran terkait budidaya ikan lele pada lahan terbatas
DINAMIKA POPULASI IKAN LAYANG YANG DI DARATKAN DI SIBOLGA
Perairan pantai barat Sumatera memiliki potensi perikanan yang besar dan berbagai jenis sumber daya termasuk sumber daya ikan pelagis, ikan damersal dan lain-lain. Ikan layang merupakan sumber daya ikan pelagis kecil yang paling dominan yang diibaratkan sebagai pelabuhan perikanan nusantara di Sibolga. Permintaan pasar yang besar menyebabkan kegiatan penangkapan ikan cenderung tidak terkendali dan rata-rata berfluktuasi. Oleh karena itu, perlu dilakukan analisis hasil tangkapan ikan laying untuk mengendalikan tingkat eksploitasi dan pengawasan alat tangkap yang tidak selektif agar pemanfaatan sumberdaya ikan layang dapat berjalan optimal dan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aspek dinamika populasi ikan layang di PPN Sibolga. Berdasarkan informasi ekologi. Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari - April 2023. Pengumpulan data meliputi data primer yaitu panjang dan berat ikan, serta data sekunder yaitu publikasi ilmiah dan data statistik perikanan tangkap dari PPN Sibolga. Terdapat 200 sampel ikan yang diperoleh selama penelitian dengan kisaran panjang 17,8-322 cm. Estimasi pertumbuhan menggunakan metode Von Bertalanffy. Berdasarkan analisis hubungan panjang-berat, ikan layang yang ditemukan di PPN Sibolga memiliki pola pertumbuhan allometrik negatif. Laju mortalitas M = 3.398E-152