Journals of Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Not a member yet
    2187 research outputs found

    EKOLOGI TUMBUHAN OBAT PRANAJIWA (Euchresta horsfieldii (Lesch.) Benn.) DI BALI DAN LOMBOK

    Get PDF
    Pranajiwa (Euchresta horsefieldii (Lesch.) Benn.) merupakan tumbuhan obat tradisional yang persebarannya ada di Bali dan Lombok. Sebagai dasar untuk menentukan kesesuaian pranajiwa terhadap suatu lahan, maka diperlukan informasi ekologi. Survei secara purposive dilakukan untuk mengidentifikasi habitat pranajiwa di Bali dan Lombok pada tahun 2015 dan 2016 dengan mengumpulkan data vegetasi, topografi, iklim dan sifat tanah. Principal Component Analysis (PCA) digunakan untuk menentukan faktor yang berpengaruh terhadap ekologi pranajiwa. Pranajiwa tumbuh di daerah perbukitan dengan suhu >20°C, kelembapan 80% dan pH tanah agak asam. Di Bali, pranajiwa ditemukan pada kemiringan lereng curam dengan ketinggian >1.400 m dpl, sedangkan di Lombok ditemukan pada kemiringan lereng agak curam dengan ketinggian >1.200 m dpl. Populasi pranajiwa hidup secara mengelompok dan keberadaannya di alam dipengaruhi beberapa faktor seperti di Bali yang dipengaruhi oleh suhu, dan kemiringan lereng, kelerengan dan suhu, sedangkan di Lombok lebih dipengaruhi oleh kemiringan lereng dan ketinggian tempat. Informasi ekologi ini dapat mengungkap preferensi pranajiwa dihabitatnya dalam mendukung upaya konservasi

    DETERMINANTS OF THE LACK OF INTEREST IN CULTIVATING MEDICINAL PLANTS IN WONOGIRI, CENTRAL JAVA

    Get PDF
    Indonesia is among the countries producing medicinal plants for domestic and foreign demand. Nevertheless, Indonesia keeps importing a variety of medicinal plant kinds. One reason for this is farmer's lack of interest in cultivating medicinal plants, which is interesting to observe considering that, in terms of market share, ecology, and geography, all of them support the development of medicinal plant cultivation. This cross-sectional study with observations and interviews aims to get primary data to identify the factors causing the lacking interest of farmers in cultivating medicinal plants. In October 2018, we conducted our data collection. Statistics Indonesia (BPS) provided secondary data on the production and trade of medicinal plants from 2009 to 2020. We did descriptive data analysis. The results showed several factors caused farmers to be less interested in cultivating medicinal plants. Expense fluctuations, the length of the planting period, technology, and access to marketing, until the government's attention has not been optimized are the contributing factors. It should make efforts to increase the interest of farmers in cultivating medicinal plants. There are ways to encourage people to grow medicinal plants as their primary source of income, including stable prices, market accessibility, efficient cultivation, and post-harvest technology

    Analisis faktor risiko kejadian hipertensi pada masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Sungai Raya, Kabupaten Hulu Sungai Selatan

    Get PDF
    Hipertensi merupakan penyakit yang terjadi apabila seseorang saat diukur tekanan darahnya mengalami peningkatan >140 mmHg dan/atau tekanan darah diastolik >90 mmHg. Data Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan tahun 2018, hipertensi menduduki peringkat pertama dari 10 penyakit terbanyak yaitu sebanyak 70.195 kasus baru dan 184.946 kasus lama dan terbanyak di Puskesmas Sungai Raya sebesar 585 kasus, namun tahun 2020 kejadian hipertensi meningkat menjadi 1.371 kasus. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan jenis kelamin, umur, kebiasaan merokok, aktivitas fisik dan konsumsi buah dan dayur dengan kejadian hipertensi pada masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Sungai Raya. Rancangan penelitian adalah observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Tempat penelitian ini di wilayah kerja Puskesmas Sungai Raya dan waktu penelitian adalah bulan Maret 2021. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Sungai Raya. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik non probability sampling dengan pertimbangan kelengkapan data pasien. Instrument yang digunakan adalah kuisioner deteksi dini PTM Posbindu. Variabel terikatnya adalah kejadian hipertensi dan variabel bebasnya adalah umur, jenis kelamin, kebiasaan merokok, aktivitas fisik dan konsumsi buah dan sayur. Analisis data menggunakan uji chi square. Hasil penelitian menunjukan ada hubungan umur (p-value 0,0001) dengan kejadian hipertensi, sedangkan jenis kelamin, kebiasaan merokok, aktivitas fisik dan konsumsi buah dan sayur menunjukan tidak ada hubungan dengan kejadian hipertensi

    Intake of kidney bean (phaseolus vulgaris) extract as postpartum blues management

    Get PDF
    Background: Postpartum blues is common in postpartum Mother with more prone to crying, more anxious, often unstable and more emotional than usual. Zinc supplementation is one of the methods needed for postpartum blues conditions. Kidney bean (phaseolus vulgaris) extract has the highest zinc content. This study aimed to examine the effect of intake kidney bean extract (phaseolus vulgaris) as a zinc source as management mother with Postpartum Blues Methods: Quantitative study with an experimental study design (Quasi Experiment Design) with a Pre and Post-test Control Group Design. The instrument used to measure the mood of a mother after childbirth was EPDS (Edinburgh Post-Partum Depression Scale). The total sample was 68 mothers who experienced postpartum blues in Ngerandu Ponorogo primary health care. The Mann-Whitney was used to analyse and find out the difference in mood improvement before and after the intervention in the experimental group and the control group. Results: The results showed that there was a statistically significant difference in mood levels of mothers with postpartum blues before and after intervention (p value of 0.001 (<0.005). This result indicated that intake of kidney bean (Phaseolus vulgaris) extract had an effect on the mood level of mothers with postpartum blue. Conclusion: Intake of kidney bean (phaseolus vulgaris) extract on the incidence of postpartum blues possibly improvement mood in the experimental group after the treatment for 1 month. Keywords: kidney bean (phaseolus vulgaris) extract, postpartum blues, postpartum mother   Abstrak Latar belakang: Postpartum blues umum terjadi pada ibu postpartum dengan tanda sering menangis, khawatir yang berlebihan, emosional yang tidak stabil. Suplementasi zinc merupakan salah satu metode yang dibutuhkan untuk kondisi postpartum blues. Ektrak kacang merah (phaseolus vulgaris) memiliki sumber nutrisi zinc yang tinggi, Penelitian ini bertujuan untuk menguji efek konsumsi ekstrak kacang merah (phaseolus vulgaris) sebagai sumber zinc sebagai manajemen ibu dengan postpartum blues Metode: Penelitian kuantitatif dengan design Quasi Experiment pre dan post control grup. Instrumen pengukur mood ibu setelah melahirkan adalah EPDS (Edinburgh Post-Partum Depression Scale). Total Sampel 68 ibu yang mengalami postpartum blues di Puskesmas Ngerandu Ponorogo. Analisis statistik menggunakan Mann-Whitney untuk menemukan perbedaan perubahan mood ibu postpartum blues sebelum dan sesudah dilakukan intervensi pada grup intervensi dan kontrol. Hasil: Hasil menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan tingkat mood ibu dengan postpartum blues sebelum dan sesudah dilakukan intervensi (p : 0,001 (<0,005). Hasil mengindikasikan bahwa konsumsi ekstrak kacang merah (phaseolus vulgaris) memiliki efek pada tingkat mood ibu yang sedang mengalami postpartum blues. Kesimpulan: Konsumsi ekstrak kacang merah (phaseolus vulgaris) pada ibu postpartum blues memungkinkan untuk perubahan mood pada grup intervensi setelah diberikan treatment selama 1 bulan. Kata kunci: ekstrak kacang merah (phaseolus vulgaris), postpartum blues, ibu postpartum &nbsp

    Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Cedera pada Pengendara Sepeda Motor Siswa SMK Negeri 1 Puring Kabupaten Kebumen

    Get PDF
    Traffic accidents are the biggest cause of injury. Two of the three main causes of death are injuries from traffic accidents, which are expected to increase further than other causes of death. The number of injuries caused by riding in Kebumen District from 2014 to 2016 involves mainly motorcycles, occurring in the 15-30 year age group, with private and student status that did not possess any driving license. This study determines factors related to the incidence of injury on motorcyclist students of 1 State Vocational High School Puring, Kebumen District academic year 2016/2017 based on host factors, agent factors, and environmental factors. This study was a cross-sectional design with a random sampling technique on 313 motorcyclists. Questionnaires disseminated as the data collection. The analysis was either univariate or bivariate with a significance level p-value<0.05. Drivers were dominantly male. Most occupation of the parents was farmers. The majority of motorists never participate in any safe driving socialization, and the average age was 11 years old when they started to ride a motorcycle. The average mileage per day was 11 km. Bivariate analysis results no correlation among sex, parental occupation, age of first started to ride a motorcycle, use of personal protective equipment, the safe driving socialization, the vehicle feasibility, the driving license ownership, and parental support for safe driving with the incidence of injury. There was a relationship between distance to school, knowledge of safe driving, and friend's motivation to safe driving with injuries. Abstrak Kecelakaan lalu lintas merupakan penyebab cedera terbesar. Salah satu penyebab utama kematian adalah cedera akibat kecelakaan lalu lintas, yang diperkirakan terus meningkat dibandingkan dengan penyebab kematian lain. Jumlah kejadian cedera akibat berkendara di Kabupaten Kebumen tahun 2014−2016, banyak melibatkan kendaraan sepeda motor dengan pengendara usia 15−30 tahun, berstatus swasta, pelajar serta tidak memiliki SIM. Studi ini mengidentifikasi faktor yang berhubungan dengan kejadian cedera pada pengendara sepeda motor siswa SMK Negeri 1 Puring Kabupaten Kebumen tahun ajaran 2016/2017 berdasarkan host, agent dan environment factors. Penelitian menggunakan desain potong lintang. Teknik pengambilan sampel menggunakan random sample pada 313 pengendara sepeda motor. Pengumpulan data menggunakan kuesioner. Analisis data dilakukan dengan univariat dan bivariatengan tingkat signifikansi p-value < 0.05. Terdapat pengendara terbanyak usia 16 tahun sejumlah 145 pengendara, pengendara yang berusia 17˗21 tahun sejumlah 129 pengendara, didominasi laki-laki dan pekerjaan orangtua petani. Mayoritas pengendara tidak mengikuti sosialisasi berkendara yang aman. Sejak usia 11 tahun mereka mulai aktif mengemudikan sepeda motor dengan Jarak tempuh 11 km perhari. Hasil analisis bivariabel menunjukkan tidak ada keterkaitan antara usia, jenis kelamin, pekerjaan orangtua, usia awal pengendara sepeda motor mulai aktif mengemudikan sepeda motor, penggunaan alat pelindung diri, sosialisasi berkendara yang aman, kepemilikan SIM C, faktor kelayakan kendaraan dan dukungan orangtua dalam berkendara yang aman dengan kejadian cedera. Terdapat hubungan antara jarak tempat tinggal dengan sekolah, pengetahuan tentang berkendara yang aman dan dukungan teman dalam berkendara yang aman dengan kejadian cedera. Dukungan teman sebaya menjadi faktor paling dominan menentukan terjadinya cedera. Siswa yang tanpa dukungan berkendara aman memiliki risiko cedera. Maka, sosialisasi berkendara oleh pihak kepolisian dan kolaborasi dengan sekolah menjadi hal yang wajib untuk siswa berkendara aman dan selamat di jalan

    Tingkat Resistensi Lipas Jerman (Blattella germanica L.) asal Tiga Pasar di Kota Purwokerto terhadap Fipronil Menggunakan Metode Kontak dan Umpan

    Get PDF
    Lipas jerman telah resisten terhadap berbagai macam insektisida, dibuktikan dengan adanya kasus resistensi lipas jerman yang dilaporkan terjadi di beberapa wilayah di Indonesia. Meskipun demikian, di wilayah Kota Purwokerto sampai saat ini belum ada laporan mengenai kasus resistensi tersebut. Tujuan khusus penelitian ini adalah mengetahui status resistensi lipas jerman dari tiga pasar tradisional yang ada di Kota Purwokerto terhadap fipronil. Metode yang digunakan adalah metode kontak dan umpan dengan menggunakan sepuluh ekor lipas jantan dan diulang lima kali untuk masing-masing strain. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis probit untuk menghitung waktu kematian (Lethal Time), untuk kemudian dihitung tingkat resistensinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu kematian (LT50) lipas lapangan menggunakan metode kontak pada tingkat resistensi tertinggi adalah dari strain Pasar-1 dengan nilai LT50 sebesar 3,05 jam, sedangkan terendah adalah strain Pasar-3 dengan nilai LT50 sebesar 1,83 jam. Hasil pengujian dengan metode umpan menggunakan gel bait mengandung fipronil 0.03% diperoleh nilai LT50 lipas asal Pasar-1 sebesar 14,16 jam, sedangkan lipas dari Pasar-3 mempunyai nilai LT50 sebesar 8,02 jam. Hasil penghitungan nilai rasio resistensi (RR50) menunjukkan bahwa semua lipas asal tiga pasar tradisional di Kota Purwokerto tidak menunjukkan resistensi terhadap fipronil yang diujikan dengan nilai rasio resistensi semua strain lapangan di bawah 1. Simpulan hasil penelitian ini adalah lipas strain pasar tradisional di Kota Purwokerto masih rentan terhadap insektisida berbahan aktif fipronil. Bahan aktif fipronil dalam formulasi umpan dimungkinkan untuk digunakan dalam monitoring dan pengendalian lipas jerman

    Front matter

    No full text
    Front matte

    PRAKTIK HIGIENE SANITASI PANGAN PENJAMAH MAKANAN DALAM PENJUALAN MAKANAN PADA AWAL PANDEMI COVID-19 DI JABODETABEK

    Get PDF
    ABSTRACT The COVID-19 pandemic has affected people's behavior including shopping behavior. The most important things highlighted in food buying behavior include food safety and the implementation of health measures to minimize the COVID-19 transmission. This study aims to identify the description of food hygiene and sanitation practices (HSP) for food handlers during the COVID-19 pandemic. This study is an observational study with a cross-sectional design conducted in the Greater Jakarta area (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, and Bekasi) in the first week of May 2020. Data collection was carried out online. The sample in this study was 189 food handlers. The variables analyzed included the HSP practices of food handlers, socio-demography, knowledge proxies, perceptions, and sources of information related to COVID-19. The results of the analysis showed that insufficient practice of HSP reached 49.7%. Factors related to the HSP practice are the provision of handwashing using soap facilities for food buyers/delivery (OR=2.4 95% CI 1.01-5.7) and the provision of medical tests for the worker (OR=2.61 95% CI 1.27-5.37). This study depicts the HSP’s practice of food handlers at the beginning of the pandemic in Jabodetabek is still lacking. Therefore, it is necessary to increase the promotion and priority of supervision on the HSP practice of food handlers in an integrated manner from across sectors. Strengthened coaching may lead to better HSP practices for food handlers. Keywords: Food sanitation, food hygiene, food safety, food purchasing, food handler   ABSTRAK Pandemi COVID-19 telah mempengaruhi perilaku masyarakat termasuk perilaku berbelanja. Hal terpenting yang menjadi sorotan dalam perilaku penjualan makanan antara lain aspek keamanan pangan dan pelaksanaan protokol kesehatan untuk menekan penyebaran COVID-19. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi gambaran praktik higiene sanitasi (HSP) pangan penjamah makanan dalam penjualan makanan di masa pandemi COVID-19. Studi ini merupakan studi observasional dengan desain potong lintang yang dilakukan di area Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi) pada minggu pertama bulan Mei 2020. Pengumpulan data dilakukan secara daring. Sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 189 penjual makanan. Variabel yang dianalisis antara lain meliputi praktik HSP penjual makanan, sosio-demografi, proksi pengetahuan, persepsi, dan sumber informasi terkait COVID-19. Hasil analisis menunjukkan bahwa praktik HSP dengan kategori kurang mencapai 49,7%. Faktor yang berhubungan dengan praktik HSP dari penjual makanan adalah penyediaan sarana CTPS bagi pembeli/pengantar makanan (OR=2,4 95% CI 1,01-5,7) dan penyediaan tes kesehatan selama bekerja (OR=2,61 95% CI 1,27-5,37). Studi ini menunjukkan bahwa gambaran praktik higiene sanitasi pangan penjual pada awal masa pandemi di Jabodetabek masih kurang. Oleh karena itu perlu dilakukan penguatan promosi dan prioritas pengawasan pada praktik HSP penjual makanan secara terpadu dari lintas sektor. Penguatan pembinaan dapat meningkatkan praktik HSP penjual yang lebih baik. Kata kunci: Sanitasi pangan, higiene pangan, keamanan pangan, pembelian makanan, penjamah makana

    Uji Aktivitas Sitotoksik Ekstrak Polar, Semipolar, dan Non-Polar Daun Sambiloto (Andrographis paniculata) terhadap Sel Kanker Hati (HepG2)

    Get PDF
    Cancer is one of the causes of 6 major deaths in the world besides HIV, malaria, and tuberculosis. The incidence of liver cancer cases in 2018 reached 841 thousand, where there were 782 deaths. Modern medicine such as surgery, radiation, and chemotherapy has various drawbacks, high side effects, therapeutics failure, and high costs. Therefore, WHO recommends herbal medicine as a complementary therapy for various diseases, one of which is cancer. Sambiloto is one of the herbal plants that has been widely used by the people of Indonesia. The potential efficacy of sambiloto as a prospective herbal plant has been widely proven both through in vitro and in vivo studies. This study aims to determine the cytotoxic activity and IC50 value of polar, semipolar, and non-polar fractions of sambiloto leaves on HepG2 cells. Each fraction was tested for its cytotoxic activity against HepG2 cells with a concentration of 500; 250; 125; 62.5; 31.25; and 15,625 µg/mL using the MTT method. The results showed that the IC50 value for the polar, semipolar, and non-polar fractions was 82.585; 53,154; 614,349 µg / mL. Based on these results, the ethyl acetate and ethanol fractions of sambiloto leaves had strong cytotoxic activity against HepG2 cells

    Gambaran Ketepatan Sasaran Pendistribusian Kelambu Berinsektisida Terhadap Pengendalian Malaria Di Enam Wilayah Endemis Malaria Di Indonesia

    Get PDF
    ABSTRACT Malaria is a global health burden because of its high mortality, morbidity and cost to the country's economy. Malaria data in 2021 in Indonesia reached 94,610 cases as many as 167 (32%) out of 514 districts/cities still have problems with malaria. Proper malaria prevention and management is essential. The use of LLIN is the main strategy for controlling malaria in the world, including in Indonesia. The aim of the study was to describe the accuracy of the targeting of the distribution of insecticide-treated mosquito nets in 6 malaria endemic areas in Indonesia. This type of research is observational with a cross-sectional design and n=30. The research population was the stake holder of the District/City Health Office, Public Health Center and malaria cadrein Indonesia, while the sample of the stake holder of the District/City Health Office, Public Health Center and malaria cadre was 6 malaria endemic areas in Indonesia. Data collected by the management of the malaria control program. The result is the priority of malaria prevention is the use of LLIN, but the distribution is not evenly distributed. Malaria control other than LLIN are IRS, MBS, larvicides and removal of mosses. IRS is done if API> 20‰. The main problem is the lack of funds for distribution activities, not all regions can collaborate across sectors and share budgets, as well as conduct training. Monev was not carried out due to limited funds. It is necessary for the role of stakeholders to advocate to the Governor/Regent in allocating sufficient andprioritized budgets. It is necessary to socialize the use and maintenance of LLINs, as well as to calculate the exact need for mosquito nets in each region.   ABSTRAK Malaria merupakan beban kesehatan global karena mortalitas, morbiditas dan biayanya tinggi terhadap ekonomi negara. Data malaria tahun 2021 di Indonesia mencapai 94.610 kasus. Sebanyak 167 (32%) dari 514 kabupaten/kota masih bermasalah dengan malaria. Pencegahan dan manajemen malaria yang tepat sangatdiperlukan. Penggunaan LLIN merupakan strategi utama pengendalian malaria di dunia termasuk di Indonesia. Tujuan penelitian untuk melihat gambaran ketepatan sasaran pelaksanaan pendistribusian kelambu berinsektisida di 6 wilayah endemis malaria di Indonesia. Jenis penelitian observasional dengan desain potong lintang dan n=30. Populasi penelitian stake holder Dinkes Kabupaten/kota dan Puskesmas di Indonesia, sedangkan sampel stake holder Dinkes Kab/kota, Puskesmas serta kader malaria 6 wilayah endemis malaria di Indonesia. Data yang dikumpulkan manajemen program pengendalian malaria. Hasil penelitian adalah prioritas utama pencegahan malaria adalah penggunaan LLIN, namun distribusi belum merata. Pengendalianmalaria selain LLIN yaitu IRS, MBS, larvasida dan pengangkatan lumut. IRS dilakukan apabila API>20‰. Masalah utama kurangnya dana untuk kegiatan pendistribusian, tidak semua wilayah bisa melakukan kerjasama lintas sektor dan sharing budget, serta melakukan pelatihan. Monitoring dan evaluasi tidak dilakukan karena keterbatasan dana. Kesimpulan, diperlukan peran stakeholder untuk advokasi kepada Gubernur/Bupati dalam pengalokasian anggaran yang cukup dan mendapat prioritas. Diperlukan sosialisasi penggunaan dan pemeliharaan LLIN, juga perhitungan tepat kebutuhan kelambu di setiap wilayah

    1,563

    full texts

    2,187

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Journals of Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇