Journals of Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Not a member yet
2187 research outputs found
Sort by
Factors associated with measles antibody titers in children aged 12-36 months in Indonesia: an analysis of National Health Research 2013
Background: The immunization program in Indonesia has been implemented since 1956 started to eradicate smallpox and expanded until 1980, including Measles. The timely and complete implementation of basic immunization is the main strategy to protect the population, including outbreak prevention. The purpose of this study is to determine the level immunity of Measles antibody as the outcome of completed basic immunization and its contributors in children aged 12-36 months.
Methods: This study is a secondary data analysis of the Indonesia Basic Health Survey (RISKESDAS) 2013. The analysis was carried out on a serological sample of the antibody titer of children aged 12-36 months, totaling 229 samples. The sample inclusion criteria were children who had complete sociodemographics data, basic immunization records and Measles antibody titer data. Measles examination was carried out using the Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA) method.
Results: Incomplete immunization, being a boy, and lack of cleanliness in the family room were significantly associated with lower measles antibody levels in children. Having each variable controlled, completeness of immunization (OR=1,99; p=0.018; 95% CI=1.124-3.544) and gender of boy (OR=2.0; p=0.016; 95% CI=1.137-3.515) remain as significant variables for antibody’s titer.
Conclusion: The completeness of immunization has a significant association towards titer antibody of Measles in children. Immunization completeness is an actual effort to reach herd immunity in children and to prevent measles outbreak in the community. Adequate health promotion is needed to change people's behavior to believe in the safety and importance of implementing complete basic immunization for children even in pandemic conditions.
Keywords: antibody titer, immunization, children aged 12-36 months, Indonesia, measles
Abstrak
Latar belakang: Program imunisasi di Indonesia telah dilaksanakan sejak tahun 1956 yang dimulai dengan pemberantasan cacar yang diperluas hingga tahun 1980, termasuk campak. Pelaksanaan imunisasi dasar yang tepat waktu dan lengkap merupakan strategi utama untuk perlindungan penduduk, termasuk pencegahan Kejadian Luar Biasa (KLB). Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui tingkatan kekebalan antibodi Campak sebagai hasil dari kelengkapan imunisasi dasar dan faktor yang berkontribusi pada anak usia 12-36 bulan.
Metode: Penelitian ini merupakan analisis data sekunder Riset Kesehatan Dasar Indonesia (RISKESDAS) 2013. Analisis dilakukan pada sampel serologi titer antibodi anak usia 12-36 bulan yang berjumlah 229 sampel. Kriteria inklusi sampel adalah anak yang memiliki data sosiodemografi lengkap, catatan imunisasi dasar dan data titer antibodi Campak. Pemeriksaan campak dilakukan dengan metode Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA).
Hasil: Imunisasi yang tidak lengkap, berjenis kelamin laki-laki, dan kurangnya kebersihan di ruang keluarga berhubungan bermakna dengan rendahnya tingkat antibodi campak pada anak. Setelah masing-masing variabel terkontrol, kelengkapan imunisasi (OR=1,99; p=0,018; 95% CI=1.124-3.544) dan jenis kelamin laki-laki (OR=2.0; p=0.016; 95% CI=1.137-3.515) merupakan variabel yang tetap berhubungan dengan titer antibodi secara signifikan.
Kesimpulan: Kelengkapan imunisasi memiliki hubungan yang bermakna terhadap titer antibodi Campak pada anak. Kelengkapan imunisasi merupakan upaya nyata untuk mencapai herd immunity pada anak dan mencegah wabah campak di masyarakat. Promosi kesehatan yang memadai diperlukan untuk mengubah perilaku masyarakat agar percaya akan keamanan dan pentingnya pelaksanaan imunisasi dasar lengkap bagi anak meskipun dalam kondisi pandemi.
Kata kunci: titer antibodi, imunisasi, anak usia 12-36 bulan, Indonesia, campa
BERAT BADAN LAHIR RENDAH DAN ANEMIA IBU SEBAGAI PREDIKTOR STUNTING PADA ANAK USIA 12–24 BULAN DI WILAYAH PUSKESMAS GENUK KOTA SEMARANG
Latar Belakang. Stunting adalah salah satu masalah kekurangan gizi kronis yang terjadi karena kekurangan asupan gizi terutama pada 1000 hari pertama kehidupan. Anak yang mengalami stunting lebih rentan menderita sakit dan berisiko menderita penyakit degeneratif serta penurunan kemampuan dan kapasitas kerja. Salah satu penyebab terjadinya stunting adalah rendahnya status gizi ibu sebelum, selama, dan setelah kehamilan yang berdampak pada berat dan panjang badan lahir. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan riwayat pemberian ASI eksklusif, status gizi ibu (tinggi badan, kurang energi kronis (KEK), dan anemia) serta berat dan panjang badan lahir dengan kejadian stunting pada anak usia 12–24 bulan. Metode. Penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional yang dilakukan di wilayah Puskesmas Genuk Kota Semarang. Sampel berjumlah 63 anak usia 12–24 bulan yang dipilih secara purposive sampling. Data stunting diperoleh dengan melakukan pengukuran panjang badan anak saat kegiatan posyandu bulan Agustus 2020. Data anak (usia, jenis kelamin, berat dan panjang badan lahir) dan data ibu (karakteristik ibu, riwayat pemberian ASI eksklusif, status KEK, dan anemia) diperoleh melalui buku catatan kelahiran di Puskesmas Genuk Kota Semarang. Data dianalisis dengan uji chi square dan uji regresi logistik berganda. Hasil. Sebagian besar anak mengalami stunting (52,4%). Sebanyak 20,6 persen anak memiliki riwayat berat badan lahir rendah (BBLR) dan 23,8 persen memiliki riwayat panjang badan lahir pendek. Sebagian besar ibu (57,1%) tidak memberikan ASI eksklusif. Sebanyak 6,3 persen ibu memiliki tinggi badan berisiko, 22,2 persen ibu kategori KEK, dan 33,3 persen mengalami anemia saat hamil. Dominasi kejadian stunting terjadi pada anak perempuan. Riwayat BBLR (p=0,047), panjang badan lahir (p=0,000), dan status anemia ibu (p=0,032) berhubungan signifikan dengan kejadian stunting. Riwayat BBLR (p=0,004) dan status anemia ibu saat hamil (p=0,001) paling berisiko menjadi stunting. Kesimpulan. Anak dengan riwayat BBLR berisiko 18,6 kali lebih besar menjadi stunting dan anak dengan riwayat ibu anemia saat hamil berisiko 17 kali lebih besar menjadi stunting
ANALISIS ZAT BESI, ZINK, DAN KALSIUM PADA FORMULA POLIMERIK UNTUK PENCEGAHAN STUNTING
Latar Belakang. Faktor asupan zat gizi, zat gizi makro, zat gizi mikro, dan kejadian infeksi merupakan faktor langsung yang dapat menyebabkan kejadian stunting pada balita. Sumber nutrisi yang memenuhi persyaratan kuantitatif dan kualitatif dapat digunakan untuk memperbaiki asupan. Pola pemberian makan pada anak memerlukan cara tertentu agar menarik dan mudah dicerna. Formula polimerik merupakan makanan mudah dicerna, siap saji, dan siap olah. Formula polimerik dengan komposisi makronutrien seperti protein, karbohidrat, lipid dalam bentuk utuh, vitamin lengkap, dan mineral telah dikembangkan dalam penelitian ini. Formula polimerik yang dikembangkan memiliki densitas energi tinggi yaitu 1,5–2 Kkal/mL. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan zink, zat besi, dan kalsium sebagai sumber mineral yang potensial dalam mendukung pencegahan dan penanggulangan stunting pada balita. Metode. Penelitian ini menggunakan one shot case study design sebagai pre experimental design. Penelitian ini dilakukan selama empat bulan. Analisis kandungan zink, zat besi, dan kalsium menggunakan metode 18–13–1/MU/SMM–SIG (ICP OES):18–13–1/MU/SMM-SIG (ICP OES) dan 18–13–1/MU/SMM-SIG (ICP OES) pada PT Saraswanti Indo Genetech (PT SIG) Laboratory, Bogor, Jawa Barat untuk empat formulasi formula polimerik. Hasil. Hasil penelitian menunjukan bahwa kadar zink tertinggi 3,05 mg memenuhi 100 persen angka kecukupan gizi (AKG) kebutuhan balita. Pada anak usia 4–6 tahun, kandungan zat besi tertinggi 6,66 mg memenuhi 66,6 persen AKG dan kandungan kalsium tertinggi 308,36 memenuhi 30,8 persen AKG balita. Kesimpulan. Formula polimerik mengandung zink, zat besi, dan kalsium yang bervariasi pada keempat formulasi. Formula polimerik yang direkomendasikan untuk pencegahan stunting adalah formula tiga dengan kandungan zink dan kalsium tertinggi serta zat besi
UJI AKTIVITAS ANTI-DERMATITIS RAMUAN SEMBUNG, JAHE, RUMPUT TEKI, DAN CABE JAWA PADA TIKUS MODEL INDUKSI OVALBUMIN DAN UJI TOKSISITAS AKUTNYA
ABSTRACT
Atopic dermatitis or eczema is a chronic inflammatory skin disease characterized by pruritic inflamed skin lesions and dry skin (xerosis). The effectiveness of currently available treatments is considered insufficient. Medicinal plants are one of the potential alternatives to be developed in the treatment of eczema. This study aimed to investigate the anti-dermatitis activity and acute toxicity of herbal medicine formulation consisting of sembung (Blumea balsamifera), ginger (Zingiber officinale), rumput teki (Cyperus rotundus), and cabe jawa (Piper retrofractum). The herbs was prepared in the form of infusion 10% w/v. The activity assay was carried out on rat model of atopic dermatitis induced with ovalbumin. Measurement of IL-4 and IgE levels was carried out by spectrophotometric method. The skin tissue histology was examined to count the number of mast cells. The acute toxicity test was performed to determine LD50 of the herbs and its effect on urea levels, creatinine, SGOT, and SGPT blood samples. The herbs 1.350 and 10.800 mg/kg bw significantly reduced IL-4 levels, but did not affect IgE levels. All doses of the herbs decreased the number of mast cells in the rat skin tissue. The acute toxicity test showed that the herbs did not cause clinical symptoms and death in rats. Jamu ingredients significantly reduce SGOT levels but do not affect the levels of urea, creatinine, and SGPT. As a result, the herbs applied in this study could be developed further for the treatment of atopic dermatitis.
Keywords: atopic dermatitis, IL-4, IgE, mast cell, jamu ingredients
ABSTRAK
Dermatitis atopik atau eksim adalah penyakit kulit kronis, ditandai dengan inflamasi lesi kulit pruritus dan kulit kering (xerosis). Efikasi pengobatan yang tersedia saat ini dipandang belum memuaskan. Tanaman obat merupakan salah satu alternatif yang potensial dikembangkan dalam pengobatan eksim. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji aktivitas anti-dermatitis dan toksisitas akut ramuan jamu sembung (Blumea balsamifera), jahe (Zingiber officinale), rumput teki (Cyperus rotundus), dan cabe jawa (Piper retrofractum). Ramuan jamu disiapkan dalam bentuk infusa 10% b/v. Uji aktivitas dilakukan pada tikus model dermatitis atopik dengan induksi ovalbumin. Kadar IL-4 dan IgE diukur dengan spektrofotometri. Histologi jaringan kulit diperiksa untuk menghitung jumlah sel mast. Uji toksisitas akut dilakukan untuk mengetahui LD50, kadar ureum, kreatinin, SGOT, dan SGPT. Ramuan jamu dosis 1350 dan 10800 mg/kg BB secara signifikan menurunkan level IL-4, namun tidak mempengaruhi level IgE. Ramuan jamu semua dosis menurunkan jumlah sel mast dalam jaringan kulit tikus uji. Uji toksisitas akut menunjukkan ramuan jamu tidak menyebabkan gejala klinis dan kematian hewan uji. Ramuan jamu signifikan menurunkan kadar SGOT, namun tidak berpengaruh pada kadar ureum, kreatinin, dan SGPT. Dengan demikian, ramuan jamu yang digunakan dalam penelitian ini dapat dikembangkan lebih lanjut untuk mengatasi dermatitis atopik.
Kata kunci: dermatitis atopik, IL-4, IgE, sel mast, ramuan jam
KARAKTERISASI FISIOLOGI BENIH DAN PERTUMBUHAN TANAMAN ROSELA (HIBISCUS SABDARIFFA L.) KOMERSIAL
ABSTRACT
Roselle flower petals are plant organs that are popularly used as herbal drinks and natural dyes. As a raw material for herbal medicine, dried roselle flower petals contain vitamin C and antioxidants. The primary pigment of hibiscine was identified as daphniphylline, which is used to treat hypertension, pyrexia, and liver damage. To obtain high quality herbal raw materials, it is necessary to use characterized seeds sources. In addition, information on the tolerance of roselle plants to abiotic environmental stresses is also needed to develop roselle cultivation on marginal land. Seed physiology studies by stress induction at seed level, and the growth of roselle plants from commercial germplasm were carried out. The aim of this study was to determine the best method for breaking seed dormancy, tolerance level to stimulated abiotic stress on seeds, and to determine plant growth character in the field. Based on the rapid test, the viability of the seeds used was 98%, whilst significant different in breaking the dormancy in terms of vigor index character with the highest index value obtained by immersion in water at 50oC for 10 minutes and 250 ppm GA3 (85.33%). The dormancy of roselle seed breaking could be carried out chemically (250 ppm GA3 and 0.3% KNO3) or physically (wound, hot and cold water). There were significant differences in the characters of hypocotyl length, root length, and wet weight of sprouts depending on the dormancy seed breaking treatments. The results of the abiotic stress test on roselle seeds sprouts showed significant differences on the germination rate, hypocotyl length, and root length. Tested roselle seeds were tolerant to Al3+ and NaCl stresses that are potential to be developed in acid soil due to aluminum and in saline soil. Based on the results of field observations, in general, each individual plant had different growth character and yield. The results of the principal component analysis showed that the six observed characters i.e plant height, branch number, stem diameter, leaves number, early fruit bolls number and fresh fruit weight contributed to the total variability. Based on the total fresh fruit weight, ten plants were then selected for further study.
Keywords: Roselle, seeds, physiology, stresses, growth
ABSTRAK
Kelopak bunga rosela populer digunakan sebagai minuman herbal dan pewarna alami. Kelopak bunga rosela memiliki kandungan vitamin C dan antioksidan yang bermanfaat sebagai bahan baku obat herbal. Pigmen utama hibiscine diidentifikasi sebagai daphniphylline yang digunakan untuk obat hipertensi, pireksia dan kerusakan hati. Untuk mendapatkan bahan baku obat herbal berkualitas perlu digunakan sumber benih bermutu. Untuk mengetahui potensi budidaya pada lahan sub optimal, tingkat toleransi tanaman rosela terhadap cekaman lingkungan abiotik perlu diketahui. Studi fisiologi benih, perlakuan cekaman pada tingkat benih dan pertumbuhan tanaman rosela dari plasma nutfah komersial telah dilakukan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui teknik pematahan dormasi benih, toleransi terhadap cekaman abiotik yang distimulasi pada benih serta mengetahui karakter pertumbuhan tanaman di lahan. Hasil uji viabilitas cepat, benih yang digunakan memiliki viabilitas lebih dari 98%, sedangkan metoda pematahan dormasi menghasilkan perbedaan nyata pada karakter indeks vigor dengan nilai indeks tertinggi diperoleh pada perlakuan perendaman air 50oC selama 10 menit dan 250 ppm GA3 (85,33%). Pemecahan dormansi rosela dapat dilakukan secara kimia (250 ppm GA3 dan 0,3% KNO3) maupun fisik (pelukaan, air panas dan dingin). Terdapat perbedaan nyata pada karakter panjang hipokotil, panjang akar, dan bobot basah kecambah berdasarkan perbedaan perlakukan pemecahan dormansi. Hasil uji cekaman abiotik pada kecambah rosela menunjukkan perbedaan nyata untuk daya berkecambah, panjang hipokotil, dan panjang akar. Benih rosela yang diuji memiliki toleransi terhadap cekaman Al3+ dan NaCl sehingga potensial dikembangkan pada lahan masam akibat aluminium dan salin. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, setiap individu yang diamati umumnya memiliki karakter pertumbuhan dan daya hasil berbeda. Hasil analisis komponen utama diketahui bahwa enam karakter yang diamati berkontribusi terhadap keragaman yaitu tinggi tanaman, jumlah cabang, diameter batang, jumlah daun, jumlah bakal buah dan bobot basah buah. Berdasarkan bobot basah buah total, berhasil diseleksi 10 tanaman yang dapat diuji lebih lanjut.
Kata kunci: Rosela, benih, fisiologi, ,cekaman, pertumbuhan
 
GERAKAN SATU RUMAH SATU JUMANTIK (G1R1J) DALAM PERSPEKTIF IMPLEMENTASI KEBIJAKAN DI PUSKESMAS TALANG BAKUNG KOTA JAMBI
G1R1J movement is an effort to prevent dengue hemorrhagic fever (DHF) which emphasizes community empowerment, especially the smallest unit in social life, namely the family. The purpose of this study is to describe how the implementation of G1R1J and its influencing factors in Jambi City. This research was a qualitative descriptive study where informants were determined by purposive sampling techniques and data collection is conducted with in-depth interviews. Test data validity using source triangulation technique methods and data analysis using content analysis. The results of this study indicate that one of the main factor that most influences the implementation of G1R1J in Jambi City has not run optimally is the absence of derivative regulations such as local government regulation where all items of G1R1J implementation can be described concretely in the regional regulation. This directly or indirectly has an impact on the aspects of communication, resources and organizational structure that have not run optimally to support the implementation of G1R1J in Jambi City. The positive disposition/response variable from policy makers and implementers in the field is a strength that the implementation of G1R1J will continue to run in the community of Jambi City
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Keikutsertaan Kelas Ibu Hamil (KIH) Secara Daring di Masa Pandemi Covid-19
Abstrak
Kelas ibu hamil adalah sarana untuk belajar tentang kesehatan bagi ibu hamil. Kelas ibu hamil (KIH) secara daring adalah salah satu alternatif pelayanan kesehatan pada ibu hamil di masa pandemi Covid-19 saat ini. Berdasarkan beberapa penelitian pelaksanaan kelas ibu hamil yang dilaksanakan sebelum masa pandemi Covid-19 masih belum optimal. Berbagai faktor sosiodemografi memengaruhi keikutsertaan kelas ibu hamil. Dengan adanya alternatif pelaksanaan kelas ibu hamil (KIH) secara daring ini masih ada ibu hamil yang tidak mengikuti dengan optimal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi keikutsertaan ibu hamil dalam kelas ibu hamil (KIH) secara daring. Desain penelitian ini deskriptif observasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian ini ibu hamil diwilayah Puskesmas Kota Denpasar sebanyak 128 orang ibu hamil. Alat pengambilan data yang digunakan kuesioner dalam bentuk google form. Analisis data yang digunakan distribusi frekuensi dan uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan paritas (p value 0,000), umur (p value 0,000), pendidikan (p value 0,000) dan dukungan keluarga (p value 0,000) terhadap keikutsertaan ibu hamil dalam kelas ibu hamil (KIH) secara daring. Disarankan kepada tenaga kesehatan untuk memberikan pelayanan kesehatan dengan optimal untuk melaksanakan kelas ibu hamil secara daring dengan memperhatikan faktor-faktor yang memengaruhinya.
Kata kunci: kelas ibu hamil daring, paritas,dukungan keluarga, umur ibu hamil, pendidikan
Abstract
Pregnant mother class is a means to learn about health for pregnant women. Daring pregnant women class (KIH) is an alternative health service for pregnant women during the current Covid-19 pandemic. Based on several studies, the implementation of classes for pregnant women conducted before the Covid-19 pandemic was still not optimal. Various sociodemographic factors influence the class participation of pregnant women. With the alternative implementation of daring pregnancy classes (KIH), there are still pregnant women who do not follow optimally. The purpose of this study was to determine the factors that influence the participation of pregnant women in the daring class of pregnant women (KIH). This research design is descriptive observational with cross sectional approach. The population of this research is that 128 pregnant women in Denpasar City Health Centre are pregnant women. The data collection tool used was a questionnaire in the form of a google form. Data analysis used frequency distribution and chi square test. The results showed that there was a relationship between parity (p value 0.000), age (p value 0.000), education (p value 0.000) and family support (p value 0.000) on the participation of pregnant women in the daring class of pregnant women (KIH). It is recommended for health workers to provide optimal health services to carry out daring classes for pregnant women by paying attention to the factors that influence it.
Keywords: daring pregnancy class, parity, family support, age of pregnant women, educatio
Penghambatan Enzim Alpha-Glukosidase oleh Daun Mimba (Azadirachta indica) dan Rimpang Temu Mangga (Curcuma mangga)
Type 2 diabetes mellitus is a chronic disease of the digestive system characterized by high blood glucose levels. The main enzyme in carbohydrate metabolism is α-glucosidase. One of the therapeutic approaches to treat T2DM is to make glucose uptake into the blood delayed through inhibition of the α-glucosidase enzyme activity. Neem leaves and mango ginger are reported to reduce blood glucose levels. This study aims to determine the potential inhibitor of neem leaves extract and mango ginger extract and their respective fractions on α-glucosidase activity. Simplicia of neem leaves and mango ginger were macerated using 96% ethanol for 24 hours. The ethanol extract of neem leaves and mango rhizome were fractionated using silica gel 60 GF254 as adsorbent and a combination of ethyl acetate and n-hexane as eluent. The extracts of neem leaves and mango rhizome and fractions of both plants were tested for α-glucosidase inhibition with acarbose as a comparison. The results showed that both plants provided inhibitory activity on α-glucosidase with the lowest IC50 value from the semi-polar fraction of neem leaves about 24.16±4.58 μg/mL. Neem leaves and mango ginger have potential as α-glucosidase inhibitors to treat type 2 diabetes mellitus