Journals of Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Not a member yet
2187 research outputs found
Sort by
Situasi Filariasis Limfatik di Daerah Pasca Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) dan Pasca Eliminasi di Kabupaten Tanjung Jabung Timur dan Belitung
East Tanjung Jabung Regency, Jambi did not pass in the Pre-Transmission Assessment Survey (Pre-TAS) in 2017, while Belitung, Bangka Belitung has a microfilaria rate (Mf rate) >1% even though it has passed TAS 1,2, and 3. The purpose of this study is to identify the program implementation control of lymphatic filariasis in East Tanjung Jabung Regency and Belitung Regency. The research was conducted in four villages, namely of Rantau Rasau 2, Nibung Putih (East Tanjung Jabung), Lasar, and Suak Gual (Belitung). Blood sampling was conducted on 1,919 people aged 5-70 years, while interviews were conducted on 900 people aged >16 years. The results of blood tests in East Tanjung Jabung were not found positive for mf, while in Belitung, 33 people were found positive for mf. The results of the risk estimate analysis of the respondent's knowledge, attitude and behavior factors indicate that respondents who live in East Tanjung Jabung Regency have a better level of knowledge, attitudes, and behaviour towards lymphatic filariasis t han respondents who live in Belitung Regency. Keywords: lymphatic filariasis, elimination, risk factor
Abstrak Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi tidak lulus dalam Survei Penilaian Pra Transmisi (Pre-TAS) tahun 2017, sedangkan Belitung, Bangka Belitung memiliki angka mikrofilaria (Mf rate) >1% padahal sudah lolos TAS 1,2, dan 3. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pelaksanaan program pengendalian penyakit filariasis limfatik di Kabupaten Tanjung Jabung Timur dan Kabupaten Belitung. Penelitian dilakukan di empat desa, yaitu Rantau Rasau, Nibung Putih (Tanjung Jabung Timur), Lasar dan Suak Gual (Belitung). Pengambilan sampel darah dilakukan pada 1.919 orang berusia 5-70 tahun, sedangkan wawancara dilakukan pada 900 orang berusia >16 tahun. Hasil tes darah di Tanjung Jabung Timur tidak ditemukan positif mf, sedangkan di Belitung, 33 orang ditemukan positif mf. Hasil analisis estimasi risiko faktor pengetahuan, sikap dan perilaku responden menunjukkan bahwa responden yang berdomisili di Kabupaten Tanjung Jabung Timur memiliki tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku yang lebih baik terhadap filariasis limfatik dibandingkan responden yang berdomisili di Kabupaten Belitung. Kata kunci: filariasis limfatik, eliminasi, faktor risik
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Praktik Vaksinasi Rabies pada Anjing di Kecamatan Cililin Kabupaten Bandung Barat dengan Pendekatan Health Belief Model
Rabies is a zoonotic viral disease that attacks all warm-blooded animals and humans through bites. Rabies is responsible for more than 3.7 million peoples Disability Adjusted Life Years (DALYs) annually. It is known that 95% of human deaths are from dog bites. Deaths due to rabies are common in rural areas because access to information tends to be minimal, so that people do not have knowledge about prevention of rabies. This study was designed to determine public’s perceptions of rabies and various possible rabies interventions. The research used a case control method with data collection using a questionnaire. The main concept of the Health Belief Model (HBM) was chosen because it has a function to predict individual beliefs. This individual beliefs will then influence the individual’s practice in carrying out rabies vaccination. In this study, it is known that the practice of rabies vaccination by the owner has a very significant relationship with knowledge related to rabies as a dangerous disease and individual beliefs that are reviewed through the HBM concept. Individual belief factors that have a significant relationship are severity and self efficacy variables. The results of this study can be a source of information and consideration for policy makers in Indonesia in making programs related to rabies prevention. Studies in the target area can provide knowledge about the characteristics of the population, so that the extension program can be conducted right on target and ultimately be able to reduce the overall incidence of rabies.
Abstrak
Rabies merupakan penyakit viral zoonotik yang menyerang semua hewan berdarah panas dan manusia melalui gigitan. Penyakit rabies bertanggung jawab atas lebih dari 3,7 juta Disability Adjusted Life Year (DALYs) setiap tahunnya. Diketahui bahwa 95% dari jumlah kematian manusia berasal dari gigitan anjing. Kematian akibat penyakit rabies lebih banyak terjadi di daerah perdesaan karena akses informasi cenderung minim, sehingga masyarakat tidak memiliki pengetahuan tentang pencegahanpencegahan terhadap penyakit rabies. Penelitian ini didesain untuk mengetahui persepsi masyarakat tentang penyakit rabies dan berbagai kemungkinan tindakan intervensi rabies. Desain penelitian yang digunakan adalah kasus kontrol dengan metode pengambilan data menggunakan kuesioner. Konsep utama Health Belief Model (HBM) dipilih karena memiliki fungsi untuk memprediksi keyakinan individu. Keyakinan individu ini kemudian akan memengaruhi praktik individu dalam melaksanakan vaksinasi rabies. Pada penelitian ini, diketahui bahwa praktik vaksinasi rabies oleh pemilik memiliki hubungan yang sangat signifikan dengan pengetahuan terkait rabies sebagai penyakit berbahaya dan keyakinan individu yang ditinjau melalui konsep HBM. Faktor keyakinan individu yang memiliki hubungan signifikan adalah variabel severity dan self efficacy. Hasil penelitian ini dapat menjadi sumber informasi dan konsiderasi bagi pemangku kebijakan di Indonesia dalam membuat program-program terkait pencegahan penyakit rabies. Studi pada wilayah target, dapat memberikan pengetahuan karakteristik penduduk, sehingga program penyuluhan dapat tepat sasaran dan akhirnya mampu menurunkan angka kejadian penyakit rabies secara keseluruhan
Persepsi Mahasiswa UIN Walisongo Terhadap Covid-19 Dan Perilaku Kesehatan
Covid-19 is a disease caused by the coronavirus. Since the end of 2019, WHO has reported cases of pneumonia that occurred in Wuhan, Tiongkok, which then spread to several countries including Indonesia. The number of the spread of Covid-19 is increasing day by day, the government continues to try to break the chain of the spread of Covid-19. The success of efforts to break the Covid-19 chain depends on the public's knowledge and perception of Covid-19 and its prevention efforts. This study aims to determine the perceptions and behavior of UIN Walisongo students in preventing Covid-19. This study used a quantitative descriptive research method, with a data collection instrumen in the form of a questionnaire. Data collection techniques using a google form questionnaire with 10 statements and opinions from UIN Walisongo students. The study population was all students of UIN Walisongo Semarang and as a sample were 302 students from various faculties who were selected by nonprobability sampling. The results showed 86.49% of the students of UIN Walisongo have a "very good" perception of Covid-19. Healthy behaviors carried out by UIN Walisongo students as an effort to prevent Covid-19 include: washing hands, using masks, social distancing, taking vitamins and exercising. To increase the prevention of Covid-19, it is necessary to conduct health education directly or online through social media to communicate with the public.
Abstrak
Covid-19 merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus corona. Pada akhir tahun 2019, WHO melaporkan kasus pneumonia yang terjadi di Wuhan, Tiongkok yang kemudian menyebar di beberapa negara termasuk Indonesia. Angka penyebaran Covid-19 semakin hari kian meningkat, pemerintah terus berupaya memutus rantai penyebaran Covid-19. Keberhasilan upaya pemutusan rantai Covid-19 tergantung dari pengetahuan dan persepsi masyarakat terhadap Covid-19 serta upaya pencegahannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi dan perilaku Mahasiswa UIN Walisongo dalam pencegahan Covid-19. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kuantitatif, dengan instrument pengumpulan data berupa kuesioner. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner google form dengan 10 pernyataan serta pendapat dari mahasiswa UIN Walisongo. Populasi penelitian adalah seluruh mahasiswa UIN Walisongo Semarang dan sebagai sampel adalah 302 mahasiswa dari berbagai fakultas yang dipilih dengan teknik nonprobability sampling. Hasil penelitian menunjukkan 86.49% mahasiswa UIN Walisongo mempunyai persepsi “sangat baik” terhadap Covid-19. Perilaku sehat yang dilakukan mahasiswa UIN Walisongo sebagai upaya pencegahan Covid-19 meliputi: cuci tangan, menggunakan masker, social distancing, mengonsumsi vitamin dan berolahraga. Untuk meningkatkan pencegahan Covid-19 perlu dilakukan penyuluhan kesehatan secara langsung atau online melalui media sosial untuk berkomunikasi dengan masyarakat
Nilai Budaya Jawa Dalam Pengendalian Malaria Untuk Mencapai Eliminasi Malaria Di Kawasan Bukit Menoreh
Bukit Menoreh is a border area of three regencies and two provinces which have malaria problems. The target to achieve and maintain the predicate as being free or has eliminated malaria was carried out byvarious control methods, either as government programs or community participations. The area itself is a Javanese cultural area in which its values are stronglyheld. This affects existing malaria control efforts. The research was conducted with a qualitative approach, held in three districts in Bukit Menoreh, each with 2 villages. The data was obtained through observations, indepth interview, and focus group discussions (FGD) with 3 groups in each village. The results showed that from the various control efforts carried out there was a culture of ‘isin’ (shame), ‘pekewuh’ (feeling of reluctant), and the influence of community leaders, especially in ‘gotong royong’ or community service activities in environmental cleanliness, health educations, and migration surveillance. The conclusion of this study is that some of these values are supportive, and some are hindering the effort to control malaria. Therefore, a special approach is needed with attention to culture. Intervention to control malaria should pay local wisdom and culture so it can be accepted and implemented.
Abstrak
Bukit Menoreh adalah daerah perbatasan tiga kabupaten dari dua provinsi yang merupakan daerah dengan masalah malaria. Target mencapai dan mempertahankan predikat bebas atau eliminasi malaria dilakukan dengan berbagai cara pengendalian, baik program dari pemerintah maupun peran serta masyarakat. Wilayah ini merupakan wilayah budaya Jawa yang di dalamnya terdapat nilai-nilai budaya yang masih kuat dipegang. Hal ini berpengaruh terhadap usaha pengendalian malaria yang ada. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif, di tiga kabupaten di Bukit Menoreh masing-masing diambil dua desa. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan diskusi kelompok terarah (DKT) terhadap tiga kelompok di tiap desa. Hasil penelitian menunjukkan dari berbagai usaha pengendalian malaria terdapat budaya rasa isin (malu), rasa ewuh (sungkan), dan panut (patuh) terhadap pengaruh tokoh dalam masyarakat terutama dalam kegiatan kerja bakti atau gotong royong kebersihan lingkungan, sosialisasi, dan surveilans migrasi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa nilai tersebut ada yang mendukung dan ada yang menghambat usaha pengendalian malaria sehingga diperlukan pendekatan khusus dengan memperhatikan budaya. Kebijakan pengendalian malaria sebaiknya memperhatikan budaya lokal sehingga bisa menggunakan budaya lokal dan bisa diterima dan diterapkan
PENGARUH ASUPAN ENERGI DAN PROTEIN IBU HAMIL SELAMA TRIMESTER III TERHADAP KELUARAN KEHAMILAN: STUDI KOHORT
Status gizi ibu selama hamil dapat mempengaruhi pertumbuhan janin yang sedang dikandung. Pola konsumsi makan ibu selama hamil berpengaruh terhapat kejadian BBLR dan panjang badan lahir pendek. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh asupan gizi energi dan protein ibu hamil selama trimester III terhadap keluaran kehamilan. Penelitian ini menggunakan metode studi kohort selama 3 bulan. Sampel dalam penelitian ini yaitu ibu hamil trimester III yang berjumlah 31 orang dengan teknik pengambilan sampel yaitu total sampling. Analisis data yang digunakan yaitu uji regresi linear. Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh asupan energi (koef=0,829; 95% CI: 0,3 – 1,3; p-valuer=0,003) dan asupan protein (koef=11,69; 95%CI: 2,4 – 20,9; p-value=0,015) selama trimester III terhadap berat badan bayi saat lahir. Selain itu, terdapat pengaruh asupan energi (koef=0,003; 95% CI: 0,001 – 0,01; p-valuer=0,004) dan asupan protein (koef=0,053; 95%CI: 0,01 – 0,1; p-value=0,012) selama trimester III terhadap panjang badan bayi saat lahir. Penelitian ini menunjukkan bahwa asupan energi dan protein berpengaruh terhadap hasil keluaran kehamilan, sehingga diharapkan ibu hamil dapat memenuhi kebutuhan asupan makanan terutama selama kehamilan trimester III
Implementasi Permenkes Nomor 812 Tahun 2010 tentang Tata Laksana Penyelenggaraan Pelayanan Hemodialisis di Indonesia
Abstrak
Implementasi Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) RI No. 812 tahun 2010 tentang penyelenggaraan pelayanan dialisis pada fasilitas pelayanan kesehatan (yankes) di Indonesia menimbulkan masalah bagi penderita gagal ginjal kronis. Kajian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, teknik pengumpulan data melalui tinjauan pustaka pada sejumlah artikel, laporan penelitian, dan jurnal serta diskusi/konsultasi melalui daring. Data yang diperoleh dianalisis dengan teori Miles & Hubermans. Kajian dilakukan dari bulan Desember 2020 s.d. Maret 2021. Hasil menunjukkan bahwa implementasi Permenkes No. 812/2010 tentang penyelenggaraan pelayanan dialisis pada fasilitas yankes (fasyankes) belum optimal. Ketersediaan sarana dan prasarana, sumber daya manusia (SDM), alat, mesin, cairan dialisat, dan obat belum terbagi merata di seluruh Indonesia. Banyak pasien belum mendapatkan pelayanan hemodialisis (HD) 2 kali seminggu. Jumlah pasien dialisis terus meningkat, sekitar 20 ribu pasien belum mendapatkan akses pengobatan, pemilihan jenis terapi HD dan continuous ambulatory peritoneal dialysis (CAPD) yang dilaksanakan sesuai rekomendasi dokter. Pasien belum mendapat dosis obat dan waktu HD yang cukup karena berbagai kendala. RS/Klinik belum melakukan kunjungan rumah dalam rangka edukasi dan pemantauan, pasien dialisis berpotensi mengalami komplikasi/infeksi/kematian (drop out). Monev belum berjalan optimal, pembiayaan HD lebih mahal dari CAPD membebani keuangan negara, pelatihan dialisis masih minim di RS/Klinik. Kebijakan pelayanan dialisis saat ini belum terpadu. Belum ada pencerahan rohani dan kewajiban pencabutan/pemotongan alat dialisis bagi pasien muslim ketika sudah meninggal di rumah. Kajian ini merekomendasikan perlu melakukan perubahan Permenkes No. 812 tahun 2010 pasal 15 ayat 1 dan 2, seiring dengan upaya yang bisa dilakukan oleh Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan dan Rumah Sakit dalam memperkuat sistem kesehatan dan mutu pelayanan bagi pasien dialisis.
Kata kunci: Kebijakan Kesehatan, Pelayanan Dialisis, Penyakit Gagal Ginjal
Abstract
Implementation of Permenkes No. 812 of 2010 concerning the implementation of dialysis services in health facilities in Indonesia causing problems for people with cordic kidney failure. This study uses qualitative descriptive methods, data collection techniques through literature reviews in a number of articles, research reports, and journals and discussions / consultations through online. The data was obtained in the analysis with miles hubermans theory. Conducted from December 2020 to March 2021. The results concluded that the implementation of Permenkes No. 812/2010 on The Implementation of Dialysis Services in Health Care Facilities has not been optimal. The availability of facilities and infrastructure, human resources, tools, machinery, dialysis fluids, and drugs has not been evenly divided throughout Indonesia. Many patients do not get hemodialysis therapy (HD) services twice a week. Dialysis patients continue to increase, about 20 thousand patients have not received access to treatment, the selection of types of hemodialysis therapy HD and continuous ambulatory peritoneal dialysis (CAPD) implemented according to the recommendations of doctors. Patients have not received enough HD doses drugs and time due to various obstacles. Hospitals /Clinics have not made home visits in the framework of education and monitoring, dialysis patients have the potential to experience complications / infections / deaths (droup out). Monev has not run optimally, HD financing is more expensive than CAPD burdening the country’s finances, dialysis training is still minimal in hospitals / clinics. The current dialysis service policy is not yet integrated. There has been no spiritual revocation and obligation to revocation/cut dialysis equipment for Muslim patients when they have died at home. This study of authors recommends policy solutions that need changes to Permenkes No. 812 of 2010 article 15 paragraphs 1 and 2. And concrete efforts that can be done by the Ministry of Health, Hospitals, and Health Services.
Keywords: Health Policy, Dialysis Services, Kidney Failure
Hubungan Prematuritas dan Berat Badan Lahir Rendah dengan Derajat Gangguan Pendengaran pada Anak
Abstrak
Latar Belakang: Gangguan pendengaran sering ditemukan pada anak - anak yang lahir prematur dan berat badan lahir rendah (BBLR). Kejadian gangguan pendengaran pada anak di Indonesia dengan prematur dan BBLR adalah 19,3% dan 36,1%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara prematuritas dan BBLR dengan derajat kurang dengar pada anak. Metode: Penelitian deskriptif analitik menggunakan data rekam medik anak dengan kurang dengar di RSUP Dr. Kariadi Semarang tahun 2019 – 2020. Diagnosis gangguan dengar berdasarkan hasil BERA variabel yang diteliti derajat gangguan pendengaran, prematuritas, BBLR. Analisis data dengan uji korelasi. Hasil: Subjek penelitian sebanyak 466 anak. Jenis kelamin didominasi oleh laki – laki 237 (50,9%) dan subyek yang berusia kurang dari 5 tahun sebanyak 406 (87,1%). Faktor risiko kelahiran prematur 23 (4,9%), BBLR 33 (7,1%), prematur disertai BBLR sebanyak 18 (3,9%). Gangguan pendengaran derajat ringan – sedang 111 (23,8%), gangguan pendengaran derajat berat – sangat berat 355(76,2%). Tidak terdapat hubungan antara prematuritas dengan derajat kurang dengar (p = 0,059). Tidak terdapat hubungan antara BBLR dengan derajat kurang dengar (p = 0,158). Terdapat hubungan yang signifikan antara prematuritas dan berat badan lahir rendah dengan derajat kurang dengar (p= 0,046). Kesimpulan:Terdapat hubungan antara prematuritas dan berat badan lahir rendah dengan derajat kurang dengar.
Kata Kunci: Gangguan Pendengaran, Prematuritas, Berat Badan Lahir Rendah
Abstrac
Background: Hearing loss is often found in children born prematurely and with low birth weight (LBW). The incidence of hearing loss in children in Indonesia with preterm and LBW was 19.3% and 36.1%. The purpose of this study was to determine the relationship between prematurity and LBW with the degree of hearing loss in children. Methods: A descriptive analytic study using medical record data of children with hearing impairment at Dr. Kariadi Semarang in 2019 - 2020. Diagnostic hearing loss is based on BERA. The variables studied were the degree of hearing loss, prematurity, LBW. Data analysis was performed by using correlation test. Result : The subjects were 466 children, 237 men (50.9%) and less than 5 years old 406 (87.1%).Risk factors for preterm birth were 23 (4.9%), LBW 33 (7.1%), premature accompanied by LBW was 18 (3.9%). Mild to moderate degree of hearing loss were 111 (23.8%),hearing loss with a degree of severity - very severe 355 ( 76.2%). There was no relationship between prematurity and degree of hearing loss (p = 0.059). There was no relationship between LBW and the degree of hearing loss (p = 0.158). There was a significant relationship between prematurity and low birth weight and the degree of hearing loss (p = 0.046). Conclusion: There is a relationship between prematurity and low birth weight and the degree of hearing loss.
Keyword: Hearing Loss, Premature, Low Birth Weigh
IODINE STATUS IN SCHOOL CHILDREN AND DISTRIBUTION OF IODINE, MERCURY, LEAD IN SOIL AND WATER IN THE ENDEMIC GOITER HILL AREA, PONOROGO
Background. Iodine deficiency disorders (IDD) remained a public health problem. Ponorogo was an IDD endemic area with prominent cases of mental retardation. Despite the lack of iodine intake, exposure to environmental heavy metals can exacerbate the effects of iodine deficiency. Objective. To describe iodine status of school children and distribution of environmental iodine and heavy metals including mercury (Hg), lead (Pb), and cadmium (Cd) in the endemic IDD hill area of Ponorogo. Method. This research is a cross-sectional study conducted in two villages in IDD endemic areas in Ponorogo, namely Dayakan and Watubonang villages, in 2011. A total of 127 urine samples of primary-school-age children were taken and analyzed for urinary iodine excretion (UIE). A total of 29 soil samples and 87 water samples were taken from the study site to measure the concentration of iodine and heavy metals Hg, Pb, and Cd. Types of water source, altitude, and land use, both soil and water source were recorded. Results. The median (min-max) UIE was 130 (14 –1187 µg/L) within the range of adequate population iodine intake according to WHO (100-199 µg/L), while the percentage of UIE <100 µg/L was still around 33.07 percent. The concentration of iodine in the soil was 33.777 mg/kg (6.640 –108.809), and the concentration of iodine in the water was 8.0 µg/L (0-49). The concentration of Hg in the soil was 68.64 ppb (7.43–562.05), and the concentration of Hg in the water was 0.00 ppb (0.00-23.24). The concentration of Pb in the soil was 3.273 ppm (0.000–25.227), while Pb was not identified in the water. The Cadmium was not detectable both in the soil and water. Conclusion. Iodine deficiency is still a public health problem in Dayakan and Watubonang villages. The environment of the endemic IDD area in Ponorogo was not completely poor in iodine, but iodine was not evenly spread and mobilized. There was a risk of environmental heavy metal exposure from Hg in the soil or water and Pb in the soil. Mercury in the environment can cause health problems due to the inhibition of the use of iodine in the thyroid gland
FORMULASI BISKUIT KEPILOR (KECAMBAH KEDELAI, PISANG KEPOK MERAH, DAUN KELOR) SEBAGAI KUDAPAN SEHAT BAGI PENDERITA DIABETES MELITUS
Latar Belakang. Diabetes melitus (DM) merupakan salah satu masalah kesehatan yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah. Konsumsi makanan rendah indeks glikemik yang mengandung pati resisten, asam amino esensial, vitamin, mineral, dan antioksidan membantu terapi DM. Makanan tersebut dapat dikembangkan dari bahan pangan lokal, yaitu pisang kepok (Musa paradisiaca), kedelai (Glycine max), dan daun kelor (Moringa oleifera). Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan formulasi biskuit berbasis dasar tepung kecambah kacang kedelai, pisang kepok, dan daun kelor (kepilor) sebagai kudapan sehat bagi penderita DM sehingga membantu mencegah terjadinya komplikasi. Metode. Penelitian dilakukan dengan metode penelitian eksperimental dengan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 proporsi formulasi (P1, P2, dan P3) dan satu kontrol (P0). Penepungan, pembuatan biskuit, dan uji organoleptik dilaksanakan di laboratorium Ilmu Teknologi Pangan, Poltekkes TNI AU Adisutjipto, sedangkan analisis kadar gizi dilaksanakan di Laboratorium Pusat Studi Pangan dan Gizi (PSPG), Universitas Gadjah Mada. Data hasil uji organoleptik dan kadar gizi dianalisis menggunakan software SPSS dengan uji Anova dengan tingkat kemaknaan p<0,05 dan bila sangat berbeda nyata dilakukan uji lanjut dengan uji DMRT. Hasil. Subtitusi tepung kepilor menurunkan daya terima panelis secara signifikan pada atribut warna, aroma, rasa, dan tekstur biskuit kepilor yang dihasilkan. Penambahan tepung kepilor meningkatkan kadar air, abu, protein, lemak, pati, dan serat serta menurunkan kadar lemak dan karbohidrat biskuit kepilor dibandingkan dengan biskuit kontrol. Kadar protein pada biskuit kepilor telah memenuhi SNI biskuit, tetapi kadar air biskuit kepilor belum memenuhi. Kadar karbohidrat, protein, dan lemak pada biskuit kepilor formulasi P1–P3 telah memenuhi syarat diet penderita diabetes melitus. Kesimpulan. Kandungan zat gizi biskuit kepilor terpilih adalah formula P1 kadar air 5,46 persen, kadar abu 2,11 persen, kadar protein 14,91 persen, kadar lemak 18,63 persen, kadar karbohidrat 58,95 persen, kadar serat 0,69 persen, dan kadar pati 41,82 persen. 
PEMAHAMAN DAN IMPLEMENTASI MASYARAKAT TENTANG PROTOKOL KESEHATAN COVID-19 DI JAWA TENGAH, INDONESIA
ABSTRACT
Various efforts have been made by the government and local governments in order to suppress the spread of COVID-19, but cases continue to increase. The purpose of this study was to determine the understanding and behavior of the community towards health protocols in Central Java. This type of research is descriptive with a quantitative approach, assisted by qualitative to deepen the analysis. This research using a survey technique involving 2,894 respondents spread throughout Central Java. The instrument used is a questionnaire through the google form media with the variable are demographic factors, knowledge about COVID-19, and implementation of the COVID-19 health protocol. Quantitative analysis used descriptive statistical techniques (sum, average, comparison, relationship), and qualitative analysis used the simultaneous model of Miles & Huberman. The conclusion of this study is that some people ignore COVID-19 due to lack of knowledge, so that it affects the implementation of weak health protocols, as well as lack of efforts to maintain health. The group of men, lower secondary education level, age 60 years and over and 20 years and below, working in trade, farmers, and labor sectors, as well as unemployed are the more groups that violate health protocols. Education is needed to increase knowledge and efforts to prevent COVID-19. Collaboration between the government and the community as well as social control is needed to increase knowledge and awareness of the implementation of the COVID-19 health protocol.
Keywords: Central Java, COVID-19, Health Protocol
ABSTRAK
Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah dan pemerintah daerah dalam rangka menekan penyebaran COVID-19, namun peningkatan kasus terus terjadi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pemahaman dan perilaku masyarakat terhadap protokol kesehatan di Jawa Tengah. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kuantitatif, dibantu kualitatif untuk memperdalam analisis. Penelitian dilakukan dengan teknik survey melibatkan 2.894 responden yang tersebar di seluruh wilayah Jawa Tengah. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner melalui media google form dengan variabel faktor demografi, pemahaman dan implementasi protokol kesehatan COVID-19. Analisis kuantitatif menggunakan teknik deskriptif statistik (jumlah, rata-rata, perbandingan, hubungan), dan analisis kualitatif menggunakan model simultan Miles & Huberman. Kesimpulan penelitian ini adalah sebagian masyarakat mengabaikan COVID-19 karena kurangnya pengetahuan, sehingga berpengaruh pada implementasi protokol kesehatan yang lemah, serta kurangya upaya menjaga kesehatan. Kelompok laki-laki, tingkat pendidikan menengah kebawah, usia 60 tahun ke atas dan 20 tahun ke bawah, bekerja di sektor perdagangan, petani, dan buruh, serta pengangguran merupakan kelompok lebih banyak melanggar protokol kesehatan. Edukasi diperlukan untuk meningkatkan pengetahuan dan upaya pencegahan COVID-19. Perlu kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat serta kontrol sosial untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran implementasi protokol kesehatan COVID-19.
Kata kunci: COVID-19, Jawa Tengah, Protokol Kesehata