Journals of Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Not a member yet
2187 research outputs found
Sort by
KECEMASAN IBU HAMIL TERHADAP COVID-19 (SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW)
SARS-CoV-2 is a coronavirus from the Betacoronavirus group. The COVID-19 pandemic can cause psychological effects, including stress, anxiety, and depression. Worry and anxiety during the COVID-19 pandemic in pregnant women can cause them to refrain from taking prenatal care. The purpose of this review is to analyze and review journals related to the anxiety of pregnant women about COVID-19. This research method is Systematic Literature Review by searching for journals using Google Scholar, ProQuest, PubMed, and Garuda databases from 2019 – 2021 and the literature selection process using PRISMA diagrams with a Cross Sectional research design. The results of this study are that at the initial stage, 3.197 articles were collected, then various selections were made so that the final results obtained were 5 articles that were worthy of analysis. The research topics are 3 out of 5 articles reporting mild anxiety during the COVID-19 pandemic and 2 out of 5 articles reporting severe anxiety during COVID-19. The conclusion of this review is that the anxiety of pregnant women during the COVID-19 pandemic varies so that problems related to anxiety can be immediately overcome by Antenatal Care (ANC) visits
Faktor Risiko COVID-19 sebagai Dasar Pencegahan dan Pengendalian Infeksi
Abstrak
Melihat situasi di Indonesia saat ini, dimana kasus konfirmasi COVID-19 dan kematian terus bertambah maka menjadi penting menambah pengetahuan mengenai faktor risiko COVID-19 sebagai upaya pencegahan dan pengendalian infeksi agar tidak semakin bertambah dan meluas. Ada tiga faktor risiko utama yang harus diketahui dapat dinilai yaitu faktor virus itu sendiri, faktor host, dan faktor lingkungan. faktor virus terutama mengetahui bagaimana cara penularan dan pencegahannya. Untuk faktor host apa yang dapat mempengaruhi keparahan penyakit. Dan faktor lingkungan bagaimana yang membuat virus semakin menyebar luas dan hidup lebih lama. Diharapkan dengan bertambahnya pengetahuan dan pemahaman mengenai faktor risiko dari virus SARS CoV-2 maka angka kasus konfirmasi dan kematian dapat dikendalikan. Untuk memutus mata rantai penularan penyakit infeksi hanya melalui tindakkan pencegahan. Hal ini dapat dilakukan jika mengetahui ilmu yang mendasarinya. Untuk itu, tujuan tulisan ini untuk menambah wawasan faktor resiko COVID-19 sebagai dasar untuk pencegahan dan pengendalian infeksi.
Kata kunci: Faktor resiko; COVID-19; Pencegahan infeksi; Pengendalian infeksi
Abstract
Seeing the current situation in Indonesia, where confirmed cases of COVID-19 and deaths continue to increase, it is important to increase knowledge about the risk factors for COVID-19 to prevent and control infection so that it does not increase and spread. We must know three main risk factors to assess: the virus itself, host factors, and environmental factors. First, viral factors, especially knowing how to transmit and prevent it. For what host factors can influence disease severity. And what environmental factors make the virus more widespread and live longer. It is hoped that increased knowledge and understanding of the risk factors of the SARS CoV-2 virus, can control the number of confirmed cases and deaths. Furthermore, to break the chain of transmission of infectious diseases only through preventive measures. Furthermore, can do this if you know the underlying science. The purpose of this paper is to add insight into the risk factors for COVID-19 as a basis for infection prevention and control.
Keywords: risk factors; COVID-19; infection prevention; infection control
 
KARAKTERISTIK DISTRIBUSI DAN HABITAT Anopheles spp. DI KELURAHAN KEMELAK BINDUNG LANGIT, KABUPATEN OGAN KOMERING ULU TAHUN 2018
Banyak faktor dapat mempengaruhi kejadian malaria. Faktor tersebut berasal dari perubahan kondisi lingkungan itu sendiri. Kondisi lingkungan mempengaruhi kepadatan Anopheles spp. di dalam rumah yang kontak dengan manusia. Kondisi tersebut berupa suhu udara. Suhu udara yang hangat mempercepat siklus hidup nyamuk sehingga meningkatkan kepadatan nyamuk di dalam rumah. Besarnya kepadatan nyamuk per orang per jam akan meningkatkan frekuensi kontak antara vektor dan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi serta memetakan habitat perkembangbiakan potensial larva Anopheles. Penelitian dilakukan secara potong lintang di Kelurahan Kemelak Bindung Langit Kecamatan Baturaja Timur pada bulan Agustus 2018. Sebagai populasi adalah habitat perkembangbiakan larva Anopheles yang potensial seperti sawah, kolam, rawa, aliran sungai yang tidak deras dan parit. Pengumpulan data dilakukan dengan mengamati habitat potensial larva Anopheles yang terdiri dari jumlah larva dan mengamati lingkungan fisik biologinya. Pengamatan larva Anopheles dilakukan dengan metode pencidukan larva. Hasil dari penelitian ini adalah jenis habitat perkembangbiakan larva Anopheles di Kelurahan Kemelak Bindung Langit adalah rawa dan kolam dengan kepadatan larva berkisar 30-110 ekor. Suhu air pada habitat perkembangbiakan berkisar 29oC-30oC. Seluruh habitat perkembangbiakan larva Anopheles tidak terkena paparan sinar matahari langsung. Kadar garam pada habitat perkembangbiakan yaitu 0‰. Luas habitat berkisar 21m2-2400m2, dengan memiliki pH masing- masing pada habitat yaitu 6
Hubungan Operasi Sesar dengan Inisiasi Menyusu Dini di Indonesia: Analisis Data SDKI 2017
The prevalence of exclusive breastfeeding and early initiation of breastfeeding in Indonesia, is still low 37.3% and 58.2%, respectively. However, cesarean delivery increased from 12.3% in 2012 to 17.0% in 2017. Women who gave birth by cesarean section were less likely to breastfeed earlier. This study aimed to determine the relationship between cesarean delivery and early initiation of breastfeeding among women in Indonesia. This study was a further analysis of the 2017 IDHS data with a sample of the 6,877 last-born children in the two years preceding the survey. The dependent variable was early initiation of breastfeeding, while the main independent variable was cesarean delivery. Other covariate variables included age, education, occupation, place of residence, parity, history of antenatal care, place of delivery and wealth index. Data analysis used logistic regression to determine the relationship between cesarean delivery and early initiation of breastfeeding, showing as the Adjusted Odds Ratio among 95% confidence interval. The results of the study showed that eight out of ten (82.75%) women who gave birth by cesarean section did not experience early initiation of breastfeeding, compared to those who delivered vaginal delivery (62.75%). Women who gave birth by cesarean section were 7.16 times more likely to not practice early initiation of breastfeeding (AOR 7.16; 95% CI: 3.66-14.01) compared to those who delivered vaginal delivery. To improve early initiation of breastfeeding, pregnant women need to be encouraged to do antenatal care (ANC) to increase their knowledge and confidence about breast milk. In addition, health workers and health care providers need to provide support to women who give birth by cesarean section to breastfeed as early as possible through providing adequate information about breastfeeding, encouraging rooming-in and preventing the promotion of formula milk.
Abstrak
Prevalensi air susu ibu (ASI) eksklusif dan inisiasi menyusu dini (IMD) di Indonesia, masih rendah yaitu masing-masing 37,3% dan 58,2%. Di sisi lain, kelahiran melalui operasi sesar meningkat dari 12,3% pada 2012 menjadi 17,0% pada 2017. Wanita yang melahirkan dengan operasi sesar lebih kecil kemungkinannya untuk menyusui lebih awal. Studi ini bertujuan untuk mengetahui hubungan persalinan sesar dengan IMD pada wanita di Indonesia. Studi ini merupakan analisis lanjut data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2017 dengan sampel 6.877 anak terakhir yang lahir dalam kurun waktu dua tahun sebelum survei. Variabel dependen adalah IMD, sedangkan variabel independen utama adalah persalinan sesar. Variabel kovariat lainnya antara lain usia, pendidikan, pekerjaan, tempat tinggal, paritas, riwayat antenatal care, tempat persalinan, dan indeks kekayaan. Analisis data menggunakan regresi logistik untuk mengetahui hubungan antara persalinan sesar dengan IMD, yang dilihat dari nilai Adjusted Odds Ratio dengan interval kepercayaan 95%. Hasil studi menunjukkan bahwa delapan dari sepuluh (82,75%) wanita yang melahirkan dengan operasi sesar tidak melakukan IMD, dibandingkan dengan yang melahirkan persalinan pervaginam (62,75%). Wanita yang melahirkan melalui operasi sesar memiliki kemungkinan 7,16 kali lebih tinggi untuk tidak melakukan IMD (AOR 7,16; 95% CI: 3,66-14,01) dibandingkan dengan mereka yang melahirkan secara pervaginam. Untuk meningkatkan praktik IMD, ibu hamil perlu didorong untuk melakukan pemeriksaan kehamilan (ANC) meningkatkan pengetahuan dan kepercayaan dirinya mengenai ASI. Selain itu, petugas kesehatan dan penyedia layanan kesehatan perlu memberikan dukungan kepada wanita yang melahirkan melalui operasi sesar untuk menyusui sedini mungkin melalui pemberian informasi mengenai ASI secara memadai, mendorong adanya rooming-in, serta mencegah pemberian promosi susu formula