Journals of Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Not a member yet
    2187 research outputs found

    Pengaruh Fraksi Daun Asam Jawa (Tamarindus indica L.) terhadap Fungsi Hati dan Ginjal Tikus Diinduksi Parasetamol

    Get PDF
    Liver and kidneys play a role in the metabolism and excretion of substances that enter the body, they become targets for toxicity from xenobiotics and other chemicals including drugs. Exogenous antioxidants are needed to overcome and prevent oxidative stress. Fraction of tamarind leaf extract (Tamarindus indica L) has antioxidant activity, it has the potential to protect the body from free radicals. This study aimed to determine the effect of giving tamarind leaf fractions on AST, ALT and creatinine levels in rats (Rattus norvegicus) induced with paracetamol. Experimental animals were divided into 4 groups. Group I was given paracetamol induction (negative control), group II was given the ethyl acetate fraction and induced paracetamol, group III was given the n-hexane fraction and induced paracetamol, and group IV was without treatment (positive control). Statistical analysis using One Way Anova test and LSD (Post Hoc) showed that the ethyl acetate fraction was not significantly different (p-value >0.05) with the positive control group and the n-hexane fraction group, but significantly different from the negative control group (p -valu

    Potensi Kejadian Demam Berdarah Dengue Berdasarkan Skenario Perubahan Iklim RCP4.5 di Kabupaten Badung,Bali

    Get PDF
    ABSTRACT Climate factors influence the breeding of the Aedes aegypti mosquito which is the vector that causes the Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) incidence. This vector can be increasing with climate change as a result of global warming. This study aims to determine the potential distribution of DHF in Badung Regency based on climate factors and its projections using the RCP4.5 climate change scenario. This research in the historical period for the years  2010 – 2019 and the projection period for the years 2021 – 2030 and the years 2031 – 2040. The fuzzy logic model is used to get the output of the potential for DHF incidence which is described by the IR value of DHF based on the climate conditions in the study period. The data used include secondary data on average climate parameters; rainfall, air temperature, and relative humidity in 2010 – 2019, RCP4.5 scenario in  2010 – 2040, and annual DHF Incident Rate (IR) for the period 2010 – 2019. The results showed that in historical and projection periods the rainfall, air temperature, and relative humidity average have optimal values ​​for the breeding of Aedes aegypti mosquitoes that cause DHF with IR > 55 in all areas of Badung Regency. The potential for DHF incidence in the projection period did not change from the historical period. In addition, the projection period saw an increased rainfall and air temperature average compared to the historical period. Meanwhile, the humidity average in the projection period did not change significantly compared to the historical period. ABSTRAK Faktor iklim yang memberikan pengaruh terhadap perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti yang menjadi vektor penyebab kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD). Vektor ini dapat meningkat dengan adanya perubahan iklim dampak dari pemanasan global. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebaran potensi kejadian DBD di Kabupaten Badung berdasarkan faktor iklim dan perkiraannya menggunakan skenario perubahan iklim RCP4.5. Penelitian dilakukan pada periode historis tahun 2010 – 2019 dan periode perkiraan tahun 2021 – 2030 serta tahun 2031 – 2040. Model logika fuzzy digunakan untuk mendapatkan outputPotensi kejadian DBD yang digambarkan dengan nilai IR DBD berdasarkan kondisi iklim pada periode penelitian. Data yang digunakan meliputi data rata-rata parameter iklim curah hujan, suhu udara, dan kelembapan observasi tahun 2010 – 2019, data skenario RCP4.5 tahun 2010 - 2040, dan data Insidence Rate (IR) DBD tahunan periode 2010 – 2019. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata curah hujan, suhu udara, dan kelembapan pada periode historis maupun periode penilaian memiliki nilai optimal untuk perkembangbiakan nyamuk Aedes aegyptiyang menyebabkan kejadian DBD dengan IR > 55 di seluruh wilayah Kabupaten Badung. Potensi kejdian DBD pada periode perkiraan tidak mengalami perubahan dari periode historis. Selain itu, pada periode terlihat adanya peningkatan rata-rata curah hujan dan suhu udara dibandingkan dengan periode historis

    Persebaran Habitat Keong Perantara Schistosomiasis di Dataran Tinggi Lindu, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah

    Get PDF
    ABSTRACT Schistosomiasis in Indonesia is caused by the trematode worm, Schistosoma japonicum, with the snail Oncomelania hupensis lindoensis as the intermediate host. The presence of these snails is an indicator of determining the habitat area for the intermediate host of schistosomiasis. The aim of the study was to map the distribution of snail habitat in the Lindu endemic area. An observational study with a cross-sectional design was conducted in August 2021. The study was conducted in two villages in the Lindu Highlands, Sigi Regency, Central Sulawesi Province. The number of snail habitats in the Lindu Plateau found 25 habitats, covering an area of ​​27,088 m2. Snail density and infection rate (IR) were found to be 27.06 snails/minute (IR 0.68%). Based on the research, it can be concluded that the distribution pattern of the snail habitat in Lindu was clustered in certain areas. Habitat in Anca Village was most widely found in neglected coffee plantation areas, and a small part in primary forest areas. Snail habitat in Tomado Village was mostly found in watersheds, parapa grass in swamp areas, and uncultivated rice fields. Environmental management that can be carried out by multi sectors are the creating of rice fields, the creation of fish ponds, and the diversion of community paths in the Lore Lindu National Park area that passes through the habitat of schistosomiasis intermediate snails. ABSTRAK Schistosomiasis di Indonesia disebabkan oleh cacing trematoda jenis Schistosoma japonicum dengan hospes perantara keong Oncomelania hupensis lindoensis. Keberadaan keong tersebut sebagai indikator penetapan daerah habitat hospes perantara schistosomiasis. Tujuan penelitian adalah untuk untuk memetakan distribusi habitat keong di wilayah endemis Lindu. Jenis penelitian adalah observasional dengan desain potong lintang yang dilakukan pada bulan Agustus tahun 2021. Penelitian dilakukan di Desa Anca dan Tomado Kecamatan Lindu Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah. Jumlah habitat keong di Dataran Tinggi Lindu ditemukan 25 habitat, seluas 27.088 m2. Kepadatan keong dan tingkat infection rate (IR) ditemukan sebesar 27,06 keong/menit (IR 0,68%). Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa pola persebaran habitat keong di Lindu adalah mengelompok/clustered pada daerah tertentu. Habitat di Desa Anca ditemukan paling banyak di daerah kebun kopi yang terabaikan, dan sebagian kecil di daerah hutan primer dengan kanopi tertutup. Habitat keong di Desa Tomado paling banyak ditemukan di daerah aliran air, parapa, rawa, dan sawah tidak diolah. Manajemen lingkungan yang dapat dilakukan oleh lintas sektor yaitu pencetakan sawah, pembuatan kolam ikan, dan pengalihan jalur masyarakat dalam Kawasan Taman Nasional Lore Lindu yang melewati habitat keong perantara schistosomiasis

    Prevalensi Serkaria Schistosoma japonicum pada Keong Oncomelania hupensis lindoensis, Kepadatan Keong, dan Daerah Fokus, di Daerah Endemis, Indonesia

    Get PDF
    ABSTRACT Schistosomiasis in Indonesia is caused by the trematode worm S. japonicum, with the snail Oncomelania hupensis lindoensis as the intermediate host. To eliminate schistosomiasis by 2020, cross-sectoral schistosomiasis control is carried out, including implementing environmental management based on the results of mapping the focus areas. This study aimed to determine whether there was a decrease in foci and infection rates in snails with comprehensive cross-sectoral schistosomiasis control activities in the pilot village. This study used a cross-sectional design conducted in six schistosomiasis endemic areas. The results showed that snail density, infection rate, and the number of focus areas decreased after the inter-sectoral intervention. The prevalence of schistosomiasis in snails varied; in some focus areas, the prevalence of schistosomiasis in snails decreased after the intervention, but in some focus areas, the prevalence of snails did not decrease. ABSTRAK Schistosomiasis di Indonesia disebabkan oleh cacing trematoda jenis S. japonicum dengan hospes perantara keong Oncomelania hupensis lindoensis. Eliminasi schistosomiasis pada tahun 2020 pengendalian schistosomiasis dilakukan oleh lintas sektor termasuk didalamnya pelaksanaan manajemen lingkungan yang dilakukan berdasarkan hasil pemetaan daerah fokus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada penurunan jumlah fokus dan infection rate pada keong dengan adanya kegiatan pengendalian schistosomiasis secara komprehensif oleh lintas sektor di desa percontohan. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional yang dilakukan di enam daerah endemis schistosomiasis. Hasil menunjukkan kepadatan keong, infection rate, dan jumlah daerah fokus menurun setelah dilakukan intervensi oleh lintas sektor. Prevalensi schistosomiasis pada keong bervariasi, sebagian daerah fokus prevalensi schistosomiasis pada keong berkurang setelah dilakukan intervensi, namun pada beberapa daerah fokus prevalensi pada keong tidak mengalami penurunan

    Front Matter Media Litbangkes Vol 31 No. 3

    No full text

    Analisis Kualitatif Peran Ibu Terhadap Pencegahan COVID-19 Dan Pemberian Gizi Pada Masa Pandemi

    Get PDF
    More than two million children suffer from malnutrition and more than 7 million children under the age of 5 suffer from stunted growth. Nutritional status is important as it is a risk factor for morbidity and mortality. The role of mothers is required to monitor the nutritional status of young children during the COVID-19 pandemic. This study aims to determine the role of mothers in monitoring the nutritional status of young children during the COVID-19 pandemic. In this study, a qualitative approach was used to describe maternal activities in monitoring infant nutritional status during the pandemic. Data collection was carried out through in-depth interviews using a questionnaire as an interview guide. The whistleblower research was conducted in Medan City with up to 4 people as an area with a high COVID-19 prevalence rate and with Sibolga City with up to 6 whistleblowers as a comparison city with a low COVID-19 prevalence in North Sumatra province. This study found that the whistleblowers still had not implemented the COVID-19 prevention protocol, e.g. B. by not cleaning items frequently touched with disinfectants because they did not have disinfectant, did not feel the need to be cleaned regularly and lacked knowledge. Most of the whistleblowers had given their young children balanced diets during the COVID-19 pandemic, but some of the whistleblowers found restrictions on eating vegetables and fruits. Abstrak Lebih dari dua juta anak menderita gizi buruk dan lebih dari 7 juta anak di bawah usia 5 tahun mengalami stunting. Status gizi penting karena merupakan salah satu faktor risiko terjadinya kesakitan dan kematian. Peran ibu dibutuhkan untuk memantau status gizi pada balita selama pandemi COVID-19. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran ibu terhadap pemantauan status gizi balita pada masa pandemi COVID-19. Pendekatan kualitatif digunakan pada penelitian ini untuk mendeskripsikan kegiatan yang dilakukan oleh ibu dalam pemantauan status gizi bayi pada masa pandemi. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam dengan menggunakan kuesioner sebagai panduan wawancara. Informan penelitian dilakukan pada Kota Medan sebanyak 4 orang sebagai daerah dengan tingkat penyebaran COVID-19 yang tinggi dan Kota Sibolga sebanyak 6 informan sebagai kota pembanding dengan penyebaran COVID-19 rendah di Provinsi Sumatera Utara. Penelitian ini menemukan bahwa informan masih belum menerapkan protokol pencegahan COVID-19 seperti tidak membersihkan barang-barang yang sering disentuh dengan disinfektan dikarenakan tidak punya disinfektan, tidak merasa perlu untuk dibersihkan secara berkala, dan kurangnya pengetahuan. Sebagian besar informan sudah memberi balita makanan gizi seimbang di masa pandemi COVID-19 tetapi ditemukan keterbatasan dalam konsumsi sayur dan buah pada beberapa informan

    Pengaruh Variasi Konsentrasi Surfaktan Iselux Ultra Mild pada Formulasi Hydrating Facial Wash Potassium Azeloyl Diglycinate

    Get PDF
    Potassium Azeloyl Diglycinate is an innovative molecule that active as a skin hydrating, brightening agent, and treating skin hyperpigmentation. Facial Wash with foam stabilizing agents called surfactants is a facial cleansing soap that used daily to clean dirt and oil on the face. Iselux ultra mild surfactant as a mild surfactant has a low irritation profile, stable to pH and has a soft and abundant foam. This research is an experimental study. Formulating a good Hydrating Facial Wash Potassium azeloyl diglycinate with the addition of of Iselux ultra mild surfactants in various concentration, according to physical and chemical characteristics as well as a facial wash hydration test. Researchers used various concentration of 28: 30: 32% Iselux Ultra Mild for 3 types of formulas. The test results were analyzed by one way ANOVA. The results of testing the characteristics of physical and chemical properties including organoleptic tests, homogeneity, spreadability, foam height, viscosity, and pH as well as hydration evaluation showed that the facial wash was not change during storage for 12 days using the cycling test method. Formula 3 with the highest surfactant concentration met the best qualification on the parameters compared to Formula 1 and Formula 2. The hydration activity test based on the results of the pre and post test showed that the Facial Wash Potassium azeloyl diglycinate had moisturizing activity on the face

    PENGETAHUAN, SIKAP DAN PRAKTIK MASYARAKAT DALAM PENGGUNAAN JAMU UNTUK MENINGKATKAN DAYA TAHAN TUBUH SELAMA PANDEMI COVID-19 DI INDONESIA

    Get PDF
    Terbatasnya pilihan pengobatan dalam mengatasi Covid-19 mendorong masyarakat mencari alternatif pencegahan secara mandiri. Satu diantaranya dengan menggunakan obat tradisional untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Jamu merupakan obat tradisional Indonesia yang telah digunakan sejak jaman dulu. Studi ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengetahuan, sikap, dan praktik penggunaan jamu oleh masyarakat untuk meningkatkan daya tahan tubuh selama pandemi. Studi ini dilakukan dengan pendekatan cross-sectional. Pengambilan sampel penelitian dilakukan secara consecutive sampling, dengan kriteria inklusi warga negara Indonesia yang berumur lebih dari 18 tahun. Pengumpulan data dilakukan dengan cara survei daring yang melibatkan 1.524 responden. Uji chi square dilakukan untuk melihat hubungan antara pengetahuan, sikap, dan demografi dengan praktik. Regresi logistik dilakukan untuk menguji variabel independen yang memiliki hubungan dengan variabel dependen secara bersamaan. Hasil uji chi square menunjukkan bahwa semua variabel kecuali jenis kelamin dan pengetahuan mempunyai nilai p<0,05 (95% CI). Hal ini menunjukkan bahwa usia (p=0,000), tempat tinggal (p=0,000), pekerjaan (p=0,003), pendidikan (p=0,041) dan sikap (p=0,000) memiliki hubungan yang bermakna dengan praktik penggunaan jamu. Berdasarkan analisis regresi logistik, tempat tinggal (OR:0,58; CI:0,46-0,74), usia (OR:1,68; CI:1,34-2,11) dan sikap (OR=0,30; CI:0,24-0,38) responden berhubungan secara bermakna dengan praktik penggunakan jamu untuk meningkatkan daya tahan tubuh selama pandemi Covid-19.  Sementara itu pekerjaan dan pendidikan tidak menunjukkan hubungan yang bermakna. Secara umum responden telah memiliki pengetahuan, sikap dan praktik penggunaan jamu yang baik. Namun demikian, edukasi dan promosi yang mempertimbangkan karakteristik demografi masih diperlukan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan praktik masyarakat

    Daya Proteksi Serai Wangi (Cymbopogon winterianus Jowitt) sebagai Repelen dari Nyamuk Aedes aegypti

    Get PDF
     ABSTRACT Self-protection against the bite of the Aedes Aegypty mosquito is very necessary today. Especially to avoid the occurrence of vector-borne diseases, one of which is Dengue Hemorrhagic Fever (DHF). Dengue fever is an infectious disease that is a health problem in the world, especially developing countries. For this reason, it is necessary to make efforts to protect oneself from the bite of the Aedes aegypti mosquito vector. One of them is by using a natural repellent, namely citronella (Cymbopogon Winterianus Jowitt). Lemongrass plants can be used to repel mosquitoes because they contain substances such as geraniol, metal heptenon from Cymbopogon winterianus Jowitt   oil so that it can be used as a repellent. This study aims to analyze the protective power of citronella by using citronella extract to protect against the bite of the Aedes aegypti mosquito. This research is experimental with the independent variable concentration of citronella extract (75%, 60%, 45%, 30%, 15%) and the dependent variable is mosquito bite protection. The design of this study was a posttest only control group design which was statistically analyzed using Analysis of Variance (ANOVA). The results showed that the most effective concentration of citronella extract was a concentration of 75%. This can be seen from the number of mosquitoes that landed on the hands that had been smeared with citronella extract (Cymbopogon winterianus Jowitt) at a concentration of 75% with a total of 8 tails at 5 hours with a protective power of 92.26%. The results of the study concluded that the extract of citronella (Cymbopogon winterianus Jowitt) was effective against the protective power of Aedes aegypti mosquito bites. The results of this study are expected to be socialized and developed so that it can be used by the community so that it can reduce the incidence of DHF.  ABSTRAK Perlindungan diri terhadap gigitan nyamuk Aedes aegypti sangat diperlukan dewasa ini. Terutama untuk menghindari terjadinya penyakit bawaan vektor yang salah satunya adalah  Demam Berdarah Dengue (DBD). Penyakit demam berdarah ini merupakan penyakit menular yang menjadi masalah kesehatan di dunia terutama negara berkembang. Untuk itu perlu dilakukan usaha untuk melindungi diri dari gigitan vektor nyamuk  Aedes aegypti. Salah satunya dengan menggunakan repellent berbahan alami yaitu serai wangi (Cymbopogon winterianus Jowitt). Tanaman sereh dapat dimanfaatkan untuk mengusir nyamuk karena mngandung zat-zat seperti geraniol, metal heptenon dari mintak atsiri sereh sehingga bisa digunakan sebagai repellent.  Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa seberapa besar daya proteksi serai wangi dengan menggunakan ekstrak citronelle untuk melindungi dari gigitan nyamuk Aedes aegypti. Penelitian ini bersifat eksperimental dengan variabel independen konsentrasi ekstrak serai wangi (konsentrasi 75%, 60%, 45%, 30%, 15%) dan variabel dependen adalah daya proteksi gigitan nyamuk. Rancangan penelitian ini adalah  posttest only control group design dianalisis secara statistik menggunakan Analisis Varians (ANOVA). Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi ekstrak serai wangi yang paling efektif adalah konsentrasi 75%. Ini dapat dilihat dari jumlah nyamuk yang hinggap ditangan yang telah diolesi ekstrak serai wangi (Cymbopogon winterianus Jowitt) pada konsentrasi 75 % dengan jumlah 8 ekor pada jam ke-5 dengan daya proteksi 92,26%. Hasil Penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak serai wangi (Cymbopogon winterianus Jowitt) efektif terhadap daya proteksi gigitan nyamuk Aedes aegypti. Hasil penelitian ini diharapkan dapat  disosialisasikan dan dikembangkan agar dapat menekan angka kejadian penyakit DBD

    PENGARUH PEMBERIAN EDUKASI MELALUI PERMAINAN VITAMIN CHALLENGING CARD (VCC) TERHADAP PERUBAHAN PENGETAHUAN DAN SIKAP TENTANG VITAMIN PADA REMAJA

    Get PDF
    Latar Belakang. Remaja merupakan masa peralihan dari anak-anak menjadi dewasa dan merupakan saat pertama kali menunjukkan tanda-tanda pubertasnya yang ditandai dengan matangnya organ-organ fisik, mulai terlihat ciri-ciri seks sekunder, terjadinya peningkatan pada tinggi dan berat badan, dan perubahan komposisi tubuh. Pada saat remaja manusia juga sedang mengalami masa growth spurt. Remaja juga mengalami perubahan psikososial dan mengalami masa pubertas yang ditandai dengan matangnya organ-organ fisik, mulai terlihat ciri-ciri seks sekunder. Oleh karena itu, pada masa remaja diperlukan asupan nutrisi yang cukup dan seimbang termasuk vitamin. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh pemberian edukasi melalui media permainan Vitamin Challenging Card (VCC) terhadap perubahan pengetahuan dan sikap tentang pentingnya vitamin (A, D, C, dan B12) pada remaja. Metode. Penelitian ini adalah penelitian quasi eksperimental menggunakan rancangan pretest-posttest control group design. Penelitian dilakukan di SMPN 2 Teluknaga Tangerang. Jumlah responden pada penelitian ini yaitu 64 responden. Kelompok perlakuan diintervensi menggunakan media VCC dan kelompok kontrol diberi informasi melalui ceramah dengan media PowerPoint. Analisis data menggunakan dependent t-test dan independent t-test. Hasil. Nilai rata-rata pengetahuan pada kelompok perlakuan dengan intervensi menggunakan media permainan VCC pada saat pre-test dan post-test adalah 31,92 dan 61,21, sedangkan pada kelompok kontrol adalah 32,26 dan 48,59. Kemudian nilai rata-rata sikap pada kelompok perlakuan pada saat pre-test dan post-test adalah 50,30 dan 74,54, sementara pada kelompok kontrol adalah 55,48 dan 65,58. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh pemberian edukasi menggunakan media permainan VCC terhadap peningkatan pengetahuan (p=0,001) dan sikap (p=0,036) tentang pentingnya vitamin (A, D, C, dan B12). Kesimpulan. Media permainan VCC dapat menjadi media alternatif dalam pemberian edukasi gizi pada remaja karena dapat meningkatkan pengetahuan dan sikap tentang pentingnya vitamin (A, D, C, dan B12)

    1,563

    full texts

    2,187

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Journals of Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇