Jurnal STT Tawangmangu (Sekolah Tinggi Teologi)
Not a member yet
150 research outputs found
Sort by
Membingkai Kemajemukan Melalui Pendidikan Agama Kristen di Indonesia
Kemajemukan masyarakat Indonesia yang hidup di berbagai kepulauan memiliki sumber kekayaan alam dan kekayaan budaya yang besar. Namun disisi lain, pluralitas kultural ini memiliki potensi terjadinya disintegrasi atau perpecahan bangsa karena perbedaan pendapat dan pandangan hidup yang dianut. Hal ini membuktikan bahwa masyarakat Indonesia belum berhasil mengembangkan pendidikan yang menumbuhkan perilaku memberi apresiasi pada perbedaan-perbedaan budaya, agama maupun kebiasaan masyarakat suku. Fakta ini mendorong pendidikan Agama Kristen untuk segera melaksanakan peranannya dalam mempersatukan kemajemukan yang ada. Artikel ini bertujuan untuk membahas tentang pendekatan Pendidikan Agama Kristen dalam kehidupan masyarakat majemuk di Indonesia. Prosedur penelitian dari tulisan ini menggunakan metode kualitatif dan kajian kepustakaan khususnya mengenai pendekatan dan pengaturan pendidikan agama Kristen dalam kehidupan masyarakat majemuk. Hasil penelitian menyatakan bahwa guru Pendidikan Agama Kristen dan pengajar di gereja memasukkan pembahasan masyarakat majemuk dalam kurikulum atau ajaran dasar gereja yang selanjutnya dikembangkan dimensi pengetahuan, sosial, spiritual, dan komunal dari peserta didik dan jemaat
Strategi PAIKEM Terpadu pada Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen di era Pandemi Covid-19
Menerapkan strategi pembelajaran merupakan peran penting dalam mewujudkan tujuan Pendidikan Agama Kristen di masa pandemi Covid-19. Tujuannya ialah meningkatkan perserta didik untuk melakukan kegiatan pembelajaran yang beragam secara kreatif, efektif dan efesien. Maka strategi yang cocok digunakan selama pandemi Covid-19 adalah strategi PAIKEM terpadu. Penulis akan melakukan analisis dan mendefinisikan strategi PAIKEM terpadu yang dilakukan oleh guru-guru pendidikan agama Kristen di masa pandemi Covid-19. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui strategi PAIKEM terpadu bagi guru kepada siswa pendidikan agama Kristen di era pandemi Covid-19. Metode yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi PAIKEM efektif digunakan dalam PTK agar seluruh siswa lulus Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dengan tiga siklus. Karena itu, dalam tataran kebijakan, strategi PAIKEM Terpadu dapat menjadi model pembelajaran wajib dalam meningkatkan ketercapaian KKM siswa
Israel dan Konflik Sosial: Kajian Sosio-Historis Terhadap 1 Raja-Raja 12:1-19
Konflik sosial merupakan hal yang wajar dalam suatu proses sosial. Konflik sosial merupakan ciri khas yang menunjukan bahwa suatu masyarakat sedang mengalami proses perubahan secara dinamis. Konflik sosial yang ditata secara baik akan menghasilkan dampak yang baik, sebaliknya jika tidak maka konflik akan berakhir dengan kekerasan dan perpecahan. Hal inilah yang ditunjukan dalam kisah konflik yang tercatat dalam 1 Raja-raja 12:1-19. Kisah tersebut merupakan gambaran utuh dari peristiwa konflik yang tidak tertata dengan baik. Akibatnya, terjadilah kekerasan dan revolusi sosial yang berdampak luas bagi seluruh masyarakat Israel. Berdasarkan konsep dasar tersebut, maka tulisan ini bertujuan untuk memberikan penjelasan yang komprehensif tentang sebab, bentuk dan akibat dari peristiwa konflik dalam kisah 1 Raja-raja 12:1-19. Tulisan ini juga bertujuan untuk menjelasan tentang relevansi kekinian yang dapat dipelajari dari kisah konflik sosial dalam 1 Raja-raja 12: 1-19. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan sosio-historis melalui studi kepustakaan untuk menghasilkan suatu kesimpulan penelitian terhadap kisah 1 Raja-raja 12:1-19. Hasil penelitian terhadap topik “Israel dan konflik sosial” menunjukan bahwa tindakan penindasan, ekploitasi dan diskriminasi diduga telah menjadi faktor utama penyebab terjadinya konflik sosial dan perpecahan masyarakat Israel
Sikap Gereja Menghadapi Kekerasan Terhadap Perempuan Upaya Mereduksi Pelanggaran HAM
Kekerasan terhadap perempuan telah menjadi bagian dari sejarah manusia. Akibatnya terjadi tindakan diskriminatif terhadap perempuan dan hal ini menempatkan perempuan dalam posisi subordinasi jika diperhadapkan dengan kedudukan seorang laki-laki dalam struktur kemasyarakatan. Menghadapi situasi seperti ini, acap kali gereja tidak mengungkapkan suara keadilan untuk menyejajarkan posisi perempuan dengan laki-laki. Jika diskursus ini dilihat dalam kerangka hak azasi manusia, maka hal ini dapat dipandang sebagai bentuk pelanggaran hak azasi manusia karena kedudukan perempuan telah didegradasi dari hakikatnya yang sejajar dengan laki-laki. Artikel ini hendak menyoroti tentang kekerasan yang dialami oleh perempuan sebagai bentuk pelanggaran hak azasi manusia. Dengan menggunakan metode fenomenologi yang dilengkapi dengan analisis dan interpretasi tekstual terhadap beberapa bagian Alkitab, dihasilkan sebuah rekomendasi bagi gereja untuk bertindak dalam menyuarakan keadilan bagi perempuan. Gereja harus menjadi pendamping dan sekaligus menjadi agen perubahan terhadap tindakan kekerasan bagi perempuan, yang merupakan bagian langsung dari pelanggaran hak azasi manusia
Alkitab Sebagai Buku Pegangan Orang Kristen (Ketidakbersalahan Alkitab)
Ada orang Kristen yang mempercayai Alkitab sebagai pegangan hidup yang tidak memiliki kesalahan, namun sebagian orang Kristen memiliki keraguan akan hal tersebut. Perdebatan ini muncul setelah adanya kelompok-kelompok yang memberikan kritik kepada Alkitab, yang kemudian disebut sebagai kelompok Kritik Tinggi (Higher Criticism) dan Kritik Rendah (Lower Criticism). Dari kritik-kritik yang ditujukan kepada Alkitab ini, maka munculah keraguan dan sikap terhadap Alkitab, bahwa Alkitab memiliki kesalahan. Pada makalah ini penulis hendak memberikan paparan tentang ketidakbersalahan Alkitab atau dalam ilmu teologi lebih dikenal dengan istilah Ineransi Alkitab agar orang Kristen memiliki keyakinan yang teguh terhadap buku pengangan yang harus dipercayai yaitu Alkitab. Dalam makalah ini penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan studi pustaka. Penulis berusaha memaparkan bahwa Alkitab yang dipercayai sebagai buku pegangan orang Kristen adalah kebenaran Allah yang harus dipercayai dan diterima dengan iman
Strategi Pelaksanaan Amanat Agung Era New Normal Terhadap Kelompok Terdampak Ekonomi
Pandemi Covid-19 memberikan persoalan baru bagi gereja dalam melaksanakan misinya, khususnya terhadap kelompok terdampak ekonomi. Artikel ini bertujuan mengusulkan strategi misi sesuai Amanat Agung, di era pascapandemi atau “the new normal”. Studi menggunakan metode kualitatif deskriptif dan pengumpulan data dilakukan dengan kajian literatur. Dengan pemahaman dan persiapapan untuk pelaksanaan misi sesuai Amanat Agung secara holistik, pemanfaatan teknologi serta sumber daya manusia militan yang berkomitmen, gereja dapat melakukan panggilan misinya dengan efektif, khususnya kepada kelompok yang terdampak pandemi Covid-19 secara ekonomi, baik pekerja maupun pengusaha. Pandemi Covid-19 memunculkan tantangan sekaligus peluang bagi gereja menjalankan panggilan misinya dan menghasilkan buah bagi Tuhan
Kontekstualisasi Roma 12:2 dalam Keniscayaan Dunia Digital
Dunia berkembang sangat cepat. Berbagai media sosial hadir dan bersaing untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia, yaitu cinta dan harga diri (Abraham Maslow). Penelitian ini menggunakan studi kepustakaan dengan mengadakan survei terhadap data yang sudah ada dan menggali teori-teori yang telah berkembang sehubungan dengan kebutuhan dasar manusia dan media sosial, serta analisis teks terhadap Roma 12:2. Tujuan penelitian ini sebagai kontekstualisasi Roma 12:2 dalam memberikan rambu-rambu bagi orang Kristen yang mengaktualisasikan diri di media sosial. Dari hasil pembahasan ditarik kesimpulan bahwa kontekstualisasi Roma 12:2 dalam dunia digital: Pertama, menjadi pertimbangan moral dalam bermedia sosial yaitu tidak serupa dengan dunia. Kedua, sebagai pertimbangan mental. Orang Kristen memercayai dicipta segambar dan serupa dengan Allah. Sebagai orang yang telah mengalami pembaruan budi tidak perlu mencitrakan diri dengan cara salah dalam memenuhkan kebutuhan aktualisasi diri. Ketiga, mendorong perubahan motivasi dalam bermedia sosial. Orang percaya menjadikan apa yang baik, berkenan dan sempurna sebagai motivasi dalam bermedia sosial. Keempat, menjadi pertimbangan etika dalam mengaktualisasikan diri di dunia digital. Dalam konteks saat ini, dunia digital dan media sosial adalah suatu keharusan. Roma 12:2 memberikan teguran keras: "Jangan menjadi seperti dunia." Orang Kristen memang hidup di dunia, tetapi perilaku dunia tidak boleh memasuki kehidupannya. Orang Kristen yang matang tahu memilih dan berbuat baik, yang menyenangkan Allah dan sempurna
Kemuliaan Jabatan Seorang Imam Menurut John Chrysostom
Di abad ke-21 yang serba cepat, Gereja umumnya dilihat dari perspektif perusahaan. Model bisnis dengan fungsi sebagai manajer tampaknya lebih unggul daripada model alkitabiah dengan fungsi sakramental. Banyak gereja yang pindah jauh dari terminologi keimamatan, dan telah mengusulkan prinsip-prinsip lain yang tidak alkitabiah dalam menyeleksi calon imam. Gereja dalam merekrut calon imam harus mengutamakan fungsi sakramental yang juga diimbangi dengan fungsi manajemen. Penulis mensintesa ide dari buku Six Books on the Priesthood sebagai buku yang menjadi landasan teori dalam membahas kemuliaan jabatan seorang imam dalam menjalankan pelayanan pastoral bagi kaum awam. Tujuannya adalah memberikan alternatif kepada Gereja dalam merekrut calon iman. Hasilnya adalah Chrysostom menekankan kemuliaan jabatan keimamatan dan membutuhkan kualifikasi khusus, penumpangan tangan dan nafas suci, yang tidak diberikan oleh semua orang. Pertama, seorang imam memengang fungsi sakramental. Kedua, seorang imam adalah pelayanan seperti malaikat. Ketiga, seorang imam harus berkarakter seperti Kristus. Keempat, seorang imam atau gembala adalah pelayanan yang sangat sulit. Jabatan seorang imam adalah mulia sebab berhubungan dengan altar, tempat suci pengorbanan dan wewenang untuk mengikat dan melepaskan seperti teladan dari Sang Gembala Agung Yesus Kristus
Keterlibatan Jemaat dalam Disiplin Gereja Berdasarkan Matius 18:15-20
Salah satu penyebab tidak terlaksananya disiplin gereja adalah ketidaktahuan jemaat terhadap keterlibatannya dalam memulihkan sesamanya yang jatuh dalam dosa. Disiplin juga dianggap tidak menggambarkan kasih Allah dan hanya tugas dari seorang pemimpin jemaat. Hal ini berujung pada pembiaran sesama yang berdosa tanpa tindakan menegur sebagai upaya untuk pemulihan. Dalam kasus lain, disiplin ditegakkan tanpa dasar kasih, banyak gereja yang kelihatannya malah menjadi tempat praktek menghakimi. Menegur saudara seiman yang jatuh dalam dosa merupakan perintah langsung dari Tuhan Yesus. Ketika jemaat ambil bagian menerapkan disiplin gereja dengan prosedur yang Alkitabiah, jemaat sedang mengejawantahkan kasih Allah yang bertujuan untuk memulihkan. Artikel ini akan menjelaskan peran atau keterlibatan jemaat dalam disiplin gereja berdasarkan Injil Matius 18:15-20, dengan menggunakan metode studi pustaka yang akan meneliti sumber-sumber dari perpustakaan maupun artikel, penelitian terdahulu dan akan dilakukan kajian teologis berkaitan dengan Matius 18:15-20 sebagai landasan Alkitab dalam penelitian ini. Hasil penelitian akan mengemukakan bahwa jemaat memiliki keterlibatan khusus dalam terlaksananya disiplin gereja
Penciptaan dalam Sastra Hikmat Perjanjian Lama serta Implikasinya bagi Pemeliharaan Alam
Artikel ini adalah suatu upaya mencari makna ekoteologis dari teks penciptaan yang ada dalam Sastra Hikmat Perjanjian Lama. Subordinasi tema penciptaan dengan tema teologi lain dalam Perjanjian Lama membuatnya tidak dapat berbicara secara utuh. Demikian pula upaya yang dilakukan dalam menggali tema penciptaan biasanya hanya seputar teks dalam kitab Kejadian, hal tersebut menafikan bahwa ada bagian lain dalam Perjanjian Lama yang berbicara lantang tentang tema penciptaan ini. Oleh karena itu tulisan ini mencoba mengeksplorasi tema penciptaan dari bagian Sastra Hikmat Perjanjian Lama dengan menggunakan metode studi pustaka, meneliti sumber-sumber referensi dari penelitian yang berkaitan dengan teks terpilih dan mengimplementasikannya bagi tanggung jawab umat terhadap pemeliharaan alam. Hasil penelitian mengemukakan bahwa manusia adalah ciptaan yang bertanggung jawab menjamin keteraturan alam, hikmat Tuhan memampukan manusia untuk menjadi sahabat alam