Jurnal STT Tawangmangu (Sekolah Tinggi Teologi)
Not a member yet
150 research outputs found
Sort by
Mennonite Indonesia: Tantangan Bernegara dan Berbudaya Bagi Gereja Injili di Tanah Jawa
Sejak awal pembentukannya, warga Gereja Injili di Tanah Jawa bergumul untuk merespons tantangan bernegara dan berbudaya Jawa. Di satu pihak ada kelompok warga yang ingin menjaga kemurnian iman Mennonite dengan menekankan pemisahan antara urusan gereja dan negara, serta menjauhkan diri dari pengaruh budaya; di pihak lain ada kelompok warga yang ingin memberi ruang yang besar bagi keterlibatan bernegara dan berbudaya. Dengan demikian, terjadi kebingungan dalam menyikapi hubungan antara gereja dan negara serta budaya. Tulisan ini bermaksud mengangkat persoalan tentang upaya warga Gereja Injili di Tanah Jawa untuk dapat memberi ruang keterlibatan bernegara dan berbudaya, sambil tetap memelihara identitas iman Mennonite yang diwarisinya. Metode yang digunakan dalam rangka menjawab permasalahan tersebut adalah metode analisis-deskriptif. Analisis dilakukan terhadap materi historis yang merepresentasikan pergulatan sosial-budaya yang dialami oleh warga Gereja Injili di Tanah Jawa
Aplikasi Konsep Ajaran Sehat Menurut2 Timotius 1:13 Oleh Guru Agama Kristen
Peran guru Agama Kristen adalah mengajarkan ajaran sehat. Baik dalam pengajaran, pembimbingan dan proses pembelajaran lainnya yang berkaitan dengan doktrin kekristenan (2 Timotius 1:13) ini berhubungan erat dengan kondisi yang dialami oleh banyak sekolah Kristen dan gereja Tuhan. Metode yang digunakan penulis adalah metode penelitian kualitatif, yakni yang berkaitan dengan analisis teks Alkitab yang berusaha menggali makna yang sesungguhnya sesuai dengan tujuan penulis kitab. Agar kita dapat mengetahui makna dan konsep ajaran sehat sesuai dengan apa yang dikehendaki Tuhan, maka penulis menganalisis teks sebagai acuan untuk menjelaskan konsep ajaran sehat tersebut yang dapat diaplikasikan oleh guru agama Kristen di sekolah, keluarga maupun gereja. Seorang Guru PAK mutlak berpegang teguh pada Firman Tuhan sebagai dasar hidu, melakukan Firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari, hidup penuh kasih, dan hidup dalam iman kepada Tuhan Yesus
Tugas Manusia dalam Dunia Milik Tuhan
Bertolak dari pergumulan yang seolah tarik menarik bagi diri Gereja, oleh karena ia sadari bahwa di satu sisi bangsa ini diperhadapkan pada pergumulan yang masih belum terselesaikan, sebagaimana cita-cita para founding fathers yang tertuang dalam Mukadimah UUD 1945, yakni mewujudkan rakyat yang cerdas, sejahtera, bangsa yang berdaulat sehingga berperan dalam mewujudkan perdamaian dunia. Cita-cita tersebut menjadi konteks nasional, yakni masalah besar bangsa ini, yang sekaligus menjadi medan kehadiran Gereja. Di pihak lain, Gereja bergumul dan merasa dirinya terpisah dari bangsa ini, merasa bukan bagian dari dunia ini. Barangkali pikiran ini muncul karena merasa banyak penolakan terhadap dirinya, sehingga enggan, atau paling tidak membatasi dirinya bergaul dengan masyarakat. Tentunya bisa juga dimaklumi, penolakan terhadap kekristenan tak lepas dari sejarah. Tetapi kira-kira bisa jadi penolakan ini hanya di sebagian dari luasnya bentangan wilayah negara kesatuan Republik Indonesia, dan bisa jadi juga merupakan prasangka. Rasa tarik-menarik tadi adalah kesadaran akan lingkungan atau medan sekitar Gereja yang perlu mendapat perhatian dari karya Gereja. Gereja memang dipandang liyan (asing), bukan dari dunia, tetapi ia menjadi warga dunia itu. Gereja sadari bahwa ia harus hadir bagi dunia, meski di lain pihak condong lebih memerhatikan pergumulan dirinya. Teks Yeremia 29:7, menjadi acuan teologis untuk membangun dan menggugah spiritualitas Gereja menjadi karya iman yang konkrit bagi lingkungannya. Karya iman Gereja bagi lingkungan sesungguhnya turut mengatasi pergumulan bangsa, yang tak terpungkiri dengan sendirinya memberi dampak bagi kelangsungan kehadiran Gereja
Karya Kristus Sebagai Dasar Penginjilan di Dunia Non-Kristen
Tulisan ini hendak menjelaskan mengenai konsep penginjilan, yang terdiri dari enam pokok bahasan, yaitu: landasan teologis penginjilan, pengertian penginjilan, hakikat penginjilan, motivasi penginjilan, pentingnya penginjilan dan terakhir tujuan penginjilan. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi literatur dengan penyajian deskriptif. Penginjilan adalah memberitakan tentang karya Kristus yang sudah mati karena dosa-dosa manusia, dikuburkan dan dibangkitkan pada hari yang ketiga (1 Korintus 15:3-4). Yesus Kristus adalah satu-satunya jalan keselamatan bagi umat manusia. Dengan demikian, disimpulkan bahwa penginjilan tetap relevan dan mutlak dilakukan dengan bijak serta tulus oleh setiap pengikut Kristus dengan tujuan supaya setiap orang dapat menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, dan beroleh keselamatan. Keselamatan harus diterima secara pribadi, artinya respon yang diberikan bersifat pribadi terhadap berita Injil
Implikasi Praktis Konsep Anugerah Bagi Orang Percaya Berdasarkan Surat Roma 3:23-24
Konsep pemikiran dan cara pandang sebagai orang percaya harus berfokus pada anugerah/kasih karunia Allah yang diberikan secara cuma-cuma. Keselamatan orang percaya atas karya Tuhan Yesus diatas kayu salib. Anugerah memunyai konsep dasar demikian: “yang memberi tidak berkewajiban, yang menerima tidak mempunyai hakâ€. Sedangkan konsep “perbuatan baik†adalah “manusia mendapatkan sesuatu karena melakukan sesuatu†seperti layaknya seorang pegawai yang diupah bulanan karena melakukan pekerjaannya selama satu bulan. Kalau seseorang mentaati aturan Alkitab, kalau melakukan amal-ibadah maka orang tersebut akan mendapat pahala, itu adalah konsep “perbuatan baikâ€. Dimana hal tersebut menunjukkan seseorang belum sadar akan arti penebusan itu. Allah yang penuh kasih sayang terhadap manusia. Dia ingin manusia mengasihi Dia, percaya kepada Dia bagaikan seorang Bapa, mengharapkan seluruh keselamatan dan kebahagiaan hanya dari Dia. Kalau Allah mengampuni manusia yang berdosa, menganugerahkan kepada hidup, bahkan hidup kekal, tujuanNya tidak lain ialah supaya dengan penuh kasih dan percaya kembali kepadaNya
Peranan Hari Sabat Bagi Kehidupan Orang Percaya Masa Kini
Dalam perjalanan umat Kristen dari abad ke abad tema hari sabat menjadi kontroversial yakni muncul beragam pandangan bahkan cenderung saling bertolak belakang. Sebagian terdapat kelompok orang Kristen memiliki sikap mengabaikan hukum hari Sabat karena menganggap sama sekali tidak memiliki peranan penting bagi kehidupan orang percaya masa kini. Penelitian ini menggunakan metode induktif dan kajian kepustakaan. Alasan teologis menjalankan hari Sabat dan peranannya bagi kehidupan orang percaya. Pertama, berbicara dimensi vertikal agar umat Israel mengenang Allah untuk mengadakan persekutuan yang penuh sukacita dengan-Nya dan mengakui Allah sebagai Pencipta yang mengatur, memelihara, dan memiliki segala sesuatu, termasuk umat Israel. Selain itu, berhubungan dengan dimensi horisontal yang mengingatkan bangsa Israel bagaimana Allah telah melepaskan mereka dari penderitaan sebagai budak di masa lampau, sehingga mereka juga memberikan perhentian kepada seisi keluarganya. Kedua, sebagai hari Sabat perhentian yang diberikan-Nya adalah perhentian sebagai hasil dari kelepasan dari beban dosa dan perhentian eskatologis yang akan diterima semua orang percaya dalam dunia kekal di sorga. Ketiga, sebagai kesempatan untuk beribadah, melayani Allah dan sesama, serta bersekutu dengan sesama. Peranan hari Sabat bagi kehidupan orang percaya mencakup secara keseluruhan yakni secara rohani dan jasmani.Â
Konsep Eduecologi dalam Pendidikan Agama Kristen Konteks Sekolah
Dalam tulisan ini, penulis akan mengkaji dan mendeskripsikan tentang konsep eduecologi dalam PAK konteks sekolah. Metode penelitian pada penulisan artikel ini adalah menggunakan metode kajian kualitatif-deskriptif dengan pendekatan library research, membaca dan membandingkan sejumlah referensi yang berhubungan dengan kajian. Pencegahan perusakan lingkungan hidup sejak dini sangatlah penting. Dalam hal ini PAK berwawasan lingkungan hidup merupakan wahana pembelajaran yang memfasilitasi peserta didik untuk mengenal Allah melalui karya ciptaanNya serta mewujudkan kedamaian di bumi melalui sikap hidup yang mengacu pada nilai-nilai eko-teosentris. Konsep eduecologi dalam PAK konteks sekolah dapat dilakukan melalui pengajaran pendidikan PAK dan fasilitas yang bias dimanfaatkan yaitu, melalui kegiatan belajar-mengajar PAK, lewat budaya sekolah, melalui kegiatan rutin di sekolah, keteladanan guru PAK, kegiatan spontan, pengkondisian lingkungan, lewat peran serta orang tua dari siswa dan peran serta gereja. Melalui PAK berwawasan lingkungan hidup, peserta didik diharapkan akan mengalami perjumpaan yang baik dan benar dengan Allah yang dikenal sebagai pencipta langit dan bumi, dipercaya dan diimaninya, serta dapat memaknai lingkungan hidup sebagai karya ciptaan Allah yang harus dikelola, dirawat dan dilestarikan
Perempuan dan Peribadatan Menurut 1 Timotius 2:9-15
Kesetaraan Gender antara pria dan wanita adalah masalah yang masih sering diperdebatkan hingga saat ini. Keterlibatan perempuan dalam pelayanan juga masih menuai pro dan kontra di kalangan gereja. Beberapa gereja ada yang menyetujui keterlibatan perempuan dalam peribadatan, namun sebagian gereja masih merasa keberatan akan hal itu. Melihat akan hal ini penulis melalukan penelitian ini dengan menelaah teks 1 Timotius 2:9-15. Metodologi yang penulis gunakan dalam menelaah teks tersebut eksegesis tekstual dengan memerhatikan latar belakang surat, gramatikal dan konteks. Metode ini sangat baik digunakan untuk menguraikan teks tersebut. Dengan menggunakan metode ini diharapkan, pembaca dapat memahami apa yang dimaksudkan Paulus dalam teks1 Timotius 2:9-15 berkaitan dengan Perempuan dan Peribadatan. Pada dasarnya Paulus menulis surat bukan ditujukan untuk memisahkan derajat status sosial antara laki-laki dan perempuan, melainkan justru Paulus sangat menghargai harkat dan martabat perempuan
Budaya Kekerasan dalam Media Elektronik Ditinjau dari Sudut Pandang Etika Kristen
Kekerasan telah menjadi sebuah tindakan yang lumrah dan biasa terjadi dalam kehidupan manusia. Kekerasan disebabkan oleh banyak faktor, namun penulis menyoroti bahwa media elektronik yang menyuguhkan film, game, dan musik yang mengandung unsur kekerasan telah memberikan kontribusi besar untuk menjadi salah satu penyebab terjadinya kekerasan dalam kehidupan manusia. Artikel ini merupakan sebuah studi untuk membangun pedoman etis sebagai pegangan hidup setiap orang Kristen. Pedoman etis ini merupakan sebuah solusi untuk menjawab permasalahan mengenai budaya kekerasan dalam media elektronik yang terjadi dalam kehidupan manusia di era globalisasi dewasa ini. Artikel ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka. Adapun hasil dari penelitian ini adalah budaya kekerasan dapat diatasi dengan menerapkan prinsip kasih sebagai nilai tertinggi di dalam kehidupan seseorang. Selain itu, setiap orang perlu mengembangkan sikap moral dalam kehidupannya seperti menghargai manusia sebagai ciptaan Allah yang serupa dan segambar dengan Allah, memiliki kasih terhadap sesama, dan memiliki pengendalian diri dalam segala hal
Menjembatani Injil dan Budaya dalam Misi Melalui Metode Kontektualisasi
Perjumpaan injil dan budaya dalam misi ada kalanya menimbulkan ketegangan. Bahkan tidak sedikit muncul penolakan akibat kurang pekanya sang pewarta injil terhadap budaya dari masyarakat tertentu. Kepekaan tersebut perlu dibangun agar injil dapat dikomunikasi kepada mereka sesuai konteks budayanya masing-masing. Tujuannya adalah untuk mengurangi kesalahpahaman disampaikan.  Melalui metode kontekstualisasi, diharapkan ketegangan dapat teratasi serta akan terbangun jembatan yang dapat menghubungkan injil dan budaya.Rumusan masalah di dalam penelitian ini adalah bagaimanakah metode kontekstualisasi dapat menjembatani injil dan budaya dalam misi? Adapun Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan bagaimana metode kontektualisasi dapat menjembatani injil dan budaya dalam misi. Sedangkan metode yang dipakai oleh penulis adalah menggunakan literature reasech. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa metode kontekstualisasi dapat digunakan dalam menjembatani injil dan budaya  dalam misi bahkan juga dapat mengurangi ketegangan antara injil dan budaya