Jurnal STT Tawangmangu (Sekolah Tinggi Teologi)
Not a member yet
150 research outputs found
Sort by
Spiritualitas Kenosis: Tantangan dan Tuntutan untuk Mewujudkan Gereja Kaum Miskin Di Tengah Budaya Jawa
Fenomena kemiskinan menjadi masalah yang tidak dapat dihindari oleh gereja, dan gereja pun tidak dapat mengabaikan fenomena ini. Gereja harus merengkuh kemiskinan sehingga menjadi bagian dari kehidupan gereja secara utuh. Hambatan utama perengkuhan gereja terhadap kemiskinan adalah strata sosial masyarakat, khususnya masyarakat Jawa, yang bersifat hierarki. Pembagian kelompok dalam hierarki masyarakat, seringkali memupus habis empati terhadap kemiskinan. Berdasarkan hal ini, tujuan dari penelitian ini adalah membangun sebuah upaya agar gereja dapat merengkuh kemiskinan yang diwujudkan dalam bentuk gereja kaum miskin. Sarana utama dalam merengkuh kemiskinan adalah spiritualitas kenosis (pengosongan diri), yang dihasilkan dari sinergi antara kenosis Yesus Kristus, dalam Injil, dengan kenosis Semar dan Togog, dalam pemahaman budaya Jawa. Dengan menggunakan metode kualitatif, khususnya dengan pendekatan kepustakaan, penelitian ini menghasilkan bahwa gereja kaum miskin dapat dibangun bila gereja memiliki spiritualitas kenosis. Dengan spiritualitas kenosis, gereja bukan hanya merengkuh kemiskinan melainkan juga masuk, melibatkan diri, dan menjadi bagian langsung dari kemiskinan itu, sehingga setiap anggota jemaat yang ada di dalam gereja, meskipun mereka berasal dari latar belakang sosial yang berbeda, hidup dalam pola kesejajaran yang bersifat egaliter
Pemulihan Transformatif atas Trauma “Sejarah Pembungkaman” bagi Masyarakat NTT dalam Paradigma Teologi Pembebasan
Kemiskinan merupakan masalah utama bagi konteks Nusa Tenggara Timur (NTT), dan masyarakat belum secara lantang menyuarakan hak-hak mereka di ruang publik. Suara-suara kritis dari penelitian-penelitian akademis belum secara signifikan membentuk daya kritis masyarakat untuk melawan ketidakadilan. Artikel ini memberi fokus dan mengkaji tentang sejarah dan solusi dari masalah kebungkaman masyarakat NTT. Artikel ini memakai lensa trauma untuk mendeteksi kebungkaman dari sejarah kekerasan massal tahun 1965. Sejarah tersebut dipahami sebagai akar trauma politik lintas generasi, yang membatasi suara di ruang publik. Setelah memahami sejarah trauma politik, artikel ini memakai analisis struktural teologi pembebasan. Penelitian ini memakai pendekatan kualitatif dengan mengelola kajian literatur dan menyajikan secara teroretis. Penelitian ini berupaya mengelaborasi sisi pragmatis dari teologi trauma dan teologi pembebasan untuk memahami masalah kebungkaman secara lebih komprehensif. Penelitian ini berkesimpulan bahwa masalah kebungkaman mengakar pada unsur traumatis dan solusinya mesti bersifat menggugat tatanan sosial-politik. Hal ini karena pengabaian kebijakan politik terhadap pembangunan manusialah yang mengakibatkan masyarakat semakin dibungkam. Dengan demikian, artikel ini menawarkan solidaritas dan pendidikan kritis dari teologi pembebasan untuk melawan kebungkaman. Tawaran tersebut dijalankan dalam konsep dialog kritis sebagai solusi pemulihan transformatif untuk menghentikan kebungkaman. Dalam hal ini, dialog kritis menjadi bagian dari tahapan adaptasi transformatif masyarakat yang trauma dan miskin
Resensi Buku: Model-Model Teologi Kontekstual
Buku Model-model Teologi Kontekstual karya Stephen B. Bevans menawarkan kajian mendalam tentang enam model teologi dalam berbagai konteks budaya: Model Terjemahan, Antropologis, Praksis, Sintesis, Transendental, dan Budaya Tandingan. Bevans memaparkan model-model ini sebagai kerangka untuk menghubungkan Injil dengan realitas budaya yang berbeda, dengan argumen bahwa teologi pada dasarnya bersifat kontekstual dan dinamis. Setiap model memiliki kekuatan dan kelemahannya sendiri, tergantung pada konteks dan tujuan teologis yang ingin dicapai. Bevans mengajak pembaca untuk menyadari bahwa tidak ada satu model yang berlaku universal, melainkan masing-masing model menawarkan wawasan yang berharga untuk situasi yang berbeda. Karyanya menjadi apresiasi terhadap keberagaman pemikiran teologis serta seruan untuk keterlibatan yang lebih mendalam dengan budaya dalam refleksi teologis. Buku ini menyediakan beragam pendekatan yang penting bagi para praktisi dan akademisi teologi kontekstual yang ingin memahami dan menerapkan teologi kontekstual di dunia yang pluralistik dan terus berubah
Kajian Etis Deontologis Berdasarkan Falsafah Habonaron Do Bona dalam Penanganan Korupsi
Korupsi menjadi sebuah permasalahan yang belum terselesaikan dan masih terus terjadi di Indonesia. Tindakan korupsi menjadi sebuah permasalahan moral yang dilakukan oleh pelakunya yang berdampak buruk bagi kehidupan sebuah bangsa atau masyarakat. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode penelitian kualitatif dengan melakukan kajian etis deontologis dan konsep Habonaron do bona sebagai upaya melakukan penanganan isu korupsi di kabupaten Simalungun. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa tindakan korupsi dianggap tidak etis karena melanggar prinsip moral dan norma-norma yang mengikat. Kajian etis deontologis dan falsafah habonaron do bona dapat memberikan landasan moral yang kuat bagi individu dan masyarakat Simalungun untuk menolak dan melawan korupsi, sebab orang Simalungun akan didorong untuk terus hidup dengan berlandaskan kepada kebenaran
Penerapan Trinitas Sebagai Persekutuan Perspektif Leonardo Boff Bagi Komunitas Basis Gerejawi
Trinitas merupakan sentrum dari teologi kristiani, dan juga pusat hidup beriman Gereja. Sebagai pusat hidup Gereja, iman kepada Allah yang Trinitas bukan sekadar doktrin yang wajib diterima, melainkan perlu penerapan konkret dalam hidup Gereja. Leonardo Boff melihat Allah Trinitas sebagai satu persekutuan kasih dari pribadi-pribadi Ilahi (Bapa–Putera–Roh Kudus). Persekutuan Trinitas tersebut, menurut Boff, adalah model ideal dari persekutuan umat manusia. Penelitian ini bertujuan untuk membahas relevansi dari konsep Allah Trinitas menurut Boff bagi Komunitas Basis Gerejawi (KBG). Metode yang digunakan adalah kajian literatur dengan menerapkan analisis isi. Hasil dari penelitian ini adalah sebuah pemahaman atas KBG sebagai ranah perwujudan konkret dari persekutuan Trinitas. Karena itu, sebagai komunitas basis, semua anggota mengimitasi hubungan kasih Trinitas sehingga memiliki kesederajatan dan persekutuan kasih di dalam komunitas tersebut
Hambatan Pemberitaan Injil di Tatar Pasundan: Suatu Auto Kritik
Kekristenan hadir di tatar pasundan bersamaan dengan hadirnya Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) di Batavia pada tahun 1619. Sungguhpun demikian, dibandingkan dengan daerah-daerah lainnya, pemberitaan Injil di Pasundan memperoleh hasil yang sangat sedikit. Kondisi ini mengundang pertanyaan, apa yang menjadi hambatan pemberitaan Injil di Pasundan begitu tidak berhasil khususnya dari sisi kekristenan? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah, yaitu sebuah penelitian yang melakukan penyelidikan kritis terhadap keadaan, perkembangan, serta pengalaman di masa lampau serta menginterpretasi dari sumber-sumber yang ada untuk menarik sebuah pelajaran. Melalui penelitian ini, ditemukan bahwa setidaknya ada delapan hambatan signifikan yang secara kritis menghambat penerimaan Injil dan menyebabkan orang Kristen Sunda menjadi orang asing di antara komunitas mereka sendiri. Penelitian ini dimaksudkan sebagai auto kritik bagi upaya pemberitaan Injil di Pasundan di masa kini dan yang akan datang, agar tidak mengulangi kesalahan yang sama sebagaimana yang terjadi pada abad ke 19. Dengan demikian, orang Sunda menjadi semakin terbuka terhadap berita Injil
Penanganan Depresi melalui Dimensi Rohani di Kota Bandung
Depresi adalah permasalahan global yang semakin mencemaskan, terutama dengan meningkatnya kasus gangguan mental di Indonesia. Umat Kristen tidak luput dari dampaknya, dengan berbagai faktor seperti masalah akademik, kondisi ekonomi keluarga, dinamika hubungan dalam keluarga, masalah asmara, atau peristiwa traumatis menjadi pemicu depresi. Penanganan yang tepat dan cermat sangat penting untuk mencegah dampak yang lebih serius. Salah satu aspek yang mungkin dapat membantu adalah dimensi spiritual. Untuk mengeksplorasi peran dimensi spiritual dalam penanganan depresi di kalangan umat Kristen, sebuah penelitian kualitatif dilakukan di Bandung. Melibatkan lima partisipan dari berbagai gereja Kristen, penelitian ini menggunakan wawancara mendalam dan observasi untuk memahami pengalaman mereka dalam mengatasi depresi dan bagaimana dimensi spiritual memengaruhi proses tersebut. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan panduan berharga bagi praktisi kesehatan mental dan gereja dalam penanganan depresi. Dengan memahami pengaruh dimensi spiritual dalam mengatasi depresi, diharapkan dapat dikembangkan pendekatan yang lebih holistik dan efektif dalam membantu individu mengatasi gejala depresi dan membangun kembali kesejahteraan psikologis mereka. Penelitian ini juga diharapkan akan meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya umat Kristen, tentang pentingnya mendekati depresi dengan cara yang inklusif dan komprehensif. Dengan demikian, upaya-upaya lebih lanjut dapat diarahkan untuk meningkatkan akses terhadap layanan kesehatan mental dan dukungan yang sesuai bagi individu yang mengalami depresi
Penggembalaan Spiral: Memaknai Perjumpaan Yesus dengan Perempuan Samaria (Yoh. 4:1-42) di Era Postmodern
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pendekatan Yesus dalam berinteraksi dengan perempuan Samaria (Yoh. 4:1-42) dan mengidentifikasi prinsip-prinsip penggembalaan yang dapat dipelajari dari interaksi tersebut, serta mengeksplorasi penerapannya dalam penggembalaan di era postmodern. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur dan analisis deskriptif. Analisis deskriptif digunakan untuk memahami interaksi Yesus dengan perempuan Samaria dalam Yohanes 4:1-42. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan Yesus dalam berinteraksi dengan perempuan Samaria, adalah melintasi batas-batas sosial dan budaya, membangun persahabatan, pendekatan personal melalui dialog, memulihkan cara hidup yang salah, menawarkan prinsip-prinsip penting untuk penggembalaan spiral di era postmodern. Prinsip-prinsip tersebut meliputi penghargaan terhadap keberagaman, komunikasi kebenaran secara kontekstual, membangun hubungan autentik, mendengarkan dengan empati, serta mengakui kebenaran dalam tradisi lain sambil menegaskan keunikan Injil. Penggembalaan spiral merupakan model penggembalaan yang dinamis, kontekstual, dan berpusat pada dialog, yang melampaui sekat-sekat tradisional untuk menjangkau dan merangkul keragaman masyarakat postmodern
Dengarlah, maka Kamu akan Hidup! (Aktualisasi Shema Yisrael dalam Hidup Remaja Kristen di Indonesia)
Saat ini, kita sering mendengar atau membaca berita mengenai tindak kriminal yang dilakukan kaum remaja. Perbuatan melanggar hukum sesungguhnya mengindikasikan dekadensi moral yang dipengaruhi banyak faktor: dampak negatif teknologi, pengaruh lingkungan sekitar, dsb. Berkenaan dengan ragam faktor tersebut, penulis berfokus pada peran penting orang tua yang idealnya diharapkan hadir selaku pihak yang mengayomi sekaligus mengerti karakteristik remaja. Orang tua dan keluarga perlu membangun koneksi yang baik dengan remaja seraya menunjukkan keteladanan, kasih, dukungan serta bimbingan dalam rumah tangga. Terkait kasus darurat moral pada kaum muda di Indonesia, penulis akan menyelidiki tradisi bangsa Israel dalam mendidik iman anak. Pendidikan tersebut ditanamkan konsisten dan diberikan sedini mungkin kepada anak (berimplikasi pada terkontrolnya perilaku moral dan spiritual). Bagian terpenting yang memuat dasar pendidikan iman anak dapat disimak dalam Ulangan 6:4-9 (shema Yisrael). Lewat penelitian kualitatif yang diikuti studi kepustakaan, tulisan ini menemukan bahwa kombinasi pendidikan iman lewat pendengaran yang diikuti tindakan mengingat (memorisasi) serta kesediaan melakukan firman pada akhirnya menolong remaja Kristen membentengi diri dari ragam tindak penyimpangan yang merugikan. Lewat hidup iman, moral, dan spiritual yang terus dipupuk dan ditumbuhkan, dekadensi moral remaja dicegah terjadi.Â
Membangun Relasi dalam Pendidikan Kristiani Intergenerasi
Selama ini, gereja-gereja di Indonesia masih banyak yang mengenal pendidikan kristiani yang dibagi dalam kategorial usia. Seringkali pendidikan Kristiani kategorial usia ini menyebabkan terjadi pengkotak-kotakan di dalam gereja. Saat ini, gereja di Indonesia sudah mulai mengembangkan Pendidikan Kristiani Intergenerasi, bukan untuk menghilangkan pendidikan kristiani kategorial usia melainkan untuk melengkapinya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini berupa kualitatif dengan pendekatan studi pustaka. Penelitian ini menemukan bahwa dengan pendidikan kristiani intergenerasional setiap orang dari usia, generasi dan jenis kelamin berkumpul untuk belajar bersama, dan diperlukan pula relasi antar setiap individu dari kelompok usia dan generasi yang berbeda di dalam pendidikan kristiani intergenerasional. Untuk itu, gereja perlu melakukan kegiatan situasional yang mengumpulkan setiap anggota jemaat dari generasi-generasi yang ada untuk membangun relasi tersebut. Membangun relasi ini tidak mudah tetapi gereja perlu untuk mencobanya sehingga iman kepada Yesus Kristus dapat bertumbuh bersama dalam komunitas gereja