Jurnal STT Tawangmangu (Sekolah Tinggi Teologi)
Not a member yet
150 research outputs found
Sort by
Menghentikan Pernikahan Dini melalui Diakonia Transformatif: Upaya Gereja dalam Pemberdayaan Perempuan
Pernikahan dini merupakan fenomena sosial yang masih cukup marak terjadi di Indonesia. Fenomena ini menjadi masalah sosial karena memiliki dampak negatif yang signifikan terhadap kesehatan fisik, mental, dan sosial anak-anak perempuan. Metode penelitian yang digunakan dengan metode kualitatif-deskriptif yang diikuti dengan studi kepustakaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mendorong terjadinya pernikahan dini dan memberikan sumbangsih pemikiran dalam mengupayakan pencegahan melalui pendekatan diakonia transformatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor ekonomi, sosial dan budaya, serta pendidikan menjadi pendorong utama pernikahan dini. Melalui diakonia transformatif, maka ditemukan tiga aspek penting yang dapat ditelaah untuk menjawab tentang masalah pernikahan dengan menjadikan gereja sebagai agen perubahan yang signifikan. Pertama, melalui diakonia transformatif dapat mewujudkan kesetaraan gender dan keadilan sosial bagi perempuan. Kedua, peran pemimpin gereja yang diharapkan lebih proaktif mengkampanyekan larangan pernikahan dini serta mendukung pemberdayaan perempuan. Ketiga, gereja dapat berkontribusi dalam transformasi sosial yang berpusat pada perempuan melalui diakonia transformatif
Transformasi Musa: Dari Penolakan Menuju Penerimaan Panggilan Pelayanan Tuhan Refleksi Keluaran 4:1-17
Narasi pengutusan Musa menjadi paradigma penting dalam konteks pemanggilan seseorang untuk mengemban tugas sebagai pendeta. Dalam proses pengutusannya, Musa beberapa kali menyatakan keengganannya terhadap panggilan TUHAN dengan mengemukakan berbagai keterbatasan yang ada dalam dirinya. Namun, keterbatasan tersebut tidak menjadi penghalang bagi TUHAN untuk tetap mengutus Musa. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi berbagai alasan penolakan Musa terhadap pengutusan TUHAN serta menganalisis implikasinya terhadap pemanggilan dan pengutusan pendeta pada masa kini. Ruang lingkup penelitian ini berfokus pada kisah pengutusan Musa sebagai model teologis yang menunjukkan bahwa TUHAN senantiasa memampukan setiap orang yang dipanggil-Nya untuk menjadi pelayan-Nya di masa kini. Secara khusus, penelitian ini menegaskan bahwa TUHAN, melalui kasih dan penyertaan-Nya, akan memampukan para pendeta khususnya dalam konteks HKBP dalam melaksanakan tugas pelayanan mereka di lingkungan HKBP
Cyberspace: Peluang dan Tantangan Teknologi 4.0 serta implementasinya bagi perkembangan Gereja
Dunia cyber menjadi tempat yang membuat masyarakat nyaman, dimana dunia cyber ini hampir tidak bisa dibedakan dengan dunia nyata. Kemajuan teknologi tidak hanya berbicara mengenai alat-alat elektronik yang canggih tetapi juga berbicara mengenai ruang komunikasi yang dijangkau disetiap tempat. Pertumbuhan gereja perlu di lihat dari tiga aspek yaitu, pertumbuhan secara kualitatif, kuantitatif dan organik. Dunia cyber kini masuk di dalam gereja, mengikuti perkembangan zaman. Tujuan dari penelitian ini adalah bagaimana cyberspace menjadi sebuah tantangan dan peluang bagi pertumbuhan gereja masa kini. Berdasarkan kajian dengan menggunakan metode kualitatif, penulis berkesimpulan bahwa gereja di tengah cyberspace bisa menjadi tantangan dan peluang untuk menjangkau setiap umat Allah sebagai sarana penginjilan, serta membantu gereja dalam mengembangkan pelayanan untuk pertumbuhan gereja masa kini
Dari Fondasi ke Transformasi: Analisis Sosio-Historis terhadap perkembangan HKBP Pematangsiantar pada tahun 1928-1934
Perkembangan gereja merupakan proses berkelanjutan yang harus di upayakan, baik secara internal maupun eksternal. Esensi perkembangan ini bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan lebih utama pada pertumbuhan spiritual dan organisasional dari dalam gereja itu sendiri. Artikel ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan analisis sosio-historis. Adapun tujuan dari artikel ini untuk mengidentifikasi faktor utama yang mempengaruhi perkembangan gereja HKBP Pematangsiantar. Dalam penelitian ini, penulis akan membatasi ruang lingkup penelitian, yaitu dinamika pendorong dan penghambat perkembangan gereja HKBP Pematangsiantar untuk menemukan implikasi perkembangan tersebut pada masa sekarang. Melalui penelitian ini, dapat diidentifikasi bahwa ada beberapa faktor yang berperan dalam perkembangan gereja HKBP Pematangsiantar adalah faktor sosiologis, spiritual, dan pendidikan. Secara sosiologis, semangat kemerdekaan "zelfstandigheid" dari zending kolonial Belanda mendorong kemandirian gereja untuk keluar dari zending kolonial Belanda. Hal ini juga mendorong perkembangan spiritual, dengan adanya persentase peningkatan jumlah pemeluk Kristen. Senada dengan hal tersebut faktor pendidikan berperan penting melalui program-program edukasi yang memperkuat pemahaman doktrinal dan pengembangan SDM
Intervensi Krisis Sebagai Upaya Pastoral untuk Mitigasi Perilaku Bunuh Diri Usia Remaja
Artikel ini dilatarbelakangi oleh fenomena bunuh diri di kalangan remaja yang sedang marak dan menjadi bahan perbincangan di tengah-tengah masyarakat. Fenomena bunuh diri ini menjadi tanggung jawab bersama termasuk menjadi bagian tanggung jawab gereja dalam melihat faktor-faktor penyebab bunuh diri dan cara menanggulanginya dengan melakukan pendekatan intervensi krisis yang merupakan bagian dari konseling krisis. Metode dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka atau library research yaitu dengan mengkaji data-data dari literatur-literatur yang berkaitan dengan pokok yang dibahas termasuk data-data penelitian yang sudah ada sebelum penelitian ini. Teori intervensi krisis yang digunakan adalah teori intervensi krisis yang dikembangkan oleh H. Norman Wright. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana intervensi krisis dapat menolong konseli lepas dari krisis yang dialaminya. Kesimpulan penelitian ini adalah dengan menerapkan delapan langkah intervensi krisis maka konseli dapat menerima kehidupannya dan menumbuhkan kembali kepercayaan dirinya serta memampukan pertumbuhan rohani memenuhi kepenuhan arti perhatian utama dari kehidupan yang dijalankan dalam hubungan dengan Allah, bahwa Allah selalu menjanjikan kasih setia-Nya ketika mengalami tragedi
Kasih dan Pengampunan Seorang Ayah: Refleksi dari Perumpamaan Anak yang Hilang dalam Lukas 15: 11-32
Kasih dan pengampunan seorang ayah dalam perumpamaan anak yang hilang menunjukkan sikap ayah yang penuh kasih dan tanggung jawab terhadap anaknya. Melalui perumpamaan ini tercermin kasih sayang seorang ayah yang tidak hanya terbatas pada kata-kata, tetapi juga tercermin dalam tindakan nyata ketika ia berlari menyambut kembali anak bungsunya yang telah menghabiskan warisan dan hidup dalam kebinasaan. Metode penelitian kualitatif akan mengupas bagaimana karakter seorang ayah yang bertanggung jawab dan penuh kasih terhadap anaknya sebagaimana tertulis dalam Lukas 15:11-32. Dengan demikian, tujuan dari penelitian kiranya menjadi acuan atau role model dari seorang ayah untuk mengasihi anaknya dengan penuh tanggung jawab. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan oleh penulis, maka bukan hanya anak bungsu yang hilang, tetapi juga anak sulung, karena ia tidak merasakan kedekatan emosional dengan ayahnya
Makna Teologis Tabernakel Berbentuk Alang di Toraja dari Perspektif Prinsip Dwilogi Mangunwijaya
Inkulturasi gereja sebagai rumah ibadat di Indonesia pada umumnya dilakukan dengan menghadirkan unsur-unsur budaya lokal ke dalam arsitektur bangunan. Upaya ini sering memunculkan pertanyaan, apakah unsur-unsur budaya lokal yang dipakai sejalan dengan makna teologis dari bagian-bagian ruang liturgi. Tabernakel berbentuk lumbung padi pada Gereja Katolik St. Theresia, Rantepao di Toraja, merupakan salah satu contoh upaya inkulturasi dalam hal arsitektur bangunan gereja. Sejauh mana tabernakel berbentuk lumbung ini dapat mengungkapkan makna teologis tabernakel yang berakar pada tradisi liturgis-biblis? Pertanyaan ini akan dijawab dalam tulisan ini dengan menganalisis tabernakel berbentuk lumbung menggunakan prinsip dwilogi Y. B. Mangunwijaya. Metode yang digunakan ialah metode kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa walaupun bentuk alang untuk tabernakel dapat dipertanggungjawabkan dari perspektif dwilogi dan teologi liturgi, namun bentuk alang yang tidak utuh menyimpan resiko hilangnya pemaknaan yang utuh atas alang itu sendiri. Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai literasi bagi para pemerhati arsitektur dan interior gereja Katolik untuk kepentingan keberlanjutan kehidupan manusia, alam, dan budaya
Memahami Bullying Anak Indigo: Tri Perspektif Mistis, Medis dan Teologis
Anak Indigo dalam rentang lima tahun terakhir menjadi perbincangan hangat, di mana mereka seringkali menjadi target perundungan karena dianggap berbeda dari pada anak-anak yang lain. Anak Indigo dijauhi sebagaimana mereka dianggap aneh. Metode digunakan dalam studi ini adalah kualitatif deskriptif dengan kajian Pustaka. Hasil memperlihatkan bahwa anak Indigo sebenarnya mengalami kelainan Attention Deficit-Hyperactivity Disorder (ADHD) dalam perspektif medis, meskipun dalam pandangan mistis mereka dianggap memiliki kemampuan meta-rasional (diatas anak), namun secara teologis mereka adalah anak-anak yang memiliki kemampuan yang harus dikembangkan tidak harus dijauhi. Orang tua dan gereja memiliki peran penting dalam pembentukan karakter mereka, sebab perundungan akan membuat mereka seterusnya anti sosial. Sebagaimana Alkitab mencatat bahwa anak-anak harus dididik dan dikembangkan, tidak boleh dijauhi, namun menolak juga bahwa mereka adalah utusan layaknya “Yesus.
Kekudusan dalam Alkitab dan Nilai Praksisnya Bagi Orang Percaya Pada Masa Postmodern
Latar belakang artikel ini adalah kekudusan menjadi istilah yang dianggap absurd pada jaman postmodern karena sekularisasi di dunia membuat orang tidak lagi mementingkan kekudusan sebagai hal utama. Kekudusan mengalami degradasi makna yang pada mulanya sesuatu yang agung dan mulia dari Allah, berubah menjadi standar etika atau moralitas saja. Hal krusial di dalam penulisan artikel ini adalah apakah kekudusan manusia itu benar-benar tidak dapat dicapai? Apakah kekudusan itu hanya merupakan sebuah konsep ideal saja? Tujuannya adalah bagaimana orang percaya masa kini dapat menerapkan kekudusan itu dalam kehidupannya sehari-hari. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur dengan pendekatan etimologis dan eksposisi Alkitab terkait dengan kekudusan. Batasan pembahasannya adalah makna kekudusan di dalam Alkitab dan implikasinya bagi orang percaya pada masa postmodern saat ini. Hasil akhirnya ditemukan bahwa kunci kekudusan itu terwujud dalam keseimbangan relasi antara Tuhan dan sesama, menyadari bahwa kekudusan itu adalah anugerah, dan menjadikannya radar tentang hidup benar di hadapan Allah
Kelompok Konseling Kedukaan Berbasis Terapi ACT Bagi Kaum Janda Pasca Kematian Suami
Kedukaan kaum janda pasca kematian suami yang menimbulkan ragam perubahan dan tantangan hidup dapat dihadapi dengan penuh makna dalam pelayanan gereja yang berperan menjadi saksi kedukaan. Memusatkan tanggung jawab pelayanan pastoral kedukaan janda kepada para pelayan gereja menjadi kurang efektif, seperti kebergantungan pada rohaniawan gereja (pendeta/penatua/diaken), keterbatasan jangka waktu perkunjungan yang berpotensi meninggalkan kaum janda sendirian, dan timbulnya peluang kurangnya pemahaman pelayan terhadap penderitaan janda. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka guna mendalami bentuk pelayanan pastoral kedukaan gereja yang dapat berperan menjadi saksi dukacita dan sistem pendukung bagi kaum janda pasca kematian suami. Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana gereja dapat mendampingi kedukaan janda secara utuh dan penuh melalui konsep program pelayanan pastoral kedukaan kelompok konseling berbasis terapi Acceptance and Commitment Therapy (ACT). Penawaran kelompok konseling kedukaan berbasis terapi ACT bagi kaum janda di tengah kehidupan gereja menawarkan konsep pelayanan pastoral Kristen yang berpusat pada kekuatan relasi dalam saling mendukung dan memberdayakan