Jurnal STT Tawangmangu (Sekolah Tinggi Teologi)
Not a member yet
    150 research outputs found

    Implementasi Nilai Moderasi Beragama melalui Pendidikan Kristen di Indonesia: Analisis atas Empat Pilar Moderasi Beragama

    Full text link
    Religious moderation is a crucial issue in the context of Indonesia’s multireligious society, particularly in addressing the challenges of intolerance, violence, and social disintegration. This study aims to analyze the implementation of religious moderation values through Christian education, focusing on four fundamental pillars: national commitment, tolerance, non-violence, and acceptance of tradition. Employing a qualitative method with a literature study approach, this research examines both the theoretical and practical correlations between the principles of Christian education and the pillars of religious moderation. The findings reveal that Christian education, grounded in love, compassion, and service, provides a constructive framework for fostering mutual respect, strengthening interfaith dialogue, and cultivating collective responsibility within a pluralistic society. The integration of religious moderation values into Christian educational curricula and practices empowers individuals to act as agents of peace, justice, and social cohesion. This study concludes that Christian education plays a significant role in reinforcing religious moderation in Indonesia, while also emphasizing the importance of interfaith perspectives and cultural sensitivity in addressing the challenges of pluralism. AbstrakModerasi beragama merupakan isu krusial dalam konteks masyarakat multireligius di Indonesia, khususnya dalam menghadapi potensi intoleransi, kekerasan, dan disintegrasi sosial. Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi nilai moderasi beragama melalui pendidikan Kristen dengan fokus pada empat pilar utama, yaitu komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, dan penerimaan terhadap tradisi. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi literatur, yang menelaah keterkaitan teoretis maupun praktis antara prinsip-prinsip pendidikan Kristen dan pilar-pilar moderasi beragama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan Kristen, berlandaskan kasih, belas kasih, dan pelayanan, mampu menyediakan kerangka kerja untuk menumbuhkan sikap saling menghormati, memperkuat dialog lintas iman, serta membangun tanggung jawab kolektif dalam masyarakat majemuk. Integrasi nilai moderasi beragama dalam kurikulum dan praksis pendidikan Kristen memberdayakan individu untuk menjadi agen perdamaian, keadilan, dan kohesi sosial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendidikan Kristen memiliki kontribusi signifikan dalam memperkuat moderasi beragama di Indonesia, sekaligus menegaskan pentingnya perspektif lintas agama dan kepekaan budaya dalam menghadapi tantangan pluralisme.Penelitian ini mengeksplorasi peran pendidikan Kristen dalam memperkuat dan mengimplementasikan empat pilar moderasi beragama dalam masyarakat multireligius. Empat pilar moderasi beragama—komitmen terhadap nasionalisme, toleransi, antikekerasan, dan penerimaan terhadap tradisi—menjadi panduan penting dalam membangun suasana hidup berdampingan secara damai di antara komunitas agama yang beragam. Pendidikan Kristen, yang berlandaskan pada prinsip kasih, belas kasih, dan pelayanan, memberikan kontribusi signifikan dalam mempromosikan nilai-nilai tersebut. Menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi literatur, penelitian ini mengkaji keterkaitan teoretis dan praktis antara prinsip-prinsip pendidikan Kristen dan pilar-pilar moderasi beragama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan Kristen menyediakan kerangka kerja untuk menumbuhkan rasa hormat terhadap keberagaman agama, membangun dialog, dan mendorong rasa tanggung jawab bersama dalam masyarakat. Melalui integrasi moderasi beragama dalam kurikulumnya, pendidikan Kristen memberdayakan individu untuk menjadi agen perdamaian dan keadilan. Selain itu, penelitian ini menekankan pentingnya memasukkan perspektif lintas agama dan kepekaan budaya dalam program pendidikan Kristen untuk menghadapi tantangan pluralisme. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendidikan Kristen memainkan peran penting dalam membangun hubungan harmonis dalam konteks multireligius serta menawarkan jalan menuju kohesi sosial dan sikap saling menghormati

    Gambaran Religiusitas Mahasiswa Kristen Protestan di Universitas Kristen X

    Full text link
    This study aims to describe the religiosity of Protestant Christian students at Christian University X with a descriptive quantitative approach, using the Duke University Religion Index (DUREL) scale. Participants were 339 students with an age range of 18-25 years. The results of the study indicate that the majority of students have a high level of religiosity. A total of 80.8% of students are active in religious activities in groups/organizations (Organizational Religious Activity), as many as 58.4% of students are active in personal religious activities (Non-Organizational Religious Activity). And as many as 85% of students have high intrinsic motivation (Intrinsic Religiosity). Based on these findings, it shows that students are not only involved in religious activities in organizations or personally, but also have strong religious motivation and commitment that comes from within themselves. This study has implications for the development of literature on the religiosity of Protestant Christian students using the DUREL scale in Indonesia. In addition, the results of the study can be used as input for universities and spiritual institutions to strengthen faith development programs, not only emphasizing group activities but also personal and deepening internal motivation in religion. AbstrakPenelitian ini bertujuan menggambarkan religiusitas mahasiswa Kristen Protestan di Universitas Kristen X dengan pendekatan kuantitatif deskriptif, menggunakan skala Duke University Religion Index (DUREL). Partisipan berjumlah 339 mahasiswa dengan rentang usia 18-25 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa memiliki tingkat religiusitas yang tinggi. Sebanyak 80,8% mahasiswa aktif dalam aktivitas keagamaan secara berkelompok/organisasi (Organizational Religious Activity), sebanyak 58,4% mahasiswa aktif dalam aktivitas keagamaan pribadi (Non-Organizational Religious Activity). Dan sebanyak 85% mahasiswa memiliki motivasi intrinsik yang tinggi (Intrinsic Religiosity). Berdasarkan temuan ini, menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya terlibat dalam kegiatan keagamaan secara organisasi maupun secara personal, tetapi juga memiliki motivasi dan komitmen beragama yang kuat yang berasal dari dalam dirinya sendiri. Penelitian ini berimplikasi pada pengembangan literatur mengenai religiusitas mahasiswa Kristen Protestan dengan menggunakan skala DUREL di Indonesia. Selain itu juga, hasil penelitian dapat digunakan sebagai masukan bagi Universitas dan lembaga kerohanian untuk memperkuat program pembinaan iman, bukan hanya menekankan pada kegiatan secara berkelompok tetapi juga secara personal dan pendalaman motivasi internal dalam beragama.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran religiusitas mahasiswa Kristen Prostestan di Universitas Kristen X. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif deskriptif, dengan menggunakan skala DUREL (Duke University Religon Index). Partisipan berjumlah 339 mahasiswa dengan rentang usia 18-25 tahun. Berdasarkan temuan penelitian ini, dapat diketahui bahwa mahasiswa yang beragama Kristen Protestan di Universitas Kristen X, memiliki religiusitas yang tinggi. Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa 80,8% memiliki aktivitas keagamaan secara berkelompok/organisasi yang tinggi (Organizational Religious Activity), 58,4% tinggi dalam aktivitas keagamaan pribadi (Non-Organizational Religious Activity). Dan 85% memiliki motivasi instrinsik yang tinggi (Intrinsic Religiosity). Hal tersebut bisa di lihat bahwa skor rata-rata untuk dimensi Organizational Religious Activity (ORA) yang tergolong tinggi yang artinya, mereka dapat dikatakan aktif dalam melakukan aktivitas religius secara organisasi ataupun secara berkelompok. Kemudian untuk dimensi Non-Organizational Religious Activity (NORA), berdasarkan skor rata-rata yang dimiliki oleh para partisipan mereka tergolong ke dalam kategori tinggi yang berarti mereka aktif dalam menjalankan aktivitas keagamaan secara personal. Selanjutnya dalam dimensi Intrinsic Religiosity (IR), nilai rata-rata yang diperoleh mereka termasuk ke dalam kategori tinggi, yang artinya mereka sudah menemukan alasan utama tujuan mereka dalam beragama, dan juga memiliki motivasi serta komitmen beragama yang berasal dari dalam dirinya sendir

    Misi sebagai Rencana Allah: Kesatuan Injil Matius dan Kisah Para Rasul dalam Sejarah Keselamatan

    No full text
    This study aims to demonstrate the theological unity between the evangelistic mission referred to as the Great Commission in Matthew 28:18–20 and the practice of evangelism in the book of Acts as an integral part of the realization of God's mission of salvation. The Great Commission is not a human initiative, but a divine command originating from the authority of Christ and carried out under the guidance of the Holy Spirit. The methods used are narrative-theological and literature study. The results of the study are to show the integral continuity of the narrative of Matthew 28:18–20 serves as the theological foundation of the church's mission, while the Acts of the Apostles shows the concrete realization of the mandate in evangelistic actions. Thus, the two texts demonstrate the unity of the narrative of Matthew and the Acts of the Apostles so that the church today has a complete theological basis in carrying out its mission and the Holy Spirit as its main agent or as a link between the Christological proclamation (Matthew) and the ecclesiological realization (Acts of the Apostles) which confirms the mission as an integral part of the work of the Trinity. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menunjukkan kesatuan teologis antara misi penginjilan yang disebut Amanat Agung dalam Matius 28:18–20 dan praktik penginjilan dalam kitab Kisah Para Rasul sebagai bagian integral dari realisasi misi keselamatan Allah. Amanat Agung bukanlah inisiatif manusia, melainkan perintah ilahi yang bersumber dari otoritas Kristus dan dilaksanakan di bawah tuntunan Roh Kudus. Metode yang digunakan adalah naratif-teologis dan studi kepustakaan. Hasil penelitian adalah menunjukkan kesinambungan integral narasi Matius 28:18–20 berfungsi sebagai landasan teologis misi gereja, sedangkan Kisah Para Rasul memperlihatkan realisasi konkret mandat tersebut dalam tindakan penginjilan. Dengan demikian, kedua teks tersebut memerlihatkan kesatuan narasi Matius dan Kisah Para Rasul agar gereja masa kini memiliki dasar teologis yang utuh dalam melaksanakan misi dan Roh Kudus sebagai agen utamanya atau sebagai penghubung antara proklamasi Kristologis (Matius) dan realisasi ekklesiologis (Kisah Para Rasul) yang menegaskan misi sebagai bagian integral dari karya Trinitas.Penelitian ini bertujuan untuk menunjukkan kesatuan teologis antara misi penginjilan yang disebut Amanat Agung dalam Matius 28:18–20 dan praktik penginjilan dalam kitab Kisah Para Rasul sebagai bagian integral dari realisasi misi keselamatan Allah. Amanat Agung bukanlah inisiatif manusia, melainkan perintah ilahi yang bersumber dari otoritas Kristus dan dilaksanakan di bawah tuntunan Roh Kudus. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kepustakaan, yakni melalui analisis teks Alkitab serta literatur teologi misi yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rencana keselamatan Allah senantiasa terlaksana meskipun dihadapkan pada berbagai tantangan historis, sosial, maupun kultural. Matius 28:18–20 berfungsi sebagai landasan teologis yang memberikan mandat universal kepada murid-murid Kristus untuk menjadikan segala bangsa murid-Nya, sedangkan Kisah Para Rasul memperlihatkan realisasi konkret mandat tersebut dalam tindakan penginjilan, pengajaran, pembaptisan, serta pembentukan jemaat. Penelitian ini menegaskan kesinambungan antara perintah Yesus dan pelaksanaannya dalam sejarah gereja mula-mula, sekaligus meneguhkan bahwa misi penginjilan tetap relevan dan mendesak bagi gereja sepanjang zaman

    Tradisi Hopong Ngae: Solidaritas Sosial dan Implikasi Teologi Kontekstual di Jemaat GMIT Sonaf Neka-Huilelot

    No full text
    The Hopong Ngae tradition in the GMIT Sonaf Neka-Huilelot congregation on Semau Island plays a crucial role in strengthening the congregation's social and spiritual solidarity. This study examines the meaning of solidarity, the continuity of tradition amidst modernization, and its relationship to the actualization of Christian faith in local culture. The method used is a descriptive qualitative approach with in-depth interviews and congregation surveys, combined with simple quantitative analysis. The results show that Hopong Ngae strengthens relationships among congregation members, serves as an expression of gratitude for God's blessings before the harvest, and is also a means of cultural preservation. From Durkheim's perspective, this tradition represents mechanical solidarity that binds congregation members through shared values and goals. Theological reflection confirms that Hopong Ngae can be a medium for contextualizing Christian faith in the congregation's agrarian life. However, challenges arise from the lack of involvement of the younger generation and the influence of globalization. One solution is to empower youth through the use of digital technology to produce creative content on social media. This effort is expected to encourage the participation of the younger generation in maintaining the sustainability of the tradition in the future.AbstrakTradisi Hopong Ngae di Jemaat GMIT Sonaf Neka-Huilelot, Pulau Semau, berperan penting dalam memperkuat solidaritas sosial dan spiritual jemaat. Penelitian ini menelaah makna solidaritas, keberlangsungan tradisi di tengah modernisasi, serta kaitannya dengan aktualisasi iman Kristen dalam budaya lokal. Metode yang digunakan ialah pendekatan kualitatif deskriptif dengan wawancara mendalam dan survei jemaat, dipadukan dengan analisis kuantitatif sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Hopong Ngae mempererat relasi warga jemaat, menjadi ungkapan syukur atas berkat Tuhan menjelang panen, sekaligus sarana pelestarian budaya. Dalam perspektif Durkheim, tradisi ini merepresentasikan solidaritas mekanik yang mengikat anggota jemaat melalui nilai dan tujuan bersama. Refleksi teologis menegaskan bahwa Hopong Ngae dapat menjadi medium kontekstualisasi iman Kristen dalam kehidupan agraris jemaat. Namun, tantangan muncul berupa minimnya keterlibatan generasi muda dan pengaruh globalisasi. Salah satu solusi ialah memberdayakan kaum muda melalui pemanfaatan teknologi digital untuk menghasilkan konten kreatif di media sosial. Upaya ini diharapkan mendorong partisipasi generasi muda dalam menjaga keberlanjutan tradisi di masa depan.Tradisi Hopong Ngae di Jemaat GMIT Sonaf Neka-Huilelot, Pulau Semau, berperan penting dalam memperkuat solidaritas sosial dan spiritual jemaat. Penelitian ini menelaah makna solidaritas, keberlangsungan tradisi di tengah modernisasi, serta kaitannya dengan aktualisasi iman Kristen dalam budaya lokal. Metode yang digunakan ialah pendekatan kualitatif deskriptif dengan wawancara mendalam dan survei jemaat, dipadukan dengan analisis kuantitatif sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Hopong Ngae mempererat relasi warga jemaat, menjadi ungkapan syukur atas berkat Tuhan menjelang panen, sekaligus sarana pelestarian budaya. Dalam perspektif Durkheim, tradisi ini merepresentasikan solidaritas mekanik yang mengikat anggota jemaat melalui nilai dan tujuan bersama. Refleksi teologis menegaskan bahwa Hopong Ngae dapat menjadi medium kontekstualisasi iman Kristen dalam kehidupan agraris jemaat. Namun, tantangan muncul berupa minimnya keterlibatan generasi muda dan pengaruh globalisasi. Salah satu solusi ialah memberdayakan kaum muda melalui pemanfaatan teknologi digital untuk menghasilkan konten kreatif di media sosial. Upaya ini diharapkan mendorong partisipasi generasi muda dalam menjaga keberlanjutan tradisi di masa depan

    Rekonstruksi Partisipasi Anggota Gereja Dalam Perencanaan Pelayanan di Gereja Dengan Sistem Presbiterial-Sinodal

    Full text link
    Church members are the largest component of the church's ministry and should be involved in ministry. In most churches with a presbyterial-synodal system, their involvement in the ministry planning process is very limited. The presence of presbyters as representatives of church members has an impact on the involvement of church members in the ministry planning process, which in turn impacts church member participation in ministry planning. This article uses a qualitative method in the form of content analysis of several theologians such as Neil Cole, Keith Elford, and Moltmann who discuss church member participation. This research aims to help churches see the urgency of the role of church members in ministry planning and how churches should involve church members in the process. Churches are expected to expand the participatory space for church members in the ministry planning process. The results of this study indicate that participatory ministry planning in churches with a presbyterial-synodal system can be reconstructed through the formation of small groups, the use of digital technology, and the optimization of planning teams. The conclusion at the end of this article demonstrates the importance of providing participatory space for church members to be involved in ministry planning by utilizing technological facilities, empowering small and large groups, and increasing the capacity of planning teams within the church. AbstrakAnggota gereja merupakan komponen pelayanan terbesar dalam gereja yang patut dilibatkan dalam pelayanan. Pada sebagian besar gereja dengan sistem presbiterial-sinodal terlihat bahwa keterlibatan mereka dalam proses perencanaan pelayanan sangat terbatas. Kehadiran para presbiter sebagai perwakilan anggota gereja ternyata berimbas pada keterlibatan anggota gereja dalam proses perencanaan pelayanan yang berdampak pada partisipasi anggota gereja dalam perencanaan pelayanan. Artikel ini menggunakan metode kualitatif berupa analisis konten terhadap beberapa teolog seperti Neil Cole, Keith Elford dan Moltmann yang membahas tentang partisipasi anggota gereja. Penelitian ini bertujuan untuk menolong gereja untuk melihat urgensi peran anggota gereja dalam perencanaan pelayanan dan bagaimana seharusnya gereja melibatkan anggota gereja dalam proses tersebut. Gereja diharapkan dapat meluaskan ruang partisipatif anggota gereja dalam proses perencanaan pelayanan. Hasil kajian itu menunjukkan bahwa perencanaan pelayanan secara partisipatif pada gereja dengan sistem presbiterial-sinodal dapat direkonstruksi melalui pembentukan kelompok kecil, penggunaan teknologi digital dan optimalisasi tim perencanaan. Kesimpulan pada bagian akhir artikel ini menunjukkan pentingnya memberi ruang partisipasi bangi anggota gereja untuk terlibat dalam perencanaan pelayanan dengan menggunakan fasilitas teknologi, memberdayakan kelompok kecil dan besar dan meningkatkan kapasitas dari tim perencanaan dalam gereja.Anggota gereja merupakan komponen pelayanan terbesar dalam gereja yang patut dilibatkan dalam pelayanan. Pada sebagian besar gereja dengan sistem presbiterial-sinodal terlihat bahwa keterlibatan mereka dalam proses perencanaan pelayanan sangat terbatas. Kehadiran para presbiter sebagai perwakilan anggota gereja ternyata berimbas pada keterlibatan anggota gereja dalam proses perencanaan pelayanan yang berdampak pada partisipasi anggota gereja dalam perencanaan pelayanan. Penelitian ini menemukan beberapa alternatif tawaran bagi rekonstruksi keterlibatan anggota gereja dalam perencanaan pelayanan di gereja dengan sistem presbiterial -sinodal. Artikel ini menggunakan metode kualitatif berupa analisis konten terhadap beberapa teolog seperti Neil Cole, Keith Elford dan Moltmann yang membahas tentang partisipasi anggota gereja. Hasil kajian itu menunjukkan bahwa perencanaan pelayanan secara partisipatif pada gereja dengan sistem presbiterial-sinodal dapat direkonstruksi melalui pembentukan kelompok kecil, penggunaan teknologi digital dan optimalisasi tim perencanaan. Tulisan ini ditujukan kepada pengelolaan gereja dengan sistem presbiterial sinodal pada umumnya tetapi secara luas pada gereja yang memiliki kuantitas anggota yang besar

    The PERANAN PELAYANAN KAUM PEREMPUAN PENTAKOSTA DALAM PENGINJILAN

    No full text
    Pelayanan kaum perempuan dalam perjalanan misi Gereja merupakan sebuah pilar penting yang mendorong pertumbuhan Gereja, namun sering kali menjadi pokok pembicaraan yang diperdebatkan oleh Gereja dan bahkan sampai  menjadi perselisihan.  Hal itu disebabkan seorang pemimpin perempuan dianggap tidak memiliki potensi apa pun. Pelayanan kaum perempuan sering kali diabaikan dan kurang diapresiasi. Penelitian dengan metode penelitian deskriptif mix-method, dengan 89 responden perempuan yang melayani di berbagai bidang di gereja lokal denominasi Pentakosta/Kharismatik. Hasil yang didapat menunjukkan bahwa peran kaum Perempuan pada kategori baik, dengan pemahaman sangat baik pada panggilan pribadi, kemudian baik pada antusias, dan sedang pada penginjilan kuasa dan peningkatan potensi diri. Simpulannya, kaum perempuan sudah menyadari panggilan pelayanannya dan antusias dalam melaksanakannya, namun  kurangnya pengarahan khususnya untuk pelayanan penginjilan lintas gereja dan juga pelayanan dalam hal karunia-karunia supranatural, khususnya kenabian dan kesembuhan ilahi. Kelemahan dalam hal ini tentunya memberi dampak yang kurang signifikan nya terhadap hasil penginjilan kuasa.Berdasar kepada Kisah Para Rasul, kaum Perempuan masa kini dalam gereja-gereja pentakosta memiliki peran yang sangat penting, khususnya dalam pemberitaan Injil, melalui media karya kasih memberi kesaksian tentang Tuhan Yesus Kristus. Peran kaum Perempuan dinyatakan dengan pemahaman yang penuh tentang panggilan pelayanan pribadi, dan disempurnakan dengan Tindakan antusias dalam pelayanan. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan peran kaum Perempuan perspektif Kisah Para Rasul dalam Penginjilan di antara gereja-gereja Pentakosta. Penelitian dengan metode penelitian lapangan, deskriptif kuantitatif kepada 89 responden Perempuan yang melayani dalam berbagai bidang di gereja lokal berdenominasi Pentakosta/Kharismatik. Konfirmasi didapat dari isian kuesioner likert yang menunjukkan bahwa peran kaum Perempuan pada kategori baik, dengan pemahaman sangat baik pada panggilan pribadi, kemudian baik pada antusias, dan sedang pada pengijilan kuasa dan peningkatan potensi diri. Simpulannya, perlu ditingkatkan pendampingan, pelatihan dan pemberian kesempatan lebih luas oleh pemimpin dalam mendayagunakan talenta, karunia agar semakin berbuah dalam penginjilan

    Moderasi Kristen di Indonesia

    Full text link
    Moderasi beragama merupakan kebijakan pemerintah untuk menyikapi ekstrem beragama baik kiri maupun kanan di Indonesia. Kebijakan tersebut adalah baik karena berguna untuk menghadirkan kedamaian di tengah kemajemukan agama. Namun harus disadari bahwa hal itu juga dapat menyebabkan berkurangnya peran agama secara sosial. Agama yang seharusnya menjadi sumber bagi pembaharuan sosial, bisa ditumpulkan daya kritisnya dengan menjadikan moderasi beragama sebagai alasan. Artikel ini secara khusus bertujuan untuk mengungkap kontribusi orang Kristen dalam mewujudkan moderasi beragama di Indonesia. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini menganalisis konsep moderasi Kristen berdasarkan Alkitab dan mengkaitkannya dengan praktik keberagamaan di Indonesia. Penelitian ini menemukan bahwa nilai-nilai Alkitab tentang moderasi Kristen terletak pada kesederhanaan, jalan tengah dan keseimbangan. Konsep ini dapat diimplementasikan dalam bentuk toleransi, inklusivitas, dan pengembangan dialog antaragama. Penelitian ini memberikan kontribusi baru dengan menunjukkan relevansi iman Kristen dalam mendukung program moderasi beragama dan dapat menjadi referensi bagi umat Kristen dalam berkontribusi dalam keragaman agama di Indonesia, secara khusus Kristen Protestan. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa moderasi beragama memiliki implementasi dalam menguatkan nasionalisme di Indonesia, melalui militansi dan keimanan yang moderat

    Pastoral Konseling Bagi Generasi Muda yang Sedang Menghadapi Depresi di Era Disrupsi

    Full text link
    Depresi merupakan masalah psikologi yang sering dirasakan dalam kehidupan generasi muda di era disrupsi. Masalah ini akan berakibat fatal dalam kehidupan generasi muda. Generasi muda kehilangan semangat, kehilangan harapan, merasa tidak berguna dan akhirnya bunuh diri jika tidak segera ditangani. Faktor perundungan dan kesepian yang menjadi penyebab anak-anak muda mengalami depresi. Pastoral konseling memiliki peran penting dalam mengatasi masalah ini. Anak-anak tersebut harus ditangani di dalam pastoral konseling secara kontinyu. Firman Tuhan memberikan beberapa solusi penting untuk membawa setiap generasi muda bisa memiliki daya juang yang tinggi, sehingga lepas dari sebuah depresi. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode kualitatif deskriptif. Tujuan dalam penelitian ini adalah Pertama, mengerti langkah-langkah praktis dalam sebuah pastoral konseling. Kedua, gereja dan orang tua memiliki cara yang efektif dalam menangani generasi muda yang sedang menghadapi depresi. Ketiga, generasi muda dapat sembuh dari depresi dan menjadi generasi muda yang tangguh

    Misi Fransiskus Palau “Pelayanan Kepada Gereja sebagai Tubuh Mistik” Bagi Para Suster Carmelite Missionaries

    Full text link
    Misi merupakan elemen esensial dalam tradisi Gereja yang berakar pada misi inklusif Yesus, mencerminkan kasih dan keadilan Allah. Adanya tantangan modern seperti relativisme dan dominasi teknologi, komunitas hidup bakti perlu meninjau kembali semangat pendiri mereka agar misi dan spiritualitas tetap relevan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif untuk menganalisis tulisan Beato Fransiskus Palau dan Konstitusi para Suster Carmelite Missionaries, bertujuan menggali ajaran teologis dan praktik spiritual mereka. Fokus penelitian  adalah teologi misi Beato Fransiskus Palau, "Misteri Persatuan: Mencintai Tuhan dan Sesama," serta penerapannya dalam kehidupan para suster Carmelite Missionaries dalam menghadapi tantangan kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa misi Beato Fransiskus Palau menekankan cinta kepada Gereja sebagai anggota Tubuh Mistik Kristus melalui integrasi cinta kepada Tuhan dan sesama, serta keseimbangan antara kontemplasi dan pelayanan. Kesimpulannya, bagi Beato Fransiskus Palau, misi Kristiani melibatkan gabungan pelayanan aktif dan kehidupan kontemplatif, di mana para suster dan setiap kaum beriman diharapkan mengintegrasikan kasih dalam doa, iman, dan pelayanan untuk mencerminkan kasih ilahi di dunia

    Lebih Cerdas, Lebih Lama Hidup dan Lebih Bahagia: Diskursus Transhumanisme dan Teologi

    Full text link
    Transhumanisme sangat optimis jika teknologi akan mampu meningkatkan kualitas hidup manusia, karena itu pemanfaatan teknologi didalam kehidupan manusia harus terus diperluas. Perkembangan terkini, arah perkembangan dan pemanfaatan teknologi sudah mengarah pada integrasi atau penggabungan antara mesin dan manusia. Di satu sisi, perkembangan tersebut menghadirkan harapan besar akan meningkatnya kualitas hidup manusia, tetapi di sisi lain muncul kekuatiran jika hal tersebut justru akan menghancurkan manusia dan kehidupannya. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif, pendekatan studi pustaka dan analisis terhadap berbagai literatur mengenai transhumanisme, khususnya Nick Bostrom, Ensiklik Laudato Si' dan literatur terkait lainnya. Kemudian mendialogkannya. Penelitian bertujuan menjawab pertanyaan: bagaimana gagasan transhumanisme untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia melalui pemanfaatan teknologi secara luas harus disikapi. Penelitian menemukan jika keduanya memiliki gagasan yang sama pada upaya peningkatan kualitas hidup manusia. Keduanya mengakui potensi besar teknologi dalam meningkatkan kualitas hidup manusia. Karena itu pengembangan dan penerapan teknologi secara luas bagi peningkatan kualitas hidup manusia perlu disambut dengan baik. Tetapi, Laudato Si' mengkritisi optimisme yang berlebihan Transhumansime terhadap teknologi dan moral manusia

    143

    full texts

    150

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal STT Tawangmangu (Sekolah Tinggi Teologi)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇