Jurnal STT Tawangmangu (Sekolah Tinggi Teologi)
Not a member yet
150 research outputs found
Sort by
Yesus, Hamba Allah Yang Menderita
Ebed Yahweh merupakan topik yang jarang sekali di singgung dalam pembahasan-pembahasan Kristologi dewasa ini. Mungkin hal ini terjadi di karenakan istilah Ebed Yahweh tidak di temukan dalam Kitab Perjanjian Baru. Istilah Ebed Yahweh hanya dapat ditemukan penggunaannya dalam Perjanjian Lama. Para ahli sering menyelidiki arti dari sosok ebed Yahweh sebagai masalah Perjanjian Lama , tetapi jarang penerapannya pada Yesus. Namun demikian bukanlah berarti Perjanjian Baru sama sekali tidak membahas mengenai ebed Yahweh. Jika diselidiki dengan seksama, secara implisit penggunaan filosofi ebed Yahweh sangatlah mudah ditemui dalam pembahasan mengenai Yesus. Yesus sering sekali digambarkan sebagai Ebed Yahweh. Yesus adalah ebed Yahweh yang dijanjikan dalam Perjanjian Lama
Pertumbuhan Gereja dan Penginjilan Di Kepulauan Nias
AbstrakKorelasi Pertumbuhan Gereja Dengan Penginjilan Yang Alkitabiah. Gereja yang bertumbuh adalah gereja yang memusatkan tujuan utamanya terhadap Penginjilan. Tugas Penginjilan adalah tugas semua orang percaya tanpa terkecuali dipertajam oleh Rasul Paulus dalam Surat I Korintus 9:16 “Bahwa pemberitaan Injil adalah sebuah keharusan bukan pilihanâ€. Gereja yang bertumbuh memiliki beberapa faktor yang mendukungnya yakni: Kepemimpinan Gembala Sidang yang dinamis, Bebaskan kaum awam, Jangkauan Pelayanan, Keseimbangan, Homogenitas, Penginjilan , Pemuridan dan Prioritas sedangkan faktor penghambatnya adalah Gereja tidak terbeban memberitakan Injil dan Pemuridan. Takut ditolak dan dianiaya sehingga memilih untuk toleransi sampai lupa tugas amanat Agung. Gereja yang bertumbuh pasti memiliki hambatan dalam pertumbuhanny
Fenomena Sosial Climber Ditinjau Dari Perspektif Etika Kristen
Social climber adalah orang yang memerankan dirinya sebagai kaum sosialita melalui aksesoris yang menempel di tubuhnya, tetapi keberadaan materinya tidak mendukung. Bagi mereka kepuasan hidup utamanya bertumpu pada hal material, akibatnya mereka pun kerap bersikap pamer dalam kehidupan sehari hari maupun di media sosial, dengan tujuan agar mendapatkan sanjungan. Corok kehidupan seperti ini harus diwaspadai karena berpotensi membuat pelakunya mengenyampingkan Tuhan. Adapun pendekatan metode yang digunakan dalam penulisan artikel ini adalah metode lingkaran pastoral dan studi literatur.Pelaku social climber cenderung hanya berfokus pada kenikmatan duniai. Kehidupan yang hanya mementingkan unsur-unsur materialis bagian dari keinginan duniawi sebagaimana Alkitab kemukakan. Apabila sudah menjadi pelaku social climber akan merusak jati pribadi yang bersangkutan karena ia tidak bisa menerima keadaan dirinya, akibatnya hal yang salah akan dilakukan guna tuntunan menjadi social climber. Dampak yang bisa mengakibatkan pelakunya korupsi, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sesuatu, dan tentunya ini bertentangan dari perspektif etika Kristen yang mengajaran  untuk hidup jujur dan bersyukur akan apa yang dimiliki
Pendidikan Seks Pada Remaja
Pendidikan seks sangatlah penting untuk diberikan kepada para remaja, bahkan sejak masih kanak-kanak. Anak-anak dan remaja rentan terhadap informasi yang salah mengenai seks. Tujuan penulisan ini, diharapkan melalui pendidikan seks, orangtua dapat memberikan informasi yang sepatutnya sesuai kebutuhan dan umur anak. Selain itu, dengan pendidikan seks anak juga dapat diberitahu mengenai berbagai perilaku seksual berisiko sehingga mereka dapat menghindarinya. Dengan menggunakan pendekatan penelitian kualitatif yaitu studi literature, dengan menggali berbagai informasi berkenaan dengan pendidikan seks pada remaja, maka diperoleh hasil, pertama:Â pendidikan seks harus dianggap sebagai bagian dari proses pendidikan untuk memperkuat pengembangan kepribadian. Kedua, orangtua memiliki peran penting untuk menanggulanggi perilaku seks yang menyimpang adalah dengan cara orangtua mengajarkan pendidikan seks secara langsung dan kontinyu pada anak sedini mungkin di dalam keluarga sesuai Alkitab dan norma-norma masyarakat setempat agar remaja meneima seksualitasnya yang adalah bagian integral kehidupannnya dengan penuh tanggung jawab
Tanggapan Terhadap Kristologi Saksi Yehuwa Kristus adalah Ciptaan Yang Pertama Berdasarkan Kolose 1:15
“Kristus adalah Ciptaan yang Pertama†merupakan doktrin Kristologi yang diyakini oleh saksi Yehuwa yang dibangun terutama dari Kolose 1: 15.  Meyakini Yesus Kristus sebagai ciptaan pertama yang diciptakan oleh Allah, maka pada saat yang bersamaan menolak bahwa Yesus Kristus sepenuhnya Allah. Penelitian ini bertujuan untuk menanggapi Kristologi dari Saksi Yehuwa tersebut dengan cara menginterpretasi Kolose 1: 15 dengan menggunakan metode riset Teologi biblika yaitu pendekatan hermeneutik dan pengkajian Alkitab untuk memahami makna teks dalam konteks penulis mula-mula. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa εἰκὼν menyatakan Kristus dalam wujud manusia memiliki kesetaran dengan Allah. Sedangkan Ï€Ïωτότοκος menyatakan bahwa Kristus lebih tinggi dari segala yang diciptakan. Kristus bukan diciptakan pertama kali oleh Allah sebagaimana Kristologi saksi Yehuwa
Konsep Soteriologi Menurut Efesus 2:1-10
Penulis melalui tulisan ini, bertujuan untuk menjelaskan tentang keselamatan berdasarkan Efesus 2:1-10. Metode penelitian yaitu penelitian kualitatif yang membahas analisis kitab untuk memahami konsep yang ada dalam kitab Efesus. Berdasarkan hasil uraian penulis dalam karya ilmiah mengenai perspektif soteriologi menurut kitab Efesus 2:1-10, maka penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut: pertama, posisi manusia yang berdosa. Manusia memiliki natur dosa, yaitu hidup dalam dosa oleh karena itu dalam keadaan demikian tidak ada hal yang dapat membuat manusia untuk di selamatkan. Kedua, tindakan Allah dalam menyelamatkan posisi manusia yang berdosa maka Paulus menjelaskan sebab oleh karena kasih karunia diselamatkan oleh iman, itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah. Jadi keselamatan itu datang dari tangan kasih dan karunia Allah dan tidak akan hilang oleh karena itu manusia yang adalah buatan Allah untuk melakukan pekerjaan yang baik
Peranan Guru Pendidikan Agama Kristen Terhadap Perilaku Siswa-Siswi
Pengajaran pendidikan Agama Kristen mempunyai peran penting dalam membantu pertumbuhan kerohanian siswa dalam lingkup pendidikan, pengajaran Pendidikan Agama Kristen pada dasarnya sangat dibutuhkan dan memiliki pengaruh yang besar terhadap perilaku siswa-siswi. Pengajaran pendidikan Agama, sangatlah penting dalam kehidupan umat manusia, terlebih khusus umat Agama Kristen.  Pendidikan Agama, lebih khususnya pendidikan Agama Kristen sangatlah penting untuk diterapkan dalam peningkatan potensi spiritual, sehingga membantu peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan taat kepada Tuhan. Berdasarkan hasil dari koefisien determinasi melalui perhitungan dengan SPSS 23 menghasilkan, 29,8 % artinya Pengaruh Pengajaran Pendidikan Agama Kristen memberi sumbangan yang cukup besar, atau ,29,8 % terhadap Perilaku Siswa-siswi kelas III-VI di Sekolah Dasar Negeri 01 Ujungwatu Jepara.  Sisanya (100 – 29,8 % = 61,2 %) di pengaruhi oleh faktor yang lain. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka guru perlu memperhatikan setiap perilaku siswa-siswinya sehari-hari dan selalu bijak dan bertindak terlebih dalam hal memberi Pengajaran Pendidikan Agama Kristen.Â
Peran Gembala Sidang Sebagai Pendidik Dalam Pertumbuhan Rohani Jemaat
AbstrakPeran gembala sidang sebagai pendidik dalam pertumbuhan rohani jemaat, memiliki korelasi yang sangat signifikansi. Gembala sidang memiliki peran penting dalam memberikan pertumbuhan rohani kepada jemaat Tuhan. Gembala sidang memiliki peran sebagai pendidik, yakni mendidik, mengajar dan membimbing jemaat kepada pengenalan dan pertumbuhan rohani yang baik. Melalui Firman Tuhan yang diajarkan kepada jemaat, mereka semakin memahami dan hidup di dalamnya dengan efektif dan menjadi pelaku Firman Tuhan. Pertumbuhan rohani jemaat dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas jemaat Tuhan secara konsisten.Berdasarkan hasil penelitian menujukkan bahwa pertumbuhan rohani jemaat dipengaruhi oleh peran gembala sidang sebagai pendidik, yakni: pada tabel 2 menunjukkan 86,7% responden yang menjawab setuju, 10% yang menjawab ragu-ragu dan 3,3% yang menjawab tidak setuju dan pada tabel 5 menunjukkan ada ada 66,7% responden yang menjawab setuju, 26,7% yang menjawab ragu-ragu dan 6,6% yang menjawab tidak setuju.  Jadi, peran gembala sidang sebagai pendidik mampu mempengaruhi pertumbuhan rohani jemaat di Gereja Pentakosta Indonesia Orahili Kota. Â
Pengaruh Saat Teduh dan Ibadah Terhadap Pengambilan Keputusan Dalam Memilih Pasangan Hidup
Fenomena permasalahan dalam keluarga seperti perceraian dan KDRTÂ marak terjadi di Indonesia. Hal ini merupakan permasalahan yang serius. Berdasarkan hal tersebut perlu diadakan tindakan preventif untuk menanggulangi permasalahan tersebut yaitu melalui pengambilan keputusan memilih pasangan hidup. Berdasarkan hal tersebut perlu diadakan penelitian faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan memilih pasangan hidup.Pada penelitian ini dilakukan penelitian dengan pendekatan kuantitatif dengan analisis uji regresi tunggal dan uji regresi ganda. Variabel penelitian yaitu X1=saat teduh, X2=beribadah di gereja, dan Y=pengambilan keputusan dalam memilih pasangan hidup. Penelitian dilakukan kepada mahasiswa Kristen se-Surakarta. Dari penelitian ini didadapatkan hasil yaitu pertama, saat teduh memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pengambilan keputusan Pasangan Hidup dengan koefisien Y= 22,446 + 0,193x. Kedua Beribadah di Gereja memiliki peraguh yang signifikan terhadap pengambilan keputusan Pasangan Hidup dengan koefisien Y= 15,311 + 0,442x. Ketiga, Saat Teduh dan Beribadah di Gereja memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pengambilan keputusan Pasangan Hidup dengan koefisien Y= 14, 329 + 0,383X1 +0,116X2
Konsep Bermegah (Boasting) dalam Surat Roma dan Implikasinya Bagi Gereja Masa Kini
Tujuan penulisan ini untuk menjelaskan konsep bermegah dalam kitab Roma dan implikasinya bagi gereja masa kini. Dalam konsep ‘bermegah’, Paulus hendak mengaitkannya dengan dasar menaruh tempat kepercayaan yang benar. Paulus menolak semua dasar bermegah di luar dari Injil. Hanya Injil yang dapat membuktikan bahwa semua kemegahan yang lainnya tidak dapat diandalkan. Kehidupan orang percaya akan bermegah bukan hanya di dalam hal-hal yang baik saja, namun hingga ke tahap menderita, orang percaya akan tetap bermegah. Kesengsaraan di dalam kehidupan orang percaya bukan lagi menjadi tanda murka Allah melainkan bagaimana mereka telah memperolah keselamtan dari murka itu. Orang percaya dalam komunitas gereja diajarkan untuk bermegah pada hal-hal yang memuliakan Tuhan, dan tidak bermegah atas keberhasilan pelayanan dan hal-hal yang duniawi