Jurnal STT Tawangmangu (Sekolah Tinggi Teologi)
Not a member yet
150 research outputs found
Sort by
Pengaruh Pembinaan Rohani Keluarga Terhadap Karakter Pemuda Berdasarkan Kolose 2: 6-10
Penelitian ini bertujuan untuk meniliti pengaruh pembinaan rohani dalam keluarga terhadap pembentukan karakter pemuda berdasarkan Kolose 2: 6-10 di GBAP Bunga Bakung Surakarta. Penelitian ini dilakukan untuk membuktikan kebenaran hipotesis yang diajukan, yang berbunyi: Pertama, diduga pembinaan rohani dalam keluarga berpengaruh secara signifikan terhadap pembentukan karakter pemuda berdasarkan Kolose 2:6-10 di GBAP Surakarta.Jenis penelitian ini adalah penelitian survey, dengan menggunakan pendekatan analisis deskriptif. Populasi sekaligus sampel dalam penelitian ini berjumlah 87 responden yang melibatkan pemuda – pemudi GBAP Surakarta. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan angket, dokumentasi, pedoman observasi, studi pustaka, dan pedoman wawancara. Analisis data menggunakan aplikasi dan rumus “SPSS 23â€.Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Pengaruh pembinaan rohani dalam keluarga terhadap pembentukan karakter pemuda, adalah 0,403 atau 40,3% , sedangkan pengaruh antar variabel pembinaan rohani dalam gereja terhadap pembentukan karakter pemuda, menunjukkan pada kategori pengaruh sedang, Berdasarkan temuan tersebut maka perlu dikembangkan progam workshop atau seminar rutin untuk peningkatan pemahaman tentang pembinaan berdasarkan Kolose 2:6-10, mengadakan rereat secara berkala bagi pemuda –pemudi dan warga gereja, mengadakan persekutuan yang rutin antar anggota keluarga, dan membangun mesbah doa di rumah untuk mempererat persekutuan antar anggota keluarga dan hubungan dengan Tuhan
Implikasi Misiologi Dalam Pengembangan Kurikulum Agama Kristen di Gereja Lokal
Misiologi berasal dari kata Latin Missio adalah bentuk substantive dari kata kerja mittere (mitto, missi, missum) yang punya pengertian dasar yang beragam yaitu membuang, menembak, membenturkan, mengutus, mengirim, membiarkan,membiarkan pergi, melepaskan pergi, membiarkan mengalir.  Dalam bahasa Latin maupun Yunani kata ini lebih cenderung berarti mengutus dan mengirim. Kata misi berasal dari kata Latin missio adalah bentuk substantive dar ikata kerja Mittere (mitto, missi, missum). Dalam kegiatan  pengajaran dan pembinaan  gereja, harus mengejawantakan tiga tugas utama pengajaran Agama Kristen yaitu: (1) Marturia (tugas kesaksian untuk memberitakan Injil), (2). Koinonia (tugas pembinaan persekutuan), (3). Diakonia (tugas pelayanan kepada Tuhan dan sesama manusia). Gereja sebagai tempat persekutuan yang mampu mempraktekan model Eklesiologi yang dapat mempraktekan proses edukasi dengan benar dan baik.  Pengembangan kurikulum gereja di lokal. Didasarkan pada kerinduan dan hasrat untuk mengembangkan kualitas anggota jemaat, oleh karena itu pengajaran kepada jemaat lokal melalui khotbah, ibadah raya, pendalaman Alkitab dan kompok sel.  Pengembangan kurikulum pengajaran agama Kristen dalam gereja di lokal sangat perlu atau dibutuhkan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain: Pertama,  visi dan misi gereja. Visi dan misi gereja akan mewarnai kurikulum di gereja lokal. Oleh karna itu dalam tata laksana pengajaran di gereja, para pemimpin gereja atau pendeta harus mampu melahirkan berbagai topik pengajaran berdasarkan visi tersebut. Kedua, nilai-nilai yang dibangun dalam gereja, artinya  merujuk kepada motto pelayanan yang dikembangkan. Dengan demikian daras pengajaran dan pembinaan di gereja lokal, harus diarahkan kepada nilai-nilai tersebut serta peruntukkan kepada pencapaian tersebut
Makna Belajar Dalam Perjanjian Lama dan Implementasinya Bagi PAK Masa Kini
Sejak lahir manusia mengalami proses tumbuh kembang fisik, jiwa, dan akal pikiran yang disertai dengan kegiatan belajar. Kegiatan belajar juga terjadi dalam pendidikan agama Kristen, di mana yang menjadi objek belajar adalah Firman Tuhan. Oleh karena itu dalam penelitian ini, peneliti menerapkan pendekatan eksposisi kata belajar yang terdapat di Perjanjian Lama, sehingga mendapatkan makna kata belajar.Kata belajar dalam Perjanjian Lama ditulis dalam dua kata yaitu; pertama, kata לָמַד lamad yang bermakna belajar merupakan proses mendalami, memahami sampai mampu melakukan atau menerapkannya dalam kehidupan. Kedua, kata לַהַג  laºhag yang bermakna belajar adalah proses mendapatkan pengetahuan saja, sehingga dalam pendidikan agama Kristen, proses belajar yang dilakukan peserta didik jangan hanya sampai pada mendapatkan pengetahuan saja (firman Tuhan), melainkan harus sampai kepada menerapkan atau melakukannya (firman Tuhan) dalam kehidupan sehari-hari
Signifikansi Salib Bagi Kehidupan Manusia dalam Teologi Paulus
Rasul Paulus adalah salah satu teolog besar dalam Perjanjian Baru yang kaya dengan pemikiran teologis. Salah satu hasil pemikirannya adalah tentang signifikansi salib bagi kehidupan manusia. Penulis memandang penelitian ini penting, karena akan semakin memperjelas signifikansi salib bagi kehidupan umat manusia.Rumusan Masalah di dalam penelitian ini adalah bagaimanakah signifikansi salib bagi manusia dalam teologi Paulus? Adapun Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan signifikansi salib bagi manusia dalam teologi Paulus. Sedangkan metode yang dipakai oleh penulis adalah menggunakan literature reasech. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa dalam teologi Paulus salib memiliki signifikansi yang besar bagi kehidupan manusia, kerena salib adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan umat manusia, tempat pertukaran penghukuman, jaminan kebebasan dari kutuk, dan tempat pendamaian
Pemahaman Guru Pendidikan Agama Kristen Tentang II Timotius 3:10 Terhadap Peningkatan Kecerdasan Spiritual Anak Didik
Guru Pendidikan Agama Kristen adalah seseorang yang profesinya mengajar untuk mendewasakan peserta didik melalui pendidikan yang berisi ajaran kekristenan dengan menekankan ketiga aspek (kognitif, afektif dan psikomotorik) berdasarkan iman kristen. Kecerdasan spiritual merupakan kecerdasan yang tertinggi yang dimiliki oleh seseorang untuk mengerti dan memahami keberadaannya, yang dinilai sebagai tingkat kerohanian seseorang dalam hubungannya dengan Tuhannya. pembentukan kecerdasan spiritual anak didik adalah suatu proses untuk membentuk kehidupan rohani anak didik sehingga ia memiliki kecakapan untuk merealisasikan kebenaran Firman Tuhan dalam kehidupan sehari-harinya. Sebagai seorang guru pendidikan Agama Kristen mempunyai peran yang sangat penting dalam mengerti akan kepribadian anak didiknya. Guru Pendidikan Agama Kristen mempunyai pengaruh yang sangat penting, seperti yang Alkitab katakan seorang Guru haruslah cakap di dalam mengajar penulis akan memaparkan tentang pemahaman guru tentang II Timotius 3:10. Guru Pendidikan Agama Kristen sebagai pendidik anak didik atas dasar tanggung jawab dan kasih sayang serta keiklasan guru. Dalam hal ini guru Agama Kristen mempunyai peran yang sangat penting bagi anak didik dalam mempelajari, mengkaji, mendidik dan membina kehidupannya dalam kebenaran. Sehingga guru PAK dapat melihat apa yang dihasilkan ketika mereka mendidik anak didik dengan pemahaman yang benar tentang prinsip-prinsip PAK yang terdapat di II Timotius 3:10. Sangatlah penting seorang anak mempunyai kecerdasan spiritual. Tetapi tidak hanya sekedar anak mempunyai kecerdasan tersebut, tetapi perlu adanya peningkatan. Peningkatan ini berfungsi supaya kecerdasan dalam pribadi anak lebih sempurna. Meningkatkan kecerdasan spiritual juga dapat membuat anak melihat sesuatu yang lebih terang dan humoris, meraih kegembiraan dan mempunyai kegigihan. Ada dua hal yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kecerdasan Spiritual, baik secara rohani maupun secara umum
Analisis Biblika Baptisan Roh Kudus Dan Penuh Dengan Roh Kudus
oai:stt-tawangmangu.ac.id/e-journal/index.php/oai:article/1Baptisan Roh Kudus dan penuh dengan Roh Kudus adalah istilah umum di kalangan Gereja-gereja Pentakosta dan Karismatik. Namun demikian kedua hal ini kadang-kadang dipertanyakan di kalangan gereja-gereja arus utama, khususnya sehubungan dengan tanda-tanda lahiriah yang menyertai peristiwa baptisan Roh Kudus. Untuk menjawab pertanyaan ini perlu dilakukan analisis biblikal. Analisis biblikal ini meliputi definisi dalam bahasa aslinya, yaitu bahasa Yunani, menginventarisasi bagaimana hal-hal tersebut terjadi dan dituliskan di dalam Alkitab, lalu secara induktif ditarik kesimpulan mengenai baptisan Roh Kudus dan penuh dengan Roh Kudus. Baptisan Roh Kudus memiliki dua pengertian: yang pertama, seseorang dibaptis oleh Roh Kudus ke dalam tubuh Kristus sehingga menjadi bagian dari tubuh Kristus (1 Kor. 12:12 -13); yang kedua, sesorang dibaptis oleh Tuhan Yesus ke dalam Roh Kudus sehingga ia berada dalam penguasaan Roh Kudus (Mrk 1:8). Penuh dengan Roh Kudus adalah keadaan di mana Roh Kudus menguasai atau mengendalikan seluruh segi kehidupan orang percaya tersebut sehingga apa yang dilakukan seperti apa yang Roh Kudus mau
Pandangan Kekristenan Tentang Higher Criticism
Penafsiran Alkitab dalam masa kini terus mengalami perkembangan dengan pesat. Kemajuan ini memberikan dampak positif maupun negative dalam ranah dunia tafsir Alkitab. Positive karena dengan kemajuannya banak nilai-nilai kebenaran yang dul tidak dipahami mulai keluar satu persatu. Negatifnya saat kemajuan penafsiran Alkitab kehilangan batasan, dengan metode penafsiran higher Critism menjadikan Alkitab yang awalnya diyakini sebagai Firman yang tanpa salah, layaknya buku lain yang nilainya lebih rendah dari kitab suci. Aklitab disejajarkan dengan buku biasa. Bahkah otoritas Alkitab sebagai Firman Allah diragukan, disangkal dan direndahkan sebatas karya sastra biasa.Ini merupakan tantangan bagai kekristenan saat ini. Diperlukan sikap yang tegas dalam menghadapi pergerakan penafsiran Higher Critism. Orang Kristen perlu menentukan posisi dalam menangkis segala tuduhan yang merendahkan otoritas Alkitab. Segala tuduhan yang meragukan pengilhaman dan pewahyuan penulisan kitab Suci yang ada. Tulisan ini diharapkan memberikan sedikit sikap apologetika terhadap gerakan Higer Critism
Mengimplementasikan Pelayanan Yesus Dalam Konteks Misi Masa Kini Menurut Injil Sinoptik
Gereja sebagai bagian dari masyarakat juga terpanggil untuk terlibat dalam upaya mengatasi permasalahan yang sedang terjadi di sekitarnya. Makalah ini bertujuan untuk memperlihatkan bahwa pelayanan kristiani secara komprehensif yaitu pelayanan holistik adalah sangat relevan dan dibutuhkan sebagai jawaban untuk mewujudkan Injil Yesus Kristus menjadi realitas dan sekaligus dapat mengentaskan persoalan atau kondisi masyarakat di mana gereja berada. Pelayanan holistik adalah sebuah paham akan peranan gereja dalam lingkup sosial, yakni pengontekstualisasian Injil Yesus Kristus pada masalah konkret yang terjadi di sekitar gereja. Pelayanan holistic sebagai upaya untuk merealisasikan pengajaran Alkitab ke dalam praksis, yang tentunya hal ini berlaku di tengah-tengah kondisi dan situasi masalah konkret di sekitar gereja.Berdasarkan kajian biblika khususnya pemberitaan Injil Sinoptik mengenai pelayanan Tuhan Yesus, tampak sangat jelas bahwa Ia tidak memisahkan (dualisme) antara Pemberitaan Injil dan kepedulian social. Pelayanan-Nya tidak hanya focus pada Pemberitaan Injil semata, yaitu penobatan seseorang menjadi murid-Nya untuk memperoleh keselamatan jiwa, namun bersifat holistik, yakni juga memerhatikan kebutuhan sosial. Seyogyianya pelayanan gereja masa kini pun juga holistic (utuh; menyeluruh) seperti yang telah dilakukan oleh Tuhan Yesus.Â
Eksistensi Wanita Dan Sistem Patriarkat Dalam Konteks Budaya Masyarakat Israel
Eksistensi wanita dalam konteks budaya masyarakat Israel.Isu utama dalam pembahasan penelitian ini adalah adanya dugaan yang kuat bahwa budaya atau sistem patriarkat dalam masyarakat Israel memberikan belenggu bagi keberadaan dan keterlibatan kaum wanita Israel pada masa tersebut dalam berbagai bidang. Pemahaman tersebut, menjadi dasar bagi beberapa sarjana Alkitab maupun kelompok tertentu untuk menentang dan memberikan batasan bagi kaum wanita di masa kini untuk berperan secara lebih luas dalam berbagai kegiatan maupun berbagai bidang dalam posisi-posisi strategis, khususnya yang berhubungan dengan dengan kaum pria.Perspektif dan pemikiran tersebut, perlu untuk dikaji kembali, mengingat adanya kemungkinan terjadinya kesalahpahaman atau kekeliruan dalam memahami bagian-bagian Alkitab yang secara khusus berbicara tentang wanita.Itulah sebabnya subyek penelitian perlu untuk mendapat kajian yang lebih serius dari berbagai pandangan atau perspektif para pakar dalam menginterpretasi dan memahami kebenaran Firman Tuhan, sehubungan dengan subyek tersebut.Dengan demikian, diharapkan melalui penelitian ini tidak ada pihak atau golongan, baik wanita maupun pria yang disudutkan kesalahpahaman yang berkepanjangan
Gereja Dan Pengaruh Teknologi Informasi “Digital Ecclesiologyâ€
Gereja sebagai komunitas beriman yang mengembara, yang berdimensi spasial sekaligus temporal tidak pernah sepi dari tantangan yang berasal dari konteks di mana ia ada dan berteologi. Kemajuan di bidang teknologi-informasi, pengaruh media sosial tak luput dari area di mana gereja juga harus berurusan dan mengambil peran sebagai garam dan terang. Dalam situasi seperti saat ini, gereja kembali diuji untuk tetap menjalankan fungsinya. Dari waktu ke waktu, oleh topangan rahmat Tuhan, gereja telah menunjukkan keteguhan eksistensi kontekstualisasinya sebagai perwujudan tugas dan panggilan: persekutuan, pelayanan dan kesaksian. Gagasan tentang gereja digital adalah sebuah tawaran kehidupan menggereja pada masa kini. Dunia virtual meskipun di satu sisi memiliki potensi untuk disalah gunakan untuk kepentingan-kepentingan tertentu; namun di sisi lain dapat menjadi peluang di mana gereja memiliki cara pandang baru dalam memandang realitas Allah yang transenden. Ketimbang melihat realitas pemanfaatan media sosial dengan segala ancamannya, sudah waktunya gereja memberikan manfaat baru bagi pembangunan komunikasi, komunitas dan pemuridan.Â