Jurnal STT Tawangmangu (Sekolah Tinggi Teologi)
Not a member yet
    150 research outputs found

    A Desain Kurikulum Pendidikan Agama Kristen Untuk ABK Tunagrahita dalam Kelas Inklusif: Sebuah Usulan di SD Kristen Bukit Pengharapan Kota Balai Karangan

    No full text
    This study aims to design an innovative curriculum for students with intellectual disabilities at Bukit Pengharapan Christian Elementary School by considering their characteristics. This study uses a qualitative method with a library approach. Observation is one of the methods used to obtain data. The urgency of this research lies in the urgent need to design an innovative curriculum specifically for Christian Religious Education subjects for students with intellectual disabilities in inclusive classes. The results of the study indicate the importance of an adaptive curriculum design that is able to accommodate the needs of students with intellectual disabilities through learning strategies, digital-based approaches, and individual assessments. The resulting innovative PAK curriculum design includes individual assessments, adaptive learning strategies, adapted learning media, a dynamic assessment system, and ongoing mentoring. AbstrakPenelitian ini bertujuan merancang kurikulum inovatif bagi peserta didik tunagrahita di SD Kristen Bukit Pengharapan denan memperhatikan karakteristik peserta didik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kepustakaan. Observasi merupakan salah satu metode yang digunakan untuk memperoleh data. Urgensi penelitian ini terletak pada kebutuhan mendesak untuk merancang kurikulum inovatif khusus mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen bagi peserta didik tunagrahita di dalam kelas inklusif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pentingnya desain kurikulum yang adapatif yang mampu mengakomodasi kebutuhan peserta didik tunagrahita melalui metode strategi pembelajaran, pendekatan berbasis digital, dan penilaian individual. Desain kurikulum inovatif PAK yang dihasilan mencakup, asesmen indivdual, strategi pembelajaran adaptif, media pembelajaran disesuaikan, sistem penilaian dinamis dan pendampingan berkelanjutan.Kebutuhan utama dalam diri manusia yang tidak dapat dibatasi oleh apapun termasuk ruang dan waktu adalah pendidikan. Pemerintahan Indonesia telah memberikan jaminan bagi semua warganya untuk mendapatkan pendidikan sebagaimana yang telah diatur dalam UUD 1945 Pasal 31 ayat 1. Secara tidak langsung jaminan untuk mendapat pendidikan tersebut juga berlaku bagi peserta didik yang tergolong Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) tunagrahita. Guna mewujudkan hak peserta didik ABK untuk memperoleh pendidikan sekolah-sekolah maka diperlukan desain kurikulum yang tepat bagi mereka khususnya dalam mata pelajaran PAK. Lantas bagaimana desain kurikulum PAK yang tepat bagi ABK tunagrahita dalam kelas inklusif? Guna menanggapi pertanyaan tersebut, maka penulis menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kepustakaan dalam penyelesaian penelitian ini. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai sebuah usulan untuk SD Kristen Bukit Pengharapan Kota Balai Karangan dalam mendesain kurikulum PAK untuk ABK tunagrahita dalam kelas inklusif. Hasil dari penelitian ini adalah pendidik PAK mempersiapkan rancangan pembelajaran yang adaptif dengan memanfaatkan teknologi sebagai sumber belajar serta pendidik PAK juga harus mampu mengajar peserta didik ABK tunagrahita dengan kasih sayang sebagaimana yang diajarkan dan dicontohkan oleh Yesus Kristus. &nbsp

    TRANSGENDER: GEREJA YANG MENCARI DAN MEMULIHKAN

    Full text link
    Transgender is an individual who is interested in living as the opposite gender, regardless of whether they want to take do it as far as dressing in the opposite gender in daily life or undergoing gender reassignment surgery. Transgender is a lifestyle that demands recognition and acceptance from society, including the church. The church must focus on God's teaching that everyone, including transgender, must be served and saved. The research uses qualitative research, focusing on a descriptive approach to outline and explain the issues clearly, and in-depth analysis through critical interpretation of the literature. The analysis of the literature materials is conducted by selecting relevant materials related to the researched topic to delve into the subjects associated with transgender, the church, trauma, and Harvest Theology. This research aims to: (1) examine the Biblical view on transgender; (2) how the church can holistically serve transgender individuals; (3) what evangelistic methods are suitable for reaching out to transgender people; (4) how the church can foster strong and healthy families under God's authority. The results of the study indicate that the Bible clearly states that being transgender is wrong, Harvest Theology helps the church grow by encouraging evangelism towards transgender individuals, the church must assist transgender individuals and congregants in healing from trauma, and work on family restoration as a reflection of God's perfect love. AbstrakTransgender adalah individu yang tertarik hidup sebagai lawan jenis, terlepas dari apakah dijalankan hanya sebatas berpakaian lawan jenis dalam kehidupan sehari atau melakukan operasi ganti kelamin. Transgender adalah suatu gaya hidup yang menuntut pengakuan dan penerimaan dari masyarakat, termasuk gereja. Gereja harus fokus pada pengajaran Tuhan bahwa semua orang, termasuk transgender, harus dilayani dan diselamatkan. Penelitian menggunakan penelitian kualitatif (qualitative research), dengan fokus pada pendekatan deskriptif untuk menguraikan dan menjelaskan masalah sehingga menjadi jelas dan pendekatan analisis mendalam melalui interpretasi kritis terhadap literatur. Analisa terhadap materi literatur dilakukan dengan memilih bahan-bahan yang relevan dengan topik yang diteliti untuk mendalami materi yang terkait dengan transgender, gereja, trauma, dan Harvest Theology. Penelitian ini bertujuan untuk; (1) mengkaji pandangan Alkitab terhadap transgender; (2) bagaimana gereja melayani transgender secara holistik; (3) metode penginjilan apa yang cocok untuk menginjil transgender; (4) bagaimana gereja membentuk keluarga yang kuat dan sehat dibawah otoritas Tuhan. Hasil penelitian adalah Alkitab tegas menyatakan transgender adalah salah, Harvest Theology membantu gereja bertumbuh dengan mendorong penginjilan terhadap transgender, gereja harus membantu transgender dan jemaat untuk sembuh dari trauma, dan pemulihan keluarga sebagai citra kasih Allah yang sempurna.Transgender adalah individu yang tertarik hidup sebagai lawan jenis, terlepas dari apakah ingin dijalankan hanya sebatas berpakaian lawan jenis dalam kehidupan sehari atau melakukan operasi ganti kelamin. Transgender adalah suatu gaya hidup yang menuntut pengakuan dan penerimaan dari masyarakat, termasuk gereja. Gereja harus fokus pada pengajaran Tuhan bahwa semua harus dilayani dan diselamatkan. Walau pandangan terhadap transgender beragam di tengah jemaat, gereja selayaknya membukakan pintu bagi transgender tetapi secara tegas menolak membenarkan perbuatan transgender. Penulisan artikel menggunakan Metodologi Penulisan Kualitatif (Qualitative Research Methodology), dengan fokus pada pendekatan indepth study atau analisis mendalam untuk memahami masalah secara subjektif. Peneliti menggunakan Metode Studi Kepustakaan (Library Study Method) untuk mengeksplorasi materi yang terkait dengan transgender, gereja, trauma, dan Harvest Theology. Hasil penelitian adalah Alkitab tegas menyatakan transgender adalah salah, Harvest Theology membantu gereja bertumbuh dengan mendorong penginjilan terhadap transgender, gereja harus membantu transgender dan jemaat untuk sembuh dari trauma, membentuk tim konseling untuk menangani masalah jemaat, dan pemulihan keluarga sebagai citra kasih Allah yang sempurna

    Integrasi Teologi dan Psikologi Terhadap Pemulihan Penyakit Mental Pada Anak Dari Keluarga Broken Home

    Full text link
    Write down Children from broken home families often face significant psychological disorders, such as anxiety, depression, and behavioral problems, which impact their emotional and social development. Therefore, this research focuses on how the integration of theology and psychology can be an effective solution to support the mental recovery of children who have been traumatized by an intact family situation. This research uses the literature study method by analyzing the main theories in psychology related to children's mental disorders and the recovery process, as well as theological concepts that emphasize spiritual healing and love. This approach aims to find the relationship and harmony between theological principles, such as forgiveness, love, and restoration through faith, and psychological methods, such as cognitive therapy and trauma-based psychotherapy. The results showed that a combination of theological and psychological approaches can have a positive effect on children's mental and spiritual well-being. Theology-based interventions, such as prayer, pastoral counseling, and church community support, help provide deep emotional strengthening. Meanwhile, psychological therapies, such as cognitive behavioral therapy (CBT) and trauma-informed psychotherapy, provide space for children to overcome their trauma and rebuild self-confidence. The integration of these two approaches not only accelerates mental recovery, but also strengthens the spiritual dimension, which is an important part of the overall healing process. Abstrak Anak-anak dari keluarga broken home sering menghadapi gangguan psikologis yang signifikan, seperti kecemasan, depresi, dan masalah perilaku, yang berdampak pada perkembangan emosional dan sosial mereka. Oleh karena itu, penelitian ini berfokus pada bagaimana integrasi teologi dan psikologi dapat menjadi solusi efektif untuk mendukung pemulihan mental anak-anak yang mengalami trauma akibat situasi keluarga yang tidak utuh. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur dengan menganalisis teori utama dalam psikologi terkait gangguan mental anak-anak dan proses pemulihannya, serta konsep teologi yang menekankan penyembuhan rohani dan kasih. Pendekatan ini bertujuan untuk menemukan hubungan dan keselarasan antara prinsip-prinsip teologi, seperti pengampunan, kasih, dan pemulihan melalui iman, dengan metode psikologis, seperti terapi kognitif dan psikoterapi berbasis trauma. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi pendekatan teologis dan psikologis dapat memberikan efek positif pada kesejahteraan mental dan spiritual anak. Intervensi berbasis teologi, seperti doa, konseling pastoral, dan dukungan komunitas gereja, membantu memberikan penguatan emosional yang mendalam. Sementara itu, terapi psikologis, seperti terapi perilaku kognitif (CBT) dan psikoterapi berbasis trauma, menyediakan ruang bagi anak untuk mengatasi trauma mereka dan membangun kembali rasa percaya diri. Integrasi kedua pendekatan ini tidak hanya mempercepat pemulihan mental, tetapi juga memperkuat dimensi spiritual, yang menjadi bagian penting dalam proses penyembuhan secara keseluruhan

    Peran dan Pandangan Teologis Pendeta dalam Kasus Bunuh Diri

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk menemukan langkah strategis Pendeta dalam menyikapi kasus bunuh diri yang terjadi di Toraja, secara khusus di wilayah Rantetayo. Juga untuk menemukan langkah strategis dalam melawan nafsu bunuh diri serta menemukan makna teologis berdasarkan kesaksian Alkitab. Penelitian ini dilatar belakangi oleh kasus yang marak terjadi di Toraja tahun 2020-2024 yaitu peristiwa bunuh diri yang terjadi secara berangsur-angsur, tekanan batin yang dirasakan keluarga, gereja dan pemerintah menjadi sebuah dorongan bagi penulis untuk melakukan penelitian lanjutan dari beberapa karya tulis sebelumnya. Metode yang penulis gunakan adalah metode kualitatif yang bersumber dari studi pustaka, analisis media dan analisis sosial. Teori pendukung dalam karya ini adalah teori tentang kematian, rencana Allah, manusia dan dosa. Pembahasan dalam penelitian ini adalah tentang pandangan gereja mengenai kematian, kata alkitab tentang kematian dan peran pendeta dalam kasus bunuh diri. Beberapa poin penting dalam menyikapi kasus bunuh diri adalah pendampingan, pelayanan mimbar, pembinaan, arahan/nasihat, perkunjungan, dan pemahaman kepada anggota Jemaat mengenai keburukan dan dosa dari bunuh diri. Hasil penelitian ini adalah bahwa pendeta sebagai gembala jemaat dapat melakukan suara kenabian, teologi dialog, dan pelayanan pastoral secara berkesinambungan

    Memahami Relasi Manusia sebagai Gambar Allah dan Artificial Intelligence dalam Perspektif Post-humanisme

    Full text link
    Tulisan ini membahas tantangan dan kompleksitas dalam memahami relasi manusia dan Artificial Intelligence (AI) di era post-humanisme. Fenomena ini memicu diskusi filosofis dan teologis tentang kebebasan, otentisitas, dan eksistensi manusia yang semakin terkait dengan teknologi. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan studi literatur sebagai metode pengumpulan data, tulisan ini mengelaborasi relasi manusia dan AI untuk memperlihatkan kompleksitas eksistensi keduanya dalam proses “menjadi”. Oleh karena itu,  pemahaman teologis mengenai eksistensi dan hakikat manusia sebagai gambar Allah pun belum sepenuhnya final sehingga diperlukan upaya memahami secara terus menerus tentang manusia dalam kelindannya dengan realitas AI. Melalui teori Actor-Network dari Bruno Latour dan "becoming machine" dari Gilles Delleuze sebagai perspektif post-humanisme yang membidik relasi antara manusia dan AI secara khusus, tulisan ini menghasilkan pandangan dan pemahaman bahwa posisi manusia sebagai gambar Allah  dan AI saling berbagi ruang eksistensial, menciptakan kebebasan dan otentisitas yang dinamis, kreatif, dan berjejaring. Pembahasan mengenai relasi manusia dan AI akan berfokus pada ruang lingkup filsafat, khususnya filsafat postmodern dan teologi

    Analisis Komparatif Konseling Pastoral dan Logoterapi Frankl: Teologis, Filosofis dan Metodologis

    Full text link
    Konseling pastoral secara umum mempertahankan gagasan konvensional dengan pendekatan yang berpusat pada Alkitab (Allah). Pola tersebut merupakan model induktif dari kebenaran Allah menuju aplikasi praktisnya. Namun pengembangan konseling pastoral cenderung berhadapan dengan kemandekan sebagai akibat dari pola yang monoton. Di lain sisi, metode konseling sekuler cenderung lebih dinamis dan beragam. Salah satunya adalah model konseling logoterapi dari Viktor Emil Frankl. Model logoterapi Frankl sepintas cukup dekat dengan model konseling religius karena menempatkan spiritualitas sebagai lokusnya. Artikel ini hendak melakukan kajian komparasi di antara kedua pendekatan kemudian menarik simpulan mengenai kemungkinan sintesis teori konseling alternatif yang dapat juga diterapkan pada konseling pastoral. Peneliti menggunakan metode analisis komparatif dan konstruktif. Data penelitian disadur dari karya-karya Frankl, konseling pastoral dan juga beberapa penelitian yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan dalam beberapa aspek model logoterapi Frankl memiliki ruang lingkup yang sama dengan konseling pastoral dan dapat dikembangkan, khususnya tekanan pada terapi makna, kebebasan dan tanggung jawab individu. Ketiga komponen eksistensial ini dapat disintesiskan pada model konseling pastoral. Tetapi pada unsur psikoterapi eksistensialisme, antropologi dan filosofinya, ada perbedaan signifikan sehingga perlu kajian yang lebih lanjut. Dengan demikian usaha sintesis pada konseling pastoral terbatas pada beberapa komponen yang sejalan dan dapat digunakan secara komplimentaris pada konseling pastoral

    Penghakiman bagi Perusak Bumi: Tinjauan Teologi Ekologis dalam Wahyu 11:18 dan Implikasinya bagi Pendidikan Kristen Anak di Gereja

    Full text link
    The escalating degradation of the earth demands early environmental stewardship, which should be instilled through Christian education for children. However, church-based Christian education curricula often lack integrated content on environmental sustainability. The decreasing engagement of children with nature contributes to a generation less concerned with the care of creation. This study aims to explore the concept of ecological theology based on Revelation 11:18 and examine its relevance to children’s Christian education. The research employs a hermeneutical approach to the biblical text and a qualitative descriptive analysis of educational practices within the church. The findings reveal three key insights. First, Revelation 11:18 highlights a sharp contrast between those who faithfully fulfill God's mandate and those who destroy the earth; in the final judgment, God rewards those who care for the earth and punishes its destroyers. Second, environmental stewardship is an expression of faithful obedience and a reflection of human nature as the imago Dei, participating in the restoration of creation. Third, children’s Christian education plays a strategic role in shaping ecological awareness through faith-based curricula and sustainable environmental projects. This study concludes that integrating ecological theological values into children’s Christian education is essential. Churches must develop curricula that instill responsibility to care for and restore creation in accordance with God’s will. Abstrak Kerusakan bumi yang semakin masif menuntut upaya pelestarian lingkungan yang ditanamkan sejak dini melalui pendidikan Kristen anak. Namun, kurikulum pendidikan Kristen di gereja masih kurang mengintegrasikan materi mengenai kelestarian lingkungan. Aktivitas anak yang semakin minim di alam turut membentuk generasi yang kurang peduli terhadap keberlanjutan ciptaan. Penelitian ini bertujuan menggali konsep teologi ekologis berdasarkan Wahyu 11:18 dan mengkaji relevansinya bagi pendidikan Kristen anak. Metode yang digunakan adalah hermeneutik terhadap teks Alkitab serta analisis deskriptif kualitatif terhadap praktik pendidikan anak di gereja. Hasil penelitian menunjukkan: pertama, Wahyu 11:18 menegaskan kontras antara mereka yang setia menjalankan mandat Allah dan yang merusak bumi; Allah memberikan upah kepada yang memelihara bumi dan menghukum perusaknya pada hari penghakiman. Kedua, pemeliharaan lingkungan merupakan wujud kesetiaan iman dan refleksi natur manusia sebagai gambar Allah yang turut serta dalam pemulihan ciptaan. Ketiga, pendidikan Kristen anak berperan strategis dalam membentuk kesadaran ekologis melalui kurikulum berbasis iman dan proyek lingkungan berkelanjutan. Simpulan penelitian ini menegaskan pentingnya integrasi nilai-nilai teologi ekologis dalam pendidikan Kristen anak. Gereja perlu menyusun kurikulum yang menanamkan tanggung jawab untuk menjaga dan memulihkan ciptaan sesuai kehendak Allah

    Pendeta, Kekuasaan, dan Hukum Siasat Gereja: Pendekatan Foucaultian terhadap Analisis Kekuasaan dalam Konteks Keagamaan

    Full text link
    Pendeta memiliki otoritas signifikan dalam mengarahkan perilaku jemaat melalui mekanisme seperti khotbah, pengakuan dosa, dan konseling pastoral. Kekuasaan ini diperkuat oleh hukum siasat gereja yang mengatur perilaku dan menetapkan norma doktrinal. Penelitian ini mengkaji relasi kekuasaan pendeta dalam konteks hukum gereja melalui pendekatan teori kekuasaan Michel Foucault. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan. Penelitian ini mengeksplorasi teknologi kekuasaan yang dijalankan secara disipliner dan normatif, serta potensi resistensi jemaat sebagai bentuk negosiasi terhadap kekuasaan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekuasaan pendeta dipertahankan melalui mekanisme pengawasan, normalisasi, dan regulasi, yang secara bersamaan membentuk identitas spiritual jemaat. Meski demikian, ruang resistensi tetap ada melalui interpretasi teologis alternatif atau gerakan reformasi jemaat. Temuan ini mengungkap bahwa hukum siasat gereja tidak hanya berfungsi sebagai alat kontrol, tetapi juga sebagai sarana refleksi dan transformasi spiritual. Penelitian ini memberikan wawasan baru tentang dinamika kekuasaan dalam institusi keagamaan dan relevansinya bagi pengembangan praktik pastoral yang lebih inklusif dan dialogis

    Persimpangan Sains, Agama, dan Filsafat Lingkungan

    Full text link
    Krisis ekologi global membutuhkan pendekatan holistik yang mengintegrasikan sains, agama, dan filsafat lingkungan untuk menghadapi tantangan lingkungan yang kompleks. Kolaborasi interdisipliner ini menawarkan solusi yang komprehensif dengan menggabungkan wawasan empiris dari sains dengan dimensi etis dan spiritual yang disediakan oleh agama dan filsafat. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi kontribusi sains, agama, dan filsafat lingkungan dalam menghadapi krisis ekologi, dengan fokus khusus pada kolaborasi lintas agama dan peran perspektif religius dalam membentuk etika lingkungan. Dengan menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR), penelitian ini mensintesis wawasan dari berbagai bidang untuk mengusulkan kerangka etis yang terintegrasi dalam menciptakan solusi ekologi yang berkelanjutan. Meskipun tantangan seperti pluralisme nilai dan perbedaan metodologis tetap ada, integrasi perspektif ilmiah, religius, dan filosofis memiliki potensi besar untuk membentuk kebijakan dan praktik lingkungan yang transformatif. Hasil penelitian ini menekankan pentingnya dialog lintas disiplin dan lintas agama untuk mengembangkan pendekatan penatalayanan lingkungan yang lebih inklusif dan berkelanjutan

    Antara “Penderitaan yang Tersisa” dan “Rengkuhan yang Terbuka”: Analisis Teologis atas Trauma Sosial Pascakonflik Ambon: Antara “Penderitaan yang Tersisa” dan “Rengkuhan yang Terbuka”: Analisis Teologis atas Trauma Sosial Pascakonflik Ambon

    No full text
    This article examines the collective trauma of the 1999–2002 Ambon post-conflict, which still leaves traces in the violent events of 2011 and early 2025. These social wounds indicate that the community's collective memory has not fully recovered and remains a source of vulnerability in interfaith relations. This paper aims to develop a trauma-healing-based reconciliation model in the Ambon context. Using qualitative methods based on literature studies, data are analyzed conceptually and thematically through three main approaches: Jeffrey C. Alexander's theory of collective trauma, Shelly Rambo's theology of trauma, and Miroslav Volf's theology of reconciliation. This article puts forward two arguments. First, post-conflict trauma in Ambon is still alive and is indicated by repeated conflicts in 2011 and early 2025 that reactivated the memory of the 1999 violence. Second, formal reconciliation such as the Malino II Agreement has not yet addressed the dimensions of deep trauma recognition and healing. Therefore, this article proposes the formation of a transformative space as a space between "remaining suffering" and "open embrace." This space allows wounds to be heard, narrated, and collectively reinterpreted through the reinterpretation of conflict sites (e.g., Silo Church and the Trikora Monument), interfaith forums, liturgical confessions, and public rituals. Thus, reconciliation does not stop at a formal agreement, but fosters interfaith solidarity and hope for sustainable peace.AbstrakArtikel ini membahas trauma kolektif pascakonflik Ambon tahun 1999–2002 yang masih meninggalkan jejak dalam peristiwa kekerasan tahun 2011 dan awal 2025. Luka sosial tersebut menunjukkan bahwa memori kolektif masyarakat belum sepenuhnya pulih dan masih menjadi sumber kerentanan relasi lintas iman. Tulisan ini bertujuan mengembangkan model rekonsiliasi berbasis pemulihan trauma dalam konteks Ambon. Dengan menggunakan metode kualitatif berbasis studi pustaka, data dianalisis secara konseptual dan tematik melalui tiga pendekatan utama: teori trauma kolektif Jeffrey C. Alexander, teologi trauma Shelly Rambo, dan teologi rekonsiliasi Miroslav Volf. Artikel ini mengajukan dua argumen. Pertama, trauma pascakonflik di Ambon masih hidup dan terindikasi dari konflik berulang pada 2011 dan awal 2025 yang mengaktifkan kembali memori kekerasan 1999. Kedua, rekonsiliasi formal seperti Perjanjian Malino II belum menyentuh dimensi pengakuan dan pemulihan trauma yang mendalam. Karena itu, artikel ini mengusulkan pembentukan ruang transformatif sebagai ruang antara “penderitaan yang tersisa” dan “rengkuhan yang terbuka.” Ruang ini memungkinkan luka didengar, dinarasikan, dan dimaknai ulang secara kolektif melalui pemaknaan ulang situs konflik (misalnya Gereja Silo dan Tugu Trikora), forum lintas iman, liturgi pengakuan luka, dan ritus publik. Dengan demikian, rekonsiliasi tidak berhenti pada kesepakatan formal, tetapi menumbuhkan solidaritas lintas iman dan harapan akan damai berkelanjutan.Artikel ini membahas trauma kolektif pascakonflik di Ambon, khususnya pascakerusuhan tahun 1999–2002 yang masih meninggalkan jejak dalam peristiwa kekerasan tahun 2011 dan awal 2025. Konflik-konflik ini menunjukkan bahwa luka sosial belum sepenuhnya pulih dan terus hidup dalam memori kolektif masyarakat. Dengan menggunakan metode kualitatif berbasis studi pustaka, tulisan ini mengintegrasikan tiga pendekatan utama: teori trauma kolektif Jeffrey C. Alexander, teologi trauma Shelly Rambo, dan teologi rekonsiliasi Miroslav Volf. Pendekatan ini dipakai untuk menganalisis dinamika trauma yang terbentuk secara sosial, pengalaman penderitaan yang tersisa, dan rekonsiliasi lintas iman yang tidak mengabaikan luka. Artikel ini mengajukan dua argumen utama. Pertama, trauma pascakonflik di Ambon masih ada, yang terindikasi dari konflik berulang yang terjadi tahun 2011 dan awal tahun 2025. Kedua, rekonsiliasi formal pascakonflik di Ambon belum memberi ruang yang cukup bagi pengakuan dan pemulihan trauma. Karena itu, artikel ini mengusulkan pembentukan ruang transformatif sebagai “ruang antara” antara “penderitaan yang tersisa” dan “rengkuhan yang terbuka,” yakni ruang kolektif untuk mengingat, merawat luka, dan membangun perjumpaan lintas-iman yang jujur dan empatik

    143

    full texts

    150

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal STT Tawangmangu (Sekolah Tinggi Teologi)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇