Jurnal Tugas Akhir Mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat (ULM)
Not a member yet
1492 research outputs found
Sort by
PENGEMBANGAN VIDEO PENDUKUNG PEMBELAJARAN PADA MATERI MATRIKS UNTUK KELAS XI SMA BERBANTUAN MEDIA SOSIAL “TIKTOK”
Media pembelajaran berupa video sudah banyak digunakan dalam pembelajaran karena mempermudah siswa dalam belajar. Namun, tidak semua video disukai oleh siswa terutama jika video yang disajikan memiliki durasi yang sangat panjang dan sulit diakses. Hal tersebut dapat mengakibatkan hilangnya motivasi belajar siswa. Untuk menyiasati hal tersebut adalah dengan memanfaatkan media sosial seperti aplikasi TikTok yang kini sedang tren di kalangan anak muda. Dengan konsep video berdurasi pendek dan daya tarik dari platform tersebut diharapkan dapat meningkatkan motivasi siswa dalam belajar. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mendeskripsikan proses dan menghasilkan video pendukung pembelajaran pada materi matriks untuk kelas XI SMA berbantu media sosial TikTok yang valid. Penelitian ini dilakukan melalui metode Research and Development memakai model 4D yang dikembangkan oleh Thiagarajan, Semmel & Semmel, namun pada penelitian ini hanya melakukan tiga tahapan yaitu define, design, dan develop. Pengumpulan data dilakukan menggunakan lembar validasi. Ada tiga orang ahli yang melakukan validasi, yaitu dua dosen prodi pendidikan matematika dan satu orang guru matematika SMA. Berdasarkan penilaian yang diberikan oleh tiga orang validator didapatkan skor rata-rata sebesar 83,04% dengan kriteria cukup valid. Dengan demikian, kriteria kevalidan video pendukung pembelajaran pada materi matriks untuk kelas XI SMA berbantu media sosial TikTok telah tercapai
KETERSEDIAN SARANA PRASARANA DALAM MENDUKUNG OLAHRAGA PRESTASI MADRASAH ALIYAH NEGERI SE- KABUPATEN TAPIN
Penelitian ini bertujuan untuk bagaimana ketersedian sarana prasarana dalam mendukung prestasi olahraga prestasi MAN di Kabupaten Tapin. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, tentang keadaan sarana dan prasarana dalam mendukung olahraga prestasi di MAN di Kabupaten Tapin menggunakan survei, kualitas, kuantitas, dan Kepemilikan. Tentang sarana dan prasarana olahraga prestasi dapat. Hasil dari penelitian ini MAN 2 Tapin untuk sarana prasarana mendapatkan 3 kategori baik dan olahraga prestasi kategori sedang. Untuk MAN 1 Tapin sarana prasarana mendapatkan 2 kategori sedang, 1 kategori kurang, dan olahraga prestasi kategori baik. Sedangkan untuk MAN 3 Tapin sarana prasarana mendapatkan 1 katagori, kurang 2 kategori sedang, dan olahraga prestasi kategori kurang. Simpulan penelitian ini bahwa ketersedian sarana dan prasarana dalam mendukung olahraga prestasi di MAN se-Kabupaten Tapin berada pada kategori sedang. Sehubungan dengan diketahuinya jumlah keadaan kondisi dan status kepemilikan dari sarana dan prasarana olahraga prestasi dapat dijadikan pertimbangan untuk langkah selanjutnya mengatasi yang sesuai dengan pembinaan ekstakurikuler di madrasah terlaksana dengan baik dan berjalan sesuai yang tercapai tujuan dari olahraga prestasi
TERMINAL TIPE B DI ALALAK BERBASIS KONSEP CONNECTIVITY
Banjarmasin as the capital city of South Kalimantan currently has excellent economic growth potential. The potential is utilized by the government with the Banjarbakula Metropolitan Area program that unites Banjarmasin - Banjarbaru - Banjar Regency - Barito Kuala Regency - Tanah Laut Regency into one national strategic area. To realize this Metropolitan Area program, transportation facilities such as terminals that can accommodate various modes of transportation are needed for better accessibility between cities or regencies, especially Barito Kuala Regency. However, terminals are often to have some problems such as conflicting circulation either human circulation or vehicle circulation as well as less integrated function. To solve that problem, Alalak Type B Terminal using Connectivity concept that focus on good connectivity on circulation and accessibility. To combine these connectivity, superimposition methods are eventually used to integrate various circulation as well as function into one whole unit to create well-organized circulation without conflict and with integrated function.Banjarmasin sebagai ibukota Provinsi Kalimantan Selatan saat ini memiliki potensi pertumbuhan ekonomi yang sangat baik. Potensi tersebut dimanfaatkan pemerintah dengan adanya program Wilayah Metropolitan Banjarbakula yang menyatukan Kota Banjarmasin – Kota Banjarbaru – Kab. Banjar – Kab. Barito Kuala – Kab. Tanah Laut menjadi satu kawasan strategis nasional. Untuk mewujudkan program Wilayah Metropolitan ini, diperlukan fasilitas transportasi seperti terminal yang dapat mewadahi berbagai macam moda angkutan agar aksesibilitas antar kota/kabupaten khususnya Kabupaten Barito Kuala semakin baik. Namun terminal seringkali memiliki permasalahan seperti sirkulasinya yang saling konflik baik manusia maupun kendaraan serta fungsinya yang kurang terintegrasi. Untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, Terminal Tipe B di Alalak menggunakan konsep Connectivity yang berfokus pada konektivitas yang baik pada sirkulasi serta aksesibilitas. Kemudian untuk menyatukan konektivitas tersebut, digunakan metode superimposition yang mengintegrasikan berbagai sirkulasi serta fungsi menjadi satu kesatuan sehingga tercipta sirkulasi yang teratur tanpa konflik serta fungsi yang terintegrasi
PUSAT PERAWATAN KESEHATAN LANSIA DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR BIOFILIK DI KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH
Elderly or can be called elderly is the last stage of the life process experienced by humans,which results in a decrease in the ability to live. Judging from the increasing population growth and theproblems faced by the elderly such as neglected elderly, it is necessary to have alternative means toprovide physical and mental health facilities. Then the Elderly Health Care Center becomes atechnical implementation unit that provides social services that support the process of improvinghealth and social welfare. Biophilic architecture is the basis for this design, which is an approach thatutilizes natural elements as an aspect that can have a positive impact on physical and psychologicalconditions in the elderly.Lansia atau dapat disebut lanjut usia adalah tahapan terakhir dari proses hidup yang dialamimanusia, yang mengakibatkan terjadinya penurunan terhadap kemampuan dalam hidup. Dilihat daripertumbuhan penduduknya yang semakin meningkat dan permasalahan yang dihadapi lanjut usiaseperti lansia terlantar, maka diperlukan adanya sarana alternatif untuk memberikan fasilitaskesehatan fisik maupun mental. Maka Pusat Perawatan Kesehatan Lansia menjadi unit pelaksanaanteknis yang memberikan pelayanan sosial yang mendukung proses dalam meningkatkan kesehatandan kesejahteraan sosial. Arsitektur Biofilik menjadi landasan dalam perancangan ini, dimanamerupakan pendekatan yang memanfaatkan elemen alami sebagai salah satu aspek yang dapatmemberikan dampak positif terhadap kondisi fisik maupun psikologis pada lansia
MINAWISATA PERIKANAN AIR PAYAU DI DESA SUNGAI CUKA TANAH LAUT
The brackish water aquaculture area in Sungai Cuka Village used to be the location of a pond that produced a lot of brackish water fish such as Milkfish (Chanos chanos), Windu Shrimp (Penaeus monodon), Mullet (Mugil cephalus), Mangrove Crab (Scylla serrata), White Snapper ( Lates calcarifer), and others. Coal mining has begun to be opened upstream of the estuary so that coal waste is carried downstream and pollutes the pond water which causes the ponds to die. This has an impact on the income of the fishermen who began to decline, finally they decided to leave the pond to look for other livelihoods. So the problem raised is how to design a brackish water aquaculture educational recreation area with a regional locality approach? This writing aims to restore aquaculture activities in Sungai Cuka Tanah Laut Village as an effort to revive dead aquaculture areas and settlements supported by pond water conditions that are free from coal waste pollution. The step to achieve the goal is to design a brackish water fishery tourism area based on educational recreation tourism. The method applied is a contextual architectural approach which is expected to maintain the characteristics of the coastal area, can renew the image of the aquaculture area which is slowly disappearing, and become a recreational tourism and fisheries education area.Kawasan pertambakan air payau di Desa Sungai Cuka dahulu merupakan lokasi tambak yang banyak menghasilkan ikan air payau seperti Ikan Bandeng (Chanos chanos), Udang Windu (Penaeus monodon), Ikan Belanak (Mugil cephalus), Kepiting Bakau (Scylla serrata), Kakap Putih (Lates calcarifer), dan lain-lain. Pertambangan batubara mulai dibuka di hulu sungai muara sehingga limbah batubara terbawa ke arah hilir dan mencemari air tambak yang menyebabkan hasil tambak mati. Hal ini berdampak pada penghasilan petambak yang mulai menurun, akhirnya mereka memutuskan meninggalkan tambak untuk mencari pencaharian lain. Sehingga permasalahan yang diangkat adalah bagaimana mendesain kawasan rekreasi edukasi pertambakan air payau dengan pendekatan lokalitas kawasan? Penulisan ini bertujuan untuk mengembalikan aktivitas penambakan di Desa Sungai Cuka Tanah Laut sebagai upaya untuk menghidupkan kembali kawasan pertambakan dan permukiman yang telah mati yang didukung oleh kondisi air tambak yang telah bebas dari pencemaran limbah batubara. Langkah untuk mencapai tujuan yaitu dengan merancang kawasan minawisata perikanan air payau berbasis wisata rekreasi edukasi. Adapun metode yang diterapkan yaitu pendekatan arsitektur kontekstual yang diharapkan dapat mempertahankan ciri khas kawasan pesisir, dapat memperbaharui citra kawasan pertambakan yang perlahan mulai menghilang, dan menjadi kawasan wisata rekreasi dan edukasi perikanan. 
REDESAIN KAWASAN WISATA RAWA DESA BANYU HIRANG
The condition of Hulu Sungai Utara Regency as an area dominated by wetland can be an interesting potential that is expected to attract tourists to visit. One of the areas that can be developed into a wetland tourism area is Banyu Hirang Village. But unfortunately, the utilization of the village area as a recreational tourist destination based on wetland is still lacking. The potential of the community in producing UMKM products in the form of woven handicrafts purun and water hyacinth also needs to be appreciated so that it can be one of the centers of woven handicrafts in Hulu Sungai Utara Regency. The design of this wetland tourist attraction aims to preserve and introduce to tourists about the potential and utilization of natural resources in wetland in helping the economy of the community. The method of problem solving in this design focuses on the approach of 3 aspects of wetland contextual architecture, namely visual, activity and environment with 5 principles of ecotourism development, namely conservation, knowledge, tourism, community participation, and economy. The relationship between the contextual aspects of wetland and the principle of ecotourism produces sustainable tourist areas with wetland environments, where the time order is divided into several zones, namely reception zones, service zones, transition zones, educational zones, recreation zones, culinary zones and relaxing zones. Planning each zone is expected to create a special character of wetland that can provide harmony with the surrounding natural environment. Kondisi Kabupaten Hulu Sungai Utara sebagai daerah yang didominasi lahan rawa dapat menjadi suatu potensi menarik yang diharapkan dapat menarik wisatawan untuk berkunjung. Salah satu wilayah yang dapat dikembangkan menjadi kawasan wisata rawa yaitu Desa Banyu Hirang. Namun sayangnya, pemanfaatan wilayah desa sebagai destinasi wisata rekreasi berbasis lahan rawa masih kurang. Potensi masyarakat dalam menghasilkan produk UMKM berupa kerajinan anyaman purun dan eceng gondok juga perlu diapresiasi sehingga dapat menjadi salah satu sentra kerajinan anyaman yang ada di Kabupaten Hulu Sungai Utara. Perancangan objek wisata rawa ini bertujuan untuk melestarikan dan mengenalkan kepada wisatawan mengenai potensi serta pemanfaatan sumber daya alam yang ada di lahan rawa dalam membantu perekonomian masyarakat. Metode penyelesaian masalah dalam perancangan ini berfokus pada pendekatan 3 aspek arsitektur kontekstual rawa yaitu visual, kegiatan dan lingkungan dengan 5 prinsip pengembangan ekowisata yaitu pelestarian, pengetahuan, pariwisata, partisipasi masyarakat, dan ekonomi. Hubungan antara aspek kontekstual rawa dengan prinsip ekowisata menghasilkan kawasan wisata yang berkesinambungan dengan lingkungan rawa, dimana tatanan massa dibagi menjadi beberapa zona yaitu zona penerimaan, zona pelayanan, zona transisi, zona edukasi, zona rekreasi, zona kuliner dan zona relaxing. Perencanaan masing – masing zona diharapkan dapat menciptakan suatu karakter khusus lahan rawa yang dapat memberikan keserasian dengan lingkungan alam sekitarnya
TAMAN EDUKASI AKTING DI BANJARBARU
The Acting Education Park is a place to practice acting and a public open space for the process of acting practice activities. The design of the Acting Educational Park was motivated by the lack of acting training places in Banjarbaru and the increasing growth of the economy and the creative industry, especially the film sector and the like. The design problem is a park that can accommodate acting training activities and the community can also participate in public spaces. The method used is using architectural programming. The solution uses elements of basic training in acting, namely body exercise, vocal exercise, and mental exercise, and is developed into the design of the Acting Education Park. Taman Edukasi Akting merupakan wadah untuk berlatih akting dan ruang terbuka umum tentang proses kegiatan latihan akting. Perancangan Taman Edukasi Akting dilatarbelakangi oleh kurangnya tempat pelatihan akting di Banjarbaru dan meningkatnya pertumbuhan ekonomi dan industri kreatif khususnya sektor film dan sejenisnya. Permasalahan rancangan adalah taman yang dapat mewadahi kegiatan latihan akting dan masyarakat juga dapat ikut serta di dalam ruang publik. Metode yang digunakan adalah menggunakan programming arsitektur. Penyelesaian menggunakan unsur latihan dasar dalam akting yaitu olah tubuh, olah suara dan olah rasa dan dikembangkan ke dalam desain Taman Edukasi Akting. 
CREATIVE SPACE BAGI PENYANDANG GANGGUAN MENTAL DI BANJARBARU
Mental disorders are one of the social phenomena whose number is increasing every year. The increase in people with mental disorders is not accompanied by an increase in mental health facilities in Indonesia, especially in Banjarbaru. Creative Space for People with Mental Disorders in Banjarbaru is designed to be an alternative means of therapy and counseling for people with mental disorders through creative activities, with a behavior setting method that makes behavior the main focus in its design. And the concept of "blank canvas" which has four development points, namely sequence, expressive, collaborative, and flexibility. The existence of this creative space is also expected to be able to change the paradigm of society regarding the issues of mental disorders which are still bad. Through a design that puts forward the concept of sequences through the use of ramps and corridors that are able to provide a space experience for visitors, where the space experience can make visitors more expressive so that designs are made expressive through collaborative and flexible activities and designs through interiors and the use of furniture. on the plan. With this creative space, it is also hoped that the rigid impression that exists in mental health facilities will disappear, and can generate creative activities for the Banjarbaru community, especially for people with mental disorders.Gangguan mental merupakan salah satu fenomena sosial yang setiap tahun jumlahnya meningkat. Meningkatnya penyandang gangguan mental ini tidak diiringi dengan meningkatnya fasilitas kesehatan mental di Indonesia khususnya di Banjarbaru. Creative Space bagi Penyandang Gangguan Mental di Banjarbaru dirancang untuk menjadi salah satu sarana alternatif terapi dan konseling bagi penyandang gangguan mental melalui kegiatan kreatif, dengan metode behavior setting yang menjadikan perilaku sebagai fokus utama dalam rancangannya. Serta konsep “blank canvas” yang memiliki empat point pengembangan yaitu sequence, ekspresif, collaborative, dan fleksibelitas. Adanya creative space ini, diharap juga mampu merubah paradigma masyarakat mengenai isu-isu gangguan mental yang sampai saat ini masih buruk. Melalui rancangan yang mengedepankan konsep sequence melalui adanya penggunaan ramp serta koridor yang mampu memberikan pengalaman ruang terhadap pengunjung, dimana pengalaman ruang tersebut dapat menjadikan pengunjung menjadi lebih ekspresif sehingga desain dibuat ekspresif melalui adanya kegiatan dan desain yang collaborative serta fleksibel melalui interior dan penggunaan furniture-furniture pada rancangan. Dengan adanya creative space ini, juga diharapkan dapat menjadikan kesan kaku yang ada pada fasilitas kesehatan jiwa hilang, serta dapat membangkitkan kegiatan kreatif masyarakat Banjarbaru khususnya bagi penyandang gangguan mental
PERANCANGAN KANTOR DINAS PEKERJAAN UMUM DAN PENATAAN RUANG KOTA BANJARBARU DENGAN PENERAPAN ARSITEKTUR KOLONIAL MODERN
The Banjarbaru City Public Works and Spatial Planning Office is one of the official offices located in the Murjani area. This design was carried out because of functional considerations that did not meet the capacity and the Murjani area had a high value in post-independence architecture. The purpose of this design is how to design a representative office according to the needs of its activities and can strengthen the reflection of the Murjani area which has a high value on post-independence architecture. In this design, two methods are used, namely programmatic and historical methods. In this method, the concept of colonial architecture is obtained. This concept is used to reflect the Murjani area which has a high value in colonial architecture. It is hoped that these two methods can produce an appropriate design.Kantor Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Banjarbaru adalah salah satu kantor dinas yang berlokasi di Kawasan Murjani. Perancangan ini dilakukan karena adanya pertimbangan dari segi fungsional yang tidak memenuhi kapasitas serta kawasan Murjani mempunyai nilai yang tinggi dalam arsitektur pasca kemerdekaan. Tujuan dari perancangan ini yaitu bagaimana merancang kantor yang representatif sesuai dengan kebutuhan aktivitasnya serta dapat memperkuat pencerminan kawasan Murjani yang mempunyai nilai tinggi terhadap arsitektur pasca kemerdekaan. Dalam perancangan ini menggunakan 2 metode yaitu metode programatik dan juga kesejarahan. Dalam metode tersebut didapat konsep arsitektur kolonial. Konsep ini digunakan agar dapat mencerminkan kawasan Murjani yang mempunyai nilai tinggi dalam arsitektur khas kolonial. Diharapkan dari kedua metode tersebut dapat menghasilkan perancangan yang sesuai. 
PUSAT KURSUS BAHASA INGGRIS BANJARBARU
English Course Center Banjarbaru aims to make the place a gathering center for activities to introduce or show the importance of speaking English in life for the general public, where there is a lot of potential that requires foreign language skills, especially English. Even so, Banjarbaru as an education city still does not have it, due to the lack of public interest in English. Therefore, the Banjarbaru English Course Center was designed, using the concept of character and the metaphorical method, which is expected to create an English course center that represents the identity of the country of origin and is translated into architectural visuals. The character concept, which takes the English variable and uses a landmark metaphorical approach in England, was chosen because it is able to represent the English Course Center.Banjarbaru English Course Center bertujuan menjadikan tempat tersebut menjadi pusat berkumpulnya aktivitas untuk memperkenalkan atau menunjukkan pentingnya berbahasa Inggris dalam kehidupan untuk masyarakat umum, dimana banyaknya potensi yang memerlukan keahlian berbahasa asing khususnya bahasa Inggris. Meski begitu, Banjarbaru sebagai kota pendidikan masih belum memilikinya, karena kurangnya minat masyarakat terhadap bahasa Inggris. Maka dari itu, dirancanganlah Banjarbaru English Course Center, dengan menggunakan konsep character dan metode metafora, diharapkan mampu menciptakan pusat kursus bahasa Inggris yang mewakili identitas dari negara asalnya dan diterjemahkan menjadi visual arsitektur. Konsep character yang mengambil variable Negara Inggris dan dengan pendekatan metafora landmark yang ada di Negara Inggris, dipilih karena mampu mewakilkan English Course Center