Jurnal Tugas Akhir Mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat (ULM)
Not a member yet
1492 research outputs found
Sort by
dan, di PERANCANGAN TEMPAT PENGOLAHAN SAMPAH REDUCE-REUSE-RECYCLE (TPS 3R) DI KELURAHAN KUIN CERUCUK KOTA BANJARMASIN
Waste is a problem that is often experienced in urban areas, including the City of Banjarmasin. In big cities, waste is a problem both in terms of quantity and type. The size of the waste problem grows along with the growth of the population in the city. The increase in population causes an increase in population activity which also means an increase in the amount of waste generation. Hoarding is one of the most common ways of disposing of municipal solid waste. As happened in Kuin Cerucuk Village, Banjarmasin City which has a population of 19 467 people with a population density of 11,727.11 people/km2. As an effort to overcome the problem of waste generation in Kuin Cerucuk Village is to plan a TPS 3R. In making a waste building design, it is necessary to have both population projections and waste generation projections. From the results of the design of the buildings contained in the TPS 3R in the form of a receiving area, inorganic room (sorting area, plastic waste reception area, processed plastic waste reception area, milling area and washing area), inorganic room (organic reception area, enumeration area, composting area and sieving area), warehouse buildings, and supporting facilities (offices, toilets, prayer rooms and ablution areas). The land requirement for this design is an area of 1,110 m2 with a Budget Plan of Rp. 3,017,465,295.09.Sampah merupakan masalah yang kerap dialami di daerah perkotaan termasuk Kota Banjarmasin. Dikota besar sampah menjadi masalah baik dari segi jumlah maupun dari jenisnya. Besar kecilnya masalah sampah tumbuh seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk yang ada dikota tersebut. Peningkatan jumlah penduduk menyebabkan peningkatan aktivitas penduduk yang berarti juga peningkatan jumlah timbulan sampah. Penimbunan merupakan salah satu cara yang paling umum untuk pembuangan sampah kota. Seperti yang terjadi di Kelurahan Kuin Cerucuk, Kota Banjarmasin yang memiliki jumlah penduduk 19 467 jiwa dengan kepadatan penduduk 11.727,11 jiwa/km2. Sebagai upaya menanggulangi masalah timbulan sampah di Kelurahan Kuin Cerucuk adalah dengan merencanakan TPS 3R. Dalam membuat suatu perancangan bangunan persampahan diperlukan adanya proyeksi baik penduduk dan proyeksi timbulan sampah. Dari hasil perancangan bangunan yang terdapat di TPS 3R ini berupa area penerima, Ruang anorganik (area pemilahan, area penerimaan sampah plastik, area penerimaan sampah plastik diolah, area penggilingan dan area pencucian), Ruang anorganik (area penerimaan organik, area pencacahan, area pengomposan dan area pengayakan), Bangunan gudang, dan fasilitas penunjang (kantor, wc, mushalla dan area wudhu). Adapun kebutuhan lahan untuk perancangan ini adalah seluas 1.110 m2 dengan Rencana Anggaran biaya sebesar Rp. 2.499.009.958,3
META ANALISIS: PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING DAN DISCOVERY LEARNING TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA SMP
Kajian mengenai pengaruh model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dan Discovery Learning (DL) terhadap hasil belajar Matematika siswa SMP telah banyak dilakukan. Namun, temuan dari berbagai penelitian terdahulu memperoleh hasil yang tidak konsisten sehingga memerlukan evaluasi komprehensif dengan menggabungkan penelitian-penelitian tersebut. Salah satu metode yang dapat menggabungkan penelitian adalah systematic review melalui pendekatan meta analisis yang memanfaatkan perhitungan dari effect size. Penelitian meta analisis bertujuan untuk mendeskripsikan pengaruh dari model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dan Discovery Learning (DL) terhadap hasil belajar Matematika siswa SMP. Data diperoleh dari penelusuran artikel jurnal dan naskah skripsi pada aplikasi Publish or Perish dalam rentang tahun 2019 sampai dengan 2023 melalui proses seleksi dengan kriteria tertentu. Adapun empat tahapan seleksi tersebut yaitu identifikasi, penyaringan, kelayakan, dan lingkup studi. Melalui aplikasi Comprehensive Meta Analysis kemudian dianalisis effect size menggunakan rumus Hedges dari enam belas artikel jurnal dan empat naskah skripsi yang terdiri dari delapan artikel jurnal model pembelajaran PBL dan empat naskah skripsi PBL serta delapan jurnal model pembelajaran DL. Berdasarkan hasil analisis diperoleh bahwa model pembelajaran PBL berpengaruh besar, sedangkan model pembelajaran DL berpengaruh sedang terhadap hasil belajar Matematika siswa SMP
META-ANALISIS: PENGARUH PEMBELAJARAN BERBASIS ETNOMATEMATIKA UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS
Etnomatematika memiliki pengaruh yang positif dalam penerapan proses pembelajaran sebagai suatu pendekatan, misalnya kemampuan pemecahan masalah. Beberapa peneliti sebelumnya telah melakukan penelitian tentang pengaruh pembelajaran berbasis etnomatematika terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis. Namun, masih banyak terdapat perbedaan atau variasi dari hasil penelitian tersebut sehingga masih terdapat keraguan mengenai dampak atau efektivitas penerapan pembelajaran berbasis etnomatematika terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pembelajaran berbasis etnomatematika terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis. Penelitian ini menggunakan penelitian meta-analisis dengan bantuan software Comprehensive Meta-Analysis (CMA). Kajian yang relevan dengan penelitian ini dicari melalui jurnal nasional dan internasional dari database SINTA sesuai dengan kata kunci yang telah ditentukan. Terdapat 100 studi yang diperoleh dari permintaan pencarian. Dipilih sebanyak 13 studi sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan oleh peneliti dengan empat jurnal internasional dan sembilan jurnal nasional. Penelitian ini menunjukkan bahwa effect size dari penerapan pembelajaran berbasis etnomatematika dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis adalah sebesar 0.634 dan termasuk dalam kategori sedang. Oleh karena itu, disimpulkan bahwa pembelajaran berbasis etnomatematika memiliki pengaruh untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis. Secara statistik, penerapan pembelajaran berbasis etnomatematika dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis juga dipengaruhi oleh jenjang pendidikan
PENGEMBANGAN SOAL BERBASIS HIGHER ORDER THINKING SKILLS UNTUK MENGUKUR KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA KELAS VIII SMP PADA MATERI BANGUN RUANG SISI DATAR
Pengembangan yang dilaksanakan ialah pengembangan soal uraian berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS) yang mengukur kompetensi berpikir kritis peserta didik Sekolah Menengah Pertama pada materi bangun ruang sisi datar. Tujuan dari pengembangan ini untuk menghasilkan soal-soal berbasis HOTS yang valid, praktis, serta reliabel dan bisa dipergunakan sebagai alat untuk mengukur kompetensi berpikir kritis peserta didik. Pengembangan ini menggunakan model Formatif Reseach menurut Tessmer dengan teknik analisis data berupa analisis kualitatif berupa saran perbaikan dari validator dan kuantitatif berupa hasil penilaian dari validator yang bertujuan untuk menganalisis validitas soal. Subjek uji coba pada studi ini ialah siswa kelas VIII B di SMPN 21 Banjarmasin yang berjumlah 31 siswa, dan objek pada penelitian ini ialah soal-soal uraian berbasis HOTS. Validitas soal dalam pengembangan ini diambil dari hasil validitas oleh dua orang dosen ahli dan satu orang guru matematika dengan memperoleh skor 3,45 yang berada pada kategori valid. Angket respon siswa memiliki hasil penilaian dengan skor 4,67 yang berada pada kategori praktis. Uji validitas empiris berdasarkan nilai hasil pengerjaan siswa memiliki koefisien reliabel tinggi dengan skor 0,765. Hasil dari pengembangan ini berupa 12 soal uraian berbasis HOTS yang bisa dipergunakan untuk mengukur kompetensi berpikir kritis peserta didik yang valid, praktis dan reliabel
PRARANCANGAN PABRIK FURFURAL DARI AMPAS TEBU (BAGASSE) KAPASITAS 8.900 TON/TAHUN
Furfural merupakan senyawa organik turunan dari golongan furan yang pengaplikasiannya luas dalam berbagai industri. Kebutuhan furfural di Indonesia meski tidak terlalu besar namun jumlahnya terus meningkat, sampai saat ini kebutuhan furfural untuk dalam negeri diperoleh dari impor negara China yang sampai saat ini masih menguasai pasar furfural didunia. Furfural dapat dihasilkan dari biomassa yang mengandung banyak pentosan, hemiselulosa, selulosa, dan lignin seperti limbah ampas tebu (bagasse). Pendirian pabrik furfural ini dperlukan untuk memenuhi kebutuhan furfural dalam negeri dan memanfaatkan limbah ampas tebu agar bernilai jual lebih. Pabrik ini dirancang dengan kapasitas produksi 8.900 ton/tahun dengan waktu operasi 330 hari dan 24 jam/hari. Furfural ini diproduksi dengan proses kontinyu dengan bahan baku ampas tebu sebanyak 22.753 kg/jam dan katalis asam berupa asam sulfat (H2SO4) dan pelarut toluena (C6H5CH3). Proses produksi terbagi menjadi 3 tahapan yaitu tahap perlakuan awal pemotongan ampas tebu dan mencapuran dengan katalis, tahap reaksi dimana terjadi reaksi hidrolisis dan dehidrasi, dan tahap pemurnian dengan metode ekstraksi dan distilasi. Lokasi pembangunan pabrik ini direncanakan di Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang, Jawa Timur dengan estimasi beroperasi pada tahun 2027. Berdasarkan hasil analisa evaluasi ekonomi pabrik furfural dengan kapasitas 8.900 ton/tahun layak didirikan dengan Pay Out Time (POT) selama 3,8 tahun, Rate of Return (ROR) sebesar 23%, dan Break Event Point (BEP) sebesar 50%
Kemampuan Bacillus spp. Dalam Meningkatkan Ketahanan Tanaman Tomat Terhadap Infeksi Virus Keriting Kuning
Tomato plants (L. esculentum Mill.) are vegetable crops. Tomato production in South Kalimantan is very low due to the attack of a plant disease, namely the yellow curly virus. Caused by the presence of the vector B. tabaci, control usually carried out by farmers is only controlling the vector with insecticides, not to control the virus. This control has negative impacts. Good control and has been widely used is biological control. Which utilizes microorganisms in tomato plants to induce resistance to yellow curly virus infection. In this study, a completely randomized design (CRD) was designed with one factor. The administration of Bacillus spp. derived from bamboo plant roots, elephant grass roots and chili roots was the factor tested. There were 5 treatments and 4 replications, The results of this study showed that the administration of Bacillus spp. derived from bamboo plant roots, elephant grass roots and chili roots, was able to induce tomato plant resistance to yellow curly virus infection. The lowest percentage of yellow curly virus attack intensity with an average (10.54%) was the tomato plants treated with Bacillus spp. derived from elephant grass roots. The average attack intensity of yellow curly virus on untreated and inoculated plants was 32.63%. The administration of Bacillus spp. from bamboo roots (T2), elephant grass roots (T3), and chili roots (T4) was shown to induce tomato plant resistance to yellow curly virus infection.Tanaman tomat (L. esculentum Mill.) merupakan tanaman sayuran. Produksi tomat di Kalimantan Selatan yang sangat rendah dikarenakan adanya serangan penyakit tanaman yaitu virus keriting kuning. Yang disebabkan oleh adanya vektor B. tabaci, pengendalian yang biasanya dilakukan oleh para petani yaitu hanya mengendalikan vektornya saja dengan insektisida tidak untuk mengendalikan virusnya. Pengendalian itu mengakibatkan dampak negatif. Pengendalian yang baik dan sudah banyak digunakan yaitu dengan cara pengendalian biologi. Yang memanfaatkan mikroorganisme pada tanaman tomat untuk menginduksi ketahanan terhadap serangan infeksi virus keriting kuning. Pada penelitian ini dirancang menggunakan rancangan acak kengkap (RAL) satu faktor. Pemberian Bacillus spp. yang berasal dari perakaran tanaman bambu, perakaran rumput gajah dan perakaran cabai sebagai faktor yang diujikan. Ada 5 perlakuan dan 4 ulangan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian Bacillus spp. yang berasal dari perakaran tanaman bambu, perakaran rumput gajah dan perakaran cabai, mampu menginduksi ketahanan tanaman tomat terhadap infeksi virus keriting kuning. Persentase intensitas serangan virus keriting kuning terendah dengan rata-rata (10,54%) yaitu tanaman tomat yang diberikan perlakuan Bacillus spp. yang berasal dari perakaran rumput gajah. Adapun persentase dari intensitas serangan oleh virus keriting kuning pada tanaman tanpa perlakuan dan diinokulasikan virus keriting kuning dengan rata-rata (32,63%). Pemberian Bacillus spp. yang berasal perakaran bambu (T2), perakaran rumput gajah (T3) dan perakaran cabai (T4) terlihat mampu menginduksi untuk ketahanan tanaman tomat oleh serangan infeksi virus keriting kuning
Identifikasi Cendawan Entomopatogen Dari Rizosfer Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis J.)
Entomopathogens are microorganisms that can cause disease in insects. Entomopathogenic fungi are one type of bioinsecticide that can kill insects by infecting them through the skin, digestive tract, spiracles and other holes. This research aims to identify entomopathogenic fungi from around oil palm plants. The method used in this research began with a survey and purposive sampling of soil samples taken at the oil palm plantation of PT Mulia Agro Permai Timur Sampit, Central Kalimantan. Samples were taken at five different points, one sample was obtained at each point at a depth of 15-20 cm. From the isolation results, five types of isolates were obtained, namely the fungi Penicillium spp., Mucor spp., Trichoderma spp., Metarhizium spp., and Beauveria spp. From the Koch Postulate test using Hong Kong caterpillar larvae (Tenebrio molitor) as test larvae which were inoculated with entomopathogenic fungi. The results showed that the five fungus isolates were able to cause death in the test larvae with different death times for each isolate.Entomopatogen merupakan mikroorganisme yang dapat menyebabkan penyakit pada serangga. Cendawan entomopatogen menjadi salah satu pilihan jenis bioinsektisida yang mampu mematikan serangga dengan menginfeksi melalui kulit, saluran pencernaan, spirakel dan lubang lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi cendawan entomopatogen dari sekitar tanaman kelapa sawit. Metode yang digunakan pada penelitian ini diawali dengan survei dan pengambilan sampel tanah secara purposive sampling yang diambil di perkebunan kelapa sawit PT Mulia Agro Permai Timur Sampit Kalimantan Tengah. Sampel diambil di lima titik berbeda, setiap titik didapatkan satu sampel di kedalaman 15-20 cm. Hasil isolasi, diperoleh lima jenis isolat yakni cendawan Penicillium spp., Mucor spp., Trichoderma spp., Metarhizium spp., dan Beauveria spp. Dari uji Postulat Koch menggunakan larva ulat Hongkong (Tenebrio molitor) sebagai larva uji yang diinokulasi dengan cendawan entomopatogen. Hasilnya menunjukkan bahwa kelima isolat cendawan tersebut mampu menyebabkan kematian pada larva uji dengan waktu kematian berbeda untuk setiap isolat
Tingkat Penggunaan Tepung Daun Indigofera (Indigofera zollingeriana) Yang Berbeda Terhadap Performans Itik Alabio (Anas Platyrhynchos, Borneo) Jantan: Different levels of use of Indigofera (Indigofera zollingeriana) leaf flour on the performance of male Alabio ducks (Anas platyrhynchos, Borneo)
This study aimed to evaluate the effects of different inclusion levels of Indigofera zollingeriana leaf meal on the production performance and economic efficiency of male Alabio ducks. The research was motivated by the need for high-quality, cost-effective local feed ingredients to reduce reliance on conventional feedstuffs. A completely randomized design was employed with five treatments (0%, 5%, 10%, 15%, 20% Indigofera leaf meal) and five replications, each with four ducks. Diets were formulated to be iso-protein (16%) and iso-caloric (±2,900 kcal/kg) and were provided ad libitum for five weeks. Results indicated that inclusion of Indigofera leaf meal up to 20% did not significantly affect feed intake, body weight gain, or feed conversion ratio. The highest final body weight was achieved at 15% inclusion (1,322 g/bird), while the highest Income Over Feed Cost was recorded at 20% inclusion (Rp 14,531.15/bird). These findings highlight a balance between biological performance and economic efficiency, where 15% is optimal for growth, while 20% is more profitable financially. This research contributes to the sustainable utilization of local alternative feed resources and provides a scientific basis for economical and efficient poultry diet formulation.
Keywords: Alabio duck, Indigofera zollingeriana, production performance, ration conversion, economic efficiencyThis study aimed to evaluate the effects of different inclusion levels of Indigofera zollingeriana leaf meal on the production performance and economic efficiency of male Alabio ducks. The research was motivated by the need for high-quality, cost-effective local feed ingredients to reduce reliance on conventional feedstuffs. A completely randomized design was employed with five treatments (0%, 5%, 10%, 15%, 20% Indigofera leaf meal) and five replications, each with four ducks. Diets were formulated to be iso-protein (16%) and iso-caloric (±2,900 kcal/kg) and were provided ad libitum for five weeks. Results indicated that inclusion of Indigofera leaf meal up to 20% did not significantly affect feed intake, body weight gain, or feed conversion ratio. The highest final body weight was achieved at 15% inclusion (1,322 g/bird), while the highest Income Over Feed Cost was recorded at 20% inclusion (Rp 14,531.15/bird). These findings highlight a balance between biological performance and economic efficiency, where 15% is optimal for growth, while 20% is more profitable financially. This research contributes to the sustainable utilization of local alternative feed resources and provides a scientific basis for economical and efficient poultry diet formulation.
Keywords: Alabio duck, Indigofera zollingeriana, production performance, ration conversion, economic efficienc
Kualitas Semen Beku Kambing Peranakan Etawa yang Dikriopreservasi Menggunakan Pengencer Tris Kuning Telur dengan Penambahan Ekstrak Bunga Rosella
This study aimed to evaluate the effect of adding roselle (Hibiscus sabdariffa L.) flower extract to Tris-egg yolk extender on the post-thaw motility and viability of frozen semen from Etawah crossbred (PE) goats. The research was conducted from April to June 2025 at the Abadi Maju Farmers Group and the Animal Reproduction Laboratory, Faculty of Agriculture, Lambung Mangkurat University, Banjarbaru. Semen was collected from four PE goat bucks and diluted with Tris-egg yolk extender supplemented with roselle extract at concentrations of 0% (P0/control), 1% (P1), 3% (P2), and 5% (P3). The study used a completely randomized design with four replications per treatment. Data were analyzed using ANOVA or Kruskal-Wallis test depending on data distribution. The results showed that the addition of roselle extract had no significant effect (P>0.05) on post-thaw motility or viability. However, descriptively, P2 (3%) exhibited the highest motility (47.50%) and viability (52.00%) compared to other treatments. These findings suggest that supplementation with 3% roselle extract in Tris-egg yolk extender tends to better preserve the motility and viability of frozen semen in PE goats. Further research is needed to optimize the concentration and evaluate its effect on fertility.
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh penambahan ekstrak bunga rosella (Hibiscus sabdariffa L.) pada pengencer tris kuning telur terhadap motilitas dan viabilitas semen beku kambing Peranakan Etawa (PE) pasca-thawing. Penelitian dilaksanakan pada bulan April hingga Juni 2025 di Kelompok Ternak Abadi Maju dan Laboratorium Reproduksi Ternak, Fakultas Pertanian, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru. Semen dikoleksi dari empat ekor kambing PE jantan dan diencerkan dengan pengencer tris kuning telur yang disuplementasi ekstrak bunga rosella pada konsentrasi 0% (P0/kontrol), 1% (P1), 3% (P2), dan 5% (P3). Rancangan penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan empat ulangan setiap perlakuan. Data dianalisis menggunakan ANOVA atau uji Kruskal-Wallis sesuai distribusi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan ekstrak rosella tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap motilitas dan viabilitas pasca-thawing. Namun secara deskriptif, P2 (3%) menunjukkan nilai motilitas (47,50%) dan viabilitas (52,00%) tertinggi dibandingkan perlakuan lainnya. Hasil ini mengindikasikan bahwa suplementasi 3% ekstrak bunga rosella dalam pengencer tris kuning telur cenderung lebih mampu mempertahankan kualitas semen beku kambing PE. Penelitian lanjutan diperlukan untuk mengoptimalkan konsentrasi dan mengevaluasi pengaruhnya terhadap tingkat kebuntingan
Pengaruh Bobot Benih dan Pemotongan Ujung Benih terhadap Pertumbuhan dan Hasil Bawang Dayak (Eleutherine palmifolia (L.) Merr)
Penelitian mengenai pengaruh bobot benih dan pemotongan ujung benih terhadap pertumbuhan dan hasil bawang dayak (Eleutherine palmifolia (L.) Merr) telah dilaksanakan di lahan Komplek Cempaka Sari, Kelurahan Cempaka, Kecamatan Cempaka, Banjarbaru, Kalimantan Selatan pada bulan April sampai Agustus 2019. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) faktorial dengan 2 faktor perlakuan yang terdiri dari faktor bobot benih (bobot ukuran kecil, sedang dan besar) dan faktor pemotongan ujung benih (tanpa pemotongan, pemotongan ¼ bagian dan pemotongan ½ bagian) dan diulang sebanyak 3 kali ulangan sehingga diperoleh 27 satuan percobaan. Adapun parameter yang diamati pada penelitian ini adalah tinggi tanaman (cm), pertambahan tinggi tanaman (cm), jumlah daun (helai), pertambahan jumlah daun (helai), waktu munculnya bunga (hst), jumlah anakan (siung), jumlah umbi per rumpun (siung), bobot total segar umbi (g) dan bobot total kering umbi (g). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa interaksi perlakuan yang menggunakan berbagai bobot benih dan pemotongan ujung benih tidak menghasilkan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan hasil bawang dayak. Perlakuan tunggal pemotongan ujung benih berpengaruh nyata terhadap jumlah daun (35, 91, 105, dan 119 hst) dan pertambahan jumlah daun, selain itu berpengaruh sangat nyata terhadap jumlah anakan, jumlah umbi per rumpun, dan bobot total kering umbi. Perlakuan pemotongan ujung benih menghasilkan pertumbuhan dan hasil bawang dayak terbaik pada pemotongan ½ bagian umbi