Jurnal Tugas Akhir Mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat (ULM)
Not a member yet
1492 research outputs found
Sort by
PENGARUH LATIHAN KAYANG BERPUTAR DAN BACK UP TERHADAP KELENTUKAN PINGGANNG DALAM TEKNIK MENGGULUNG PESERTA EKSTRAKURIKULER GULAT DI SMPN 10 BANJARBARU
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan apakah latihan kayang berputar dan back-up mempengaruhi kelentukan pinggang siswa yang berpartisipasi dalam gulat ekstrakurikuler di SMPN 10 Banjarbaru. Penelitian dilakukan untuk mengetahui apakah ada dampak setelah memberikan perawatan sebanyak 16 kali kepada 9 peserta ekstrakurikuler. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif. Mereka membuat desain pretest-posttest untuk satu kelompok, menggunakan metode tes, dan melakukan perlakuan dengan sampling purposive sebanyak 9 orang.Hasil penelitian menunjukkan bahwa latihan kayang berputar dan back up di SMPN 10 Banjarbaru meningkatkan kelentukan pinggang peserta ekstrakurikuler gulat
DESAIN FOOD COURT DI KOTA BANJARBARU
Culinary is one of the attractions of the community which has experienced a lot of development to the phenomenon of hanging out culture which is currently a trend in Banjarbaru City. However, due to the absence of a place to accommodate this, a place was created in the form of a Food Court. The design of the Food Court in Banjarbaru City is the answer to this problem with the Third Place Method as a method of solving it which aims as a forum for visitors to carry out certain activities or relax while enjoying culinary delights. The concept applied is Communal Dining Place, which means a space that accommodates social activities and is used for the whole community or community. This concept is based on the actors in this design by considering the settings that are influenced by three elements, namely humans as the subject of actors, activities and human thoughts with different needs.Kuliner menjadi salah satu daya tarik masyarakat yang banyak mengalami perkembangan hingga fenomena budaya nongkrong yang saat ini sedang menjadi tren di Kota Banjarbaru. Namun dikarenakan belum adanya tempat untuk mewadahi hal tersebut, sehingga dibuat sebuah tempat berupa Food Court. Desain Food Court di Kota Banjarbaru merupakan jawaban atas permasalahan tersebut dengan Metode Tempat Ketiga sebagai metode penyelesaiannya yang bertujuan sebagai wadah bagi pengunjung untuk melakukan kegiatan tertentu maupun bersantai sambil menikmati kuliner. Konsep yang diterapkan adalah Communal Dining Place yang artinya ruang yang mewadahi kegiatan sosial dan digunakan untuk suatu komunitas atau masyarakat. Konsep ini didasarkan pada pelaku dalam perancangan ini dengan mempertimbangkan situasi yang dipengaruhi oleh tiga faktor: manusia sebagai aktor subjek, aktivitas, dan pemikiran manusia dengan kebutuhan yang berbeda
KAWASAN GALERI BUDAYA SUNGAI DI BANJARBARU
The lack of cultural tourism in Banjarbaru is concerned to reduce public interest in culture, which is likely to cause the loss of the culture itself. Therefore, the government of Banjarbaru is planning the construction of the Embung Lokudat Green Open Space (RTH), where one of the goals of the development of this open space is to become a tourist destination based on cultural education in South Kalimantan. In the Embung Lokudat green open space, it is necessary to have a supporting area to better reflect the culture of South Kalimantan, where South Kalimantan is identical to the Banjar Tribe, and the Banjar Tribe community has a life that is closely related to the river. The River Culture Gallery area is very suitable to be used as a supporting area for Embung Lokudat Green Open Space because the River Culture Gallery has the function of preserving the river, storing evidence of river culture, and introducing river culture to the public. The design method used is a Responsive Environment with the application of the Story Telling concept to create an interesting and educative River Culture Gallery Area..Kurangnya wisata budaya di Banjarbaru dikhawatirkan dapat mengurangi minat masyarakat terhadap kebudayaan, yang kemungkinan akan menyebabkan hilangnya budaya tersebut. Oleh karena itu pemerintah Kota Banjarbaru sedang merencanakan pembangunan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Embung Lokudat, dimana salah satu tujuan dari pembangunan RTH ini adalah menjadi destinasi wisata berbasis edukasi kebudayaan Kalimantan Selatan. Pada RTH Embung Lokudat ini diperlukan adanya kawasan penunjang agar lebih mencerminkan tentang budaya Kalimantan Selatan, dimana Kalimantan Selatan identik dengan Suku Banjar, dan masyarakat Suku Banjar memiliki kehidupan yang berkaitan erat dengan sungai. Kawasan Galeri Budaya Sungai sangat cocok dijadikan kawasan penunjang RTH Embung Lokudat karena Galeri Budaya Sungai memiliki fungsi melestarikan sungai, menyimpan bukti budaya sungai, serta memperkenalkan budaya sungai kepada masyarakat. Metode perancangan yang digunakan adalah Responsive Environment dengan penerapan konsep Story Telling untuk menciptakan Kawasan Galeri Budaya Sungai yang menarik dan edukatif
REDESAIN TERMINAL TIPE B KM. 6 KOTA BANJARMASIN DENGAN MENGOPTIMALKAN SIRKULASI
The background for the redesign of Terminal Type B km.6 in the city of Banjarmasin is thedevelopment plan and the current condition of the terminal. The current condition of the terminal hasproblems with facilities and circulation, where facilities at the terminal are difficult to identify, and arenot functioning properly. Circulation at the terminal often experiences crossing, this is due to unclearvehicle paths and leakage of human circulation in buildings. The purpose of redesign is to obtain anew design of the terminal, which meets the criteria, facilities and circulation with minimal crossings.The method used in this redesign is the behavioral architectural approach, which addresses theinteraction between humans and public spaces. The concept raised is interaction, where this conceptpays attention to spatial planning and circulation. The elaboration of the concept uses thesuperimpose method, which creates layers related to the concept on the layering which will becombined to create a new design. The result of this redesign is a terminal design that meets thecriteria as a type B terminal, and has regular circulation without crossing.Redesain Terminal Tipe B km.6 kota Banjarmasin dilatarbelakangi rencana pengembangan,dan kondisi dari terminal saat ini. Kondisi terminal saat ini memiliki permasalahan pada fasilitas, dansirkulasi, dimana fasilitas pada terminal sulit untuk diidentifikasi, dan tidak berfungsi dengan baik.Sirkulasi pada terminal sering mengalami crossing, hal ini dikarenakan ketidak jelasan jalurkendaraan serta kebocoran sirkulasi manusia pada bangunan. Tujuan redesain adalah memperolehdesain baru dari terminal, yang memenuhi kriteria, fasilitas, dan sirkulasi yang minim terjadi crossing.Metode yang digunakan pada redesain ini yaitu pendekatan arsitektur perilaku, yang membahasinteraksi antara manusia dengan ruang publik. konsep yang diangkat yaitu interaction, dimanakonsep ini memperhatikan penataan ruang, dan sirkulasi. Penjabaran konsep menggunakan metodesuperimpose, dimana menciptakan layer yang berkaitan dengan konsep pada layering tersebut akandigabungkan untuk menciptakan rancangan yang baru. Hasil dari redesain ini adalah sebuah desainterminal yang memenuhi kriteria sebagai terminal tipe B, dan memiliki sirkulasi yang teratur tanpaterjadinya crossing
ARENA AIRSOFT GUN DI KABUPATEN TANAH LAUT
Pelaihari sub-district is one of the sub-districts in Tanah Laut Regency which is the center of government and offices for the regional government. Pelaihari sub-district is the most developed sub-district in Tanah Laut Regency. The tourism sector in Pelaihari District is very well developed, people outside Pelaihari make Pelaihari a tourist destination during holidays or weekends. Airsoft guns are replicas of firearms that are now used as sports equipment. Airsoft gun hobbyists realize the battlefield by shooting between teams. Strategizing or just getting an adrenaline rush is the goal of the airsoft gun game. Airsoft gun has now become a recreational sport which means that airsoft gun can be used as a tourist destination. Although classified as an extreme sport, airsoft gun can be a family-friendly tourist destination if it is equipped with good facilities and uses the right scenario.Kecamatan Pelaihari adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Tanah Laut yang merupakan pusat pemerintahan dan perkantoran untuk pemerintahan daerah. Kecamatan Pelaihari merupakan kecamatan yang paling berkembang di Kabupaten Tanah Laut . Sektor wisata di Kecamatan Pelaihari berkembang sangat baik, masyarakat luar Pelaihari menjadikan Pelaihari sebagai tujuan wisata ketika hari libur atau akhir pekan. Airsoft gun adalah replika senjata api yang sekarang digunakan sebagai alat olahraga. Penghobi airsoft gun merealisasikan medan perang dengan beradu tembak antar tim. Beradu strategi atau sekedar memacu adrenalin merupakan tujuan dari permainan airsoft gun. Airsoft gun saat ini telah menjadi olahraga rekreasi yang artinya airsoft gun dapat dijadikan sebagai tujuan destinasi wisata. Meski tergolong sebagai olahraga ekstrim airsoft gun bisa menjadi destinasi wisata yang ramah keluarga jika dilengkapi dengan fasilitas yang baik dan menggunakan skenario yang tepat
PERANCANGAN PASAR BARU MARABAHAN
Marabahan City is the capital city of Barito Kuala which is also the center of government and economy, seen from the arrangement of the city between the government and the community's economic center located in the market. Marabahan City also gets the motto of the word Bahalap (beautiful) contrary to the existence of market arrangements and lacking facilities for the community where the source of the economy for most of the people of the Marabahan city are farmers and traders.For the arrangement of the city of Marabahan with the market design for the community with facilities and analysis based on the environmental situation of the city of Marabahan using a behavioral architectural approach with the Behavior setting method. Which combines two aspects, namely between the environment and people's behavior.The result of the design of the new Marabahan market is the existence of stalls for retail traders and the arrangement of stalls and shops and even the layout of the motorcycle parking lot which used to use the main road.ABSTRAK
Kota Marabahan adalah ibu kota Barito Kuala yang sekaligus menjadi pusat pemerintahan dan perekonomian dilihat dari penataan kotanya antara pemerintahan dan pusat perekonomian masyarakat terletak di pasar, Kota marabahan juga mendapat semboyan kata Bahalap (cantik) , namun penataan pasar yang ada terlihat kumuh yang membuat semboyan tersebut bertolak belakang dengan adanya penataan pasar dan fasilitas yang kurang untuk para masyarakat dimana sumber perekonomian kebanyakan masyarakat kota marabahan adalah petani dan pedagang.Untuk penataan kota Marabahan dengan adanya perancangan pasar untuk masyarakat dengan fasilitas dan analisis berdasarkan situasi lingkungan kota marabahan menggunakan pendekatan arsitektur perilaku dengan metode Behavior setting. Yang menggabungkan dua aspek yaitu antara lingkungan dan perilaku masyarakat.Hasil dari perancangan pasar baru marabahan adalah adanya lapak untuk para pedagang eceran dan penataan kios dan toko bahkan menata tata letak parkir motor yang dulunya menggunakan jalan raya
DESAIN AREA DERMAGA APUNG SEBAGAI PENUNJANG WISATA DI BANUA ANYAR BANJARMASIN
The geographical location of the Martapura river basin in Banua Anyar Village is quite strategic, moreover, this area is one of the tourist areas in Banjarmasin which is also the target of developing a tourist area by the South Kalimantan Environmental Service in the Martapura Asri River program. However, currently, there is a lack of supervision and maintenance, resulting in many river problems and public facilities that are not functioning properly in the culinary tourism area on the Martapura River. Existing facilities are considered not yet available to solve river problems and do not meet the needs of visitors so the design of tourist river support facilities is to meet the needs of visitors. Writing aims to design a floating pier at the location of the river access center on the banks of the Martapura river in Banua Anyar Village. Through direct observation surveys and documentation at the wharf design location as the basis for the design. The approach applied is an environmentally friendly architecture (Green Architecture) with eco enzymes as a mixed medium in river waste around the wharf. Designers are focused on the functional form and structural strength of disaster response in river watersheds so that they can more easily implement designs that are following river problems in the surrounding area. The results of this writing formulate the overlapping concept of the functions of public facilities between the problems of overcoming the density of land health insurance routes and environmental pollution due to residents' waste. The planned facilities include 1) a Floating Pier as an area of the main function of the river bank; 2) Providing space facilities for washing clothes as well as environmentally friendly public toilets; 3) Developing and improving the area around the site by updating other facilities.Letak geografis siring sungai Martapura di Kelurahan Banua Anyar cukup strategis, terlebih lagi kawasan ini sebagai salah satu kawasan wisata di Banjarmasin yang juga sebagai sasaran pengembangan kawasan wisata oleh Dinas Lingkungan Hidup Kalimantan Selatan dalam program Sungai Martapura Asri. Namun sekarang ini kurang pengawasan dan perawatan, sehingga mengakibatkan banyak permasalahan sungai dan fasilitas umum yang kurang berfungsi dengan baik pada area tempat wisata kuliner di Sungai Martapura. Fasilitas yang ada dinilai belum ada untuk menyelesaikan permasalahan sungai dan kurang memenuhi kebutuhan pengunjung, sehingga dengan desain fasilitas penunjang sungai wisata agar dapat memenuhi kebutuhan pengunjung. Penulisan bertujuan untuk merancang desain dermaga apung pada lokasi pusat akses sungai di bantaran sungai Martapura di Kelurahan Banua Anyar. Melalui survei pengamatan langsung dan dokumentasi pada lokasi desain dermaga sebagai landasan perancangan. Pendekatan yang diterapkan adalah arsitektur yang ramah lingkungan (Green Architecture) dengan eco enzim sebagai media campuran pada limbah sungai sekitar dermaga. Perancang difokuskan dalam wujud fungsional dan kekuatan structural tanggap bencana pada lahan air sungai sehingga dapat lebih mudah implementasikan desain rancangan yang sesuai dengan permasalahan sungai area sekitar. Hasil penulisan ini merumuskan konsep tumpang tindih dari fungsi fasilitas umum antara permasalahan mengatasi kepadatan jalur akses darat dan pencemaran lingkungan akibat limbah warga sekitar. Fasilitas yang direncanakan antara lain: 1) Dermaga Apung sebagai luasan area dari fungsi utama tepi sungai; 2) Menyediakan fasilitas ruang untuk sarana mencuci pakaian sekaligus wc umum ramah lingkungan; 3) Mengembangkan dan meningkatkan area sekitar pada site dengan memperbarui fasilitas lain. 
PERANCANGAN CO-WORKING SPACE DENGAN PENERAPAN FLEKSIBILITAS RUANG DI KOTA YOGYAKARTA
Creative economy has become an integral part of the global economy today. In Indonesia, particularly in the city of Yogyakarta, the creative industry and economy are experiencing rapid growth, especially in the startup sector. However, many startup entrepreneurs face challenges in having their own offices and choose to work from places such as homes, cafes, or rented accommodations to develop their businesses. This is mainly due to the high cost of office rentals, long lease terms, and limited flexibility. In this context, Co-working Spaces are considered an ideal solution because they offer affordable rental costs and are accessible to various types of businesses. Furthermore, Co-working Spaces should provide a conducive environment for various activities in the digital creative economy, particularly in the context of startup business development. Therefore, there is a need to design a Co-working Space in Yogyakarta that offers a high level of spatial flexibility to facilitate collaboration and networking among industry players. The design incorporates the concept of spatial flexibility using the superimposition method, where architectural elements that form the space are separated and rearranged randomly to create three types of relationships: reciprocity, disregard, and contradiction. These three relationships are implemented to achieve optimal spatial flexibility and address the challenges in designing a Co-working Space in Yogyakarta.ABSTRAK
Industri ekonomi kreatif telah menjadi bagian penting dalam perekonomian global saat ini. Di Indonesia, terutama di Kota Yogyakarta, sektor industri dan ekonomi kreatif sedang mengalami pertumbuhan yang pesat, terutama dalam bidang startup. Namun, masih banyak pelaku startup yang menghadapi kendala dalam memiliki kantor sendiri dan memilih untuk bekerja dari tempat-tempat seperti rumah, kafe, atau kos untuk mengembangkan bisnis mereka. Hal ini disebabkan oleh biaya sewa kantor yang tinggi, jangka waktu sewa yang panjang, dan keterbatasan fleksibilitas yang ada. Dalam konteks ini, Co-working Space dianggap sebagai solusi yang ideal karena biaya sewanya terjangkau dan dapat diakses oleh berbagai jenis usaha. Selain itu, Co-working Space seharusnya dapat memberikan wadah bagi berbagai aktivitas di industri ekonomi kreatif digital, terutama dalam hal pengembangan bisnis startup. Oleh karena itu, perlu dirancang sebuah Co-working Space di Kota Yogyakarta yang menawarkan tingkat fleksibilitas ruang yang baik guna memfasilitasi kolaborasi dan jaringan antara para pelaku industri. Dalam perancangan tersebut, digunakan konsep fleksibilitas ruang dengan menerapkan metode superimposisi, dimana unsur-unsur arsitektur yang membentuk ruang dipisahkan dan kemudian disusun kembali secara acak untuk membentuk tiga jenis hubungan, yaitu timbal balik, saling mengabaikan, dan bertentangan. Ketiga jenis hubungan ini diaplikasikan guna mencapai fleksibilitas ruang yang optimal dan mengatasi permasalahan yang muncul dalam perancangan Co-working Space di Kota Yogyakarta
PRARANCANGAN PABRIK LIQUEFIED NATURAL GAS (LNG) DARI COAL BED METHANE (CBM) DENGAN KAPASITAS 25 MMSCFD/TAHUN
Untuk mencapai keberlangsungan kebutuhan energi di Indonesia, dibutuhkan sumber energi alternatif untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil yang tiap tahunnya semakin berkurang. Salah satunya dengan menggunakan energi alternatif Liquefied Natural Gas (LNG) dari Coal Bed Methane (CBM). Terdapat tahapan proses produksi LNG dari CBM yaitu dehydration unit, acid gas removal unit, fractination unit dan refrigeneration and liquefaction unit. Pabrik ini dirancang dengan kapasitas produksi sebesar 25 MMSCFD/Tahun dengan waktu operasi 330 hari/tahun. Bahan baku yang dibutuhkan yaitu CBM sebanyak 31.0205838 MMSCFD. Proses yang dipilih dalam pembuatan LNG pada pabrik ini adalah proses adsorpsi. Pemilihan proses dilakukan dengan pertimbangan dapat menghilangkan kandungan air dan merkuri hingga batas maksimum kurang dari 10 ppm, hal ini sesuai dengan spesifikasi produk yang diinginkan. Pabrik ini akan beroperasi di KEK Tanjung Api-Api, Kab. Banyuasin, Sumatera Selatan dengan estimasi mulai beroperasi pada 2030. Berdasarkan hasil evaluasi analisa ekonomi, dapat disimpulkan bahwa pendirian pabrik LNG dari limbah CBM dengan kapasitas 25 MMSCFD/Tahun layak didirikan dengan rincian Pay Out Time (POT) 3,09 tahun, Internal Rate of Return (IRR) 28.4% dan Break Event Point (BEP) sebesar 43.56%.
Kata Kunci : Liquefied Natural Gas, Coal Bed Methane, Adsorps
STATUS MUTU AIR PADA KERAMBA JARING APUNG DI PERAIRAN DESA SUNGAI LANDAS, KECAMATAN MARTAPURA, KABUPATEN BANJAR, PROVINSI KALIMANTAN SELATAN: WATER QUALITY STATUS IN FLOATING NET CAGES IN THE WATERS OF SUNGAI LANDAS VILLAGE, MARTAPURA DISTRICT, BANJAR DISTRICT, SOUTH KALIMANTAN PROVINCE
Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sungai Landas, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan, pada periode bulan Juli hingga Desember 2023. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis keadaan mutu air di perairan Desa Sungai Landas yang digunakan untuk kegiatan budidaya keramba jaring apung (KJA). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Storet, diimplementasikan pada dua stasiun pengamatan untuk mengumpulkan data kualitas air. Standar mutu air disesuaikan dengan tujuan penggunaannya untuk menentukan status mutu air. Empat parameter kualitas air yang diukur melibatkan suhu, pH, tingkat oksigen terlarut (DO), dan kandungan amoniak. Hasil yang didapatkan dalam penelitian dengan 2 stasiun yang diamati menunjukkan bawa perairan di Desa Sungai Landas tercemar ringan. Pengukuran parameter pada stasiun 1 minggu pertama yaitu suhu 31,70oC, pH 6,43, DO 5,30, amoniak 0,49, pada minggu kedua yaitu suhu 28,9oC, pH 6,83, DO 7,00, amoniak 0,17. Pengukuran parameter pada stasiun 2 minggu pertama yaitu suhu 29,4oC, pH 6,64, DO 3,2, amoniak 0,29, sedangkan minggu kedua didapatkan hasil suhu 30,1oC, pH 6,82, DO 4,2, amoniak 0,22.
This research was conducted in Sungai Landas Village, Karang Intan District, Banjar Regency, South Kalimantan Province from July to December 2023 with the aim to be achieved, namely analyzing the water quality status of the waters of Sungai Landas village which is used for floating net cage (KJA) cultivation activities. In order to ascertain the current state of water quality, this study used the Storet technique at two different observation sites to collect data using water quality criteria that had been altered for their intended purpose. Water quality is evaluated by measuring four parameters: temperature, pH, dissolved oxygen, and ammonia. The results obtained in research with 2 stations observed showed that the waters in Sungai Landas Village were lightly polluted. The parameters measured at station 1 in the first week were temperature 31.70oC, pH 6.43, DO 5.30, ammonia 0.49, in the second week the temperature was 28.9oC, pH 6.83, DO 7.00, ammonia 0, 17. Parameter measurements at the station for the first 2 weeks were temperature 29.4oC, pH 6.64, DO 3.2, ammonia 0.29, while in the second week the results obtained were temperature 30.1oC, pH 6.82, DO 4.2, ammonia 0 .22