Jurnal Tugas Akhir Mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat (ULM)
Not a member yet
    1492 research outputs found

    PRARANCANGAN PABRIK ALUMINIUM SULFAT DARI BAUKSIT DAN ASAM SULFAT DENGAN PROSES DORR KAPASITAS 50.000 TON/TAHUN

    Get PDF
    Aluminium sulfat berasal kata alum atau dalam bahasa latin disebut alumen. Aluminium sulfat atau senyawa yang memiliki rumus molekul Al2(SO4)3 lebih dikenal dengan tawas merupakan salah satu bahan kimia yang sangat diperlukan dalam industri pengolahan air. Selain itu aluminium sulfat juga banyak digunakan dalam industri kertas untuk mengatur pewarnaan kertas pada serat kertas, pengawetan biji, dan penghilang bau minyak mineral. Selama ini, sebagian besar kebutuhan aluminium sulfat diimpor dari luar negeri seperti dari Singapura dan Australia dengan harga yang cukup mahal, sedangkan kebutuhannya cukup banyak. Perkembangan penduduk Indonesia yang semakin pesat dan penggunaan air semakin banyak menyebabkan penggunaan aluminium sulfat juga semakin meningkat. Oleh karena itu, produksi aluminium sulfat sangatlah penting untuk mengatasi kekurangan dan mengurangi impor dari luar negeri. Pendirian pabrik ini diutamakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Pabrik ini direncanakan beroperasi selama 330 hari/tahun dengan kapasitas produk aluminium sulfat sebesar 50.000 ton/tahun dan rencana didirikan pada tahun 2027. Bahan baku utama yang diperlukan adalah bauksit yang dibeli dari hasil tambang bauksit di Kalimantan Barat. Pabrik akan didirikan di daerah Mempawah, Siantan hilir, Pontianak, Kalimantan Barat dimana lokasi tersebut dekat dengan sumber air serta akses yang memadai. Proses yang digunakan untuk pembuatan aluminium sulfat adalah aluminium sulfat dari bauksit dan asam sulfat. Adapun reaktor yang digunakan yaitu Reaktor Alir Tangki Berpengaduk (RATB) dan reaksi bersifat eksotermis (mengeluarkan panas). Produk yang keluar reaktor selanjutnya didinginkan di cooler lalu di masukkan ke settling tank , dengan penambahan BaS berfungsi untuk mereduksi Fe2(SO4)3 dan penambahan flake glue untuk membentuk flok-flok agar mudah mengendap. Kemudian dari settling tank di pompa menuju spray dryer untuk pengeringan. Setelah kering, kemudian dimasukkan kedalam cyclone. Dari cyclone kemudian didinginkan di cooling conveyor, lalu diseragamkan ukuran melalui ball mill dan screen yang selanjutnya dibawa menggunakan bucket elevator dan di tampung didalam bin aluminium sulfat, kemudian dilakukan pengepakan lalu disimpan didalam gudang. Pemasaran aluminium sulfat diutamakan untuk konsumsi dalam negeri. Bentuk perusahaan berupa Perseroan Terbatas (PT) dengan sistem organisasi line dan staff. Sistem kerja karyawan berdasarkan pembagian menurut jam kerja yang terdiri dari shift dan non-shift dengan tenaga kerja yang dibutuhkan sebanyak 151 orang. Adapun hasil analisa ekonomi memberikan hasil investasi modal total (TCI) adalah Rp 141.177.193.396,44 dan diperoleh hasil penjualan yaitu sebesar Rp 210.264.499.560,30. Selain itu diperoleh juga Return of Investment (ROI) seblelum pajak sebesar 38% dan Return of Investment (ROI) setelah pajak sebesar 25%. Pay Out Time (POT) sebelum pajak yaitu 2,2 tahun dan Pay Out Time setelah pajak yaitu 3,0 tahun. Sehingga diperoleh Break Event Point (BEP) sebesar 56% dan Shut Down Point (SDP) sebesar 28%. Berdasarkan pertimbangan hasil evaluasi tersebut maka pabrik aluminium sulfat dengan kapasitas 50.000 ton/tahun ini layak dikaji lebih lanjut.  Kata Kunci: Aluminium sulfat, bauksit, asam sulfat, RAT

    PRA RANCANGAN PABRIK BIOGAS DARI PALM OIL MILL EFFLUENT (POME) DENGAN KAPASITAS 12.000 TON/TAHUN

    Get PDF
    Biogas merupakan gas yang terbentuk secara alamiah melalui proses fermentasi anaerobik yang salah satu bahan bakunya dari limbah cair kelapa sawit atau dikenal sebagai POME (Palm Oil Mill Effluent). POME merupakan polutan dari industri kelapa sawit yang paling banyak menimbulkan masalah lingkungan karena kandungan senyawa organiknya tinggi di atas baku mutu. POME yang tidak diolah dapat melepaskan CH4 dan CO2 ke atmosfer dalam bentuk gas rumah kaca (GRK) yang menyebabkan peningkatan suhu permukaan bumi sehingga mempengaruhi komunitas biotik bumi. Penanganan lebih lanjut perlu dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut dengan mengolah POME menjadi biogas. Pembentukan biogas menggunakan metode fermentasi anaerobik selama 4 hari dan dimurnikan menggunakan chemical absorbtion pelarut monoethanolamine (MEA). Perancangan pabrik biogas dengan bahan baku POME akan didirikan pada tahun 2025 dengan kapasitas produksi 12.000 ton/tahun. Lokasi pabrik direncanakan berada di daerah Sebawi, Kab. Sambas, Kec. Sebawi, Kalimantan Barat dengan luas area 59.620 m2. Tenaga kerja yang diperlukan sebanyak 140 pekerja dengan perusahaan berbentuk Perseroan Terbatas (PT) yang menerapkan sistem organisasi line and staff. Berdasarkan analisa ekonomi, diperoleh Annual Cash Flow (ACF) sebesar 30%, Pay Out Time (POT) sebesar 3,7 tahun, Rate Of Return (ROR) sebesar 21,38%, Discounted Cash Flow (DCF) sebesar 28,1%, dan Break Even Point (BEP) sebesar 54,9%, sehingga pabrik layak didirikan.  Kata kunci : biogas, fermentasi anaerobik, palm oil mill effluent (POME

    IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN PROJECT BASED LEARNING PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA SMP/MTS

    Get PDF
    Penggunaan model pembelajaran yang kurang tepat saat kegiatan belajar mengajar dapat menimbulkan kebosanan, pembelajaran yang monoton dan kurang dipahami oleh siswa, sehingga siswa kurang termotivasi untuk belajar. Hal tersebut dapat menimbulkan banyak ketidakpahaman pada siswa dan berdampak pada hasil belajar siswa. Oleh karena itu, dibutuhkan variasi dalam kegiatan belajar mengajar, salah satunya melalui model pembelajaran Project based learning (PjBL). Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan proses implementasi model pembelajaran PjBL pada pembelajaran matematika pada pokok bahasan statistika. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif. Subjek dalam penelitian ini adalah 30 siswa yang terdiri dari 17 siswa laki-laki dan 13 siswa perempuan dari kelas VIII D di SMPN 15 Banjarmasin. Objek pada penelitian ini adalah proses pembelajaran matematika dan hasil belajar siswa setelah dibelajarkan dengan model pembelajaran PjBL. Teknik pengambilan data yang dilakukan yaitu melalui observasi keterlaksanaan RPP, observasi aktivitas siswa, tes hasil belajar siswa dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan persentase untuk keterlaksanaan RPP dan statistik deskriptif untuk mendeskripsikan hasil belajar siswa. Berdasarkan hasil penelitian yang sudah dilaksanakan dapat diambil kesimpulan bahwa implementasi model pembelajaran PjBL dalam pembelajaran matematika pada pokok bahasan statistika berada pada kriteria baik dengan persentase 79,29% dan hasil belajar siswa berada pada kategori baik dengan nilai akhir 69,26

    PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK (LKPD) PADA MATERI POLA BILANGAN BERBASIS MASALAH KONTEKSTUAL BUDAYA BANJAR KELAS VIII SMP/MTS

    Get PDF
    Kurangnya ketersediaan bahan ajar matematika di sekolah yang mengaitkan dengan masalah kontekstual membuat para peserta didik kesulitan dalam memahami konsep suatu materi. Bahan ajar berupa LKPD yang digunakan juga tidak terdapat satupun yang mengaitkan materi dengan kebudayaan Banjar. Salah satu solusi untuk meningkatkan pemahaman konsep matematika adalah dengan menyediakan bahan ajar berupa Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) berbasis masalah kontekstual budaya Banjar. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan LKPD pada materi pola bilangan berbasis masalah kontekstual budaya Banjar kelas VIII SMP/MTs yang valid, praktis, dan efektif. Penelitian ini menggunakan metode penelitian pengembangan model Plomp yang terdiri dari empat tahap, yaitu investigasi awal, desain, realisasi/konstruksi, serta  tes, evaluasi, dan revisi. Uji coba dilakukan kepada 31 peserta didik kelas VIII E SMPN 24 Banjarmasin. Teknik pengumpulan data menggunakan instrumen validasi ahli, angket respon peserta didik, dan tes hasil belajar. Berdasarkan uji validitas oleh dua validator diperoleh rerata sebesar 3,22 dengan kriteria valid. Berdasarkan angket respon peserta didik diperoleh 3,32 dengan kriteria praktis. Berdasarkan tes hasil belajar diperoleh lebih dari 80% peserta didik mencapai nilai lebih dari sama dengan 75 sehingga dinyatakan efektif. Dengan demikian, dihasilkan LKPD pada materi pola bilangan berbasis masalah kontekstual budaya Banjar kelas VIII SMP/MTs yang valid, praktis, dan efektif

    STRUKTUR KOMUNITAS PLANKTON PADA KOLAM TANAH DAN KOLAM BETON BUDIDAYA IKAN NILA (Oreochromis niloticus, Linnaeus) DI UPTD-PBAPL KARANG INTAN, DESA JINGAH HABANG KECAMATAN KARANG INTAN KABUPATEN BANJAR, KALIMANTAN SELATAN: STRUCTURE OF THE PLANKTON COMMUNITY IN LAND AND CONCRETE POOLS FOR TILAPIA FISH (Oreochromis niloticus, Linnaeus) CULTIVATION AT UPTD-PBAPL KARANG INTAN, JINGAH HABANG VILLAGE, KARANG INTAN DISTRICT, BANJAR DISTRICT, SELATAN KALIMANTAN

    Get PDF
    Ikan Nila (Oreochromis niloticus, Linnaeus) merupakan ikan konsumsi yang memiliki tingkat pertumbuhan cepat dan mudah dikembangbiakkan dalam budidaya serta tahan terhadap perubahan kondisi lingkungan yang salah satu pakannya diambil dari pakan alami yaitu plankton. Oleh karena itu, ikan nila biasanya dibudidayakan oleh masyarakat dengan media kolam, baik kolam tanah dan kolam beton. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui struktur komunitas plankton pada kolam tanah dan kolam beton budidaya ikan nila, mengetahui kesesuaian kualitas air pada kolam budidaya ikan nila untuk kehidupan plankton dan mengetahui perbedaan struktur komunitas plankton antara kolam tanah dan kolam beton budidaya ikan nila. Data yang diambil berupa data kualitas air dan analisis plankton. Analisi data yang digunakan dalam perhitungan struktur komunitas plankton adalah uji t untuk kelimpahan plankton (N), indeks keanekaragaman (H’), indeks keseragaman (E) dan indeks dominasi (D). Hasil dari perhitungan menunjukkan bahwa terdapat perbedaan untuk nilai N pada fitoplankton antar kedua kolam, sedangkan pada nilai H’, E dan D tidak menunjukkan ada perbedaan antar kedua kolam. Untuk nilai N, H’ dan E pada zooplankton menunjukkan ada perbedaan antar kedua kolam, akan tetapi untuk nilai D tidak menunjukkan adanya perbedaan. Selanjutnya, variabel kualitas air yang diukur meliputi kecerahan, suhu, pH, DO, BOD, nitrat (NO3) dan fosfat (PO4) dengan hasil bahwa variabel DO dan BOD masih belum sesuai untuk kehidupan plankton. Nila fish or Tilapia (Oreochromis niloticus, Linnaeus) is a consumable fish that has a fast growth rate and is easy to breed in cultivation and is resistant to changes in environmental conditions, one of which is taken from natural feed, namely plankton. Therefore, tilapia is usually cultivated by the community with pond media, both ground ponds and concrete ponds. The purpose of this study is to determine the structure of plankton communities in soil ponds and concrete ponds for tilapia farming, determine the suitability of water quality in tilapia farming ponds for plankton life and find out the differences in plankton community structure between soil ponds and tilapia farming concrete ponds. The data taken are water quality data and plankton analysis. The data analysis used in the calculation of the structure of plankton communities is the t test for plankton abundance (N), diversity index (H'), uniformity index (E) and dominance index (D). The results of the calculations showed that there was a difference for the value of N in phytoplankton between the two pools, while the values of H', E and D did not show any difference between the two pools. The N, H' and E values in zooplankton show that there is a difference between the two pools, but the value of D does not indicate a difference. Furthermore, the measured water quality variables include temperature, brightness, pH, DO, BOD, nitrate (NO3) and phosphate (PO4) variables with the result that the DO and BOD variables are still not suitable for plankton life

    Pengaruh Kebasahan Tanah terhadap Perubahan Daya Serap Air Gambut Terbakar di Kecamatan Landasan Ulin Kalimantan Selatan

    Get PDF
    Peat swamp land in Indonesia is quite extensive, which is 10.8% of Indonesia's land area, the area of peatland in Indonesia is estimated at around 14.95 million hectares, the largest on the islands of Sumatra, Kalimantan and Papua and a small part in Sulawesi.  The dry process is not good can be associated with bulk density. Irreversible dryness can occur in peat with low lindak density, while peat with high lindak density is relatively easy to reabsorb water. Peat soils store much higher carbon than mineral soils. Every gr of dry peat stores about 180-600 mg of carbon, while every gr of mineral soil contains only 5-80 mg of carbon. This research method uses a descriptive exploratory method whose variable approach is carried out through land surveys and is supported by the results of soil analysis in the laboratory. The results showed the value of water content and water absorption of peat soil in the protected forest of Banjarbaru peat soil based on different times and showed a decrease in the level and absorption of peat soil.Peat swamp land in Indonesia is quite extensive, which is 10.8% of Indonesia's land area, the area of peatland in Indonesia is estimated at around 14.95 million hectares, the largest on the islands of Sumatra, Kalimantan and Papua and a small part in Sulawesi.  The dry process is not good can be associated with bulk density. Irreversible dryness can occur in peat with low lindak density, while peat with high lindak density is relatively easy to reabsorb water. Peat soils store much higher carbon than mineral soils. Every gr of dry peat stores about 180-600 mg of carbon, while every gr of mineral soil contains only 5-80 mg of carbon. This research method uses a descriptive exploratory method whose variable approach is carried out through land surveys and is supported by the results of soil analysis in the laboratory. The results showed the value of water content and water absorption of peat soil in the protected forest of Banjarbaru peat soil based on different times and showed a decrease in the level and absorption of peat soil

    Hubungan Ketersediaan Fosfor dan Kelarutan Fe pada Tanah Sawah Sulfat Masam

    Get PDF
    One of the prospective places for agricultural usage in acid sulfate rice fields, which are typically spread out in lowland areas along coastlines that occasionally undergo flooding. If handled effectively in accordance with the issues found in the land, this site can be developed as a productive agricultural region. Agricultural development on acid sulfate soils frequently encounters a number of issues, including (pH) acidic soil, high iron content, a lack of phosphate availability, and the presence of pyrite (FeS2). In this study, the relationship between P availability, Fe solubility, the Fe-P fraction, pH, Eh, and pyrite depth in acid sulfate paddy fields will be examined. Purposive sampling was used in field research utilizing the survey method in the acid sulphate rice fields of Barito Kuala Regency. This research was based on the distribution map of Fe solubility in Barito Kuala Regency. The results of this study indicate that there are three variables that have a significant effect on P availability: soluble Fe amd Fe-P fraction with the power regression form and a very strong relationship; and soil pH with a linear regression form and a strong relationship. Pyrite depth and soil Eh had no significant relationship with P availability in acid-sulfate lowland rice fields.One of the prospective places for agricultural usage in acid sulfate rice fields, which are typically spread out in lowland areas along coastlines that occasionally undergo flooding. If handled effectively in accordance with the issues found in the land, this site can be developed as a productive agricultural region. Agricultural development on acid sulfate soils frequently encounters a number of issues, including (pH) acidic soil, high iron content, a lack of phosphate availability, and the presence of pyrite (FeS2). In this study, the relationship between P availability, Fe solubility, the Fe-P fraction, pH, Eh, and pyrite depth in acid sulfate paddy fields will be examined. Purposive sampling was used in field research utilizing the survey method in the acid sulphate rice fields of Barito Kuala Regency. This research was based on the distribution map of Fe solubility in Barito Kuala Regency. The results of this study indicate that there are three variables that have a significant effect on P availability: soluble Fe amd Fe-P fraction with the power regression form and a very strong relationship; and soil pH with a linear regression form and a strong relationship. Pyrite depth and soil Eh had no significant relationship with P availability in acid-sulfate lowland rice fields

    STRUKTUR KOMUNITAS PLANKTON DI PERAIRAN RAWA BARUH DESA JIRAK KECAMATAN PUGAAN KABUPATEN TABALONG PROVINSI KALIMANTAN SELATAN: PLANKTON COMMUNITY STRUCTURE OF SWAMP BARUH WATERS, JIRAK VILLAGE, PUGAAN DISTRICT, TABALONG REGENCY, SOUTH KALIMANTAN PROVINCE

    Get PDF
    Rawa adalah kawasan sepanjang pantai, aliran sungai, danau atau lebak yang menjorok masuk (intake) ke pedalaman hingga 100 km, atau sejauh dirasakannya pengaruh gerakan pasang air laut. Di Indonesia telah disepakati istilah rawa dalam dua pengertian, yakni rawa pasang surut dan rawa lebak. Rawa pasang surut adalah daerah rawa yang mendapat pengaruh langsung atau tidak langsung ayunan pasang surut air laut atau sungai di sekitarnya. Kualitas periran rawa tidak lepas kaitanya dengan organisme perairan yang hidup didalamnya. Plankton adalah organisme perairan yang keberadaannya dapat menjadi faktor biologis yang menetukan kualitas perairan. Struktur komunitas plankton disuatu perairan dapat menjadi penetu tingkat kualitas air, peran plankton sebagai produsen primer dirantai makanan menjadikan plankton sangat berperan penting dalam perairan rawa. Sekain struktur komunitas, indeks saprobik dan indikator kualitas air pH, Suhu, Nitrat dan Fosfat juga dapat menetukan kualitas air Swamps are areas along the coast, rivers, lakes or valleys that protrude (intake) inland up to 100 km, or as far as the influence of the movement of sea tides is felt. In Indonesia, it has been agreed that the term swamp has two meanings, namely tidal swamp and low swamp. Tidal swamps are swamp areas that are directly or indirectly affected by tidal swings in the sea or rivers around them. The quality of swamp waters is closely related to the aquatic organisms that live in it. Plankton are aquatic organisms whose existence can be a biological factor that determines water quality. The structure of the plankton community in a waters can determine the level of water quality, the role of plankton as a primary producer in the food chain makes plankton play an important role in swamp waters. In addition to community structure, saprobic index and water quality indicators pH, temperature, nitrate and phosphate can also determine water quality

    MENINGKATKAN HASIL BELAJAR NILAI PENGETAHUAN PJOK KOMPETENSI DASAR (3.3 DAN 4.3) PESERTA DIDIK KELAS XI SMAN 2 BARABAI DENGAN MENGGUNAKAN MODEL INQUIRY LEARNING

    Get PDF
    .Abstrak. Penelitian ini bertujuan meningkatkan nilai pengetahuan siswa dengan melakukan kegiatan belajar mengajar dengan model Inquiry Learning. Eksperimen semu yang digunakan untuk metode pengambilan data pada penelitian. Sedangkan sampelnya adalah kelas XI Mipa 3 SMAN 2 Barabai. Jumlah peserta didik kelas XI Mipa 2 SMAN 2 Barabai adalah 29 orang, diantaranya 10 laki-laki dan 19 perempuan. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa Inquiry Learning dapat meningkatkan nilai pengetahuan peserta didik. &nbsp

    PERANCANGAN STUDIO ANIMASI DI BANJARBARU

    Get PDF
    The growth of the animation and video film sector was the highest in 2018 at 10.18%. This sector is a new opportunity for animators and VFX artists.  Animation creators in South Kalimantan need a place to accommodate their skills in the form of an animation studio. The existence of an animation studio in Banjarbaru, South Kalimantan, opens up job opportunities for graduates of high schools (SMK) who focus on making animations. An animation studio will require a building design that will provide comfort for its users, so the space program needs to be considered and arranged efficiently. The problem raised in the studio design is how to design an animation studio that has an effective relationship between spaces and can provide ideas in the development of stories and the process of making animation? This problem is solved by preparing a space program based on the flow of the animation making work process and differentiating activity zones. The animation studio carries the concept of "Nature Feels" for relaxation and provides a sense of comfort in the work process. This atmosphere can also stimulate ideas in animation making.   Pertumbuhan sektor film animasi dan video tertinggi di tahun 2018 sebesar 10,18%. Sektor ini menjadi peluang baru bagi animator dan VFX Artist.  Para kreator animasi di Kalimantan Selatan  memerlukan sebuah tempat untuk mewadahi keahlian mereka berupa studio animasi. Keberadaan studio animasi di Banjarbaru Kalimantan Selatan membuka lapangan kerja bagi para lulusan Sekolah Menengah Keatas (SMK) yang berfokus pada pembuatan animasi. Sebuah studio animasi akan membutuhkan desain bangunan yang akan memberikan kenyaman bagi penggunanya maka program ruang perlu diperhatikan dan disusun secara efisien. Permasalahan yang diangkat dalam desain studio adalah Bagaimana perancangan sebuah studio animasi yang memiliki hubungan antar ruang yang efektif dan dapat memberi ide-ide dalam pengembangan cerita dan proses pembuatan animasi? Permasalahan ini diselesaikan dengan penyusunan program ruang berdasarkan alur proses kerja pembuatan animasi dan pembagian zona-zona kegiatan. Studio animasi mengusung konsep “Nature Feels” untuk relaksasi dan  memberikan rasa nyaman pada proses bekerja. Suasana ini juga  dapat menstimulasi ide-ide dalam pembuatan animasi.&nbsp

    1,406

    full texts

    1,492

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Tugas Akhir Mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat (ULM)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇