Jurnal Tugas Akhir Mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat (ULM)
Not a member yet
1492 research outputs found
Sort by
PUSAT PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN E-SPORT DI KOTA BANJARBARU
Banjarbaru has become a thriving city with various existing communities, from art, food, clothing, conventional sports, and electronic sports, which can invite people from outside the city to come. The electronic sports in Banjarbaru has the potential to be developed as an opportunity to show the local children's potential and have quality players who are no less competitive. Along with the rapid development of E-Sports, and the increasing number of enthusiasts who are highly expected in Banjarbaru, a Guidance and Development are needed to accommodate E-Sport enthusiasts themselves to practice and obtain adequate facilities. The Eco-Futuristic Architecture theme is applied to the design because E-Sport is closely related to technology that has developed until today.Kota Banjarbaru sendiri telah menjadi kota yang berkembang dengan berbagai komunitas yang ada, dari seni,makanan,pakaian,olahraga konvensional maupun olahraga elektronik ini sendiri yang dapat mengundang masyarakat luar kota untuk datang. Hal ini yang mendasari sebagai peluang untuk E-Sport di Banjarbaru dapat dikembangkan untuk dapat menunjukan potensi putra-putri daerah juga memiliki kualitas pemain yang tidak kalah saing. Seiring berkembangnya E-Sport yang sangat pesat, dan peminat yang meningkat dan sangat menjanjikan di Banjarbaru, maka diperlukan sebuah Pusat Pembinaan dan Pengembangan untuk menampung peminat E-Sport ini sendiri untuk mereka dapat berlatih maupun mendapatkan fasilitas yang memadai. Tema Arsitektur Eco-Futuristik diterapkan pada perancangan karena E-Sport erat kaitannya dengan teknologi yang telah berkembang hingga zaman sekarang
BANGUNAN HIJAU PADA PUSAT TANAMAN HIAS DI KOTA RANTAU
Ornamental plants are plants that function as decorations in space, both outdoors and indoors. Collecting ornamental plants is very popular among housewives. Based on a survey conducted in Rantau City, the use of ornamental plants in houses in urban areas is very little compared to rural areas. This indicates that people in urban areas are less concerned about ornamental plants. To introduce ornamental plants more deeply to all circles, an ornamental plant center is made that can accommodate plants efficiently. The problem raised in the design of the ornamental plant center is how to design a building that can accommodate plants, attract public interest and accommodate activities related to ornamental plants. This problem is solved by using a building form in the form of a greenhouse to accommodate massive plants, and using the concept of green building to optimize the workability of the building and introduce ornamental plants to a wider community.Tanaman hias adalah tanaman yang berfungsi sebagai dekorasi pada ruang, baik itu luar ruang maupun dalam ruang. Mengoleksi tanaman hias adalah hal yang sangat digemari oleh kalangan ibu rumah tangga. Berdasarkan survei yang dilakukan di Kota Rantau, penggunaan tanaman hias pada rumah-rumah warga pada area perkotaan sangat sedikit dibandingkan area pedesaan. Hal ini menandakan bahwa kepedulian masyarakat area perkotaan tergolong kurang terhadap tanaman hias. Untuk mengenalkan tanaman hias lebih dalam ke segala kalangan maka dibuat pusat tanaman hias yang dapat menampung tanaman secara efisien. Permasalahan yang diangkat dalam desain pusat tanaman hias adalah bagaimana cara merancang bangunan yang dapat menampung tanaman, menarik minat masyarakat dan mewadahi kegiatan yang berhubungan dengan tanaman hias. Permasalahan ini diselesaikan dengan menggunakan bentuk bangunan berupa rumah kaca untuk menampung tanaman secara masif, serta menggunakan konsep bangunan hijau untuk mengoptimalkan daya kerja bangunan serta mengenalkan tanaman hias kepada masyarakat yang lebih luas
CAT SHELTER BANJARBARU
Caring for pets has become part of the lifestyle of modern society. The high interest in keeping animals is directly proportional to the growth of the abandoned animal population in Banjarbaru City. The follow-up to this problem is to create a shelter facility for abandoned animals who are sick, injured, tortured, or need protection in the form of Cat Shelters. The design of the Cat Shelter in Banjarbaru pays attention to the habits and character of cats. Programmatic architecture is used to organize space functions based on the flow of cat rescue activities and the interaction of cats and humans. The attractive concept is applied in the design to be able to make humans and cats whose characters are spoiled and cute have good interactions. The design was made several times to separate cat rescue activities and cat interaction activitiesMerawat hewan peliharaan sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat modern. Tingginya minat memelihara hewan berbanding lurus dengan pertumbuhan populasi hewan terlantar di Kota Banjarbaru. Tindak lanjut dari permasalahan ini adalah dengan pembuatan fasilitas penampungan bagi hewan-hewan terlantar yang sakit, terluka, tersiksa, atau membutuhkan perlindungan berupa Cat Shelter. Perancangan Cat Shelter di Banjarbaru ini memperhatikan kebiasaan dan karakter kucing. Arsitektur Programatik digunakan untuk mengatur fungsi-fungsi ruang berdasarkan alur kegiatan penyelamatan kucing serta interaksi kucing dan manusia. Konsep attractive diterapkan dalam desain untuk dapat membuat manusia dengan kucing yang karakternya manja dan lucu memiliki interaksi yang baik. Desain dibuat beberapa masa untuk memisahkan kegiatan penyelamatan kucing dan kegiatan interaksi kucin
PERANCANGAN KANTOR DINAS KEPENDUDUKAN DAN PENCATATAN SIPIL KABUPATEN KOTABARU DENGAN PENERAPAN ARSITEKTUR MODERN
The Population and Civil Registration Office of Kotabaru Regency is one of the Kotabaru Regency Regional Service agencies that functions in the affairs of structuring and issuing documents, population data through population registration, civil registration, processing population administration information and utilizing the results for public services. The occurrence of several factors such as the increase in total visits to the Office of the Population and Civil Registration is not matched by the capacity of the waiting room in the service room, the lack of air circulation and lighting so as to make the room conditions uncomfortable, as well as the ineffectiveness of circulation and workspace layout are the causes of problems with the level of service to the community.
Therefore, the design stage applies the behavioral architecture approach method by identifying the behavior patterns of employees and the community in it and applying modern architectural concepts as an implementation of the results of the identification of occupant behavior so as to reach the functional point of the building. The data produces several physical variables that are adjusted to modern concepts such as space and layout, shape and facade size, color, texture, dimensions and proportions. The result of the design is to reach the functional point of the building so that the Office of the Population and Civil Registration service system to the community can be more optimal than before.Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Kotabaru atau disingkat Disdukcapil Kotabaru adalah salah satu instansi Dinas Daerah Kabupaten Kotabaru yang berfungsi dalam urusan penataan dan penerbitan dokumen, data kependudukan melalui pendaftaran penduduk, pencatatan sipil, pengolahan informasi administrasi kependudukan serta pendayagunaan hasilnya untuk pelayanan publik. Terjadinya beberapa faktor seperti peningkatan total kunjungan Kantor Disdukcapil tidak diimbangi dengan kapasitas ruang tunggu pada ruang pelayanan, kurangnya sirkulasi udara dan pencahayaan sehingga membuat kondisi ruangan tidak nyaman, serta ketidakefektifan sirkulasi dan tata letak ruang kerja menjadi sebab permasalahan terhadap tingkat pelayanan kepada masyarakat.
Oleh karena itu, tahap perancangan menerapkan metode pendekatan arsitektur perilaku dengan mengidentifikasi pola perilaku pegawai dan masyarakat di dalamnya serta menerapkan konsep arsitektur modern sebagai implementasi dari hasil identifikasi perilaku penghuni sehingga mencapai titik fungsional bangunan. Data tersebut menghasilkan beberapa variabel fisik yang disesuaikan terhadap konsep modern seperti ruang dan tata ruang, ukuran bentuk dan fasad, warna, tekstur, dimensi dan proporsi. Hasil dari perancangan adalah dapat mencapai titik fungsional bangunan sehingga sistem pelayanan dukcapil kepada masyarakat bisa lebih optimal dari sebelumnya
PERANCANGAN TAMAN OLAHRAGA SEBAGAI RUANG TERBUKA PUBLIK DI KOTA KUALA KAPUAS
The design of this Sports Park is the design of public space with the aim of being a place for recreation and community exercise, as well as to encourage community interest in sports. The design of this sports park is based on the lack of recreational facilities in the City of Kuala Kapuas. The focus of the planning is on recreational and sports activities that are inclusive and can be of interest to the community. Efforts to combine several functions in an area become a problem in this design, so the mix use concept is used as a solution to solving problems with the symbiotic approach method. The concept of mix use is applied as a design program so that it can accommodate many spatial functions while symbiosis is used in the application of designs so that space functions can work and support each other. So that the design results are obtained in the form of Areas with diverse, overlapping, and interconnected functions.Perancangan Taman Olahraga ini adalah perancangan ruang publik dengan tujuan sebagai tempat rekreasi dan berolahraga masyarakat, serta untuk mendorong minat bakat masyarakat dalam bidang olahraga. Perancangan taman olahraga ini didasari oleh minimnya wadah rekreasi di Kota Kuala Kapuas. Fokus perencanaannya adalah pada kegiatan rekreasi dan olahraga yang bersifat inklusif dan dapat menjadi daya tarik bagi masyarakat. Upaya penggabungan beberapa fungsi dalam sebuah Kawasan menjadi permasalahan dalam perancangan ini, sehingga Konsep mix use digunakan sebagai solusi pemecahan masalah dengan metode pendekatan simbiosis. Konsep mix use diterapkan sebagai program rancangan agar dapat menampung banyak fungsi ruang sedangkan simbiosis digunakan dalam penerapan rancangan agar fungsi ruang dapat berjalan dan saling mendukung. Sehingga didapat hasil rancangan berupa Kawasan dengan fungsi beragam, tumpang tindih, dan saling terhubung
PERANCANGAN SDLB 1 MUARA TEWEH DENGAN ASAS AKSEBILITAS
Special Education Needs (SEN) or SLB for children with special needs must be able to provide an adequate and accessible environment to increase independence and support all student potential and activities. Especially in the early phase of education (elementary level) which is the initial phase for students in adapting to a new environment that still has a low level of independence.
In North Barito Regency, SLB Negeri 1 Muara Teweh 1 was established which serves 4 types of students with disabilities. Judging from the standard of facilities and infrastructure in Permendiknas, SLBN 1 Muara Teweh does not meet the facility standards for an educational institution. The built physical environment both in terms of buildings and sites is not accessible. Therefore this design is intended to provide an ideal and accessible school design description for 4 types of disabilities with special needs. The concept initiated to solve design problems is 'Accessible Design'. This concept will refer to the Universal Design Principles which are realized using the Behavioral Architecture method. With this concept and method it is expected to be a solution to design problems.Layanan pendidikan segregasi (SLB) untuk anak berkebutuhan khusus (ABK) haruslah dapat memberikan lingkungan yang memadai dan aksesibel, guna meningkatkan kemandirian serta mendukung segala potensi dan aktivitas siswa. Terlebih pada fase awal pendidikan atau pada tingkat SD yang merupakan fase awal bagi peserta didik dalam beradaptasi dengan lingkungan yang baru dan kondisi ABK masih memiliki tingkat kemandirian yang rendah.
Di Kabupaten Barito Utara, berdiri Sekolah Luar Biasa Negeri 1 Muara Teweh yang melayani 4 jenis ketunaan. Ditinjau dari standar sarana dan prasarana (Permendiknas nomor 33 tahun 2008), SLBN 1 Muara Teweh belum memenuhi standar fasilitas untuk sebuah lembaga pendidikan. Lingkungan fisik yang terbangun baik dalam hal bangunan maupun tapak tidak aksesibel bagi ABK. Maka dari itu perancangan ini ditujukan untuk memberi gambaran desain SDLB yang ideal dan aksesibel bagi 4 jenis ketunaan ABK. Adapun konsep yang digagas untuk memecahkan permasalahan perancangan adalah ‘Accessible Design’. Konsep ini akan mengacu pada Prinsip Desain Universal yang diwujudkan dengan menggunakan metode Arsitektur Perilaku. Dengan konsep dan metode ini diharapkan mampu menjadi solusi untuk permasalahan perancangan
Prarancangan Pabrik Epiklorohidrin Dari Gliserol Menggunakan Proses Hidroklorinasi Dengan Kapasitas 60.000 Ton/Tahun
Perencanaan pabrik epiklorohidrin dengan kapasitas 60.000 ton/tahun didirikan pada tahun 2027 di Rokan Hilir, Riau dengan luas area ±262.643 m2. Pabrik berjalan selama 330 hari dalam setahun dengan jumlah 146 pekerja.
Pembuatan epiklorohidrin mereaksikan gliserol dan HCl pada reaktor batch 1 dengan bantuan katalis asam malonat. Reaktor 1 beroperasi pada 1000C dan tekanan 1 atm. Konversi dihasilkan adalah 99,45%. Produk reaktor 1 dialirkan menuju neutralizer 1 untuk menetralkan HCl yang berlebih. Setelah itu produk dialirkan menuju dekanter 1 untuk memisahkan komponen berdasarkan berat jenisnya. Produk atas dekanter 1 masuk ke menara distilasi 1 untuk menghilangkan air, selanjutnya dialirkan menuju menara distilasi 2 untuk memisahkan komponen yang tidak diperlukan. 1,3-DCH dialirkan ke reaktor batch 2 untuk direaksikan dengan NaOH. Reaktor 2 beroperasi pada 600C dan tekanan 1 atm. Konversi dihasilkan adalah 82%. Produk dialirkan menuju neutralizer 2 untuk menetralkan NaOH yang berlebih. Selanjutnya dialirkan menuju dekanter 2 untuk memisahkan komponen berdasarkan berat jenisnya. Produk atas dekanter 2 dialirkan menuju menara distilasi 3 untuk memurnikan produk epiklorohidrin hingga 98% dialirkan menuju tangki penyimpanan. Kebutuhan utilitas diambil dari sungai Rokan, Riau sebanyak 10.112.904,6450 kg/jam, sedangkan kebutuhan listrik sebesar 15.343,8621 kWH.
Analisa ekonomi didapat hasil TCI sebanyak Rp. 2.828.149.617.064,68 dengan biaya penjualan sebesar Rp. 28.126.771.041.345,12. Diperoleh ROI sebelum dan setelah pajak ialah 33% dan 21%. POT sebelum dan setelah pajak ialah 2,5 tahun dan 3,4 tahun. Sehingga, diperoleh BEP sebesar 49% dan SDP sebesar 31%. Berdasarkan hal tersebut, pabrik epiklorohidrin 60.000 ton/tahun layak dibangun.
Kata kunci : epiklorohidrin, gliserol, asam klorida, asam malonat, hidroklorinasi
PRARANCANGAN PABRIK 5-HIDROKSIMETILFURFURAL (5-HMF) DARI UMBI DAHLIA (DAHLIA SP.) DENGAN KAPASITAS PRODUKSI 3000 TON/TAHUN
5-Hidroksimetilfurfural (5-HMF) adalah bahan kimia yang dapat digunakan sebagai produk intermediet untuk banyak industri sebagai prekusor, resin, pelarut, bahan campuran polimer serta bahan bakar. HMF memiliki banyak keunggulan karena dapat dikonversi lebih lanjut menjadi berbagai bahan kimia bernilai tinggi. Data kebutuhan impor 5-HMF menunjukkan impor 5-HMF pada tahun 2006 adalah 920.616 kg dan tahun 2010 adalah 1.308.349 kg, diperkirakan kebutuhan 5-HMF pada tahun 2030 adalah sebesar 3000 ton/tahun. Umbi dahlia digunakan sebagai sumber inulin dalam prarancangan pabrik HMF ini. Inulin hasil ekstraksi umbi dahlia mengandung 94% fruktosa dan 6% glukosa. Pabrik didirikan di Wilayah Industri Dumai dengan pertimbangan akses sumber bahan baku, air, listrik, dan kebutuhan pabrik lainnya mudah untuk didapatkan. Produksi 5-HMF melalui beberapa tahapan yaitu (1) Ekstraksi Inulin, (2) Proses hidrolisis dan dehidrasi, (3) Proses pemurnian. Ekstraksi Inulin dari umbi dahlia menggunakan pelarut etanol 70% menghasilkan rendemen 48,25% pada suhu 80°C, tekanan 1 atm. Proses hidrolisis dan dehidrasi dilakukan pada kondisi suhu 170°C, tekanan 1 atm dengan katalis asam sulfat 0,006 M menghasilkan HMF sebanyak 39%. Proses pemurnian menghasilkan HMF dengan kemurnian 98%. Pabrik ini akan beroprasi kontinyu 24 jam selama 300 hari/tahun dengan 160 Karyawan.
Kata kunci: 5-Hidroksimetilfurfural (5-HMF), umbi dahlia, hidrolisis, continuous flow stirred-tank reactor
Waktu Aplikasi Trichokompos dan Larutan Kelakai dalam Menentukan Kejadian Penyakit Layu Fusarium pada Tanaman Padi Beras Merah (Oryza nivara L.)
Brown rice (Oryza nivara L.) is increasingly being cultivated along with the increasing needs of the community, such as health therapy using natural ingredients. One of the main diseases that attack brown rice is Fusarium wilt. Biological agents are an alternative control that is environmentally friendly and safe. The use of Trichocompost and Kelakai solution is an alternative that has the potential to control Fusarium wilt in brown rice plants. The aim of this study was to find out how long it took for the disease to appear in the red rice seedbeds after trichocompost and a solution of LALAI were applied. Six treatments and four replications were used in this study using a completely randomized design. The findings in this study indicated that trichocompost and lacteal solution prevented the development of Fusarium wilt in brown rice, the application time which suppressed disease development was application one week before planting and during transplanting. The application of trichocompost treatment and Lakalai solution was also proven to be able to extend the incubation period of the pathogen by 16.20 DAI when compared to plants without treatment at 9.80 DAIPadi beras merah (Oryza nivara L.) semakin banyak dibudidayakan seiring dengan terus meningkatnya kebutuhan masyarakat seperti terapi kesehatan menggunakan bahan alami. Salah satu penyakit utama yang menyerang tanaman padi beras merah adalah penyakit layu Fusarium. Agensia hayati adalah salah satu alternatif pengendalian yang ramah lingkungan dan aman. Penggunaan Trichokompos dan larutan Kelakai merupakan salah satu alternatif yang berpotensi untuk mengendalikan penyakit layu Fusarium pada tanaman padi beras merah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui berapa lama waktumunculnya kejadian penyakit pada persemaian padi beras merah setelah trichokompos dan larutan kelakai diaplikasikan. Enam perlakuan dan empat ulangan digunakan dalam penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap. Temuan pada penelitian ini menunjukkan bahwa trichokompos dan larutan kelakai mencegah berkembangnya penyakit layu Fusarium pada padi beras merah, waktu aplikasi yang mampu menekan perkembangan penyakit adalah aplikasi satu minggu sebelum tanam dan saat pindah tanam. Aplikasi perlakuan trichokompos dan larutan kelakai juga terbukti mampu memperpanjang masa inkubasi patogen 16,20 hsi jika dibandingkan dengan tanaman tanpa perlakuan 9,80 hsi
Uji Kemampuan Serbuk Daun Jambu Biji (Psidium guajava L.) dalam Mengendalikan Penyakit Antraknosa pada Tanaman Terung (Solanum melongena L.)
This study aims to determine the ability of guava leaf powder (P. guajava L.) in controlling anthracnose disease caused by the fungus Colletotrichum sp. on eggplant (S. melongena L.). This research was conducted in March – July 2022. This study used a Completely Randomized Design (CRD) which consisted of 6 treatments, each treatment was repeated 4 times so that there were 24 treatment units and each replicate consisted of 5 plants, so a total of 120 plants . The treatments used were 0, 20, 25, 30, 35 and 40 g of guava leaf powder + 100 ml of distilled water. Based on the observed concentration of 25 g of guava leaf powder + 100 ml of distilled water (T2) it has the longest incubation period of 11.74 days with disease incidence and disease intensity of 18.49% and 3.66%, respectivelyPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan serbuk daun jambu biji (P. guajava L.) dalam mengendalikan penyakit antraknosa yang disebabkan oleh cendawan Colletotrichum sp. pada tanaman terung (S. melongena L.). Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret – Juli 2022. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 6 perlakuan, setiap perlakuan diulang sebanyak 4 kali sehingga terdapat 24 satuan perlakuan dan setiap ulangan terdiri dari 5 tanaman, sehingga berjumlah sebanyak 120 buah tanaman. Perlakuan yang digunakan adalah 0, 20, 25, 30, 35 dan 40 g serbuk daun jambu biji + 100 ml aquades. Berdasarkan hasil pengamatan konsentrasi 25 g serbuk daun jambu biji + 100 ml aquades (T2) memiliki masa inkubasi terpanjang yakni 11,74 hari dengan kejadian penyakit dan intensitas penyakit berturut-turut sebesar 18,49% dan 3,66%