Jurnal Tugas Akhir Mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat (ULM)
Not a member yet
1492 research outputs found
Sort by
PRARANCANGAN PABRIK SODIUM THIOSULFATE PENTAHYDRATE DENGAN KAPASITAS 15.000 TON/TAHUN
Perkembangan industri yang memasuki era 5.0 ditandai dengan meningkatnya perkembangan industri, terlebih industri kimia. Perkembangan industri kimia dapat ditandai dengan didirikannya pabrik-pabrik kimia baru untuk memenuhi kebutuhan bahan kimia dalam negeri. Sodium thiosulfate pentahydrate merupakan bahan kimia yang belum terpenuhi dan diperoleh dengan cara mengimpor dari negara produsen. Ketergantungan pada kegiatan impor dapat mengakibatkan berkurangnya devisa negara sehingga diperlukan tindakan dengan mendirikan pabrik sodium thiosulfate pentahydrate. Sodium thiosulfate pentahydrate atau yang dahulu disebut sodium hyposulfide merupakan padatan berwarna putih yang terbentuk dari reaksi sodium sulfite dan sulphur setelah dididihkan dan diuapkan. Kegunaan sodium thiosulfate pentahydrate adalah sebagai antiklor, bahan pengikat dalam fotografi, bahan pencuci untuk ekstraksi emas, dan masih banyak lagi yang lainnya. Pabrik Sodium Thiosulfate Pentahydrate rencananya akan didirikan pada tahun 2029 di Kawasan Industri Cilegon Estate, Jawa Barat dengan kapasitas 15.000 ton/tahun. Bahan baku utama pembuatan sodium thiosulfate pentahydrate adalah sodium sulfite dan sulphur yang direaksikan dalam reaktor RATB pada suhu 80˚C. Dari segi teknis dan ekonomi, pabrik ini layak untuk didirikan
Pengaruh Pemberian Pestisida Nabati Daun Bintaro (Cerbera odollam Gaertn.) terhadap Penyakit Antraknosa Tanaman Cabai (Capsicum annuum Linn.)
The problems that often occur with chili commodities in Indonesia every year are caused by several factors, namely changing climatic conditions, limited quality chili seed varieties and the large number of attacks by plant pests, namely pests and diseases. The main disease that always attacks chili plants is anthracnose caused by the fungus Colletotrichum capsici. Controlling vegetable pesticides is one alternative that can be done, one of which is the botanical pesticide Bintaro leaves with 2 types of solvents. This research aims to determine the effect of the botanical pesticide bintaro leaves (Cerbera odollam Gaertn.) using water and ethanol solvents in controlling anthracnose disease on chili plants (Capsicum annum Linn.). This research used a one-factor Completely Randomized Design (CRD) method consisting of 8 treatments and 3 replications, namely K = Control (No pesticide), KC = chemical pesticide (active ingredient abamectin), PA = Concentration of 10 ml bintaro leaf solution, PB = Bintaro leaf solution concentration is 20 ml, PC = Bintaro leaf solution concentration is 30 ml, PD = Bintaro leaf extract concentration is 1 ml, PE = Bintaro leaf extract concentration is 2 ml and PF = Bintaro leaf extract concentration is 3 ml. Botanical pesticide treatment of bintaro leaves on chili plants can reduce the percentage of anthracnose attacks. The highest percentage was shown in chili plants that were not treated with the botanical pesticide Bintaro leaves (55.87%). Meanwhile, the lowest percentage was in chili plants that were applied with chemical pesticides (24.20%) and in the vegetable treatment of bintaro leaves with 30 ml solution (25.97%). Apart from that, the botanical pesticide treatment of Bintaro leaves produced the highest number of fruit, namely 49923 fruit/ha, and the wet weight of the fruit was the heaviest, namely 298.92 kg/ha.Permasalahan yang sering terjadi pada komoditas cabai di Indonesia setiap tahunnya disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu kondisi iklim yang berubah, terbatasnya varietas benih cabai berkualitas dan banyaknya serangan organisme pengganggu tanaman yaitu hama dan penyakit. Penyakit utama yang selalu menyerang tanaman cabai yaitu penyakit antraknosa yang disebabkan oleh cendawan Colletotrichum capsici. Pengendalian pestisida nabati adalah salah satu alternatif yang dapat dilakukan salah satunya yaitu pestisida nabati daun bintaro dengan 2 jenis pelarut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pestisida nabati daun bintaro (Cerbera odollam Gaertn.) dengan menggunakan pelarut air dan etanol dalam mengendalikan penyakit antraknosa pada tanaman cabai (Capsicum annum Linn.). Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor yang terdiri dari 8 perlakuan dan 3 ulangan yaitu K = Kontrol (Tanpa pestisida), KC = pestisida kimia (Bahan aktif abamektin), PA = Konsentrasi larutan daun bintaro 10 ml, PB = Konsentrasi larutan daun bintaro 20 ml, PC = Konsentrasi larutan daun bintaro 30 ml, PD = Konsentrasi ekstrak daun bintaro 1 ml, PE = Konsentrasi ekstrak daun bintaro 2 ml dan PF = Konsentrasi ekstrak daun bintaro 3 ml. Perlakuan pestisida nabati daun bintaro pada tanaman cabai mampu menekan persentase serangan penyakit antraknosa. Persentase paling tinggi diperlihatkan pada tanaman cabai yang tidak diberi pestisida nabati daun bintaro (55,87%). Sedangkan persentase paling rendah yaitu pada tanaman cabai yang diaplikasikan pestisida kimia (24,20%) serta pada perlakuan nabati daun bintaro dengan larutan 30 ml (25,97%). Selain itu perlakuan pestisida nabati daun bintaro menghasilkan jumlah buah paling banyak yaitu 49923 buah/ha, serta berat basah buah yang paling berat yaitu 298,92 kg/ha
Pengaruh Aplikasi Eco-enzyme Untuk Menekan Penyakit Moler Pada Tanaman Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Di Lahan Gambut
This research aims to determine the effect of eco-enzyme application in suppressing moler disease in shallot plants (Allium ascalonicum L.) in peatlands. This research used the Completely Randomized Design (CRD) method, where the treatments used in this study consisted of 4 treatments, namely control (without eco-enzyme solution) and 3 treatments of eco-enzyme solution with doses (0.2, 0.6, and 1 mL/200 mL water) which is repeated 5 times. The results of the research showed that the percentage of eco-enzyme that was able to suppress moler disease in treatment t3 (dose 1 mL/200 mL water) was 57.9%, and the smallest percentage of suppression in treatment t1 (dose 0.2 mL/200 mL water) was 43 .6%. In the incubation period research, Fusarium oxysporum appeared for the first time on the 14th day of DAP and occurred in all treatments. Meanwhile, the highest number of tubers/ha was in the control treatment at 58.40 tubers/treatment (162,222 tubers/ha). In the study, the wet weight of tubers in the control treatment had the heaviest tuber wet weight, namely 522.60 tubers/treatment (1,451.7 kg/ha), and the largest tuber diameter was in the treatment given eco-enzyme solution at a dose of 0.6 mL/200 kg. mL of water is 18.3 mm.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aplikasi eco-enzyme dalam menekan penyakit moler pada tanaman bawang merah (Allium ascalonicum L.) di lahan gambut. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL), dimana perlakuan yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari 4 perlakuan yaitu kontrol (tanpa larutan eco-enzyme) dan 3 perlakuan larutan eco-enzyme dengan dosis (0,2, 0,6, dan 1 mL/200 mL air) yang diulang sebanyak 5 kali. Hasil penelitian menunjukkan persentase eco-enzyme yang mampu menekan penyakit moler pada perlakuan t3 (dosis 1 mL/200 mL air) sebesar 57,9%, dan persentase penekanan terkecil pada perlakuan t1 (dosis 0,2 mL/200 mL air) sebesar 43,6%. Pada penelitian masa inkubasi Fusarium oxysporum muncul untuk pertama kali pada hari ke 14 HSI dan terjadi pada semua perlakuan. Sedangkan untuk jumlah umbi/ha terbanyak terdapat pada perlakuan kontrol sebanyak 58,40 umbi/perlakuan (162.222 umbi/ha). Pada penelitian bobot basah umbi pada perlakuan kontrol memiliki berat basah umbi terberat yaitu 522,60 umbi/perlakuan (1.451,7 kg/ha), dan untuk diameter umbi terbesar terdapat pada perlakuan pemberian larutan eco-enzyme dengan dosis 0,6 mL/200 mL air yaitu sebesar 18,3 mm
Pengaruh Beberapa Jenis Sirih Terhadap Mortalitas Kutu Beras (Sitophilus oryzae L)
The aim of this research was to determine the effectiveness of administering betel leaf powder from several types of betel on S. oryzae mortality and determine the best type of betel leaf to use to control S. oryzae. This research method is a single factor Randomized Block Design (RAK) consisting of 6 treatments and 4 replications, so there are 24 experimental units. The treatments tested were K0= control (100 g rice + 10 S.oryzae imago) without the addition of betel leaf powder; S1= Green betel leaf powder; S2= Red betel leaf powder; S3= Black betel leaf powder; S4= Forest betel leaf powder; S5 = Yellow betel leaf powder, each treatment of betel leaf powder consists of (6 g betel leaf powder + 100 g rice + 10 S.oryzae imago). The parameters observed were mortality, percentage of rice damage and efficacy. The results of the study showed that the administration of green, red, black, forest and yellow betel leaf powder had an effect on S.oryzae mortality, the percentage of rice damage and showed high effectiveness (efficacy) values for the use of these insecticides. The lowest percentage of rice damage with black betel leaf powder was 11.04% and the highest S. oryzae mortality was recorded with black betel leaf powder treatment with a value of 92.50% and an efficacy value of 80.50%.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas pemberian serbuk daun sirih dari beberapa jenis sirih terhadap mortalitas S. oryzae dan menentukan jenis daun sirih terbaik yang digunakan untuk mengendalikan S. oryzae. Metode penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktor tunggal yang terdiri dari 6 perlakuan dan 4 ulangan, sehingga terdapat 24 unit percobaan. Perlakuan yang diujikan yaitu K0= kontrol (100 g beras + 10 ekor imago S.oryzae) tanpa penambahan serbuk daun sirih; S1= Serbuk daun sirih hijau; S2= Serbuk daun sirih merah; S3= Serbuk daun sirih hitam; S4= Serbuk daun sirih hutan; S5= Serbuk daun sirih kuning, setiap perlakuan serbuk daun sirih ini terdiri dari (6 g serbuk daun sirih + 100 g beras + 10 ekor imago S.oryzae). Parameter yang diamati adalah mortalitas, presentase kerusakan beras dan efikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian serbuk daun sirih hijau, merah, hitam, hutan dan kuning berpengaruh terhadap mortalitas S.oryzae, persentase kerusakan beras serta menunjukkan nilai keefektifan (efikasi) yang tinggi untuk penggunaan insektisida tersebut. Persentase kerusakan beras terendah dengan pemberian sebuk daun sirih hitam sebesar 11,04% dan mortalitas S. oryzae tertinggi tercatat pada perlakuan serbuk daun sirih hitam dengan nilai 92,50% dan nilai efikasi 80,50%
Identifikasi Hama Pascapanen Jagung Pakan di Gudang PT. Arutmin Site Satui
Corn can be used for direct consumption, as a raw material for the food, food and bioenergy industries. As an animal feed ingredient, corn kernels that have been shelled and dried will be used to feed livestock such as chickens and ducks. However, there has been a decline in corn productivity, one of which is due to attacks by Plant Pest Organisms (OPT) in the form of pests both in the field and in storage. This research aims to determine the types of post-harvest pests of feed corn in the PT Arutmin Site Satui. This research uses a purposive sampling method. The identification results showed that there were 2 species of post-harvest pests that attacked the feed corn shells, Tribolium castaneum as many as 167 individuals and Doloessa viridis as many as 1611 individuals.Jagung dapat berfungsi untuk konsumsi langsung, sebagai bahan baku industri pangan, pangan dan bioenergi. Sebagai bahan pakan ternak, biji jagung yang telah dipipil dan dikeringkan akan dimanfaatkan untuk pakan ternak seperti ayam dan itik. Namun, terjadi penurunan produktivitas jagung salah satunya dikarenakan adanya serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) berupa hama baik di lapangan maupun di penyimpanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis hama pascapanen jagung pakan di gudang PT. Arutmin Site Satui. Penelitian ini menggunakan metode purposive sampling. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa diperoleh 2 spesies hama pascapanen yang menyerang pipilan jagung pakan yaitu Tribolium castaneum sebanyak 167 ekor dan Doloessa viridis sebanyak 1611 ekor
PENGEMBANGAN TES DIAGNOSTIK FIVE-TIER UNTUK MENGIDENTIFIKASI MISKONSEPSI PESERTA DIDIK DALAM MATERI HIDROKARBON KELAS XI MIPA
Telah dilakukan penelitian pengembangan instrument tes diagnostik five-tier model 4D pada materi hidrokarbon. Penelitiaan ini bertujuan untuk mengetahui kevalidan, kepraktisan dan keefektifan dalam pengembangan menggunakan instrumen tes diagnostik five-tier untuk untuk mengetahui tingkat miskonsepsi pada peserta didik materi hidrokarbon. Subjek penelitian adalah peserta didik kelas XI MIPA 2 SMAN 1 Sungai Tabuk dengan jumlah siswa 23 orang. Pengambilan sampel menggunakan teknik random sampling. Hasil penelitian menunjukkan (1) Terdapat empat konsep hidrokarbon yang memiliki persentase diatas 50% mengalami miskonsepsi konsep-konsep hidrokarbon tersebut iyalah pengelompokan hidrokarbon, tata nama hidrokarbon, sifat fisik hidrokarbon dan isomer. Dari tingkat kevalidan diperohel hasil sangat valid yang dipeoleh dari para ahli dan jawaban siswa yang diukur menggunakan SPSS. Kepraktisan diperoleh dari peserta didik yang mengisi angket dengan memberi skor 4 hingga 5 yang menandakan intrumen sudah dapat diterima dan diperkuat dengan wawancara kebeberapa peserta didik. Keefektifan diperoleh hasil dimana instrument sudah dinyatakan efektif karna sudah dapat mengukur tingkat pemahaman peserta didik dan diperkuat dengan hasil dari tingkat kesukaran, daya pembeda, reabilitas, dan validitas. Oleh karena itu, instrument tes diagnostik five-tier ini layak digunakan untuk mengukur dalam materi hidrokarbon.
 
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR DAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS PESERTA DIDIK MENGGUNAKAN MODEL STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) PADA MATERI KOLOID
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) bertujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar dan kemampuan berpikir kritis setelah diterapkannya pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Students Teams Achievement Division (STAD) pada materi koloid. Tiap siklus terdiri atas perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian adalah 33 peserta didik kelas XI MIPA 1 SMAN 10 Banjarmasin. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu wawancara, observasi, tes, dan dokumentasi. Data yang terkumpul kemudian dianalisis dengan teknik analisis kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif meliputi tahap pengumpulan data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Untuk data kuantitatif menggunakan analisis statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan tes hasil belajar peserta didik pada siklus I adalah 64,24 dan tergolong rendah dan terjadi peningkatan pada siklus II adalah 97,56 kategori sangat tinggi. Tes kemampuan berpikir kritis pada siklus I adalah 70 kategori tinggi dan terjadi peningkatan pada siklus II adalah 80 kategori sangat tinggi, hasil observasi kemampuan berpikir kritis pada siklus I adalah 9,58 kategori cukup baik dan terjadi peningkatan pada siklus II menjadi 15,05 kategori sangat baik. Respon peserta didik juga menunjukkan kategori setuju, dengan demikian model pembelajaran STAD dapat membantu pembelajaran dan meningkatkan hasil belajar dan kemampuan berpikir kritis peserta didik
EFEKTIVITAS PENGGUNAAN MEDIA E-LEARNING BERBASIS WEBSITE UNTUK MENINGKATKAN MINAT BELAJAR PADA PEMBELAJARAN KIMIA: Sebuah Kajian Pustaka
Media pembelajaran dengan internet yang dapat digunakan untuk keperluan pembelajaran yaitu website. Penggunaan media pembelajaran berbasis website diharapkan dapat membantu meningkatkan motivasi dan minat belajar siswa terhadap kelompok mata pelajaran-pelajaran yang dianggap sulit salah satunya pelajaran kimia yang konsepnya abstrak dan pembelajarannya monoton. Tujuan dari penelitian ini adaah untuk mengetahui efektifitas website untuk meningkatkan minat belajar peserta didik dalam pembelajaran kimia. Metode yang digunakan dalam penyusunan karya ilmiah ini adalah metode Systematic Literature Review dan metode PRISMA, yang menekankan pada pengumpulan data dari sumber pustaka dengan mencari referensi teori yang relevan dengan kasus dengan media pembelajaran berbasis website, dan peningkatan minat peserta didik dalam pembelajaran kimia dengan menggunakan website. Dalam analisis data, peneliti menggunakan teknik analisis isi. Teknik ini melibatkan proses mengkategorikan,dan menganalisis informasi yang relevan. Dengan penggunaan media pembelajaran berbasis website tidak hanya berfungsi sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran, tetapi juga menjadi sumber belajar yang efektif, dapat meningkatkan motivasi dan minat belajar siswa, terutama dalam mata pelajaran yang dianggap sulit seperti kimia. Keunggulan website yaitu elegan, keragaman materi, interaktivitas yang membantu siswa memperoleh keterampilan belajar, menyediakan akses yang luas ke materi pembelajaran, sehingga dapat mengatasi kesulitan siswa dalam memahami konsep-konsep abstrak
PERENCANAAN TEMPAT PENGOLAHAN SAMPAH (TPS) 3R KECAMATAN BANJABARU UTARA KOTA BANJARBARU
Waste is the rest of human daily activities and / or natural processes in solid form. Waste can have a very bad impact on people's health and environment if it cannot be addressed. The waste problem must be handled appropriately. One alternative to improving waste management is by replacing or implementing an existing waste treatment site with a 3R (reduce, reuse, and recycle) based waste treatment site. The amount of waste generation is directly proportional to population growth. North Banjarbaru is one of the sub-districts in Banjarbaru City with an area of 26,855 km2. North Banjarbaru District has a population of 53,770 people (as of 2021) and has a population growth rate of 1.31% annually, North Banjarbaru is the district with the densest population density of 2,162 people/km2. The data processing method used in planning consists of site selection, population projection calculation, waste generation calculation, mass balance calculation, land/space needs calculation, and 3R TPS floor plan layout. The logarithmic method is used for the calculation of population projections and waste generation in TPS 3R planning because it has the best correlation coefficient value and standard deviation. The total population of waste generation in the planning year (2031) is 65.595 people and 28,206 tons/day. The planning location is located on Jl. Pd. Sejahtera, North Loktabat Village. The land area required for this plan is 365.3 m2.
Keyword: waste, population, waste generation, TPS 3R planningSampah merupakan sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat. Sampah dapat membawa dampak yang sangat buruk bagi kesehatan dan lingkungan masyarakat apabila tidak dapat ditanggulangi. Permasalahan sampah harus ditangani secara tepat. Salah satu alternatif peningkatan pengelolaan sampah yaitu dengan cara mengganti atau menerapkan TPS yang sudah ada dengan TPS berbasis 3R (reduce, reuse, dan recycle). Jumlah timbulan sampah berbanding lurus dengan pertumbuhan penduduk. Banjarbaru Utara merupakan salah satu Kecamatan di Kota Banjarbaru dengan luas daerah 26.855 km2. Kecamatan Banjarbaru Utara mempunyai jumlah penduduk 53.770 jiwa (pertahun 2021) serta mempunyai laju pertumbuhan penduduk 1,31% pertahun, Banjarbaru Utara merupakan Kecamatan dengan kepadatan penduduk terpadat yaitu 2.162 jiwa/km2. Metode pengolahan data yang digunakan pada perencanaan terdiri dari pemilihan lokasi, perhitungan proyeksi jumlah penduduk, perhitungan timbulan sampah, perhitungan neraca massa, perhitungan kebutuhan lahan/ruang, serta penggambaran layout denah TPS 3R. Metode logaritmik digunakan untuk perhitungan proyeksi penduduk dan timbulan sampah pada perencanaan TPS 3R karena memiliki nilai kofisien kolerasi dan standar deviasi paling bagus. Jumlah penduduk timbulan sampah pada tahun perencanaan (2031) adalah 65.595 jiwa dan 28,206 ton/hari. Lokasi perencanaan terletak di Jl. Pd. Sejahtera Kelurahan Loktabat Utara. Luas lahan yang butuhkan pada perencanaan ini adalah 365,3 m2.
Kata kunci: Sampah, Jumlah Penduduk, Timbulan sampah, Perencanaan TPS 3
Grammatical Errors on Students’ Abstracts as Result of Translation From Indonesian into English
Translation study is crucial for the students who want to translate their academic journal into English because they often feel difficulty and confuse about how to write an appropriate translation. This research aimed to describe the grammatical errors made by the students in translating the thesis abstract from Indonesian into English. Two objectives are formulated: 1. to identify the grammatical errors on the students’ abstract as results of translation 2. to know what kind of grammatical errors mostly appear made by the students. This study accustomed descriptive qualitative as the approach of the research. The data source or document manipulated 2 abstracts that consist of 24 sentences. This study revealed that the student still produces a number of grammarical errors. There were about 72 errors found. The kinds of grammatical errors that mostly appear were in the error of ordering and then was followed by omission, selection, and addition. The other errors found to consist of a cultural word and intralingual. The writer concludes that the translation has been shifted by the student whose background is not English Department indicates that the students’ ability in translation still needs improvement and they need to study about translation, grammar, and grammatical error