Jurnal Tugas Akhir Mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat (ULM)
Not a member yet
1492 research outputs found
Sort by
PENGEMBANGAN MULTIMEDIA INTERAKTIF BERBASIS ARTICULATE STORYLINE PADA MATERI KIMIA KOLOID UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR PESERTA DIDIK
Pada era digital, penggunaan multimedia berbasis website menjadi satu kebutuhan penting dalam mendukung pembelajaran. Media berbasis web tidak hanya diperlukan untuk meningkatkan pemahaman peserta didik pada materi pelajaran tapi juga untuk meningkatkan motivasi belajar di tengah banyaknya disrupsi media yang lain. Penelitian ini bermaksud mengembangkan multimedia interaktif berbasis website pada pelajaran Kimia Koloid menggunakan articulate storyline yang valid, praktis dan efektif untuk meningkatkan motivasi dan pemahaman peserta didik SMA. Metode penelitian yang digunakan adalah reseach and development (R&D) dengan model pengembangan four-D (4D): define, design, develop, dan disseminate. Media pembelajaran yang dikembangkan diujicobakan pada siswa kelas XI IPA SMA Negeri Sungai Tabuk, Kalimantan Selatan. Data penelitian dianalisis dengan menggunakan teknik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa multimedia pembelajaran interaktif berbasis website menggunakan Articulate Storyline yang dikembangkan memenuhi persyaratan kelayakan berikut. (1) Media valid dan layak digunakan ditinjau dari aspek konten dan aspek kontekstual; (2) Melalui uji coba pada tahap uji perorangan dan kelompok kecil, multimedia interaktif yang dikembangkan terbukti praktis dalam penerapannya. (3) Media yang dikembangkan efektif dalam meningkatkan motivasi dengan N-gain sedang; dan efektif meningkatkan pemahaman peserta didik pada materi Kimia Koloid dengan N-gain tinggi. Dengan demikian, media interaktif berbasis Articulate Storyline yang dikembangkan ini dapat menjadi alternatif solusi untuk mengatasi permasalahan rendahnya motivasi sekaligus pemahaman peserta didik dalam belajar kimia
ANALISIS KADAR NITRAT, FOSFAT, DAN KELIMPAHAN FITOPLANKTON SEBAGAI INDIKATOR TINGKAT PENCEMARAN DAN KESUBURAN PERAIRAN DI SUB DAS MARTAPURA (STUDI KASUS IRIGASI KARANG INTAN, KALIMANTAN SELATAN): ANALYSIS OF NITRATE, PHOSPHATE AND PHYTOPLANKTON ABUNDANCE AS INDICATORS OF POLLUTION AND WATER FERTILITY IN THE MARTAPURA SUB-DASH (CORAL DIAMOND IRRIGATION CASE STUDY, SOUTH KALIMANTAN)
Sub DAS Martapura, Irigasi Karang Intan terindikasi adanya pencemaran perairan yang disebabkan oleh peternakan sapi pada stasiun 2. Indikasi tersebut akan berpotensi menyebabkan tercemarnya perairan terhadap kualitas air sehingga tingkat kesuburan menjadi rendah. untuk menghindari hal tersebut perlu adanya pengukuran kadar nitrat, fosfat, dan kelimpahan fitoplankton sehingga mendapatkan hasil yang akurat mengenai tercemar atau tidaknya perairan tersebut. Lokasi penelitian dilakukan secara survei lapangan, dengan titik pengambilan sampel ditetapkan secara purposive sampling. Parameter yang diujikan meliputi suhu, pH, DO, kecerahan, nitrat, fosfat, dan kelimpahan fitoplankton. Standar baku mutu mengacu pada peraturan pemerintah No. 22 Tahun 2021 kelas II, dengan metode indeks pencemaran, indeks kualitas air, kelimpahan fitoplankton, indeks saprobitas, dan uji regresi linear sederhana. Parameter yang tidak memenuhi baku mutu yakni oksigen terlarut dan fosfat. Perhitungan tingkat pencemaran menggunakan indeks pencemaran didapatkan range nilai 1,0-5,0 dan indeks kualitas air didapatkan hasil 50. Perhitungan tingkat kesuburan menggunakan kelimpahan fitoplankton didapatkan range nilai 100-40.000 sel/l dan indeks saprobitas didapatkan range nilai -2-1,5. Hasil korelasi hubungan fitoplakton dengan variabel kualitas air dari korelasi sangat lemah hingga kuat. Kesimpulan pada tingkat pencemaran menggunakan indeks pencemaran menunjukkan kategori tercemar ringan dan indeks kualitas air menunjukkan kategori sedang. Tingkat kesuburan menggunakan kelimpahan fitoplankton tergolong kesuburan sedang dan indeks saprobitas pada sampling pertama kategori kesuburan rendah dan sampling kedua kategori kesuburan sedang. Korelasi hubungan kelimpahan fitoplankton dengan oksigen terlarut korelasi sangat lemah dan hubungan kelimpahan fitoplankton dan pH korelasi kuat
PUSAT PELATIHAN SEPAK TAKRAW BANUA ANAM DI KANDANGAN
Sports is growing every year, including takraw. In South Kalimantan, especially in Banua Anam, sepak takraw is growing. This development needs to be supported by a training center. The Banua Anam Sepak Takraw Training Center has a problem about how to design a sepak takraw training center based on a sepak takraw training program. Programmatic methods are used in design to identify problems so as to produce concepts. The concept of Functional Programming is obtained after going through identification with a programmatic method. These concepts and methods were chosen to produce a functional design based on the athlete's training program and daily activities.ABSTRAK
Bidang olahraga tiap tahun semakin berkembang termasuk sepak takraw. Sepak takraw di Kalimantan Selatan, khususnya Banua Anam sepak takraw semakin berkembang. Perkembangan ini perlu ditunjang dengan pusat pelatihan. Pusat Pelatihan Sepak Takraw Banua Anam memiliki permasalahan tentang bagaimana merancang pusat pelatihan sepak takraw berdasarkan program latihan sepak takraw. Metode programatik digunakan dalam perancangan untuk mengidentifikasi permasalahan sehingga menghasilkan konsep. Konsep Programatik Fungsional didapatkan setelah melalui identifikasi dengan metode programatik. Konsep dan metode ini dipilih untuk menghasilkan rancangan yang fungsional berdasarkan program latihan dan aktivitas harian atlet
Prarancangan Pabrik Etilen Glikol dari Etilen Oksida dengan Kapasitas 55.000 Ton/Tahun
Perkembangan industri kimia di Indonesia semakin mengalami peningkatan setiap tahunnya. Salah satunya adalah pabrik etilen glikol yang banyak dibutuhkan namun produksinya semakin turun dalam tiga tahun terakhir. Pabrik etilen glikol dengan bahan baku berupa etilen oksida dan air dirancang dengan kapasitas 55.000 ton/tahun dengan waktu operasi selama 330 hari/tahun. Bahan utama yang dibutuhkan adalah etilen oksida sebanyak 5.651,7992 kg/jam yang menghasilkan yield sebesar 60%. Secara garis besar, proses produksi terbagi menjadi 4 tahap yaitu proses pencampuran, reaksi di dalam reaktor, evaporasi, dan distilasi. Proses reaksi di dalam reaktor terjadi pada suhu 190℃ dan tekanan 18 atm. Hasil pemurnian berupa produk utama berupa etilen glikol (EG) dan produk samping berupa dietilen glikol (DEG) dan trietilen glikol (TEG). Hasil pemisahan, diperoleh kemurnian EG sebesar 99,9%, DEG 99,9%, dan TEG 99,7%. Pabrik etilen glikol memiliki bentuk perusahaan berupa Perseroan Terbatas (PT). Dari hasil evaluasi ekonomi, nilai Annual Cash Flow (ACF) yang diperoleh pabrik ini sebesar US$15.969.484,85. (89,68 %) dengan laju pengembalian modal atau Pay Out Time (POT) selama 1,39 Tahun dan memiliki nilai Break Event Point (BEP) sebesar 43,2 %. Dari evaluasi ekonomi dapat dinyatakan bahwa pabrik Etilen Glikol layak untuk didirikan di Indonesia
PRARANCANGAN PABRIK KLOROFORM DARI ASETON DAN KALSIUM HIPOKLORIT DENGAN KAPASITAS 11.000 TON/TAHUN
Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang harus mempersiapkan diri untuk menghadapi era perdagangan bebas. Industri kimia merupakan salah satu industri yang memegang peranan penting dalam meningkatkan kemajuan bangsa di sektor perdagangan. Salah satu bahan kimia yang penggunaannya cukup dibutuhkan dalam industri kimia adalah kloroform. Pabrik kloroform berbahan baku kalsium hipoklorit dan aseton ini dirancang dengan kapasitas 11.000 ton/tahun dan waktu operasi 330 hari per tahun. Bahan baku yang dibutuhkan yaitu kalsium hipoklorit sebanyak 4769,29 kg/jam dan aseton sebanyak 846,71 kg/jam. Proses produksi terbagi menjadi tiga tahapan, yaitu persiapan bahan baku, pembuatan kloroform, dan pemisahan produk. Proses produksi kloroform dilakukan pada RATB pada kondisi operasi suhu 50oC dengan keseluruhan kondisi operasi berjalan pada tekanan 1 atm. Pabrik ini akan beroperasi di Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang, Provinsi Banten dengan estimasi mulai beroperasi pada 2028. Berdasarkan hasil evaluasi analisa ekonomi, dapat disimpulkan bahwa pendirian pabrik kloroform dari aseton dan kalsium hipoklorit dengan kapasitas 11.000 ton/tahun layak didirikan dengan rincian Annual Cash Flow (ACF) sebesar 93,45%, waktu pengembalian modal selama 4 tahun, Pay Out Time (POT) sebesar 1,208 tahun, Rate of Return (ROR) sebesar 84,45%, dan Break Even Point (BEP) sebesar 48,02%
PRARANCANGAN PABRIK BIOETANOL DARI JERAMI PADI MELALUI PROSES FERMENTASI DENGAN KAPASITAS 6.000 TON/TAHUN
Etanol merupakan bahan yang multi fungsi dan dapat digunakan pada hampir semua bidang industri. Etanol umumnya digunakan pada industri kosmetik, cat, farmasi, industri minuman berkarbonasi, kebutuhan rumah sakit dan lainnya. Perkembangan di bidang industri merupakan suatu hal yang sangat penting dan berpengaruh terhadap ketahanan ekonomi Indonesia. Sektor industri kimia banyak memegang peranan dalam memajukan perindustrian di Indonesia. Etanol dapat diproduksi dari berbagai bahan, salah satunya adalah jerami padi. Namun, etanol yang diproduksi dari jerami padi jumlahnya masih sedikit dan kebanyakan masih berskala industri kecil. Jerami padi merupakan hasil samping dari produksi padi menjadi beras yang terdapat dalam setiap pabrik beras yang ada.
Pembuatan bioetanol pada pabrik ini menggunakan proses delignifikasi, hidrolisis, fermentasi, dan destilasi. Glukosa hasil proses hidrolisis selulosa difermentasi di dalam biorektor (fermentor) selama kurang lebih 36 jam dan melalui tahap pemurnian hingga diperoleh etanol dengan kadar 98,5%. Etanol berbahan baku dari jerami padi dengan kapasitas 6.000 ton/tahun dengan 330 hari kerja dalam 1 tahun dan dioperasikan pada tahun 2026.
Kata kunci: etanol, fermentasi, jerami padi, glukosa, xylosa, distilas
PRARANCANGAN PABRIK BIOETANOL DARI SINGKONG DENGAN PROSES FERMENTASI KAPASITAS 35.000 TON/TAHUN
Pertumbuhan penduduk di dunia yang cukup tinggi berimbas pada peningkatan kebutuhan sarana transportasi dan akhirnya mempengaruhi jumlah kebutuhan bahan bakar. Untuk itu sumber energi alternatif yang digunakan sebagai bahan bakar adalah bioetanol. Bioetanol adalah salah satu bahan bakar alternatif yang dikenal sebagai bahan bakar ramah lingkungan dikarenakan bersih dari emisi. Kebutuhan bioetanol di Indonesia sendiri tiap tahunnya selalu mengalami kenaikan sehingga mendorong untuk dilakukannya inovasi untuk meningkatkan produksi bioetanol. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka dirancang pabrik bioetanol yang direncanakan akan berdiri pada tahun 2026 dengan kapasitas 35.000 ton/tahun. Pabrik ini akan didirikan di Teladas, Kabupaten Tulang Bawang, Provinsi Lampung.
Pembuatan bioetanol relatif mudah, sederhana dan bahan baku nya juga mudah didapatkan. Bahan baku utama pembuatan bioetanol adalah singkong. Proses produksi yang digunakan dalam prarancangan pabrik bioetanol ini adalah proses fermentasi dengan menggunakan saccharomyces cerevisiae. Proses fermentasi dilakukan dalam kondisi anaerob selama 34 jam pada suhu 45oC dan tekanan 1 atm. Bioetanol yang dihasilkan dari proses fermentasi ini berkadar 8-12%. Selanjutnya, untuk tahap pemurnian bioetanol menggunakan menara distilasi serta molecular sieve dengan menggunakan zeolite sebagai unit dehidrasi untuk mencapai konsentrasi bioetanol 99,5%.
Bioetanol berbahan baku singkong diproduksi dengan kapasitas 35.000 ton/tahun dengan 330 hari kerja dalam 1 tahun dan dioperasikan mulai tahun 2026. Bentuk perusahaan berupa Perseroan Terbatas (PT) dengan sistem organisasi line dan staff. Sistem kerja karyawan berdasarkan pembagian menurut jam kerja yang terdiri dari shift dan non-shift dengan tenaga kerja yang dibutuhkan sebanyak 151 orang. Selain itu diperoleh juga nilai Return of Investment (ROI) sebelum pajak sebesar 28,11 % dan Return of Investment (ROI) sesudah pajak sebesar 18,3 %. Pay Out Time (POT) sebelum pajak yaitu 2,624 tahun dan Pay Out Time (POT) sesudah pajak yaitu 3,537 tahun Sehingga diperoleh Break Event Point (BEP) sebesar 47% dan Shut Down Point (SDP) sebesar 30%. Berdasarkan pertimbangan hasil evaluasi tersebut, maka pabrik bioetanol kapasitas 35.000 ton/tahun ini layak untuk didirikan.
Kata kunci: Bioetanol, Fermentasi, Singkong, Saccharomyces cerevisia
Efektivitas Tanaman Bintaro (Cerbera manghas) dalam Menekan Serangan Penyakit Moler pada Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) di Lahan Gambut
Shallots are one of the important vegetable commodities that have been intensively cultivated by farmers for a long time, including in the non-substituted spices group which functions as food flavoring seasonings and ingredients for traditional medicine. In the production process, various constraint were found, one of which is the attack of pathogens that cause moler disease. This study aims to determine the effectiveness of Bintaro solution on the intensity of Moler disease attacks on shallot plants on peatlands. The study was conducted at the Phytopathology Laboratory, Faculty of Agriculture, Lambung Mangkurat University, Banjarbaru and in Tegal Arum Village, Landasan Ulin District, Banjarbaru City, South Kalimantan, from June to October 2022. The study used a completely randomized design consisting of 4 treatments and 5 replications. The treatment tested was the application of old b intaro fruit, young bintaro fruit, bintaro leaves plus 1 control treatment. The application of vegetable pesticides was carried out by pouring the solution onto the surface of each shallot plant as much as 5 ml per plant, which was carried out 7 times with an interval of 1 week. Parameters observed were the intensity of the attack of moler disease, fresh weight of the bulbs, the number of bulbs and the diameter of the shallot bulbs. The results showed that the incubation period for the pathogen causing moler disease was 14 days. The application of bintaro plant solution was unable to suppress the attack of moler disease on shallots on peatlands and was unable to increase the number of shallot bulbs, but the application of old bintaro fruit was able to increase tuber wet weight by 41kg/ha and tuber diameter by 2%.Bawang merah yang sejak lama dibudidayakan secara intensif oleh petani dan merupakan bagian dari kategori Bumbu Nonsubstitusi yang digunakan untuk penyedap rasa bahan makanan maupun obat tradisional Ini adalah salah satu komoditas sayuran utama. Dalam proses produksinya ditemukan berbagai gangguan, diantaranya yaitu serangan patogen penyebab penyakit moler. Penelitian ini akan mengkaji efektivitas larutan tanaman bintaro dalam menurunkan intensitas serangan penyakit Moler pada tanaman bawang merah di lahan gambut. Penelitian dilakukan di Laboratorium Fitopatologi, Fakultas Pertanian, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru dan di Desa Tegal Arum, Kecamatan Landasan Ulin, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, pada bulan Juni hingga Oktober 2022.Rancangan acak lengkap yang terdiri dari 4 perlakuan dan 5 ulangan digunakan dalam penelitian ini. Perlakuan yang diuji yaitu aplikasi buah bintaro tua, buah bintaro muda, daun bintaro ditambah 1 perlakuan kontrol. Aplikasi pestisida nabati dilakukan dengan mengocorkan larutan ke permukaan tanah tiap-tiap tanaman bawang merah sebanyak 5 ml per tanaman yang dilakukan sebanyak 7 kali dengan interval pemberian selama 1 minggu. Parameter yang diamati adalah intensitas serangan penyakit moler, jumlah umbi, berat basah umbi dan diameter umbi bawang merah. Hasil dari penelitian telah menunnjukkan bahwa masa inkubasi patogen penyebab penyakit moler adalah 14 hari. Aplikasi larutan tanaman bintaro tidak mampu menekan kejadian penyakit moler bawang merah di lahan gambut dan tidak mampu meningkatkan jumlah umbi bawang merah, akan tetapi aplikasi buah bintaro tua, mampu meningkatkan bobot basah umbi sebesar 41kg/ha dan diameter umbi sebesar 2%
Pengendalian Nematoda Puru Akar (Meloidogyne spp.) Pada Seledri Dengan Bokashi Kipahit Dan Trichoderma sp.
The celery plant (Apium graveolens L.) is a cultivated leaf vegetable that has advanced capabilities and has a high selling value. Celery also has many properties which are commonly used as decoration and flavoring in cooking. One of the obstacles in increasing celery production is nematode attacks. Nematodes (Meloidogyne spp.) which can affect the number of leaf stalks. The aim of this research was to determine the ability of Bokashi kipahit Plus Trichoderma sp. to reduce attacks by root knot nematodes (Meloidogyne spp.) on celery plants (Apium graveolens L.). The research was designed using a Completely Randomized Design (CRD). What was studied was the impact of giving Bokashi kipahit, Trichoderma sp. and Bokashi kipahit plus Trichoderma sp. The research consisted of four treatments and four replications. The results of the research showed that giving Bokashi kipahit 15.5g/polybag added with Trichoderma sp. 20g/polybag can reduce the NPA population by 48%, and can increase the number of celery stalks by 39%.Tanaman seledri (Apium graveolens L.) merupakan tanaman sayuan daun yang dibudidayakan memiliki kemampuan maju dan memiliki nilai jual yang tinggi, seledri juga memiliki banyak khasiat yang biasa digunakan sebagai hiasan dan penyedap masakan.Salah satu penghambat dalam peningkatan produksi seledri adalah serangan nematoda. Nematoda (Meloidogyne spp.) yang dapat mempengaruhi jumlah tangkai daun. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan Bokashi kipahit Plus Trichoderma sp. untuk mengurangi serangan nematoda puru akar (Meloidogyne spp.) pada tanaman seledri (Apium Graveolens L.). Penelitian dirancang menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Hal yang diteliti adalah dampak pemberian Bokashi kipahit, Trichoderma sp. dan Bokashi kipahit plus Trichoderma sp. Penelitian terdiri dari empat perlakuan dan empat ulangan. Hasil penelitian dapat diketahui bahwa pemberian Bokashi kipahit 15.5g/polybag yang ditambah Trichoderma sp. sebanyak 20g/polybag dapat menurunkan populasi NPA sebesar 48%, serta mampu meningkatkan jumlah tangkai daun tangkai daun seledri sebanyak 39%
Efektivitas Waktu Aplikasi Trichokompos dan Larutan Daun Sirih dalam Menekan Kejadian Penyakit Layu Fusarium pada Tanaman Padi Beras Merah (Oryza nivara L.)
Red rice (Oryza nivara L.) is a type of rice whose consumption level is increasing every year. However, obstacles in cultivating red rice often occur due to disease attacks, one of which is fusarium wilt. The aim of this research was to determine the effectiveness of varying the application time of trichocompost combined with betel leaf solution in suppressing the incidence of fusarium wilt disease in red rice plants. The research method used a Completely Randomized Design (CRD) which was carried out in the Phytopathology laboratory and greenhouse of the Department of Plant Pests and Diseases, Faculty of Agriculture, Lambung Mangkurat University, Banjarbaru. The results of the study showed that the treatment given trichocompost and betel leaf solution with application times a week before planting, during planting, and a week after planting was able to reduce the incidence of disease by up to 35.00% with a control effectiveness percentage of 62.16% compared to the control treatment which had the incidence disease amounted to 92.50%. Application of trichocompost and betel leaf solution with varying times on red rice was able to extend the incubation period of the pathogen up to 20.25 days compared to the control, namely 12.53 days. Plants that were given the application of trichocompost and betel leaf solution were also able to increase plant height by up to 102.83 cm with a total of 8.78 tillers compared to the control without treatment which had a plant height of 76.30 cm with a total of 4.30 tillers.Beras merah (Oryza nivara L.) merupakan salah satu jenis beras yang tingkat konsumsinya semakin tinggi setiap tahunnya. Namun kendala dalam budidaya padi beras merah yang sering terjadi oleh adanya serangan dari penyakit, salah satunya adalah penyakit layu fusarium. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui efektivitas pengaruh variasi waktu aplikasi trichokompos yang dikombinasikan dengan larutan daun sirih dalam menekan kejadian penyakit layu fusarium pada tanaman padi beras merah. Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang dilaksanakan di laboratorium Fitopatologi dan rumah kaca Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru. Hasil penelitian menunjukan perlakuan yang diberikan trichokompos dan larutan daun sirih dengan waktu aplikasi seminggu sebelum tanam, saat tanam, dan seminggu setelah tanam mampu menekan kejadian penyakit hingga 35,00% dengan persentase keefektifan pengendalian yaitu 62,16% dibandingkan dengan perlakuan kontrol yang memiliki kejadian penyakit sebesar 92,50%. Aplikasi trichokompos dan larutan daun sirih dengan variasi waktu pada padi beras merah mampu memperpanjang masa inkubasi patogen hingga 20,25 hari dibandingkan dengan kontrol yaitu 12,53 hari. Tanaman yang diberikan aplikasi trichokompos dan larutan daun sirih juga mampu meningkatkan tinggi tanaman hingga 102,83 cm dengan jumlah sebanyak 8,78 anakan dibandingkan kontrol tanpa perlakuan yang memiliki tinggi tanaman yaitu 76,30 cm dengan jumlah anakan sebanyak 4,30 anakan