Jurnal Tugas Akhir Mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat (ULM)
Not a member yet
1492 research outputs found
Sort by
PASAR SAYUR DI KAMPUNG SAYUR LANDASAN ULIN UTARA BANJARBARU
This journal discusses the planning and design of the North Ulin Platform Vegetable Market with a Sustainable Architecture approach. The vegetable market is an important space for social interaction on an urban scale. The market acts as a means of distribution of agricultural goods and has a strategic role in the food security of a region.
Kampung Sayur LAURA in Banjarbaru City, South Kalimantan, is a government effort to increase agricultural productivity and the local economy. This area is planned as a center for the production of quality agricultural products. The Municipal Government of Banjarbaru plans to establish a Vegetable Market in Kampung Sayur LAURA to facilitate the buying and selling of agricultural commodities. However, the existing vegetable market is still not optimal in trading farmer's commodities. In addition, vegetables are often delivered through collectors, which causes price increases. Therefore, proper planning and design is needed to build the LAURA Kampung Sayur Vegetable Market.
Vegetable Market Kampung Sayur LAURA must be designed with characteristics that suit the needs of the vegetable market. In addition, infrastructure that supports the growth of the agricultural sector needs to be accommodated to meet the quality standards set by the Indonesian Ministry of Agriculture.
Sustainable Architecture was chosen as the design approach for LAURA's Kampung Sayur Vegetable Market. This approach includes three pillars of design strategy, namely economic, social and environmental balance. By adopting this concept, it is hoped that the vegetable market can contribute in economic, ecological and social aspects.Jurnal ini membahas tentang perencanaan dan perancangan Pasar Sayur Kampung Sayur Landasan Ulin Utara dengan pendekatan Arsitektur Berkelanjutan. Pasar sayur merupakan ruang interaksi sosial yang penting dalam skala perkotaan. Pasar tersebut berperan sebagai sarana distribusi barang pertanian dan memiliki peran strategis dalam ketahanan pangan suatu wilayah.
Kampung Sayur LAURA di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, merupakan upaya pemerintah untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan ekonomi lokal. Kawasan ini direncanakan sebagai pusat produksi hasil pertanian berkualitas. Pemerintah Kota Banjarbaru berencana mendirikan Pasar Sayur di Kampung Sayur LAURA untuk memfasilitasi jual-beli komoditas pertanian. Namun, pasar yang ada saat ini masih belum optimal dalam memperjualbelikan komoditas petani. Selain itu, sayur sering diserahkan melalui pengepul, yang menyebabkan kenaikan harga. Oleh karena itu, diperlukan perencanaan dan perancangan yang tepat untuk membangun Pasar Sayur Kampung Sayur LAURA.
Pasar Sayur Kampung Sayur LAURA harus didesain dengan karakteristik yang sesuai dengan kebutuhan pasar sayur. Selain itu, infrastruktur yang mendukung pertumbuhan sektor pertanian perlu diakomodasi untuk memenuhi standar mutu yang ditetapkan oleh Kementerian Pertanian Indonesia.
Arsitektur Berkelanjutan dipilih sebagai pendekatan perancangan untuk Pasar Sayur Kampung Sayur LAURA. Pendekatan ini mencakup tiga pilar strategi desain, yaitu keseimbangan ekonomi, sosial, dan lingkungan. Dengan mengadopsi konsep ini, diharapkan pasar sayur dapat berkontribusi dalam aspek ekonomi, ekologi, dan sosial Kampung Sayur LAUR
Pra-Rancangan Pabrik Metil Akrilat Dengan Proses Esterifikasi Asam Akrilat dan Metanol Kapasitas 35.000 Ton/Tahun
Di era globalisasi, penting bagi Indonesia sebagai negara berkembang untuk meningkatkan pembangunan di segala bidang, termasuk sektor industri. Salah satu sektor yang dapat dikembangkan adalah industri kimia. Perkembangan industri kimia dapat ditandai dengan didirikannya pabrik-pabrik kimia baru yang dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri dalam negeri. Salah satu jenis bahan kimia yang belum terpenuhi dan diperoleh dengan cara impor dari negara produsen, antara lain metil akrilat. Pabrik metil akrilat yang menggunakan bahan baku asam akrilat dan metanol ini dirancang dengan kapasitas 35.000 ton/tahun dengan waktu operasi 330 hari/tahun. Kebutuhan bahan baku asam akrilat sebanyak 29.893.965 ton/tahun dan metanol sebanyak 19.937.607 ton/tahun dengan persentase konversi reaksi sebesar 98%. Dalam rencana ini, metil akrilat diproduksi melalui proses esterifikasi yang menghasilkan produk metil akrilat dan gipsum. Proses ini melibatkan reaksi esterifikasi asam akrilat dan metanol dalam fase cair dalam reactor plug flow dengan katalis asam sulfat. Reaksi dilakukan pada tekanan 1 atm dan suhu 50°C secara eksotermis. Metil akrilat yang terbentuk dipisahkan menggunakan distilasi azeotropik sehingga diperoleh kemurnian 99,95%. karyawan yang dibutuhkan sebanyak 153 orang. Hasil analisis ekonomi menunjukkan laba bersih penjualan sebesar Rp40.678.633.565,81, Rate of Investment (RoI) 13%, Pay Out Time (POT) 4,4 tahun. Dengan demikian, Break Even Point (BEP) mencapai 46%. Berdasarkan evaluasi keekonomian, pabrik metil akrilat dengan kapasitas produksi 35.000 ton/tahun layak untuk didirikan
EVALUASI PEMBINAAN OLAHRAGA DAYUNG DI KALIMANTAN SELATAN
Olahraga dayung merupakan cabang olahraga perairan yang berkembang di wilayah Kalimantan Selatan. Berkembangnya olahraga dayung di Kalimantan Selatan didukung oleh kondisi wilayah Kalimantan Selatan yang memiliki sebagian besar wilayah perairan, baik berupa sungai, rawa, pantai, dan danau. Dukungan pencapai prestasi olahraga menjadi faktor berkembang dan berprestasinya suatu cabang olahraga. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pembinaan prestasi olahraga dayung di Kalimantan Selatan. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini yaitu deskriptif kualitatif. Pendekatan evaluasi yang digunakan dengan model CIPP yang meliputi pembahasan tentang Context, Input, Process, dan Product dari proses pembinaan olahraga dayung yang telah berjalan. Teknik pengumpulan data dengan cara melakukan wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Data yang diperoleh dianalisis secara kualitatif dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1) reduksi data, 2) penyajian data, dan 3) penarikan kesimpulan. Hasil penelitian diperoleh bahwa 1) evaluasi context sudah sesuai dengan program pembinaan, 2) evaluasi input sudah sesuai dengan program pembinaan. 3) evaluasi proses belum sesuai dengan kriteria yang ditetapkan 4) evaluasi product masih belum sesuai masih perlu ditingkatkan prestasinya di kejuaraan yang lebih bergengs
REDESAIN TAMAN WISATA ALAM PULAU BAKUT
Nature tourism park is a designation for landscapes that are protected through long-term planning, sustainable use and agriculture. These precious landscapes are preserved in their current state and promoted for tourism purposes. In the Bakut Island Nature Park, there are several groups of proboscis monkeys spread across the island, which are known as their natural habitat. Currently, the proboscis monkey, which is endemic to the island of Kalimantan, has received an endangered status after experiencing a population decline caused by the loss of the proboscis monkey's natural habitat. Currently, Bakut Island is one of the natural proboscis monkey conservation locations, but there is a natural tourism park that openly shows human activity at that location. This can affect the activity of proboscis monkeys in their survival. Responding to this, it is felt necessary to redesign the TWA which uses a concept that creates a relationship between humans and proboscis monkeys without directly involving the proboscis monkeys with the concept of Camouflage Architecture which hides human activity from the proboscis monkey's view and Biophilic Architecture in efforts to heal nature.Taman wisata alam adalah sebutan untuk lanskap yang dilindungi melalui perencanaan jangka panjang, pemanfaatan berkelanjutan dan pertanian. Lanskap yang berharga ini dilestarikan dalam keadaan mereka saat ini dan dipromosikan untuk tujuan pariwisata. Pada Taman Wisata Alam Pulau Bakut terdapat beberapa kelompok bekantan yang tersebar di pulau, yang diketahui sebagai habitat alaminya. Saat ini bekantan yang merupakan hewan endemik pulau kalimantan mendapat status endangered setelah mengalami penurunan populasi yang diakibatkan hilangnya habitat alami bekantan itu sendiri. Saat ini pulau bakut menjadi salah satu lokasi pelestarian bekantan secara alami namun terdapat taman wisata alam yang bersifat secara terang terangan menunjukan aktivitas manusia pada lokasi tersebut. Hal ini dapat mempengaruhi aktivitas bekantan dalam kelangsungan hidupnya. Menanggapi hal tersebut dirasa perlu adanya Redesain pada TWA yang menggunakan konsep yang menciptakan hubungan antara manusia dengan bekantan tanpa melibatkan bekantannya secara langsung dengan konsep Arsitektur Kamuflase yang menyembunyikan aktivitas manusia dari pandangan bekantan dan Arsitektur Biofilik pada upaya penyembuhan alam
PRA RANCANGAN PABRIK GAMMA VALEROLACTONE (GVL) DARI HIGH FRUCTOSE CORN SYRUP (HFCS-90) DENGAN KAPASITAS 40.000 TON/TAHUN
Perencanaan pabrik Gamma-Valerolactone (GVL) akan beridiri pada tahun 2025 yang berlokasi di Cilegon Timur, Provinsi Banten. Pabrik beroperasi selama 330 hari dengan total karyawan 208 orang dan kapasitas pabrik mencapai 40.000 Ton/Tahun. Bahan baku yang digunakan adalah sirup fruktosa tinggi dari jagung (HFCS-90). Pembuatan GVL melalui tahap pertama yaitu dehidrasi hidrolisis, tahapan ini memecah molekul fruktosa menjadi senyawa yang lebih sederhana berupa asam levulinat dan asam format. Dehidrasi hidrolisis dibantu oleh katalis cair dalam mempercepat laju reaksi, katalis yang dipakai adalah asam sulfat (H2SO4)konsnetrasi 5-10%. Kondisi operasi tahap hidrolisis berada pada tekanan 5 atm dan suhu 140oC.Proses netralisasi berfungsi untuk menghilangkan kandungan asam sulfat menggunakan kalsium hidroksida (Ca()H)2) dan membentuk kalsium sulfat dihidrat (CaSO4.2H2O). Tahaohidrogenasi adalah tahap mengubah asam levulinat menjadi GVL dengan bantuan katalis padat ruthenium on carbon (Ru/C) pada kondisi operasi 20 barr dan 130 oC. Tahap pemurnian sebagai tahap final untuk memperoleh GVL dengan kandungan 97%. Kebutuhan utilitas air 819530 Kg/jam diperoleh dari air sungai kali berung, kebutuhan utilitas listrik sebesar 3374.061 KW disupplay dari generator dan PLN. Utilitas bahan bakar disupplay dari Pertamina sebagai bahan bakar solar untuk boiler. Analisa Ekonomi didapat Annual Cash Flow (AFC) 82.13% , waktu pengembalian modal 4 tahun, Rate of Return (ROR)73.13%, Pay Out Time (POT) 1.375 Tahun, Break Even Point (BEP) 46.72%. Berdasarkan uraian tersebut pabrik gamma-valerolactone (GVL) layak didirikan
PRARANCANGAN PABRIK LIQUEFIED NATURAL GAS (LNG) DARI SHALE GAS DENGAN KAPASITAS 400.000 TON/TAHUN
Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki kandungan sumber daya alam multi energi dimana salah satunya adalah gas alam. Pada tahun 2021 total produksi energi primer yang terdiri dari minyak bumi, gas bumi, batubara, dan energi terbarukan mencapai 185,6 Triliun ton/tahun. Sebesar 58,2% atau 113,4 Triliun ton/tahun dari total produksi tersebut diekspor terutama batubara dan LNG. Pabrik Liquefied Natural Gas (LNG) berbahan baku shale gas ini dirancang dengan Kapasitas 400 Ribu ton/tahun dan waktu operasi 330 hari per tahun. Bahan baku yang di butuhkan yaitu shale gas sebanyak 500 ribu ton/tahun. Proses produksi terbagi menjadi tiga tahapan yaitu persiapan bahan baku, pemisahan fraksi dan pencairan produk. Proses produksi LNG dilakukan pada Debutanizer dengan kondisi operasi suhu -46,262ºC dengan tekanan operasi 130,5 psia. Pabrik ini akan beroprasi di Jl. Arifin Ahmad, Desa Pelintung, Kec. Medang Kampai, Kota Dumai, Provinsi Riau. Dengan estimasi mulai beroprasi pada 2025. Berdasarkan hasil evaluasi analisa ekonomi, dapat disimpulkan bahwa pendirian pabrik LNG dari shale gas dengan kapasitas 400 ribu ton/tahun layak didirikan dengan rincian Annual Cash Flow (ACF) sebesar 38%, waktu pengembalian modal selama 4 tahun, Pay Out Time (POT) sebesar 4,1 tahun, Internal Rate of Return (IRR) sebesar 21,59%, dan Break Even Point (BEP) sebesar 41,91%
Prarancangan Pabrik Amil Alkohol dari Pentana dan Klorin dengan Kapasitas 11.000 Ton/Tahun
Di era globalisasi, penting bagi Indonesia sebagai negara berkembang untuk meningkatkan pembangunan di segala bidang, termasuk sektor industri. Salah satu sektor yang dapat dikembangkan adalah industri kimia. Perkembangan industri kimia dapat ditandai dengan didirikannya pabrik-pabrik kimia baru yang dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri dalam negeri. Salah satu jenis bahan kimia yang belum terpenuhi dan diperoleh dengan cara impor dari negara produsen, antara lain amil alkohol. Pabrik amil alkohol yang menggunakan bahan baku pentana dan klorin ini dirancang dengan kapasitas 11.000 ton/tahun dengan waktu operasi 330 hari/tahun. Kebutuhan bahan baku pentana sebanyak 10.280,2299 ton/tahun dan klorin sebanyak 10.280,2299 ton/tahun dengan persentase konversi reaksi sebesar 95%. Dalam rencana ini, amil alkohol diproduksi melalui proses klorinasi dan hidrolisis yang menghasilkan produk amil alkohol. Proses ini melibatkan reaksi klorinasi pentana dan klorin dalam fase gas dalam reactor fixed bed multitube dengan katalis metal rachig ring. Reaksi dilakukan pada tekanan 9,5 atm dan suhu 135°C secara eksotermis. Amil alkohol yang terbentuk dipisahkan menggunakan dekanter sehingga diperoleh kemurnian 99%. karyawan yang dibutuhkan sebanyak 179 orang. Hasil analisis ekonomi menunjukkan laba bersih penjualan sebesar Rp67.231.926.185. Rate of Investment (RoI) 25,55%, Pay Out Time (POT) 3,4 tahun. Dengan demikian, Break Even Point (BEP) mencapai 44,15%. Berdasarkan evaluasi keekonomian, pabrik amil alkohol dengan kapasitas produksi 11.000 ton/tahun layak untuk didirikan
Uji Efektivitas Daun Sirih Dalam Menghambat Pertumbuhan Layu Bakteri Ralstonia solanacearum Pada Tanaman Terung: Effectiveness of Betel Leaves in Inhibiting the Growth of Bacterial Wilt Ralstonia solanacearum on eggplant plants
Ralstonia solanacearum is one of the important diseases in eggplant plants which causes bacterial wilt in plants so control efforts need to be taken. One alternative control method is using vegetable pesticides from betel leaf powder. This research aims to determine the effectiveness of betel leaves in inhibiting the growth of R. solanacearum bacterial wilt on eggplant plants. This research used a Completely Randomized Design (CRD) with 5 treatments and 5 replications, each replication using 4 plants so there were 100 experimental units. The treatment used doses of 25 gr, 50 gr, 75 gr, 100 gr of betel leaf powder, and as a comparison, namely the control treatment in this study. Observations were made every day after inoculation to see the incubation period that occurred in the eggplant plants and once a week to observe the disease intensity and severity of the disease in the eggplant plants. The results of this study showed that an effective treatment with a dose of 100 g of betel leaf powder with an eggplant plant age of 47 days after showed the lowest treatment in suppressing Ralstonia solanacearum bacteria, namely a disease intensity percentage of 15% with a disease severity percentage of 20% and had the lowest incubation period. slow, namely 19 days, this shows that betel leaves have an effect in suppressing disease attacks caused by R. solanacearum on eggplant plants because they have antibacterial active compounds.Bakteri Ralstonia solanacearum adalah salah satu penyakit penting pada tanaman terung yang menyebabkan layu bakteri pada tanaman sehingga perlu dilakukan upaya pengendalian. Salah satu alternatif pengendalian menggunakan pestisida nabati dari serbuk daun sirih. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas daun sirih dalam menghambat pertumbuhan layu bakteri R. solanacearum pada tanaman terung. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 5 kali ulangan, setiap ulangan menggunakan 4 tanaman sehingga terdapat 100 satuan percobaan. Perlakuan menggunakan dosis 25 gr, 50 gr, 75 gr, 100 gr serbuk daun sirih, serta sebagai pembanding yaitu perlakuan kontrol dalam penelitian ini. Pengamatan dilakukan setiap hari setelah inokulasi untuk melihat masa inkubasi yang terjadi pada tanaman terung dan seminggu sekali untuk mengamati intensitas penyakit dan keparahan penyakit pada tanaman terung. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan yang efektif dengan dosis sebanyak 100 g serbuk daun sirih dengan umur tanaman terung 47 hst menunjukkan perlakuan paling rendah dalam menekan bakteri Ralstonia solanacearum yaitu persentase intensitas penyakit sebesar 15% dengan persentase keparahan penyakit sebesar 20% dan memiliki masa inkubasi paling lambat yaitu 19 hari, hal ini menunjukkan bahwa bahwa daun sirih berpengaruh dalam menekan serangan penyakit yang disebabkan R. solanacearum pada tanaman terung karena memiliki senyawa aktif antibakteri
Evaluasi Ketahanan Varietas Cabai Rawit Terhadap Penyakit Antraknosa (Colletotrichum Gloesporioides) Asal Isolat Dari Cabe Hiyung: Evaluation of the Resistance of Cayenne Pepper Varieties to Anthracnose Disease (Colletotrichum Gloesporioides) Isolate Origin from Hiyung Chili
The category of resistance level of several cayenne pepper varieties planted in swamps to anthracnose disease (Colletotrichum gloesporioides) originating from isolates from hiyung chilies is important to know as basic information for determining control strategies. This research aims to determine the level of resistance of several varieties of cayenne pepper planted in swamp land to anthracnose isolates from Hiyung chilies. This research used RAL (Completely Randomized Design) with 10 treatments and 3 replications and 2 plants were used in each replication so that the total number of plants was 60 plants. The varieties used are the Bara, Hiyung, Dewata 43 F1, Tiung Tanjung, Tiung Ulin, Genie, Sekar, Alip, Sret and CR-9 varieties. Inoculation of the fungus Colletotrichum gloesporioides was carried out at the time of fruiting, with variables observed, namely the incubation period and disease incidence. The results of the research show the resistance of chili plants to anthracnose disease in the susceptible category, namely the Hiyung variety with a disease incidence percentage of 42.08%. The moderate category is the Bara, Dewata 43 F1, Tiung Tanjung, Genie, Sekar, and CR-9 varieties with disease incidence percentages of 30.11%, 28.94%, 35.93%, 20.87%, 21, respectively. 52% and 28.20%. The resistant category is the Tiung Ulin, Alip and Sret varieties with disease incidence percentages of 18.37%, 19.36% and 17.11% respectively. The incubation period for several cayenne pepper varieties that have been tested varies with an average of between 3.5-5.3 days.Kategori tingkat ketahanan beberapa varietas cabai rawit yang ditanam di lahan rawa terhadap penyakit antraknosa (Colletotrichum gloesporioides) asal isolat dari cabe hiyung penting untuk diketahui sebagai informasi dasar untuk menentukan strategi pengendalian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kategori tingkat ketahanan beberapa varietas cabai rawit yang ditanam di lahan rawa terhadap penyakit antraknosa isolat asal cabe Hiyung. Penelitian ini menggunakan RAL (Rancangan Acak Lengkap) dengan 10 perlakuan dan 3 ulangan serta setiap ulangan digunakan 2 tanaman sehingga seluruh tanaman berjumlah 60 tanaman. Adapun verietas yang digunakan yaitu varietas Bara, Hiyung, Dewata 43 F1, Tiung Tanjung, Tiung Ulin, Genie, Sekar, Alip, Sret, dan CR-9. Inokulasi cendawan Colletotrichum gloesporioides dilakukan pada saat bebuah, dengan veriabel yang diamati yaitu masa inkubasi dan kejadian penyakit. Hasil penelitian menunjukkan ketahanan tanaman cabai terhadap penyakit antraknosa dengan kategori rentan yaitu varietas Hiyung dengan persentase kejadian penyakit 42,08%. Kategori moderat yaitu varietas Bara, Dewata 43 F1, Tiung Tanjung, Genie, Sekar, dan CR-9 dengan persentase kejadian penyakit masing-masing 30,11%, 28,94%, 35,93%, 20,87%, 21,52% dan 28,20%. Kategori tahan yaitu varietas Tiung ulin, Alip, dan Sret dengan persentase kejadian penyakit masing-masing 18,37%, 19,36% dan 17,11%. Masa inkubasi dari beberapa varietas cabai rawit yang sudah diuji berbeda-beda dengan rata-rata berkisar antara 3,5-5,3 hari
Efektivitas Pestisida Nabati Daun Babadotan (Ageratum conyzoides L.) Terhadap Mortalitas Hama Wereng Coklat (Nilaparvata lugens Stal.) Pada Tanaman Padi: Effectiveness of the Vegetable Pesticide Babadotan Leaves (Ageratum conyzoides L.) Against the Mortality of Brown Planthopper Pests (Nilaparvata lugens Stal.) on Paddy Plants
Oryza sativa L. is the main food crop in Indonesia. The need for rice continues to increase every year. Rice production in South Kalimantan in 2019 reached 790,449 tons of rice, then in 2020 it decreased to 677,105 tons of rice. One of the causes of the decline in rice productivity is the attack of the brown planthopper (Nilavarpata lugens Stall.). This research aims to determine the effectiveness of the herbal pesticide babadotan leaves on the mortality of brown planthopper pests on rice plants. This research was designed using a Completely Randomized Design (CRD). The factors tested were the administration of a herbal pesticide solution of babadotan leaves at doses of 3%, 6% and 9% with a control treatment that was not given pesnab and a chemical control as a comparison. This study had 5 treatments and 4 replications. The results of the study showed that administering 9% herbal pesticide solution from babadotan leaves was effective in controlling brown planthopper pests with a mortality value of 80%.Tanaman Padi (Oryza sativa L.) merupakan tanaman pangan utama di Indonesia. Kebutuhan beras setiap tahunnya terus meningkat. Produksi beras di Kalimantan Selatan pada tahun 2019 mencapai 790.449 ton beras kemudian pada tahun 2020 mengalami penurunan menjadi 677,105 ton beras. Salah satu penyebab terjadinya penurunan produktivitas padi adanya serangan wereng coklat (Nilavarpata lugens Stall.). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pestisida nabati daun babadotan terhadap mortalitas hama wereng coklat pada tanaman padi. Penelitian ini dirancang menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Faktor yang diujikan adalah pemberian larutan pestisida nabati daun babadotan dengan dosis 3%, 6% dan 9% dengan perlakuan kontrol yang tidak diberikan pesnab dan kontrol kimia sebagai pembanding. Penelitian ini memiliki 5 perlakuan dan 4 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian 9% larutan pestisida nabati daun babadotan efektif mengendalikan hama wereng coklat dengan nilai mortalitas sebesar 80%