Jurnal Tugas Akhir Mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat (ULM)
Not a member yet
1492 research outputs found
Sort by
Pengaruh Pemberian Kombinasi Limbah Decanter Solid dan Abu Boiler Kelapa Sawit terhadap Perubahan Beberapa Sifat Kimia Tanah Ultisols: The Effect of Combining Palm Oil Decanter Cake and Palm Oil Boiler Ash on Changes in Several Chemical Properties of Ultisols Soil
Ultisols is an acid mineral soil that has various problems namely high soil acidity, Al3+ concentration and nutrient poor. One way to increase soil fertility and quality is by using ameliorant. Palm oil waste can be used to make ameliorant. Palm oil decanter cake and palm oil boiler ash are the types of palm oil waste used in this research. Providing Palm oil decanter cake and palm oil boiler ash can increase pH, available N-mineral, P concentration, and K-dd in Ultisols. The aim of this research is to determine the effect of providing waste decanter solid and palm oil boiler ash on changes in several chemical properties of Ultisols soil and the best combination of palm oil solid waste (decanter solid) and palm oil boiler ash to improve several soil chemical properties, namely, pH, availability of nitrogen, phosphorus and potassium in Ultisols soil. This research used a Completely Randomized Design Method factorial with two factors, the first factor being a Palm oil decanter cake (0, 5, and 10 t ha-1) and the second factor is palm oil boiler ash (0, 5, and 10 t ha-1), with three repetitions. This research was carried out in a greenhouse and analyzed in a soil physics, chemistry and biology laboratory. The research results show a combination of Palm oil decanter cake and palm oil boiler ash have a significant effect on pH, N-mineral concentration, and available P and palm oil boiler ash itself can increase the concentration of K-dd.Ultisols merupakan tanah mineral masam yang mempunyai berbagai permasalahan yaitu keasaman tanah yang tinggi, Al3+ konsentrasi dan defisiensi nutrisi. Salah satu cara untuk meningkatkan kesuburan dan kualitas tanah adalah dengan menggunakan amelioran. Limbah kelapa sawit dapat dimanfaatkan untuk membuat amelioran. Limbah decanter solid dan abu boiler kelapa sawit merupakan jenis limbah kelapa sawit yang digunakan dalam penelitian ini. Limbah decanter solid kelapa sawit dan abu boiler kelapa sawit dapat meningkatkan pH, ketersediaan N-mineral, konsentrasi P, dan K-dd pada Ultisol. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian limbah decanter solid dan abu boiler kelapa sawit terhadap perubahan beberapa sifat kimia tanah Ultisols dan kombinasi terbaik limbah padat kelapa sawit (decanter solid) dan abu boiler kelapa sawi untuk memperbaiki beberapa sifat kimia tanah yaitu pH, ketersediaan nitrogen, fosfor dan kalium pada tanah Ultisols. Penelitian ini menggunakan Metode Rancangan Acak Lengkap faktorial dengan dua faktor, faktor pertama adalah limbah decanter solid (0, 5, dan 10 t ha-1) dan faktor kedua adalah abu boiler kelapa sawit (0, 5, dan 10 t ha-1), dengan tiga kali pengulangan. Penelitian ini dilakukan di rumah kaca dan dianalisis di laboratorium fisika, kimia, dan biologi tanah. Hasil penelitian menunjukkan kombinasi limbah decanter solid dan abu boiler kelapa sawit berpengaruh nyata terhadap pH, konsentrasi N-mineral, serta P tersedia dan abu boiler kelapa sawit sendiri dapat meningkatkan konsentrasi K-dd
Distribution of Soil Physical Characteristics Across Different Slope Gradients in Highland Areas (Tawangmangu, Indonesia) for Potato Crop Development
Tawangmangu District, Indonesia, is located in a highland area with a cool climate and is predominantly composed of Andisol soil types, offering great potential for the development of potato crops (Solanum tuberosum L.). This study aims to examine soil physical properties suitable for potato cultivation, analyze the distribution of these properties across different slope gradients, and identify appropriate soil management strategies for the Tawangmangu area. The research employed a descriptive-exploratory approach, utilizing land map units (LMUs) that were determined through the overlay of soil type maps, rainfall data, slope gradients, and land use. The overlay resulted in 5 LMUs and 25 sampling points. Observed soil physical parameters included texture, porosity, permeability, consistency, effective soil depth, coarse material, and drainage. The land suitability assessment showed that LMUs 1, 2, and 3 were classified as S3-oa, limited by drainage, while LMUs 4 and 5 were classified as S3-oa,rc, limited by both drainage and effective soil depth. Slope gradient significantly affected moisture content (p = 0.022), bulk density (p = 0.037), particle density (p = 0.048), porosity (p = 0.032), effective soil depth (p = 0.001), and coarse material content (p = 0.032). Recommended land management efforts include the addition of organic matter, manual tillage for shallow soils, and the application of eco-drainage techniques to improve soil physical suitability for potato cultivation in Tawangmangu
Unveiling the BPF9 Isolate as a Potential of Phosphate-Solubilizing Bacteria Through In Vitro Characterization
The increasing demand for food has driven agricultural intensification, particularly through the use of phosphate fertilizers. However, phosphorus uptake efficiency by plants remains low due to its predominance in insoluble forms in the soil. One promising alternative is the use of phosphate-solubilizing bacteria (PSB). This study aimed to evaluate the solubilization potential of the BPF9 isolate through qualitative and quantitative assays, as well as growth curve profiling. The research was conducted at the Soil and Environmental Biotechnology Laboratory, IPB University. Qualitative phosphate solubilization was assessed on Pikovskaya agar by measuring halo zone formation to calculate the solubilization index (SI). Quantitative analysis was carried out using spectrophotometry at 660 nm. The bacterial growth curve was analyzed using the haemocytometer method. Results showed that BPF9 had a solubilization index of 2.0 (moderate category) and was able to solubilize phosphate up to 128.5 ppm, which is considered highly efficient. The growth curve indicated that BPF9 entered the exponential phase at 26 hours and reached its maximum population at 42 hours. These findings indicate that BPF9 possesses strong phosphate-solubilizing capability and stable growth characteristics, making it a promising candidate for biofertilizer development
PRA-RANCANGAN PABRIK HEKSAMINA DARI FORMALDEHIDA DAN AMONIA DENGAN KAPASITAS 23.000 TON/TAHUN METODE F. MACLEAN
Industri kimia di Indonesia merupakan salah satu sektor penunjang kemajuan ekonomi bagi negara yang didukung dengan ketersediaan bahan baku melimpah. Pabrik Hexamethylenetetramine (heksamina) merupakan industri yang menggunakan bahan baku ammonia dan formaldehida. Pabrik beroperasi selama 330 hari dengan kapasitas 23.000 ton/tahun. Proses produksi terdiri dari 3 tahapan yaitu pre-treatment, reaksi, dan Purification. Metode yang digunakan adalah F. Maclean (cair-cair) dengan konversi reaksi 98% dan yield 95%. Reaksi terjadi pada suhu 400C berlangsung eksotermis sehingga diperlukan pendingin berupa jaket. Pabrik heksamina didrikan di kecamatan kalidoni, Palembang, Sumatera selatan. Jumlah karyawan yang dibutuhkan 174 orang untuk operasional pabrik. Hasil analisis ekonomi menunjukkan hasil Pay Out Time (POT) selama 2,11 tahun dengan laba bersih US$ 6.463.246,50. Pengembalian investasi sebesar 41,36% dan Break Event Point (BEP) yang dihasilkan mencapai 41,76%
PRARANCANGAN PABRIK DIMETIL ETER (DME) DARI TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT (TKKS) DENGAN PROSES DIRECT SYNTHESIS KAPASITAS 15.000 TON/TAHUN
Dimetil eter (DME) adalah eter alifatik sederhana dengan sifat yang mirip dengan liquefied petroleum gas (LPG) dan penggunaannya meluas ke berbagai bidang seperti propelan aerosol, pelarut, dan manufaktur bahan kimia. Ketika permintaan LPG meningkat dan impor menjadi lebih mahal, DME menawarkan alternatif dan agen substitusi yang menjanjikan untuk produksi LPG. Prarancangan ini menguraikan produksi dimetil eter (DME) dengan kapasitas 15.000 ton/tahun dimetil eter (DME) menggunakan bahan baku utama tandan kosong kelapa sawit (TKKS). TKKS yang sering dianggap sebagai limbah, kaya akan lignoselulosa dan dapat digasifikasi untuk menghasilkan gas sintesis (syngas). Proses produksi meliputi lima tahap proses, yaitu persiapan bahan baku, gasifikasi/produksi syngas, preparasi syngas, sintesis DME dari syngas, dan pemurnian produk. Pabrik tersebut diproyeksikan menghasilkan 1.893.939 kg DME per jam dari 9.051.372 kg TKKS. Hasil analisis ekonomi menunjukkan bahwa keuntungan penjualan bersih sebesar Rp32.548.182.059. Tingkat pengembalian investasi (ROI) sebesar 14,78%. Waktu pengembalian modal (Pay Out Time/POT) adalah 4,020 tahun. Dengan demikian, titik impas (BEP) mencapai 46,53%. Berdasarkan evaluasi ekonomi tersebut, maka pabrik Dimetil Eter (DME) dengan kapasitas produksi 15.000 ton per tahun layak untuk didirikan sehingga dapat membantu mengurangi impor LPG, mengelola limbah biomassa, dan menciptakan lapangan kerja
Efektivitas Kombinasi Bakteri Streptomyces sp Dengan Pestisida Nabati Daun Sirih Dan Daun Kelakai Terhadap Penyakit Antraknosa Pada Cabai Hiyung
Chili is a commodity that experiences price fluctuations due to high demand. In 2021, cayenne pepper production in Indonesia will decrease by 8.09% compared to 2020. Anthracnose disease, caused by the fungus Colletotrichum sp., can reduce productivity by 5-30%, even causing crop failure. Biological control using Streptomyces sp. and plant-based pesticides such as betel leaves and kelakai leaves are environmentally friendly alternatives. This study evaluated the effectiveness of this combination against anthracnose in hiyung chilies. The results of the study showed that the application of the bacteria Streptomyches sp., the vegetable pesticide Kelakai Leaf, the vegetable pesticide Betel Leaf and their combination were able to reduce the incidence of anthracnose disease with disease incidence ranging from 15.05% -21.33% compared to controls whose disease incidence was 33.24%. The results of the analysis of the effectiveness of disease control showed that there were 4 treatments that were quite effective, Betel 54.72%, Streptomyces sp. 46.48%, combination of Betel and Streptomyces sp. 43.65%, and a combination of kelakai and Streptomyces sp 40.94%. The observation results also showed that the Betel biopesticide treatment was the best treatment in producing the highest crop of 30.56 cm and increasing the wet weight with a yield of 83.38 g, followed by the Kelakai treatment which also produced the highest yield of 82.03 g. Apart from that, all the treatments given were able to accelerate the flowering age of chilies by 56.08-57.52 days compared to the control of 58.28 days.Cabai merupakan komoditas yang mengalami fluktuasi harga akibat tingginya permintaan. Pada 2021 produksi cabai rawit di Indonesia turun 8,09% dibanding 2020. Penyakit antraknosa disebabkan oleh jamur Colletotrichum sp., dapat menurunkan produktivitas hingga 5-30%, bahkan menyebabkan gagal panen. Pengendalian hayati menggunakan Streptomyces sp. dan pestisida nabati seperti daun sirih dan daun kelakai adalah alternatif ramah lingkungan. Penelitian ini mengevaluasi efektivitas kombinasi tersebut terhadap antraknosa pada cabai hiyung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi bakteri Streptomyches sp., pestisida nabati Daun Kelakai, pestisida nabati Daun Sirih dan kombinasinya mampu menurunkan kejadian penyakit antraknosa dengan kejadian penyakit berkisar 15.05%-21.33% dibandingkan kontrol yang kejadian penyakitnya 33.24%. Hasil analisis efektivitas pengendalian penyakit terdapat 4 perlakuan yang cukup efektif yaitu Sirih 54.72%, Streptomyces sp. 46.48%, kombinasi Sirih dan Streptomyces sp. 43.65%, serta kombinasi kelakai dan Streptomyces sp 40.94%. Hasil pengamatan juga menunjukkan bahwa perlakuan pestisida nabati Sirih adalah perlakuan terbaik dalam menghasilkan tanaman tertinggi 30.56 cm dan meningkatkan berat basah dengan hasil 83.38 g, diikuti dengan perlakuan Kelakai yang juga menghasilkan hasil panen tertinggi 82.03 g. Selain itu, seluruh perlakuan yang diberikan mampu mempercepat umur pembungaan cabai 56.08-57.52 hari dibandingkan kontrol selama 58.28 hari
Identifikasi Cendawan Pascapanen Pada Jagung Pakan Ternak yang Dijual Pengecer Di Kota Banjarbaru
Corn (Zea mays L.) is one of the main food sources for the world's population, besides being used as animal feed. However, the problem is that the feed corn field is easily contaminated by post-harvest fungi. The aim of this research is to identify fungi that infect post-harvest feed corn circulating in Banjarbaru City. The research method used purposive sampling which was carried out at the Phytopathology Laboratory, Department of Plant Pests and Diseases, Faculty of Agriculture, Lambung Mangkurat University, Banjarbaru. The results of the research showed that there were post-harvest fungi in animal feed corn, Aspergillus flavus with 15 isolates, Aspergillus niger with 10 isolates, Penicillium sp. 2 isolates, Fusarium sp. 6 isolates, and Rhizoctonia sp. 1 isolate, resulting in 34 isolates from corn that were symptomatic and asymptomatic. Three types of fungi are contaminant fungi and produce mycotoxins, Aspergillus sp., Fusarium sp., and Penicillium sp.Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu sumber pangan utama penduduk dunia, selain itu dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Namun kendala di lapangan jagung pakan mudah terkontaminasi oleh cendawan pascapanen. Tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi cendawan yang menginfeksi jagung pakan pascapanen yang beredar di Kota Banjarbaru. Metode penelitian menggunakan Pusposive sampling yang dilaksanakan di Laboratorium Fitopatologi Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru. Hasil penelitian menunjukan terdapat cendawan pascapanen pada jagung pakan ternak yaitu Aspergillus flavus sebanyak 15 isolat, Aspergillus niger 10 isolat, Penicillium sp. 2 isolat, Fusarium sp. 6 isolat, dan Rhizoctonia sp. 1 isolat, sehingga didapat 34 isolat dari jagung yang bergejala dan tidak bergejala. Tiga jenis cendawan merupakan cendawan kontaminan dan menghasilkan mikotoksin yaitu Aspergillus sp., Fusarium sp., dan Penicillium sp
TERMINAL TIPE B SIMPANG EMPAT BANJARBARU
Banjarbaru the capital of South Kalimantan Province, is showing good economic growth with the support of the Banjarbakula Metropolitan Area program, connecting Banjarmasin City, Banjarbaru City, Banjar Regency, Barito Kuala Regency and Tanah Laut Regency. In efforts to realize this program, efficient transportation facilities are key, especially terminals that are able to overcome human and vehicle circulation conflicts and increase accessibility within the site. The Type B terminal at Simpang Empat Banjarbaru adopts the Integrated Circulation concept with a focus on human and mode circulation. The integrated circulation concept is implemented in the form of buildings that can be reached by all groups, disabled or normal, as well as various modes of transportation. In principle, this concept is integrated into the terminal design using programming methods, creating an orderly and functional circulation. With an integrated terminal, people can enjoy smoother transportation services, programming makes various circulations and space functions structured and orderly for inside and outside the building so as to create circulation that does not cross.Banjarbaru ibukota Provinsi Kalimantan Selatan menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang baik dengan dukungan program Wilayah Metropolitan Banjarbakula, menghubungkan Kota Banjarmasin, Kota Banjarbaru, Kabupaten Banjar, Kabupaten Barito Kuala, dan Kabupaten Tanah Laut. Dalam upaya mewujudkan program ini, fasilitas transportasi yang efisien menjadi kunci, terutama terminal yang mampu mengatasi konflik sirkulasi manusia dan kendaraan serta meningkatkan aksesibilitas di dalam tapak. Terminal Tipe B di Simpang Empat Banjarbaru mengadopsi konsep Sirkulasi Terpadu dengan fokus pada sirkulasi manusia dan moda. Konsep sirkulasi terpadu implementasinya berupa bangunan yang dapat dicapai oleh semua kalangan, disabilitas atau normal juga beragam moda transportasi. Pada prinsipnya konsep ini diintegrasikan ke dalam desain terminal menggunakan metode programming, menciptakan sirkulasi yang teratur dan fungsional. Dengan terminal yang terintegrasi, masyarakat dapat menikmati layanan transportasi yang lebih lancar, programming membuat berbagai sirkulasi serta fungsi ruang menjadi terstruktur juga teratur untuk di dalam dan luar bangunan sehingga tercipta sirkulasi yang tidak crossing
Deteksi Kebuntingan pada Kambing Lokal Menggunakan Metode Punyakoti dengan Konsentrasi Urin dan Aquades Berbeda pada Pertumbuhan Biji Kacang Hijau
The objective of this study was to determine whether the Punyakoti method can be used to detectpregnancy in goats by modifying the amount of distilled water (aquadest) added to goat urine toobserve growth inhibition in mung bean seeds. This study was designed using a CompletelyRandomized Design (CRD) with four treatments and six replications. The treatments involveddifferent concentrations of aquadest added to the urine: P1 (1:4), P2 (1:8), P3 (1:12), and P4(1:12) using urine from non-pregnant goats. The observed variables were the germination of eachseed and the length of the sprouts on the fifth day. Data were analyzed using Analysis of Variance(ANOVA), and if significant or highly significant differences were found, Duncan’s MultipleRange Test (DMRT) was applied. The ANOVA results showed a significant difference in the sprout length of mung beans due to the variation in goat urine and aquadest concentrations.Treatment P1 (2.36 cm) produced significantly shorter sprouts (P<0.05) compared to P2 (5.75cm), P3 (8.38 cm), and P4 (12.02 cm). The shorter sprout length in treatment P1 is likelyinfluenced by the higher concentration of urine diluted with aquadest. In treatment P4, mung beansprouts were longer, as this treatment used urine from non-pregnant goats. As a comparison,treatment P3, which used the same urine-to-aquadest ratio as P4, showed different sprout lengthsbecause the urine came from pregnant goats. This difference may be due to the higherconcentration of abscisic acid (ABA) in the urine of pregnant goats. Based on the results, it canbe concluded that the Punyakoti method can be used as an alternative method for detectingpregnancy in goats with 100% accuracy. The 1:4 concentration was the most effective, as itshowed the clearest growth inhibition compared to the 1:8 and 1:12 concentrations. Thisdemonstrates that different concentrations of aquadest affect the degree of growth inhibition inmung bean seedsTujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah metode punyakoti dapat digunakan untukdeteksi kebuntingan pada kambing dengan melakukan modifikasi pertambahan aquades ke dalamurin kambing guna melihat hambatan pertumbuhan pada biji kacang hijau. Penelitian inidirancang dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan danenam kali ulangan. Perlakuan yang digunakan adalah penambahan jumlah aquades yangberbeda P1 (1:4), P2 (1:8), P3 (1:12) dan menggunakan urin kambing tidak bunting P4 (1:12).Peubah yang diamati dalam penelitian ini, Perkecambahan yang terjadi pada masing-masing bijiyang digunakan dan dilanjutkan mengukur panjang kecambah pada hari ke-5. Hasil analisisragam yang menunjukkan perlakuan berpengaruh nyata atau sangat nyata dilanjutkan denganUji Wilayah Berganda (Duncan Multiple Range Test / DMRT). Analisis ragam menunjukkanperbedaan yang nyata pada panjang tumbuh biji kacang dengan perbedaan konsentrasi urinkambing dan aquades, P1 (2,36 cm) nyata lebih pendek (P<0,05) dibandingkan P2 (5,75 cm), P3(8,38 cm), dan P4 (12,02 cm). Panjang tumbuh pada perlakuan P1 lebih pendek dibadingkanperlakuan lainnya, dimungkinkan dipengaruhi oleh konsentrasi urin yang diencerkan denganaquades. Pada perlakuan P4 pertumbuhan kacang hijau lebih panjang, hal ini dikarenakan padaperlakuan tersebut menggunakan urin kambing yang tidak bunting. Sebagai perbandingan dapatdilihat pada perlakuan P3 dimana konsentrasi urin dan aquades yang digunakan sama, akantetapi sumber urin yang dipakai berasal dari kambing yang bunting. Pada konsentrasi yang samamemiliki panjang tumbuh yang berbeda, perbedaan ini dimungkinkan dipengaruhi adanya kadarAbscisic acid (ABA) yang tinggi pada urin kambing yang bunting. Berdasarkan hasil penelitianyang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa metode punyakoti dapat digunakan sebagaisalah satu metode alternatif deteksi kebuntingan pada kambing dengan akurasi 100%.Penggunaan konsentrasi 1:4 merupakan konsentrasi paling tepat karena memiliki hambatanpertumbuhan paling jelas dibandingkan 1:8, dan 1:12. Hal ini membuktikan penambahanaquades dengan konsentrasi yang berbeda akan mempengaruhi nilai hambatan pertumbuhan bijikacang hijau
PRARANCANGAN PABRIK BIOAVTUR DARI KELAPA SAWIT DENGAN PROSES HEFA KAPASITAS 100.000 TON/TAHUN
Pabrik bioavtur berbahan baku kelapa sawit ini dirancang dengan kapasitas 100.000 ton/tahun dan beroperasi secara kontinyu 24 jam/hari selama 330 hari/tahun. Bahan baku utama yang digunakan adalah kelapa sawit dengan bahan baku pendukung berupa asam fosfat, bleaching earth, dan hidrogen, serta dukungan katalis NiMo/Al2O3. Pabrik ini akan didirikan di Dumai, Riau. Proses produksi terdiri dari persiapan bahan baku, reaksi hydrotreating dan hydrocracking, serta pemurnian produk. Tahap pre-treatment bahan baku meliputi, pengolahan kelapa sawit menjadi Crude Palm Oil (CPO) hingga dimurnikan menjadi Refined, Bleached Palm Oil (RBPO). Reaksi hydrotreating dan hydrocracking berlangsung dalam reaktor multi-tube fixed bed dengan kondisi operasi 332-398°C dan tekanan 51 atm. Pemurnian produk dilakukan dalam gas liquid separator dan menara distilasi untuk mendapatkan kemurnian produk sebesar 98,35% bioavtur. Utilitas pendukung proses meliputi kebutuhan air pendingin 1.392.705 kg/jam, kebutuhan steam 153.392 kg/jam, kebutuhan air sanitasi 1.466 kg/jam, kebutuhan listrik 859,66 kWh dan bahan bakar 2.047 kg/jam. Bentuk perusahaan yang dipilih adalah Perseroan Terbatas (PT) dengan jumlah karyawan sebanyak 239 orang yang terdiri dari karyawan shift dan non shift. Berdasarkan evaluasi ekonomi, Annual Cash Flow (ACF) sebesar 44,5%, Discounted Cash Flow-Rate of Return (ROR) sebesar 43,4%, Pay Out Time (POT) sebesar 2,02 tahun, dan Break Event Point (BEP) sebesar 48,97%