E Journal Resource Universitas Muhammadiyah Kudus
Not a member yet
781 research outputs found
Sort by
UPAYA MENURUNKAN KECACATAN PADA PENDERITA KUSTA MELALUI KEPATUHAN TERHADAP PENGOBATAN DAN DUKUNGAN KELUARGA
Kusta merupakan penyakit kronik yang menyerang syaraf tepi, kulit dan organ tubuh manusia.Penyakit kusta masih menimbulkan stigma dari masyarakat, sehingga penderita kusta menderita tidak hanya karena penyakitnya saja, tetapi juga dijauhi dan dikucilkan oleh masyarakat. Stigma masyarakat timbul karena resiko kecacatan yng ditimbulkan oleh kusta. Kecacatan, proses penyembuhan dan dampak sosial terhadap penyakit kusta ini sedemikian besarnya, sehingga menimbulkan masalah kesehatan yang sangat mendalam. Dampak yang timbul karena penyakit kusta dapat diminimalkan jika adanya dukungan keluarga yang optimal terhadap proses pengobatan pada pasien kusta. Tujuan dari penelitian adalah mengetahui hubungan antara kepatuhan terhadap pengobatan dan dukungan keluarga dengan tingkat kecacatan penderita kusta. Jenis Penelitian adalah deskriptif korelasi dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah penderita kusta di wilayah X sejumlah 52 orang, dengan teknik pengambilan sampel menggunakan total populasi. Instrumen yang digunakan untuk mengidentifikasi dukungan keluarga menggunakan kuesioner yang telah valid dan reliabel dan menggunakan instrumen cacat/ prevention of disability (POD) dari Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara kepatuhan terhadap pengobatan dengan kecacatan penderita kusta (p = 0,0040; α = 0,036) dan ada hubungan anatar dukungan keluarga dengan kecacatan pada penderita kusta dengan (p =0,0040; α = 0,036). Penelitian ini merekomendasikan untuk meningkatkan dukungan dari keluarga untuk meningkatkan kepatuhan terhadap pengobatan sehingga mampu mencegah dan menurunkan tingkat kecacatan pada penderita kusta
KORELASI ANEMIA PADA IBU HAMIL CUKUP BULAN DENGAN ANTROPOMETRI BAYI BARU LAHIR
Tingginya prevalensi anemia dalam kehamilan di wilayah Kabupaten Jepara dapat meningkatkan risiko lahirnya bayi dengan berat lahir rendah yang merupakan salah satu penyebab kematian neonatal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi anemia pada ibu hamil cukup bulan dengan antropometri bayi baru lahir. Penelitian dilakukan secara analitik korelasional dengan pendekatan cross sectional. Subjek penelitian 152 parturien yang diperiksa kadar hemoglobinnya dan diukur antropometri bayinya. Analisis bivariabel menggunakan uji chi kuadrat, uji Mann-Whitney, dan uji korelasi dengan Rank-Spearman, untuk multivariable dengan analisis regresi linier.Hasil penelitian: bayi yang lahir dari ibu hamil dengan anemia mempunyai antropometri lebih kecil (p<0,001), dan terdapat korelasi negatif antara beratnya anemia dengan antropometri bayi baru lahir (r= -0,403 -0,707). Hasil uji regresi linier 19-47,7% variasi antropometri dipengaruhi oleh anemia, umur dan LILA pada ibu hamil. Simpulan: Antropometri bayi yang lahir dari ibu hamil cukup bulan dengan anemia lebih kecil, semakin berat anemia pada ibu hamil maka semakin kecil rata-rata ukuran antropometri pada bayi yang dilahirkan
HUBUNGAN ANTARA LAMA PERAWATAN DAN PENYAKIT YANG MENYERTAI DENGAN TERJADINYA INFEKSI NOSOKOMIAL DI RSI SULTAN HADLIRIN JEPARA
Latar Belakang: Penyakit I nfeksi masih merupakan penyebab utama tingginya angka kesakitan dan kematian di dunia. Berdasarkan Kepmenkes no. 129 tahun 2008, standar kejadian infeksi nososkomial di rumah sakit sebesar ≤ 1,5 %.Tujuan : Mengetahui hubungan antara lama perawatan dan penyakit yang menyertai dengan terjadinya infeksi nosokomial di RSI Sultan Hadlirin Jepara.Metode : Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif korelatif pendekatan cross sectional. populasi dalam penelitian ini adalah pasien di RSI Sultan Hadlirin Jepara bulan Januari 2013 sebanyak 119 orang. Jumlah sampel yang digunakan adalah 30% dari 119 yaitu sebanyak 36 orang. Analisa data yang digunakan adalah analisa univariat dan bivariat dengan uji chi square.Hasil : Sebagian besar lama perawatan dalam kategori lebih lama yaitu sebanyak 19 orang (52,8%), sebagian besar penyakit penyerta beresiko yaitu sebanyak 20 orang (55,6%), sebagian besar terjadi infeksi nosokomial yaitu sebanyak 19 orang (52,8%). Ada hubungan antara lama perawatan dan penyakit penyerta dengan terjadinya infeksi nosokomial di RSI Sultan Hadlirin Jepara
TINGKAT PENGETAHUAN SUAMI DALAM PENDAMPINGAN ISTRI PADA SAAT PROSES PERSALINAN DI RB WILAYAH KABUPATEN KUDUS BULAN JUNI 2012
Proses persalinan merupakan sebuah peristiwa penting dalam kehidupan manusia dan merupakan satu rangkaian yang menyatu dalam kehamilan. Peristiwa yang merupakan suatu proses yang dalam melestarikan spesies manusia. Kini berkembang suatu pandangan dan dorongan untuk lebih memanusiakan manusia dalam melalui proses kehamilan. Adanya perubahan pandangan bahwa keterlibatan suami akan memberi kontribusi positif dalam peningkatan ibu dan anak. Hal ini dapat di lakukan dengan cara meningkatkan partisipasi suami dalam kesehatan reproduksi adalah membekali suami dengan informasi dan mengikut sertakan suami dalam setiap upaya meningkatkan kesehatan reproduksi. Salah satu kegiatan yang dapat dilakukan suami dalam upaya peningkatan kesehatan ibu dan anak adalah mendampingi istri selama proses persalinan dan mendukung upaya rujukan bila di perlukan. Tujuan dari penelitian adalah mengetahui tingkat pengetahuan suami dalam pendampingan istri selama persalinan di RB Wilayah Kabupaten Kudus dengan jumlah sampel 15 orang.Rancangan penelitian ini adalah diskriptif dengan metode totally sampling. Jenis data yang diolah adalah data primer, hasil wawancara dengan kuesioner sedangkan pengolahan data dengan program komputer SPSS for windows versi 16. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara tingkat pengetahuan suami dalam pendampingan istri saat proses persalinan X2hitung = 15,000 X2tabel = 5,591. Dari hasil penelitian ini diharapkan sebaiknya dapat menambah pengetahuan suami dalam dampingan istri saat persalinan sehingga nanti suami dapat memberikan rasa aman dan nyaman terhadap istri saat proses persalian serta profesi bidan mempunyai peran sebagai edukator dengan cara memberi penyuluhan atau pendidikan kesehatan kepada suami tentang bagaimana cara memberikan dukungan berupa motivasi dengan baik sehingga istri merasa terlindungi saat suami mendampingi istri terutama pada saat proses persalinan
PERBEDAAN TINGKAT KEPATUHAN DIET SEBELUM DAN SETELAH AFIRMASI POSITIF PADA PASIEN DIABETES MELLITUS DI RUANG CEMPAKA I RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN KUDUS
Latar Belakang: Meningkatnya prevalensi Diabetes Mellitus di Indonesia, diduga ada hubungannya dengan cara hidup (pola makan) seiring dengan kemakmuran yang meningkat. Untuk mencegah komplikasi perlu penatalaksanaan diet yang baik. Afirmasi merupakan penguatan dalam diri sendiri melalui kalimat positif pendek yang mencakup suatu hal yang kita inginkan atau hal-hal lain yang ingin kita rubah dalam hidup kita. Dengan afirmasi dapat mempengaruhi seseorang untuk patuh terhadap diet DM yang sedang dijalani.Tujuan Penelitan: Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perbedaan tingkat kepatuhan diet sebelum dan setelah afirmasi positif pada pasien Diabetes Mellitus di Ruang Cempaka I Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten KudusMetode Penelitian: Metode dalam penelitian ini adalah pra experiment dengan desain one-group pre-post test design yang mempunyai tujuan mengungkapkan hubungan sebab akibat tanpa melibatkan kelompok kontrol dengan populasi penderita DM di Ruang Cempaka I Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Kudus pada bulan Juni – Agustus 2012 yang berjumlah 108 pasien dan besar sampel 52 responden. Adapun pengambilan sampel dengan tehnik accidental sampling.Hasil Penelitian: Hasil analisis uji wilcoxon signed rank test didapatkan bahwa p value = 0,003 (p value < a) maka dapat disimpulkan Ho ditolak dan Ha diterima yang berarti ada perbedaan tingkat kepatuhan diet sebelum dan setelah afirmasi positif pada pasien Diabetes Mellitus di Ruang Cempaka I Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Kudus.Simpulan: Ada perbedaan tingkat kepatuhan diet sebelum dan setelah afirmasi positif pada pasien Diabetes Mellitus di Ruang Cempaka I Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Kudus. Dengan penelitian ini diharapak ada kelanjutannya dengan desain dan metode yang lebih bai
EFEKTIVITAS PENGGUNAAN LARUTAN NACL DIBANDINGKAN DENGAN D40% TERHADAP PROSES PENYEMBUHAN LUKA ULKUS DM DI RSUD KUDUS
Latar Belakang : Ulkus diabetes merupakan komplikasi menahun yang paling ditakuti penderita karena lamanya perawatan serta biaya yang dikeluarkan. Upaya yang dilakukan untuk mencegah komplikasi yang lebih berat diperlukan intervensi perawatan luka yang efektif dan efisien. Perawatan luka terbaru adalah menjaga agar luka tetap dalam kondisi lembab, hal ini dapat dilakukan dengan larutan glukosa seperti D40%. Perawatan luka dengan NaCl memberikan efek biasa terhadap kesembuhan luka. Pertimbangan dengan D40% dan luka lembab adalah biaya, kenyamanan dan keamanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penggunaan larutan NaCl 0.9% dibandingkan dengan D40% terhadap proses penyembuhan luka ulkus DM di RSUD Kudus. Metode : Jenis penelitian yang digunakan adalah quasi eksperimental dengan pendekatan nonequivalent control group design. Populasi dalam penelitian ini adalah penderita diabetes melitus dengan luka ulkus di RSUD Kudus. Teknik pengambilan sampel menggunakan Purposive Sampling sehingga besar sampel adalah 20 responden (10 untuk perawatan dengan NaCl 0.9% dan 10 untuk perawatan dengan D40%). Uji analisis data menggunakan uji t-Test Independent Samples Test. Hasil : Uji statistik t-Test Independent Samples Test didapatkan nilai p value = 0.001 dan nilai t hitung 4.417, nilai t bersifat dua sisi sehingga nilai α yang dirujuk adalah α/2 = 0.025 sehingga dapat diketahui bahwa nilai t tabel = 2.101. Kesimpulan : Terdapat perbedaan rata-rata antara penggunaan larutan NaCl 0.9% dibandingkan dengan D40% terhadap proses penyembuhan luka ulkus DM (Ha diterima dan Ho ditolak) pada taraf signifikansi 5%. Untuk itu diperlukan upaya keatuhan penderita dalam proses perawatan luka dan terapi serta perawatan menggunakan metode yang efektif dan efisien agar luka sembuh secara optima
HUBUNGAN KEPATUHAN MINUM OBAT KUSTA DAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KECACATAN PADA PENDERITAKUSTA DI KABUPATEN KUDUS
Pengobatan penderita untuk memutuskan mata rantai penularan, menyembuhkan penyakit penderita dan mencegah terjadinya cacat atau mencegah bertambahnya cacat yang sudah ada sebelum pengobatan. Selain kepatuhan minum obat, faktor yang berpengaruh terhadap kecacatan pada penderita kusta adalah peran keluarga untuk melakukan upaya pencegahan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kepatuhan minum obat kusta dan dukungan keluarga dengan kecacatan pada penderita kusta di Kabupaten Kudus.Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian korelasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi pada penelitian ini adalah semua penderita kusta di Kabupaten Kudus sejumlah 77 orang. Tehnik sampling yang digunakan ini adalah tehnik total sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner. Uji hipotesis penelitian dengan menggunakan uji chi-square.Hasil penelitian diperoleh sebagian besar penderita kusta tidak patuh dalam minum obat yaitu sebanyak 48 orang (62,3%), sebagian besar keluarga tidak mendukung penderita kusta yaitu sebanyak 47 orang (61%), sebagian besar penderita kusta mengalami kecacatan tingkat 1 yaitu sebanyak 43 orang (55,8%). Nilai p value adalah 0,003 da 0,004 (< 0,05). Dapat disimpulkan ada hubungan kepatuhan minum obat kusta dengan kecacatan pada penderita kusta di kabupaten Kudus, ada hubungan dukungan keluarga dengan kecacatan pada penderita kusta di kabupaten kudus tahun 2013 (p value 0,004 < 0,05).Diharapkan tenaga kesehatan memeprtimbangkan dalam pengambilan tindakan terhadap upaya peningkatan kepatuhan minum obat dan keefektifan pelatihan perawatan diri terhadap peningkatan dukungan anggota keluarga penderita kusta
EFEKTIVITAS AMBULASI DINI TERHADAP PENURUNAN INTENSITAS NYERI PADA PASIEN POST OPERASI LAPARATOMI DI RSUD KUDUS
Latar Belakang : Nyeri merupakan pengalaman pribadi yang diekspresikan secara berbeda. Tindakan medis yang sering menimbulkan nyeri adalah pembedahan seperti laparatomi. Komplikasi tindakan pembedahan laparatomi adalah nyeri. Pasien post laparatomi memerlukan perawatan yang maksimal untuk mempercepat pengembalian fungsi tubuh. Hal ini dilakukan dengan pemberian intervensi mobilisasi dini (latihan gerak sendi, gaya berjalan, toleransi aktivitas sesuai kemampuan dan kesejajaran tubuh). Ambulasi dini pasca laparatomi dapat dilakukan sejak di ruang pulih sadar (recovery room) dengan miring kanan/kiri dan memberikan tindakan rentang gerak secara pasif. Latihan ambulasi dini dapat meningkatkan sirkulasi darah yang akan memicu penurunan nyeri.Tujuan : Efektivitas ambulasi dini terhadap penurunan intensitas nyeri pada pasien post operasi laparatomi di RSUD Kudus.Metode Penelitian : Penelitian ini termasuk jenis penelitian Quasi Ekperimen dengan desain penelitian Non Equivalent Control Group. Populasi dalam penelitian ini adalah pasien operasi laparatomi di RSUD Kudus sebanyak 20 orang pada bulan Januari-Pebruari 2013. Teknik pengambilan sampel dengan Accidental Sampling sehingga besar sampel sebanyak 20 responden. Uji analisa data dengan uji Independent Samples T test.Hasil Penelitian : Uji Independent Samples T Test, pada hari ke 1 didapatkan nilai p value = 0.009, hari ke 2 didapatkan nilai p value 0.000 dan hari ke 3 didapatkan nilai p value 0.000. Hasil ini menunjukkan adanya perbedaan rata-rata intensitas nyeri hari ke 1, 2 dan 3 antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol (Ha diterima dan Ho ditolak).Kesimpulan : Terdapat perbedaan rata-rata intensitas nyeri pada hari ke I, II dan III antara kelompok eksperimen yang melakukan ambulasi dini dan kelompok kontrol yang tidak melakukan ambulasi dini. Untuk itu diperlukan prosedur tetap terhadap intervensi ambulasi dini pada pasien pasca laparatomi dan diperlukan kecakapan perawat dalam pemberian terapi
BUDAYA PANTANG MAKAN, STATUS EKONOMI, DAN PENGETAHUAN ZAT GIZI IBU HAMIL PADA IBU HAMIL TRIMESTER III DENGAN STATUS GIZI
Kurang energi kronik merupakan salah satu penyebab tak langsung yang berhubungan dengan asupan gizi. Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia tahun 2009, ibu hamil dengan kurang energi kronik yaitu 24,6%. Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Tengah tahun 2010 terdapat 13,91% ibu hamil dengan kurang energi kronik, data dari Dinas Kesehatan Kota Jepara pada tahun 2011 terdapat 30% ibu hamil dengan kurang energi kronik. Penelitian ini bertujuan untuk hubungan antara budaya pantang makan, status ekonomi dan pengetahuan zat gizi ibu hamil dengan status gizi pada ibu hamil trimester III di wilayah kerja Puskesmas Welahan I. Jenis penelitian ini adalah survei analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi, 83 ibu hamil trimester III pada bulan Januari 2013. Sampel sebanyak 45 orang. Uji statistik dengan uji Chi Square. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara budaya pantang makan dengan status gizi pada ibu hamil trimester III, tidak ada hubungan antara status ekonomi dan pengetahuan zat gizi dengan status gizi pada ibu hamil trimester III (p= 0,002; p= 0,097; p= 0,097; α= 0,05)
PERBEDAAN KEPATUHAN MINUM OBAT SEBELUM DAN SETELAH AFIRMASI POSITIF PADA PENDERITA TB PARU DI PUSKESMAS GRIBIG KABUPATEN KUDUS
Latar Belakang: Mencegah resistensi TB paru telah dilakukan upaya strategi pelaksanaan DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse). Namun demikian, menumbuhkan kesadaran kepatuhan minum obat TB, perlu suatu tindakan yang dapat memotivasi secara benar dan konsisten. Afirmasi merupakan penguatan dalam diri sendiri melalui kalimat positif pendek yang mencakup suatu hal yang kita inginkan atau hal-hal lain yang ingin kita rubah dalam hidup kita. Dengan afirmasi dapat mempengaruhi seseorang untuk patuh terhadap minum obatyang sedang dijalani. Tujuan Penelitian: Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perbedaan kepatuhan minum obat sebelum dan setelah afirmasi positif pada penderita TB paru di Puskesmas Gribig Kabupaten Kudus Metode Penelitian: Metode dalam penelitian ini adalah pra experiment dengan desain one-group pre-post test design yang mempunyai tujuan mengungkapkan hubungan sebab akibat tanpa melibatkan kelompok kontrol dengan populasi penderita TB paru yang berobat di Puskesmas Gribig Kabupaten Kudus pada bulan Juli – Desember 2012 yang berjumlah 30 pasien. Adapun pengambilan sampel dengan tehnik total sampling. Hasil Penelitian: Hasil analisis uji wilcoxon signed rank test didapatkan bahwa p value = 0,003 (p value < a) maka dapat disimpulkan Ho ditolak dan Ha diterima yang berarti ada perbedaan tingkat kepatuhan minum obat sebelum dan setelah afirmasi positif Pada Penderita TB Paru di Puskesmas Gribig Kecamatan Gebog Kabupaten Kudus. Simpulan: ada perbedaan tingkat kepatuhan minum obat sebelum dan setelah afirmasi positif Pada Penderita TB Paru di Puskesmas Gribig Kecamatan Gebog Kabupaten Kudus.Dengan penelitian ini diharapkan ada kelanjutan penelitian ini dengan desain metode lebih baik