E Journal Resource Universitas Muhammadiyah Kudus
Not a member yet
781 research outputs found
Sort by
FAKTOR- FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN ASI PADA SISTEM RAWAT GABUNG DI RUANG BUGENVILE I RSUD KUDUS TAHUN 2012
Latar Belakang : ASI merupakan nutrisis terbaik bagi bayi. ASI mengandung berbagai zat gizi dan cairan yang dibutuhkan untuk mencukupi kebutuhan gizi bayi. Pemberian Asi di pengaruhi oleh beberapa factor antara lain : pengetahuan ibu tentang pentingnya ASI,kondisi bayi dan kondisi bayi itu sendiri dan juga kemampuan dalam manajemen laktasi . keberhasilan dalam system Rawat Gabung salah satu indicator keberhasilannya dilihat dari keberhasilan ibu dalam memberikan Asi terhadap bayinya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Faktor – faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI dengan sistem Rawat gabung di Ruang neonatal Bugenvile I Rumah Sakit Umum Kudus Tahun 2012.Metode yang digunakan : Desain penelitian ini bersifat deskritif analitik dengan pendekatan cross sectional dengan besar sampel 30 orang dengan metode pengambilan sampel total sampling. Penelitian ini di lakukan pada bulan desember 2012 sampai dengan januari 2013. Instrumen dalam penelitian ini berupa kuesioner yang meliputi data demografi dan kuesioner kondisi ibu dan kondisi bayi terhadap pemberian ASI EksklusifHasil Yang Diperoleh : kondisi ibu baik sebanyak 25 ( 83,3 % ) responen dan kondisi ibu yang jelek sebanyak 5 ( 16,7 % ). kondisi Bayi baik sebanyak 24 ( 80,0% ) sedangkan bayi dengan kondisi jelek sebanyak 6 ( 20,0% ). Pada kondisi ibu dengan uji chi squere didapatkan hasil X² hitung = 14,000 dengan taraf signifikan 5% df = 1 didapatkan hasil X² tabel = 3,841 jadi X² hitung lebih besar daripada X² tabel maka Ho di tolak dan Ha diterima sedangkan untuk P value = 0,000 lebih kecil dari α = 0,05 Ho ditolak hal ini dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara kondisi ibu dengan pemberian ASI di Ruang Bugenvile RSUD Kudus. Pada kondisi Bayi dengan uji chi squere didapatkan hasil X² hitung = 17,500 dengan taraf signifikan 5% df = 1 didapatkan hasil X² tabel = 3,841 jadi X² hitung lebih besar daripada X² tabel maka Ho di tolak dan Ha diterima sedangkan untuk P value = 0,000 lebih kecil dari α = 0,05 Ho ditolak hal ini dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara faktor kondisi bayi dengan pemberian ASI
PENGARUH TEHNIK RELAKSASI EFFLURAGE TERHADAP PENURUNAN NYERI PADA PASIEN POST APPENDICTOMY DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN KUDUS
Latar Belakang: Pengelolaan managemen nyeri dapat dilakukan dengan berbagai tehnik antara lain yaitu tehnik hipnotis, distraksi, imajinasi terbimbing dan tehnik relaksasi efflurage. Tehnik relaksasi efflurage merupakan tehnik relaksasi dengan melakukan masase daerah sekitar fokus nyeri yang terjadi sehingga otot-otot sekitar menjadi relaksasi. Dalam kondisi rileks tubuh juga menghentikan produksi hormon adrenalin dan semua hormon yang diperlukan saat kita stress dan nyeri. Karena hormon stres dan nyeri adrenalin diproduksi dari blok bangunan kimiawi yang sama, ketika kita mengurangi stres kita juga telah mengurangi produksi kedua hormon nyeri tersebut.Tujuan penelitian: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh tehnik relaksasi efflurage terhadap nyeri pada pasien post appendectomy di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Kudus.Metode Penelitian: Metode dalam penelitian ini adalah quasy-eksperiment yang mempunyai tujuan mengungkapkan hubungan sebab akibat dengan cara melibatkan kelompok kontrol disamping kelompok eksperiment dengan populasi pasien post appendictomy di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Kudus pada bulan April - Oktober 2012 yang berjumlah 243 pasien dan besar sampel 46 responden. Adapun pengambilan sampel dengan tehnik accidental sampling.Hasil Penelitian: Hasil analisis uji mann whitney didapatkan bahwa p value = 0,001 (p value < a) maka dapat disimpulkan Ho ditolak dan Ha diterima yang berarti ada pengaruh tehnik relaksasi eflurage terhadap nyeri pada pasien post appendectomy di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Kudus.Saran: Dengan penelitian ini diharapkan pasien malaksanakan manegemen nyeri dengan menggunakan tehnik relaksasi eflurage untuk mengurangi nyeri pasca operasi serta adanya kelanjutan penelitian mengenai manegemen nyeri dengan menggunaan metode tindakan keperawatan yang lebih baik dan sampel yang lebih proporsional
KORELASI KUNJUNGAN ANTENATAL CARE BURUH PABRIK DENGAN HASIL LUARAN BAYI DI KABUPATEN KUDUS
Latar Belakang : Hasil luaran bayi merupakan hasil dari kehamilan yang dapat berupa hasil luaran menguntungkan dan tidak menguntungkan. Kunjungan Antenatal care (ANC) yang adekuat dan berkualitas dipercaya dapat mencegah terjadinya hasil luaran yang tidak menguntungkan.Tujuan : penelitian ini adalah untuk menganalisis kunjungan ANC buruh pabrik dengan hasil luaran bayi yang tidak menguntungkan. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Kudus dari bulan Februari-April 2013 dengan rancangan penelitian potong lintang dan didapatkan 92 responden.Metode :Analisis dilakukan secara bivariabel dengan menggunakan uji Rank Spearman,Hasil penelitian : menunjukkan ada korelasi antara kunjungan ANC dengan hasil luaran bayi, untuk jumlah kunjungan (r=0,206., p=0,049) dan waktu kunjungan (r=-0,455., p=0,000).Simpulan : dalam penelitian ini adalah jumlah dan waktu kunjungan ANC berkorelasi dengan hasil luaran bayi, semakin banyak jumlah kunjungan ANC semakin baik hasil luaran bayi dan semakin terlambat waktu kunjungan ANC semakin jelek hasil luaran bayi
HUBUNGAN ANTARA POLA MAKAN DENGAN TERJADINYA ANEMIA PADA IBU HAMIL DI PUSKESMAS DAWE KECAMATAN DAWE KABUPATEN KUDUS TAHUN 2013
Latar Belakang: Wanita hamil merupakan salah satu kelompok yang rentan masalah gizi terutama anemia gizi besi. Anemia dapat dicegah dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang dengan asupan zat besi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Penyebab anemia dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu usia, paritas (Arisman, 2006), pendidikan pengetahuan (Arisman, 2006; Mochtra, 2008), konsumsi Fe (Almatsier, 2006), social ekonomi, gizi dan pola makan (Mochtar, 2008). Kurang gizi, gangguan penyerapan atau malabsobsi dan pola makan tidak sehat semala hamil dapat meningkatkan resiko anemia pada ibu hamil. Tujuan : Mengetahui hubungan pola makan dengan terjadinya anemia pada ibu hamil di Puskesmas Dawe Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus Tahun 2013. Metode: Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah analitik korelatif pendekatan cross sectional. populasi adalah semua ibu hamil yang melakukan ANC di Puskesmas Dawe Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus pada bulan Desember 2012 sebanyak 32 ibu hamil. Sampel yang digunakan sebanyak 32 orang. Analisa data yang digunakan adalah analisa univariat dan bivariat dengan uji chi square.Hasil penelitian sebagian besar ibu hamil yang memiliki kuantitas makanan dalam kategori kurang yaitu sebanyak 15 orang (46,9%), sebagian besar jenis makanan ibu hamil dalam kategori kurang yaitu sebanyak 16 orang (50%), sebagian besar cara memasak makanan ibu hamil dalam kategori kurang yaitu sebanyak 15 orang (46,9%). Ada hubungan kuantitas makanan, jenis makanan dan cara memasak makanan dengan terjadinya anemia pada ibu hamil di puskesmas dawe kecamatan dawe kabupaten kudus tahun 2013
FAKTOR – FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI PADA LANSIA DI PUSLING DESA KLUMPIT UPT PUSKESMAS GRIBIG KABUPATEN KUDUS
Latar Belakang :Hipertensi merupakan penyebab kematian nomor 3 setelah stroke(15,4 %) dan tuberkulosis (7,5 %), yakni mencapai 6,8 % dari populasi kematian pada semua umur di Indonesia. Hipertensi ditemukan sebanyak 60-70% pada populasi berusia di atas 65 tahun. Kelompok usia lanjut di wilayah Puskesmas Gribig berjumlah 11.736 orang, sedangkan jumlah usia lanjut di Desa Klumpit adalah 2.284 orang. Hipertensi pada lansia menempati urutan kedua pada daftar penyebab kematian.Data 10 besar penyakit menunjukkan hipertensi juga berada pada urutan kedua setelah ISPA. Tujuan :Untuk mengetahui hubungan antara faktor kebiasaan asupan garam, konsumsi makanan berlemak, merokok dan olahraga dengan kejadian hipertensi pada lansia di Pusling Desa Klumpit UPT Puskesmas Gribig. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik. Dilakukan pada bulanFebruari 2013, dengan subjek penelitian sebanyak 54 lansia yang meliputi 27 lansia dengan hipertensi dan 27 lansia tidak dengan hipertensi.Sampel lansia dengan hipertensi ditentukan secara total sampling sedangkan sampel lansia tidak hipertensi ditentukan secara random sampling.Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner dan check list. Analisis data dilakukan dalam bentuk prosentase dan menggunakan teknik statistik Chi Square. Hasil :Keempat faktor yang diteliti berhubungan dengan kejadian hipertensi pada lansia di Pusling Desa Klumpit UPT Puskesmas Gribig meliputi Kebiasaan asupan garam (nilai p (0,001) < 0,05), konsumsi makanan berlemak (nilai p (0,029) < 0,05), merokok (nilai p (0,003) < 0,05) dan olahraga (nilai p (0,014) < 0,05). Kesimpulan :Kebiasaan asupan garam lansia hipertensi sebagian besar termasuk dalam kategori sering, kebiasaan konsumsi makanan berlemak lansia hipertensi sebagian besar termasuk dalam kategori sering, kebiasaan merokok lansia hipertensi sebagian besar adalah bukan perokok, kebiasaan olahraga lansia hipertensi sebagian besar termasuk dalam kategori kurang baik. Keempat faktor yang diteliti berhubungan dengan kejadian hipertensi pada lansia di Pusling Desa Klumpit UPT Puskesmas Gribi
PERBEDAAN KEJADIAN RUPTUR PERINEUM PADA POSISI MENGEJAN ANTARA TELENTANG DAN KOMBINASI
Posisi persalinan sangat menentukan kelancaran proses persalinan. Posisi mengejan yang tidak nyaman bagi pasien dapat mengakibatkan sakit punggung sehingga mengganggu ibu saat mengejan. Posisi telentang merupakan posisi yang paling disukai oleh penolong tetapi posisi ini tidak nyaman bagi pasien. Kejadian ruptur perineum merupakan salah satu efek dari posisi yang digunakan saat mengejan. Tujuan penelitian untuk menganalisis perbedaan kejadian ruptur perineum pada posisi mengejan antara telentang dan kombinasi(miring dan semi-duduk). Penelitian ini menggunakan analitik komparatif kategorik tidak berpasangan dengan pendekatan prospektif. Populasi terjangkau adalah semua ibu bersalin yang melahirkan di RB Fatimah dan BPS Kasmanita yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Jumlah responden 40. Data yang terkumpul di uji normalitas data. Membandingkan dua rerata dengan uji Chi-Kuadrat Hasil penelitian pada perbandingan antara kejadian ruptur perineum pada posisi mengejan telentang lebih rendah dengan kejadian ruptur perineum derajat dua 12 orang (60%), derajat satu 4 orang (20%) yang utuh 4 orang (20%). Untuk posisi kombinasi kejadian ruptur derajat dua 13 orang (65%), derajat satu 4 orang (20%) yang utuh 3 orang (15%) dengan nilai p= 0,913 yang tidak bermakna. Simpulan pada penelitian ini adalah kejadian ruptur perineum pada fase pengeluaran kepala janin, posisi mengejan telentang tidak ada perbedaan dengan posisi kombinasi. Untuk kejadian ruptur pada posisi kombinasi masih memerlukan penelitian lebih lanjut karena penolong melakukan intervensi pada perineum pasien. Posisi mengejan berpengaruh terhadap proses persalinan, dimana proses persalinan yang berlangsung cepat ataupun lambat pada fase pengeluaran kepala janin bisa mempengaruhi kejadian ruptur perineum, sehingga posisi mengejan secara tidak langsung dapat mempengaruhi kejadian ruptur perineum.
HUBUNGAN TINGKAT EKONOMI DENGAN KEJADIAN TUBERKULOSIS PARU DI PUSKESMAS KALIWUNGU KECAMATAN KALIWUNGU KABUPATEN KUDUS
Latar Belakang : Hasil survey kesehatan rumah tangga (SKRT) tahun 2001 TB menduduki rangking ketiga sebagai penyebab kematian (9,4% dari total kematian) setelah penyakit sistem sirkulasi dan sistem pernafasan. Tujuan : Mengetahui tingkat ekonomi seseorang dengan TB paru di puskesmas kaliwungu, untuk mengetahui kejadian penderita tuberkulosis di puskesmas kaliwungu dan untuk menganalisis hubungan tingkat ekonomi dengan kejadian tuberkulosis paru di puskesmas kaliwungu. Metode : Penelitian ini merupakan Diskriptif Analitik. Populasi : Populasi dalam penelitian ini adalah pasien TB yang berjumlah sebanyak 32 orang, didapatkan sampel 10 orang yang terkena TB paru. Hasil : Hasil penelitian ini menunjukkan nilai kendall”s tau_b r hitung (0,395) > r tabel (0,349) df : 32 dengan tarif signifikansi 95% dan p value sebesar 0,022 dibawah 0,449. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara tingkat ekonomi dengan kejadian tuberkolusis paru dipuskesmas kaliwungu kecamatan kaliwungu kabupaten kudus. Adapun hubungan tersebut adalah lemah karena Correlation Coefifcient 0,412 dibawah 0,505. Kesimpulan : Ada hubungan tingkat ekonomi seseorang dengan kejadian Tuberkulosis paru di puskesmas kaliwungu kabupaten kudus
STATUS SOSIAL EKONOMI DENGAN LAMA MENYUSUI
Status sosial ekonomi merupakan salah satu faktor yang berkontribusi pada status kesehatan seseorang. Masyarakat dengan pendidikan dan sosial ekonomi yang rendah cenderung tidak memprioritaskan perilaku sehat seperti perilaku pencegahan penyakit, perilaku pemeliharaan kesehatan dan perilaku mencari pengobatan, termasuk perilaku pemberian ASI. Penelitia ini bertujuan untuk mengetahui korelasi status sosial ekonomi dengan lama menyusui. Metode penelitian ini adalah penelitian analitik dengan pendekatan observasional cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu menyusui di kecamatan Kaliwungu, Kota, Dawe, Jekulo dan Undaan Kabupaten Kudus yang memenuhi kriteria inklusi dengan teknik pengambilan sampel gugus bertahap dan diperoleh 140 responden. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli sampai September 2012. Data yang telah dikumpulkan dianalisis statistik univariabel, bivariabel dengan uji korelasi Lambda. Penghasilan dinilai berdasarakan jumlah biaya pengeluaran per bulan. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah terdapat korelasi antara penghasilan dengan lama menyusui (r =0.393 p= <0.001), tidak terdapat korelasi antara pendidikan dengan lama menyusui (r = 0.075 p= 0.180) dan tidak terdapat korelasi antara pekerjaan dengan lama menyusui ( r = 0.047 p= 0.249). Simpulan dalam penelitian ini adalah tingkat pendidikan dan pekerjaan tidak memengaruhi lama menyusui, sedangkan penghasilan yang tinggi membuat ibu tidak mempunyai waktu yang cukup untuk menyusui
HUBUNGAN MOBILISASI DENGAN PROSES PENYEMBUHAN LUKA ATAU ULKUS DEKUBITUS DI RSU RA KARTINI JEPARA TAHUN 2012
Diabetes Melitus (DM) adalah gangguan metabolisme yang secara geografis dan klinis termasuk heterogen serta hilangnya toleransi terhadap karbohidrat.DM merupakan masalah kesehatan yang serius dan berdampak buruk bagi kehidupan seseorang dan merupakan resiko morbiditas dan mortalitas prematur yang meningkat sesuai dengan pola makan yang bergeser dari pola makan rasional yang banyak mengandung karbohidrat dan serat dari sayuran kepola makan dengan cara besar dengan komposisi makanan yang terlalu banyak mengandung protein, lemak, gula, garam, dan mengandung sedikit serat (Price, 2002). Tujuan penelitan ini adalah untuk mengetahui Hubungan mobilisasi dengan proses penyembuhan luka atau ulkus dekubitus. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah korelasional dengan pendekatan cross sectional.populasi dalam penelitian ini adalah pasien dengan diabetes melitus yang dirawat di RSU RA Kartini Jepara berjumlah 39 orang yang memenuhi criteria inklusi. Sampel dari penelitian ini adalah pasien dengan diabetes melitus yang dirawat di RSU RA Kartini Jepara berjumlah 39 orang. Analisa yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa univariat dan analisa bivariat dengan uji chi square. Hasil penelitian menyatakan, mobilisasi dengan jumlah 25 orang (64,1%),tidak mobilisasi dengan jumlah 14 orang (35,9%), ada hubungan mobilisasi dengan proses penyembuhan luka atau ulkus dekubitus di RSU RA Kartini Jepara. Berdasarkan uji statistik diperoleh hasil, adapun nilai chi-square tabel pada df : 1 tingkat signifikansi 0,5% adalah 3,841. Kemudian dilakukan perbandingan chi-square hitung dan chi-square tabel. Dimana chi-square hitung adalah 10,029 > chi-square tabel df : 1 taraf signifikan 0,05% adalah 3,841.Kesimpulan : Ada hubungan mobilisasi dengan proses penyembuhan luka atau ulkus dekubitus di RSU RA Kartini Jepara
HUBUNGAN TINGKAT KECEMASAN DALAM MENGHADAPI HASIL UAN DENGAN KEJADIAN AMENORE PADA SISWI KELAS XII DI SMA NEGERI 1 KARANGANYAR DEMAK TAHUN 2011
Latar belakang : Masa remaja sangat identik dengan masa pubertas dimana selama masa remaja akan terjadi penambahan kecepatan pertumbuhan atau pacu tumbuh (growth sput), mulai munculnya tanda-tanda seks sekunder pada remaja putri, mulai terjadi kematangan organ seksual dan terjadi perubahan-perubahan psikososial. Dengan memikirkan suatu masalah yang tengah dihadapi, kadang dapat menyebabkan timbulnya kecemasan pada remaja. Keadaan ini akan menyebabkan hipofisis memproduksi glukokortikoid dalam jumlah besar untuk menanggulangi kecemasan yang terjadi, yang menyebabkan produksi LH dan FSH ditekan sehingga siklus menstruasi terganggu.Tujuan : Untuk mengetahui adakah hubungan tingkat kecemasan dalam menghadapi hasil UAN dengan kejadian amenore pada siswi kelas XII di SMA Negeri 1 Karanganyar Demak Tahun 2011.Metode penelitian : Jenis penelitian yang digunakan adalah analitik korelatiif, dengan pendekatan cross sectional, Data yang dikembangkan adalah data primer dengan menggunakan kuesioner. Populasinya adalah siswi kelas XII sejumlah 120 siswi di SMA Negeri 1 Karanganyar Demak, dengan menggunakan tekhnik sampel random samlling yaitu mengambil sampel secara acak. Analisa data menggunakan tabel distribusi frekuensi dan uji chi kuadrat dengan taraf signifikan 5 %.Hasil : Penelitian menunjukan bahwa x2 hitung (6,302) >x2 tabel (3,841). Maka Ho ditolak dan Ha diterima yang berarti ada hubungan antara tingkat kecemasan dalam menghadapi hasil UAN dengan kejadian amenore pada siswi kelas XII di SMA Negeri 1 Karangayar Demak Tahun 2011.Kesimpulan : Ada hubungan antara tingkat kecemasan dalam menghadapi hasil UAN dengan kejadian amenore pada siswi kelas XII di SMA Negeri 1 Karanganyar Demak Tahun 2011