E Journal Resource Universitas Muhammadiyah Kudus
Not a member yet
781 research outputs found
Sort by
PENGARUH GIZI KURANG TERHADAP PENCAPAIAN PERKEMBANGAN ASPEK MOTORIK KASAR DAN MOTORIK HALUS PADA ANAK USIA 0-36 BULAN DI WILAYAH PUSKESMAS JATI KUDUS
Malnutrisi is circumstance patologis of arising out of effect of is lack of asupan energi protein and during a given time period. If child experience of less gizi, clear hence will be dangerous to continuity of child life , its problem is child stand in need of kecukupaan gizi to process growth and growth which exactly take place fast very in age batita. growth And growth represent health gizi parameter which sensitive enough to assess child health, especially the and batita baby child. This research aim to to know influence malnutrisi to harsh growth motorik attainment time accuracy and refine at age child 0-36 month;moon in Puskesmas Jati Kudus.Intake sampel Method in the non random sampling , old fellow bringing his child to posyandu ( specially the age child 0-36 month;moon) in Puskesmas Jati Kudus as sampel in this research. Mount malnutrisi measured by using criteria WHO-NCHS and mount child growth attainment time accuracy [in] measure by using kuisioner ( DDST) and KPSP. Research Location [in] Puskesmas Jati Kudus From result of enumeration indicate that value of X calculate 10,97 and assess X table 10,645 [at] harsh motorik and smooth motorik, hence interpretasinya is there influence of malnutrisi to accuracy of time attainment of harsh motorik [at] child of age 0-36 month;moon in Puskesmas Jati Kudus.Conclusion from this research expected by energy of health can improve of about gizi of his influence and child to growth and growth especially child of baby and batita. For the researcher is hereinafter expected more complete relevant research with this research, so that get better result
HUBUNGAN ANTARA PERSONAL HYGIENE (DAERAH KEMALUAN) DENGAN TINGKAT INFEKSI PADA AKSEPTOR KB IUD PASCA PEMASANGAN 6 BULAN – 5 TAHUN DI KECAMATAN JEKULO KABUPATEN KUDUS
Latar Belakang : IUD merupakan alat kontrasepsi yang terbuat dari bahan plastik yang halus berbentuk spiral atau berbentuk lain yang dipasang di dalam rahim. IUD mempunyai efektivitas tinggi. Sangat efektif 0,6-0,8 kehamilan per 100 perempuan dalam 1 tahun pertama, akan tetapi IUD juga dapat mengakibatkan infeksi jika personal hygiene di daerah kemaluan yang dilakukan pemakainya tidak baik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara personal hygiene (daerah kemaluan) dengan tingkat infeksi pada akseptor KB IUD pasca pemasangan 6 bulan – 5 tahun di Kecamatan Jekulo Kabupaten Kudus tahun 2012.Metode Penelitian : Jenis penelitian adalah analitik korelasi dengan pendekatan waktu cross sectional. Data yang dikumpulkan adalah data primer dan sekunder. Sampel dalam penelitian ini adalah 47 orang dari populasi dengan teknik total sampling. Analisa data yang digunakan analisa univariat dan bivariat menggunakan uji statistik kendall tau. Hasil Penelitian : Responden yang memiliki personal hygiene kurang sebanyak 18 (38,3%) dan responden yang mengalami infeksi berat sebanyak 20 (42,6%). Hasil uji statistik kendall tau, diperoleh ada hubungan antara personal hygiene (daerah kemaluan) dengan tingkat infeksi pada akseptor KB IUD pasca pemasangan 6 bulan – 5 tahun di Kecamatan Jekulo Kabupaten Kudus (p value : 0,001 < 0,05) dengan nilai kendall tau 0,731. Kekuatan hubungannya adalah kuat. Kesimpulan : Ada hubungan antara personal hygiene (daerah kemaluan) dengan tingkat infeksi pada akseptor KB IUD pasca pemasangan 6 bulan – 5 tahun di Kecamatan Jekulo Kabupaten Kudus. Saran : Menyarankan ibu selalu menjaga kebersihan dan meningkatkan kesehatan agar mengurangi resiko terkena infeksi setelah melakukan pemasangan IUD
PELAKSANAAN DETEKSI DINI PENYAKIT PENYERTA KEHAMILAN PADA PELAYANAN ANTENATAL TERKAIT KEMATIAN IBU DI KABUPATEN KUDUS
Tujuh dari 15 kasus kematian ibu di Kabupaten Kudus terjadi pada kondisi hamil. Kehamilan risiko tinggi dapat dideteksi apabila ibu hamil melakukan pemeriksaan antenatal secara rutin. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis pelaksanaan deteksi dini penyakit penyerta pada pelayanan antenatal dari aspek input, proses dan outputJenis penelitian ini adalah Kualitatif. Pemilihan informan dengan cara purposive, data melalui wawancara (indepth interview) pada informan utama 9 bidan terdiri 5 Bidan Praktik Mandiri dan 4 bidan desa. 16 Informan triangulasi terdiri 6 Bidan Koordinator Puskesmas, 9 ibu hamil resiko tinggi trimester III dan 1 Kepala Seksi Kesehatan Keluarga. Analisis data menggunakan metode analisis isi (content analysis)Hasil penelitian jumlah tenaga bidan sudah mencukupi ikarenakan tiap desa sudah terdapat bidan desa. Semua bidan belum pernah mengikuti pelatihan Antenatal, ketrampilan yang dimiliki sebagian besar bidan desa kurang karena elayani pelayanan umum. Sebagian besar alat yang belum dimiliki yaitu reflek patella, hemometer, jangka panggul. Sumber dana dari Bantuan Operasional Kesehatan dan Bidan Praktik Mandiri dari biaya yang dikeluarkan ibu hamil. Sebagian besar bidan tidak menanyakan penyakit yang diderita, pola konsumsi. Sebagian besar bidan tidak melakukan pengukuran suhu dan lingkar lengan atas dikarenakan jika ada indikasi. Penanganan dan tindak lanjut beberapa bidan melakukan rujukan tidak dilakukan pendampingan. Komunikasi informasi dan edukasi belum dilakukan dengan baik. Output kasus yang sudah terdeteksi dini pada kehamilan yaitu riwayat obstetri jelek, umur terlalu tua, hepatitis dan hipertensi.Disimpulkan bahwa deteksi dini penyakit penyerta pada pelayanan antenatal bidan belum optimal karena belum adanya pelatihan yang diselenggarakan, sarana alat pemeriksaaan laboratorium yang tidak ada di PKD
DUKUNGAN KELUARGA BERHUBUNGAN DENGAN KECACATAN PENDERITA KUSTA
Tujuan dari peneitian adalah mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecacatan penderita kusta. Penelitian merupakan penelitian cross sectional. Hipotesa yang dibuktikan adalah “Adanya hubungan antara dukungan keluargal dengan tingkat kecacatan pada penderita. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh penderita kusta di wilayah kabupaten X sejumlah 77 pasien. Penelitian menggunakan instrument tentang dukungan keluarga dan kecatatan penderita kusta. Hasil menunjukkan ada hubungan antara dukungan keluarga dengan kecacatan pada penderita kusta dengan p = 0,0040 (α = 0,05). Penelitian ini merekomendasikan untuk meningkatkan dukungan dari keluarga untuk mencegah dan menurunkan tingkat kecacatan pada penderita kusta.Kata Kunci : dukungan keluarga, kecacatan, kust
PENGETAHUAN DAN SIKAP TERHADAP PEMILIHAN KB METODE KONTRASEPSI JANGKA PANJANG (MKJP) PASIEN JAMINAN PERSALINAN (JAMPERSAL) POST PARTUM DI RSUD KUDUS
mpersal tidak hanya diperuntukkan untuk membiayai proses persalinan ibu bersalin saja namun juga penggunaan KB. Dalam upaya pelaksanaan keluarga berencana (KB) Pemerintah dan Badan Koordinator Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menganjurkan ibu-ibu memakai alat kontrasepsi dengan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP). Ada beberapa kemungkinan kurang berhasilnya program KB diantaranya dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan ibu dan faktor pendukung lainnya. Untuk mempunyai sikap yang positif tentang KB diperlukan pengetahuan yang baik, demikian sebaliknya bila pengetahuan kurang maka kepatuhan menjalani program KB berkurang. Penelitian dilakukan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dan sikap terhadap pemilihan KB Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) Pasien Jaminan Persalinan (Jampersal) postpartum di RSUD Kudus. Metode penelitian menggunakan jenis penelitian deskriptif kuantitatif dengan studi korelasi dan menggunakan rancangan cross sectional. Sampel penelitian sebanyak 64 orang yang diambil dengan teknik purposive sampling. Kuesioner dipilih sebagai instrument penelitian yang telah diuji validitas dan reliabelitasnya. Data dianalisa secara univariat dan bivariat menggunakan uji Spearman’s Rho. Hasil penelitian Ada hubungan tingkat pengetahuan terhadap pemilihan KB MKJP pasien Jampersal post partum (p value = 0,000) dan ada hubungan sikap terhadap pemilihan KB MKJP pasien Jampersal post partum (p value = 0,000). Kesimpuan penelitian Ada hubungan tingkat pengetahuan dan sikap terhadap pemilihan KB MKJP pasien post partum di RSUD Kudus. Disarankan pihak RSUD Kudus meningkatkan pengetahuan akseptor KB sehingga mampu mengambil keputusan sendiri dalam ber-KB
HUBUNGAN ANTARA PERSONAL HYGIENE (DAERAH KEMALUAN) DENGAN TINGKAT INFEKSI PADA AKSEPTOR KB IUD PASCA PEMASANGAN 6 BULAN – 5 TAHUN DI KECAMATAN JEKULO KABUPATEN KUDUS
Latar Belakang : IUD merupakan alat kontrasepsi yang terbuat dari bahan plastik yang halus berbentuk spiral atau berbentuk lain yang dipasang di dalam rahim. IUD mempunyai efektivitas tinggi. Sangat efektif 0,6-0,8 kehamilan per 100 perempuan dalam 1 tahun pertama, akan tetapi IUD juga dapat mengakibatkan infeksi jika personal hygiene di daerah kemaluan yang dilakukan pemakainya tidak baik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara personal hygiene (daerah kemaluan) dengan tingkat infeksi pada akseptor KB IUD pasca pemasangan 6 bulan – 5 tahun di Kecamatan Jekulo Kabupaten Kudus tahun 2012.Metode Penelitian : Jenis penelitian ini analitik korelasi dengan pendekatan waktu cross sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah total sampling sejumlah 47akseptor KB IUD di Jekulo Kudus. Analisa data yang digunakan analisa univariat dan bivariat menggunakan uji statistik Kendall tau.Hasil Penelitian : Responden yang memiliki personal hygiene kurang sebanyak 18 (38,3%) dan responden yang mengalami infeksi berat sebanyak 20 (42,6%). Hasil uji statistik kendall tau, diperoleh p value : 0,001 < 0,05) dengan nilai kendall tau 0,731. Kekuatan hubungannya adalah kuat.Kesimpulan : Ada hubungan antara personal hygiene (daerah kemaluan) dengan tingkat infeksi pada akseptor KB IUD pasca pemasangan 6 bulan – 5 tahun di Kecamatan Jekulo Kabupaten Kudus. Kata kunci : Personal hygiene, infeksi, KB IU
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP DENGAN KEIKUTSERTAAN JAMINAN PERSALINAN PADA IBU HAMIL DI PUSKEMAS KEDUNG II KECAMATAN KEDUNG KABUPATEN JEPARA
Anis Fitriani, Rusnoto, Nor Asiyah Xv+66 halaman+8 tabel+2 gambar+12 lampiran Latar Belakang: Cakupan pemakain Jampersal di Indonesia pada tahun 2011 telah mencapai 42,7%, sedangkan pada tahun 2012 sebesar 57,4%. Cakupan pemakain Jampersal di Jawa Tengah pada tahun 2011 telah mencapai 54,1%, sedangkan pada tahun 2012 sebesar 68,9% (Riskesdas, 2012; h.23). Data yang diperoleh dari DKK Jepara pada tahun 2012 sasaran kepesertaan ibu hamil adalah 23.951 orang, dimana yang memanfaatkan Jampersal ibu hamil 712 orang, sedangkan persalinan sebanyak 1.288 orang. Hal ini menunjukkan bahwa pemanfaatan Jampersal oleh ibu hamil di Kabupaten Jepara masih jauh di bawah target. Tujuan : Mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dan sikap dengan keikutsertaan jaminan persalinan pada ibu hamil di Desa Kedung Kecamatan Kedung Kabupaten Jepara Metode: Penelitian ini adalah analitik korelatig. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional. Populasi pada penelitian ini adalah semua ibu hamil di wilayah Puskesmas Kedung II pada bulan Januari 2013 sebanyak 46 ibu hamil. Sampel 41 orang, analisis data menggunakan contingency coeficient.Hasil penelitian Sebagian besar ibu hamil memiliki pengetahuan kurang tentang Jampersal yaitu sebanyak 18 orang (43,9%). Sebagian besar ibu hamil memiliki sikap negatif tentang Jampersal yaitu sebanyak 26 orang (63,4%). Sebagian besar ibu hamil ikut Jampersal yaitu sebanyak 33 orang (80,5%) Tidak ada hubungan tingkat pengetahuan dengan keikutsertaan jaminan persalinan pada ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Kedung II Kecamatan Kedung Kabupaten Jepara (p value = 0,285, RR = 0,275). Ada hubungan sikap dengan keikutsertaan jaminan persalinan pada ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Kedung II Kecamatan Kedung Kabupaten Jepara (p value = 0,017, RR = 0,425)
HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU TENTANG IMUNISASI DENGAN PELAKSANAAN IMUNISASI CAMPAK DI DESA TURIREJO PUSKESMAS II DEMAK
Imunisasi adalah suatu usaha memberikan kekebalan pada balita dan anak terhadap penyakit tertentu, dengan memasukkan vaksin yang berupa kuman hidup yang dilemahkan atau kuman yang dimatikan serta racun kuman kedalam tubuh anak yang berupa antigen. Imunisasi campak adalah imunisasi yang diberikan untuk mendapatkan kekebalan terhadap penyakit campak secara aktif. Vaksin campak mengandung virus hidup yang dilemahkan dan diberikan satu kali pada umur 9 bulan.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap ibu tentang imunisasi dengan pelaksanaan imunisasi campak didesa Turirejo Puskesmas Demak II.Penelitian ini menggunakan desain deskriptif korelatif dengan sampel total populasi 50 responden. Instrumen dalam penelitian ini adalah kuesioner. Analisis data yang digunakan adalah Chi Square dengan taraf kepercayaan 95 %. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ibu yang mempunyai balita 9-15 bulan, berdasarkan uji Chi Square didapatkan bahwa p value < α. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah ada hubungan antara pengetahuan dan sikap ibu tentang imunisasi dengan pelaksanaan imunisasi campak. Berdasarkan penelitian tersebut diharapkan bidan sebagai tenaga kesehatan di puskesmas Demak II dapat memberikan konseling secara paripurna dan utuh. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat meneliti sejauh mana hubungan pengetahuan dan sikap ibu tentang imunisasi dengan elaksanaan imunisasi campak di desa Turirejo Puskesmas Demak II
HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN IBU DENGAN STATUS IMUNISASI DASAR PADA BAYI USIA 9-12 BULAN DI DESA KAJAR KECAMATAN DAWE KABUPATEN KUDUS
Penyebab tingginya angka kesakitan dan kematian bayi adalah penyakit menular. Upaya preventif dalam lingkup pelayanan kesehatan untuk menurunkan angka kematian bayi adalah melalui imunisasi. Program pengembangan imunisasi merupakan program yang di bentuk pemerintah untuk mewujudkan komitmen internasional yaitu Universal child imunisation. Imunisasi dasar adalah imunisasi golongan pertama yang harus selesai sebelum usia setahun. Imunisasi yang harus selesai sebelum usia setahun adalah Hepatitis B-1, polio-1, BCG, hepatitis-2, DPT-1, polio-2, hepatitis-3, DPT-2, polio-3, DPT-2, polio-4 dan campak. Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan ibu dengan status imunisasi dasar pada bayi usia 9-12 bulan di Desa Kajar Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus.Penelitian ini dilakukan di Desa Kajar Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus, menggunakan desain deskriptif korelasi dengan pendekatan Cross Sectional dengan total sempling 28 responden. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner dan KMS. Analisis data yang digunakan Chi-Square dengan α 0,05.Hasil uji statistik yang dilakukan dengan Chi-Square hasil yang diperoleh 0,043<0,05 sehingga hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara tingkat pengetahuan dengan status imunisasi dasar pada bayi usia 9-12 bulan di Desa Kajar Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus. Berdasarkan hasil penelitian tersebut diharapkan bidan sebagai tenaga kesehatan dapat memberikan penyuluhan tentang imunisasi sejak dini kepada masyarakat khususnya kaum wanita melalui posyandu, pada saat pemeriksaan ANC dan pelayanan post partum dirumah maupun di tempat bidan.Kata Kunci: Pengetahuan, status imunisasi dasar
FAKTOR-FAKTOR YANG BERKONTRIBUSI PADA KEJADIAN PRE EKLAMSIA DI RSU PKU MUHAMMADIYAH GUBUG TAHUN 2014
Angka kematian ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia belum memenuhi tujuan pencapaian MDG’s meskipun sudah mengalami penurunan. Bahkan AKI di Indonesia merupakan yang tertinggi di ASEAN. Pre eklamsi merupakan penyebab kematian ibu langsung yang mulai menggantikan posisi perdarahan sebagai penyebab terbanyak.Tujuan untuk mengetahui berbagai factor yang mempengeruhi derajat pre-eklamsi di Ruang Annisa RSU PKU Muhammadiyah Gubug. MetodePenelitian ini menggunakan jenis penelitian analitik korelasi dengan desain retrospektif. Sampel yang digunakan total sampel dengan populasi semua pasien pre-eklamsi di RSU PKU Muhammadiyah Gubug pada bulan Januari-Desember 2013 sebanyak 53 pasien. Analisis data menggunakan uji chi square. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa p value usia dengan kejadian tingkat pre eklamsia 0,583, paritas dengan kejadian pre eklamsia 0,850, pekerjaan dengan kejadian pre eklamsia 0,916, pendidikan dengan kejadian pre eklamsia 0,603, IMT dengan kejadian pre eklamsia 0,045, dan kadar Hb dengan kejadian pre eklamsia 0,075.Kesimpulan penelitian ini tidak ada hubungan yang bermakna antara usia, paritas, pekerjaan, pendidikan, dan kadar Hb dengan kejadian tingkat pre eklamsia. Terdapat hubungan bermakna antara indeks masa tubuh dengan kejadian tingkat pre eklamsia