E Journal Resource Universitas Muhammadiyah Kudus
Not a member yet
781 research outputs found
Sort by
GAMBARAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT SISWA SEKOLAH DASAR NEGERI DI KECAMATAN BANCAK
Masalah kesehatan, khususnya terkait perilaku hidup bersih dan sehat rawan, dialami anak usia sekolah. Beberapa penyakit yang sering dijumpai pada anak usia sekolah antara lain diare, karies dan demam berdarah. Pencegahan masalah ini dapat dilakukan melalui program perilaku hidup bersih dan sehat. Indikator perilaku hidup bersih dan sehat di institusi pendidikan/sekolah meliputi mencuci tangan dengan air yang mengalir dan menggunakan sabun, mengkonsumsi jajanan sehat di kantin sekolah, menggunakan jamban yang bersih dan sehat, olah raga yang teratur dan terukur, memberantas jentik nyamuk, tidak merokok di sekolah, menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan, dan membuang sampah pada tempatnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan perilaku hidup bersih dan sehat pada siswa Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan Bancak. Metode penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskritif, sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 193 sampel, kemudian pengolahan data menggunakan program komputer Microsoft excell. Hasil penelitian menunjukkan perilaku mencuci tangan dalam kategori cukup (66,58%), jajanan sehat dalam kategori kurang (35,35%), jamban yang sehat dan bersih dalam kategori cukup (63,73%), olahraga dengan teratur dalam kategori cukup (58,03%), membrantas jentik nyamuk dalam kategori kurang (49,22%), tidak merokok masuk dalam kategori kurang (39,89%) dan membuang sampah dalam kategori kurang (47,92%). Berdasrakan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa PHBS Siswa SD Negeri di Kecamatan Bancak masih dalam kategori kurang
HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN DAN PENGETAHUAN TENTANG DIET DM DENGAN KEPATUHAN DIET PASIEN DIABETES MELLITUS DI RSUD R.A KARTINI JEPARA
Latar belakang : Kepatuhan diet diabetes mellitus merupakan salah satu faktor untuk menstabilkan kadar gula dalam darah menjadi normal dan mencegah komplikasi. Ketidakpatuhan terhadap diet diabetes mellitus akan menyebabkan terjadinya komplikasi akut dan kronik yang pada akhirnya memperparah penyakit bahkan bisa menimbulkan kematian. pendidikan merupakan suatu usaha untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan didalam maupun diluar sekolah. Pengetahuan itu sendiri merupakan dasar untuk melakukan suatu tindakan sehingga setiap orang yang akan melakukan tindakan biasanya didahului dengan tahu, selanjutnya perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan bersifat lebih baik dari pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan.Tujuan : untuk mengetahui hubungan tingkat pendidikan dan pengetahuan tentang diet DM dengan kepatuhan diet pasien diabetes mellitus di RSUD R.A Kartini Jepara.Metode : Penelitian ini termasuk jenis penelitian analitik korelasional dengan pendekatan waktu cross sectional. Sampel dalam penelitian ini 38 responden. Penelitian ini menggunakan uji analisa Spearmen Rho.Hasil : Hasil analisis statistik Spearman Rho diperoleh untuk pengetahuan p value = 0.002 dan pendidikan p value = 0.038, lebih kecil dari nilai tingkat kemaknaan ɑ <0.05. Sehingga P value table kurang dari P value hitung maka Ho ditolak dan Ha diterima.Kesimpulan : Bahwa terdapat Hubungan Tingkat Pendidikan Dan Pengetahuan Tentang Diet DM Dengan Kepatuhan Diet Pasien Diabetes Mellitus Di RSUD RA Kartini Jepara
HUBUNGAN SELF EFFICACY DAN DUKUNGAN SOSIAL TERHADAP SELF CARE MANAGEMENT PASIEN DIABETES MELLITUS TIPE II
Manajemen Perawatan Diri penting dalam mencegah terjadinya komplikasi pada pasien dengan Diabetes Mellitus tipe II. Faktor-faktor yang dapat menghambat kurangnya manajemen perawatan diri adalah kurangnya self-efficacy dan dukungan sosial. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan self efficacy dan dukungan sosial terhadap manajemen perawatan diri pasien yang menderita diabetes mellitus tipe 2 di Desa Sembiran Kecamatan Tejakula. Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross sectional. Sampel pasien yang mengalami DM tipe II DM dan memiliki kadar glukosa darah ≥150 mg / dl adalah 79 orang. Instrumen penelitian menggunakan self efficacy, dukungan sosial dan kuesioner SDSCA yang dianalisis menggunakan uji korelasi Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara self efficacy terhadap manajemen perawatan diri pada pasien diabetes tipe II di Desa Sembiran Kecamatan Tejakula, dilihat dari nilai korelasi Rank Spearman 0,605 dengan nilai p = 0,0001 <α = 0,05 dan ada hubungan self efficacy. dan dukungan sosial terhadap manajemen perawatan diri pasien yang menderita diabetes mellitus tipe 2 di Desa Sembiran Kecamatan Tejakaula, dilihat dari nilai korelasi peringkat Spearman sebesar 0,648 dengan nilai p = 0,0001 <α = 0,05. Diharapkan bahwa dengan dukungan sosial yang baik dan self efficacy dapat meningkatkan perilaku manajemen perawatan diri pada pasien yang menderita DM tipe II
PENGARUH ROM EXERCISE BOLA KARET TERHADAP KEKUATAN OTOT GENGGAM PASIEN STROKE DI RSUD RAA SOEWONDO PATI
Latar Belakang : latar belakang penelitian ini yaitu dari hasil studi pendahuluan yang dilakukan peneliti dari 10 pasien stroke yang mengalami penurunan kesadaran di ruang umum RSUD RAA Soewondo Pati didapatkan sebanyak 6 (60%) pasien mengalami gangguan mobilisasi. Ketika pasien disuruh menggenggam tangan sepenuhnya pasien tidak dapat melaksanakannya bahkan jari-jari tangan terasa kaku. Sebanyak 2 (20%) pasien hanya mampu menggerakkan jari-jarinya tetapi belum mampu menggenggam tangannya sepenuhnya. Sebanyak 2 (20%) pasien mampu menggenggam dan memegang benda kecil di tangannya meskipun kekuatan menggenggamnya masih lemah. Selama ini prosedur gerakan ROM pasien stroke di rumah sakit sudah ada tetapi belum terlaksana secara maksimal terutama menggunakan bola karet. Tujuan penelitian : tujuan penelitian ini untuk pengaruh ROM exercise bola karet terhadap kekuatan otot genggam pasien stroke di RSUD RAA Soewondo Pati. Metode Penelitian : jenis penelitian yang digunakan adalah metode metode quasi eksperimen dengan pendekatan Pra-Pasca Test. Jumlah sampel 16 pasien sebagai kelompok intervensi dan 16 pasien kelompok kontrol yang dipilih secara consecutive Sampling. Untuk menganalisis data menggunakan Paired T Test. Hasil Penelitian : hasil penelitian didapatkan kelompok intervensi diperoleh nilai ρ value adalah 0,000 (p<0,05) dan kelompok kontrol diperoleh nilai ρ value adalah 0,009 (p<0,05). Hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa ρ value kelompok intervensi lebih kecil dibandingkan ρ value kelompok kontrol sehingga pemberian ROM exercise bola karet lebih efektif meningkatkan kekuatan otot genggam pasien stroke dibandingkan kelompok kontrol tanpa perlakuan yang hanya diberikan alih baring sesuai advise dokter. Kata Kunci: ROM Exercise Bola Karet, Kekuatan Otot Genggam dan Strok
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SIKAP REMAJA TENTANG SEKS BEBAS
Remaja merupakan tahapan usia dimana didalamnya banyak sekali terjadi perubahan. Baik perubahan biologis, psikologis, maupun sosial, spiritual. Salah satu perubahan biologis yang terjadi adalah adanya hasrat seksual. Banyak faktor yang dapat memicu munculnya hasrat seksual remaja yang membutuhkan penyaluran dalam bentuk perilaku seksual, yaitu seks bebas yang dapat mengarah pada Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD). Seks bebas juga menjadi salah satu penyebab tingginya HIV/AIDS. Menurut data di Voluntary Concelling and Testing (VCT) RSUD Cilacap, tahun 2014 terdapat 550 orang dengan HIV/AIDS usia antara 10-19 tahun sebanyak 9 anak (2,82%), Cilacap merupakan wilayah Kabupaten yang memiliki penderita HIV/AIDS terbanyak ketiga se-Jawa Tengah. Data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Cilacap tahun 2010 terdapat 44 Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana karakteristik remaja yang memiliki prediktor tinggi perilaku seks bebas yang berisiko HIV/AIDS. Metode penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan desain cross sectional dengan jumlah sampel 43 responden dan pengambilan data menggunakan purposive sampling dengan analisis Chi square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh karakteristik remaja (kondisi rumah tangga orang tua dengan nilai p 0.868, status pacaran dengan nilai p 0.646 dan tempat tinggal) dengan sikap remaja tentang seks bebas dengan nilai p 0.599.
MANAGEMEN DISCHARGE PLANNING PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIS DI RSUD KOTA SALATIGA
Abstrak Kegagalan fungsi ginjal pada Gagal Ginjal Kronis (GGK) mengakibatkan ketidakmampuan tubuh membuang sisa metabolisme. Pasien GGK diharuskan melakukan hemodialisis dan pengaturan asupan nutrisi untuk mempertahankan kondisi kesehatannya. Kurangnya pemahaman dan kepatuhan pasien dalam melakukan program terapi dapat menyebabkan kondisi kegawatdaruratan. Oleh karena itu discharge planning menjadi sangat penting bagi pasien GGK. Penelitian ini bertujuan mengetahui manajemen discharge planning pada klien dengan gagal ginjal kronis di RSUD Kota Salatiga. Desain penelitian yang digunakan adalah embeded single case study. Terdapat dua unit analisis dalam studi ini, yaitu perawat dan pasien. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi-terstruktur dan studi dokumentasi discharge planning. Data yang telah terkumpul kemudian dianalisis menggunakan teknik pencocokan pola. Penelitian ini dilakukan selama tiga bulan, dimulai pada Februari sampai April 2018 di Rumah Sakit Umum Daerah Salatiga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran perawat yang paling penting dalam pelaksanaan discharge planning adalah peran educator, kemudian peran sebagai pelaksana discharge planning dan peran menegerial oleh kepala ruang.
HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA WANITA USIA SUBUR PRANIKAH
AbstrakWanita Usia Subur (WUS) merupakan kelompok usia dengan prevalensi anemia yang cukup tinggi, di Indonesia mengalami peningkatan dari 19,7%(2007) menjadi 22,4% (2013). Status besi WUS pranikah berdampak pada outcome maternal dan neonatal saat kehamilan. Hubungan Indeks Massa Tubuh (IMT) dan anemia masih kontroversial. Berat badan kurus merupakan indikasi rendahnya asupan mikronutrien yang berhubungan dengan anemia. Pada studi lain, berat badan berlebih/ obesitas meningkatkan resiko anemia karena peningkatan sitokin inflamasi (Interleukin-6) yang menstimulasi peningkatan hepsidin dan penurunan penyerapan besi. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan Indeks Massa Tubuh dengan kejadian anemia pada WUS pranikah. Penelitian ini berjenis analitik observasional dengan metode pendekatan cross sectional dilakukan pada 36 WUS pranikah ( 18 anemia dan 18 tidak anemia) di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Koto Tangah Kota Padang. Pengambilan sampel dilakukan secara consecutive sampling. Pengukuran tinggi badan menggunakan microtoice dan berat badan menggunakan timbangan pegas. Pemeriksaan hemoglobin dengan metode sianmethemoglobin di Laboratorium Biokimia Universitas Andalas. Uji Bivariat dilakukan dengan uji Chi Square.Hasil penelitian menunjukkanWUS dengan IMT berlebih merupakan persentase terbesar (66,7%) yang ditemukan pada kelompok anemia. Tidak terdapat hubungan antara IMT dengan kejadian anemia dengan nilai p 0,7 (p>0,05). Kesimpulan penelitian ini adalah tidak terdapat hubungan antara IMT dengan kejadian anemia. Kata Kunci: Indeks Massa Tubuh, Kejadian Anemia AbstractWomen of Reproductive Age (WRA) are an age group with a fairly high anemia prevalence in Indonesia, increasing from 19.7% (2007) to 22.4% (2013). Iron status of premarital women affects maternal and neonatal outcomes during pregnancy. The relationship between the Body Mass Index (BMI) and anemia is controversial. Underweight indicates of inadequate dietary intake of micronutrients associated with anemia. In other study, overweight/obesity also increase anemia risk because release of proinflammatory cytokines (Interleukin-6) and which stimulates release of hepsidin and decrease iron absorbtion. The purpose of this study was to analyze the relationship between body mass index with the incidence of anemia in premarital WRA. This research was an observational analytic type with a cross sectional approach performed on 36 premarital WRA (18 with anemia and 18 without anemia) in Koto Tangah District, Padang. Sampling was done by consecutive sampling. Body height is measured by microtoice and body weight is measured by manual scale. Hemoglobin was examined with the cyanmethemoglobin method at the Andalas University Biochemistry. Bivariate test was carried out by Chi Square test. The results showed overweight women is the highest percentage (66,7%) in anemia group. There was no relationship between BMI and the incidence of anemia (p > 0.05). The study concluded that there was no relationship between BMI and anemia. Keywords: Body Mass Index, Anemi
PENGARUH TERAPI DZIKIR TERHADAP TINGKAT NYERI PADA PASIEN POST OPERASI BENIGNA PROSTAT HYPERPLASIA DI RSUD RA .KARTINI JEPARA
Latar belakang : Benigna Prostat Hyperplasia (BPH) merupakan suatu penyakit pembesaran ukuran sel dan diikuti oleh penambahan jumlah sel pada prostat. Pembesaran atau hipertrofi kelenjar prostat, disebabkan karena hyperplasia beberapa atau semua komponen prostat meliputi jaringan kelenjar atau jaringan fibromuskuler yang menyebabkan penyumbatan uretra pars prostatika. Open prostatektomy dianjurkan untuk prostat dengan ukuran (>100 gram). Pasien yang telah dilakukan tindakan pembedahan bukan berarti tidak timbul masalah. Penyulit yang dapat terjadi setelah tindakan prostatektomi terbuka adalah pasien akan kehilangan darah cukup banyak, retensi urine, inkontinensia urine, impotensi, terjadi infeksi dan tidak luput juga mengalami nyeri post operasi. Secara fisiologis, dzikir akan menghasilkan beberapa efek medis dan psikologis yaitu akan membuat seimbang kadar serotonin dan norepineprin di dalam tubuh. Hal tersebut merupakan morfin alami yang bekerja di dalam otak yang dapat membuat hati dan pikiran merasa tenang setelah dzikir. Tujuan : Untuk mengetahui pengaruh terapi pengaruh terapi dzikir terhadap perubahan nyeri post operasi Benigna Prostat Hyperplasia di RSU RA Kartini Kabupaten Jepara tahun 2017. Metode :Penelitian ini termasuk jenis penelitian quasy eksperimen dengan menggunakan pre test dan post test nonequivalent control group. Sampel dalam penelitian ini 22 responden dengan 11 kelompok intervensi dan 11 kelompok kontrol. Penelitian ini menggunakan uji analisa wilcoxon dikarenakan data non parametrik (skala nominal dan ordinal). Hasil : Hasil uji statistik dengan wilcoxon test didapatkan nilai P 0,007 < 0,05, maka Ha diterima dan Ho ditolak. Artinya ADA perbedaan yang signifikan terhadap tingkat nyeri pada pasien post operasi benigna prostat hyperplasia sebelum dan sesudah terapi dzikir. Kesimpulan : Terapi Dzikir Berpengaruh Yang Signifikan Terhadap Tingkat Nyeri Pada Pasien Post Operasi Benigna Prostat Hyperplasia Di RSUD RA Kartini Kabupaten Jepara Tahun 201
PENGARUH PEMBERIAN TERAPI MUSIK SUARA ALAM TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH PADA PENDERITA HIPERTENSI DI DESA PELANG MAYONG JEPARA TAHUN 2016
Latar belakang : Hipertensi merupakan keadaan ketika tekanan darah sistolik lebih dari 120 mmHg dan tekanan diastolic lebih dari 80 mmHg (Muttaqin, 2009), Penanganan non farmakologis yaitu dengan cara menurunkan berat badan, olah raga teratur diet rendah lemak, garam, dan terapi komplementer yaitu terapi suara alamTujuan : Mengetahui Pengaruh Terapi Musik Suara Alam Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pada Peasien Hipertensi di Desa Pelang Mayong Jepata Tahun 2016Metode penelitian : Desain penelitian yang mengunakan kuantitatif dengan pre dan post test with control dengan pendekatan Quasi Eksperiment. Sampel sebanyak 24 responden menggunakan uji statistik paired sample test.Hasil penelitian : Analisa data dengan menggnakan uji non parametrik untuk mengukur signifikan 2 kelompok data berpasangan dengan T-test. Didapatkan hasil rata-rata penurunan tekanan darah sistol dan diastol kelompok intervensi 0,000 dan kelompok kontrol 0,438. Dan p-value sebesar sebanyak 0,000 < α (0,05).Kesimpulan : ada Pengaruh Terapi Musik Suara Alam Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pada Peasien Hipertensi di Desa Pelang Mayong Jepata
HUBUNGAN PERAN EDUKATOR PERAWAT DENGAN KEJADIAN DEKUBITUS PADA PASIEN STROKE DI RUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT ISLAM PATI TAHUN 2019
Latar Belakang : Upaya pencegahan dekubitus perlu memperhatikan pengetahuan, sikap, motivasi, dan perilaku yang dimiliki oleh perawat. Tingkat keberhasilan dalam upaya pencegahan tergantung dari hal tersebut, akan tetapi berbagai studi mengindikasikan bahwa perawat tidak memiliki informasi dan pengetahuan yang cukup dalam memahami isi panduan penanganan dan kegiatan pencegahan dekubitus. Berdasarkan data dari Komite Pencegahan dan Penanggulangan Infeksi (KPPI) Rumah Sakit Islam Pati pada tahun 2017, didapatkan data bahwa angka kejadian dekubitus ada 4 kasus (6,48 ‰ atau 1,35 % pada pasien stroke yang dirawat di RSI Pati. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara peran edukator perawat dengan kejadian dekubitus pada pasien stroke di ruang rawat inap Rumah Sakit Islam Pati Metode : Jenis penelitian deskriptif analitik dengan jenis korelasional menggunakan rancangan berupa pendekatan cross sectional. Dalam peneltian ini di ukur dan diobservasi antara peran edukator perawat dengan kejadian dekubitus pada pasien stroke.Hasil : berdasarkan hasil uji korelasi Chi Square nilai p value =0,006 lebih kecil dari 0,05. Diketahui bahwa p value ≤ α maka, Ho ditolak dan Ha diterima. Sehingga dapat diambil keputusan bahwa ada hubungan antara peran edukator perawat dengan kejadian dekubitus pada pasien stroke di ruang rawat inap Rumah Sakit Islam Pati tahun 2019. Kesimpulan : ada hubungan yang signifikan antara peran edukator perawat dengan kejadian dekubitus,pada pasien stroke.