Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology (INAJOG)
Not a member yet
904 research outputs found
Sort by
Penanggulangan Kanker Serviks dengan Model Proaktif-VO (Proaktif, Koordinatif dengan Skrining IVA dan Krioterapi) untuk Meningkatkan Cakupan Skrining
Tujuan: Memperoleh model penanggulangan kanker serviks yang
memberi kemungkinan cakupan skrining lebih luas (efektif) dan lebih
efisien, serta kemungkinan berkesinambungan dalam upaya menemukan
lesi prakanker serviks. Tujuan tambahan adalah untuk mengetahui sensitivitas
dan spesifisitas temuan IVA jika dibandingkan dengan metode
tes pap untuk menemukan kasus lesi prakanker serviks.
Subjek, pasien, peserta: Merupakan sampel konsekutif, seluruh
perempuan usia 20 tahun atau yang sudah menikah hingga 70 tahun
yang dapat disertakan.
Tempat: Kecamatan Pademangan (Kelurahan Ancol dan Kelurahan
Pademangan Barat), Jakarta Utara. Dari 1 Desember 2003 sampai dengan
30 Nopember 2004.
Bahan dan cara kerja: Penelitian ini merupakan studi intervensi
dengan menerapkan suatu model penanggulangan kanker serviks Proaktif-
VO pada tatanan komunitas. Penelitian dilakukan di tingkat kecamatan.
Dilengkapi dengan uji diagnostik untuk menilai sensitivitas
dan spesifisitas metode skrining IVA terhadap tes pap.
Hasil: Berhasil direkrut 6.293 responden untuk disuluh dan didata.
Dari kelompok tersebut yang datang periksa 3.196 (50,80%) responden,
dalam kurun waktu 6 bulan dan 1.395 di antaranya dilakukan tes pap.
Pada telitian ini diperoleh nilai akurasi pemeriksaan IVA terhadap tes
pap, yaitu sensitivitas IVA 92,82% dengan spesifisitas 98,97%, Kappa
0,52. Pemeriksaan IVA terhadap baku emas tes pap dengan keterandalan
tinggi, dinyatakan dengan "agreement" 89,89%. Pada makalah ini belum
disampaikan bahasan tentang krioterapi.
Kesimpulan: Model penanggulangan kanker serviks Proaktif-VO di
suatu wilayah yang dilakukan secara aktif, koordinatif, berbasis skrining
IVA dapat dilakukan lebih efektif dan efisien jika dibandingkan dengan
pendekatan umum yang ada selama ini. Kesimpulan ini ditunjang dengan
cakupan skrining pada data awal 8,5%, meningkat menjadi 50,08%
dan efektivitas penggunaan dana yang lebih baik serta kesahihan dan
keterandalan pemeriksaan IVA yang baik.
[Maj Obstet Ginekol Indones 2006; 30-3: 179-85]
Kata kunci: kanker serviks, skrining, IVA, tes pap
Sistem Rujukan Kasus Infertilitas (Berdasarkan Faktor Risiko)
Tujuan: Membuat skor infertilitas berdasarkan faktor risiko, dari keluhan
klinik, sehingga memudahkan sistem rujukan. Penatalaksanaan infertilitas
menjadi lebih efektif dan efisien.
Tempat: --
Bahan dan cara kerja: Rangkuman Kajian Pustaka.
Infertilitas yang mempunyai angka kejadian sekitar 12%, merupakan
masalah yang kompleks. Penatalaksanaannya memerlukan dana yang
banyak, waktu yang lama, pada sisi lain umur, terutama umur isteri, sangat
mempengaruhi kesuburan. Kesuburan isteri mulai menurun pada
umur 30 tahun, menurun tajam setelah umur 35 tahun. Oleh karenanya
bila umur isteri < 30 tahun, diberi skor 1, umur 31 - 35 tahun skor 2,
dan skor 3 untuk umur isteri > 35 tahun. Hinting (2001) pada penelitiannya
mendapatkan hubungan antara lama infertilitas dan angka kehamilan
kumulatif dengan perawatan konvensional. Angka kehamilan kumulatif
menurun bermakna pada lama infertilitas 2 tahun atau lebih. Berdasarkan
hasil ini, maka skor 1 untuk lama infertilitas 1 - 2 tahun, 2 untuk
> 2 tahun, dan 3 untuk lama infertilitas > 3 tahun. Sedangkan dari
faktor infertilitas, faktor yang dominan adalah faktor ovulasi, tuba/peritoneum,
dan faktor sperma. Secara klinis faktor ovulasi dapat diketahui
dari siklus haid. Siklus haid teratur (siklus ovulasi) mempunyai skor 1,
oligomenore atau perdarahan uterus disfungsi skor 2 dan amenore skor
3. Pada faktor tuba/peritoneum, terdapat dua kemungkinan penyebab,
pertama adalah akibat endometriosis, dan kedua karena sisa/cacat akibat
infeksi panggul, terutama penyakit hubungan seksual (PHS), ataupun
pascaoperasi panggul. Secara klinis endometriosis dicurigai bila pada
wanita infertil mengeluh adanya nyeri haid, nyeri panggul, nyeri sanggama
ataupun adanya massa diadneksa. Sedangkan perlekatan pascainfeksi
dapat dicurigai bila ada riwayat infeksi/operasi panggul. Makin
sering terkena infeksi/operasi panggul makin besar kemungkinan adanya
faktor peritoneum. Faktor endometriosis, diberi skor 1 bila tidak ada gejala
klinik, skor 2 bila ada satu macam keluhan nyeri, dan skor 3 bila
ada dua macam keluhan nyeri atau adanya massa adneksa. Kecurigaan
perlekatan pascainfeksi, skor 1 bila tidak ada riwayat infeksi/operasi
panggul, skor 2 bila ada riwayat satu kali, dan skor 3 bila ada riwayat 2
kali atau lebih. Faktor infertilitas terakhir adalah faktor sperma. Normozoospermia,
diberi skor 1. Skor 2 bila ada kelainan salah satu dari densitas
antara 10 - 20 juta/ml, motilitas a + b: 25 - 50%, atau morfologi 5
- 15%. Skor 3 diberikan bila didapatkan salah satu dari, densitas < 10
juta, motilitas a + b < 25%, atau morfologi normal < 5%. Pasangan infertil
dikatakan risiko rendah bila, skor total: < 8, termasuk sedang bila
mempunyai skor total antara 9 - 12 dan berat bila > 12. Apabila salah
satu komponen skor mempunyai skor 3, maka total skor langsung menjadi
> 12. Pasangan dengan risiko rendah dapat ditangani di pusat pelayanan
kesehatan primer, risiko sedang sebaiknya ditangani di pusat
pelayanan kesehatan sekunder, dan tertier untuk yang risiko berat.
Kesimpulan: Skor infertilitas ini cukup sederhana, memudahkan sistem
rujukan bagi semua pihak yang terkait, mulai dari dokter umum sampai
dokter spesialis, ataupun oleh paramedik untuk konseling pada
pasangan.
[Maj Obstet Ginekol Indones 2007; 31-1: 49-57]
Kata kunci: skor infertilitas, rujukan infertilita
Polimorfisme sebagai suatu uji genetik: Sebuah tinjauan kritis
Tujuan: Menelaah perkembangan penggunaan polimorfisme sebagai
suatu uji genetik yang masih menimbulkan banyak silang pendapat.
Rancangan/rumusan data: Kajian pustaka.
Hasil: Gen terdiri dari berbagai variasi yang dapat menggambarkan
berbagai jenis penyakit pada manusia dan dengan polimorfisme dapat
juga menentukan dosis obat yang tepat bagi seseorang. Pengaruh lingkungan
sangatlah besar terhadap gen. Polimorfisme yang ditemukan di
suatu negara belum tentu sama dengan polimorfisme di negara yang
lain, karena memang pengaruh lingkungan setiap negara berbeda-beda.
Oleh karena itu sangat penting setiap negara memiliki sendiri-sendiri
variasi gen. Kurang tepat kalau merujuk dengan variasi-variasi gen yang
ditemukan di negara-negara maju.
Kesimpulan: Pemeriksaan polimorfisme sangat berguna untuk menentukan
apakah seseorang individu menderita penyakit tertentu, sehingga
diharapkan dapat dilakukan pengobatan dan pencegahan dini.
Dengan polimorfisme juga dapat ditentukan dosis obat yang tepat,
mencegah efek samping yang tidak diinginkan. Namun polimorfisme
telah menimbulkan kritik di berbagai negara.
[Maj Obstet Ginekol Indones 2007; 31-2: 116-20]
Kata kunci: polimorfisme, uji geneti
Upaya Menurunkan Angka Kesakitan dan Angka Kematian Ibu pada Penderita Preeklampsia dan Eklampsia
N/
Hypoxia Inducible Factor1α in Correlation with Preeclampsia
Objective: To know the correlation between Hypoxia Inducible Factor
(HIF)-1α level with preeclampsia.
Method: The study was conducted at the Obstetrics and Gynecology
Department of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital. This research was
carried out from April to June 2014. This study is a cross-sectional
analytic approach in preeclampsia and normotensive pregnancy. We
perform cubital venous blood sampling for inspection by 5 ml of serum
and stored it in a refrigerator (-20°C). The level of HIF-1α serum
was done by quantitative ELISA method in Prodia Lab Jakarta.
Result: Seventy six pregnant women with 38 normotensive pregnancies
and 38 preeclampsia, showed a significant association between
the average levels of HIF-1α in the serum of pregnant women
with preeclampsia compared to normotensive pregnancies (p =
0.000).
Conclusion: There is a positive relationship between the levels of
HIF-1α in serum of preeclampsia, in which HIF-1α levels in preeclampsia
was higher than normotensive pregnancies.
[Indones J Obstet Gynecol 2016; 1: 19-22]
Keywords: hypoxia inducible factor-1α, preeclampsi
The Incidence of Anal Sphincter Ruptures and Risk Factors
Objective: To analyze the incidence of anal sphincter ruptures and
to evaluate risk factors of obstetric anal sphincter ruptures in Dr.
Cipto Mangunkusumo Hospital.
Method: We reviewed 2009 vaginal deliveries based on the analysis
of obstetric data base and patient records of our department during
2012. Cases and control subjects were chosen randomly and patient’s
records were reviewed for the following variable: maternal
age, parity, gestational age, labor induction, duration of 2nd stage labor,
use of forceps, use of vacuum, use of episiotomy, birth weight,
and presentation of the baby.
Result: There were 91 (4.53%) anal sphincter ruptures during period
of study (91 of 2009 patients). An univariate analysis of these
91 case and 91 randomly selected control subjects show that primiparity
(p = .000), gestational age (p = .016), duration of second-stage
labor (p = .000), forceps delivery (p = .000), vacuum delivery (p =
.001), episiotomy (p = .000), and birth weight (p = .000) increased
the risk for anal sphincter ruptures. In multivariate re-gression models,
only 5 of the 10 predictor variables were significantly related
to the likelihood of having a severe perineal trauma greater than second
degree. Primiparity (p = .023; OR 2.74, 95% [CI], 1.15-6.51),
forceps delivery (p = .000; OR 18.18, 95% [CI] 3.84-86.07), vacuum
delivery (p = .005; OR 6.83, 95% [CI] 1.77-26.42), episiotomy (p =
.015; OR 2.86, 95% [CI] 1.23-6.65), and birth weight (p = .000; OR
0.99, 95% [CI] 0.997-0.999).
Conclusion: Damage of the anal sphincter resulting in a third- or
fourth- degree perineal tear is a relatively rare but severe complication
of vaginal delivery. We found that factors as sociated with anal
sphincter ruptures were primiparity, forceps, vacuum, episiotomy
and birth weight.
[Indones J Obstet Gynecol 2016; 1: 31-36]
Keywords: anal sphincter ruptures, third- or fourth- degree perineal
tear, vaginal deliver
Korelasi Akurasi antara Kateter dengan Ultrasonografi Transabdominal untuk Mengukur Volume Kandung Kemih
Tujuan: Mencari korelasi antara kateterisasi dengan USG transabdominal
untuk mengukur volume KK dan volume urin sisa dan menentukan
nilai diagnostik USG transabdominal untuk mendiagnosa retensio
urin.
Rancangan penelitian: Penelitian ini merupakan studi observasional
analitik dengan rancangan potong lintang (cross sectional) untuk
menilai korelasi dan menentukan nilai diagnostik.
Tempat penelitian: (1) Klinik Anggrek Divisi Fetomaternal Departemen
Obstetri dan Ginekologi RS Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM),
(2) IGD Lt. III RSCM.
Bahan dan cara kerja: Selama kurun Oktober 2003 sampai Agustus
2004, dilakukan pengukuran volume KK dan volume urin sisa pada
90 pasien postpartum nifas hari pertama, kedua dan ketiga. Volume KK
dan volume urin sisa diukur secara USG transabdominal dibandingkan
dengan hasil pengukuran secara kateterisasi yang merupakan baku emas.
Volume KK dianggap merupakan kapasitas KK dan volume urin sisa
ialah urin yang masih terdapat dalam KK segera setelah pasien
berkemih. USG transabdomina1 digunakan untuk mendiagnosa adanya
retensio urin dengan titik potong urin sisa 200 ml dan kateterisasi sebagai
baku emas. Dilakukan 3 formula USG (formula 1, 2 dan 3).
Hasil: Untuk pengukuran volume KK didapatkan korelasi yang kuat
antara USG formula 1, 2 dan 3 dengan tindakan kateterisasi, masingmasing
dengan R 0,84, 0,87 dan 0,80, tapi hanya formula 2 USG yang
menghasilkan pengukuran volume KK yang tidak berbeda bermakna
dengan tindakan kateterisasi. Pada pengukuran volume urin sisa didapatkan
korelasi yang kuat antara USG formula 1, 2 dan 3 dengan kateterisasi
masing-masing R 0,85, 0,87 dan 0,85, juga hanya formula 2
yang menghasilkan pengukuran urin sisa yang tidak berbeda bermakna
dengan tindakan kateterisasi. USG formula 2 dapat mendiagnosa kondisi
retensio urin dengan Se 87%, Sp 95,5%, NDP (nilai duga positif)
87% dan NDN (nilai duga negatif) 96%.
Kesimpulan: Pengukuran volume KK dan volume urin sisa secara
ultrasonografi transabdominal mempunyai korelasi yang kuat dengan
tindakan kateterisasi. Sehingga USG transabdominal dapat dijadikan sebagai
alternatif dari penggunaan kateter. Hal ini akan membuat tindakan
kateterisasi menjadi lebih selektif. Terutama dalam hal diagnostik seperti
kondisi retensio urin, sehingga penggunaan USG transabdominal
akan mengurangi efek samping berupa infeksi dan trauma akibat penggunaan
kateter yang bersifat invasif.
[Maj Obstet Ginekol Indones 2006; 30-2: 104-11]
Kata kunci: vo1ume KK, volume urin sisa. USG transabdominal,
kateterisasi
Kualitas Kehidupan Seksual Penderita Endometriosis Sebelum dan Sesudah Laparoskopi Operatif
Tujuan: Untuk mengevaluasi kualitas hubungan seksual penderita
endometriosis sebelum dan setelah menjalani intervensi Laparoskopi
operatif.
Rancangan/rumusan data: Studi deskriptif analitik.
Bahan dan cara kerja: Penelitian deskriptif analitik pada kasus
kasus infertilitas dengan sangkaan endometriosis yang menjalani laparoskopi
operatif dari tanggal 1 Juni 2004 s.d Juli 2005, di Klinik
Raden Saleh Departemen Obstetri dan Ginekologi FKUI/RSCM.
Pengisian kuesioner dilakukan sebelum tindakan dan satu tahun pasca
tindakan. Pengolahan statistik dilakukan dengan uji kemaknaan Chi
square dan uji Fisher.
Hasil: Dari 40 subjek penelitian didapat perbaikan pada intensitas
orgamus secara sangat bermakna (p = 0,0009) dan hilangnya dispareuni
secara bermakna (p = 0,0026), perbaikan dalam rasa puas (p = 0,0396).
Serta perasaan lebih rileks (p = 0,045). Sedangkan beberapa keadaan
yang tidak berbeda bermakna yaitu dalam hal variasi aktivitas seksual,
lama aktivitas seksual serta frekwensi hubungan seks perminggu.
Kesimpulan: Intervensi Laparoskopi operatif pada penderita endometriosis
khususnya tindakan koagulasi ligamentum sakrouterina
menyebabkan perbaikan kualitas kehidupan seksual secara bermakna.
[Maj Obstet Ginekol Indones 2006; 30-4: 219-22]
Kata kunci: endometriosis, ligamentum sakrouterina, dispareuni,
orgasmus, kols
Mortalitas Maternal pada Preeklampsia Berat dan Eklampsia di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Cipto Mangunkusumo Tahun 2003 - 2005 dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya
Tujuan: Mengetahui faktor-faktor risiko (klinis dan laboratoris)
mortalitas maternal akibat preeklampsia berat dan eklampsia di RSUPN
Dr. Cipto Mangunkusumo.
Rancangan/rumusan data: Studi kasus kontrol.
Tempat: Kamar bersalin dan unit perawatan intensif RSUPN Dr.
Cipto Mangunkusumo.
Bahan dan cara kerja: Seluruh kasus kematian maternal akibat
preeklampsia dan eklampsia yang terjadi antara tanggal 1 Januari 2003
s/d 31 Desember 2005, diperoleh catatan rekam medisnya. Sebagai kontrol
diambil kasus preeklampsia dan eklampsia yang tidak berakhir dengan
kematian, pada periode yang sama, sebanyak 5 kali jumlah kasus.
Dari status dan catatan medis yang diperoleh, didata faktor-faktor klinis
yang diteliti, yaitu umur ibu, usia gestasi, paritas, status perawatan antenatal,
riwayat penyakit penyerta, komplikasi maternal dan fetal yang
terjadi, cara persalinan. Parameter laboratorium yang diteliti yaitu kadar
hemoglobin, leukosit, trombosit, SGOT, ureum, dan kreatinin. Analisa
dilanjutkan dengan analisa multivariat (regresi logistik) untuk mengetahui
faktor-faktor yang berhubungan dengan kematian maternal.
Hasil: Selama kurun waktu penelitian, terdapat 58 kasus kematian
maternal akibat preeklampsia dan eklampsia (Terdiri dari 28 kasus
eklampsia dan 30 kasus preeklampsia). Sehingga angka kematian
maternal pada preeklampsia diperoleh 2,1% dan eklampsia sebesar
12,7%. Rekam medik hanya dapat diperoleh pada 42 kasus.
Analisa multivariat menunjukkan faktor-faktor risiko yang berhubungan
yaitu adanya riwayat hipertensi kronis (OR 3,9 IK 95%
1,15-13,89;