Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology (INAJOG)
Not a member yet
    904 research outputs found

    Kajian pemberian neoadjuvant kemoterapi pada karsinoma ovarium stadium lanjut di RS Dr. Cipto Mangunkusumo tahun 2000 - 2005

    Get PDF
    Tujuan: Mengevaluasi pemberian perioperatif neoadjuvant kemoterapi pada penderita karsinoma ovarium stadium lanjut di RS Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta, serta mengetahui pencapaian sitoreduksi optimal, morbiditas pembedahan dan kualitas hidup. Rancangan/rumusan data: Studi retrospektif deskriptif pada pasien karsinoma ovarium lanjut yang mendapat neoadjuvant kemoterapi antara 1 Januari 2000 hingga 30 Juni 2006. Bahan dan cara kerja: Data diambil secara berurutan dari status penderita karsinoma ovarium stadium lanjut yang ada di catatan medik rawat inap dan rawat jalan di bagian Obstetri dan Ginekologi RS Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta antara 1 Januari 2000 hingga 30 Juni 2006. Data yang diperoleh diolah dengan menggunakan program statistik SPSS 12. Hasil: Didapatkan 29 pasien selama kurun waktu penelitian. Pemilihan pasien yang akan diberi neoadjuvant kemoterapi tidak berdasarkan pada nilai CA 125 > 500 U/mL, serta tidak berdasarkan temuan ascites dan efusi pleura. Kemungkinan berdasarkan dari keadaan umum pasien, sayangnya data tersebut tidak diperoleh pada penelitian ini karena ketidaklengkapan data. Dari 29 pasien tersebut, 8 pasien respon terhadap terapi dan kemudian dilakukan pembedahan. Pencapaian sitoreduksi optimal pasien karsinoma stadium lanjut yang diberikan neoadjuvant kemoterapi sebesar (37,5%), lebih tinggi dibandingkan penelitian multicenter pada terapi konvensional yang hanya 20-30%. Namun, belum dapat dilihat bahwa pemberian neoadjuvant kemoterapi juga dapat menurunkan morbiditas pembedahan dan memperbaiki kualitas hidup pada pasien dengan keadaan umum buruk, karena ketidaklengkapan data. Kesimpulan: Sitoreduksi optimal dilakukan pada 37,5% pasien yang mendapat neoadjuvant kemoterapi, lebih tinggi dibandingkan dengan pencapaian dengan terapi konvensional. Belum didapatkan perbedaan dalam hal morbiditas dan perbaikan kualitas hidup. [Maj Obstet Ginekol Indones 2007; 31-2: 86-91] Kata kunci: karsinoma ovarium stadium lanjut, neoadjuvant kemoterapi, residu tumor, perdarahan, perawatan ICU, kualitas hidu

    Pengaruh Laparoscopic Ovarian Drilling terhadap perubahan aliran darah Stroma Ovarium dan Nisbah LH:FSH pada Sindrom Ovarium Polikistik

    Get PDF
    Tujuan: Mengetahui pengaruh intervensi LOD terhadap perubahan vaskularisasi aliran darah stroma ovarium dan penurunan nisbah LH: FSH pada pasien sindrom ovarium polikistik. Tempat: Penelitian dilakukan di klinik Raden Saleh Divisi Kesehatan Reproduksi, Klinik Yasmin dan laboratorium Makmal Terpadu FKUI-RSUPNCM. Bahan dan cara kerja: Penelitian ini dirancang sebagai penelitian quasi/pre eksperimental. Dalam kurun waktu September 2006 sampai dengan Februari 2007, pasien merupakan pasien SOPK yang gagal terapi klomifen sitrat dan akan dilakukan terapi laparoscopic ovarian drilling sesuai kriteria inklusi. Pasien dilakukan pemeriksaan serum hormonal (LH dan FSH) dan pemeriksaan ultrasonografi dengan doppler berwarna untuk mengukur indeks resistensi dan indeks pulsasi sebelum dan satu bulan sesudah tindakan LOD. Kemudian dilakukan pengukuran nisbah LH/FSH dan indeks pulsasi dan indeks resistensi volume ovarium sebelum dan sesudah LOD. Hasil: Selama penelitian terdapat 11 pasien yang menjalani tindakan LOD. Didapatkan sebaran usia dan indeks massa tubuh 28 ± 2,1 dan 27,55 ± 6,23. Terdapat penurunan nisbah LH:FSH setelah dilakukan LOD sebesar 1,31 iu/l (3,22-1,91) p=0,790; peningkatan indeks resistensi setelah dilakukan LOD sebesar 0,04 (0,81-0,85) p=0,284; dan penurunan indeks pulsasi setelah dilakukan LOD sebesar 0,74 (2,51-1,77) p=0,062; dengan demikian hasil penelitian tersebut belum cukup bermakna secara statistik. Kesimpulan: Terdapat kecenderungan penurunan nisbah LH:FSH, peningkatan indeks resistensi dan penurunan indeks pulsasi sesudah dilakukan tindakan LOD. [Maj Obstet Ginekol Indones 2008; 32-1: 3-10] Kata kunci: SOPK, LOD, indeks pulsasi, indeks resistens

    Efek zat aromatase inhibitor dan GnRH agonis terhadap kadar Vascular Endothelial Growth Factor-A pada kultur jaringan endometriosis

    No full text
    Tujuan: Menganalisa efek zat aromatase inhibitor, GnRH agonis dan kombinasi keduanya terhadap kadar Vascular Endothelial Growth Factor-A (VEGF-A) pada kultur jaringan endometriosis dalam lingkungan kadar steroid seks yang berbeda. Tempat: RS Fatmawati, RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Klinik Kesehatan Reproduksi Raden Saleh Jakarta dan Laboratorium MAKMAL FKUI. Rancangan/rumusan data: Penelitian eksperimental. Bahan dan cara kerja: Selama kurun waktu Juni 2006 - April 2007, terkumpul 15 sampel jaringan endometriosis dari 15 pasien endometriosis. Sampel yang didapat berasal dari dinding kista endometriosis dan dari bercak-bercak endometriosis pada genitalia interna. Semua sampel diolah sesuai protokol yang dibuat. Ada 4 sampel (27%) yang berhasil tumbuh baik dalam medium kultur. Dari 4 sampel tersebut hanya 3 sampel yang mendapat perlakuan. Masing-masing sampel dibagi ke dalam 7 well dengan jumlah sel pada masing-masing well 7,1 - 9,1 x 103 sel/ml : well 1 ditambahkan Testosteron 100 nM/L, well 2 ditambahkan Testosteron 100 nM/L dan Estradiol 10 nM/L, well 3 ditambahkan Testosteron 100 nM/L, Estradiol 10 nM/L dan Letrozol (aromatase inhibitor) 10 nM/L, well 4 ditambahkan Testosteron 100 nM/L dan Letrozol 10 nM/L, well 5 ditambahkan Testosteron 100 nM/L, Letrozol 10 nM/L dan Leuprolide asetat (GnRH agonis) 100 ng/ml, well 6 ditambahkan Testosteron 100 nM/L dan Leuprolide asetat 100 ng/ml, well 7 tanpa perlakuan (kontrol). Setelah diinkubasi selama 72 jam, supernatannya diambil dan dilakukan pemeriksaan kadar VEGF-A dengan teknik ELISA. Hasil: Nilai median kadar VEGF-A yang paling tinggi terjadi pada pemberian Testosteron + Estradiol yaitu 20,228 pg/ml dan ini lebih tinggi bila dibandingkan kontrol yang hanya 9,233 pg/ml, maupun dengan sampel yang hanya diberikan Testosteron saja yaitu 9,944 pg/ml. Nilai median kadar VEGF-A pada sediaan yang diberikan Testosteron + Estradiol yaitu 20,228 pg/ml, bila dibandingkan dengan sampel yang mendapatkan perlakuan yang sama dan ditambahkan Letrozol (aromatase inhibitor) terjadi penurunan menjadi 14,205 pg/ml. Nilai median kadar VEGF-A pada sampel yang diberikan Testosteron + Letrozol (aromatase inhibitor) 16,335 pg/ml, Testosteron + Letrozol + Leuprolide asetat (GnRH agonis) 10,653 pg/ml dan Testosteron + Leuprolide asetat 11,364 pg/ml. Nilai terendah terjadi pada sampel yang diberikan Aromatase inhibitor + GnRH agonis. Kesimpulan: Nilai median kadar VEGF-A cenderung meningkat pada sampel yang diberikan Testosteron dan Estradiol. Nilai median kadar VEGF-A cenderung lebih rendah pada sampel yang diberikan kombinasi aromatase inhibitor dan GnRH agonis. [Maj Obstet Ginekol Indones 2008; 32-1: 11-21] Kata kunci: kultur jaringan endometriosis, testosteron, estradiol, letrozol, leuprolide asetat, VEGF-A, ELIS

    Tingkat pengetahuan dan sikap penerimaan perempuan pasangan usia subur terhadap cincin vagina (Nuvaring®) di Klinik Raden Saleh Jakarta

    Get PDF
    Tujuan: Mengetahui tingkat pengetahuan dan sikap penerimaan perempuan PUS terhadap cincin vagina dan sebarannya menurut berbagai faktor serta mengetahui alasan menerima atau menolak cincin vagina. Tempat: Poliklinik keluarga berencana Klinik Raden Saleh, Jakarta. Rancangan/rumusan data: Penelitian ini merupakan suatu penelitian deskriptif dengan rancangan potong lintang. Bahan dan cara kerja: Selama kurun waktu Maret 2006 sampai Mei 2006 dilakukan pengumpulan data terhadap 106 responden yang diambil secara consecutive sampling. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang telah diuji coba sebelumnya. Responden diberikan penyuluhan, kemudian dilakukan pengambilan data dengan menggunakan kuesioner untuk tingkat pengetahuan dan sikap penerimaan. Hubungan antar variabel ditentukan dengan uji statistik Chi-Square, Fisher, uji t tidak berpasangan dan Mann Whitney. Hasil: Pada penelitian ini didapatkan 106 responden. Sebanyak 84,9% memiliki pengetahuan yang baik tentang cincin vagina. Tingkat pengetahuan dinilai setelah responden diberikan penyuluhan. Sebanyak 40,6% responden dapat menerima cincin vagina dengan alasan terbanyak (58,1%) adalah praktis. Sedangkan 59,4% responden menolak dengan alasan terbanyak (23,8%) adalah tidak praktis. Sikap penerimaan ini sesuai dengan tahapan penilaian/evaluation (teori Rogers). Terdapat perbedaan sebaran tingkat pengetahuan yang bermakna menurut pendidikan. Tidak ditemukan perbedaan sebaran yang bermakna pada karakteristik demografik, medik dan obstetrik lain berdasarkan pengetahuan dan sikap penerimaan. Kesimpulan: Prospek penerimaan cincin vagina di Indonesia cukup baik, dilihat dari 40,6% responden dapat menerima cincin vagina. [Maj Obstet Ginekol Indones 2008; 32-1: 40-7] Kata kunci: alat kontrasepsi, NuvaringÂ

    Penatalaksanaan Kehamilan Ektopik dengan Kajian Hasil Laparoskopi Operatif

    Get PDF
    Tujuan: Membahas tatalaksana Kehamilan Ektopik (KE) secara dini dengan pendekatan medisinal dan operatif, serta mengkaji karakteristik pasien dan keberhasilan kehamilan pascatatalaksana laparoskopi operatif. Tempat: Pusat pelatihan nasional endoskopi Klinik Raden Saleh Departemen Obstetri Ginekologi FKUI/ RSCM dan Rumah Sakit Bersalin Yayasan Pemeliharaan Kesehatan (YPK) Jakarta Pusat. Bahan dan cara kerja: Tulisan ini merupakan rangkuman pustaka terkini mengenai tatalaksana KE secara medisinal dan operatif, serta menganalisis hasil (luaran) protokol tatalaksana KE dengan laparoskopi operatif. Hasil: Sebagian besar kasus yang mengalami KE ada pada usia reproduksi. Lama waktu yang dibutuhkan untuk hamil ialah 0 - 6 bulan (50%) dan keberhasilan hamil 48%. Kesimpulan: Pilihan terapi medisinal adalah Methotrexate (MTX), laparoskopi operatif merupakan pilihan akses pertama untuk KE yang akan menjalani operasi serta angka keberhasilan kehamilan pascaoperasi adalah 48%. [Maj Obstet Ginekol Indones 2008; 32-2: 72-6] Kata kunci: kehamilan ektopik (KE), Methotrexate (MTX), salpingostomi linear, laparoskopi operati

    Profil Resistensi Insulin pada Pasien Sindrom Ovarium Polikistik (SOPK) di RS Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta

    Get PDF
    Tujuan: Untuk mengetahui prevalensi dan profil resistensi insulin pada pasien sindrom ovarium polikistik (SOPK) di RS Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta. Tempat: Poliklinik Imunoendokrinologi Departemen Obstetri dan Ginekologi Universitas Indonesia, RS Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta. Rancangan/rumusan data: Studi Potong Lintang Deskriptif. Bahan dan cara kerja: Penelitian dilakukan dengan mengumpulkan rekam medis pasien SOPK yang telah dilakukan pemeriksaan meliputi anamnesis adanya oligomenore, pemeriksaan fisik (tanda hirsutisme), pengukuran indeks massa tubuh (IMT), pemeriksaan hormonal (estrogen, LH, FSH dan prolaktin), pemeriksaan gula darah puasa dan insulin puasa serta pemeriksaan USG transvaginal untuk menilai kedua ovarium. Diagnosis SOPK ditegakkan berdasarkan kriteria Rotterdam sedangkan resistensi insulin berdasarkan kriteria Muharam. Hasil: Dari 44 rekam medis pasien SOPK yang berhasil dikumpulkan dan memenuhi kriteria penelitian, didapatkan 68% pasien sudah menikah dan 93% pasien berusia di atas 20 tahun. Amenore sekunder merupakan jenis gangguan haid terbanyak yang menyebabkan pasien mencari pertolongan, ditemukan pada 61% pasien. Infertilitas juga merupakan keluhan terbanyak, ditemukan dengan persentase yang sama dengan amenore sekunder yaitu 61%. Pada penelitian ini, pasien SOPK yang telah menikah datang dengan keluhan infertilitas yang disertai gangguan haid atau sebaliknya sehingga bila persentasenya dijumlahkan akan melebihi 100%. Keluhan hirsutisme hanya ditemukan pada 18% pasien. Tujuh puluh tiga persen pasien SOPK gemuk dengan IMT ≥ 25. Pasien yang mengalami resistensi insulin sebanyak 75% dengan ratarata IMT 28,6 kg/m2. Dari 32 orang pasien yang obesitas, 84% mengalami resistensi insulin sedangkan dari 12 pasien yang tidak gemuk, 50% juga mengalami resistensi insulin. Pemeriksaan hormonal yang lengkap (estrogen, FSH, LH dan prolaktin) dilakukan pada 38 orang pasien dan 79% terdapat peningkatan LH/FSH dengan rasio ≥ 1. Pada 27 orang yang mengalami resistensi insulin, 81,5% terdapat rasio LH/FSH yang lebih tinggi, demikian juga halnya dengan 11 orang yang tidak mengalami resistensi insulin, 90,9% terjadi penigkatan rasio LH/FSH. Kesimpulan: SOPK adalah kondisi klinis dan metabolik yang sering ditemui pada perempuan usia reproduksi. Patofisiologi terjadinya SOPK sampai saat ini belum jelas tapi resistensi insulin diperkirakan sebagai salah satu etiologinya. Prevalensi resistensi insulin ditemukan bervariasi dari berbagai penelitian tergantung metoda yang digunakan. Dengan menggunakan kriteria Muharam, 75% pasien SOPK pada penelitian ini mengalami resistensi insulin dan dari 32 orang pasien yang obesitas ditemukan 84% mengalami resistensi insulin sedangkan pasien yang tidak gemuk, 50% juga terdapat resistensi insulin. Penanganan terhadap resistensi insulin pada pasien SOPK tampaknya akan mencegah dan memperbaiki disfungsi reproduksi maupun komplikasi jangka panjang yang akan ditimbulkannya. [Maj Obstet Ginekol Indones 2008; 32-2: 93-8] Kata kunci: resistensi insulin, sindrom ovarium polikisti

    Korelasi antara fraksi ejeksi jantung dengan kadar endothelin-1 darah tali pusat pada pertumbuhan janin terhambat dan normal

    Get PDF
    Tujuan: Mengetahui korelasi antara gangguan fungsi jantung berupa penurunan fraksi ejeksi dengan kadar endothelin-1 dari darah tali pusat pada pertumbuhan janin terhambat dan normal. Rancangan/rumusan data: Studi korelasi regresi dengan pendekatan potong lintang (Cross-sectional study). Tempat: IGD Lantai III Rumah Sakit Umum Pusat Nasional (RSUPN) Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Bahan dan cara kerja: Tujuh puluh subjek, masing-masing 35 orang untuk kelompok kasus (bayi PJT) dan 35 orang kelompok bayi normal dilakukan pemeriksaan fraksi ejeksi jantung janin dengan ultrasonografi dua dimensi. Setelah bayi lahir dilakukan pemeriksaan kadar endothelin-1 (ET-1) da-rah tali pusat (a. Umbilikalis) dengan metoda ELISA. Korelasi antara fraksi ejeksi jantung janin dengan kadar ET-1 akan diuji secara statistik. Hasil: Umur pasien pada kelompok PJT berkisar antara 19-38 tahun dengan rata-rata 28,31 tahun, umur pasien pada kelompok normal berkisar antara 21-40 tahun dengan rata-rata berusia 28,54 tahun. Usia kehamilan pada kelompok PJT berkisar antara 34-40 minggu dengan ratarata 37 minggu, usia kehamilan pada kelompok normal berkisar antara 38-42 minggu dengan rata-rata usia gestasi 39 minggu. Secara statistik terdapat perbedaan bermakna (

    Uji diagnostik modifikasi teknik color Doppler sonohisterosalpingografi bermedia kontras NaCl 0,9% untuk evaluasi patensi tuba

    Get PDF
    Tujuan: Mengevaluasi patensi tuba dengan teknik modifikasi color Doppler sonohisterosalpingografi bermedia kontras salin dibandingkan dengan baku emas penilaian patensi tuba, yaitu kromopertubasi perlaparoskopi. Tempat: Penelitian dilakukan di Klinik Teknologi Reproduksi Berbantu Aster, dan Kamar Operasi One Day Surgery RS Dr. Hasan Sadikin Bandung. Bahan dan cara kerja: Pemeriksaan dilakukan terhadap 35 pasien dengan masalah infertilitas, yang tengah menjalani penatalaksanaan infertilitas dasar. Dilakukan penyuntikan cairan salin fisiologis 0,9 % steril ke dalam uterus melalui alat yang telah dimodifikasi, yaitu kateter pediatrik No. 10 yang bermandrin dan spuit 50 cc. Perjalanan cairan diamati dengan USG transvaginal berteknologi Doppler kemudian dilakukan penentuan patensi tuba. Hasil yang didapat dibandingkan dengan hasil kromopertubasi perlaparoskopi dan dianalisis efektivitas diagnostiknya. Dilakukan perhitungan sensitivitas, spesifisitas, nilai prediksi positif, dan nilai prediksi negatif. Dilakukan pula penilaian kavum uteri, yang diharapkan dapat memberikan keuntungan tambahan dari penelitian ini. Hasil: Sensitivitas modifikasi color Doppler sonohisterosalpingografi bermedia kontras NaCl 0,9% adalah 87,5%, spesifisitas 95,5%, nilai prediksi positif 97,7%, dan nilai prediksi negatif 77,8%. Kesimpulan: Teknik modifikasi color Doppler sonohisterosalpingografi bermedia kontras NaCl 0,9% merupakan teknik yang dapat diandalkan untuk evaluasi patensi tuba. [Maj Obstet Ginekol Indones 2008; 32-3: 143-7] Kata kunci: infertilitas, patensi tuba, color Doppler, sonohisterosalpingografi

    Profil siklus menstruasi dan kejadian ovulasi perempuan usia reproduksi pecandu heroin

    Get PDF
    Tujuan: Mengetahui pola siklus menstruasi dan angka kejadian ovulasi perempuan usia reproduksi pecandu heroin dan diketahuinya sebaran angka kejadian ovulasi perempuan usia reproduksi pecandu heroin menurut pola siklus menstruasinya. Rancangan/rumusan data: Studi deskriptif dengan rancangan potong lintang. Bahan dan cara kerja: Selama kurun waktu Januari sampai Juni 2007 dilakukan pengumpulan data terhadap 40 responden yang diambil secara consecutive sampling di RSKO Fatmawati dan beberapa puskesmas di Jakarta. Semua responden dilakukan wawancara mengenai pola siklus menstruasi tiga bulan sebelumnya dan dilakukan pemeriksaan kadar progesteron pada fase luteal madya. Hasil: Subjek yang diteliti berjumlah 40 perempuan usia reproduksi pecandu heroin yang berusia antara 20 sampai 40 tahun dengan rata-rata usia responden 26 (20 - 37) tahun. Rata-rata lamanya menggunakan heroin 7,1±3,1 tahun, sedangkan rerata usia responden pertama kali menggunakan heroin adalah 18 (13 - 31) tahun. Pola menstruasi yang didapatkan yaitu oligomenorea sebesar 67,5 %, siklus normal 22,5 %, dan amenorea sebesar 10 %. Pada penilaian kadar progesteron fase luteal madya didapatkan siklus menstruasi yang tidak berovulasi sebesar 77,5 % dan siklus yang berovulasi sebesar 22,5 %. Tidak ada perbedaan yang bermakna secara statistik (p > 0,005) di antara kelompok faktor risiko umur, lama pemakaian heroin, jumlah paritas, dan indeks massa tubuh mengenai gangguan ovulasi pada perempuan pecandu heroin. Kesimpulan: Pola menstruasi perempuan usia reproduksi pecandu heroin yang terbanyak adalah oligomenorea (67,5 %) dengan siklus yang berovulasi sebesar 26 %. [Maj Obstet Ginekol Indones 2008; 32-4: 223-8] Kata kunci: heroin, usia reproduksi, siklus menstruasi, ovulasi

    Perbandingan ekspresi p53, Bcl-2, dan indeks apoptosis trofoblas pada preeklampsia/eklampsia dan kehamilan normal

    Get PDF
    Tujuan: Membuktikan bahwa, jumlah sel trofoblas yang mengalami apoptosis pada sampel jaringan trofoblas yang berasal dari kehamilan dengan preeklampsia/eklampsia lebih tinggi apabila dibandingkan dengan kehamilan normal. Tempat: Bagian Obstetri dan Ginekologi RSU Dr. Saiful Anwar Malang, dan Lab Biomedik FKUB Malang. Bahan dan cara kerja: Penelitian ini merupakan studi laboratorium secara potong lintang; dengan teknik imunohistokimia untuk pengamatan ekspresi protein Bcl-2 dan p53, dan teknik DNA-terfragmentasi (TUNEL) untuk menghitung indeks apoptosis. Sampel jaringan trofoblas berasal dari biopsi jaringan plasenta preeklampsia/eklampsia, dibandingkan dengan persalinan normal (n = 20). Variabel bebas: p53, Bcl-2, apoptosis. Variabel tergantung: preeklampsia/eklampsia. Analisa statistik menggunakan Independent t test (p ≤ 0,05). Hasil: Terdapat perbedaan yang signifikan jumlah sel-sel trofoblas yang mengalami apoptosis pada kelompok kehamilan normal (4,70± 1,829), dibandingkan dengan kelompok preeklampsia/eklampsia (4,70± 1,829), (t test; p≤0,000). Terdapat perbedaan yang signifikan ekspresi protein Bcl-2 pada jaringan trofoblas kelompok kehamilan normal (20,30±5,774), dibandingkan kelompok preeklampsia/eklampsia (9,90± 1,912) (t test; p≤0,000). Terdapat perbedaan yang bermakna ekspresi protein p53 pada jaringan trofoblas kelompok kehamilan normal (8,20 ±2,898), dibandingkan dengan kelompok preeklampsia/preeklampsia (22,70±4,990) (t test; p≤0,000). Kesimpulan: Jumlah sel trofoblas yang mengalami apoptosis pada jaringan trofoblas preeklampsia/eklampsia lebih tinggi daripada kehamilan normal. [Maj Obstet Ginekol Indones 2009; 33-3: 151-9] Kata kunci: trofoblas, indeks apoptosis, p53, Bcl-2, preeklampsia, eklampsi

    815

    full texts

    904

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology (INAJOG)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇