Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology (INAJOG)
Not a member yet
904 research outputs found
Sort by
Kajian pemberian neoadjuvant kemoterapi pada karsinoma ovarium stadium lanjut di RS Dr. Cipto Mangunkusumo tahun 2000 - 2005
Tujuan: Mengevaluasi pemberian perioperatif neoadjuvant kemoterapi
pada penderita karsinoma ovarium stadium lanjut di RS Dr. Cipto
Mangunkusumo Jakarta, serta mengetahui pencapaian sitoreduksi optimal,
morbiditas pembedahan dan kualitas hidup.
Rancangan/rumusan data: Studi retrospektif deskriptif pada pasien
karsinoma ovarium lanjut yang mendapat neoadjuvant kemoterapi
antara 1 Januari 2000 hingga 30 Juni 2006.
Bahan dan cara kerja: Data diambil secara berurutan dari status
penderita karsinoma ovarium stadium lanjut yang ada di catatan medik
rawat inap dan rawat jalan di bagian Obstetri dan Ginekologi RS Dr.
Cipto Mangunkusumo Jakarta antara 1 Januari 2000 hingga 30 Juni
2006. Data yang diperoleh diolah dengan menggunakan program statistik
SPSS 12.
Hasil: Didapatkan 29 pasien selama kurun waktu penelitian. Pemilihan
pasien yang akan diberi neoadjuvant kemoterapi tidak berdasarkan
pada nilai CA 125 > 500 U/mL, serta tidak berdasarkan temuan ascites
dan efusi pleura. Kemungkinan berdasarkan dari keadaan umum pasien,
sayangnya data tersebut tidak diperoleh pada penelitian ini karena ketidaklengkapan
data. Dari 29 pasien tersebut, 8 pasien respon terhadap
terapi dan kemudian dilakukan pembedahan. Pencapaian sitoreduksi
optimal pasien karsinoma stadium lanjut yang diberikan neoadjuvant
kemoterapi sebesar (37,5%), lebih tinggi dibandingkan penelitian multicenter
pada terapi konvensional yang hanya 20-30%. Namun, belum
dapat dilihat bahwa pemberian neoadjuvant kemoterapi juga dapat menurunkan
morbiditas pembedahan dan memperbaiki kualitas hidup pada
pasien dengan keadaan umum buruk, karena ketidaklengkapan data.
Kesimpulan: Sitoreduksi optimal dilakukan pada 37,5% pasien yang
mendapat neoadjuvant kemoterapi, lebih tinggi dibandingkan dengan
pencapaian dengan terapi konvensional. Belum didapatkan perbedaan
dalam hal morbiditas dan perbaikan kualitas hidup.
[Maj Obstet Ginekol Indones 2007; 31-2: 86-91]
Kata kunci: karsinoma ovarium stadium lanjut, neoadjuvant kemoterapi,
residu tumor, perdarahan, perawatan ICU, kualitas hidu
Pengaruh Laparoscopic Ovarian Drilling terhadap perubahan aliran darah Stroma Ovarium dan Nisbah LH:FSH pada Sindrom Ovarium Polikistik
Tujuan: Mengetahui pengaruh intervensi LOD terhadap perubahan
vaskularisasi aliran darah stroma ovarium dan penurunan nisbah LH:
FSH pada pasien sindrom ovarium polikistik.
Tempat: Penelitian dilakukan di klinik Raden Saleh Divisi Kesehatan
Reproduksi, Klinik Yasmin dan laboratorium Makmal Terpadu
FKUI-RSUPNCM.
Bahan dan cara kerja: Penelitian ini dirancang sebagai penelitian
quasi/pre eksperimental. Dalam kurun waktu September 2006 sampai
dengan Februari 2007, pasien merupakan pasien SOPK yang gagal
terapi klomifen sitrat dan akan dilakukan terapi laparoscopic ovarian
drilling sesuai kriteria inklusi. Pasien dilakukan pemeriksaan serum hormonal
(LH dan FSH) dan pemeriksaan ultrasonografi dengan doppler
berwarna untuk mengukur indeks resistensi dan indeks pulsasi sebelum
dan satu bulan sesudah tindakan LOD. Kemudian dilakukan pengukuran
nisbah LH/FSH dan indeks pulsasi dan indeks resistensi volume ovarium
sebelum dan sesudah LOD.
Hasil: Selama penelitian terdapat 11 pasien yang menjalani tindakan
LOD. Didapatkan sebaran usia dan indeks massa tubuh 28 ± 2,1 dan
27,55 ± 6,23. Terdapat penurunan nisbah LH:FSH setelah dilakukan
LOD sebesar 1,31 iu/l (3,22-1,91) p=0,790; peningkatan indeks resistensi
setelah dilakukan LOD sebesar 0,04 (0,81-0,85) p=0,284; dan penurunan
indeks pulsasi setelah dilakukan LOD sebesar 0,74 (2,51-1,77)
p=0,062; dengan demikian hasil penelitian tersebut belum cukup bermakna
secara statistik.
Kesimpulan: Terdapat kecenderungan penurunan nisbah LH:FSH,
peningkatan indeks resistensi dan penurunan indeks pulsasi sesudah dilakukan
tindakan LOD.
[Maj Obstet Ginekol Indones 2008; 32-1: 3-10]
Kata kunci: SOPK, LOD, indeks pulsasi, indeks resistens
Efek zat aromatase inhibitor dan GnRH agonis terhadap kadar Vascular Endothelial Growth Factor-A pada kultur jaringan endometriosis
Tujuan: Menganalisa efek zat aromatase inhibitor, GnRH agonis
dan kombinasi keduanya terhadap kadar Vascular Endothelial Growth
Factor-A (VEGF-A) pada kultur jaringan endometriosis dalam lingkungan
kadar steroid seks yang berbeda.
Tempat: RS Fatmawati, RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Klinik
Kesehatan Reproduksi Raden Saleh Jakarta dan Laboratorium MAKMAL
FKUI.
Rancangan/rumusan data: Penelitian eksperimental.
Bahan dan cara kerja: Selama kurun waktu Juni 2006 - April 2007,
terkumpul 15 sampel jaringan endometriosis dari 15 pasien endometriosis.
Sampel yang didapat berasal dari dinding kista endometriosis
dan dari bercak-bercak endometriosis pada genitalia interna. Semua
sampel diolah sesuai protokol yang dibuat. Ada 4 sampel (27%) yang
berhasil tumbuh baik dalam medium kultur. Dari 4 sampel tersebut
hanya 3 sampel yang mendapat perlakuan. Masing-masing sampel
dibagi ke dalam 7 well dengan jumlah sel pada masing-masing well 7,1
- 9,1 x 103 sel/ml : well 1 ditambahkan Testosteron 100 nM/L, well 2
ditambahkan Testosteron 100 nM/L dan Estradiol 10 nM/L, well 3 ditambahkan
Testosteron 100 nM/L, Estradiol 10 nM/L dan Letrozol (aromatase
inhibitor) 10 nM/L, well 4 ditambahkan Testosteron 100 nM/L
dan Letrozol 10 nM/L, well 5 ditambahkan Testosteron 100 nM/L, Letrozol
10 nM/L dan Leuprolide asetat (GnRH agonis) 100 ng/ml, well 6
ditambahkan Testosteron 100 nM/L dan Leuprolide asetat 100 ng/ml,
well 7 tanpa perlakuan (kontrol). Setelah diinkubasi selama 72 jam, supernatannya
diambil dan dilakukan pemeriksaan kadar VEGF-A dengan
teknik ELISA.
Hasil: Nilai median kadar VEGF-A yang paling tinggi terjadi pada
pemberian Testosteron + Estradiol yaitu 20,228 pg/ml dan ini lebih
tinggi bila dibandingkan kontrol yang hanya 9,233 pg/ml, maupun dengan
sampel yang hanya diberikan Testosteron saja yaitu 9,944 pg/ml.
Nilai median kadar VEGF-A pada sediaan yang diberikan Testosteron +
Estradiol yaitu 20,228 pg/ml, bila dibandingkan dengan sampel yang
mendapatkan perlakuan yang sama dan ditambahkan Letrozol (aromatase
inhibitor) terjadi penurunan menjadi 14,205 pg/ml. Nilai median
kadar VEGF-A pada sampel yang diberikan Testosteron + Letrozol (aromatase
inhibitor) 16,335 pg/ml, Testosteron + Letrozol + Leuprolide
asetat (GnRH agonis) 10,653 pg/ml dan Testosteron + Leuprolide asetat
11,364 pg/ml. Nilai terendah terjadi pada sampel yang diberikan Aromatase
inhibitor + GnRH agonis.
Kesimpulan: Nilai median kadar VEGF-A cenderung meningkat pada
sampel yang diberikan Testosteron dan Estradiol. Nilai median kadar
VEGF-A cenderung lebih rendah pada sampel yang diberikan kombinasi
aromatase inhibitor dan GnRH agonis.
[Maj Obstet Ginekol Indones 2008; 32-1: 11-21]
Kata kunci: kultur jaringan endometriosis, testosteron, estradiol, letrozol,
leuprolide asetat, VEGF-A, ELIS
Tingkat pengetahuan dan sikap penerimaan perempuan pasangan usia subur terhadap cincin vagina (Nuvaring®) di Klinik Raden Saleh Jakarta
Tujuan: Mengetahui tingkat pengetahuan dan sikap penerimaan perempuan
PUS terhadap cincin vagina dan sebarannya menurut berbagai
faktor serta mengetahui alasan menerima atau menolak cincin vagina.
Tempat: Poliklinik keluarga berencana Klinik Raden Saleh, Jakarta.
Rancangan/rumusan data: Penelitian ini merupakan suatu penelitian
deskriptif dengan rancangan potong lintang.
Bahan dan cara kerja: Selama kurun waktu Maret 2006 sampai
Mei 2006 dilakukan pengumpulan data terhadap 106 responden yang
diambil secara consecutive sampling. Pengambilan data dilakukan dengan
menggunakan kuesioner yang telah diuji coba sebelumnya. Responden
diberikan penyuluhan, kemudian dilakukan pengambilan data
dengan menggunakan kuesioner untuk tingkat pengetahuan dan sikap
penerimaan. Hubungan antar variabel ditentukan dengan uji statistik
Chi-Square, Fisher, uji t tidak berpasangan dan Mann Whitney.
Hasil: Pada penelitian ini didapatkan 106 responden. Sebanyak
84,9% memiliki pengetahuan yang baik tentang cincin vagina. Tingkat
pengetahuan dinilai setelah responden diberikan penyuluhan. Sebanyak
40,6% responden dapat menerima cincin vagina dengan alasan terbanyak
(58,1%) adalah praktis. Sedangkan 59,4% responden menolak dengan
alasan terbanyak (23,8%) adalah tidak praktis. Sikap penerimaan
ini sesuai dengan tahapan penilaian/evaluation (teori Rogers). Terdapat
perbedaan sebaran tingkat pengetahuan yang bermakna menurut pendidikan.
Tidak ditemukan perbedaan sebaran yang bermakna pada karakteristik
demografik, medik dan obstetrik lain berdasarkan pengetahuan
dan sikap penerimaan.
Kesimpulan: Prospek penerimaan cincin vagina di Indonesia cukup
baik, dilihat dari 40,6% responden dapat menerima cincin vagina.
[Maj Obstet Ginekol Indones 2008; 32-1: 40-7]
Kata kunci: alat kontrasepsi, NuvaringÂ
Penatalaksanaan Kehamilan Ektopik dengan Kajian Hasil Laparoskopi Operatif
Tujuan: Membahas tatalaksana Kehamilan Ektopik (KE) secara dini
dengan pendekatan medisinal dan operatif, serta mengkaji karakteristik
pasien dan keberhasilan kehamilan pascatatalaksana laparoskopi operatif.
Tempat: Pusat pelatihan nasional endoskopi Klinik Raden Saleh
Departemen Obstetri Ginekologi FKUI/ RSCM dan Rumah Sakit Bersalin
Yayasan Pemeliharaan Kesehatan (YPK) Jakarta Pusat.
Bahan dan cara kerja: Tulisan ini merupakan rangkuman pustaka
terkini mengenai tatalaksana KE secara medisinal dan operatif, serta
menganalisis hasil (luaran) protokol tatalaksana KE dengan laparoskopi
operatif.
Hasil: Sebagian besar kasus yang mengalami KE ada pada usia reproduksi.
Lama waktu yang dibutuhkan untuk hamil ialah 0 - 6 bulan
(50%) dan keberhasilan hamil 48%.
Kesimpulan: Pilihan terapi medisinal adalah Methotrexate (MTX), laparoskopi
operatif merupakan pilihan akses pertama untuk KE yang akan
menjalani operasi serta angka keberhasilan kehamilan pascaoperasi adalah
48%.
[Maj Obstet Ginekol Indones 2008; 32-2: 72-6]
Kata kunci: kehamilan ektopik (KE), Methotrexate (MTX), salpingostomi
linear, laparoskopi operati
Profil Resistensi Insulin pada Pasien Sindrom Ovarium Polikistik (SOPK) di RS Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta
Tujuan: Untuk mengetahui prevalensi dan profil resistensi insulin
pada pasien sindrom ovarium polikistik (SOPK) di RS Dr. Cipto Mangunkusumo
Jakarta.
Tempat: Poliklinik Imunoendokrinologi Departemen Obstetri dan Ginekologi
Universitas Indonesia, RS Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta.
Rancangan/rumusan data: Studi Potong Lintang Deskriptif.
Bahan dan cara kerja: Penelitian dilakukan dengan mengumpulkan
rekam medis pasien SOPK yang telah dilakukan pemeriksaan meliputi
anamnesis adanya oligomenore, pemeriksaan fisik (tanda hirsutisme),
pengukuran indeks massa tubuh (IMT), pemeriksaan hormonal (estrogen,
LH, FSH dan prolaktin), pemeriksaan gula darah puasa dan insulin
puasa serta pemeriksaan USG transvaginal untuk menilai kedua ovarium.
Diagnosis SOPK ditegakkan berdasarkan kriteria Rotterdam sedangkan
resistensi insulin berdasarkan kriteria Muharam.
Hasil: Dari 44 rekam medis pasien SOPK yang berhasil dikumpulkan
dan memenuhi kriteria penelitian, didapatkan 68% pasien sudah
menikah dan 93% pasien berusia di atas 20 tahun. Amenore sekunder
merupakan jenis gangguan haid terbanyak yang menyebabkan pasien
mencari pertolongan, ditemukan pada 61% pasien. Infertilitas juga
merupakan keluhan terbanyak, ditemukan dengan persentase yang sama
dengan amenore sekunder yaitu 61%. Pada penelitian ini, pasien SOPK
yang telah menikah datang dengan keluhan infertilitas yang disertai
gangguan haid atau sebaliknya sehingga bila persentasenya dijumlahkan
akan melebihi 100%. Keluhan hirsutisme hanya ditemukan pada 18%
pasien. Tujuh puluh tiga persen pasien SOPK gemuk dengan IMT ≥ 25.
Pasien yang mengalami resistensi insulin sebanyak 75% dengan ratarata
IMT 28,6 kg/m2. Dari 32 orang pasien yang obesitas, 84% mengalami
resistensi insulin sedangkan dari 12 pasien yang tidak gemuk, 50%
juga mengalami resistensi insulin. Pemeriksaan hormonal yang lengkap
(estrogen, FSH, LH dan prolaktin) dilakukan pada 38 orang pasien dan
79% terdapat peningkatan LH/FSH dengan rasio ≥ 1. Pada 27 orang
yang mengalami resistensi insulin, 81,5% terdapat rasio LH/FSH yang
lebih tinggi, demikian juga halnya dengan 11 orang yang tidak mengalami
resistensi insulin, 90,9% terjadi penigkatan rasio LH/FSH.
Kesimpulan: SOPK adalah kondisi klinis dan metabolik yang sering
ditemui pada perempuan usia reproduksi. Patofisiologi terjadinya SOPK
sampai saat ini belum jelas tapi resistensi insulin diperkirakan sebagai
salah satu etiologinya. Prevalensi resistensi insulin ditemukan bervariasi
dari berbagai penelitian tergantung metoda yang digunakan. Dengan
menggunakan kriteria Muharam, 75% pasien SOPK pada penelitian ini
mengalami resistensi insulin dan dari 32 orang pasien yang obesitas ditemukan
84% mengalami resistensi insulin sedangkan pasien yang tidak gemuk,
50% juga terdapat resistensi insulin. Penanganan terhadap resistensi
insulin pada pasien SOPK tampaknya akan mencegah dan memperbaiki
disfungsi reproduksi maupun komplikasi jangka panjang yang akan ditimbulkannya.
[Maj Obstet Ginekol Indones 2008; 32-2: 93-8]
Kata kunci: resistensi insulin, sindrom ovarium polikisti
Korelasi antara fraksi ejeksi jantung dengan kadar endothelin-1 darah tali pusat pada pertumbuhan janin terhambat dan normal
Tujuan: Mengetahui korelasi antara gangguan fungsi jantung berupa
penurunan fraksi ejeksi dengan kadar endothelin-1 dari darah tali pusat
pada pertumbuhan janin terhambat dan normal.
Rancangan/rumusan data: Studi korelasi regresi dengan pendekatan
potong lintang (Cross-sectional study).
Tempat: IGD Lantai III Rumah Sakit Umum Pusat Nasional
(RSUPN) Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta.
Bahan dan cara kerja: Tujuh puluh subjek, masing-masing 35
orang untuk kelompok kasus (bayi PJT) dan 35 orang kelompok bayi
normal dilakukan pemeriksaan fraksi ejeksi jantung janin dengan ultrasonografi
dua dimensi. Setelah bayi lahir dilakukan pemeriksaan kadar
endothelin-1 (ET-1) da-rah tali pusat (a. Umbilikalis) dengan metoda
ELISA. Korelasi antara fraksi ejeksi jantung janin dengan kadar ET-1
akan diuji secara statistik.
Hasil: Umur pasien pada kelompok PJT berkisar antara 19-38 tahun
dengan rata-rata 28,31 tahun, umur pasien pada kelompok normal berkisar
antara 21-40 tahun dengan rata-rata berusia 28,54 tahun. Usia kehamilan
pada kelompok PJT berkisar antara 34-40 minggu dengan ratarata
37 minggu, usia kehamilan pada kelompok normal berkisar antara
38-42 minggu dengan rata-rata usia gestasi 39 minggu. Secara statistik
terdapat perbedaan bermakna (
Uji diagnostik modifikasi teknik color Doppler sonohisterosalpingografi bermedia kontras NaCl 0,9% untuk evaluasi patensi tuba
Tujuan: Mengevaluasi patensi tuba dengan teknik modifikasi color
Doppler sonohisterosalpingografi bermedia kontras salin dibandingkan
dengan baku emas penilaian patensi tuba, yaitu kromopertubasi perlaparoskopi.
Tempat: Penelitian dilakukan di Klinik Teknologi Reproduksi Berbantu
Aster, dan Kamar Operasi One Day Surgery RS Dr. Hasan
Sadikin Bandung.
Bahan dan cara kerja: Pemeriksaan dilakukan terhadap 35 pasien
dengan masalah infertilitas, yang tengah menjalani penatalaksanaan infertilitas
dasar. Dilakukan penyuntikan cairan salin fisiologis 0,9 %
steril ke dalam uterus melalui alat yang telah dimodifikasi, yaitu kateter
pediatrik No. 10 yang bermandrin dan spuit 50 cc. Perjalanan cairan
diamati dengan USG transvaginal berteknologi Doppler kemudian dilakukan
penentuan patensi tuba. Hasil yang didapat dibandingkan dengan
hasil kromopertubasi perlaparoskopi dan dianalisis efektivitas diagnostiknya.
Dilakukan perhitungan sensitivitas, spesifisitas, nilai prediksi
positif, dan nilai prediksi negatif. Dilakukan pula penilaian kavum
uteri, yang diharapkan dapat memberikan keuntungan tambahan dari
penelitian ini.
Hasil: Sensitivitas modifikasi color Doppler sonohisterosalpingografi
bermedia kontras NaCl 0,9% adalah 87,5%, spesifisitas 95,5%,
nilai prediksi positif 97,7%, dan nilai prediksi negatif 77,8%.
Kesimpulan: Teknik modifikasi color Doppler sonohisterosalpingografi
bermedia kontras NaCl 0,9% merupakan teknik yang dapat diandalkan
untuk evaluasi patensi tuba.
[Maj Obstet Ginekol Indones 2008; 32-3: 143-7]
Kata kunci: infertilitas, patensi tuba, color Doppler, sonohisterosalpingografi
Profil siklus menstruasi dan kejadian ovulasi perempuan usia reproduksi pecandu heroin
Tujuan: Mengetahui pola siklus menstruasi dan angka kejadian
ovulasi perempuan usia reproduksi pecandu heroin dan diketahuinya sebaran
angka kejadian ovulasi perempuan usia reproduksi pecandu heroin
menurut pola siklus menstruasinya.
Rancangan/rumusan data: Studi deskriptif dengan rancangan potong
lintang.
Bahan dan cara kerja: Selama kurun waktu Januari sampai Juni
2007 dilakukan pengumpulan data terhadap 40 responden yang diambil
secara consecutive sampling di RSKO Fatmawati dan beberapa puskesmas
di Jakarta. Semua responden dilakukan wawancara mengenai pola
siklus menstruasi tiga bulan sebelumnya dan dilakukan pemeriksaan
kadar progesteron pada fase luteal madya.
Hasil: Subjek yang diteliti berjumlah 40 perempuan usia reproduksi
pecandu heroin yang berusia antara 20 sampai 40 tahun dengan rata-rata
usia responden 26 (20 - 37) tahun. Rata-rata lamanya menggunakan heroin
7,1±3,1 tahun, sedangkan rerata usia responden pertama kali menggunakan
heroin adalah 18 (13 - 31) tahun. Pola menstruasi yang didapatkan
yaitu oligomenorea sebesar 67,5 %, siklus normal 22,5 %, dan
amenorea sebesar 10 %. Pada penilaian kadar progesteron fase luteal
madya didapatkan siklus menstruasi yang tidak berovulasi sebesar 77,5
% dan siklus yang berovulasi sebesar 22,5 %. Tidak ada perbedaan yang
bermakna secara statistik (p > 0,005) di antara kelompok faktor risiko
umur, lama pemakaian heroin, jumlah paritas, dan indeks massa tubuh
mengenai gangguan ovulasi pada perempuan pecandu heroin.
Kesimpulan: Pola menstruasi perempuan usia reproduksi pecandu
heroin yang terbanyak adalah oligomenorea (67,5 %) dengan siklus
yang berovulasi sebesar 26 %.
[Maj Obstet Ginekol Indones 2008; 32-4: 223-8]
Kata kunci: heroin, usia reproduksi, siklus menstruasi, ovulasi
Perbandingan ekspresi p53, Bcl-2, dan indeks apoptosis trofoblas pada preeklampsia/eklampsia dan kehamilan normal
Tujuan: Membuktikan bahwa, jumlah sel trofoblas yang mengalami
apoptosis pada sampel jaringan trofoblas yang berasal dari kehamilan
dengan preeklampsia/eklampsia lebih tinggi apabila dibandingkan dengan
kehamilan normal.
Tempat: Bagian Obstetri dan Ginekologi RSU Dr. Saiful Anwar
Malang, dan Lab Biomedik FKUB Malang.
Bahan dan cara kerja: Penelitian ini merupakan studi laboratorium
secara potong lintang; dengan teknik imunohistokimia untuk pengamatan
ekspresi protein Bcl-2 dan p53, dan teknik DNA-terfragmentasi
(TUNEL) untuk menghitung indeks apoptosis. Sampel jaringan trofoblas
berasal dari biopsi jaringan plasenta preeklampsia/eklampsia,
dibandingkan dengan persalinan normal (n = 20). Variabel bebas: p53,
Bcl-2, apoptosis. Variabel tergantung: preeklampsia/eklampsia. Analisa
statistik menggunakan Independent t test (p ≤ 0,05).
Hasil: Terdapat perbedaan yang signifikan jumlah sel-sel trofoblas
yang mengalami apoptosis pada kelompok kehamilan normal (4,70±
1,829), dibandingkan dengan kelompok preeklampsia/eklampsia (4,70±
1,829), (t test; p≤0,000). Terdapat perbedaan yang signifikan ekspresi
protein Bcl-2 pada jaringan trofoblas kelompok kehamilan normal
(20,30±5,774), dibandingkan kelompok preeklampsia/eklampsia (9,90±
1,912) (t test; p≤0,000). Terdapat perbedaan yang bermakna ekspresi
protein p53 pada jaringan trofoblas kelompok kehamilan normal (8,20
±2,898), dibandingkan dengan kelompok preeklampsia/preeklampsia
(22,70±4,990) (t test; p≤0,000).
Kesimpulan: Jumlah sel trofoblas yang mengalami apoptosis pada
jaringan trofoblas preeklampsia/eklampsia lebih tinggi daripada kehamilan
normal.
[Maj Obstet Ginekol Indones 2009; 33-3: 151-9]
Kata kunci: trofoblas, indeks apoptosis, p53, Bcl-2, preeklampsia,
eklampsi