Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology (INAJOG)
Not a member yet
904 research outputs found
Sort by
Deteksi Human Papilloma Virus pada Wanita Pekerja Seks Komersial sebagai Penapisan Lesi Prakanker Serviks Uteri
Deteksi infeksi HPV dengan metode HC II dapat digunakan dalam upaya deteksi dini kanker serviks uteri
A1298C Polymorphism of Fetal Methylenetetrahydrofolate Reductase (MTHFR) Gene as a Risk Factor for Spontaneous Abortion
Objective: To investigate the role of A1298C polymorphism of fetal
methylenetetrahydrofolate reductase (MTHFR) gene in spontaneous
abortion.
Method: The case control study design recruited 96 subjects in Siti
Fatimah and Pertiwi mother and child hospital, Dr. Wahidin Sudirohusodo,
Pelamonia, Bhayangkara, Syekh Yusuf, Haji and Labuang
Baji hospital from March to September 2014. All subjects fulfilling
the inclusion criteria were taken tissue samples from mothers experiencing
spontaneous abortion and blood samples from normally
born baby. The data were analyzed using Pearson chi-square with
significant rate of 5% (
Postplacental IUD Insertion Using Ring Forceps versus Push and Push Technique
Objective: To compare IUD-endometrium (ED) distance and the incident
of malposition postplacental CuT-380A IUD insertion in vaginal
delivery between ring forceps technique and push and push
technique.
Method: This study was a double-blind randomized control trial,
performed in September 2014 until March 2015 at Dr. Kariadi Hospital.
Ring forceps and push and push insertion technique groups
consisted of 25 subjects in each group. Follow-up was performed at
1-2 weeks, 6-8 weeks and >12 weeks after insertion.
Result: The mean of IUD-ED distance in push and push group was
shorter (but not statistically significant) than ring forceps group. The
IUD-ED distance was at 1-2-week follow-up 4.1 (2.2) vs. 4.9 (3.4)
mm; p=0.208, at 6-8-week follow-up: 2.6 (1.8) vs. 3.2 (3.7) mm;
p=0.452, and at > 12-week follow-up: 0.9 (0.8) vs. 1.0 (0.9) mm;
p=0.427, respectively. Malposition was found in 1-2-week follow-up,
but the IUD was changed to the normal position (sagital position in
uterine fundus) at 6-8-week and >12-week follow-up. Up to 3
months of follow-up, there was no occurrence of perforation, expulsion
or pregnancy in both groups. Most of subjects (56% in the
ring forceps, 68% in push and push groups) did not feel painful during
IUD insertion.
Conclusion: Push and push insertion technique clinically tends to
produce IUD-ED distance shorter than ring forceps technique. Both
techniques are comfortable, safe and effective.
[Indones J Obstet Gynecol 2016; 4-2: 78-87]
Keywords: immediate postplacental IUD insertion technique, IUDendometrium
distance, IUD malposition, push and push technique,
ring forceps techniqu
Kesintasan Pasien Karsinoma Ovarium dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta (Pemantauan 5 tahun)
Latar belakang: Kanker ovarium merupakan kanker ketujuh tersering
ditemukan di seluruh dunia. Beberapa tulisan menekankan pentingnya
faktor-faktor prognostik untuk perencanaan dan prediksi hasil
pengobatan. Kesintasan kanker ovarium yang dilaporkan bervariasi berdasarkan
stadium saat ditemukan. Di Indonesia, dalam hal ini di RSUPN
Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta, data-data seperti yang disebutkan di
atas masih terbatas.
Tujuan: Mengetahui kesintasan 1 tahun hingga 5 tahun dari penderita
karsinoma ovarium yang ditatalaksana di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo
dan hubungannya dengan faktor usia, derajat dan jenis histopatologi,
jenis pembedahan, adanya asites, adanya residu tumor, dan
pemberian kemoterapi adjuvan.
Tempat: Departemen/KSMF Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit
Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta.
Bahan dan cara kerja: Penelitian ini menggunakan pendekatan
rancangan penelitian kohort hostoris. Data yang diperoleh dianalisis
dengan program Kaplan-Maier. Analisis multivariat menggunakan model
cox proportional hazard regresi.
Hasil: Terdapat 270 kasus kanker ovarium selama kurun waktu
1998 - 2003, hanya 178 kasus yang masuk dalam kriteria inklusi. Subjek
penelitian berusia rata-rata 42,7 tahun. Sebanyak 43,8% kasus
mendapatkan operasi adekuat, sementara 51,7% kasus diketahui sudah
tergolong stadium III. Sebanyak 27% kasus berjenis histopatologi
serosum, sisanya adalah musinosum, sel bening, endometrioid
dan lainnya. Sebanyak 52 kasus (29,2%) mendapat kemoterapi secara
lengkap. Kesintasan keseluruhan karsinoma ovarium adalah 89,3%
(1 tahun); 69,7% (3 tahun); dan 54,8% (5 tahun). Kesintasan 5 tahun
stadium I: 94,3%; stadium II: 75%; stadium III: 31%. Kesintasan 2
tahun stadium IV sebesar 11,7%. Usia muda tidak terbukti bermakna
memberi kesintasan lebih baik dibanding usia lebih tua. Tindakan
operasi adekuat primer, adanya asites, adanya residu tumor, jenis
histopatologi, derajat diferensiasi, tidak terbukti bermakna mempengaruhi
kesintasan karsinoma ovarium. Stadium FIGO terbukti
bermakna sebagai faktor prognostik independen (HR 9,2 kali pada
stadium III dan 26,5 kali pada stadium IV). Sementara pemberian
kemoterapi terbukti bermakna sebagai faktor prognostik independen
dengan efek protektif kemoterapi komplit (HR 1.53 x 10-8)
dan kemoterapi inkomplit dengan HR 9.14 x 10-7.
[Maj Obstet Ginekol Indones 2007; 31-2: 66-72]
Kata kunci: karsinoma ovarium, kesintasan, faktor prognostik, stadium,
kemoterap
Hubungan antara interleukin-10 (IL-10) dan interferon-y (IFN-y) pada jaringan trofoblas dan sel sitotrofoblas: dengan kegagalan proses diferensiasi, invasi, dan pseudovaskulogenesis trofoblas pada patogenesis preeklampsia
Tujuan: Menganalisis hubungan antara IL-10 dan IFN-γ pada jaringan
trofoblas dan sel sitotrofoblas, dengan proses diferensiasi, invasi
dan pseudovaskulogenesis sel sitotrofoblas, pada patogenesis preeklampsia.
Rancangan/rumusan data: Studi potong lintang menggunakan
sampel biopsi trofoblas plasenta dari persalinan preeklampsia ringan,
preeklampsia berat dan eklampsia, dibandingkan dengan kontrol persalinan
normal.
Bahan dan cara kerja: Tahap I: Preparasi histokimia, imunohistokimia,
isolasi sel sitotrofoblas, imunositokimia sel sitotrofoblas, uji dot
blot, SDS-Page, dan Western bloting protein IL-10, IFN-γ, MMP-9,
HLA-G, dan VE-Cadherin dari isolat sitotrofoblas plasenta normal,
preeklampsia ringan, preeklampsia berat, dan eklampsia. Tahap II dan
III: Imunohistokimia jaringan trofoblas dan ELISA untuk pengukuran
IL-10, IFN-γ, HLA-G, MMP-9, dan VE-Cadherin; dari isolat sitotrofoblas
plasenta normal, preeklampsia ringan, preeklampsia berat, dan
eklampsia.
Hasil: Distribusi IL-10, IFN-γ, HLA-G, MMP-9, dan VE-Cadherin,
pada jaringan trofoblas normal = 44,80 ± 8,28 sel/μm2, 41,60 ± 4,38
sel/μm2, 43,40 ± 5,46 sel/μm2, 46,30 ± 5,08 sel/μm2, dan 28,40 ± 3,31
sel/μm2; preeklampsia ringan = 31,40 ± 2,99 sel/μm2, 25,90 ± 3,87
sel/μm2, 43,40 ± 5,46 sel/μm2, 28,60 ± 2,37 sel/μm2, dan 17,90 ± 3,11
sel/μm2; preeklampsia berat = 18,30 ± 4,40 sel/μm2, 32,10 ± 3,63
sel/μm2, 34,90 ± 3,31 sel/μm2, 22,50 ± 3,87 sel/μm2, dan 12,80 ± 1,40
sel/μm2, dan eklampsia = 12,50 ± 2,95 sel/μm2, 41,60 ± 4,38 sel/μm2,
8,70 ± 2,87 sel/μm2, 12,10 ± 2,92 sel/μm2, dan 6,50 ± 1,72 sel/μm2. Konsentrasi
IL-10, IFN-γ, HLA-G, MMP-9, dan VE-Cadherin, pada isolat
sitotrofoblas normal = 206,07 ± 3,55 pg/ml, 85,21 ± 0,80 pg/ml, 3,58 ±
0,25 pg/ml, 23,70 ± 0,15 pg/ml, dan 5,74 ± 0,38 pg/ml; preeklampsia
ringan = 192,59 ± 6,07 pg/ml, 87,35 ± 2,27 pg/ml, 3,58 ± 0,25 pg/ml,
22,99 ± 0,43 pg/ml, dan 5,24 ± 0,34 pg/ml preeklampsia berat = 186,25
± 9,05 pg/ml, 87,62 ± 2,66 pg/ml, 2,82 ± 0,24 pg/ml, 22,93 ± 0,17 pg/ml,
dan 4,96 ± 0,32 pg/ml; dan eklampsia = 183,64 ± 3,34 pg/ml, 89,64 ±
1,94 pg/ml, 2,57 ± 0,29 pg/ml, 22,71 ± 0,58 pg/ml, dan 4,89 ± 0,52
pg/ml.
Kesimpulan: Makin tinggi distribusi dan konsentrasi IL-10; makin
rendah distribusi dan konsentrasi IFN-γ pada jaringan trofoblas dan sel
sitotrofoblas; makin ringan penyakit preeklampsia. Makin rendah distribusi
dan konsentrasi IL-10; makin tinggi distribusi dan konsentrasi
IFN-γ pada jaringan trofoblas dan intrasel sitotrofoblas; makin rendah
diferensiasi, invasi dan pseudovaskulogenesis sel sitotrofoblas; makin
berat penyakit preeklampsia.
[Maj Obstet Ginekol Indones 2007; 31-2: 92-115]
Kata kunci: IL-10, IFN-γ, trofoblas, patogenesis preeklampsi
Kejadian kehamilan pascaoperasi miomektomi perlaparoskopi
Tujuan: Untuk mengevaluasi keberhasilan kehamilan pascaoperasi
miomektomi perlaparoskopi pada kasus infertilitas.
Rancangan/rumusan data: Penelitian deskriptif.
Bahan dan cara kerja: Subjek penelitian adalah 26 orang pasien infertilitas
dengan sangkaan mioma uteri yang menjalani operasi miomektomi
perlaparoskopi dari bulan Januari 2004 sampai dengan Desember
2006 di Klinik Raden Saleh Divisi Kesehatan Reproduksi Departemen
Obstetri dan Ginekologi FKUI/RSCM Jakarta.
Hasil: Keberhasilan kehamilan pascaoperasi miomektomi perlaparoskopi
pada penelitian ini sebesar 53,84%. Sebagian besar kehamilan
yang terjadi secara spontan, dengan interval kurang dari satu tahun pascaoperasi.
Tidak ada komplikasi yang ditemukan selama masa antenatal
atau intrapartum pada semua persalinan dilakukan seksio sesarea.
Kesimpulan: Operasi miomektomi perlaparoskopi merupakan terapi
pilihan bagi pasien infertilitas. Keberhasilan kehamilan pascalaparoskopi
miomektomi mungkin dipengaruhi pula oleh usia pasien, lamanya
infertilitas, faktor suami dan beberapa faktor lain yang mempengaruhi
penyebab infertilitas.
[Maj Obstet Ginekol Indones 2007; 31-3: 143-7]
Kata kunci: laparoskopi, miomektomi, infertilita
Deteksi Dini Kanker Serviks dengan Metode Inspeksi Visual Asam Asetat di Depok
Tujuan: Untuk mendapatkan lesi prakanker maupun penderita
kanker serviks dalam stadium dini dengan metode inspeksi visual asam
asetat.
Rancangan/rumusan data: Studi potong lintang.
Tempat: Puskesmas Sukmajaya, Abadijaya, Bhakti Jaya, Villa Pertiwi
dan Kalimulia, Kotib Depok, Jawa Barat.
Subjek, pasien, peserta: Sampel adalah ibu yang berusia 25 - 64
tahun dan berdomisili di Kecamatan Sukmajaya, Depok. Penelitian dilakukan
pada September - November 2005. Yang melakukan pemeriksaan
IVA adalah bidan dari puskesmas masing-masing yang sudah dilatih
sebelumnya. Responden yang IVA positif dilanjutkan dengan pemeriksaan
kolposkopi dan atau leep. Semua responden mendapat penyuluhan
dan leaflet tentang kanker serviks.
Hasil: Dari 3331 responden yang diperiksa IVA diperoleh 2956 negatif,
369 positif (bercak putih) dan 6 positif (suspek kanker). Pada
minggu berikutnya semua responden yang IVA positif (375 orang) diundang
pada puskesmasnya masing-masing untuk diperiksa ulang oleh
dokter ginekolog dari RSCM, namun yang datang hanya 188 orang
(50%). Dari 188 tersebut ditemukan IVA positif hanya 33 orang
(17,5%). Pada minggu berikutnya ke 33 orang tersebut diundang untuk
pemeriksaan lanjutan (kolposkopi dan/atau leep), namun yang memenuhi
undangan hanya 21 orang (63,6%). Pada akhirnya ditemukan 1
kasus kanker serviks stadium II B, 1 kasus karsinoma in-situ dan 3 kasus
displasia ringan.
Kesimpulan: Untuk menghindari hasil positif palsu sebaiknya pelatihan
bidan dilakukan lebih intensif dan untuk menghindari responden
lost to follow up sebaiknya pemeriksaan IVA dan pemeriksaan lanjutan
dilakukan pada hari yang sama.
[Maj Obstet Ginekol Indones 2007; 31-4: 212-7]
Kata kunci: deteksi dini, prakanker serviks, kanker serviks, IV
Inkontinensia urin pada perempuan menopause
Tujuan: Memperlihatkan kaitan kejadian terjadinya Inkontinensia
urin pada perempuan menopause serta jenis-jenis inkontinensia yang dialaminya
serta prosedur penatalaksanaannya.
Tempat: Bagian Kebidanan dan Kandungan Universitas Sam Ratulangi,
Rumah Sakit Umum Prof. Dr. R.D. Kandou, Manado - Indonesia.
Rancangan/rumusan data: Tinjauan literatur.
Kesimpulan: Kejadian Inkontinensia pada perempuan menopause
ter-jadi terutama karena kelemahan dari otot dasar pelvis. Di samping
itu juga dipengaruhi oleh perubahan fungsi dan struktur dari kandung
ke-mih dan uretra. Proses ini terutama diakibatkan oleh karena proses
penuaan dari ovarium sehingga terjadi penurunan produksi estrogen. Estrogen
melalui reseptor α dan β mempengaruhi uretra dan kandung
kemih. Penurunannya mengakibatkan uretra menjadi kaku dan tidak
elastis. Sehingga sukar untuk menutup dengan sempurna.
[Maj Obstet Ginekol Indones 2007; 32-1: 48-54]
Kata kunci: inkontinensia urin, menopause, estrogen, uretra, kandung
kemi
Efektivitas perawatan bayi metoda kangguru dalam menurunkan skala Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS) pada ibu-ibu pascapersalinan yang diduga menderita depresi
Tujuan: Membandingkan skala EPDS pada kelompok yang melaksanakan
perawatan bayi metoda kangguru dengan yang tidak.
Bahan/cara kerja: Lima puluh tiga ibu pascapersalinan di RSUPN
Dr. Cipto Mangunkusumo dan RS Fatmawati dengan bayi berat lahir
rendah, yang diduga menderita depresi (skala EPDS ≥ 13) dan dilakukan
randomisasi terbuka baik pada kelompok kontrol maupun kelompok perlakuan.
Pada kelompok perlakuan, ibu-ibu menjalankan perawatan bayi
metoda kangguru selama 2 minggu. Kemudian dilakukan penilaian
EPDS kembali setelah 4 minggu pascapersalinan
Hasil: Pada kelompok ibu-ibu penderita depresi pascapersalinan
yang mendapat perlakuan perawatan bayi metoda kangguru didapatkan
adanya penurunan skala EPDS sebanyak 75%, sedangkan sisanya (25%)
skala tetap. Tidak didapatkan adanya penurunan skala EPDS pada
kelompok ini. Sedangkan pada kelompok kontrol didapatkan adanya
peningkatan skala EPDS sebanyak 17,4%, menetap sebanyak 34,8%,
dan menurun sebanyak 47,8%.
Kesimpulan: Penurunan skala EPDS pada ibu penderita depresi
pascapersalinan yang menerapkan perawatan bayi metoda kangguru berbeda
makna secara statistik dibandingkan dengan ibu penderita depresi
pascapersalinan yang tidak menerapkan perawatan bayi metoda kangguru.
[Maj Obstet Ginekol Indones 2008; 32-4: 238-41]
Kata kunci: perawatan bayi metoda kangguru, Edinburgh postnatal
depression scale, depresi postpartum