Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology (INAJOG)
Not a member yet
904 research outputs found
Sort by
Perubahan Nilai Peroksida Lipid Dan Glutation Peroksidase Jantung Akibat Diet Makanan Tinggi Garam. (Penelitian Eksperimental Pada Model Hewan Coba Tikus Sprague Dawley Bunting.)
Diet Makanan Tinggi Garam (DMTG) menyebabkan: (1) Kenaikan nilai peroksida lipid yang diukur secara kualitatif dengan MDA. (2) Persalinan preterm sampai dengan 40% dan peroksida lipidnya tinggi. (3) Hipertensi pada model SDR yang bunting. (4) Kenaikan nilai malondialdehida (MDA) jaringan jantung yang disertai dengan penurunan Glutation Peroksidase (GPx). (5) GPx jaringan tidak berperan untuk menetralkan MDA pada jaringan jantung. (6) tidak menyebabkan perubahan denyut jantung pada model tikus penelitian. (7) Tidak menyebabkan perubahan komponen darah tetapi menaikkan HCT dan WBC pada SDR bunting kelompok perlakuan. (8) Perubahan yang nyata pada struktur otot jantung baik pada induk maupun embrio SDR bunting kelompok perlakuan. (9) Kelainan endotelium pembuluh kapiler jantung. (10) Kelainan struktur mitokondria pada sel jantung induk dan embrio, dan lebih kecil dari kasus kontrol (tanpa perlakuan)
Perbandingan Penerimaan dan Efek Samping Nyeri, Perdarahan dan Ekspulsi AKDR Flexi-T300 dengan AKDR Cu-T380A
Tujuan: Membandingkan penerimaan dan efek samping nyeri, perdarahan, dan ekspulsi AKDR Flexi-T300 dengan AKDR Cu-T380A.
Tempat: Klinik Raden Saleh dan Klinik Keluarga Berencana RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo.
Bahan dan cara kerja: Penelitian ini dirancang sebagai uji klinis
(randomized controlled trial). Dilakukan observasi jangka waktu 6 bulan untuk menilai penerimaan dan efek samping nyeri, perdarahan serta ekspulsi AKDR Flexi-T300 dibandingkan dengan AKDR Cu-T380A. Kegiatan penelitian dilaksanakan di Klinik Raden Saleh dan Klinik Keluarga Berencana RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo mulai bulan Mei 2004 sampai Januari 2005.
Hasil: Secara keseluruhan peserta penelitian terdiri dari 49 (45,8%)
akseptor AKDR Flexi-T300 dan 58 (54,2%) akseptor AKDR Cu-T380A.
Angka kelangsungan pemakaian AKDR Flexi-T300 adalah sebesar
93,9% sedangkan angka kelangsungan pemakaian AKDR Cu-T380A
adalah sebesar 91,4% (p=0,621). Angka kejadian perdarahan bercak secara kumulatif pada kelompok Flexi-T300 sebesar 24,5% dibandingkan dengan kelompok Cu-T380A sebesar 50% (p=0,021). Sedangkan kejadian nyeri pada kelompok Flexi-T300 adalah 24,5% dan pada kelompok Cu-T380A adalah 29,8% (p=0,439). Kejadian perdarahan yang menyebabkan putus uji pada kelompok AKDR Cu-T380A adalah sebesar 5,2% dan pada kelompok AKDR Flexi-T300 sebesar 2,04% (p=0,621). Angka kejadian ekspulsi pada kelompok Flexi-T300 adalah 2,04% sedangkan pada kelompok Cu-T380A sebesar 3,4% (p=0,621).
Kesimpulan: Angka kelangsungan pemakaian AKDR Flexi-T300
lebih baik dibandingkan dengan AKDR Cu-T380A dengan efek samping
perdarahan bercak yang lebih rendah secara bermakna. Efek samping
nyeri dan ekspulsi AKDR Flexi-T300 lebih rendah dibandingkan dengan
AKDR Cu-T380A. [Maj Obstet Ginekol Indones 2006; 30-2:92-100]
Kata kunci: AKDR, Flexi-T300, Cu-T380A, nyeri, perdarahan,
ekspulsi, putus uji, kelangsungan pemakaian.
Objective: To compare acceptance and side effect between Flexi-
T300 and Cu-T380A.
Setting: Raden Saleh Clinic and Department of Obstetrics and Gynecology Dr. Cipto Mangunkusumo General Hospital.
Material and methods: We conducted a randomized controlled trial
of 107 women which were recruited between May 2004 and January
2005 at Dr. Cipto Mangukusumo Hospital and Raden Saleh Reproductive Health Clinic. Women were observed and evaluated during 6 months for the side effect and continuation of intrauterine devices.
Results: After all inclusion/exclusion were applied, 49 (45.8%)
Flexi-T300 and 58 (54.2%) Cu-T380A users remained in the analysis.
By the end of study 8 discontinuations had occured. The main reasons
for these early discontinuations were bleeding (4), expulsion (3) and for personal reason (1). The continuation rate of Flexi-T300 and Cu-T380A were 93.9% and 91.4% (p=0.621). Event rates at the end of study for bleeding among Flexi-T300 users were significantly lower than Cu- T380A (24.5% vs 50%) and for pain were 24.5% for Flexi-T300 and 29.8% for the Cu-T380A. The incidence of bleeding that caused IUD removal was 2.04% for Flexi-T300 group and 5.2% for Cu-T380A group. Expulsion rate among Flexi-T300 users were lower than Cu-T380A group (2.04% vs 3.4%).
Conclusions: Continuation rate of Flexi-T300 was higher than Cu-
T380A with significantly lower of bleeding event. Cumulative incidence
of pain and expulsion were also lower for Flexi-T300 than Cu-T380A.
[Indones J Obstet Ginecol 2006; 30-2: 92-100]
Keywords: IUD, Flexi-T300, Cu-T380A, pain, bleeding, expulsion,
discontinuation, continuation
Progesterone Receptor Gene Polymorphism Promoter Region +331G/A Increases Risk of Endometriosis
Objective: To identify relationship between progesterone receptor
gene polymorphism promoter region +331G/A with the risk of
endometriosis.
Method: An observational case-control study. Population are women
with endometriosis and/or adenomyosis who have been performed
laparotomy/laparoscopy at Obstetrics and Gynecology
Department Dr. Mohammad Hoesin General Hospital Palembang,
January-November 2013. Subjects fulfilled inclusion criteria, given
informed consent and performed blood sampling continued by PCRRFLP.
Results were divided into A/A genotype (homozygote mutant),
G/A (heterozygote mutant), and G/G (homozygote wild type).
Data were analyzed by SPSS 21.0 version.
Result: PCR-RFLP results for+331G/A genotype were 26 (54.1%) in
case group and 14 (26.4%) in control. +331A/A genotype was not
found in both groups. There was significant increase risk of endometriosis
in women carrying genotype +331G/A to those with genotype
+331G/G with OR 3.29 (
Bladder Function after Hysterectomy
Objective: To determine the effect of hysterectomy on bladder function
pre- and post-radical hysterectomy in early stage of cervical
cancer.
Method: This study was a pre-post intervention study. Data were
collected through questionnaires from women who had radical hysterectomy
and total hysterectomy in Prof. Dr. R. D. Kandou Manado
general hospital and other networking hospitals since January 1st,
2014 to November 31st, 2014. We analyzed the data using Wilcoxon
and Mann-Whitney statistical test.
Result: There were each 18 respondents for the radical and total
hysterectomy group in Prof. Dr. R. D. Kandou general hospital and
networking hospitals. The age distribution of radical hysterectomy
was 41-45 years old for 44.4%. The parity was dominated by second
parity for 38.8%. In pre- and post-surgery, there were significant differences
for urinary incontinence disorder (p=0.003), emptying disorder
(p=0.008), urinary pain (p=0.034), and total urinary disorder
(p=0.001). While, between radical and total hysterectomy, there was
no significant difference in bladder function (p>0.05).
Conclusion: There is an association before and after surgery to urinary
function. However, there is no association between the radical
and total hysterectomy group.
[Indones J Obstet Gynecol 2016; 4-2: 97-100]
Keywords: bladder function, cervical cancer, radical hysterectom
Peran Laparoskopi Operatif pada Nyeri Pelvis Kronis
Tujuan: Mengkaji peran laparoskopi operatif pada beberapa kelainan
sebagai penyebab nyeri pelvis kronis, seperti endometriosis, perlekatan
pelvis dan endosalpingiosis.
Rancangan/rumusan data: Kajian pustaka.
Hasil: Pada pemeriksaan laparoskopi untuk tujuan pengobatan nyeri
pelvis, 33% ditemukan endometriosis, 24% perlekatan genitalia interna
sisanya tidak ditemukan kelainan. Ditemukan bahwa skor AFS pada endometriosis
tidak berkorelasi dengan lamanya nyeri, beratnya nyeri
maupun keterbatasan aktivitas. Operator harus waspada terhadap beberapa
tampilan visual laparoskopi yang menyerupai lesi endometriosis.
Endosalpingiosis merupakan temuan baru lesi di peritoneum pelvis yang
mungkin merupakan salah satu penyebab dari nyeri pelvis.
Kesimpulan: Penyebab nyeri pelvis kronis yang paling sering
adalah perlekatan pelvis, endometriosis, dan endosalpingiosis. Laparoskopi
baik diagnosis maupun operatif merupakan intervensi ginekologik
penting dalam menangani nyeri pelvis kronis.
[Maj Obstet Ginekol Indones 2006; 30-3: 152-5]
Kata kunci: perlekatan genitalia, endometriosis, endosalpingiosis
Penilaian Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Pasien Poliklinik Kebidanan dan Kandungan RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Tentang Pap Smear
Tujuan: Untuk mengetahui pengetahuan, sikap dan perilaku pasien
poliklinik tentang pap smear.
Tempat: Poliklinik Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia/ RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo.
Bahan dan cara kerja: Penelitian ini menggunakan metode pengumpulan
data dengan cara convenience sampling. Pengambilan data
dilakukan dengan cara wawancara terpimpin menggunakan kuesioner
yang telah diuji coba sebelumnya.
Hasil: Data yang berhasil diperoleh adalah 102 responden yang memenuhi
kriteria. Dari 102 responden disimpulkan bahwa sebagian responden
berusia 21 - 39 tahun, berpendidikan menengah, tidak bekerja
dan berpendapatan keluarga menengah rendah. Sebanyak 89,9% responden
mempunyai tingkat pengetahuan tentang kanker serviks yang buruk,
khususnya mengenai definisi, faktor risiko, gejala dan cara deteksi dini.
Responden yang berpengetahuan baik mengenai pap smear hanya 2,9%
dan hanya 11,8% yang berperilaku baik. Sedangkan sikap responden
umumnya baik (87,3%). Sebagian besar pengetahuan, sikap dan perilaku
(PSP) responden mengenai pap smear tergolong buruk (72,5%).
Kesimpulan: Perlu dilakukan peningkatan pemberian informasi tentang
kanker serviks dan pap smear pada masyarakat secara interpersonal
melalui keluarga, teman, (peer educator) dan terutama petugas medis
(dokter, perawat, bidan). Serta kemudahan untuk mengakses informasi
tentang kanker serviks dan pap smear secara luas melalui media cetak,
media elektronik dan penyuluhan oleh berbagai pihak.
[Maj Obstet Ginekol Indones 2006; 30-4: 213-8]
Kata kunci: kanker serviks, pap smear, PSP pasienb
Diagnosis Prenatal Hidronefrose dengan Ultrasonografi (laporan kasus)
Tujuan: Melaporkan 2 kasus hidronefrose yang didiagnosis dengan
pemeriksaan USG pada masa prenatal.
Hasil: Dua kasus hidronefrose yang didiagnosis dengan ultrasonografi.
Kasus 1, hidronefrose didiagnosis pada usia kehamilan 32 -
33 minggu, didapatkan jenis kelamin perempuan dengan hidronefrose
bilateral. Pada evaluasi postnatal dengan USG didapatkan kesan hidronefrose
kanan moderat. Kasus 2, hidronefrose didiagnosis pada usia
kehamilan 25 minggu, didapatkan jenis kelamin laki-laki dengan hidronefrose
bilateral, megavesika dan oligohidramnion. Persalinan kedua
kasus dengan bedah sesar pada kehamilan aterm. Bayi pertama normal.
Bayi kedua menderita sindrom Potter dan meninggal setelah 7 jam
karena pneumothorax.
Kesimpulan: Kelainan yang mengenai ke dua ginjal (bilateral) lebih
berbahaya dari pada kelainan yang mengenai satu ginjal (unilateral).
[Maj Obstet Ginekol Indones 2007; 31-1: 42-8]
Kata kunci: prenatal, hidronefrose, ultrasonograf
Evaluasi pasca Radiofrequency Thermal Ablation pada Mioma Uteri dan Adenomiosis
Tujuan: Untuk mengetahui manfaat miolisis dengan radiofrequency
thermal ablation terhadap mioma uteri dan adenomiosis.
Tempat: RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta.
Rancangan/rumusan data: Penelitian ini bersifat deskriptif.
Bahan dan cara kerja: Delapan orang pasien yang menderita
mioma uteri dan atau adenomiosis bergejala menjalani miolisis dengan
radiofrequency thermal ablation baik transvaginal maupun per laparoskopik.
Satu bulan pascaoperasi, pasien dievaluasi kembali ukuran massa
dengan ultrasonografi dan perubahan gejala yang berkaitan dengan
kedua patologi uterus tersebut.
Hasil: Dari pasien yang diteliti, 5 pasien (62,5%) menderita adenomiosis,
dan 3 pasien (37,5%) menderita mioma uteri. Rata-rata diameter
dan volume massa paling besar per pasien berturut-turut adalah
4,6 cm (1,4 - 9,0) dan 694,3 cm3 (11,5 - 3061,8). Tujuh pasien (87,5%)
mengeluh dismenorea, dan hanya 1 pasien mengeluh menorragia. Tiga
pasien (37,5%) menjalani miolisis laparoskopik. Tidak terdapat komplikasi
intraoperatif atau pascaoperatif. Rata-rata reduksi volume massa
pada follow-up 1 bulan adalah 67,5%; reduksi mioma uteri mencapai
81,5%; sedangkan adenomiosis 59,1%. Pada follow-up tersebut, semua
pasien menyatakan keluhan dismenorea atau menorragia menghilang.
Kesimpulan: Pada penelitian pendahuluan ini, miolisis dengan radiofrequency
thermal ablation telah berhasil mengurangi volume mioma uteri
dan adenomiosis serta menghilangkan gejalanya. Diperlukan follow-up serial
dan penelitian tambahan untuk menilai efikasi dan keamanan teknik
ini.
[Maj Obstet Ginekol Indones 2007; 31-2: 79-85]
Kata kunci: mioma uteri, adenomiosis, miolisis, radiofrequenc
Pemeriksaan pH dan LEA vagina dengan dipstick sebagai metoda penapisan vaginosis bakterial dalam kehamilan
Tujuan: Menemukan metoda diagnostik sederhana dalam mendeteksi
vaginosis bakterial (VB) dalam kehamilan dengan menentukan
sensitivitas, spesifisitas, nilai duga positif dan negatif, rasio kemungkinan
dan derajat kesesuaian pemeriksaan pH dan LEA (leukosit esetrase)
vagina dengan menggunakan dipstick dibandingkan pewarnaan Gram.
Tempat: RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo dan RS Bersalin Budi
Kemuliaan, Jakarta.
Bahan dan cara kerja: Wanita hamil pada usia kehamilan 16-24
minggu. Pemeriksaan kemudian dilanjutkan pengambilan apusan lendir
vagina dan dilakukan pemeriksaan pH vagina dan kadar LEA dengan
menggunakan dipstick Uriscan (Lampiran IV). Sebagai baku emas dilakukan
pewarnaan Gram untuk menilai adanya infeksi VB menggunakan
skor Nugent. Bila dari penilaian mikroskopis didapatkan skor
Nugent 7-10, maka sampel dinyatakan sebagai VB positif dan dilakukan
analisis selanjutnya. Hasil yang didapat dari pemeriksaan dipstick Uriscan
dibandingkan dengan hasil dari pewarnaan Gram.
Hasil: Penelitian sejak Mei-Agustus 2006, didapatkan 80 subjek
penelitian yang sesuai dengan kriteria. Subjek berusia 20-38 tahun dengan
rerata usia 27,84 ± 4,46 tahun, 47,5% adalah primigravida. Usia
kehamilan sebagian besar dalam kelompok 16-20 minggu, dengan rerata
usia kehamilan 19,98 ± 2,58 minggu. Keluhan keputihan dijumpai pada
41 orang. Pada penelitian ini didapatkan sebanyak 32,5% (n=26) subjek
dengan VB positif. Pada pemeriksaan dipstick didapatkan sensitivitas
pemeriksaan LEA vagina adalah 42,3%, spesifisitas 61%, nilai duga positif
34,3% dan nilai duga negatif 68,7%. Derajat kesesuaian 55% dengan
nilai kappa 0,032. Sensitivitas pemeriksaan pH vagina dalam mendeteksi
VB sebesar 61%, spesifisitas 79%, nilai duga positif 59%, dan
nilai duga negatif 81%. Pada kurva ROC pH didapatkan nilai AUC (Area
Under Curve) 0,70 yang berarti akurasi pemeriksaan pH cukup baik
dalam membedakan kelompok VB positif dan yang bukan, sementara
pemeriksaan LEA menunjukkan akurasi yang buruk (AUC = 0,51). Dengan
menggunakan uji chi-square didapatkan adanya hubungan yang
bermakna (p=0,001) antara pH vagina dengan kejadian VB, namun didapatkan
hubungan yang tidak bermakna (p=0,46) antara LEA vagina
dengan hasil pemeriksaan Gram.
Kesimpulan: Pemeriksaan pH dan LEA vagina dengan dipstick dapat
digunakan untuk mendeteksi VB secara cepat dan sederhana dalam
klinik. Pemeriksaan pH vagina memiliki sensitivitas yang lebih baik
dibandingkan LEA vagina. Namun dibandingkan pewarnaan Gram, sensitivitas
dan spesifisitas pemeriksaan ini masih belum memuaskan.
Derajat kesesuaian antara kedua pemeriksaan ini juga kurang baik, sehingga
pemeriksaan LEA vagina masih belum dapat menggantikan
kedudukan pemeriksaan Gram dalam mendeteksi VB secara akurat.
[Maj Obstet Ginekol Indones 2007; 31-3: 134-42]
Kata kunci: metoda diagnostik, vaginosis bakterial, dipstick, Gram,
sensitivitas, spesifisitas
Risiko terjadinya preeklampsia pada kehamilan dengan kadar β-hCG serum yang tinggi
Tujuan: Untuk mengetahui besarnya risiko terjadinya preeklampsia
pada kehamilan dengan kadar β-hCG serum yang tinggi.
Rancangan/rumusan data: Penelitian ini adalah penelitian kasus kontrol,
di mana 31 kasus adalah pasien-pasien dengan preeklampsia dan 31
kontrol adalah pasien-pasien dengan kehamilan normal yang di-matching
dalam hal umur ibu, umur kehamilan, dan paritas. Kriteria preeklampsia
berdasarkan klasifikasi yang direkomendasikan oleh ke-lompok
kerja National High Blood Pressure Education Program tahun 2000.
Tingginya Kadar β-hCG serum ditentukan ≥ 2 kali median (MoM), yang
diuji pada interval kepercayaan 95%.
Hasil: Rerata kadar β-hCG serum sampel sebesar 68386,32±
46312,21 mIU/mL lebih tinggi secara bermakna dibandingkan dengan
rerata kadar β-hCG serum kontrol sebesar 32174,97±21863,29 mIU/mL
(p=0,001; IK 95%:17812,18-54610,53). Tingginya kadar β-hCG serum
(≥ 2 MoM) secara bermakna meningkatkan risiko terjadinya preeklampsia
sebesar 11 kali (p=0,006; IK 95%:1,276-136,305).
Kesimpulan: Tingginya kadar β-hCG serum merupakan faktor risiko
terjadinya preeklampsia. Pasien-pasien dengan kadar β-hCG serum yang
tinggi memiliki risiko terjadinya preeklampsia 11 kali lebih besar
dibandingkan dengan pasien-pasien yang memiliki kadar β-hCG serum
normal.
[Maj Obstet Ginekol Indones 2007; 31-4: 196-200]
Kata kunci: β-hCG serum, preeklampsi