Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology (INAJOG)
Not a member yet
    904 research outputs found

    Transforming Growth Factor β1 and Tropoelastin Expression in Uterine Prolapse

    Get PDF
    Objective: To know the correlation of the expression of transforming growth factor beta (TGF-β1) and tropoelastin in uterine prolapse. Method: A cross-sectional study of 30 subjects suffered from uterine prolapse in the Department of Obstetrics and Gynecology Dr. Mohammad Hoesin hospital Palembang. The study was conducted since December 1st, 2014 until July 31st, 2015. The sample was from the sacrouterine ligament and immunohistochemical examination was conducted to see the expression of TGF-β1 and tropoelastin. Result: Of the 30 subjects obtained, the expression of TGF-β1 was on 30 subjects consisting of 18 (60%) for weak expression and 12 (40%) for strong expression. Meanwhile, the strong tropoelastin expression was on 18 subjects (60%) and weak tropoelastin expression on 12 subjects (40%). There was a positive correlation between TGF-β1 and tropoelastin expression with moderate correlation (p=0.014; r=0.44). Conclusion: There is a positive correlation between the TGF-β1 and tropoelastin expression of sacrouterine ligament in uterine prolapse with moderate correlation. [Indones J Obstet Gynecol 2016; 4-2: 70-74] Keywords: transforming Growth Factor Beta 1, tropoelastin, uterine prolaps

    Deteksi human papilloma virus (HPV) tipe 16 dan tipe 18 dengan teknik polymerase chain reaction (PCR) dan hibridisasi dot blot dengan pelacak DNA berlabel biotin

    Get PDF
    Tujuan: Menerapkan teknik PCR-hibridisasi dot blot dengan pelacak DNA berlabel biotin untuk mendeteksi HPV tipe 16 dan 18 pada spesimen swab dan biopsi jaringan serviks. Rancangan/rumusan data: Penelitian ini bersifat deskriptif. Bahan dan cara kerja: Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah spesimen swab dan biopsi serviks berjumlah 124 spesimen. Ekstraksi DNA sampel dilakukan dengan metode Boom dan QIAAmp DNA Mini Kit (Qiagen). Amplifikasi DNA dengan teknik PCR menggunakan primer PGMY11 dan PGMY09, dilaksanakan untuk mendeteksi infeksi HPV. Tipe HPV-16 dan tipe 18 dideteksi dengan teknik hibridisasi dot blot dari produk PCR dengan pelacak DNA berlabel biotin. Hasil: Dari 124 spesimen, 18 spesimen (15%), menunjukkan hasil PCR positif HPV dan dari hasil positif PCR tersebut, 7 spesimen menunjukkan hasil hibridisasi dot blot negatif sehingga dapat dinyatakan spesimen tersebut terinfeksi dengan tipe HPV risiko tinggi lainnya atau risiko rendah. Hasil positif hibridisasi dot blot terlihat pada 24 spesimen (19%) yaitu 20 spesimen (16%) terinfeksi HPV-16 dan 4 spesimen (3%) terinfeksi HPV-18. Dari 20 spesimen positif HPV-16, 9 spesimen memperlihatkan hasil PCR negatif sedangkan dari 4 spesimen positif HPV- 18, 1 spesimen menunjukkan hasil negatif PCR. Hal ini membuktikan teknik PCR-hibridisasi dot blot lebih sensitif dibanding PCR-elektroforesis gel agarosa. Beberapa spesimen swab maupun biopsi pasien prakanker atau kanker memperlihatkan hasil negatif HPV-16 maupun 18. Kemungkinan faktor penyebabnya adalah selain adanya infeksi tipe HPV risiko tinggi dan virus lain juga terintegrasinya DNA HPV ke dalam DNA genom host. Berdasarkan kelompok umur, pasien dengan umur di atas 30 tahun lebih banyak terinfeksi HPV-16 maupun HPV-18. Kesimpulan: HPV dari spesimen alat genitalia dapat dideteksi dengan teknik PCR menggunakan primer PGMY11 dan PGMY09. Deteksi tipe HPV terutama HPV-16 dan HPV-18 dapat dilakukan dengan teknik PCR yang dilanjutkan dengan hibridisasi dot blot dengan pelacak DNA berlabel biotin yang merupakan metode cepat, sensitif , spesifik dan sangat efisien digunakan pada spesimen dengan jumlah banyak. Teknik ini dapat diterapkan sebagai metode deteksi dini kanker serviks secara molekuler. [Maj Obstet Ginekol Indones 2007; 31-4: 218-25] Kata kunci: PCR, hibridisasi dot blot, HPV-16, HPV-1

    Fertilisasi in vitro (Bayi tabung): Dilema kemajuan yang tak kunjung usai

    Get PDF
    Tujuan: Menelaah perkembangan program Fertilisasi in vitro (FIV) dan hal-hal yang menimbulkan perdebatan dan dilema. Rancangan/rumusan data: Kajian pustaka. Hasil: Teknik Bayi Tabung telah digunakan secara luas di seluruh dunia. Berbagai cara ditempuh oleh praktisi Bayi Tabung untuk mendapatkan angka kehamilan yang tinggi, dengan menggunakan berbagai teknik yang canggih, namun belum juga dapat meningkatkan angka kehamilan. Embrio yang dibekukan, kehamilan multipel, preimplantation genetic diagnosis (diagnosis genetik praimplantasi), riset embrio untuk stem cells telah menimbulkan dilema atau perdebatan di seluruh dunia. Masa depan anak-anak yang dilahirkan dari teknik Bayi Tabung telah menjadi perhatian para sosiolog, psikolog dan ahli hukum. Telah dilaporkan adanya dampak negatif terhadap ibu maupun anak dari penggunaan obat-obat pemicu ovulasi yang digunakan pada proses Bayi Tabung. Telah dikembangkan cara baru yang lebih sedikit berdampak negatif terhadap ibu dan anak di kemudian hari, yaitu in vitro maturation (IVM). Banyaknya klinik-klinik Bayi Tabung yang bermunculan di seluruh dunia, telah menimbulkan kekuatiran terhadap munculnya wisata reproduksi. Kesimpulan: Kemajuan yang begitu pesat dalam teknik Bayi Tabung untuk membantu pasutri ternyata telah menimbulkan dilema etik, moral, sosial, psikologik dan hukum, yang perlu segera dicari jalan keluarnya. [Maj Obstet Ginekol Indones 2007; 31-4: 231-5] Kata kunci: fertilisasi in vitro, embri

    Study of Apoptosis Induction of Hydatidiform Mole Trophoblastic Cell by the Administration of Retinoic Acid

    Get PDF
    Pendahuluan: Molahidatidosa merupakan kehamilan abnormal yang pada pemeriksaan histologi didapatkan proliferasi sel trofoblas. Sejumlah 80% penderita molahidatidosa akan mengalami regresi pascaevakuasi. Regresi spontan pascaevakuasi disebabkan karena sel trofoblas mempunyai aktivitas apoptosis. Sejumlah 20% penderita molahidatidosa menderita degenerasi keganasan yang secara klinis disebut PTG (Penyakit Trofoblas Ganas). Degenerasi keganasan ini mungkin disebabkan karena aktivitas proliferasi yang dominan sehingga proliferasi terjadi berkelanjutan pascaevakuasi. Mekanisme apoptosis pada molahidatidosa belum diketahui sepenuhnya. Asam retinoat yang merupakan zat aktif retinol atau vitamin A mempunyai aktivitas merangsang arest siklus sel dan merangsang apoptosis. Menarik untuk diteliti, apakah pemberian asam retinoat pada sel trofoblas molahidatidosa juga menginduksi apoptosis. Penelitian ini bertujuan membuktikan peningkatan aktivitas apoptosis pada sel trofoblas molahidatidosa yang diberikan asam retinoat. Penelitian ini memberi manfaat sebagai dasar penelitian kemoprevensi vitamin A pada molahidatidosa. Bahan dan cara kerja: Penelitian menggunakan spesimen kultur sel trofoblas molahidatidosa. Kultur sel trofoblas diperoleh dengan mengkultur sel trofoblas yang diperoleh dari gelembung molahidatidosa. Kultur dengan media RPMI. Pada usia 24 jam, dilakukan perlakuan dengan pemberian ATRA (all transretinoic acid) dengan dosis 50 μg/ml, 100 μg/ml, 150 μg/ml dan 200 μg/ml. Pelarut yang digunakan adalah DMSO (dimethyl sulfoxide). Dilakukan analisis aktivitas apoptosis dengan flowcytometry pada 24 jam pascaperlakuan. Aktivitas apoptosis tergambar pada sitogram di kwadran kanan bawah, sedangkan jumlah sel hidup pada kwadran kiri bawah. Perhitungan sel dilakukan pada 1000 sel. Hasil: Persentase apoptosis pada kontrol 60,64% sel hidup 7,09%. Persentase apoptosis pada 50 μg/ml 89,45%, 100 μg/ml sejumlah 87,23%, 150 μg/ml sejumlah 94.635 dan pada 200 μg/ml sejumlah 94,83%. Sedangkan sel hidup pada 50 μg/ml sejumlah 5,04%, pada 100 μg/ml 5,71%, pada 150 μg/ml sejumlah 3,14% dan pada 200 μg/ml sejumlah 2,66%. Kesimpulan: Terdapat peningkatan persentase jumlah sel yang apoptosis dan penurunan sel yang hidup pada sel trofoblas yang diberikan ATRA. [Maj Obstet Ginekol Indones 2008; 32-2: 99-104] Kata kunci: apoptosis, molahidatidosa, sel trofoblas, asam retinoa

    Hubungan variasi musim dengan kejadian preeklampsia di RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta, 1999-2003

    Get PDF
    Tujuan: Mengetahui hubungan antara variasi musim dengan kejadian preeklampsia dan mengetahui faktor usia, paritas, dan jenis kehamilan merupakan faktor risiko terjadinya preeklampsia. Rancangan/rumusan data: Studi potong lintang. Tempat: Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Sardjito, Yogyakarta. Bahan dan cara kerja: Data-data ibu bersalin diperoleh dari catatan medik elektronik, buku register, dan buku catatan kamar bersalin di RS Dr. Sardjito tahun 1999-2003. Analisis yang digunakan variat, bivariat (chi-square), serta multivariat untuk mengetahui pengaruh musim terhadap preeklampsia dengan usia paritas dikontrol. Hasil: Diperoleh sebanyak 6.726 persalinan, dengan kasus preeklampsia sebanyak 926 (13,77%) ibu dari seluruh persalinan. Kejadian preeklampsia yang terendah terjadi pada bulan Januari (11,97%) dan tertinggi pada bulan Agustus (15,30%). Rerata usia adalah 31,0 ± 5,9 tahun, 81,1% ibu berusia 20-35 tahun. Usia ibu risiko tinggi (< 20 tahun dan > 35 tahun) meningkatkan risiko 1,65 kali dibanding dengan usia 20-35 tahun. Primigravida berisiko preeklampsia 0,96 kali dibanding multigravida. Kehamilan ganda meningkat risiko preeklampsia 2,36 kali dibandingkan dengan kehamilan tunggal (p=0,000). Musim terbukti secara statistik tidak berhubungan dengan kejadian preeklampsia (OR= 0,96; p=0,53). Kesimpulan: Musim tidak terbukti berhubungan dengan kejadian preeklampsia. Faktor risiko terhadap kejadian preeklampsia adalah usia ibu dan paritas. [Maj Obstet Ginekol Indones 2008; 32-3: 139-42] Kata kunci: preeklampsia, musim, usia ibu, primigravida

    Perbandingan kadar regulatory T-cells antara kehamilan normal dan abortus

    Get PDF
    Tujuan: Untuk mengetahui peran Treg dalam kelangsungan kehamilan dengan mengukur kadar Treg dalam kehamilan normal di bawah 20 minggu, mengukur kadar Treg dalam kejadian abortus dan membandingkan kadar Treg dalam kehamilan normal di bawah 20 minggu dan dalam kejadian abortus. Tempat: RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, baik di IGD lantai 3 maupun poliklinik Obstetri dan Ginekologi. Bahan dan cara kerja: Penelitian bersifat penelitian observasional tanpa intervensi berupa studi comparative cross-sectional, dilakukan pada kelompok perempuan hamil normal dan kelompok perempuan yang mengalami abortus yang datang ke tempat penelitian. Pengumpulan data dilakukan sejak subjek penelitian datang di IGD lantai 3 atau poliklinik Obstetri dan Ginekologi RSCM. Jika kasus sesuai dengan kriteria penerimaan dan penolakan maka dilakukan informed consent untuk mendapat persetujuan penelitian. Diambil darah vena pasien sebanyak 50 mikroliter dan dimasukkan ke dalam alat flowcytometry dengan reagen spesifik untuk pemeriksaan CD45 (Per-CP- 347464), CD4 (SIPC-340133) dan CD25 (PE-341009) untuk kemudian dihitung jumlah Treg dengan sistem lyse no washed menggunakan software cellquest pro. Output dari alat flowcytometry tersebut kemudian dicatat. Pasien dengan kehamilan normal (kelompok kontrol) di follow-up sampai kehamilannya mencapai 20 minggu untuk memastikan tidak terjadinya abortus sampai batas waktu tersebut. Jika pasien dengan kehamilan normal pada saat pemeriksaan ternyata mengalami abortus di bawah 20 minggu, maka pasien tersebut akan dimasukkan ke dalam kelompok dengan kejadian abortus (kelompok kasus). Hasil: Pada uji statistik perbandingan rerata persentase sel CD45 didapatkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna secara statistik antar kedua kelompok, di mana rerata kelompok kasus adalah 10,96 ± 6,57% sel dibandingkan dengan rerata 9,60 ± 5,30% sel pada kelompok kontrol dengan p = 0,610. Pada perbandingan kadar Treg dari hasil uji statistik didapatkan Median pada kelompok kasus (2,45 sel/μl) dibandingkan dengan Median kelompok kontrol (2,53 sel/μl) tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna secara statistik dengan p = 0,946 (uji korelasi Mann-Whitney). Kesimpulan: Penelitian ini mendapatkan bahwa tidak terdapat hubungan antara kadar Regulatory T-cells (Treg) dengan kejadian abortus. [Maj Obstet Ginekol Indones 2009; 33-1: 20-7] Kata kunci: regulatory T-cells, Treg, abortu

    Pengaruh pemberian klomifen sitrat atau letrozole terhadap perkembangan folikel dan profil hormonal pada unexplained infertility

    Get PDF
    Tujuan: Membandingkan perbedaan pengaruh pemberian klomifen sitrat (CC) atau letrozole terhadap pertumbuhan folikel, keberhasilan ovulasi dan profil hormonal pada perempuan dengan unexplained infertility. Tempat: Klinik Infertilitas Subbagian Fertilitas Endokrinologi dan Reproduksi Manusia Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro/RSUP Dr. Kariadi, Semarang. Rancangan/rumusan data: Uji klinik acak buta berganda tanpa kecocokan. Bahan dan cara kerja: Selama kurun waktu April 2008 - Juni 2008 didapat subjek pada kelompok CC dan 28 subjek pada kelompok letrozole. Pada hari ke-3 siklus haid seluruh subjek dilakukan pemeriksaan TVS dan pengambilan sampel darah vena untuk pemeriksaan kadar FSH, LH, dan E2 (estradiol). Mulai hari ke-3 – 7 siklus haid, masingmasing kelompok mendapat CC 50 mg atau letrozole 2,5 mg per hari. Pada hari ke-8 dan 12 siklus. Subjek mengalami pemeriksaan ulang. Jika pada hari ke-12 siklus belum terjadi ovulasi, TVS dilanjutkan hingga hari ke-14, 16, dan 18 siklus. Hasil: Pada kelompok CC didapatkan hari ke-8 dan ke-12 siklus, diameter folikel lebih besar. Diameter folikel telah mencapai 18 mm pada hari ke-8 dan > 25 mm pada hari ke-12 siklus, seluruhnya berupa folikel matur multipel, terjadi ovulasi mulai pada hari ke-12 – 13 siklus haid, kadar FSH, LH, dan E2 lebih tinggi baik pada hari ke-8 maupun ke-12 siklus. Pada kelompok letrozole didapatkan seluruh objek berupa folikel matur tunggal, ovulasi terjadi pada hari ke 14 - 15. Kesimpulan: Pada kelompok CC didapatkan; diameter lebih besar, seluruhnya berupa folikel matur multipel, terjadi ovulasi lebih awal, kadar hormon FSH, LH, E2 lebih tinggi. Pada kelompok letrozole didapatkan seluruhnya berupa folikel matur tunggal, ovulasi terjadi mulai pada hari ke-14 dan 15 siklus. [Maj Obstet Ginekol Indones 2009; 33-3: 185-94] Kata kunci: klomifen sitrat, letrozole, induksi ovulasi, superovulasi, diameter folikel, FSH, estradiol, E

    The effect of letrozole and clomiphen citrate in mature follicle count, ovulation and endometrial thickness in unovulated cycle women

    Get PDF
    Objective: To know the efficacy of letrozole and clomiphene citrate for ovulation induction in anovulation women. Method: During the period of January-October 2007, 44 women who met criteria for an ovulation age 18-35 years old, were done anamnesis, physical examination, USG, and hormonal analysis (FSH, LH, E2, Progesterone and Prolactin). All participants were divided into letrozole and clomiphene citrate group. For the letrozole group received 2,5 mg letrozole daily on 3th until 7th day menstrual cycle. The clomiphene citrate group received 50 mg twice a day, on 3th until 5th day menstrual cycle. On 12th menstrual cycle the ultrasound examination was perfomed to measure number of mature follicle and endometrial thickness. On the 18th day of menstrual cycle, ultrasound was perfomed to evaluate ovulation. Result: There was significant difference between letrozole group and clomiphene citrate group (p=0.04) with the number if follicles in letrozole group is 1.08 (±0.27), in clomiphene citrate group 1.40 (±0.51). There was no significant different in mean of follicle size (p=0.32). Ovulation in both groups was not significantly different (p=0.53), 59% in letrozole group and 68% in clomiphene citrate group. There was significant difference in endometrial thickness, mean of endometrial thickness in letrozole group is 8.77 mm (±2.32 mm) and in clomiphene citrate group 6,66 mm (±2.34 mm) (

    Two Designated Pathways of Ovarian Cancer and the Crucial Implications to the Treatment

    Get PDF
    Objective: To review the two designated pathways of ovarian cancer and their implications to the management of ovarian cancer. Method: Literature review Result: A proposed carcinogenesis of ovarian cancer has been developed based on a long history of pathological and molecular genetic findings. It divides ovarian cancer as having designated type I or type II pathway. Type I pathway involves ovarian carcinomas with low-grade serous subtype, mucinous, clear cell and endometrioid subtypes. They grow in a stepwise manner, shows low response toward platinum-based chemotherapy and mostly relate to MAPK pathway mutations. High-grade serous ovarian carcinomas which are often found in rapid-aggressive progression with poorer prognosis are suggested as type II pathway. Their major mutations are mainly in TP53. Optimal surgery and adjuvant chemotherapy are the treatment for both confined and advanced cancers. However, the optimal cytoreduction in type II pathway is becoming more important to increase overall survival or disease-free interval. The strategy of screening type II pathway is proposed to be shifted from detection of stage I tumors to detection of minimal ovarian carcinomas probably by biomarkers since the rapid inception is hardly found. Meanwhile the BRCA1/2 screening and classification should be improved for the hereditary breast/ovarian cancer screening. Mutations of KRAS, BRAF, PTEN and CTNNB1 occur majorly in the type I tumors. Therefore, targeted chemotherapy and inhibitor treatments which are investigated foremost in type II recurrence of ovarian malignancies may also be directed to the low response of type I pathway to platinum-based chemotherapy. Conclusion: A different strategy based on the tumorigenesis of ovarian cancer should be considered in term of screening, primary approach and following chemotherapy since there are some distinctive patterns in both pathways. [Indones J Obstet Gynecol 2009;33-4:239-46] Keywords: ovarian cancer, carcinogenesis, screening, cytoreduction, chemotherap

    Effect of Spontaneous Delivery and Elective Caesarean Section on Number of Bifidobacterium Colony in Newborns

    Get PDF
    Objective: To know the effect of vaginal delivery and elective caesarean section in total colony of bifidobacterium in newborn’s faeces. Method: All the research subject who has fulfilled the inclusion criteria, the newborn’s faeces taken on the 3rd to 4th day after delivery. One cc of faeces diluted into 9 cc thioglycolate in a sterile tube and sent to the Microbiology Laboratory of Hospital of Dr. M. Djamil Padang for the examination of colony of bifidobacterium. Data was processed and analized statistically. Result: The sample was taken from 41 research subject of vaginal delivery and 41 research subject of elective caesarean section. The average of total colony of bifidobacterium in newborn’s faeces with vaginal delivery is 23,588,220 CFU/gram and the average of total colony of bifidobacterium in newborn’s faeces with elective caesarean section is 4,151,829.3 CFU/gram. Conclusion: Total colony of bifidobacterium in newborn’s faeces with vaginal delivery is higher than elective caesarean section, and proved statistically significant (p < 0.05). [Indones J Obstet Gynecol 2011; 35-2: 49-52] Keywords: bifidobacterium, vaginal delivery, caesarean sectio

    815

    full texts

    904

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology (INAJOG)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇